Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Fatimah periksa urat dan nadi Jafar


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


"Memang ada apa sebenarnya ? Jangan main tebak tebakan gitu kenapa mas ?” Fatimah merajuk.


“Sabar dulu Fat, mas juga bingung mau mulai cerita dari mana. Tapi yang jelas Jafar itu mengalami sesuatu yang aneh, dan baru aku selidiki.” Jawabku membuka pembicaraan.


Fatimah Nampak antusias mendengarkan perkataanku, dan tampak tak sabar menunggu kelanjutan ceritaku….???


“Iya apa cepetan cerita, ibu mana yang gak penasaran kalo anaknya mengalami keanehan ?” desak Fatimah.


Meski aku gak bermaksud membuat penasaran, melainkan baru berpikir bagaimana cara menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi. Agar tidak timbul salah persepsi ataupun membuat panik Fatimah.


“Jafar tiap malam selalu mimpi ditemui nenek nenek yang memaksa dia latihan olah kanuragan.” Kataku memulai pembicaraan.


“Cuman itu saja ? kalo cuman mimpi apa anehnya mas ?” kata Fatimah.


“Mimpi itu tiap malam dan membuat Jafar takut tidur sore.” Jawabku.


“Kok bisa begitu mas ?” Tanya Fatimah.


”Karena kalo tidur Sore mimpinya makin panjang latihannya makin lama, bangun tidur makin kelelahan.” Ucapku.


Fatimah memandangku seakan tidak percaya.


“Kamu serius mas ?” Tanya Fatimah.


“Apa aku tampak bercanda ?” jawabku dengan balik bertanya.


“Ya gak sih, tapi apakah itu ‘Yuyut’ ?” Tanya Fatimah.


“Aku gak mau berspikulasi siapa nenek nenek itu. jafar hanya menyebut nenek nenek yang galak.” Jawabku.


“Kasihan Jafar mas, masih terlalu kecil soalnya.” Ucap Fatimah.


“Itu juga yang aku pikirkan Fat, atau kapan kapan kita ziarah ke makam Yuyut. Kita doakan Yuyut di makamnya.” Kataku pada Fatimah.


“Kasihan anak anak mas kalo kita tinggalkan, tapi kalo kita ajak,mereka sudah pada sekolah.” Ucap Fatimah.


“Kita minta tolong Khotimah dan Candra tinggal di sini dulu sementara waktu. Toh anak mereka juga belum sekolah, masih sebaya Nisa kan.” Kataku pada Fatimah.


Khotimah agak terlambat punya anak karena kehamilan pertama keguguran, sehingga harus di kuret dan butuh watu untuk bisa hamil lagi. Sehingga anak pertamanya baru lahir setelah Nisa lahir, beberapa bulan setelahnya.


“Iya sih, aku juga sudah kangen sama Khotimah. Yaudah mas atur saja kapan waktunya baru aku hubungi Khotimah.” Jawab Fatimah.


“Aku juga kangen sama Wisnu, dia deket banget sama Nisa juga.” Ucapku.


“Iya memang, antara Nisa dan Wisnu sama sama saling panggil nama soalnya bingung. Kalo dari jalur Khotimah Nisa panggil Adik. Tapi kalo dari jalur Candra Nisa panggil mas.” Kata Fatimah.


“Aah gak masalah itu sih, Wisnu juga kalo sama Sidiq dan Jafar panggil mas karena factor usia juga, biarin saja.” Jawabku.


“Kembali soal Jafar tadi, menurut mas bagaimana ?” Tanya Fatimah.


“Aku juga bingung, semalam aku peluk ketika tidur. Tapi saat kubangunkan subuh kayak kecapekan, dan berkeringat. Dan detak jantungnya cepat sekali macam habis olah raga keras. Padahal saat aku bangun masih dalam pelukanku juga.” Jawabku.


Fatimah jadi tampak murung memikirkan anak sulungnya ( bagi Fatimah sebagai anak kandung pertama ) yang mengalami peristiwa ganjil penuh misteri.


“Mas sudah lama tahu ?” Tanya Fatimah.


“Baru semalam, paginya saat ku Tanya mengapa kok tidurnya selalu larut, Jafar bilang mau cerita sesuatu. Dan  baru semalam dia cerita kalo mengalami seperti itu.” Jawabku.


Ditengah obrolan kami tiba tiba Nisa datang bersama Sidiq.


“Ayah,,, bunda mas Jafar sekolah gak kok masih tidur saja.” Tanya Nisa.


Aku dan Fatimah jadi tersadar jika Jafar harus dibangunkan untuk mandi dan sekolah.


“Owh iya Ayah lupa sayang, Nisa bangunin mas Jafar sana ?” kataku pada Nisa.


Kemudian Nisa membangunkan Jafar kakaknya. Dan kalo yang membangunkan Nisa Jafar mau gak mau harus bangun, karena kalo gak mau Nisa akan menangis disamping Jafar hingga Jafar merasa berisik dan gak  tega mendengar tangis Nisa adiknya.


“Sidiq,,, selama Jafar sekolah kamu perhatiin gak Jafar kalo sama temen temen Jafar bagaimana ?” tanyaku pada Sidiq.


“Jafar itu banyak diam Yah, jarang keluar kelas.” Jawab Sidiq.


“Kemarin pas kamu lihat uangnya mau diminta Cheko itu Jafar melawan tidak ?” tanyaku pada Sidiq.


“Gak yah, malah mau kasih duitnya ke Cheko.” Jawab Sidiq.

__ADS_1


Jafar anakku yang berhati lembut itu justru mengalami kejadian Aneh yang cukup mengganggu dia. Sampai tidak berani tidur sore.


“Tapi lain kali Sidiq gak usah berantem lagi ya, malu sama bu guru kan kalo Ayah dan Bunda harus dipanggil ke sekolahan lagi.” Kataku pada Sidiq.


“Iya yah.” Jawab Sidiq singkat.


“Yaudah mandi dulu sana Sidiq terus siap siap sekolah sana.”ucapku pada Sidiq.


Kemudian Sidiq pun berangkat mandi untuk siap siap sekolah. Dan Fatimah pun segera ke dapur mempersiapkan sarapan dan bekal sekolah anak anak.


Aku kembali menyeruput kopi ku yang sudah agak dingin, sambil kembali menyalakan rokok.


*****


 


Aku menemui Fatimah yang sedang menyiapkan sarapan untuk anak anak.


“Hari ini aku pingin dirumah saja, bilangin ke Amir nanti kalo mau melanjutkan menanam bibit buah aku gak ikut. Aku mau ngurus rumah dan mengawasi Jafar.” Kataku pada Fatimah istriku.


“Berarti Nisa sama mas lagi ya ?” kata Fatimah.


“Kamu ajak saja lah, aku mau ngurusin bibit kalo sama Nisa aku gak bisa kerja nanti melayani Nisa terus…!” kataku pada Fatimah.


“Nah kan, baru tahu kan anaknya kayak gimana ? Makanya jangan suka ngremehin seorang ibu yang repot ngurusin anak. Baru sadar kan sekarang ini  !” ucap Fatimah menyindir aku.


Aku hanya senyum tak membalas, jujur memang selama ini aku salah. Ketika pulang kerja makanan dan minuman belum siap dan ngomel ke istri. Dan ketika istri bilang gak sempat masak karena ngurusin anak. aku selalu bilang, jangan anak dijadikan alasan.


Kali ini aku memang baru tahu betapa ngurus anakku yang cewek ini jauh lebih sulit dibanding dua kakaknya. Ada perasaan malu pada istri sebenarnya, hanya malu untuk mengakui saja.


“Gimana mas, mau gak ngawasin Nisa di rumah ?” desak Fatimah.


“Aku repot nanti harus menyiapkan bibit buat pesanan berikutnya Fat, bukan gak mau.” Kilahku.


“Tapi sekarang ngerti kan kalo ngurus anak itu susah ?” desak Fatimah lagi memaksa aku mengakui kesalahanku selama ini.


“Iya aku tahu, maaf kemarin sering gak percaya.” Ucapku pada Fatimah.


“Nah gitu dong, cuman bilang gitu saja susah amat sih ?” kata Fatimah sambil tersenyum merasa menang.


“Iya iya… bawel sih kamu sekarang Fat, begitu saja diungkit ungkit terus.” Candaku pada Fatimah.


“Biarin, kalo gak di bawelin mas juga seenaknya.” Kata Fatimah sambil menyiapkan sarapan buat anak anak.


“Nanti di kios jangan lama lama, kita ketempat Khotimah dan Candra yuk !” ajakku pada Fatimah.


“Klo memang penting, Fatimah gak berangkat juga gak papa kok biar diurus mbak Surti sendiri.” Jawab Fatimah.


“Gak papa mas, lagian kalo di sana sama Nisa juga sama saja Fatimah gak bisa bantuin mbak Surti.” Jawab Fatimah. Aku pikir bener juga sih, dengan sifat Nisa yang begitu Fatimah di pasar juga gak bisa optimal ngurus Kiosnya.


“Iya deh, terserah kamu tapi hubungi mbak Surti saja biar dia siap siap sendiri di kios.” Kataku.


“Iya nanti habis sarapan anak anak Fatimah telpon mbak Surti.” Jawab Fatimah.


*****


Usai Sidiq, Jafar juga Nisa  sarapan aku mengantarkan Sidiq dan JAfar ke sekolah. Jafar dalam pengawasan ketat  ku saat ini. apa nanti ku ajak ke tempat Khotimah sekalian saja ya, pikirku. Tapi kasihan Sidiq dirumah sendirian kalo Nisa dan jafar ku ajak.  Aah bagaimana nanti saja lah, lihat situasi dan kondisi, batinku.


Sesampai di sekolah aku turunkan Sidiq dan Jafar di depan Gerbang sekolah. Seperti biasanya Sidiq langsung di sambut teman teman nya. Dan langsung bergabung dengan mereka, sedangkan Jafar melangkah sendiri masuk kedalam kelasnya.


Aku baru menyadari kebiasaan tiap hari Jafar dan Sidiq ketika sampai di sekolah berbeda. Sidiq langsung bergabung dengan teman teman sekolahnya sedang Jafar cuek langsung masuk ke kelasnya. Kenapa aku baru menyadari keanehan Jafar ini sekarang, batinku.


Setelah aku lihat Jafar sudah masuk ke kelasnya aku pun segera pulang kembali ke rumah.


Sesampai dirumah, yang masih sepi karena Amir dan kawan kawannya belum pada datang. Hanya ada Fatimah dan Nisa yang sedang duduk di teras rumah.


“Sudah jadi telpon mbak Surti Fat ?” tanyaku.


“Sudah mas, sama tadi bilang kalo Amir agak terlambat bantuin mbak Surti nyiapin buka kios dulu.” Kata Fatimah.


“Owh ya gak papa, nanti Jafar kita ajak sekalian saja ke rumah Khotimah.” ucapku.


“Lah terus Sidiq sendirian dong mas, kan Nisa juga di ajak nanti.” Kata Fatimah.


“Ajak mas Sidiq juga yah, Nisa kangen sama Wisnu juga.” Sahut Nisa.


“Iya deh, berarti nanti gak bisa pakai motor kita rental mobil saja ya ?” kataku pada Fatimah.


“Terserah mas saja, yang penting semua bisa keangkut.” Jawab Fatimah.


“Nisa kamu main sendiri dulu ya ayah sama bunda mau bicara sebentar.” Pintaku pada Nisa.


“Gak mau, ayah saja yang main sendiri biar Nisa yang bicara sama bunda.” Jawab Nisa.


Fatimah hanya tersenyum mengejek ku mendengar jawaban Nisa. Aku sendiri terdiam salah tingkah menghadapi Nisa.


“Bicara saja mas, soal apa sih ?” Tanya Fatimah.


“Soal Jafar, aku baru menyadari kalo sifatnya memang agak Aneh. Cenderung pendiam dan agak susah bergaul dengan teman temannya.” Kataku pada Fatimah.

__ADS_1


“Eeh masak sampai segitunya sih mas ?” Tanya Fatimah kaget.


“Iya tadi aku perhatikan saat sampai di sekolah, Sidiq langsung gabung main dengan teman temannya sementara Jafar jalan saja mauk ke kelasnya.” Kataku.


“Tapi gak papa kan mas Jafar ?” tanya Fatimah khawatir.


“Insya Allah gak papa, mungkin hanya akan membuat dia sedikit bergaul tapi gak sampai parah apa lagi autis.” Jawabku.


“Kayaknya kalo di rumah juga bergaul biasa tuh sama temen temen sebayanya.” Jawab Fatimah.


“Memang biasa bertegur sapa juga dengan yang lainya. Hanya tidak ikutan bergabung dengan mereka, Jafar lebih memilih masuk ke kelas meski belum jam masuk. Sementara teman yang lain pada bermain di halaman sekolah.” Jawabku.


“Owh begitu, terus rencana mas mau gimana ?” Tanya Fatimah.


“Aku ingin memastikan siapa nenek nenek yang memaksa Jafar berlatih kanuragan tiap malam itu.” jawabku.


“Tapi kan itu Cuma dalam mimpi mas, bukan di alam nyata bagaimana menyelidikinya ?” Tanya Fatimah.


“Aku juga belum yakin, tapi aku punya firasat Jafar dilatih bukan dalam alam mimpi. Melainkan Jafar berlatih secara Fisik juga. Kamu lihat otot otot Jafar yang keras berisi, lebih keras dan lebih berisi di banding Sidiq.” Kataku pada Fatimah.


Fatimah termenung sejenak, mungkin dia juga baru menyadari jika postur tubuh Jafar lebih terbentuk otot ototnya di banding Sidiq.


“Fatimah gak pernah perhatikan sampai kesitu sih, tapi memang badan Jafar lebih lebar dan tulang tulangnya lebih besar di banding Sidiq.” Ucap Fatimah.


“Coba nanti pulang sekolah kamu selidiki dulu aliran darah Jafar, serta susunan otot nya. Kamu kan yang lebih faham soal itu !” pintaku pada Fatimah.


“Iya ya, kenapa Fatimah sendiri tidak kepikiran begitu sih mas.” Ucap Fatimah.


“Biar gak curiga nanti sekalian Sidiq juga kamu periksa seperti Jafar, kemudian kamu bandingkan mana yang punya aliran darah lebih bagus dan susunan otot yang lebih bagus.” Kataku pada Fatimah.


*****


Singkat cerita saat aku pulang menjemput Sidiq dan Jafar, setelah mereka makan siang kemudian Fatimah mengajak bicara dengan Sidiq dan Jafar.


“Bagaimana tadi sekolahnya nak ?” Tanya Fatimah kepada Sidiq dan Jafar.


“Tadi Sidiq ikut lomba lari bunda, dan Sidiq menang juara satu.” Jawab Sidiq.


“Wah bagus dong Sidiq, kalo Jafar gimana tadi di sekolah ?” Tanya Fatimah pada Jafar.


“Jafar hanya belajar menggambar dan menghitung bunda.” Jawab Jafar.


“Jafar, kamu masih capek apakah semalam masih mimpi yang sama ?’ tanyaku ke Jafar.


“iya Yah.” Jawab Jafar.


“Kalo begitu biar di pijit sama Bunda kamu sana. Soalnya mau Ayah ajak ke tempat bulek Khotimah bentar lagi berangkat.” Kataku pada Jafar.


“Iya Jafar, ayuk bunda pijitin sekarang bentar saja biar gak kecapekan.” Ucap Fatimah.


Kemudian Fatimah memegang lengan Jafar dan menyentuh titik titik tertentu di bagian punggung Jafar.


“Udah agak enakan kan nak ?” Tanya Fatimah.


“Iya Bunda, udah gak begitu pegel.” Jawab Jafar.


“sekarang kamu Sidiq, sini Bunda pijit.” Kata Fatimah kemudian melakukan hal yang sama dengan Jafar tadi.


Kemudian Fatimah menyuruh Sidiq dan Jafar berkemas untuk ikut kerumahnya Khotimah buleknya.


“Mas otot otot Jafar terbentuk bagus, dan aliran darah dan nafasnya juga sangat bagus. Lebih bagus dari Sidiq, apa mungkin benar jafar dilatih di alam nyata bukan hanya di alam mimpi ?” Tanya Fatimah.


“Iya, kecurigaanku seperti itu.” jawabku.


“Tapi kata mas. Semalam Jafar mas peluk sampai pagi. Terus bagai mana mungkin ?” kata Fatimah.


“Apa yang gak mungkin, kalo aku tertidur bisa saja Jafar dalam kondisi seperti mengigau di bawa keluar dan dilatih kanuragan diluar. Dan kembali beberapa saat sebelum subuh.” jawabku.


Karena pernah ada orang yang mengigau dalam kondisi tidur tapi melakukan  pekerjaan fisik. Sehingga saat bangun dia kaget karena kerjaannya sudah selesai. Padahal dia hanya merasakan mimpi mengerjakan. Tapi saat bangun pekerjaan itu benar benar sudah selesai. Atas dasar itulah, aku mencurigai Jafar pun mengalami hal semacam itu.


“Kalo begitu segera saja kita temui Khotimah mas, minta tolong jagain anak anak dulu. Besuk juga kita berangkat ke makam Yuyut. Fatimah punya pemikiran ini ada sangkut pautnya pada Yuyut.” Kata Fatimah.


Mungkin juga sih, secara waktu Jafar bayi pun Yuyut sudah sering di gendong Yuyut dan ibu mertuaku. Apa lagi saat belum selapan hari, ibu mertuaku yang selalu menggendong dan meminta Yuyut mendoakan Jafar setiap harinya terutama pagi dan sore hari.


“Iya aku juga sudah pesan mobil bentar lagi juga sampai, sekalian sopirnya juga.” Kataku pada Fatimah.


Beberapa saat kemudian mobil rental sudah datang dan kami segera berangkat ke rumah Khotimah, sengaja kami tidak memberi tahu Khotimah dan Candra. Untuk member kejutan pada mereka, pikirku.


...*****...


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote

__ADS_1


dan lainya, episode awal belum masuk ke konflik.


...🙏🙏🙏...


__ADS_2