
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Upacara Pancamakarapuja 2...
Semua diam, sudah terlanjur basah mau gak mau harus menuruti kemauan Ki Munding Suro.
"Malam ini juga kalian persiapkan tumbal, gadis suci yang belum datang bulan. Buat santapan saat Pancamakarapuja." Ucap Ki Munding Suro.
Sebagian besar sudah merasakan mual mendengar ucapan Ki Munding Suro. Namun tak berani membantah. Kecuali Jalu dan Gede Paneluh Serta kedua Murid Ki Munding Suro.
Sekedar Mabuk dan Pesta *** bagi mereka sudah biasa. Tapi menyantap daging manusia???
"Belum lagi membayangkan menyembelih gadis kecil yang belut datang bulan. Darahnya untuk diminum dagingnya untuk di santap saat upacara Ritual tersebut.
" Sebenarnya untuk apa acara itu Ki Munding?"Tanya Ki Marto Sentono memberanikan diri.
"Untuk mendapatkan kekuatan dan kesaktian yang yang berlipat-lipat. Tanpa itu jangankan melawan Yasin, melawan satu anaknya saja kalian tidak akan mampu, yang ada kalian mampus." Bentak Ki Munding Suro.
"Tapi kami pernah hampir membunuh anak Yasin Ki Munding Suro." Ucap Ki Bujang dari Kulon.
"Apa ilmu andalan Kamu?" Tanya Ki Munding Suro.
"Gundolo Sosro Ki !" Jawab Ki Bujang.
"Gundolo Sosro yang kamu punya pasti tingkat terendah." Ucap Ki Munding.
Ki Bujang yang mendengar jadi tersinggung.
"Saya Jawara dari Kulon Ki, selama ini belum terkalahkan." Jawab Ki Bujang.
"Jaladara ini murid termuda di padepokan ku. Kamu bisa gunakan aji Gundolo Sosro kamu untuk menyerang Jaladara. Aku mau lihat apa bisa menggores kulit Jaladara." Ucap Ki Munding Suro.
"Baiklah Ki Munding, Jika aku gagal melukai kulit Jaladara aku mengaku sebagai murid kamu. Tapi jika Jaladara tewas jangan salahkan aku." Jawab Ki Bujang.
Mereka semua keluar untuk menguji dan membuktikan ucapan Ki Munding Suro. Di bawah pancaran Sinar rembulan Ki Bujang dan Jaladara saling berhadapan.
Tanpa ragu Jaladara mempersilahkan Ki Bujang yang lebih tua untuk langsung memulai.
"Aki sepuh tidak usah sungkan, untuk mempersingkat waktu. Langsung saja gunakan Ilmu Gundolo Sosro milik Aki Sepuh." Kata Jaladara menyebut Ki Bujang dengan Aki Sepuh.
"Apa kamu yakin anak muda, perjalanan kamu masih panjang." Ucap Ki Bujang.
"Sangat yakin Aki, silakan di mulai." jawab Jaladara mantap.
Ki Bujang mulai mengangkat kedua Tangannya. Kemudian komat kamit baca Mantra. Dan dari kedua telapak tangannya keluar percikan bunga api. Kemudian berputar menjadi satu titik dan membesar.
Sejurus kemudian Ki Bujang memukul Jaladara dengan ajian tersebut. Semua tegang melihat adegan tersebut.
__ADS_1
Dan saat tangan Ki Bujang menyentuh tubuh Jaladara terjadi benturan Hebat. Suara ledakan yang sangat keras, disertai percikan api yang menyilaukan. Bahkan tubuh ki Bujang pun terpental ke belakang.
Semua berdebar mengkhawatirkan keadaan Jaladara dan Ki Bujang yang terpental.
Ki Bujang langsung bangkit berdiri, sementara Jaladara masih berada di tempat semula tegak berdiri. Meski masih terselimuti asap tipis.
Setelah asap menghilang tampak Jaladara tersenyum tak kurang satu apa.
"Luar biasa ilmu Aki Sepuh mampu membakar sebagian bajuku." Ucap Jaladara mengejek Ki Bujang.
"kurang ajar, ini lebih gila dari anak Yasin. Sedangkan anak Yasin saja kabarnya sampai dibopong ayahnya." Kata Ki Bujang dalam hati.
"Tunggu Ki Munding, aku mau mengaku sebagai murid tapi aku juga ingin melihat kehebatan kamu yang lain." Ucap Ki Bujang menahan Gengsi.
"Baik tapi aku tidak mau lukai salah satu dari kalian. Ambil Senjata yang paling keras atau benda apapun yang kalian anggap keras. Kumpulkan di depanku sekarang juga." Kata Ki Munding Suro.
Semua senjata dan benda benda keras dikumpulkan didepan Ki Munding Suro.
Kemudian Ki Munding Suro mengucapkan mantra dan sebelumnya seperti menyembah sesuatu. Kemudian benda benda keras dihadapannya disentuh dengan telapak tangannya.
Golok, linggis parang dan sebagainya di hadapan Ki Munding Suro meleleh lebur menjadi cairan timah. Semua terbelalak menyaksikan pemandangan tersebut.
"Ilmu Karang...!?! " Teriak Ki Marto Sentono.
"Betul kamu pernah dengar itu juga Marto?" Jawab Ki Munding.
Ki Bujang pun langsung bersimpuh.
"Ampun ki, aku mengakui sebagai murid dan siap mengikuti perintah guru." Ucap ki Bujang diikuti yang lainnya menyatakan dirinya sebagai murid Ki Munding Suro.
Malam itu Ki Marto dan semuanya menyatakan diri sebagai murid Ki Munding Suro. Pertunjukan ilmu Karang dari Ki Munding Suro membuat gentar semua yang ada disitu.
.....
.....
Usai Mujahadah Yasin mengajak Farhan untuk Ziarah ke makam eyang Sidiq Ali. Berita kedatangan Ki Munding Suro pengikut sekte Bhaerawa Thantra menjadikan Yasin gelisah.
Teringat saat dirinya terkena aji upas weling Birowo saat membela Sena dan atas kematian Zulfan. Munculnya kembali Sekte yang sempat hilang ratusan tahun tersebut membuat Yasin gelisah.
"Farhan, kamu ikut aku sekarang juga." Ucap Yasin.
" Kemana mas?" Tanya Farhan.
"Ziarah ke makam Eyang Sidiq Ali." Jawab Yasin.
"Ada ancaman besar kah Mas, sampai Ziarah malam hari begini?" Tanya Fatimah.
"Hanya jaga jaga saja mengingat beberapa kasus kriminal yang belum tuntas." Jawab Yasin.
Tidak ingin berlama-lama Yasin segera mengajak Farhan ke makam Eyang Sidiq Ali. Mereka memilih berjalan kaki menuju ke makam.
"Ada apa sebenarnya Mas?" Tanya Farhan sambil jalan.
"Kemunculan Ki Munding Suro bukan hal yang enteng." Jawab Yasin.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa Ki Munding Suro itu?" Tanya Lanjut Farhan.
"Salah satu penganut Sekte Bhaerawa Thantra yang sangat berbahaya." Kata Yasin.
Kemudian Yasin menceritakan apa dan bagaimana itu Bhaerawa Thantra. Dan Farhan mendengarkan dengan tegang.
"Astaghfirullah... sampai seperti itu mas, bocah kecil disembelih darahnya diminum dan jasadnya di jadikan santapan?" Ucap Farhan.
"Memang begitu, dulu yang mampu mengalahkan adalah Kanjeng sunan Bonang. Pimpinan mereka kalah dan melarikan diri." Kata Yasin.
"Terus pengikutnya bagaimana mas?" Tanya Farhan.
"Itu perjuangan berat Kanjeng Sunan Bonang. Merubah ritual Pancamakarapuja sangat sulit karena sudah mendarah daging." Jawab Yasin.
"Tapi akhirnya berhasil kan Mas?" Ucap Farhan.
"Dengan kebijakan beliau akhirnya Ritual Pancamakarapuja bisa diganti dengan acara Tahlilan." Jawab Yasin.
"Tahlilan,,,? kok bisa Mas?" Tanya Farhan bingung.
"Kenyataan memang seperti itu, acara Tahlilan itu berasal dari strategi Kanjeng Sunan Bonang untuk menghilangkan ritual Pancamakarapuja." Jawab Yasin.
"Bagaimana cara merubahnya Mas?" Tanya Farhan.
"Dengan merubah dan menghilangkan sesuatu. Seperti minum Arak diganti dengan teh kopi atau air putih. Kemudian ingkung gadis suci yang belum datang bulan di ganti dengan ingkung Ayam. Baca Mantra diganti kalimat thoyibah Tahlil. untuk tarian berkeliling telanjang dan pesta *** nya dihilangkan. Begitu waskita nya beliau, dari budaya sesat dirubah jadi budaya yang baik." Kata Yasin panjang lebar menjelaskan Farhan.
"Pantas ada yang bilang Tahlilan itu Sesat, tidak pernah ada pada zaman Nabi. Tapi apa boleh mas, budaya jahiliyah begitu dilanjut meski isinya dirubah jadi baik." Tanya Farhan makin penasaran.
"Bukan hanya boleh, tapi justru bagus." Jawab Yasin.
"Kok bisa begitu Mas?" Tanya Farhan.
"Kamu pikir Thowaf keliling ka'bah itu bukan berasal dari budaya Jahiliyah? dulunya budaya jahiliyah juga, keliling Ka'bah laki laki dan perempuan telanjang juga. Baca mantra sembah Latta Uzza dan Manaf, berhala yang mereka Tuhan kan. Kemudian oleh Rasulullah budaya keliling Ka'bah dipertahankan tapi pakaian menutup Aurat. Dan bacaan mantra diganti doa." Jawab Yasin.
"Berarti apa yang dilakukan Kanjeng Sunan Bonang itu juga itiba' Rasulullah Mas?" Farhan jadi makin penasaran.
"Ya kurang lebihnya begitu, Kanjeng Sunan Bonang tentu tidak akan ngawur. Apa yang dilakukan tentu dengan pertimbangan fiqih yang matang." Kata Yasin.
"Jadi lebih mantab kalau begitu, artinya Tahlilan itu sekaligus mengingat jasa Sunan Bonang juga ya Mas. Terus kembali ke masalah Ki Munding Suro, apa persiapan mas Yasin?" Tanya Farhan.
"Saat ini masih aku pikirkan, jika terpaksa harus gunakan waringin sungsang. Karena hanya itu yang bisa menghadapi ilmu karang." Jawab Yasin.
"Ilmu Karang? Apakah ada beneran ilmu itu?" Tanya Farhan.
"Memang ada beneran, dulu aku pernah hadapi hanya bisa dikalahkan dengan golok mereka sendiri yaitu golok Hitam. Tapi entah sekarang dimana golok itu." Jawab Yasin.
Farhan makin bingung, karena saat Yasin berhadapan dengan Birowo Farhan tidak tahu dan tidak dengar ceritanya !!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...