
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Mendekatkan Sufi dan Farhan...
Sementara Ki Munding Suro yang di sebutkan Yasin sudah menuju ke markas persembunyian Ki Marto Sentono...!!!
Seorang pertapa sahabat Maheso Suro musuh Yasin di masa lalu. Yang lama mengasingkan diri sekarang turun gunung ingin membalas dendam kematian Maheso Suro.
"Seperti apa hebat nya orang yang bernama Yasin. Sampai menghebohkan dunia persilatan." Kata Ki Munding Suro.
"Tentu saja tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan guru." Kata Kakak beradik Murid Ki Munding Suro.
"Apa benar ini jalan menuju kediaman Marto Sentono Gagak Seta dan Jaladara?" Tanya Ki Munding Suro.
"Menurut keterangan kakang Wiratmojo benar Guru." Jawab Gagak Seta.
"Menurut keterangannya, jalan lurus ke depan tatapan mata tidak berbelok sebelum bertemu bendungan besar guru." Sambung Jaladara adik Gagak Seta.
Guru dan kedua muridnya itu pun terus melangkah mencari kediaman Ki Marto Sentono.
.....
Sementara Ki Marto Sentono sendiri sedang mencari keberadaan Kala Srenggi dan Otang di dasar sebuah jurang.
"Bagaimana Ki Marto, apa belum ada petunjuk keberadaan Kala Srenggi dan Otang?" Tanya Ki Bujang.
"Sebentar, aku gunakan aji pameling untuk mendengar apakah ada suara Kala Srenggi dan Otang." Jawab Ki Marto.
"Bukankah Aji Pameling itu untuk mengirim pesan langsung guru?" Tanya Jaka.
"Bisa juga untuk mendengar percakapan jarak Jauh. Bisa digunakan mengirim pesan justru hanya kepada sesama pemilik Aji Pameling." Jawab Ki Marto. Kemudian mencoba kerahkan kekuatan untuk mencari Kala Srenggi dan Otang. Melalui suara gelombang suara jika Kala Srenggi atau Otang berbicara.
Ki Marto pun menggunakan Aji Pameling untuk mencari keberadaan Kala Srenggi dan Otang.
Lamat lamat pun terdengar suara Otang.
"Aku sudah tak kuat lagi ki, seluruh ototku terasa linu. Dan Kulit tubuh pun sangat panas rasanya. Aku berharap mati saja ki, mudah mudahan dari goa itu muncul ular besar memangsa kita." Suara Otang yang merintih rintih.
"Aku juga sudah gak punya semangat hidup lagi, mungkin mati lebih baik buat kita." suara Kala Srenggi tidak kalah Miris dengan Otang.
"Dua orang itu masih hidup, tapi dalam kondisi lemah. Cari terus posisinya di dekat Gua." Kata Ki Marto.
Mereka berempat pun segera berpencar mencari keberadaan Kaka Srenggi dan Otang.
Dengan Susah payah menempuh medan berbatu dan pasir yang licin akhirnya mereka menemukan Kala Srenggi dan Otang yang sudah pingsan.
Mereka kaget melihat kondisi tubuh Kala Srenggi dan Otang yang penuh luka bengkak dan memar serta goresan.
Dengan membuat tandu dari dahan kayu dan kain sarung sebagai penyangga tubuh. Mereka berempat membawa tubuh Kala Srenggi dan Otang.
.....
.....
.....
Di tempat lain Yasin dan Farhan dalam perjalanan pulang dari rumah Ayahnya Riska.
"Kita mampir ngopi di warung duku yuk." Ajak Yasin.
"Kan tadi udah ngopi, nanti di rumah juga ngopi lagi. Masak mau mampir ngopi?" Jawab Farhan.
"Ngopi yang ini beda, ikut aja pokoknya." Kata Yasin.
Farhan pun tak punya pilihan lain kecuali mengikuti ajakan Yasin. Dan yang dipilih Yasin adalah sebuah warung angkringan yang baru mulai buka waktu itu.
"Ini yang dimaksud beda mas, karena penjualnya cewek yang pakainya sedikit terbuka ?" Tanya Farhan.
"Hmmm...!" Jawab Yasin singkat.
Farhan agak ragu atau mungkin sedikit heran dengan Yasin. Memilih warung yang penjualnya wanita berpakaian sedikit terbuka. " masak Mas Yasin seleranya begini, apa gak ingat Mbakyu Fatimah di rumah." Kata Farhan dalam hati.
"Kopi hitam gak pakai gula mbak." Pinta Yasin pada penjual tersebut.
"Iya Mas, pahit dong gak pakai gula." Jawab wanita penjual tersebut.
"Saya gak suka manis." Jawab Yasin.
Farhan pun ikut memesan minuman, sekedar menemani Yasin.
Sambil menunggu Yasin menikmati menu camilan yang di jajakan.
Beberapa menit kemudian datang rombongan bapak bapak yang ikut jajan.
__ADS_1
"Mie rebus Min" Kata Seorang pembeli diikuti yang lain.
Sepertinya rombongan pekerja proyek yang baru pulang kerja.
"Mie rebus semua? Minum nya apa?" Tanya penjual.
Jawaban pun beragam, ada yang minta teh, kopi jeruk dan lain lain.
"Susu peras ada Min?" Tanya seorang pembeli.
Farhan yang tidak biasa mendengar hal seperti itu jadi agak risih. Sementara Yasin yang sudah kebal omongan seperti itu cuek saja.
"Apa sih mas maksudnya?" Tanya penjualnya.
"Ya susu sapi kan dari hasil memeras." Jawab orang tersebut.
"Dasar kamu gak bisa lihat wanita cantik, otak kamu langsung ngeres mikirnya." Kata teman satu rombongan orang itu.
"Wajar lah laki laki normal kok, ya gak pak?" Kata orang tersebut dan mencari pembenaran pada Yasin.
"Iya, wajar kok." Jawab Yasin.
Farhan yang mendengar jadi makin heran dengan Yasin. Yasin yang tahu jika Farhan risih tetap cuek saja. Seakan tidak terjadi apapun.
"Tuh kan, bapak nya juga bilang wajar." Kata orang tersebut.
"Wajar sih wajar, tapi mata dan mulut tetap harus di jaga. Kasihan Minah jadi malu sendiri tuh." Sahut yang lain.
Suasana menjadi ramai dengan percakapan para pekerja proyek tersebut.
"Baru pulang kerja ya bapak bapak ini?" Tanya Yasin.
"Iya pak, ikut proyek bikin Dam untuk normalisasi sungai." Jawab salah satunya.
"Masih lama pak selesainya?" Tanya Yasin lagi.
"Lumayan pak, sekalian bangun jembatan tadi saja ada orang nyebrang harus muter jauh. Mana orang luar belum tahu jalan lagi." Jawab orang yang lainnya.
"Orang luar, maksudnya Turis Asing memang bapak bapak bisa bahasa asing?" Tanya Yasin heran.
"Bukan pak, maksudnya bukan orang setempat, tapi sudah kakek kakek dengan dua muridnya." Jawab yang lain.
Yasin jadi terkejut, "jangan jangan orang itu Ki Munding Suro?!?" Kata Yasin dalam hatinya.
"Dari mana bapak tahu dua orang itu muridnya?" Tanya Yasin.
"Tadi sempat mendengar dua pemuda yang ikut itu memanggil kakek itu dengan sebutan Guru." Jawab orang tersebut.
"Kalau tidak salah Mbah Kebo eee mbah Munding tadi sebutannya. Kenapa pak apa bapak kenal?" Tanya balik orang tersebut.
"Maksudnya Ki Munding Suro mungkin?" Kata Yasin.
"Nah betul Ki Munding Suro, kan Munding artinya juga kebo pak. Jadi bapak kenal?" Tanya orang itu lagi.
"Jelas kenal, dia kan guru saya juga, tadi bilangnya mau ke mana biar saya susul nanti?" Tanya Yasin bersandiwara.
Farhan jadi makin bingung, sama sekali tidak paham dengan yang Yasin lakukan.
"Tadi bilangnya mau mencari Ki Marto...?" Belum selesai bicara langsung dipotong Yasin.
"Ki Marto Sentono maksudnya?" Kata Yasin.
"Betul pak, tadi bilang mau mencari Ki Marto di kawasan hutan di bukit Kemuning." jawab orang tersebut.
"Wah Terimakasih pak informasinya, silahkan dilanjut kami mau pulang duluan." Kata Yasin langsung pergi setelah membayar jajan.
....
Sesampainya di rumah Yasin Farhan memberanikan diri bertanya. Apa yang menjadi ganjalan hatinya.
"Maaf mas, Farhan boleh nanya tidak?" Tanya Farhan.
"Tanya saja, siapa yang melarang." Jawab Yasin.
"Kenapa Mas Yasin memilih warung yang tadi ?" Tanya Farhan setengah protes.
"Memang kenapa Farhan?" Tanya Yasin.
"Kan yang jual wanita dan bajunya sedikit terbuka. Sebagian auratnya kelihatan, kenapa gak cari warung yang lain saja ?" Protes Farhan.
"Kamu tadi juga minum dan makan di sana kan?" Tanya Yasin.
"Iya, tapi kan mas Yasin yang ngajak ke warung itu." Jawab Farhan.
"Makanan dan minuman yang kamu nikmati tadi halal atau haram menurut kamu?" Tanya Yasin.
"InsyaAllah halal, kan minum teh dan gorengan saja bukan barang haram." Jawab Farhan.
"Terus alasan keberatan kamu jajan di Warung itu apa?" Tanya Yasin.
"Karena yang jualan pakaiannya sedikit terbuka memperlihatkan auratnya Mas." Kata Farhan.
__ADS_1
"Berarti selama di warung itu tadi, kamu hanya perhatikan aurat wanita penjual jajan itu ?" Kata Yasin.
"Bukan begitu Mas, kan jelas kelihatan wong di depan mata." Jawab Farhan agak tersipu.
"Aku juga di depannya, tapi gak perhatikan secara detail kayak kamu kok." Jawab Yasin.
Farhan hanya tertunduk malu, mendengar jawaban Yasin. Kemudian Yasin menjelaskan secara detail alasan dia memilih warung tersebut.
Pertama,
Yasin menghargai wanita tersebut (yang mungkin saja janda dan membiayai hidup anaknya). Dia mau bekerja mencari nafkah yang halal dengan jualan makanan dan minuman. Toh yang dijual barang halal, bukan jual diri.
Soal pakaian dia yang sedikit terbuka itu soal lain. Meskipun tidak baik, tapi niat dia cari nafkah yang halal harus di apresiasi.
Kedua,
Sengaja memilih warung tersebut, karena mau mencari informasi tentang lawan. Dan diwarung seperti itulah biasanya menjadi pusat penyebaran informasi.
Terbukti mendapatkan informasi tentang kedatangan Ki Munding Suro. Tokoh lawan yang berbahaya.
Setelah mendengar penjelasan Yasin yang panjang lebar barulah Farhan mengerti maksud Yasin yang sebenarnya.
"Kenapa gak bilang dari awal sih Mas. Kan Farhan gak su'udzon jadinya. " kata Farhan.
"Kelamaan kalau mau ngopi saja harus jelasin begitu. Tapi aku pikir karena kamu terlalu takut seperti itu yang buat kamu masih jomblo sampai sekarang.Goda Yasin pada Farhan.
"Tuh kan akhirnya sampai juga ke situ." Gerutu Farhan.
"Ya aku prihatin saja, memang wanita yang kamu cari yang seperti apa? Apa harus aku cariin?" Goda Yasin.
"Farhan gak punya kriteria khusus kok mas, asal mau diajak bareng ibadah." Jawab Farhan.
"Itu saja, gak ada sarat lain ?" Tanya Yasin.
"Iya Mas, Farhan juga sadar secara umur sudah gak muda masak mau cari yang muluk muluk." Jawab Farhan.
"Janda gak masalah?" Tanya Yasin lagi.
"Gak masalah, Janda punya anak juga gak papa asal mau diajak beribadah mendekatkan diri pada Allah." Jawab Farhan.
" Janda dan punya masa lalu gak baik mau ?" Tanya Yasin lagi.
"Masa lalu gak penting Mas, seperti Mas Yasin sendiri kan juga punya Masa lalu." Jawab Farhan mantab, sekaligus membalas Yasin.
"Wah kamu ngelunjak ya, Fatimah...!" Yasin memanggil Fatimah istrinya.
"Apa sih Mas kok teriak teriak begitu?" Tanya Fatimah.
"Ada hal penting, Panggil Sufi kemari dan kamu juga ikut bicara sekalian." Kata Yasin.
"Ada apa memangnya?" Tanya Fatimah bingung.
"Sudah ikuti saja kataku, jangan sampai anak anak ikut dengar dulu tapi." Kata Yasin.
"iih mencurigakan...! " Jawab Fatimah namun tetap mengikuti ucapan Yasin suaminya.
Maka berkumpul Sufi dan Fatimah dengan Yasin dan Farhan.
"Langsung saja Sufi, aku mau nanya apakah kamu masih punya keinginan hidup berumah tangga?" Tanya Yasin pada Sufi.
"Ya masih, tapi....!" belum selesai Sufi bicara langsung dipotong Yasin.
"Gak usah pakai tapi, masih mau apa gak?" Desak Yasin.
"Iya masih Mas." Jawab Sufi.
"Kalau misalnya ada yang mau mengajakmu menikah laki-laki seperti apa yang kamu inginkan?" Tanya Yasin lagi.
"Yang siap jadi Imam bagi Sufi, dan bisa membimbing Sufi mencari Ridho Allah." Jawab Sufi mantab.
"Kalau begitu, aku kasih waktu kamu dan Farhan saling ta'aruf. Aku tunggu secepatnya, kalau kalian cocok langsung aku nikahkan disini nanti. Biar Kang Syuhada yang menikah kan kalian." Kata Yasin.
"Tapi wali Nikah Sufi mas?" Tanya Fatimah.
"Dia kan statusnya Janda, jika terpaksa tidak ada wali bisa menikah tanpa wali. Namanya menikah diri sendiri kalau statusnya Janda." Jawab Yasin.
"Tapi Mas, Sufi kan bukan orang baik." kata Sufi.
"Kalau soal itu kamu bicara langsung sama Farhan. Jika kalian berdua bisa saling menerima aku yang akan membuat acara pernikahan. Tapi jika tidak cocok aku tidak bisa memaksakan. Jangan sungkan kalau memang tidak ada kecocokan bilang saja." Kata Yasin.
Kemudian Yasin mengajak Fatimah masuk ke dalam memberikan waktu Sufi dan Farhan berbicara empat mata diruang tamu. Yasin dan Fatimah hanya mengawasi dari kejauhan di ruang mujahadah...!!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...