Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pasca pertempuran dengan Lady Ninja


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Dan sesaat kemudian gantian Yasin yang menjalankan kemudi mobil tersebut. Baik Ponco Steve maupun Mitsuga hanya menahan tawa melihat percakapan dan candaan Ayah dan anak tersebut. meski merasa lucu tapi mereka tidak enak untuk tertawa, takut membuat Yasin makin memarahi Sidiq anaknya.


“Sidiq, kamu duduk disini saja.” Ucap Ponco yang diam diam mengagumi Sidiq atas keberanian anak itu. Ponco ingat saat datang ke rumah Yasin dan sempat berdialog dengan Sidiq dan Jafar. Tak nampak rasa takut pada dua anak  itu saat mereka salah faham dengan Ponco. Dengan penuh percaya diri mereka menghalangi Ponco yang waktu itu mereka curigai hendak berbuat jahat.


Sementara Ponco tidak merasa tersinggung sama sekali waktu itu. justru salut atas keberanian Sidiq dan Jafar dalam melindungi keluarganya. Bahkan Steve pun sudah melihat keberanian Sidiq saat melepaskan anak panah kepada Lady Ninja yang mengejarnya tadi. Steve mengakui jika Lady Ninja itu tidak terkena anak panah Sidiq dirinya yang terluka akan kesulitan menghadapinya. Karena luka yang Steve alami tadi.


Sidiq mengikuti ajakan Ponco, tanpa menjawab sepatah kata pun. Karena Sidiq sebenarnya masih bingung dengan hubungan dua orang tersebut dengan ayahnya. Apakah benar benar sudah menjadi sahabat ataukah karena ada factor lain yang membuat ayahnya bersedia membantu mereka. Factor umur dan kedewasaan Sidiq berpengaruh dalam hal tersebut. sifat anak anak Sidiq masih mewarnai dia dalam bersikap. Jika bukan karena ketaatan kepada ayahnya Sidiq enggan dengan dua orang tersebut. sehingga terkadang masih kaku dalam berdialog dengan dua orang tersebut.


Dalam perjalanan pulang pun, Sidiq lebih banyak diam hanya sesekali menjawab pertanyaan Ponco dan Steve. Yang sering kali menanyakan seputar kegiatan sehari hari Sidiq dan kedua adiknya. Itu pun hanya dijawab Sidiq dengan sepatah dua patah kata saja. Untunglah Steve dan Ponco menganggap itu adalah keseharian Sidiq saja. Tidak mengetahui jika sebenarnya Sidiq masih merasa ada jarak dengan mereka.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah Yasin. Dan keluarga Yasin sudah menunggu mereka juga termasuk Khotimah yang ikut menjaga rumah Yasin dari serangan Lady Ninja. Yasin yang melihat keluarganya baik baik saja jadi lega. Namun Yasin belum tahu jika Nisa anak bungsunya di titipkan di tempat Rofiq dan Arum. Untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan, sehingga Yasin pun segera menanyakan keberadaan Nisa anak gadisnya tersebut.


“Lah Nisa kemana kok gak kelihatan ?” tanya Yasin pada Istrinya saat masuk rumah tidak melihat keberadaan Nisa.


“Fatimah titipkan ke Arum tadi, biar lebih aman di sana. Kan yang diincar adalah rumah kita.” Jawab Fatimah.


“Owh sukurlah, kalo tidak terjadi apa apa terhadap kalian. Tapi kenapa banyak sekali cermin di sini ?” tanya Yasin kemudian.


“Itu Jafar yang memasang, buat mengintai keadaan di luar rumah tadi.” Jawab Fatimah.


Yasin diam sejenak, mencoba memahami apa maksud Fatimah. Dan Yasin sedikit memahami apa maksud dipasang cermin di berbagai tempat tersebut. “Dari mana anak itu mendapat ide seperti ini.” kata Yasin dalam hati.


Kemudian setelah mempersilahkan Steve untuk istirahat di kamar dan meminta Ponco membantu merawat Steve dan menempatkan Yukimoto diruang khusus untuk diobati juga. Meski harus selalu diawasi juga, karena masih cukup berbahaya. Kemudian Yasin melihat keadaan isi rumahnya, sekaligus melihat hasil karya Jafar dalam menyusun Cermin yang digunakan sebagai alat pengintai tersebut. “Butuh waktu lama untuk menata cermin cermin ini agar bisa digunakan untuk pengintai. Apa lagi dalam menempatkan pun harus benar benar presisi, agar bisa berfungsi dengan baik.” Batin Yasin.


Dan Yasin pun kaget saat melihat atap rumahnya yang berlubang. Ada beberapa genting yang jatuh, meskipun sudah dibersihkan. Namun atap yang bolong masih Nampak sehingga dari dalam rumah bisa menatap langit melalui celah yang bolong tersebut.


“Kok atapnya bolong begitu, apa yang terjadi sebenarnya ?” tanya Yasin kepada Fatimah dan Khotimah saat kembali diruang tamu.


“Tadi penjahat itu naik ke atap dan jatuh dari atap itu sehingga atap rumah kita bolong. Untung gak musim hujan sekarang.” Jawab Fatimah.


“Jatuh dari atap rumah ? Kok bisa, dia itu ahli dalam penyusupan dan sangat mudah bagi dia untuk naik turun atap rumah. Aku rasa atap rumah kita juga belum rapuh rapuh amat.” Ucap Yasin.


“Panjang ceritanya mas, mas Yasin duduk dulu deh. Biar Mbak Fatim nanti cerita.” Sahut Khotimah.


Yasin mengikuti kata Khotimah adik sepupu istrinya itu.


“Memang bagaimana ceritanya, kok Lady Ninja itu bisa jatuh dari atap. Dan kami tadi sempat bertemu dan sekarang bisa meringkusnya dengan mudah. Karena dia mengalami luka yang cukup parah.” Kata Yasin.


Kemudian Fatimah menceritakan apa yang di perbuat Jafar dengan strateginya. Dari memasang cermin sampai dengan menyiapkan kipas angin besar yang katanya untuk berjaga jaga. Dan semua ikut mengamati keadaan dari datangnya Lady Ninja tersebut kemudian naik atap. Sampai dengan saat Lady Ninja tersebut berusaha meracuni mereka, dan akhirnya asap beracun itu di kembalikan Jafar dengan kipas angin besar tersebut. sehingga mengenai Lady Ninja itu sendiri dan jatuh.


Yasin mendengarkan keterangan Fatimah istrinya dengan penuh kekaguman atas inisiatif Jafar anaknya. “tahu dari mana anak itu jika Lady Ninja itu akan menggunakan asap beracun untuk melumpuhkan keluarga ini ?” batin Yasin.


“Terus siapa yang melukai Lady Ninja itu ?” Tanya Yasin kemudian.


“Khotimah tadi, saat dia jatuh dan bangkit mau kabur langsung diserang Khotimah. Atas permintaan Jafar sebelumnya.” Ucap Fatimah.


“Owh pantas dadanya terluka cukup parah, kamu gunakan ajian Lebur saketi ya Khot ?” tanya Yasin.


“Iya mas, Khotimah gak mau ambil resiko soalnya Khotimah juga ngeri lihat dia berpakaian seperti itu. dan gerakan dia juga sangat cepat dan enteng.” Jawab Khotimah.


“Iya gak papa, namanya juga sekedar membela diri. Dan kamu juga belum faham bagaimana Lady Ninja itu. Dia sangat kuat sebenarnya, kalo saja tidak terkena racun dia sendiri mungkin juga masih bisa membalas serangan kamu tadi.” Ucap Yasin. Membuat Khotimah dan Fatimah jadi merinding membayangkan jika harus bertarung dengan Lady Ninja tersebut.


Karena baik Khotimah maupun Fatimah belum pernah bertempur secara nyata. Meskipun keduanya juga memiliki dasar dasar kanuragan untuk membela diri. Namun semua itu nyaris tida pernah dipakai  betul betul hanya untuk berjaga jaga saja. Dan itu adalah kali pertama bagi Khotimah menerapkan ilmu kanuragan pada lawan yang dia pelajari bertahun tahun.

__ADS_1


“Aduh aku jadi merinding, untung Jafar sangat cerdik mas. Jauh lebih cerdik dari kamu sendiri.” Ucap Khotimah sambil bercanda.


Yasin hanya senyum senyum saja di ejek Khotimah seperti itu.


“Ya itu bagus, berarti aku adalah ayah yang berhasil. Punya anak yang lebih cerdas dari ayahnya.” Jawab Yasin.


Saat sedang asik bercengkerama dengan keluarganya, yasin di kejutkan dengan kemunculan Mitsuga dan kedua anaknya. Mitsu Samura dan Kaze Samura.


“Saya mengucapkan terimakasih, atas semua ini.” ucap Mitsuga sambil duduk bersimpuh dan menundukkan badan menghormati Yasin sekeluarga.


Yasin kaget dengan apa yang dilakukan Mitsuga tersebut. yang nyaris seperti orang bersujud dan di ikuti oleh kedua anaknya itu. hampir saja Yasin keceplosan bicara mengatakan haram bersujud kepada makhluk. Untung saja Yasin ingat jika mereka adalah penganut Shinto. Dan mungkin begitu cara mereka memberi penghormatan atau ucapan terimakasih, pikir Yasin.


“Sudah tidak usah begitu, kita sesama manusia kan harus saling membantu.” Ucap Yasin.


Kemudian Steve juga muncul bersama Ponco mengucapkan terima kasihnya kepada Yasin dan seluruh keluarganya. Steve sudah lebih baik setelah mendapatkan perawatan luka lukanya.


“Aku tidak menyangka, jika akhirnya justru harus berhutang budi pada orang yang tadinya aku anggap sebagai musuh.” Ucap Steve.


“Sudahlah, kan aku sudah bilang bahwa kita impas sekarang ini.” Jawab Yasin kepada Steve.


“Tidak, karena aku hanya memberi informasi. Sedangkan kamu dan keluargamu terlibat langsung dalam penyelamatan anak dan istriku.” Ucap Steve.


“Hanya soal kesempatan saja kalo itu.  Dan tanpa informasi dari kamu mungkin juga anak dan istriku juga bakalan di culik oleh Lady Ninja tersebut, jadi sama saja.” Jawab Yasin merendah.


“Apapun kata kamu, aku dan keluargaku harus berterima kasih atas semua ini. Jujur, aku tadi sama istriku sudah banyak bicara. Dan kagum serta hormat kepadamu, yang dulu hampir jadi musuh. Tapi kamu masih mau menolong kami, bahkan kami yang berbeda keyakinan dengan kamu.” Ucap Steve tulus.


“Saudara,,,, dalam menolong manusia itu tidak memandang agamanya apa, atau sukunya apa siapapun yang butuh pertolongan itu harus di tolong itu wajib hukumnya.” Jawab Yasin.


Sekali lagi Steve dan Ponco tak dapat berkata kata atas apa yang diucapkan Yasin. Karena bukan sekedar ucapan semata, tapi dibuktikan dengan perbuatan. “Baru ketemu kali ini aku, dengan orang yang ‘Konsisten’ dengan ucapannya. Kalo yang sekedar bicara manis memang banyak. Tapi orang ini tidak sekedar bicara tapi juga melaksanakan apa omongannya.” Kata Ponco dalam hati.


“Aku juga menghaturkan hormat dan terimakasih kepada kamu. Meski bukan aku yang kamu tolong, tapi Steve bagiku sudah jadi keluarga. Benar apa yang kamu bicarakan, Steve pun sering menolong aku meski aku muslim dia bukan muslim. Dan Steve juga menolong tidak memandang agama dan suku. Sukurlah kamu dan Steve akhirnya bisa menjadi kawan.” Ucap Ponco dengan tulus.


“Kamu gak perlu berterimakasih, bukankah kamu juga ikut menolong Steve dan anak istrinya tadi, bahkan tanpa kamu juga semua ini gak akan berhasil seperti ini.” jawab Yasin kepada Ponco.


“Tidak, Bagiku Steve adalah penolongku selama ini, jadi kamu menolong Steve sama juga menolong aku.” Ucap Ponco.


Yasin diam sejenak, merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. rasanya seperti berlebihan saja, pikir Yasin.


Dan obrolan pun dilanjutkan di ruang Mujahadah yang lebih luas. Bahkan Sidiq dan Jafar pun ikut bergabung dan berkenalan dengan kedua anak Steve tersebut. meski dengan aksen bicara yang agak aneh, tapi pembicaraan mereka tetap bisa nyambung.


Sambil minum dan makan makanan ringan buatan Khotimah dan Fatimah mereka ngobrol santai. Hingga hampir larut malam. Dan Yasin pun minta ijin karena belum melaksanakan sholat Isya. Takut keasikan ngobrol sampai subuh.


“Maaf, aku ijin sebentar belum melakukan sholat Isya. Aku dan Sidiq mau sholat Isya dulu.” Ucap Yasin.


“Silahkan saudara, Ponco sebaiknya kamu juga ikut apa yang dilakukan Zain. Bukankah kamu juga muslim !?!” ucap Steve kepada Ponco.


“Iya Tetua, aku juga sudah punya niat mau mengikuti jejak Zain saja. Mau hidup secara wajar dan tenang. Bolehkah aku ikut, meski aku belum bisa dan hafal bacaan sholat ?” tanya Ponco.


“Boleh saja, kalo belum hafal ikuti saja gerakannya baca yang bisa saja.” Jawab Yasin.


Maka ponco pun mengikuti Yasin berwudhu dengan di bimbing Sidiq cara berwudhu dan kemudian ikut sholat dengan Yasin. Meski masih kaku dalam mengikuti gerakan Yasin yang menjadi Imam. Bahkan Sidiq sampai menahan Tawa melihat Ponco yang kebingungan dengan gerakan sholat.


“Ternyata ada orang dewasa yang belum bisa sholat sama sekali.” Kata Sidiq dalam hati setelah selesai sholat. Untung saja Sidiq bisa menahan tawa, sehingga tidak menyinggung Ponco yang masih belajar tersebut.


Setelah selesai sholat, mereka melanjutkan mengobrol. Meski sebenarnya semua merasa capek bahkan Steve pun masih merasakan sakit akibat lukanya. Namun karena merasakan asik mengobrol semua perasaan itu seperti hilang. Hanya anak naka mereka yang tertidur karena mengantuk, termasuk juga Sidiq yang langsung tertidur di tempat itu.


Hanya jafar yang masih ikut begadang dengan Steve dan Ponco. Para wanita juga sudah berangkat tidur dikamar masing masing yang disediakan.


“Ini anak kamu yang nomor dua ?” Tanya Steve pada Yasin.


“Iya, dan yang ketiga cewek saat ini ikut saudara demi keamanan dia.” Jawab Yasin kepada Steve.


“Kamu beruntung sekali, keluarga kamu begitu harmonis. Dan mempunyai anak anak yang sangat berbakat.” Ucap Steve kepada Yasin.


“Semua itu atas kehendak Tuhan, aku hanya mengikuti saja apa yang Tuhan Gariskan. Aku juga tidak bisa menentukan anak anakku nanti akan seperti apa. Hanya bisa berharap dan berdoa saja.” Jawab Yasin.


Ponco memperhatikan setiap ucapan Yasin, ada semacam pencerahan yang dia dapat dari Yasin. Bukan sekedar dari ucapan Yasin semata. Melainkan dari apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan Yasin tidak ada pertentangan. Yang diucapkan itu juga yang dilakukan Yasin, hal itu membuat Ponco menjadi sadar. Betapa pentingnya spiritual ibadah, karena tanpa itu orang hanya akan manis di bibir saja. Karena ucapannya hanya sekedar sebagai pemanis saja. Tanpa di dasari sebuah keyakinan yang bernama Iman kepada sang Pencipta.

__ADS_1


Bahkan hampir saja Ponco menitikkan air mata nya, karena haru mendengar dan melihat Yasin seperti itu. Rumahnya sangat sederhana, bahkan bisa di bilang jauh ketinggalan zaman. Meski luas tapi bentuk dan arsiteknya sangat minimalis. Bahkan jauh dari kesan mewah, sangat kontras dengan tempat dia bekerja di rumah Rahardian.


Namun dirumah sederhana Yasin itulah justru Ponco mendapat ketenangan batin. Bahkan mendapat banyak pencerahan hidup, berbeda ketika di rumah mewah Rahardian. Di sana Ponco hanya merasa sebagi robot yang setiap waktu harus digiring dan di gerakan oleh majikannya.


Sampai menjelang pagi mereka mengobrol, dan akhirnya Yasin menyuruh mereka beristirahat. Yasin pun juga mengistirahatkan badannya bersama Jafar di kamarnya. Karena Fatimah bersama Khotimah beristirahat di kamarnya sambil melepas kangen sebagai kakak dan adik sepupu, yang lama tidak tidur sekamar.


Dan saat subuh tiba, Yasin dan seluruh keluarganya melaksanakan sholat Subuh. sementara yang lain di biarkan beristirahat. Yasin juga menyempatkan diri melihat keadaan Yukimoto yang masih belum sadar.


“Kasihan wanita itu, masih muda dan cantik tapi salah jalan dalam memilih kehidupan.” Ucap Yasin setelah melihat Yukimoto. Da Yasin meminta Fatimah untuk menotok jalan darah Yuki agar racun yang ada tidak menjalar semakin parah ke jantungnya.


Setelah subuh, Yasin meminta Fatimah menyiapkan sarapan untuk semua orang. Dibantu Khotimah adiknya Fatimah memasak untuk sarapan pagi. Sedangkan Yasin seperti biasa duduk santai sambil ngopi diruang tamu.


*****


Setelah selesai sarapan


“Bagaimana sebaiknya Lady Ninja itu, mau kita apakan dia ?” tanya Steve.


“Aku juga bingung, bagaimana kalo itu aku serahkan kepada kamu saja Steve. Tentunya kamu juga lebih tahu mau diapakan.” Jawab Yasin.


“Kalo sama aku dia gak akan bisa akur, selama dia masih membawa Tradisi dahulu. Karena klan dia dengan klan kami memang bermusuhan.” Ucap steve.


“Tapi itu kan zaman dahulu, dan saat ini kalian kan hidup di Indonesia bukan di tanah Jepang.” Ucap Yasin.


“Iya, tapi masih ada yang tetap membawa tradisi itu sampai sekarang.” Jawab Steve.


Yasin jadi bingung, karena dia juga harus menjemput Nisan nanti. Juga harus persiapan untuk mengantar Sidiq ke pesantren setelah urusan di sekolahnya beres. Jika harus di sibukkan dengan urusan Lady Ninja lagi maka akan semakin repot, pikir Yasin.


“Apa saat masuk klan Ninja tertentu itu ada semacam cuci otak, sehingga mereka bisa sampai seperti itu ?” tanya Yasin.


Steve terdiam sesaat, agak bingung menjawab pertanyaan Yasin tersebut.


“Jujur saja memang ada, dan selain itu juga diangkat sumpah atas nama dewa dewa kami semua. Sehingga tidak ada yang berani menentang atau melanggar semua sumpah tersebut.” jawab Steve.


Yasin terdiam juga sesaat, “ secara jujur aku harus mengakui, jika spiritual mereka jauh lebih baik. yang begitu menghormati dan memegang teguh sumpah mereka yang mengatas namakan Dewa Dewa mereka. Aku jadi malu, kalo melihat orang Islam yang sudah bersumpah dengan Asma Allah bahkan di bawah alquran. Tapi dengan tenang melanggar sumpah tersebut, demi keuntungan pribadinya.” Kata Yasin dalam hati.


“Adakah cara untuk menghilangkan pengaruh cuci otak tersebut. agar mereka tidak lagi menaruh dendam masa lalu leluhur mereka ?” tanya Yasin kepada Steve.


“Ada, tapi dengan memusnahkan semua ilmu Ninjitsu nya juga. Tanpa itu tidak akan berani, melanggar sumpah atas Nama Dewa kami.” Ucap steve.


Sekali lagi Yasin terdiam, begitu kuatnya mereka memegang teguh sumpah dan janjinya terhadap keyakinan mereka. “inilah yang harus ditiru, memegang teguh keyakinan atau agama tanpa memaksakan keyakinan itu kepada orang lain. Dalam Islam pun demikian sebenarnya, laa iqroha Fiddien ( Tidak ada paksaan dalam memeluk agama ) namun jika sudah memeluk agama harus menjalankan secara Kaffah ( Totalitas ) sesuai kemampuan masing masing.” Batin Yasin.


“Apa kamu bisa melakukan itu terhadap Yukimoto ?” tanya Yasin kepada Steve.


“Secara Tehnis aku bisa, tapi aku tidak berani karena itu melanggar sumpah kami. Karena mencampuri urusan Klan lain yang bukan ranah kami.” Jawab steve.


“Baiklah, terus apa rencana kamu setelah ini semua ?” tanya Yasin kemudian.


“Aku akan menuntut balas kepada Rahardian, aku tidak akan tenang sebelum membalas perbuatannya kepada keluargaku.” Ucap Steve.


Yasin jadi bingung, mau menasehati Steve agar tidak balas dendam tapi takut apabila itu adalah berhubungan dengan keyakinan dia. Namun jika tidak dinasehati juga akan membahayakan banyak orang nanti. Meskipun secara manusiawi, Yasin juga menaruh dendam kepada Rahardian. Yasin jadi berpikir bagaimana caranya agar  Steve tidak balas dendam dengan caranya, namun Rahardian pun mendapatkan ganjaran atas perbuatanya…???


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2