Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Akhir Cerita Jalu


__ADS_3

...Akhir Cerita Jalu...


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


Pertempuran hari itu yang menyebabkan Jafar terluka membuat Sidiq sangat dendam pada Jalu. Dan akan kembali melampiaskan dendam nya nanti.


Yasin sangat sedih, melihat Jafar anak kesayangan Fatimah istrinya terkulai lemah. Demi menyelamatkan nyawanya Jafar rela membahayakan dirinya sendiri.


Semua terjadi karena kelicikan Bujang dari kulon, meskipun Bujang sendiri terkapar tidak bergerak.


Cepat cepat Yasin membawa Jafar ke pesantren Al-Hikmah untuk mendapatkan pertolongan. Motor Nia yang dibawa Jafar dibawa oleh Sidiq.


Sementara Kholis ikut membantu Yasin membawa Jafar.


Tak lama kemudian Ihsan datang dengan bala bantuan membawa mobil. Meskipun pertempuran sudah usai, namun kedatangan Ihsan dan rombongan dapat membantu Yasin membawa Jafar yang terluka ke Al-Hikmah.


Di pihak lawan pun dua orang yang terluka, Jalu dan Bujang dari Kulon dibawa dengan tandu darurat. Terutama ki Bujang dari Kulon yang pingsan terkena lebur Saketi Jafar.


Sementara Jalu yang mengalami luka di mata kirinya juga harus dibimbing jalannya. Karena dampak dari luka di mata kirinya. Menimbulkan efek nyeri sampai ke kepala nya.


pertempuran dihentikan sementara, kedua belah pihak meninggalkan Arena pertarungan dengan sama sama ada korban luka.


.....


.....


.....


Sesampainya di Pondok Pesantren Al-Hikmah, tempat Sidiq mengaji. Jafar segera mendapatkan perawatan. Sampai Kyai Nurudin abah gurunya Sidiq ikut turun tangan menangani Jafar.


Jadwal Latihan pencak silat pun dibatalkan karena Yasin harus mendampingi Jafar.


"Sabar kang anak kamu tangguh insyaAllah tidak apa apa." Kata Kyai Nurudin.


"Bah Din,,,?" Ucap Jafar lemah.


"Apa Jafar?" Tanya Kyai Nurudin.


Kemudian Jafar dengan gerakan yang masih lemah mengambil surat dari Abah gurunya Kyai Syuhada dan diberikan kepada Kyai Nurudin.


Kyai Nurudin menerima surat tersebut dan langsung membuka nya. Kemudian membaca isi surat tersebut. Kyai Nurudin terkejut membaca isi surat tersebut. Dimana isi surat itu mengatakan, Jika terjadi sesuatu pada Jafar Kyai Syuhada minta Kyai Nurudin yang merawat. sampai dengan Jafar sembuh.


Kyai Nurudin kemudian bertanya pada Sidiq.


"Apakah kamu tadi bertemu dengan adikmu saat adikmu menuju kemari ?" Tanya Kyai Nurudin.


"Iya bah, tadi Jafar menuju kemari." Jawab Sidiq.


Kemudian Kyai Nurudin ganti bertanya pada Kholis.


"Kamu tadi bilang jika mengemban tugas mendampingi Jafar. Apa masih ada pesan lain dari abah gurumu?" Tanya Kyai Nurudin.


"Abah guru bilang, nanti akan ada teman Abi Yasin yang akan membantu di sini." Jawab Kholis.


"Apakah yang dimaksud kang Tabib Ali Akbar?" Tanya Yasin.


"Kholis tidak tahu abi, mungkin juga beliau." Jawab Kholis.


"Alhamdulillah,,, jika benar kang Tabib Ali Akbar yang akan membantu mengobati Jafar anakku. Aku tidak khawatir dengan kemampuan yang dia miliki." Ucap Yasin.


"Siapa dia yah?" Tanya Jafar yang masih lemah.

__ADS_1


Meskipun Jafar merasakan sakit akibat luka dalamnya namun Jafar tidak mau menunjukkan rasa sakit yang dia rasakan.


"Dia teman ayah seorang Tabib yang handal, yang akan membantu mengobati Jafar." Jawab Yasin.


Jafar sekuat tenaga menahan rasa sakit yang dirasakan. Namun Jafar juga Manusia biasa yang punya batas kekuatan. Jafar batuk batuk dan mengeluarkan darah. Dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri.


Semua panik bahkan Sidiq sampai menangis merasa Jafar terluka karena dirinya.


Yasin segera meminta Kholis kembali ke Al-Huda dan menjemput Tabib Ali Akbar untuk mengobati Jafar.


Kholis pun segera minta diri dan berangkat ke Al-Huda. Sementara Jafar mendapatkan perawatan sementara dari Yasin sendiri bersama Kyai Nurudin. Untuk membantu mengurangi rasa sakit dan mengatur peredaran darah Jafar.


.....


.....


.....


Di tempat lain, Bujang dari Kulon dan Jalu juga mendapatkan perawatan oleh Gede Paneluh.


Menggunakan kafan curian Jalu, Bujang dari Kulon juga Jalu sendiri diobati dengan tata cara seperti saat Joyo Maruto mengobati Ajar Panggiring dulu dengan metode 'sewu Prewangan' [Seribu Khodam].


Sehingga dalam waktu singkat Bujang dari Kulon dan Jalu sembuh total. Hanya Saja Jalu tetap mempunyai cacat, mata kirinya tetap buta tidak bisa melihat.


Bujang berterima kasih pada Gede Paneluh, sementara Jalu sendiri malah merasa sedih. Dia yang mencari kafan tersebut, tapi justru mukanya yang tidak dapat sembuh total. Tetap meninggalkan kebutaan di mata kirinya.


"Kenapa Justru aku yang memiliki kafan tersebut justru tidak bisa sembuh total kakang Gede Paneluh?!?" Tanya Jalu kecewa.


"Aku juga heran, kenapa bisa begitu. Sebenarnya apa yang terjadi saat kamu mengambil kain kafan tersebut adi Jalu?" Tanya Gede Paneluh.


Akhirnya Jalu pun menceritakan kejadian yang di alami saat mulai memasuki komplek pemakaman dari bawah tanah.


"Begini kakang...!?! " Jalu memulai bercerita.


Jika saat sudah sampai di komplek makam dan bertemu dengan mayat pertama yang harus dilewati. Mayat yang masih baru itupun menatap Jalu dengan tatapan menantang.


"Aku hanya butuh kafan dari salah satu yang ada di sini.


" Apa kamu sanggup melewati kami semua?" tanya sosok itu.


"Apakah tidak ada cara lain untuk damai?" Tanya Jalu.


"Ada tiga tahap, tahap pertama mungkin bisa damai jika kamu beri kami sesaji tiap malam selasa kliwon. Tahap kedua tidak bisa damai kalau kamu bisa lewati tantangan mereka kamu akan sampai ke tujuan kamu. Tahap ketiga kamu harus kalahkan semua penjaga yang melindungi kafan itu." ucap sosok tersebut.


Kemudian Jalu menyetujui syarat yang diajukan sosok tersebut. Jalu pun menyanggupi sesaji yang diminta berupa Kembang tujuh rupa dan kepala ayam cemani.


Jalu diberikan jalan dan masuk ke tahap kedua, dan bertempur dengan lapisan kedua kelompok mayat yang dilewati.


Satu persatu dapat dikalahkan Jalu dengan mudah. Sampai akhirnya masuk ke tahap ketiga. Masuk ke tahap ketiga lawan Jalu adalah sosok seram penjaga mayat yang meninggal malam selasa kliwon tersebut.


Jalu kewalahan, semua Ilmu yang dipelajari tidak berfungsi sama sekali disitu. Jadi Jalu pun hanya mengandalkan kekuatan fisik semata.


Disitulah Jalu harus menggunakan alat menggali berupa linggis untuk melawan musuh musuhnya. Namun musuhnya bukanlah makhluk kasar yang bisa dilukai dengan benda. Sehingga Jalu kerepotan melawan mereka.


Hanya mengandalkan mantra mantra pemberian Gede Paneluh Jalu akhirnya bisa memberikan perlawanan.


Hingga akhirnya makhluk makhluk itu mundur satu persatu karena kesakitan. Namun ada satu makhluk yang masih bertahan dan berusaha mencekik leher Jalu.


Jalu bertahan berusaha melepas cekikikan makhluk terakhir yang mengeroyoknya. Hingga berhasil terlepas.


Kemudian makhluk tersebut berkata.


"Kamu sudah lolos, kami hanya menguji kesungguhan kamu. Sekarang ambil yang kamu mau." ucap sosok itu.


Kemudian Jalu mendekati mayat yang dimaksud. Dan aroma tidak menentu menusuk hidung Jalu. Dan wujud mayat yang meninggal malam selasa Kliwon karena kecelakaan tersebut kondisinya sudah tidak karuan.


Bahkan Kafan penutup yang tiga lapis itu pun sudah berlumuran darah yang mengering dan sangat berbau.


Jalu ragu ragu melaksanakan niatnya, berkali-kali menahan mual di perut.

__ADS_1


"Tahan Nafas kamu, pejamkan matamu mulailah dari tengkuk mayat itu." Ucap sosok itu.


Jalu pun mengikuti perintah sosok itu, dan memulai aksinya hingga selesai dan membawa kepala mayat tersebut.


Berkali-kali Jalu harus muntah sampai semua isi perutnya keluar. Mulut Jalu pun belepotan dengan darah busuk yang sudah kering hitam dan mengental.


Namun satu hal yang dilanggar Jalu sempat membuka sedikit mata kirinya. Karena rasa penasarannya, sehingga mata kirinya terkena percikan dari koyakkan daging mayat.


Sehingga membuat mata kiri Jalu terasa terbakar.


"Sudah kubilang tutup mata kamu, akibatnya kamu sendiri yang harus menanggung." Ucap sosok tersebut dan langsung menghilang.


Dan Jalu kemudian pergi dengan membawa selembar kafan penutup mayat yang sekaligus di pakai membungkus kepala mayat itu.


Dengan menahan lelah, sakit dan mual Jalu keluar dari terowongan yang dibuat selama beberapa malam tersebut. Dan langsung menuju ke markas persembunyian mereka.


Jalu hanya berjalan kaki karena sepupu dan kawan kawannya ketakutan dan jijik dengan keadaan Jalu. Meskipun Jalu mengancam akan membatalkan tebusan dia keluar dari penjara. Mereka tetap tidak mau mengantarkan Jalu.


Terpaksa Jalu harus berjalan kaki menuju markas, dan akhirnya sampai dan segera dimandikan dengan air kembang oleh Gede Paneluh.


Sebuah ritual yang sangat menjijikkan sebenarnya, namun demi Ambisi, Jalu rela melakukan itu.


.....


.....


.....


Sementara itu Kholis yang diperintah Yasin kembali ke Al-Huda pun sudah sampai di Pesantren Al-Huda.


"Perkenalkan ini abinya Vina, Ali Akbar Attaturk dan istrinya Arlita uminya Vina. Sekarang kamu ceritakan apa yang kamu alami." Perintah Abah gurunya Kholis.


Kholis pun menceritakan dari awal kedatangan nya di pesantren Al-Hikmah sampai dengan Jafar yang terluka karena berhadapan dengan ki Bujang dari Kulon yang menggunakan Aji Gundolo Sosro.


"Ada pesan tertentu tidak dari Al-Hikmah?" Tanya Kyai Syuhada.


"Ayah Jafar minta Kholis menjemput Tabib Ali Akbar dan membawa ke Al-Hikmah. Maaf bah, apakah Tabib itu abi nya Vina ini?" Tanya Kholis.


Kyai Syuhada tersenyum sebelum menjawab.


"Betul, ayah Vina ini seorang Tabib dan dialah yang akan bantu obati Jafar." kata Kyai Syuhada.


"Iya, saya Tabib Ali dan siap bantu obati Jafar. " kata Tabib Ali.


Tanpa berlama-lama Kholis pun segera mengajak Abi dan uminya Vina menuju ke pondok pesantren Al-Hikmah.


Dan mereka pun berangkat ke pondok pesantren Al-Hikmah. Tabib Ali dan istrinya pun segera mengikuti Kholis setelah berpamitan dengan Kyai Syuhada


Dengan menggunakan kendaraan orang tua Vina Kholis duduk di depan manjadi Navigator ayahnya Vina.


Hingga Akhirnya kedua orang tua Vina sudah sampai di Pondok Pesantren Al-Hikmah. Dan Tabib Ali langsung memegang tangan Jafar memeriksa keadaan Jafar dari denyut Jantungnya sampai peredaran darah dan oksigen dalam tubuh Jafar,


"Untung belum terlambat, meski butuh beberapa ramuan obat agar anak ini bisa cepat sembuh." kata Tabib Ali.


Kemudian Tabib Ali memeriksa seluruh tubuh Jafar secara detail.


"Untung tubuh anak ini sangat kuat, jika tidak sudah tewas seketika." kata Tabib Ali....?!?


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2