
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq bertemu Gagak Seta & Jaladara...
"Iya ki, tap yang menarik adalah info tentang anak gadis Yasin itu Ki?” kata Gagak Seta.
“Iya Ki Ajar, besok harus kita cari anak tersebut,” sahut Jaladara.
“itu soal gampang, seorang gadis kecil apa susahnya menangkap,” ucap Ajar panggiring dengan sombongnya…!
Â
Kemudian Ki Ajar Panggiring kembali membaca Mantra untuk mengendalikan khodam khodam yang dikirim ke rumah Yasin. Gagak Seta dan Jaladara pun menemani Ki Ajar panggiring dan ikut membaca mantra meskipun dengan mantra yang berbeda.
Â
Ki Ajar Panggiring tiba-tiba menghentikan bacaan mantranya. Kemudian memanggil Gagak Seta dan Jaladara.
“Kalian berdua kemarilah sebentar,” ucap Ki Ajar Panggiring.
“Ada apa Ki?” tanya Gagak Seta dan Jaladara bersamaan.
“Aku ada bisikan, agar kalian mendatangi Padepokan Anak Yasin. Kalau mungkin culik dia bawa kesini. Ingat nama gadis itu adalah Nisa. Minimal kalian bisa mendapatkan keterangan dulu malam ini,” kata Ki Ajar Panggiring.
“Siap Ki, kami berangkat,” jawab Gagak Seta.
“Kalau mungkin akan kami bawa sekalian gadis itu Ki,” sahut Gagak Seta.
Â
Kemudian Gagak Seta dan Jaladara pun berangkat, mencari pesantren Al Huda untuk mencari Nisa anak Yasin. Keduanya sudah bertekad mencari anak gadis Yasin sampai ketemu. Ki Ajar Panggiring sendiri melanjutkan aksinya sendirian.
Â
Udara dingin dan semerbak bauk dupa dan kemenyan, di tempat itu mengundang kedatangan makhluk gaib di sekitar tempat tersebut. Layaknya sebuah pagelaran pesta bagi mereka, sehingga mereka ikut hadir ke tempat itu ikut berpesta dengan sesaji yang dibuat oleh Ki Ajar panggiring.
…..
Â
Di Pondok Pesantren Al Hikmah
Sidiq yang baru pulang dari rumahnya bersama Ihsan. Langsung dipanggil oleh Kyai Nurudin.
Â
“Dari mana Kamu Sidiq?” tanya Kyai Nurudin.
“Maaf Bah, Sidiq tanpa ijin lebih dulu pulang menemui Ayah Bunda bersama Ihsan,” jawab Sidiq sambil tertunduk.
“Apakah tugas kamu sudah selesai, mengembalikan gadis itu ke ruamhmu?” tanya Kyai Nurudin.
Â
Sidiq dan Ihsan jadi terkejut, Kyai Nurudin tahu apa yang mereka lakukan.
Â
“Sudah Bah, Abah tahu jika Sidiq mengembalikan gadis itu ke rumah?” tanya Sidiq.
“Ayahmu juga telpon Abah, katanya menghubungi kamu gak bisa, menghubungi adik kamu juga gak bisa,” jawab Kyai Nurudin.
“Iya Bah, tadi HP Sidiq kehabisan Baterai,” ucap Sidiq.
“Sekarang kalian bersiap Maghrib, nanti habis mengaji kalian berdua menemui Abah di pendopo,” kata Kyai Nurudin.
“Iya Bah,” jawab Sidiq dan Ihsan.
Â
Kyai Nurudin pun meninggalkan Sidiq dan Ihsan, mereka segera bersiap mandi dan segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah dilanjutkan mengaji kitab.
Â
Usai Sholat maghrib dan mengaji, Sidiq dan Ihsan ngobrol sebentar menunggu sholat Isya, dan mengaji kedua setelah sholat Isya.
Â
__ADS_1
“Kenapa ya, kita berdua dipanggil Abah? Apa kita dianggap bersalah?” tanya Ihsan.
“Kayaknya tidak, mungkin ada tugas baru saja buat kita nanti,” jawab Sidiq.
“Ya, mudah mudahan saja begitu Diq. Tapi aku heran sama adik kamu Jafar tadi,” kata Ihsan.
“Kenapa dengan Adikku?” tanya Sidiq.
“Baru tadi aku melihat Jafar iseng sama kamu?” ucap Ihsan.
“Sebenarnya dari dulu Jafar suka iseng begitu, Cuma yang tadi memang agak keterlaluan saja,” jawab Sidiq.
“Kalau menurutku masih wajar kok, justru menunjukkan keakraban kalian berdua,” kata Ihsan.
“Tapi gak harus bikin Riska jadi cemburu juga kali, San,” ucap Sidiq.
“Memang kamu sama Jafar kalau dirumah juga begitu? Jarang loh kakak adik bisa bercanda begitu,” ucap Ihsan.
“Ya memang begitu kok, apalagi Nisa adikku yang cewek. Dia lebih ketus kalau sama Jafar, dan Jafar sendiri sedikit keras sama Nisa,” kata Sidiq.
“Tunggu, aku sampai lupa kalau kamu punya adik cewek,” kata Ihsan.
“Kenapa, jangan macam macam adikku masih kecil, San…!” ancam Sidiq.
“Bukan itu Diq, yang aku pikirkan. Aku justru khawatir, jika musuh tahu kalain punya adik cewek,” ucap Ihsan.
“Maksudnya?” tanya Sidiq.
“Bisa saja kan, musuh memanfaatkan adik kamu untuk membuat kalian menyerah?” ucap Ihsan.
Â
Sidiq pun baru terpikirkan hal tersebut, selama ini memang Nisa Aman aman saja. Tidak pernah dibicarakan musuh, apalagi disenth musuh. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada rencana musuh untuk berbuat jahat pada Nisa Adiknya.
Â
“Benar juga ya, artinya Nisa harus dalam pengawasan ketat saat ini. karena dia menginjak masa remaja,” ucap Sidiq.
“Nah itu maksudku Diq, kita harus memikirkan hal itu. Jafar juga harus dikasih tahu soal itu,” kata Ihsan.
Â
Sidiq terdiam sebentar, sedikit tenang karena Nisa adiknya satu pesantren dengan Jafar . Paling tidak Jafar akan selalu mengawasi jika Nisa dalam bahaya nanti. Tapi sedikit risau apabila Nisa harus ke sekolah di luar Pondok, atau keluar dari Pondok untuk kepentingan tertentu.
Â
Â
Obrolan mereka pun terhenti saat kumandang adzan Isya terdengar. Sidiq dan Ihsan segera bersiap melaksanakan sholat Isya berjamaah.
….
Â
Saat menghadap Kyai Nurudin di pendopo Sidiq dan Ihsan di minta menunggu sebentar. Karena Kyai Nurudin sedang mengambil sesuatu.
Â
“Apa yang akan disampaikan Abah nanti ya?” tanya Ihsan.
“Gak ngerti juga, kita tunggu saja,” jawab Sidiq.
Â
Tak lama kemudian Kyai Nurudin pun datang dengan membawa dua buah tongkat pendek. Tongkat pendek dari bilah kayu regu.
Â
“Aku pinjamkan ini pada kalia berdua,” ucap Kyai Nurudin.
“Untuk apa ini Bah,” tanya Sidiq.
“Kalian berdua, Abah minta datang ke Pesantren Al-Huda. Temui Kyai Syuhada, bilang aku yang menyuruh kalian kesana. Nanti Kyai Syuhada yang akan membimibing kalian,” jawab Kyai Nurudin.
Â
“Sekarang Bah?” tanya Sidiq.
“Iya sekarang juga, kalian boleh tidur disana dan berangkat sekolah dari sana juga. Jadi bawa sekalian baju seragam kalian,” kata Kyai Nurudin. Kemudian langsung meninggalkan Sidiq dan Ihsan.
Â
Sidiq dan Ihsan pun segera berangkat ke Pesantren AL-Huda. Dimana Jafar dan Nisa mengaji di sana.
Â
__ADS_1
“Kenapa kita berdua disuruh ke sana ya? Apa ada hubungannnya dengan apa yang kita bicarakan tadi?” kata Ihsan.
“Bisa jadi, tapi gak usah dipikir lama. Perintah Abah harus kita laksanakan, San,” kata Sidiq.
“Iya, ayo kita berangkat sekarang,” kata Ihsan langsung menyalakan sepeda motornya.
Â
Ihsan menjalankan motornya dengan cukup Kencang. Tiba tiba Sidiq mengajak Ihsan berhenti.
“Kita cari makan dulu yuk, Sidiq lapar dari tadi lupa belum makan,” kata Sidiq.
“Boleh, tapi sebentar saja ya. Kita harus segera sampai ke Pesantren Al-Huda.” Jawab Ihsan.
“Iya, Sidiq juga tahu tapi ini soal perut yang lapar, harus diisi dulu,” jawab Sidiq.
Â
Ihsan pun segera menepikan motornya ke sebuah warung. Kemudian mereka segera memesan makanan. Saat mereka sedang menyantap makanan, mata Sidiq melihat ke arah luar. Dan tanpa disengaja pandagan mata Sidiq melihat dua sosok yang seperti di kenalnya.
Â
“San, kamu perhatikan dua orang itu, awasi ke arah mana dia akan pergi,” kata Sidiq.
“Bagaimana caranya Diq, lagian siapa mereka?” tanya Ihsan.
“Dia adalah, murid Ki Munding Suro, kalau denganku dia kenal,” kata Sidiq
“Waduh, bagaimana caranya?” tanya Ihsan.
“Kamu pura pura cari rokok gih, kalau perlu cari tahu kemana tujuan mereka,” jawab Sidiq.
“ok, aku coba samperin sekarang,” kata Ihsan.
Â
Kemudian Ihsan pun segera keluar dai warung, mendekati ke arah Gagak Seta dan Jaladara.
Belum juga Ihsan dekat dengan mereka, justru Ihsan yang dipanggil mereka.
Â
“Hei dik, aku numpang tanya kemari sebentar…!” ucap Jaladara yang memanggil Ihsan
Sedikit ragu Ihsan mendekati mereka.
Â
“Ada apa ya,” tanya Ihsan.
“Aku mau tanya, Padepokan Al-Huda itu arahnya benar ke arah sana?” tanya Jaladara.
“Iya betul, ada perlu apa kesana?” tanya Ihsan.
“Tidak apa, hanya tanya saja. Ya sudah terima kasih,” ucap Jaladara langsung pergi meninggalkan Ihsan.
Â
Ihsan segera kembali ke tempat Sidiq dan melaporkan kepada Sidiq hasil pengamatannya.
Â
“Jadi ini, kenapa kita diminta Abah Guru ke Pesantren Al-Huda. Apa sebaiknya kita hadapi sekarang saja?” ucap Sidiq Emosi.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏...
Rekomendasi Novel
Â
Â
__ADS_1