Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Mencari yg kuat pegang Golok Hitam


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Mencari yg kuat pegang Golok Hitam...


Yasin hanya diam, berpikir bagaimana jika proses pengobatan nanti lama. Sementara Ki Munding Suro sudah sehat dirinya belum pulih…???


"Tidak bisa kah dipercepat Kang Ali, tugas-tugas ku masih banyak." Kata Yasin.


"Itu sangat berbahaya Kang Yasin. Proses pengeluaran darah beku harus bertahap. tidak bisa sekaligus." Jawab Tabib Ali.


"Kenapa tidak bisa sekaligus?" Tanya Yasin.


"Harus seimbang dengan produksi sel darah dalam tubuh. Agar tidak sampai kekurangan darah." Jawab Tabib Ali.


Yasin hanya diam, meski ingin segera cepat pulih. Namun tak ada pilihan lain bagi Yasin, dia harus menuruti Tabib Ali yang lebih paham.


"Mas gak usah banyak mikir, yang penting banyak istirahat dulu." Sahut Fatimah.


"Iya, aku hanya tanya barangkali bisa dipercepat. Kasihan anak anak kondisi juga sedang tidak baik." Jawab Yasin kurang bersemangat.


Sidiq dan Jafar yang tahu hal itu, mencoba menghibur Ayahnya.


"Maaf Yah, sejujurnya Sidiq dan Jafar tadi memantau keadaan lawan. Kondisi Ki Munding justru lebih parah. Untuk bangun juga belum bisa, sementara Jalu juga masih dalam perawatan." Ucap Sidiq.


Semuanya kaget mendengar ucapan Sidiq. Tidak menduga jika Sidiq dan Jafar bisa nekad begitu.


"Kalian Nekad, bukankah di sana ada Ki Bujang, dan lainnya. " Ucap Yasin.


"Iya Ayah, tapi Ki Bujang tak berkutik sama Jagar, Hanya...!" Ucapan Sidiq terhenti.


"Hanya apa Sidiq ?" Desak Yasin.


"Ada dua murid Ki Mundinh yang lebih berbahaya dari Ki Bujang. Dan saat ini sedang memanggil kakak seperguruan nya untuk membantu obati Ki Munding Suro." Jawab Sidiq.


Yasin jadi tambah khawatir dengan keadaan yang ada.


"Kamu lain kali tidak boleh ceroboh begitu Sidiq. Siapa tahu di markas mereka masih sembunyikan tokoh yang Sakti Mandraguna yang sengaja disembunyikan." Kata Yasin.


Yasin pun memberi penjelasan pada Sidiq dan Jafar, tentang strategi pengintaian. Tidak sembarangan asal datangi markas lawan. Tapi sebelumnya harus kumpulkan data sebanyak mungkin. Di samping analisa kemungkinan yang mungkin terjadi. Serta membuat rencana dan rencana cadangan jika rencana awal gagal.


Sidiq dan Jafar pun mendengar penjelasan Yasin dengan antusias. Sebuah Nasehat dan juga tambahan wawasan bagi Sidiq dan Jafar. Agar ke depan nanti lebih hati hati.


"Aku rasa memang sudah saatnya, kamu mewariskan ilmu kamu pada pada mereka Yasin. Tidak mungkin kamu akan terus gunakan cara kekerasan untuk hadapi tindak kekerasan." Tohari mencoba memberi penjelasan pada Yasin.


"Tapi Kang...?" Ucapan Yasin pun dipotong Tohari.


"Kuharap perseteruan kamu dengan Ki Munding dan anak buahnya adalah terakhir kali kamu g


terjun dalam kekerasan. Biar yang muda muda yang melanjutkan. Apalagi ada Wisnu yang juga miliki Lebur Saketi." Kata Tohari.


Yasin hanya terdiam mendengarkan nasehat Tohari.


Bahkan Yasin ingat nasehat Yuyut Siti Aminah, yang juga mengatakan Yasin harus berhenti menggunakan kekerasan. Dan lebih Fokus kepada urusan Ibadah dan mengajar ngaji anak anak yang ada. Tidak peduli sedikit atau banyak yang ikut ngaji. Tapi istiqomahnya yang perlu dipertahankan.

__ADS_1


"Iya kang, baiklah nanti malam aku akan ajarkan pada Semuanya. termasuk Isna dan Utari. Namun khususnya Sidiq, Jafar dan Wisnu ada hal khusus yang harus aku bicarakan." Ucap Yasin.


Dan obrolan mereka dilanjutkan ke ruang mujahadah yang lebih luas. Sampai ditempat Mujahadah Fatimah dan para wanita lain sedang asik bercanda.


"kok malah pada ke sini?" Tanya Fatimah.


"Ada yang harus kita bicarakan bersama, tapi sementara biar anak anak ngobrol nya diluar dulu." Ucap Yasin.


 “Isna dan utari pun mengajak Lita keluar dan menemui Sidiq dan Jafar yang sudah di luar mengobrol dengan Wisnu.


Wisnu dengan bangga menceritakan saat menghadapi Jalu yang menggunakan Aji Halimun kepada Sidiq dan jafar. Sidiq dan Jafar pun merasa bangga dengan Wisnu yang cepat bertindak serta berpikir cerdas untuk menemukan cara mengetahui keberadaan Jalu yang menggunakan Halimun.


“Kamu cerdas Wisnu, Aku bangga dan berterimakasih padamu.” Kata Sidiq.


“Iya Mas Sidiq, Wisnu juga udah anggap Abi Yasin dan Umi Fatimah kayak orang tua kandung Wisnu kok.” Jawab Wisnu.


“Berarti Wisnu juga sering di datangi Yuyut lewat mimpi ya ?” Tanya Jafar.


“Iya, kata mama Mas Jafar dan Mas sidiq juga begitu. Jadi Wisnu sudah gak kaget untuk mimpi yang ketiga kalinya.” Jawab Wisnu.


Jafar dan Sidiq pun tersenyum, merasa bangga dan bersyukur Wisnu sudah bisa untuk diajak membantu menjaga keluarga. “kurang Panji adikku dari mamah Arum yang harus ikut digembleng.” Kata Sidiq dalam hati.


“Wah senang Melihat saudara yang akur seperti kalian. Lita jadi iri, punya adik satu saja jarang ketemu.” Kata Lita.


“Makasih mbak Lita, tenang saja Jafar akan jaga Vina untuk mbak Lita.” Kata Jafar menghibur Lita yang tampak sedih.


“Jagain Vina buat Lita apa buat kamu sendiri Jafar ?” Goda Sidiq pada adiknya.


“Buat mbak Lita ah Mas, Vina kan adiknya mbak Lita.” Jawab Jafar sambil injak kaki Sidiq. Karena merasa gak enak ada Isna alias Nia disitu.


“Kalau Kang sidiq jagain siapa nih ?” Gurau Utari.


“Ehem…bilang sendiri apa Lita yang bilang ke Riska Diq ?” Sahut Lita.


“Owh jadi Mas Sidiq sudah punya itu, bilangin Tante Arum nanti ah.” Goda Wisnu.


Sidiq pun jadi sedikit jengkel ke Wisnu, anak Candra kakaknya Arum dan Khotimah adik sepupu Fatimah.


“Awas aku jewer beneran nih Wisnu.” Kata Sidiq sambil jewer kuping Wisnu.


“Gak mas, ampun deh Wisnu Cuma bercanda kok.” Jawab Wisnu.


“Jafar kira Mas Sidiq itu pemberani ternyata takut juga dimarahin mamah Arum.” Sahut Jafar yang ikutan Sidiq memanggil Arum dengan sebutan Mamah.


Sidiq pun jadi bahan bullyan Jafar dan lainnya, terlebih Lita yang seperti mendapat bahan untuk meledek Sidiq.


“Wah ketahuan sisi lemah kamu Diq, kalau macam macam aku bongkar nanti di sekolah.” Goda Lita.


Sidiq kai ini hanya diam tak bisa membalas ledekan saudara saudara dan temannya. Sampai Lita heran melihat Sidiq yang biasanya pandai diplomasi kali itu tak bisa berkutik.


Begitulah candaan Sidiq dan Jafar dengan saudara dan teman temannya. Ada saja bahan untuk saling melempar candaan satu dengan yang lainya.


…..


Sementara itu di dalam rumah Yasin bersama saudara saudaranya dan Tabib Ali serta Istrinya sedang bermusyawarah. Mereka membahas tentang apa sikap yang harus diambil Yasin sekarang dan pasca usai masalah dengan Ki Munding Suro cs nanti.


“Jadi menurutku, kamu fokuslah dalam berdoa dan bermunajat kepada Allah. Biar selanjutnya masalah yang terjadi diselesaikan saudara saudara kamu dan anak anak kamu. Bukankah ada Farhan ada Sena juga. Kamu cukup memberi dukungan dari belakang saja.” Kata Tohari membuka pembicaraan.


“Tapi saat ini kehadiran Ki Munding Suro dengan Ilmu karang dan Pancamakarapuja sangat merisaukan  Kang. Sementara belum ada yang bisa menandingi kiprah Ki Munding Suro dengan Ilmu karangnya.” Jawab Yasin.


“Sebentar Mas Yasin.” Sena memotong pembicaraan Yasin.

__ADS_1


“Iya, ada apa Sena ?” Tanya Yasin.


“Bukankah Mas Yasin dulu melawan Birowo yang Juga memakai Ilmu Karang dengan menggunakan senjata Birowo sendiri. Kalau gak salah dengar, menurut Pak Suhadi nama senjatanya adalah Golok Hitam.” Kata Sena.


“Betul, tapi aku tidak tahu dimana senjata itu sekarang. Dan senjata itu sangat berat, serta seperti menyerap tenaga kita yang memegang. Dulu aku bermaksud memusnahkan senjata itu, tapi keburu dibawa ke rumah sakit. ” Jawab Yasin.


“Nah aku ingat sekarang Mas, Senjata itu masih disimpan Pak Adnan dan Pak Suhadi waktu mas Yasin dirawat di rumah Sakit.” Jawab Sena.


Yasin terdiam, semuanya mendengarkan dan menanti kelanjutan Sena dalam menjelaskan.


“Kang Yasin saat ini tidak boleh memegang Senjata itu.” Ucap Tabib Ali mengejutkan semuanya.


“Kenapa Tabib ?” Tanya Tohari.


“Jujur saja, mau tidak mau aku harus sampaikan. Jika Kang Yasin saat ini tenaga dalamnya sedang turun hampir separuh dari sebelumnya. Akibat beradu dengan Ilmu Karang dengan musuh. Darahnya banyak yang beku, sehingga proses penyaluran tenaga pun sangat terganggu.” Kata Tabib Ali.


“Apakah itu tidak bisa disembuhkan Tabib ?” Tanya Sena ikut panik.


“Bisa tapi butuh waktu lama, tergantung dari regenerasi sel darah dari dalam tubuh kang yasin sendiri berapa cepat.” Jawab Tabib Ali.


Suasana jadi hening, tak seorang pun yang angkat bicara beberapa saat. Mereka berpikir siapa yang mampu menggunakan Senjata tersebut jika Yasin keadaannya masih seperti itu.


“Kang Tohari, tentunya yang bisa menggunakan senjata itu Kang.” Ucap Yasin memecah Keheningan.


“Aku masih belum yakin, dan tidak mau gegabah. Aku juga pernah dengar tentang gook hitam itu, akan menyedot tenaga orang yang menggunakan jika tenaga dalamnya masih belum cukup. Jika kamu saja terasa tersedot berarti tenaga dalam kau juga belum cukup. Jadi aku juga belum yakin mampu, karena aku dan kamu hanya setara tenaga dalamnya.” Jawab Tohari.


“Lalu siapa yang akan mampu mengangkat golok itu ? Karena dulu pernah dicoba Pak Suhadi dan beberapa rekannya. Tak satu orangpun yang mampu memegang golok itu lebih dari lima menit.” Kata Sena.


“Itulah yang aku khawatirkan, jangan sampai golok itu jatuh ke tangan Ki Munding Suro. Jika sampai jatuh ke tangan dia, aku gak tahu lagi harus berbuat apa.” Jawab Yasin.


“Berarti Ki Munding Suro membuat kerusuhan di wilayah Sena itu ada kemungkinan juga sekalian mencari keberadaan Golok itu ?” tanya Sena.


“Bisa jadi begitu, tapi aku juga belum bisa memastikan.” Jawab Yasin.


“Paing tidak, golok itu harus diamankan disini dulu Sena. Kan disini masih lebih aman daripada di tempat pak Suhadi.” Kata Tohari.


“Iya Kang, apa perlu Pak Suhadi kita minta datang membawa Golok itu ?” Tanya Sena.


“Tunggu dulu, Fatimah pernah dikasih tahu Yuyut. Cara mengatasi benda seperti itu, salah satunya dengan menghilangkan Khodam penjaganya.” Kata Fatimah.


“Benar Juga, tapi tidak semudah itu juga karena Khodam yang ada disitu sangat kuat. Hampir setara dengan Dalang Anyi Anyi.” Jawab Yasin.


“Kalau tidak dengan mengukur tenaga dalam orang yang akan memegang benda tersebut.” Kata Fatimah.


“Itulah yang baru kita bahas sekarang, sementara Aku sendiri juga tidak yakin mampu mengatasi benda tersebut.” Jawab Tohari.


“Ada diantara kita yang bisa menaklukan khodam Golok Hitam tersebut. Tanpa harus mengerahkan banyak tenaga dalam.” Kata Tabib Ali tiba tiba menyahut pembicaraan.


“Siapa orang itu ?” tanya semua serentak…???


...Bersambungan...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2