
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Menyerahkan Tawanan ke Pak Yadi...
“Ayah…!!!” Teriak Sidiq dan Jafar bersamaan, Namun Yasin tetap belum bisa bangun dari pingsan nya.
Seorang Yasin, harus jatuh bukan karena musuh tapi karena kelelahan yang sangat dalam kondisi lemah memaksakan diri untuk ikut bertempur…!?!
“Ayah hanya Pingsan Mas, karena kelelahan tidak ada bekas luka. Tapi sepertinya Ayah sempat mengeluarkan tenaga besar sampai memuntahkan darah kental, dari luka dalam yang dialami.” Kata Jafar.
“Kenapa kita bisa sampai terlambat begini, pasti ini ulah Ki Munding dan ketiga muridnya.” Sahut Sidiq.
“Tidak ada bekas luka baru, artinya ayah tidak terkena serangan mereka. Tapi bagaimana ceritanya Ayah pingsan mereka tidak melukai Ayah ?” Ucap Jafar.
Jafar tidak tahu jika sebelum dia datang ada yang menolong Yasin sehingga Ki Munding Suro memilih kabur bersama ketiga muridnya.
Sidiq dan Jafar kemudian mengangkat tubuh Ayahnya untuk dibaringkan di tempat yang lebih bersih.
“Bagaimana ceritanya Mas Sidiq sampai gak pakai baju begitu ?” Tanya Jafar pada Sidiq setelah membaringkan Ayahnya.
“Panjang ceritanya, intinya aku berikan bajuku pada wanita yang hendak dilecehkan oleh anak buah Ki Marto. Karena bajunya koyak dirobek paksa.” Jawab Sidiq.
“Astaghfirullah… eeh tapi berarti Mas Sidiq juga melihat tubuh wanita itu dong…?!?” goda Jafar.
“Apaan sih kamu, gak lihat ayah lagi begini malah bercanda ?!?” gerutu Sidiq.
“Sabar Mas…Jafar sudah periksa semua baik baik saja. Ayah hanya kelelahan saja, bentar lagi juga pasti sadar kok.” Jawab Jafar.
“Kamu Yakin begitu, jangan jangan kamu gak teliti saja…!” Kata Sidiq.
“Insya Allah Jafar yakin mas, mang Mas Sidiq gak Kedinginan buka baju begitu ?” Tanya Jafar lagi.
“Dingin juga sih, tapi bagaimana lagi.” Jawab Sidiq
Jafar menahan senyum geli, karena ingat saat Ki Munding Suro melempar baju Sidiq kepadanya. Untunglah ada Sena yang mengatakan agar tidak percaya dengan ucapan Ki Munding. Sehingga Jafar tidak jadi down tertipu melihat baju Sidiq yang berlumuran darah.
Saat keduanya sedang menunggu Yasin sadar. Tiba-tiba datanglah rombongan wanita yang disembunyikan Yasin sebelumnya.
“Itu Bapaknya kenapa ?” Tanya seorang wanita.
“Gak tahu tante, tahu tahu kami datang sudah pingsan.” Jawab Jafar.
Sementara Sidiq malah sembunyi dibalik Jafar, karena merasa malu telanjang dada.
“Tadi saya mengintip, bapak itu sempat bertempur dengan empat orang.” Kata wanita lainya.
“Terus apa yang terjadi selanjutnya Tante ?” Tanya Jafar kemudian.
“Eeh…itu mas yang satunya lagi kasihan kedinginan sampai menggigil begitu.” Ucap wanita tersebut bukan menjawab pertanyaan jafar tapi malah mengomentari Sidiq yang ngumpet di belakang Jafar.
“Ada yang bawa jaket atau apa kek kasih ke mas yang menolong kita tadi, kasihan kedinginan.” Ucap seorang wanita yang tadi ditolong Sidiq.
Kemudian wanita wanita itu riuh mencari siapa yang bawa pakai jaket.
“Ini aku pakai, tapi malu mau kulepas karena hanya pakai kaos mini **********.” Ucap seorang wanita di antara mereka.
__ADS_1
“Gak papa kok Tante, gak usah saya gak kedinginan hanya malu saja.” Jawab Sidiq angkat bicara.
Dan tiba tiba datanglah Sena dan Tohari yang membawa Jalu dalam keadaan pingsan. Tapi saat itu sudah kelihatan wujudnya, karena tali kafan sudah dilepas oleh Tohari dan Sena.
“Bagaimana keadaan ayah kamu Sidiq ?” Tanya Tohari.
“Ayah Hanya pingsan kok Wak ?” Jawab Sidiq.
“Kamu kenapa ngumpet begitu Sidiq. Nih pakai jaket Paman dulu ?” Kata Sena melepas jaketnya diberikan pada Sidiq.
Sidiq pun kemudian memakai Jaket Sena meski agak kegedean. Karena Postur tubuh Sena yang tinggi Besar.
Setelah itu barulah Sidiq baru berani menampakkan dirinya di hadapan para wanita.
“Wah ternyata kalian kembar ya ?” Ucap para Wanita itu berbarengan. Setelah melihat jelas wajah Sidiq.
“Tidak Tante, kami kakak adik, Ini Adikku Jafar sedangkan nama saya Sidiq.” Jawab Sidiq. Setelah memakai Jaket yang diberikan Sena.
Beberapa saat kemudian Yasin mulai bergerak setelah beberapa titik saraf utama dibetulkan oleh Jafar.
“Ayah…Ayah sudah sadar ?” Tanya Jafar ketika melihat Yasin membuka matanya.
“Uhhuuk…maafkan Ayah, Ayah gak bisa nahan Ki Munding dan ketiga muridnya. Mereka berhasil Kabur, siapa yang menolong Ayah tadi ?” Tanya Yasin.
Sidiq dan Jafar juga Tohari dan Sena hanya bengong.
“Apa ada orang lain yang menolong kita ?” Ucap Tohari.
“Iya, saat aku hendak menghadapi ilmu ketiga Murid Ki Munding tadi. Ada yang menghantam mereka dari jauh hingga mereka terpental dan Kabur.” Jawab Yasin.
“Siapa orang itu ?” Tanya Tohari.
“Aku juga tidak sempat melihat, karena tiba tiba kepalaku jadi berat dan gak Ingat apa apa lagi. Tapi Sekarang yang penting selamatkan para wanita itu.” Ucap Yasin.
“Sena tolong kamu hubungi Pak Yadi, aku sudah bilang jika akan menyelidiki markas ini.” Ucap Yasin.
“Iya Mas, tapi aku gak simpan No Pak Yadi dan disini susah sinyal.” Jawab Sena.
“Sidiq, kamu antar Paman kamu ke tempat yang ada Sinyal. Sekalian ajak ibu ibu itu biar cepat diamankan.” Ucap Yasin sambil memberikan No Pak Yadi ke Sena.
Sidiq pun mengantar sena dan para wanita meninggalkan tempat tersebut. Untuk mencari Sinyal dan menunggu kedatangan Pak Yadi.
Sidiq berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, dan Sena pun mengawasi mereka dari belakang. Sebagai antisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
Dan apa yang mereka khawatirkan pun terbukti, karena Jaka dan Bayu Aji beserta beberapa anak buahnya melihat rombongan tersebut.
“Wanita wanita itu hanya dikawal dua orang, apa kita serang saja. Untuk balas sakit hati kita.” Kata Jaka Santosa.
“Tapi dua orang itu bukan orang sembarangan, kita berdua tidak akan mampu melawan. Sudah berkali kali kita dikalahkan anak tersebut. Belum lagi yang tua itu tadi mampu melawan kita yang pakai halimun.” Jawab Bayu Aji.
“Kita serang dari jauh dan kemudian kabur, paling tidak kita bisa melukai beberapa orang dari mereka. Meskipun hanya mengenai para wanita tersebut.” Jawab Jaka yang masih memendam dendam kesumat pada Sidiq.
“Caranya bagaimana ?” Tanya Bayu Aji.
“Kita lempar rombongan itu, jika ada wanita yang terluka pasti mereka sibuk menolong. Kemudian saat lengah kita hantam salah satu dari anak muda atau orang yang lebih tua itu.” Kata Jaka Santosa.
“Baiklah kalau begitu aku yang akan melempari mereka bersama anak buah kita, dan Kang Jaka siap siap hantam salah satu dari mereka.” Jawab Bayu Aji.
Kemudian Jaka menggunakan aji halimun dan mendekati rombongan Sidiq dan Sena yang mengawal para wanita tersebut.
Â
“Paman…sudah menemukan Sinyal belum ?” Tanya Sidiq.
__ADS_1
“Ini sudah kirim pesan, sambil nunggu Sinyal nanti biar begitu ada sinyal bisa terkirim.” Jawab Sena.
Belum juga Sena berhenti bicara, tiba-tiba beberapa batu yang dilemparkan Bayu Aji dan anak buahnya mengenai beberapa wanita. Sehingga beberapa wanita mengaduh kesakitan.
“Sidiq awas ada yang mendekati kamu dengan aji halimun.” Teriak Sena yang mengetahui kehadiran Jaka melalui indera keenamnya.
Sidiq pun segera mengambil sesuatu dari kanton yang disiapkan sejak perjalanan bersama Jafar tadi. Kemudian menaburkan sesuatu itu ke udara di sekitar dia berdiri. Sosok Jaka yang tidak tampak mata jadi kaget dan mendadak merasakan gatal dan panas di permukaan kulit wajahnya.
Jaka Santosa pun sempat mengeluarkan jeritan pelan, namun terdengar oleh Sidiq.Sidiq segera melayangkan pukulan ke arah suara tersebut. Sehingga Jaka pun terpental mundur dan lari meninggalkan rombongan Sidiq sambil menahan gatal dan panas di wajahnya.
Melihat Jaka kabur, Bayu Aji dan rombongannya pun akan ikut lari kabur juga. Namun keberadaan Bayu Aji juga sudah terdeteksi oleh Sena melalui indera keenamnya.
Sehingga Sena pun segera menangkap Bayu Aji dan melumpuhkannya, dan membiarkan yang lain kabur. Karena yang lain dianggap tidak terlalu bahaya. Dengan Menangkap Bayu Aji sudah mengurangi salah satu kekuatan mereka. Apalagi Jalu juga sudah diringkus sebelumnya.
Setelah Bayu Aji berhasil dilumpuhkan dan diikat, Sidiq pun mendekati Bayu Aji.
“Rupanya kamu lagi, gak ada kapoknya juga ya ?” Tanya Sidiq.
Â
“Ampun saya mau hidup, jangan bunuh saya !” ucap Bayu Aji memohon Ampun.
“Sudah Sidiq, kita serahkan saja nanti ke pihak yang berwajib. Bukan tugas kita untuk menghukumi dia.” Ucap Sena menenangkan Sidiq yang masih emosi karena Ayahnya tadi sampai pingsan gara gara kelompok Bayu Aji.
Tiba-tiba Ponsel Sena bergetar, ada chat masuk dari Pak Yadi yang mengabarkan akan siap menjemput mereka.
“Sidiq, ini pesan sudah masuk dan sudah dibalas Pak Yadi. Aku akan bertahan disini mengirim lokasi kita. Takutnya kalau geser nanti sinyal hilang lagi.” Ucap Sena.
“Iya Paman, Sidiq biar membantu ibu ibu yang terluka dulu.” Ucap Sidiq.
Sena segera mengirimkan Lokasi keberadaanya pada Pak Yadi, dengan agak kesulitan karena sinyal yang datang dan pergi. Namun akhirnya terkirim juga, sehingga Sena meminta mereka tetap berada di tempat itu sambil menunggu Pak Yadi datang menjemput mereka.
Â
…..
Di tempat Yasin istirahat
Setelah Yasin hanya bertiga dengan Tohari dan Jafar, Yasin kembali membuka pembicaraan.
“Kang Tohari, apa Kakang tidak merasakan jika kita saat ini sedang diawasi seseorang ?” Tanya Yasin pada Tohari.
“Maksud kamu, ada orang yang mengawasi kita ? Dari pihak kawan atau lawan ?” Tanya Tohari.
“Sebentar Kang…!” Jawab Yasin kemudian Yasin pun membuka Lathoif Nafsi untuk melihat keadaan sekitar melalui pandangan batinnya.
“Assalaamu’alaikum Kang…kenapa tidak bergabung kesini saja sekalian. Pasti Kakang yang sudah menyelamatkan aku tadi…?” Ucap Yasin.
Tohari dan Jafar tidak mengerti siapa yang dimaksud Yasin, karena mereka tidak merasakan dan melihat siapa siapa di sekitar tempat itu…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1