Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jafar mulai jadi incaran orang orang tertentu


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Sementara Jafar pun agak gelisah setelah mendekati jam Istirahat, dia teringat jika dalam mimpinya dia juga melihat Sidiq kakaknya juga ikut dilatih oleh Yuyut dan beberapa orang yang membantunya itu. Apakah itu artinya Sidiq Kakaknya juga sama seperti dirinya di latih juga ?


Jafar pun mulai berpikir tentang itu juga, dan berniat mau melihat Sidiq kakaknya nanti apa bila dia di datangi oleh anak anak yang akan meminta uang jajan nya. Apakah Sidiq kakaknya akan menggunakan jurus yang diajarkan kepadanya juga. Jika iya berarti Sidiq memang ikut di latih juga. Namun bila tidak berarti itu hanya sekedar mimpi biasa saja, batin Jafar...???


“Aku khawatir pada mas ku, dia sangat mudah marah. Gak mau sedikit mengalah, padahal sedikit mengalah juga gak rugi. Tapi Aku bangga juga jadi adiknya, mas Sidiq sangat baik padaku an Nisa.” Kata Jafar dalam hatinya.


Tanpa terasa bel istirahat  pun berbunyi, seperti biasanya Jafar selalu keluar kelas paling terakhir. Jafar menunggu keadaan agak sepi agar tidak berebut pintu keluar.


“Jafar, kamu gak istirahat ?” Tanya ibu guru Jafar.


“Nanti bu, sebentar lagi.” Jawab Jafar.


“Nanti pulang sekolah menghadap ibu sebentar  ya ! ibu mau bicara sebentar sama jafar.” Ucap ibu guru nya Jafar.


“Iya bu guru.” Jawab Jafar singkat. Dalam hati Jafar berpikir, ada apa ibu Guru memanggil Jafar. Biasanya yang dipanggil kan yang nakal di kelas maupun di luar kelas, kata hati Jafar. Sambil melangkah keluar kelas menuju ke kantin. Dan tanpa sepengetahuan Jafar Sidiq mengamati dari  kejauhan, menunggu apa bila ada anak anak yang yang mau mengganggu Jafar. Ingin melihat apa bila Jafar sampai marah seperti apa.


Jafar melangkah santai menuju ke kantin, melewati beberapa teman satu sekolahnya dan diantaranya adalah anak anak yang kemarin mau mengeroyok Sidiq kakaknya. Jafar menyadari itu, namun dia pura pura tidak mengetahui keberadaan mereka. Dalam hati Jafar ingin melihat respon Sidiq kakaknya jika dia diganggu. Apakah akan menggunakan jurus jurus yang diajarkan dalam mimpi itu atau tidak. Sementara Sidiq pun mengawasi  Jafar, ingin tahu apakah Jafar juga berlatih kanuragan seperti dalam mimpi yang Sidiq alami.


Namun diluar perkiraan sidiq maupun jafar sendiri, anak anak yang kemarin berkelahi dengan Sidiq itu tidak mengganggu Jafar sedikitpun. Bahkan ada salah satu yang berbisik bisik membicarakan Jafar dan Sidiq.


“Jangan ganggu dia, kemarin dulu ayahnya Cheko saja di hajar sama ayahnya anak itu.” bisik salah seorang anak kepada kawan kawan nya.


Jafar yang mendengar itu jadi berpikir, “Sudah pada tahu kah kalo dulu ayah berkelahi dengan ayahnya Cheko. Apakah karena ini Jafar di panggil ibu guru nanti.” Kata Jafar dalam hati.


Jafar pun akhirnya melangkah dengan tenang ke kantin, tanpa ada yang mengganggu. Sesaat kemudian Sidiq pun segera menyusul  Jafar ke kantin sekolah.


“Jajan apa dik ?” Tanya Sidiq ke Jafar.


“Jafar Cuma mau beli minum aja mas, mas Sidiq gak makan kan nanti mas Sidiq pulangnya siang ?” kata Jafar.


“Gak lah, nanti mas makan kalo istirahat ke dua saja. Sekarang minum saja sama makan kue kering dari rumah tadi.” Jawab Sidiq.


“Makan saja mas, uang Jafar cukup kok buat makan berdua kalo mas Sidiq mau.” Kata Jafar.


“Gak usah, mas juga bawa uang sendiri kok tadi kan sama sama dikasih bunda.” Jawab Sidiq.


“Mas, Jafar nanti pulang sekolah di panggil ibu guru ada apa ya ?” Tanya Jafar.


“Dipanggil bu Guru ? memang Jafar salah apa ?” Tanya Sidiq.


“Jafar gak bikin salah, gak tahu katanya nanti pulang sekolah disuruh bertemu ibu guru  nya Jafar.” Jawab Jafar.


“Gak papa, nanti pulangnya bareng mas sekalian saja ya ?” ajak Sidiq pada Jafar.


“Iya Jafar nanti nungguin mas saja.” Jawab Jafar.


Jam istirahat pun selesai, Sidiq dan Jafar kembali masuk ke kelasnya masing masing. Jafar kembali mengikuti pelajaran hingga bel berikutnya. Yang merupakan bel pulang bagi kelas Jafar dan bel istirahat bagi kelasnya Sidiq.


Sesuai perintah ibu guru nya Jafar, Jafar pun segera menemui guru kelasnya itu.


Jafar menuju ke ruang guru di dekat ruang kepala Sekolah. Kemudian Jafar menemui guru kelas yang tadi memintanya untuk menghadap sepulang sekolah.


“Assalaamu ‘alaikum bu guru…!” sapa Jafar pada gurunya yang bernama Rina.

__ADS_1


“Wa’alaikummussalaam, sebentar ya Jafar, nanti kita bicara di ruang lain saja.” Jawab bu gurunya Jafar.


Setelah bu Rina gurunya Jafar selesai membereskan buku buku pelajaran, kemudian mengajak Jafar masuk ke rungan BK ( Bimbingan dan Konseling ). Jafar agak takut memasuki ruangan itu, karena yang dipanggil kesitu identik dengan anak anak yang bermasalah. Yang bagi anak seusia Jafar lebih mengenal dengan anak anak nakal atau bandel di sekolah.


Setelah sampai di ruang BK disitu juga sudah ada seorang Guru yang cukup disegani oleh semua siswa sekolah itu. Jafar jadi semakin khawatir, ada salah apa kok aku dipanggil kesini. Kata Jafar dalam hati.


“Duduk Jafar gak usah takut, kamu tidak punya salah apa apa kok. Tidak semua yang ibu panggil kesini itu punya salah.” Kata guru BK tersebut.


Jafar menjadi agak lega, namun sekaligus penasaran. “Kalo bukan karena nakal kenapa dipanggil kesini.” batin Jafar.


“Jafar tadi sudah jajan di kantin belum ? apa mau maem dulu sekarang ?” Tanya guru kelas Jafar.


“Sudah kok bu guru.” Jawab Jafar datar.


“Tadi jajan apa Jafar ?” Tanya Guru Bk.


“Tadi beli minuman sama jajanan kecil bu guru ?” jawab Jafar.


Guru Kelas Jafar dan Guru BK saling berpandangan sejenak, seakan saling meminta pendapat.


“Eem Jafar tidak tiap hari ya jajan di kantin ?” Tanya Guru Kelas Jafar.


“Iya bu.” Jawab Jafar singkat.


“Kenapa sering tidak jajan di kantin, apa gak dikasih uang saku padahal kan kakak kamu sidiq tiap hari jajan di kantin. Atau ada masalah apa Jafar ?” Tanya guru Kelas Jafar.


Jafar agak kebingungan untuk menjawab, namun berkat ketelatenan Guru BK dan Guru Kelas Jafar akhirnya Jafar mengakui jika uang jajan nya sering kali diminta oleh kakak kelasnya.


“Owh jadi begitu, lain kali kalo ada yang seperti itu bilang ke ibu saja Jafar. Biar nanti anak anak itu ibu kasih tahu.” Kata bu Rina guru kelas Jafar.


“Apa kamu pernah mengadu masalah ini kakak kamu ?” Tanya Guru BK pada Jafar.


Jafar hanya mengangguk tidak berkata apapun, meski sebenarnya yang terjadi adalah Sidiq kakaknya pernah melihat sendiri saat ada anak yang meminta uang jajan Jafar.


“Apa  kakak kamu sempat berkelahi dengan anak yang mau meminta uang kamu, dan itu gak hanya sekali ?” Tanya Guru BK.


“Mereka ?” Tanya Guru BK dan Guru Kelas Jafar bersamaan.


Jafar menyesali kalimatnya yang keceplosan seperti itu, sehingga akhirnya dapat di korek oleh Guru BK dan Guru Kelas Jafar. Siapa saja yang terlibat dalam perkelahian kemarin. Namun itu justru akan menimbulkan masalah baru karena beberapa anak yang terlibat perkelahian adalah anak orang mampu yang tersinggung menyangka anaknya di tuduh malak. Padahal sudah merasa member uang jajan cukup bahkan melebihi anak anak yang lain dan guru guru tersebut berencana untuk gantian memanggil Sidiq keesokan harinya, untuk mendengarkan penjelasan dari Sidiq.


Cukup lama Jafar di interogasi oleh kedua guru tersebut, sampai hampir jam pulang sekolah Sidiq. Dan Jafar pun menunggu Sidiq untuk pulang jalan kaki berdua jika ayahnya tidak menjemput.


Dan sampai Sidiq keluar kelas pun ternyata Ayah mereka tidak menjemput, karena ketiduran dan tidak ada yang membangunkan. Sehingga Jafar dan Sidiq pulang berdua jalan kaki.


“Ayah gak jemput, mungkin kerja atau tidur karena kecapaian. Kita pulang jalan kaki saja yuk mas ?” ajak Jafar pada Sidiq.


“Ayuk Cuma deket ini, tapi gak usah lari lagi ya, mas capek kalo lari lari kayak kemarin.” Ucap Sidiq.


“Iya mas, kemarin kan Jafar ketakutan.” Jawab Jafar.


Sidiq dan Jafar pun pulang berdua berjalan kaki, bagi Jafar dan Sidiq jalan kaki pulang ke rumah dari sekolah yang berjarak satu setengah kilo meter sudah biasa. Di samping juga mereka sudah sering berlatih fisik sehingga tidak terasa berat melakukan itu. dan sesampai di rumah mereka pun melihat ayahnya yang masi tertidur. Dan terbangun karena mendengar pintu kamarnya terbuka.


*****


Yasin POV


“Astaghfirrullah… kalian sudah sampai rumah, pulang jalan kaki ya nak ?” tanyaku pada anak anakku yang mukanya sampai merah terkena sengatan sinar matahari. Aku sangat menyesal, tidak sempat menyalakan Alarm sebelum tidur tadi.


“Iya yah, gak papa kok sambil olah raga.” Jawab Jafar dan Sidiq.


“Yaudah kalian segera ganti bersih bersih dan ganti baju, kita nyusul bunda ke pasar yuk. Sekalian cari makan ayah juga laper nih.” Kataku pada kedua anakku.


Sungguh keterlaluan aku ini, anak pulang sekolah jalan kaki malah enak enakan tidur. Kalo bundanya tahu bisa ngambek nanti, pikirku.


Setelah Sidiq dan Jafar selesai ganti baju kemudian aku ajak menyusul bundanya ke Kios sekalian mau aku ajak jajan.  Dengan mengendarai motor aku bonceng Sidiq dan Jafar menuju ke pasar. Dan di pasar Nisa langsung menyambut kami begitu melihat dua kakaknya datang.


“Hai mas mas ku yang ganteng, tumben nyusul Nisa ke sini…!” sapa Nisa dengan gaya bahasa Nisa setiap harinya ketika menyapa kakak nya.

__ADS_1


Sidiq hanya senyum senyum melihat tingkah Nisa begitu. Sementara Jafar langsung mencium tangan ibunya dan minta di belikan mie Ayam. Barulah kemudian Sidiq yang menyusul cium tangan Fatimah dan menyalami Nisa.


“Tumben mas nyusul kesini, ada apa ?” Tanya Fatimah istriku.


“Aku tadi ketiduran gak sempat masak, anak anak saja pulangnya jalan kaki tadi. Makanya ku ajak kesini buat jajan.” Kataku sambil tersenyum.


“Lah kenapa sampai gak bangun waktunya jemput anak anak ?” Tanya Fatimah.


“Tadi pagi ada tamu sampai lama, jadi aku baru tidur sekejap anak anak sudah sampai rumah.” Jawabku.


“Mau pada pesan makan apa nak ?” Tanya Fatimah beralih bertanya pada anak anak.


Akhirnya anak anak memesan makanan sesuai selera mereka masing masing. Setelah selesai makan siang bersama di kios istriku, tiba tiba ponselku berdering.


“Mas ada panggilan masuk tuh ?” ucap Fatimah.


“Iya bentar.” Jawabku. Kemudian mengambil ponselku d saku jaket ku.


“Dari orang yang kemarin mengikuti kita dari pantai itu. aku angkat dulu sebentar.” Kataku kepada Fatimah.


Kemudian aku agak menjauh dari mereka takut di dengar Sidiq dan adik adiknya, karena kemarin sempat membahas apa yang di lakukan Jafar saat aku di keroyok di pantai.


Dan hasil pembicaraan lewat telpon itu ternyata orang itu mau mengunjungi rumahku, untuk bertemu dengan Jafar anakku. Meski awalnya aku keberatan tapi orang itu terus mendesak agar di pertemukan dengan Jafar. Dan berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang apa yang dia lihat. Katanya hanya ingin melihat dan menyentuh tangan Jafar secara langsung. Terpaksa aku mengijinkan, meski aku juga harus tetap waspada. Karena juga baru kemarin kita bertemu dan berkenalan.


Aku segera kembali ke kios dan menyampaikan kepada Fatimah, jika akan ada tamu yang sedang dalam perjalanan.


“Fat, aku pulang dulu kamu mau pulang sekarang atau nanti ? soalnya akan ada tamu yang sudah dalam perjalanan sekarang.” Tanyaku pada Fatimah.


“Ikut sekalian sajalah, kios juga sudah sepi pembeli kok.” Jawab Fatimah.


Kami pun segera berkemas menutup kios dan berangkat pulang ke rumah. Aku masih menyimpan rasa penasaranku pada orang itu yang sangat bernafsu untuk menemui Jafar anakku. Meski tidak boleh suudzon, tapi orang tua mana yang tidak khawatir jika anaknya dicari seseorang yang belum jelas tujuannya mau apa.


“Orang yang kemarin mengikuti kita dari pantai sampai kita berhenti di Masjid itu yang ingin datang, dan ingin bertemu Jafar secara  langsung.” Kataku berbisik pada Fatimah.


“Lah mau apa dia nemuin Jafar anak Kita ?” Tanya balik Fatimah.


“Itu  yang aku juga belum tahu, makanya nanti kamu ajak Sidiq dan Nisa keluar dulu. Kalo ada apa apa jangan sampai mereka tahu.” Bisik ku pada Fatimah.


“Semoga saja tidak berniat buruk mas, tapi jujur Fatimah agak khawatir juga.” Jawab Fatimah.


“Sama Aku juga, makanya aku juga harus waspada dan berjaga jaga.” Ucapku.


Kemudian kami segera berangkat pulang ke rumah setelah selesai menutup kios istriku. Dala perjalanan pulang pun kami masih kepikiran dengan apa tujuan orang itu mau menemui Jafar anakku. Sedang aku sendiri saja masih berhati hati dalam menyelidiki dan mengawasi Jafar juga Sidiq yang saat ini juga ikut di gembleng kanuragan.


Mau gak mau aku juga harus bersiap dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.  Apapun yang terjadi, keselamatan keluargaku adalah nomor satu. Sudah resiko mempunyai anak seperti Jafar, yang memang memiliki kelebihan secara fisik dan batiniyah nya.


Tak lama kemudian kami pun sudah sampai ke rumah.Karena jarak dari rumah ke kios juga tidak terlalu jauh. Perjalanan santai  gak sampai sepuluh menit juga sampai.


Sesampai dirumah, Fatimah segera mengajak Nisa dan Sidiq keluar. Sesuai permintaanku tadi, sementara aku dan Jafar menunggu  tamu itu sambil mengobrol.


“Yah maafkan Jafar, tadi di sekolah di panggil bu Guru karena mas Sidiq berkelahi dengan teman nya yang akan meminta uang jajan Jafar.” Tiba tiba Jafar justru membuka obrolan masalah lain. Mungkin Jafar mengira aku memintanya menemani aku aku akan menginterogasi dia. Jafar berpikir ayahnya sudah dengar masalahnya di sekolah tadi. Aduh Jafar Jafar,,,, kamu terlalu lembut nak. Ada baiknya kamu belajar sedikit tegas sama kakak kamu Sidiq…!!!


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2