
Di rumah Yasin
Yasin POV
“Mas mau sarapan apa, Fatimah mau ke pasar ?” Tanya Istriku yang pagi ini tampak Ceria.
“Terserah asal sarapan nanti kamu temenin.” Jawabku menggoda.
“Genit ah, mentang mentang di rumah Cuma berdua sekarang genit.” Kata istriku.
“Nanti kalau kurang kamu cemburu lagi, terus ngomongin wanita lain.” Jawabku.
“Gak gitu juga kali mas, serius nih mau sarapan apa, Fatimah mau belanja sekalian !?!” ucap istriku.
“Beli gudeg sambel saja, lama gak makan gudeg.” Jawabku.
“Iya deh, kayaknya enak tuh Fatimah juga pengen.” Kata istriku.
“Sekalian buat sarapan tukang juga Fat. Beri mereka hidangan yang baik hari ini, pekerjaan cukup berat hari ini.” pintaku pada Fatimah. Karena sedang renovasi rumah yang sudah cukup lama dalam keadaan parah.
“Iya…!” jawab Fatimah sambil melajukan motornya.
Kemudian Fatimah berangkat ke pasar untuk belanja kebutuhan warung dan dapur. Aku memandangi Fatimah istriku sampai menghilang di belokan jalan. Sungguh bersyukur beristrikan Fatimah yang gak banyak tuntutan. Bahkan tetap bisa ceria meski dalam kondisi pas pasan kemarin. Tapi aku agak heran akhir akhir ini dia jadi pencemburu, hampir tiap hari selalu menanyakan tentang perasaanku terhadap wanita yang dicurigai.
“Ternyata orang yang sudah tua pun masih saja dilanda cemburu.” Kataku dalam hati.
Tapi bagus sih, itu artinya memang Fatimah benar benar mencintai aku. Meski kadang juga sebel karena cemburu yang berlebihan. Untung saja aku selalu bisa meyakinkan Fatimah, baik dengan penjelasan biasa maupun dengan sedikit rayuan kepadanya. Kadang wanita memang harus ‘dibohongi’ sekedar untuk membuat dia senang. Asal bukan untuk membela diri dari kesalahan saja.
Mungkin factor usia, pernah Fatimah bikin kopi buatku dikasih gula. Padahal tahu aku gak suka kopi manis. Terus minta maaf karena lupa kopiku dikasih gula, dengan mimic wajah penuh penyesalan. Dengan santai aku jawab, “gak papa sekali sekali kan pengen yang manis juga.” Aku berbohong karena gak tega lihat istriku menyesal banget. Padahal sebenarnya aku juga sebel, sudah bertahun tahun masih bisa lupa soal begitu.
Tapi itulah dinamika rumah tangga, kadang kalau lama gak ada perdebatan dengan istriku aku malah merasa ada yang kurang. Kok rasanya beda banget, kalau tidak ada perdebatan kecil terlalu lama. Meski lebih sering bercandanya dari pada bertengkarnya. Selalu ada bahan bagiku untuk membuat Fatimah tertawa sehingga meski hanya berdua di rumah tidak terasa sepi.
Aku kembali menyeruput kopi pahitku, sambil menyalakan lagi sebatang rokok. Jadi ingat Fatimah yang sekarang kadang marah kalau aku banyak merokok. Katanya jaga kesehatan biar gak batuk, kemudian ketika kujawab duluan penyakit batuk sama rokok. Jadi bukan rokok yang bikin batuk. Fatimah jadi sewot dan gak mau ngomong setengah hari.
Sehingga aku harus mengalah untuk mengurangi merokok yang memang aku akui juga berefek untuk kesehatan. Hanya memang belum bisa meninggalkan saja, sehingga aku masih terus merokok.
Setelah menghabiskan Kopi aku kemudian melihat pekerjaan renovasi rumah sebelum tukang yang mengerjakan datang. Sekalian melihat pekarangan kosong yang dulu aku pakai untuk membuat bibit tanaman.
“Kayaknya aku butuh beberapa meter persegi untuk membuat percobaan menanam dengan teknologi Hidroponik seperti yang aku pelajari kemarin.” Kataku dalam hati.
Aku mencari lokasi yang sekiranya cocok untuk membuat percobaan tanaman Hidroponik. Dan menghitung kebutuhan biaya awal yang harus dikeluarkan. Aku rasa cukup nanti untuk membuat hidroponik.
Kira kira setengah jam aku berkeliling kemudian aku dengar suara motor istriku datang dari pasar. Sambil merapikan material bangunan dan peralatan tukang yang ketinggalan aku terpikir untuk membuat kolam kecil untuk hiasan.
“Kayaknya cocok di depan rumah ada kolam kecil, sambil duduk duduk nonton ikan.” Pikirku.
“Lihatin apa mask ok serius banget ?” tanya Fatimah sambil menjinjing belanjaan.
“Gak aku hanya berpikir kalau disini dibuat kolam kecil bagus kayaknya.” Jawabku.
“Udah sarapan dulu yuk, itu lanjut nanti saja Fatimah sudah lapar nih.” Ajak Fatimah.
“Ayo, aku juga sudah lapar. Jadi beli gudeg kan ?” tanyaku.
“Iya tapi lauknya tinggal telur rebus doing.” Jawab Fatimah.
“Telur, jangan jangan kamu hamil anak perempuan lagi. Kan telur itu lambing anak perempuan.” Godaku pada Fatimah.
“Hamil apaan orang baru tiga hari dapat tamu kok.” Jawab Fatimah.
“Siapa tahu setelahnya jadi.” Candaku.
“Iih mast u ngomongnya suka jorok ah..!” gerutu Fatimah.
“Jorok bagaimana ? Kan bicara sama istri sendiri begitu masih wajar.” Jawabku.
“Bodo ah, makan dulu yuk…!” kata Fatimah sambil menyerahkan bungkusan nasi gudeg yang sudah ditaruh di piring padaku.
“Aku cuci tangan dulu, barusan pegang pasir dan semen.” Jawabku.
Kami pun makan bersama I selingi obrolan ringan dan candaan candaan kecil. Kemudian aku membantu Fatimah membuka warung dan menata dagangan yang barusan Fatimah beli dari pasar.
Belum selesai kami menata warung datang tamu yang menghampiri kami.
“Assalaamu’alaikum…!” ucap dua orang tamu tersebut yang tak lain adalah abah gurunya Jafar dan Nisa yang murid dari Abah Guru Thoha guruku dan Fatimah juga meski beda angkatan.
“Wa’alaikummussalam warahmatullah… Alhamdulillah kedatangan tamu agung rupanya. Mari silahkan masuk rumah saja. Tapi maaf masih berantakan soalnya baru di benahi.” Ucapku Memberi salam hormat kepada kakak seperguruanku itu, yang lebih senior bahkan dari kang Salim mentor ku.
“Baru renovasi rumah rupanya ?” tanya abah gurunya Jafar tersebut.
“Iya kiai, mumpung baru longgar.” Jawabku.
“Panggil kang saja, kita kan satu Alumni gak usah formil begitu.” Jawab gurunya Jafar.
Kemudian kami berbasa basi sebentar , sambil menikmati hidangan yang disajikan Fatimah istriku.
“Aku dengar dari Salim, cerita tentang kalian ini sungguh sangat luar biasa. Tidak disangka kalian bisa hidup rukun dan bahagia begini.” Ucap gurunya Jafar.
“Aah kang Salim bikin kami malu saja, sampai di ceritakan ke banyak orang begini.” Jawabku.
“Itu karena Salim bangga padamu, bagaimana kamu dulu sebelum masuk pesantren dan bangga juga karena kalian yang mau dinikahkan oleh abah guru kita dan berhasil menjadi pasangan suami istri yang harmonis.” Lanjut gurunya Jafar. Aku sampai tersipu malu karena sanjungan dan ucapan seniorku tersebut.
“Sudah kang, saya jadi malu kalau ingat masa lalu kami terutama masa lalu saya pribadi kang.” Jawabku.
“Pasti soal anak kamu Sidiq kan ? gak papa itu sudah jadi masa lalu kamu kok. Tapi yang jelas aku salut kamu berhasil mendidik anak anak kamu dengan dasar akhlak yang baik.” Ucapnya. Aku jadi sedikit bingung apa maksudnya. Sementara Jafar dan Nisa saja aku titipkan disana untuk di didik.
“Lah kan saya malah menitipkan anak nak saya untuk di didik akang ?” tanyaku.
“Iya memang betul, tapi kamu sudah memberikan dasar yang baik kepada anakmu. Jadi aku tinggal mengisi dengan ilmu yang bermanfaat, karena wadahnya sudah kamu siapkan.” Jawabnya.
Aku makin bingung kemana arah bicara guru ngaji Jafar dan Nisa tersebut.
“Sebenarnya ada apa kang Kok kami malah jadi bingung ?” sahut Fatimah ikut bicara.
“Gak ada apa apa, hanya kami mau minta tolong kalau sekiranya kalian tidak keberatan.” Jawab istri kakak seniorku itu.
“Dengan senang hati, kalau saya bisa membantu akan saya laksanakan.” Jawabku.
“Begini Yasin atau aku panggil Ahmad saja karena nama Sidiq di pakai anak kamu kan ?” ucap guru anakku itu.
“Lebih baik Yasin saja, karena itu nama pemberian abah guru kita.” Jawabku.
__ADS_1
“Baiklah, begini Yasin aku kan punya anak gadis yang baru masuk remaja. Dia agak kolokan dan manja butuh didikan khusus agar mandiri. Bisa gak kalau aku titipkan anak gadisku ke kamu, karena kakaknya saat ini juga baru ngaji ilmu alat di jawa tengah.” Ucap Guru anak anakku itu.
Aku jadi agak kaget mendengarnya, karena tidak menyangka akan di titipi anak gadisnya dirumahku.
“Apa saya pantas untuk mendidik putri kakang ?” tanyaku.
“Kenapa gak pantas, aku melihat dua anak kamu saja sudah kagum dengan akhlak mereka.” Jawabnya.
Aku tak bisa lagi berkelit dan akhirnya aku pun menyanggupi untuk dititipi anak putrinya. Dan Mereka pun kemudian segera pamit pulang.
Setelah melepas kepergian kakak seperguruanku beserta istrinya aku kembali ke warung bersama Fatimah. Sambil menunggu pekerja yang akan merenovasi rumah.
“Rupanya kita akan punya anak perempuan lagi sekarang ?” godaku pada Fatimah.
“iya, tapi kan gak lahir dari rahimku mas.” Jawab Fatimah.
“Seperti apa nanti anaknya, kita harus sabar dalam mendidiknya. Sebab tidak mungkin kalau tidak ada sebab dititipkan kesini.” Ucapku pada Fatimah.
“Yang Fatimah bingung, apa istimewanya anak anak kita, padahal Nisa juga kan agak temperamental hampir sama dengan Sidiq kakaknya yang nurun ayahnya.” Kata Fatimah menyindirku.
“Mulai deh, kenapa sih selalu mengungkit masalah itu.” gerutuku.
“Ya gak papa kan itu masa lalu mas, sekedar buat gambaran saja bukan bermaksud mengungkit.” Kilah Fatimah sambil senyum senyum merasa menang kali ini dariku.
“Iya deh, aku mengakui punya masa lalu yang buruk.” Jawabku kesal.
“Jangan marah dong, kan Fatimah hanya bercanda saja mas.” Ucap Fatimah merajukku.
“Kebiasaan sih kamu selalu bilang begitu tentang aku.” Aku masih pura pura sebel.
“Iya maaf, tapi ada sedikit kebanggaan juga kkok dengan masa lalu kamu itu mas. Karena sekarang kamu sudah jauh berubah, berarti kan Fatimah ikut berperan di situ.” Ucap Fatimah.
“Haalah sok PD aja kamu Fat, memang aku berubah karena kamu apa ?” jawabku sambil mencubit pipinya.
“Lah terus karena siapa dong !” tanya Fatimah mulai kambuh rasa cemburunya.
“Yak arena aku ingin taubat saja Fat, bukan karena kamu.” Jawabku sambil melangkah pergi menghindari cubitan Fatimah yang tetap sakit kalau mencubit.
Begitulah keseharianku dengan istriku saat hanya berdua, karena anak anak kami belajar di pondok semuanya.
*****
Sidiq POV
Baru saja sampai di tempat kerja sepulang sekolah aku sudah ditunggu Kokoh pemilik Counter.
“Untung kamu segera tiba Sidiq, hari ini kamu jaga toko sendiri ya. Aku mau ada acara keluar, nanti kalau kamu pulang tutup saja tokonya. Aku bawa kunci doble, kamu bawa satu.” Ucap Koko.
“Iya koh. Mau pergi ke mana ?” tanyaku basa basi.
“Mau jenguk saudara, mungkin pulangnya besok. Jadi kalau besok kamu datang toko gak buka kamu buka saja sendiri ya.” Ucap Koko.
“Iya ko.” Jawabku.
“Satu lagi, kamu catat saja semua pembukuan baik pemasukan maupun pengeluaran besok aku yang akan input.” Kata Koko.
“Siap ko.” Jawabku. Karena memang setiap hari pun aku selalu mencatat semuanya.
Aku hanya mengangguk kemudian mulai menjalankan pekerjaanku. Menata aksesoris lebih dulu kemudian melihat jadwal servis yang harus segera diselesaikan. Setelah semuanya selesai aku bersiap membuka salah satu HP yang harus segera diselesaikan.
“Assalaamu ‘alaikum…!”
Tiba tiba aku dengar suara seorang wanita yang mengucapkan Salam.
“Wa’alaikummussalaam,,, ada yang bisa saya bantu mbak ?” tanyaku kepada wanita itu. Tampaknya juga seorang santri yang sambil sekolah juga, mungkin usianya juga sebaya dengan aku.
“Mau tanya soal HP boleh gak mas, ini HP saya kok lambat sekali ya.” Kata wanita itu.
“Boleh saya lihat mbak ?” tanyaku.
“Iya silahkan.” Jawabnya sambil menyerahkan Ponselnya.
Kemudian aku buka buka Ponsel tersebut, ternyata banyak virus yang menyerang Ponselnya.
“Ini hanya kena Virus mbak, di flash saja biar hilang virusnya.” Kataku.
“Berapa ya ongkosnya mas ?” tanya wanita itu. aku sangat wajar menghadapi orang sepertinya sebagai seorang santri tentu uangnya terbatas sekali. Aku pun tidak tega menerapkan tarif normal kepadanya.
“Mbak ini Santri ya ?” tanyaku.
Wanita itu pun kaget ketika kutanya seperti itu.
“Kok bisa tahu mas, eem maaf apa mas punya saudara yang namanya Jafar. Dia satu pesantren dengan saya.” Jawab wanita itu.
Ganti aku yang kaget, karena dia teman satu pesantren dengan Jafar dan tahu aku saudaranya.
“Lah kok mbak tahu kalau aku saudaranya Jafar. Apa Jafar pernah cerita atau mungkin Nisa ?” tanyaku lagi.
“Berarti benar mas ini saudaranya Jafar ya ? Kirain Jafar itu hanya punya adik perempuan Nisa itu saja.” Katanya.
Belum sempat aku menjawab tiba tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang sangat aku kenali.
“Eheem asik banget sih, sampai gak lihat ada yang datang.” Ucap Riska yang tiba tiba muncul.
Aduh gimana nih, pasti Riska salah paham, padahal aku sekedar ngobrol karena dia adalah teman satu pesantren adikku.
“Eeeh Riska maaf ini baru kedatangan tamu teman satu pesantren Jafar adikku.” Jawabku.
Aku lihat Riska sedikit berubah, tak lagi pasang muka cemberut.
“Owh kirain, kenalin mbak saya Riska teman satu sekolah mas Sidiq.” Ucap Riska sambil mengulurkan tangan kepada wanita itu.
“Owh iya mbak, nama saya Nadhiroh teman satu pesantren Jafar dan Nisa adik mas nya ini.” jawab wanita itu yang mengaku bernama Nadhiroh.
Aku hanya diam tidak mencampuri urusan dua wanita itu. sambil memikirkan mau kasih tariff berapa ke gadis itu. gak enak juga kalau pakai tarif normal, mending aku kasih tariff pokoknya saja buat setoran pikirku.
“Lah jadi mbak Nadhiroh belum kenal juga sama mas Sidiq ?” tanya Riska.
“Belum mbak, hanya kebetulan saat lewat lihat mas nya aku kira tadi Jafar teman satu pesantren kami. Tahunya bukan, jadi sekalian saja mau tanya tanya soal Hp.” Jawab Gadis itu.
“Owh jadi tadi kesini gak niat servis ya mbak. Gak papa sini sekalian saya betulin HPnya gak usah bayar gak papa. Anggap yang saya lakukan ini untuk Jafar adikku.” Jawabku.
__ADS_1
Aku pikir gak masalah sekedar numpang PC buat flash HP teman Jafar, bukan mencuri atau mengambil barang ini.
“Gak usah mas, jadi gak enak saya nanti.” Jawab Gadis itu.
“Gak papa mbak, Mas Sidiq kalau sama adiknya sangat sayang jadi teman adiknya pasti juga….!” Kata Riska aku potong.
“Pasti apa hayo, jangan diteruskan nanti mbaknya marah kalau dia bilang Jafar pasti ngira kakaknya buaya nanti Ris.” Kataku.
“Gak kok bercanda aja.” Jawab Riska sambil tersenyum, jadi ingat saat meniup matanya waktu itu. senyum Riska begitu manis saat kami berdua saling berdekatan wajahnya.
“Kok beda ya sama Jafar, kalau Jafar itu pendiam kalau mas nya lucu dan pintar bicara.” Kata Gadis itu.
“Masak sih mbak, Riska belum pernah ketemu juga soalnya sama Jafar.” Kata Riska.
Aku jadi agak gugup, pasti deh gadis itu akan bilang ke Jafar kalau ketemu aku baru bersama Riska. Bisa bisa Jafar jadi salah paham nanti, pikirku.
“Iya karena memang jafar jarang keluar dari pesantren mbak Riska. Jadi mbak Riska juga sulit ketemu.” Jawab gadis itu.
“Mbak ini kenal dekat dengan Jafar adikku ?” tanyaku ke gadis itu. kalau usianya sih sebaya denganku artinya lebih tua ari Jafar. Apa mungkin Jafar ada hubungan dengan gadis ini, pikirku.
“Panggil saya Nadhiroh saja gak usah pakai mbak. Gak terlalu dekat sih, hany sering ketemu. Kan beda komplek cowok dengan cewek. Kalau sama Nisa sih sering ngobrol juga.” Kata Gadis itu.
Kemudian aku sambil mem’-Flash Hp gadis yang mengaku bernama Nadhiroh tersebut.
“Nama mbak Nadhiroh ? nanti aku coba bilang ke Jafar kalau habis ketemu temannya yang bernama Nadhiroh.” Kataku.
“Janganmas, saya malu nanti.” Kata Nadhiroh.
“Kenapa malu mbak kita kan bertiga ada Riska juga. Sekalian saja nanti bilang ke Jafar ada salam dari Riska teman mas SIdiq.” Ucap Riska sambil senyum senyum.
“Iya mbak Riska, InsyaAllah saya sampaikan. Mbak Riska pacarnya mas Sidiq ya ?” Tanya Nadhiroh polos.
Aku hampir saja terbatuk mendengar pertanyaan Nadhiroh. Wah gawat bisa bocor sampai ke Nisa dan itu artinya akan sampai ke Ayah bunda dan mamah Arum. Bisa habis Sidiq nanti diomelin mereka, udah gitu Riska malah menjawab iya lagi.
“Iya, Riska memang pacar mas Sidiq. Makanya titip salam saja buat calon ipar Riska.” Ucap Riska.
Haddewh… Riska segitunya dalam melakukan proteksi ke aku, pikirku.
“Udah mbak ini HP nya sudah normal sekarang silahkan di bawa saja.” Kataku pada Gadis bernama Nadhiroh itu.
“Lah tapi saya gak bawa uang mas, kan tadi baru nanya saja.” Kata gadis itu agak malu atau agak takut.
“Saya gak minta bayaran kok mbak, gak ada sparepart yang diganti kok. Udah bawa saja gak papa. Atau mau ngobrol ngobrol dulu sama pacar saya Riska. Jawabku sudah terlanjur basah sekalian mengakui Riska sebagai pacarku sekalian saja, pikirku. Aku melihat Riska hanya tertawa kecil mendengar aku bilang begitu.
“Ah gak mas, nanti malah ganggu mas dan mbak Riska.” Jawab Gadis itu.
“Panggil Sidiq saja dan aku panggil kamu Nadhiroh saja kita kan sebaya.” Jawabku. Namun tanpa aku duga Nadhiroh malah kaget aku bilang seperti itu, tapi aku gak tahu kenapa.
“Iya mbak, kita ngobrol bertiga saja biar Riska juga ada een cewek.” Ucap Riska.
“Makasih mbak, soalnya jadwal di pesantren juga masih padat. Nanti bisa dimarahi Jafar, dia kan pelatih beladiri di pesantren kami.” Ucap Nadhiroh.
“Owh begitu, berarti mbak ini juga ikut beladiri ya ? Kalau Riska mau belajar gak boleh sama mas Sidiq.” Ucap Riska.
“Iya mbak, maaf ya mas Sidiq gara gara saya kira Jafar malah jadi merepotkan mas Sidiq.” Ucap Nadhiroh.
“Santai saja Nadhiroh, titip Nisa adikku ya jangan di nakali ?” kataku.
“iya mas, mana ada yang berani sama Nisa kemarin ning Nia putri kyai saja kalah saat latih tanding dengan Nisa.” Jawab Nadhiroh.
Aku jadi kaget mendengar Nisa latih Tanding dengan Putri Kyainya.
“Apa,,, Nisa latih tanding lawan putrid kiainya, kok bisa begitu ?” tanyaku spontan agak membentak.
“Sabar dong mas Sidiq, kasihan mbak Nadhiroh malah jadi takut begitu.” Ucap Riska.
“Eeeh iya maaf gak sengaja bicara keras. Kok bisa mbak Nisa kan masih kecil masak disuruh latih tanding.” Tanyaku dengan nada pelan.
Nadhiroh jadi pucat ketakutan karena aku membentak tadi, mungkin kaget karena biasa menghadapi Jafar adikku yang lemah lembut berhadapan dengan aku yang agak keras.
“Biasa saja kok mas, hanya agenda rutin latihan saja dan di tungguin Jafar juga.” Jawab Nadhiroh.
“Owh begitu, kapan kapan aku pengen lihat juga ah Jafar adikku melatih beladiri.” Jawabku.
“Terus ini saya harus bagaimana mas, saya beneran gak bawa uang sekarang ?” Tanya Nadhiroh.
“Bawa saja, gak usah bayar anggap ini perkenalan kita sesame Santri meski beda pesantren.” Jawabku tanpa sadar menyebut santri juga.
“Owh mas ini juga Santri,,, ya sudah mas makasih banyak ya. Kapan kapan saya kesini lagi, kebetulan sekolah saya tidak terlalu jauh dari sini.” Kata gadis itu sambil berjalan mencari angkutan untuk pulang ke pesantren.
Setelah agak jauh au menegur Riska.
“Pasti tadi cemburu ya ?” kataku pada Riska.
“Habisnya mas Sidiq tampak asik banget begitu sambil pandangi wajah gadis itu lagi.” Jawab Riska.
“Ya kalau lagi bicara masak mau pandangi yang lain nanti malah salah paham dong.” Jawabku menggoda Riska.
“Tuh kan mulai mengarah ke yang negatif pasti, dasar cowok mah sama saja ternyata.” Gerutu Riska.
“Gak lah aku kan Cuma bercanda saja, karena kamu terlalu cemburu begitu. Aku kan lagi kerja jadi harus ramah pada pelanggan kan.” Jawabku.
“Iya deh Riska ngerti, tapi ada yang lebih penting dari ini mas.” Ucap Riska.
“Apa tuh ?” tanyaku pada Riska.
“Herman mas…!” RIska mendadak murung menyebut nama Herman anak buah Ari yang kemarin sempat aku pukul itu.
“Kenapa dia ?” tanyaku.
“Dia gak terima kemarin mas pukul, dan Riska dengar dia mau mencari orang buat balas dendam pada mas Sidiq. Dan orang yang akan disuruh itu orangnya serupa dengan Jalu juga mas.” Kata Riska.
Aku jadi semakin berpikir, kenapa dari masalah kecil bisa membesar seperti ini. dan apakah masih akan ada kelanjutan pertempuran berikutnya lagi,Pikirku…!!!
Bersambung.
Mohon dukungannya Reders
Like Komen dan vote nya
agar semangat up
__ADS_1
Terimakasih