Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Riska terkena Lemparan Ari


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


Namun Ari pun sangat marah karena merasa dipecundangi Sidiq, harga dirinya atau gengsinya terasa jatuh. Karena di depan banyak orang dirinya yang terkenal jagoan itu dengan mudah dijatuhkan Sidiq. Diam diam Ari pun menyiapkan air cabai dalam plastik dan bersiap melemparkan ke  arah wajah Sidiq agar matanya kesakitan. Sambil merangkak bangun diam diam Ari mengambil Air cabai yang disimpannya di dalam tas pinggangnya. Di samping itu pun tanpa diketahui yang lain Ari juga menyiapkan sebilah belati kecil, kemarahannya sudah menggelapkan mata tidak peduli lagi dengan komitmen awal yang dibuat tadi. Yang ada di pikirannya hanya ingin balas dendam dengan Sidiq…???


Ari bangkit dan melemparkan air yang sudah dikasih bubuk cabai ke wajah Sidiq. Dengan harapan Sidiq akan kesakitan dan tidak mampu membuka matanya. Namun Ari salah duga reflek Sidiq yang sudah terlatih melihat  dan merasakan ada benda meluncur mengarah ke wajahnya secepat kilat menghindari sehingga air cabai dalam plastik yang dilempar Ari hanya melewati Sidiq.


*****


Flashback beberapa saat sebelumnya


Saat Sidiq mau menyerahkan tas sekolah ke Ihsan dan Ari melancarkan tendangan hingga membuat Sidiq jatuh semua menjerit. Dan Riska yang tadinya takut melihat hanya berdiri di belakang jadi ikutan maju melihat keadaan Sidiq.


“Curang tuh Ari, belum belum sudah mencuri start.” Ucap Riska.


“Tenang saja Ris, Sidiq gak akan kalah dengan kecurangan Ari. Kalau kamu takut sebaiknya mundur saja.” Kata Ihsan menasehati Riska.


“Sebenarnya Riska juga ngeri, tapi gak tega kalau Mas Sidiq dicurangi.” Jawab Riska di damping Lita.


“Tapi bahaya kalau disini Riska, takutnya elo malah jadi sasaran kemarahan Ari nanti.” Kata Riska.


“Gak papa Lita, Riska mau lihat dan memperingatkan kalau Ari mau curang.” Jawab Riska.


Riska memang agak takut dan khawatir dengan Sidiq. Namun melihat Sidiq bangkit dan tidak cedera Riska menjadi agak lega, apa lagi melihat kemudian Sidiq mampu membalas Ari atas kecurangan yang dilakukan terhadap Sidiq. Dan Riska menjadi penasaran serta berdiri melihat pertempuran di paling depan. Meski dengan perasaan was was, karena kekasihnya Sidiq sedang melawan orang yang licik.


Flashback off


*****


Air dalam plastick yang dilemparkan Ari ke wajah Sidiq dapat dengan mudah dihindari oleh Sidiq. Namun sayangnya air cabai itu justru meluncur dengan cepat ke arah Riska dan mengenai wajah Riska hingga Riska menjerit menahan perih di matanya dan merasakan panas di wajahnya. Karena sebagian air itu masuk ke dalam mata Riska.


Mendengar Riska menjerit, Sidiq pun berniat menghampiri Riska tanpa menghiraukan Ari. Sidiq lebih mengkhawatirkan keselamatan Riska. Tanpa di sadari Sidiq Ari sudah menggenggam belati kecil yang sudah disiapkan.


“Mampus sekarang kamu Sidiq, jika kamu bisa aku kalahkan maka tidak akan ada lagi yang berani melawan aku nanti.” Kata Ar dalam hati sambil melompat menyerang Sidiq. Ari tidak menghiraukan kesepakatan sebelum pertempuran, dia berpikir jika Sidiq dapat dilumpuhkan maka tidak akan ada orang yang berani melawannya. Bahkan Ihsan pun dia pikir tidak akan berani tanpa Sidiq.


Melihat hal itu Ihsan berteriak memperingatkan Sidiq.


“Awas Diq, Ari bawa senjata…!” teriak Ihsan.


Sidiq yang mendengar teriakan Ari langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan melihat Ari yang sudah melompat ke arahnya dengan belati di tangannya. Kemarahan Sidiq benar benar telah memuncak. Dengan gerakan cepat  Sidiq menjatuhkan tubuhnya sehingga serangan Ari dapat dihindari meski Sidiq harus berguling di tanah.


Dan Ari yang melihat Sidiq masih berguling di tanah kembali melancarkan serangan kepada Sidiq dengan belatinya. Sehingga Sidiq yang belum sempat berdiri agak kerepotan menghadapi Ari. Dan dengan perhitungan yang matang Sidiq berusaha menendang tangan Ari yang memegang pisau belati tersebut.


Semua tegang, tidak menyangka jika akan terjadi hal yang demikian. Perkiraan hanya kan terjadi perkelahian tangan kosong saja. Sehingga semua berteriak menyumpahi Ari dan sebagian juga mengumpat atas tindakan Ari tersebut.


Sementara Sidiq berhasil menendang tangan Ari yang memegang pisau belati hingga terpental dan Jatuh. Dan dengan kemarahan yang sangat Sidiq tidak membuang kesempatan itu. dengan sekali hentakan kakinya Sidiq melompat dengan Posisi tangan ke atas menyerang Ari dengan sikunya mengarah langsung ke kepala Ari. Kemarahan Sidiq yang sudah tidak terbendung lagi, selain karena merasa dicurangi juga karena Riska yang ikut terluka. Sehingga membuat Sidiq ingin segera menyelesaikan perkelahian itu.


Dan Ari yang tercengang karena pisau belatinya terlempar, dan kaget melihat gerakan Sidiq yang begitu cepat dan akurat. Membuat Ari beberapa detik hanya bengong, dan tahu tahu siku tangan Sidiq sudah mendarat keras di kepalanya. Selanjutnya Ari jatuh tak sadarkan diri terkena serangan Siku Sidiq.


Sidiq yang sudah memerah wajahnya karena marah masih belum puas dengan itu. dengan Cepat dia mendekati Herman dan langsung memukul Herman sambil memberikan ancaman kepada semua pendukung Ari.


“Majulah kalian semua kalau masih ada yang tidak puas dengan ini, biar sekalian aku bikin kalian seperti bos kalian…!” Bentak Sidiq sambil memukul Herman. Sehingga Herman yang tidak menyangka akan menjadi sasaran kemarahan Sidiq kaget dan terjatuh. Herman yang memegangi dadanya yang sesak akibat pukulan Sidiq berusaha berdiri namun kesusahan. Sehingga membuat yang lain mundur menjauh dari Sidiq yang sangat marah tersebut.


“Ampun, kami gak ikutan kami hanya mengawal Ari saja…!” ucap Jefri yang semakin ketakutan.


“Cepat bawa Ari pergi jauh dari sini, dan kalian jangan tampakkan wajah dihadapan ku lagi sebelum pikiranku berubah…!” bentak Sidiq kepada anak buah Ari tersebut.


Dengan cepat mereka pun membawa Ari yang pingsan dan memapah Herman yang kesakitan. Semua meninggalkan tempat tersebut dengan rasa ketakutan. Bahkan orang orang yang berada di situ pun sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Sidiq. Mereka baru tahu jika Sidiq sudah marah betulan ternyata menjadi sangat beringas dan tidak peduli kepada siapapun.


Sidiq segera mendekati Riska kekasihnya yang masih menahan sakit dan menutup matanya karena perih.


“Cepat carikan Air bersih untuk membersihkan matanya Riska !” kata Sidiq.


“Bawa ke rumahku saja, rumahku agak dekat dari sini biar Riska kita raat di rumahku.” Ucap Dirga teman sekelas Ihsan.


Tanpa berpikir panjang Sidiq pun membopong tubuh Riska, dan membawa ke rumah Dirga.


“Ayo cepat Kasihan Riska keburu kesakitan.” Ucap Sidiq sambil membopong tubuh Riska.


Saat itu Sidiq tidak bisa berpikir apapun kecuali segera menolong Riska yang kesakitan dan tidak mampu membuka matanya karena merasakan sangat perih di matanya. Bahkan Ihsan pun yang teman satu pesantren tidak bisa berbuat apa apa. Hanya membatin dalam hati, “ kamu gak sadar Diq, jika kamu sedang membawa gadis yang bukan mahram kamu. Tapi aku tahu jika niat kamu memang hanya menolong, sementara yang cewek disini hanya Lita.”


*****


Sesampai di rumah Dirga, Sidiq segera menurunkan tubuh Riska. Sementara Dirga mengambilkan air bersih dan menunjukkan kran air di depan rumahnya.


“itu ada Kran air bersih, setelah cuci muka bilas di sana saja, aku buka saluran air kran itu dari dalam. ..!” kata Dirga.


Sidiq segera memberikan perawatan kepada Riska, dengan lembut Sidiq membantu Riska untuk mencuci muka. Setelah kran air menyala Sidiq pun membawa Riska ke kran air dan meminta Riska membersihkan matanya dengan air kran yang mengalir. Dengan mengatur tekanan air agar tidak terlalu kencang Sidiq meminta Riska membuka mata dan menyiram langsung dari kran air yang sudah di atur agar tidak terlalu kencang.


Kemudian Riska pun mengikuti apa kata Sidiq, dan setelah merasa agak segar Riska pun segera kembali duduk di teras rumah Dirga.

__ADS_1


“Bagaimana sekarang Riska, apakah masih terasa sakit ?” Tanya Sidiq yang kelihatan sangat khawatir dengan keadaan Riska.


“Sudah mendingan mas, hanya mata Riska masih terasa sedikit ada yang mengganjal.” Jawab Riska sambil mengedipkan matanya menahan rasa yang masih sedikit perih dan mengganjal.


“Coba aku lihat, siapa tahu ada benda yang masuk ke mata.” Ucap Sidiq.


Kemudian Sidiq pun melihat mata Riska yang sebelah kanan yang katanya masih terasa mengganjal.


“Iya ini ada sesuatu yang masuk ke mata kamu Ris, aku tiup ya ?” kata Sidiq.


“Iya mas, tapi jangan kenceng kenceng takut sakit.” Jawab Riska.


Sidiq pun mendekatkan wajahnya ke Riska untuk meniup sesuatu yang masuk ke mata Riska. Dengan pelan dan lembut Sidiq meniup sesuatu itu hingga keluar dari mata Riska. Akhirnya Riska bisa merasakan lega, karena sesuatu yang mengganjal di matanya sudah hilang.


Riska mencoba mmengedipkan matanya untuk memastikan jika matanya sudah tidak kemasukan benda asing lagi. Setelah merasa yakin tidak ada yang mengganjal di matanya, Riska pun baru sadar kalau wajah Sidiq sangat dekat dengan wajahnya. Dan itu adalah pertama kali dia merasakan disentuh bahkan sampai dibopong Sidiq tadi. Dan saat ini wajah Sidiq pun masih sangat dekat dengan wajahnya. Sehingga rasa sakit yang masih sedikit terasa sekarang berubah menjadi debaran hati Riska.


Beberapa detik Riska dan Sidiq hanya berpandangan, meski Sidiq sendiri hanya bermaksud melihat kondisi mata Riska saja awalnya. Namun setelah melihat Riska sudah baikan dan wajah mereka sangat dekat begitu keduanya justru jadi saing terdiam. Hanya saing pandang saja, tanpa ada sepatah kata yan terucap.


“Eheem.. udah sembuh belum Ris…?” tanya Lita mengejutkan Riska dan juga Sidiq.


Sehingga keduanya tersadar dan Sidiq segera melepaskan tangannya yang masih memegang kepala Riska sehabis meniup mata Riska tadi.


“Eeh maaf, aku gak bermaksud apa apa.” Ucap Sidiq malu saat sadar dirinya dan Riska yang saling pandang dan tangannya masih memegang kepala Riska dengan posisi wajah mereka yang sangat dekat tersebut.


Riska tidak mampu menjawab dengan kata kata, dia juga hanya tersenyum serta kemudian tertunduk malu. Riska pun baru sadar jika mereka diawasi oleh teman teman satu sekolahnya.


“Kok jadi ingat Novel sengsara membawa nikmat ya.” Goda salah satu anak yang ada di situ.


“Diih apaan sih, kan Sidiq tadi hanya menolong Riska saja gak ngapa ngapain.” Jawab Sidiq tersipu malu.


“Iya sih, untung saja kalian sadar kalau kita juga ada di sini coba kalau tidak, gak tahu deh…!” Ucap Lita menggoda.


“Apaan lo Lita, teman lagi dapat musibah malah meledek begitu.” Gerutu Riska.


“Iya tapi akhirnya seneng kan Ris ?” goda Lita.


“Seneng apaan Lita orang sakit beneran tadi.” Jawab Riska masih menahan malu.


“Ya senang karena sudah sembuh, aku jadi iri nih pengen juga punya cook yang perhatian begitu sama gue Ris.” Lanjut Lita.


“Lah emang gue kurang perhatian apa Lita ?” goda Ihsan pada Lita.


“Gue tabok juga lo San, lo kan udah punya gebetan ngapain juga ngarepin lo…!” sahut Lita.


“Sudah sudah, kalian ini kasihan Riska dan Sidiq tuh jadi pada diam saja.” Ucap Dirga.


“Diq, lo ganti pakaian dulu pakai baju gue dulu gih. Baju kamu kotor penuh tanah tuh.” Ucap Dirga sambil menyerahkan baju kepada Sidiq. Sidiq yang baru sadar jika bajunya kotor pun segera mengganti bajunya dengan meminjam baju Dirga tersebut.


“Lo udah terlambat kerja kan Diq, ku antar saja yuk pakai motorku biar cepat.” Kata Ihsan.


“Boleh deh  pulang dulu Ga, makasih ya pinjaman bajunya.” Ucap Sidiq.


“Yoi, santai saja sob kita kan udah kayak saudara sekarang.” Jawab Dirga.


Ihsan pun segera mengantar Sidiq ke counter tempatnya bekerja.


*****


Sesampai di tempat kerja Sidiq, Ihsan pun langsung balik ke pesantren dan meninggalkan Sidiq disitu.


“Aku langsung balik saja Diq, ada acara juga nih.” Ucap Ihsan.


“Ok San, makasih banyak ya sudah mengantarku kesini.” Jawab Sidiq.


“Santai saja, besok kalau mereka masih gak terima kita hajar saja semua Diq. Aku juga sudah gak sabar tadi sebenarnya.” Kata Ihsan sambil melajukan motornya.


Sidiq pun segera masuk ke counter dan memulai aktivitas kerjanya. Namun saat mau mulai membuka HP yang akan di servis Sidiq kembali teringat dengan apa yang terjadi sebelumnya. Sidiq terbayang saat dirinya menatap Riska dengan wajah yang begitu dekat. Dan ingat juga saat dirinya membopong tubuh Riska membawa ke rumah Dirga untuk merawat Riska tadi.


“Astaghfirullah,,, kenapa aku sulit sekali melupakan itu ya.” Kata sidiq dalam hati.


Bayangan wajah Riska masih saja belum hilang dari ingatannya, sesaat mereka saling pandang dan saling tatap dalam jarak yang sangat dekat tadi.


“Riska memang sangat cantik, aku jadi susah melupakan peristiwa tadi.” Kata Sidiq dalam hati yang tidak bisa melupakan wajah Riska kekasih hatinya tersebut. Membuat Sidiq pun  tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.


Hingga datang seorang Customer yang akan membeli Kuota di counter tersebut.


“Beli kuota yang 80 giga…!” Ucap seorang pembeli.


“Kartunya apa pak ?” Tanya Sidiq.


“In***at.” Jawab orang tersebut singkat.


Kemudian Sidiq pun memberikan Voucher kepada orang tersebut.


“Sekalian diisikan bisa kan ?” tanya orang itu.


“Owh bisa pak.” Jawab Sidiq.

__ADS_1


“Jangan panggil saya pak, saya belum menikah, panggil mas aja.” Ucap orang itu.


“Owh baik mas, tunggu sebentar ya tolong buka sandinya dulu mas…?” ucap Sidiq.


Kemudian orang itu pun membuka sandi HP nya untuk diisi Kuota internet. Dan Sidiq segera mengisi kuota yang diminta tersebut setelah menggosok untuk mengisi empat belas digit nomor kode Voucher.


“Kamu masih muda sudah bekerja, gak sekolah ?” tanya orang tersebut.


“Sekolah pak eeh mas, kerja setelah pulang Sekolah kok.” Jawab Sidiq.


“Owh, sekolah dimana ?” tanya orang tersebut.


“Sekolah Di SMA xxxxxx mas.” Jawab Sidiq.


“Haah di sekolah itu ? Kelas berapa ?” tanya orang itu lagi seperti penasaran.


Sidiq jadi merasa ada yang aneh dengan orang itu, yang seakan ingin tahu lebih banyak tentang jati dirinya.


“Kelas Tiga mas, kok kayaknya kaget ada apa ya mas ?” tanya Sidiq.


“Owh gak kok, hanya aku juga punya sepupu jauh yang sekolah disitu juga.” Jawab orang itu.


“Owh, kirain dulu juga alumni sekolah itu.” jawab Sidiq.


“Bukan, rumahku agak jauh jadi sekolah di tempat lain.” Jawab Orang itu.


“Berarti sekarang ini sedang dalam perjalanan saja mas, mau kemana ? apa mau menemui sepupu mas yang satu sekolah denganku itu ?” tanya Sidiq.


“Gak kok, hanya jalan jalan saja, sambil mencari cari seseorang.” Jawab orang itu.


Sidiq jadi semakin penasaran dengan orang itu, ingin tahu lebih banyak tentang orang itu. namun bingung bagaimana cara bertanya agar tidak tersinggung.


“Mencari keluarga atau pacar mas ?” Tanya Sidiq sambil senyum mencoba mengakrabkan diri.


“Bukan, mencari seseorang yang ada urusannya dengan masalah keluargaku kok.” Jawab orang tersebut.


Sidiq terkejut, jangan jangan orang inilah yang bernama Sawung Panjalu. Dan dia juga yang dikenal dengan nama Jalu, apakah sepupu jauh yang dia maksudkan adalah Ari ? batin Sidiq. Sidiq jadi semakin berdebar, namun berusaha tetap tenang.


“Ini mas sudah masuk.” Kata Sidiq sambil menyerahkan HP.


Kemudian setelah Hp diserahkan terdengar beberapa chat masuk. Sehingga orang itu masih tetap duduk disitu sambil membuka dan membaca Chat yang masuk. Dan beberapa saat kemudian ada panggilan masuk, dan orang itu pun mengangkat telpon disitu juga.


“Halo… siapa ini ?” sapa orang itu.


Dalam hati Sidiq berkata, “ gak sopan angkat  telponnya, Kayaknya bukan orang baik ini.”


Kemudian setelah selesai angkat telpon orang itu kembali ke tempat duduknya dan bertanya kepada Sidiq.


“Kamu kelas Tiga ? Berarti kamu kenal dengan Ari sepupu jauhku. Apa tadi Ari berkelahi di sekolah ?” Tanya orang itu.


Sidiq jadi kaget ditanya seperti itu, karena dengan dirinyalah Ari berkelahi tadi.


“Kalau di sekolah tidak ada yang berkelahi mas, kalau ada pasti sudah dibubarkan pihak sekolah.” Jawab Sidiq berdiplomasi.


“Owh begitu ya, o iya nama kamu siapa ?” tanya orang itu.


Sidiq agak bingung untuk menjawab, jika dia mengaku sebagai Sidiq dan tahu awan Ari tadi juga bernama Sidiq pasti bisa jadi panjang urusannya.


“Owh nama saya Adji mas, Sekartadji panjangnya.” Jawab Sidiq, dengan menyebut nama Belakangnya saja agar tidak dikenal sebagai Sidiq.


“Ya sudah lah, aku mau melanjutkan perjalanan. Nanti kalau ketemu Ari bilang saja kemarin habis ketemu saudaranya yang bernama Jalu. Tolong bilang ke dia, kalau jadi laki laki jangan cengeng harus berani jangan loyo.” Kata orang itu.


Bagai disambar petir Sidiq kaget, karena tanpa diduga justru bisa bertemu dengan orang yang bernama Jalu. Hanya belum yakin apakah itu juga yang bernama Sawung Panjalu. Sementara mau menanyakan lebih lanjut Sidiq pun masih ragu takut justru dia curiga.


“Iya mas, hanya saja saya jarang bergaul di sekolah. Tapi kalau bertemu nanti akan saya sampaikan.” Jawab Sidiq. Dan orang itu pun segera pergi, setelah membayar kepada Sidiq.


“Tampaknya, apa yang disampaikan abah guruku dan juga adikku Jafar akan benar benar terjadi. Orang itu tampaknya suatu saat akan berhadapan denganku. “ kata Sidiq dalam hati.


Sidiq pun segera fokus kepada pekerjaannya, dan melupakan soal Riska untuk sementara. Karena Sidiq juga harus melakukan Ziarah setiap malamnya. Sampai dengan dapat bertemu dengan kakeknya SIdiq Ali dan kedua orang tua abah gurunya.


“Ya Allah Sidiq serahkan semua ini hanya kepada-Mu.” Doa Sidiq dalam hati. Merasakan saat bertemu dengan Jalu tadi merasakan getaran aneh yang penuh dengan aura mistis yang negatif…!!


...Bersambung...


Tetap mohon dukungannya


like


komen


dan


Vote nya ya Reader tercinta.


...🙏🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2