
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq dan Jafar berbagi tugas...
“Apa kalian akan mencari bersama-sama ?” tanya Yasin kemudian.
“Tidak Yah, untuk musuh yang berwujud manusia kita disuruh berbagi tugas. Kecuali nanti saat menghadapi Raja Khodam itu baru kita disuruh melawan bersama-sama,” Jawab Jafar.
Yasin terdiam, dalam hatinya sedikit resah. Sebagai seorang Ayah tentu saja tidak akan sampai hati melepas anaknya menghadapi bahaya. Meskipun juga mengakui jika Jafar saat ini kemampuannya melebihi dirinya.
Namun hati nurani seorang ayah, tetaplah mengkhawatirkan seorang anak yang akan menghadapi musuh. Jika bisa memilih pun tetap akan menghadapi sendiri tanpa melibatkan anaknya.
“Ayah tidak usah khawatir, Sidiq juga tidak akan membiarkan Jafar berjuang sendirian,” ucap Sidiq seakan tau perasaan ayahnya.
“Iya Abi, Wisnu juga tidak akan tinggal diam. Wisnu akan membantu perjuangan Mas Sidiq dan Mas Jafar,” sahut Wisnu ikut bicara.
“Alhamdulillah, anak anak Ayah ternyata sudah dewasa cara berpikirnya. Satu pesan Ayah, jangan kotori tangan kalian dengan amarah saat menghadapi musuh,”ucap Yasin.
“Iya Ayah, dan ayah juga lebih berhati hati. Ada salam dari Eyang Jafar Sanjaya dan Eyang Sidiq Ali,” ucap Jafar.
Sidiq, Jafar dan Wisnu melanjutkan obrolan. Sementara yang lain berangkat tidur, Yasin pun sudah merasa lelah. Didampingi Fatimah Yasin masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
…..
“Selamat ya Jafar kamu berhasil mewarisi Stambul Al-Quran dari Eyang buyut Sidiq Ali,” ucap Sidiq.
“Iya mas, Wisnu juga bangga punya saudara seperti Mas Jafar dan Mas Sidiq,” Kata Wisnu.
Jafar tersenyum dan menghela nafas sebelum menjawab ucapan selamat dari Sidiq dan Wisnu.
“Sebenarnya, Ayah yang berhak mewarisi Stambul Al-Quran ini bukan Jafar,” jawab Jafar agak berat mengatakan. Namun karena itu sudah menjadi amanah yang harus disampaikan maka Jafar harus mengatakan kepada Sidiq dan Wisnu.
“Maksud Jafar bagaimana, kok bilang sebenarnya Ayah yang berhak mewarisi Stambul tersebut ?” tanya Sidiq.
“Jafar mau menyampaikan tapi Mas Sidiq harus Janji dulu,” jawab Jafar.
Wisnu menahan diri untuk tidak ikut bicara, karena merasa ada pembicaraan khusus antara Jafar dan Sidiq.
“Apa Wisnu boleh mendengar Mas ?” tanya Wisnu.
“Gapapa Wisnu, kamu dengerin juga gapapa biar sekalian tahu,” jawab Jafar.
“Ada apa sebenarnya Jafar ?” tanya Sidiq makin penasaran.
“Kita harus menghormati ayah kita, bahkan harus bisa menjunjung tinggi nama baik ayah kita Mas,” ucap Jafar.
“Sudah pasti kalau itu Jafar, bahkan Sidiq rela melakukan apapun demi keluarga kita bukan hanya Ayah saja. Tapi juga Bunda kamu dan Nisa termasuk Wisnu dan seluruh keluarga besar kita,” jawab Sidiq bersemangat.
“Jafar percaya itu Mas, dari kecil Mas Sidiq sudah sangat peduli dengan Jafar dan Nisa,” ucap Jafar.
Sidiq pun semakin penasaran, apa sebenarnya yang akan disampaikan Jafar.
“Katakan saja Jafar, tidak usah ragu-ragu sepertinya ada keraguan di hati kamu,” ucap Sidiq.
__ADS_1
“Kita pantas bangga dengan Ayah kita, yang gigih dan berjuang keras demi keluarga dan masyarakat luas. Tapi kita juga harus mengakui Ayah kita juga punya sisi gelap,” ucap Jafar mendadak sedih dan ada kecemasan yang terlihat dari wajahnya.
“Lanjtkan Jafar, jangan menggantung ceritanya apapun yang diamanahkan padamu laksanakan. Mas Sidiq tidak akan berubah sikap,” kata Sidiq.
Jafar pun kemudian melanjutkan cerita, Jafar mengatakan bahwa saat ditemui Eyang buyutnya Sidiq Ali. Jafar dikasih tahu. Jika sebenarnya Yasin alias Ahmad Sidiq lah yang dahulu diharapkan menjadi pewaris Stambul Al-Quran tersebut. Namun karena dosa besar Yasin yang akhirnya melahirkan Sidiq, akhirnya itu diurungkan.
Untunglah Yasin segera dapat kembali ke jalan yang benar, sehingga dapat kembali melanjutkan perjuangan leluhurnya. Meskipun tetap harus mendapat kafarat atas dosa dan kesalahannya. Dan salah satunya adalah sakit yang diderita Yasin sekarang ini merupakan Kafarat.
Sehingga Abah Gurunya Jafar dan Sidiq lebih rela membiarkan Yasin sakit begitu. Karena itu akan menjadi penghapus dosa yang telah dilakukan Yasin di masa lalu. Dan selanjutnya adalah menjadi tugas Sidiq dan Jafar untuk melanjutkan perjuangan Yasin yang belum tuntas.
“Begitulah ceritanya, itu merupakan peringatan juga bagi kita semua. Jangan ulangi kesalahan yang pernah ayah lakukan,” Ucap Jafar mengakhiri ceritanya.
“Iya Jafar, Sidiq sangat paham akan hal itu. Untungnya antara Mamah Arum dan Bunda Fatimah pun tidak pernah sampai ada pertengkaran sampai sekarang,” jawab Sidiq.
“Itulah hebatnya Mamah Arum Mas, dan Bunda kita. Beliau sangat berbesar hati menerima keadaan,” ucap Jafar.
“Maaf, paling tidak dengan adanya Wisnu kan bisa jadi pemersatu antara Umi Fatimah dan Mamah Arum,” sahut Wisnu.
“Maksdunya apa Wisnu ?” tanya Sidiq.
“Kan Mamah Arum adik kandung Papa Wisnu, dan Mamah Wisnu sepupu Umi Fatimah. Jadi apapun yang pernah terjadi kita adalah saudara selamanya,” jawab Wisnu.
Sidiq dan jafar pun membenarkan ucapan Wisnu tersebut. Masa lalu antara Yasin dan Arum akhirnya bisa berakhir dengan persaudaraan. Bahkan sampai ke anak anak mereka pun bisa rukun semuanya.
“Iya benar Wisnu, dan apa yang pernah terjadi dulu bisa kita jadikan cermin, agar berhati hati,” kata Jafar.
“Sidiq sadar akan hal itu Jafar, dari minuman keras membuat orang kehilangan kesadaran. Jika sudah terpengaruh bisa melakukan apa saja, termasuk yang menjadi dosa besar,” ucap Sidiq.
“Alhamdulillah, maaf ya Mas Sidiq kalau Jafar sampai menyinggung,” ucap Jafar.
“Tidak Jafar, justru itu membuat Sidiq jadi ingat untuk selalu waspada. Meski statusnya punya pacar tapi tetap harus jaga diri,” Jawab Sidiq.
Akhirnya ketiga anak tersebut sepakat untuk saling mengingatkan, jika ada satu dari mereka yang akan terjerumus. Pengalaman Yasin dan Arum menjadikan sebuah cermin bagi mereka untuk berhati hati.
Kemudian Dosa yang besar sekali pun, jika sungguh sungguh bertaubat akan bisa dihapuskan apabila ikhlas dalam bertaubat. Sidiq,Jafar dan Wisnu pun kemudian beristirahat untuk mempersiapkan esok pagi yang akan berbagi tugas menangkap musuh musuh ayahnya.
…..
Pagi harinya, Yasin memanggil Sidiq, Jafar dan Wisnu untuk diajak bicara.
“Kalian anak-anakku, Ayah semalam sudah merenung. Memang saat ini Sidiq dan Jafar sudah saatnya untuk melanjutkan apa yang sudah ayah perjuangkan dahulu,” kata Yasin.
“Bagaimana dengan Wisnu ?” tanya Wisnu.
“Kamu belum saatnya Wisnu, bukan karena Abi gak percaya kamu. Tapi seusia kamu belum selayaknya ikut dengan Sidiq ataupun Jafar. Keberadaan kamu di rumah pun sangat dibutuhkan saat ini,” jawab Yasin.
“Iya Wisnu, kalau dulu gak ada kamu juga rumah ini sudah dimasuki oleh oleh musuh yang menyamar sebagai Ayah,” kata Sidiq.
Meskipun sebenarnya Wisnu agak kecewa, namun juga tidak berani membantah Yasin. Sehingga hanya menurut saja apa yang disampaikan Yasin.
“Jangan kecil hati Wisnu, kamu itu anak pendekar wanita Khotimah. Suatu saat kamu juga harus berjuang seperti Sidiq dan Jafar. Tapi saat ini Abi minta tolong, kamu jagain Abi dan Umi ya,” ucap Yasin menghibur Wisnu.
“Iya Bi, Wisnu siap,” jawab Wisnu merasa dibutuhkan keberadaanya dirumah Yasin.
“Nah sekarang, Sidiq dan Jafar. Kalau kalian harus berbagi tugas, ayah kasih saran saja,” kata Yasin.
“Iya Yah, bagaimana sebaiknya Yah ?” tanya Sidiq.
“Sidiq fokus mencari Jaka dan kelompoknya yang bersama ki Bujang. Sedangkan Jafar mencari keberadaan Ki Munding Suro bersama ketiga Muridnya,” kata Yasin.
“Apa tidak dibalik Yah,” tanya Jafar.
__ADS_1
“Tidak, menurut perhitungan Ayah seperti itu. Karena Ki Munding Suro dan ketiga muridnya tentu juga mengasah ilmu Karangnya. Sedang Ki Bujang dengan ilmu Gundolo Sosro nya bisa diatasi oleh Sidiq,” kata Yasin.
Sidiq dan Jafar mengangguk angguk, meski Sidiq dan Jafar tahu jika ayahnya saat ini tidak sehebat dahulu. Namun untuk urusan strategi mereka tetap mengakui harus belajar banyak dengan Ayahnya.
“Terus Wisnu ada tugas apa Abi ?” tanya Wisnu.
“Wisnu jelas menjaga keselamatan yang di rumah, karena bukan tidak mungkin mereka akan mencari kesempatan untuk menyerang rumah ini,” Jawab Yasin.
“Kapan sebaiknya Kami berangkat Yah ?” tanya Sidiq.
“Pagi ini juga, feeling Ayah mengatakan jika yang kamu cari tidak jauh dari tempat ayah bertarung dengan Mentorogo dan Munding Suro. Di kawasan bukit Turgo sebelah utara,” jawab Yasin.
“Kalau Jafar kemana harus melangkah Ayah ?” tanya Jafar.
“Kamu temui Paman kamu Sena, mintalah petunjuk untuk mencari keberadaan Ki Munding Suro yang bersembunyi di kawasan pantai selatan,” jawab Yasin.
Sidiq dan Jafar pun segera pamit kepada Yasin untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Sidiq ke arah kawasan utara bukit turgo yang merupakan kawasan hutan. Sedangkan Jafar pergi menemui Sena lebih dahulu. Wisnu melepas kepergian kedua saudaranya itu dengan perasaan sedih. Setelah mendapat doa dan restu dari Yasin dan Fatimah Sidiq dan Jafar pun segera berangkat dan berpisah di ujung dusun.
…..
Sidiq dengan mantap mencari tempat persembunyian musuh musuh ayahnya yang bersembunyi di kawasan utara Bukit Turgo.
“Bukankah tempat itu tidak jauh dari kediaman Master Sashi dan makam kedua musuh ayahku dulu.” Sidiq berkata sendiri dalam hati. Tanpa perasaan takut dan khawatir Sidiq melangkah sendiri mencari tempat persembunyian Jaka dan kelompoknya. Namun tanpa disadari oleh Sidiq, Abah gurunya Nurudin sedang mengawasi dari kejauhan.
Ternyata Kyai Nurudin tidak membiarkan murid kesayangannya itu berjuang sendirian. Kyai Nurudin dan Kyai Syuhada diam diam mengawasi sepak terjang murid muridnya. Oleh karena itulah Yasin membagi dan mengatur strategi seperti itu.
Diam diam Kyai Nurudin dan Kyai Syuhada sudah lebih dulu mengamati keberadaan musuh musuh Yasin. Agar kedua anaknya dapat dengan mudah mencari keberadaan mereka.
“Aku akan menuju ke kediaman Master Sashi dulu, siapa tahu disana akan mendapatkan petunjuk atau paling tidak bisa dijadikan tempat istirahat sebentar.” Sidiq memutuskan menuju ke tempat kediaman Master sashi guru Ninja nya meski hanya sebentar.
Dan Sidiq pun, mempersiapkan beberapa Shuriken yang dia bawa dari rumahnya. Sebuah peninggalan dari Master Sashi. Selain pedang kebesaran Klan Yukimoto Sidiq berani menggunakan. Sedang Pedang kebesaran Klan tersebut harus Sidiq dan Jafar serahkan ke Farayaka. Pewaris asli Klan tersebut suatu saat dia datang.
Mendekati bekas kediaman Master Sashi, Sidiq berhenti sejenak. Ada kejanggalan karena tempat tersebut kelihatan rapi dan terawat. Seperti ada yang menempati dan merawat tempat itu.
“Jangan-jangan tempat itu ditempati Jaka dan kelompoknya ? Bukankah dulu kakak Jaka dipotong tangannya oleh Master Sashi disini.” Sidiq mengendap endap mengamati keadaan dalam rumah tersebut.
Dengan bekal ilmu ninja yang dipelajari Sidiq berjalan pelan mendekati rumah tersebut. dengan hati-hati Sidiq pun berhasil sampai di rumah tersebut. Sidiq berusaha mengintip lewat celah jendela kayu yang sedikit terbuka. Sidiq berusaha melihat keadaan di dalam rumah tersebut.
“Jangan bergerak…!” Sebuah teriakan tiba tiba mengejutkan Sidiq. Tiba-tiba sebuah pedang sudah menempel di leher Sidiq. “orang macam apa ini, sampai aku tidak merasakan keberadaanya.” Kata Sidiq dalam hati.
“Jatuhkan semua barang bawaan kamu, sekali bergerak mencurigakan leher kamu putus…!” Bentak orang tersebut.
Sidiq tak bisa melawan lehernya ditempeli pedang dan punggungnya ditodong Pisau, yang ujung runcingnya sudah menggores sedikit kulit Sidiq. Sidiq pun hanya bisa membuang semua barang bawaannya termasuk Shuriken yang dia bawa.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Recommended Novel
Â
__ADS_1
Â
Â