
...Seluruh padepokan tahu Zain \= Yasin Jaka Santosa marah besar...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Semua terkejut melihat Yasin yang tahu tahu sudah mencengkeram leher Ari hingga kesulitan bernafas tersebut. bahkan secara tidak langsung tindakan Yasin tersebut membuat bapaknya Riska tahu jika Yasin bukan orang sembarangan. Pak Yadi pun jadi bingung, karena hendak mencegah Yasin tamoak sangat marah, namun bila dibiarkan Ari memang bisa mati dicekek terus oleh Yasin…!?!
“Ayah jangan kotori tangan Ayah biar Sidiq saja yah !” Ucap Sidiq meredkan kemarahan Yasin.
Kemudian Yasin melepaskan cengkraman tangannya pada Ari.
“Kalau kamu mau mengadu pada Jalu, bilang akulah yang dia cari Akulah Yasin alias Ahmad Sidiq jangan ganggu yang orang lain.” Ucap Yasin memperingatkan Ari.
Ari tak berani menatap Yasin, karena sudah melihat kiprahnya tadi saat pura pura bertempur melawan Jafar.
Pak Yadi pun segera membawa Ari ke kantor Polisi untuk di mintai keterangan siapa saja yang terlibat dengan kasus pencilikan Riska. Dan Sidiq diantar kembali ke pesantren Al-Hikmah bersama Ihsan . Sedangkan Yasin memilih langsung pulang ke rumahnya, karena memikirkan keadaan rumahnya yang ditinggal dari pagi tadi.
Pak Lurah ayahnya Riska pun meminta maaf pada Sidiq dan ayahnya atas kesalah pahaman yang terjadi sebelum mereka berangkat. Riska menjadi sedikit lega ayahnya tak lagi membenci Sidiq, meski belum ada kepastian ayahnya member lampu hijau hubunganya dengan Sidiq.
…..
…..
…..
Usai sudah permasalahan Padepokan ki Marto Sentono yang berawal dari Jaka Santosa dan melibatkan Riska. Namun masalah itu menimbulkan dampak yang lebih besar, karena para tokoh yang terlibat justru kabur dan menyusun kekuatan baru lagi.
Disamping itu kabar bahwa sebenarnya Zain itu adalah Yasin yang menyamar dan berpura pura melawan Jafar dan sidiq pun akhirnya terdengar oleh Jalu dan Gede paneluh. Sehingga membuat Jalu semakin merasa marah kepada Yasin.
“Kita sudah ditipu mentah mentah oleh Yasin, ternyata orangnya sangat licik begitu. Pantas kalau ayahku Maheso Suro bisa dikalahkan. Pasti dia juga menggunakan cara licik saat melawan ayahku dulu.” Ucap Jalu pada Gede Paneluh di sebuah tempat persembunyian mereka.
“Ada baiknya kita terima tawaran Susiana untuk bergabung melwana Yasin. Bagaimanapun dia punya keahlian yang langka meski seorang wanita.” Jawab Gede Paneluh.
“Tapi kita kan juga punya kegiatan sendiri kakang, belum lagi mengambil susuk Emas di makam ayahku. Setelah aku selesai menyelesaikan ritual berendam di Tujuh Tempuran sungai.” Kata Jalu.
“Tidak masalah, kan kita tidak harus bersama dengan Susiana terus.” Jawab Gede panjalu.
“Iya sih kang, tapi aku juga pengen mencari dalang Anyi anyi itu juga kang. Siapa tahu bisa membantu kita mengalahkan Yasin.” Ucap Jalu.
“itu ide bagus, kalau perlu seminggu sekali aku akan menemani kamu untuk mencarinya. Tapi setelah kita mengambi susuk emas dimakam ayah kamu nanti saja.” Jawab Gede Paneluh.
“Iya kakang, apakah jadi malam ini kita ke makam ayahku ?” tanya Jalu.
“Tentu saja, ini pas Purnama penuh saat kekuatan bulan juga lebih membantu kita melakukan ritual pemasangan Susuk emas itu nanti.” Jawab Gede Paneluh.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu apa yang harus Jalu persiapkan kakang ?” tanya Jalu.
“Seperti biasanya, kain mori ( Kafan ) dan seperngakta sesaji kembang setaman dan kemenyan jawa. Tapi harus dibakar diatas sabut kelapa kering nanti dimakam ayah kamu.” Ucap Gede Paneluh.
Gede Paneluh akan mengadakan ritual pengambilan dan pemasangan susuk emas sebagai sarat penyempurnaan aji gilingwesi Sawung Panjalu. Dengan terlebih dahulu memanggil ruh dari Maheso Suro “menurut tata cara dan kepercayaan” yang diyakini oleh Gede Paneluh dan Sawung Panjalu.
Tibalah Gede Paneluh dan Jalu di makam Maheso Suro yang berdampingan dengan makam Mentorogo. Dimana dulu kedua orang tersebut tewas bersamaan setelah kedua kepala mereka dibenturkan oleh Yasin. Karena jika hanya mati salah satu maka akan hidup lagi setelah satunya melompatinya.
Gede Paneluh mengganti baju dengan baju khusus dengan ikat kepala hitam dan mengenakan Jubah panjang hitam juga. Kemudian mulai membakar kemenyan yang ditaruh diatas sabut kelapa kering. Aroma menyengat khas kemenyan jawa menyebar disekitar tempat itu. menimbukan suasana mistis yang sangat kental.
Kemudian Gede Paneluh Komat kamit sebentar mengucapkan Mantra mantra pemanggilan Arwah ( Jamak dari kata Ruh dalam bahasa Arabnya ) Gede Paneluh menyebut nama nama leluhurnya juga menyebut Danyang penguasa tempat itu untuk meminta ijin mengadakan upacara ritual di tempat itu.
Sementara Sawung Panjalu diberi pakaian khusus mirip Jenazah yang siap dimakamkan. Hanya saja pada bagian wajahnya tetap terbuka agar tetap bisa bernfas. Namun seluruh tubuhnya dibalut dengan kafan yang menyerupai bentuk Pocong. Dan di sandingkan dengan makam ayahnya.
Gede Paneluh terus saja mengucapkan mantra mantra pemanggilan Arwah termasuk ruh Maheso Suro juga dia sebut agar Hadir ditempat itu.
“….. puniko putra wayah panjenengan ingkang Asesilih Sawung Panjalu. Ingkang sakmeniko bade nyuwun palilah panjenengan sedoyo poro leluhur. Sawung Panjalu bade ngestantunaken Ilmu warisan saking panjenengan sedoyo Ilmu Gilingwesi. Lumantar Sesaji ingkang sampun kacawisaken mugi panjenengan sedoyo kerso minangkani pamundutanipun putra wayah panjenengan pun Sawung Panjalu… Sedoyo poro prewangan mugio kerso paring pambiantu…. !”
“….. inilah anak cucu panjenengan ( Jawa halus dari Kamu ) yag bernama Sawung Panjalu. Yang sekarang akan meminta ijin panjenengan semua ppara leluhur. Sawung Panjalu mau melestarikan Ilmu warisan dari Panjenengan semua ilmu Giling wesi. Dengan perantara sesaji yang sudah kami siapkan semoga panjenengan semua mau mengabulkan / memenuhi permintaan anak cucu panjenengan yaitu Sawung Panjalu….. Semua para Khodam semoga mau member pertolongan…..!”
Sebuah pengucapan “Hajat” ( keinginan atau maksut ) di tengah pembacaan Mantra mantra yang dilakukan oleh Gede Paneluh.
Dan setelah mantra dibacakan Gede Paneluh seperti bersujud kepada kuburan Maheso Suro. Dan sesaat kemudian bermunculan soso sosok gaib dlam berbagia wujud yang mengerikan.
Mereka seakan seperti berebut sesaji yang di persembhakan oleh Gede Paneluh dan Jalu. Setelah memakan habir semua sesaji yang ada para makhluk astral itupun menari nari mengelilingi Gede Paneluh yang masih duduk bersila dan Jalu yang masih terbujur disamping kuburan ayahnya.
Dan secara tiba tiba muncul asap tipis dari kuburan Maheso Suro kemudian asap tipis itu membentuk sebuah sosok yang mirip Maheso Suro. Yang sebenarnya itu adalah Jin Qorin ( Jin yang mengikuti manusia sejak lahir dengan perilaku dan penampilan yang sama dengan yang diikuti. Itulah kadang orang menyebut orang yag sudah meninggal ruhnya gentayangan.)
“Ampun ki ageng, ini anak ki Ageng ingin meminta susuk Emas ki ageng untuk meruskan ilmu ki Ageng.” Ucap Gede Paneluh.
Kemudian Sosok yang mirip Maheso Suro itu pun mengajukan sarat sarat sebelum memberikan susuk Emas kepada Sawung Panjalu.
Pertama minta disediakan kembang kantil kenanga setiap malam dan ditebar di depan rumah Jalu. Kedua minta untuk diberikan Darah ayam Cemani setiap malam selasa Kliwon. Apa bila tidak dipenuhi maka susuk emas itu akan kembali diambil oleh Maheso Suro kata sosok tersebut.
Setelah selesai sosok itu kembali lenyap menjadi asap tipis dan makin lama semakin hilang.
Kemudian dari kuburan itu keluar lagi asap tipis kemudian di susul cahaya kuning kemerahan makain lama makin tampak keluar dari kuburan itu. dan suber cahaya itu tampak seperti batang lidi yang hanya sepanjang korek apai. Namun cahayanya cukup menyilaukan mata.
Pelan cahaya itu bergerak ke arah Gede Paneluh yang kemudian oleh Gede Paneluh ditangkap dan dipasangkan ke dada Sawnung Panjalu. Sawung Panjalu sampai menjerit kepanasan melerima Cahaya yang ternyata itu adalah susuk Emas yang dulu dipakai Maheso suro.
Jalu Menjerit namun tak bisa berontak karena seluruh badanya terbalut kain kafan. Mungkin karena itulah Jalu dibalut kafan, karena memang menahan sakit dan panas saat susuk itu dipasang agar tidak berontak saj maksutnya.
Akhirnya proses penarikan dan pemasangan Susuk pun selesai, dan Jalu kembali dibuka ikatan pocongnya dan kembali berpenampilan layaknya manusia yang masih hidup seperti sebelumnya.
“Sudah adi Jalu, sekarang kamu bisa mencoba ilmu itu…!” ucap gede paneluh yang masih tampak lelah karena baru saja mengeluarkan banya tenaga memasang susuk di tubuh Jalu.
“Baiklah kakang terimakasih.” Ucap Jalu kemudian mengambil potongan besi kecil dan melatakkan di telapak tangannya. kemudiar besi itu diremas dengan telapak tangannya. bagaikan pisang goreng besi itupun menjadi sangat lumer di tangan Jalu.
Jalu sangat senang merasa ilmu Gilingwesinya sudah mencapai tahap akhir yang dia inginkan. Sehigga Jalu makin merasa percaya diri dapat mengalahkan Yasin nantinya.
Tak terasa mereka berdua telah berada di situ sampai menjelang pagi. Kemudian Jalu Dan Gede Paneluh segera beranjak meninggalkan tempat itu. Namun Gede Paneluh tidak pulang bersama Jalu namjn langsung pualng ke rumahnay di daeran Jawa Tengah. Dan berpesan kepada Jalu agar malam malam berikutnya mencoba mencari dalang anyi anyi serta berjanji akan membantu Jalu untuk dapat menemukan dalang tersebut.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun berpsah menuju ke rumah masing masing.
…..
Sesampai dirumahnya Jalu kembali teringat jika dirinya dan seluruh isi Padepokan ki Marto sentono sudah dibohongi dan dibodohi oleh Yasin. Sehingga Jalu pun terpikri untuk menyebarkan bertita itu agar kemarahan seluruh isi Padepokan Marto Sentono terbakar. Dan akan digiring oleh Jalu untuk kembali membuat masalah dengan Sidiq atau Jafar atau siapapun orang orang dekat Yasin.
Jalu ingin menteror Yasin hingga daoat mempertemukan Yasin dengan Susiana atau Mutsashi jika perlu akan bersama sama Mutsashi mengeroyok Yasin. Dengan perpaduan ilmu Ninja milik Susiana dan kemampuan milik Jalu Sendiri juga kemapuan Teluh dan santet Gede Paneluh.
Pertama yang di datangi Jalu adalah Jaka Santosa yang dulu hampir saja bentrok dengan Jalu.
“Apa kabar Jaka Santosa, maaf aku baru bisa berkunjung ke tempat kamu.” Ucap Jalu berbasa basi.
“Tidak Perlu basa basi, katakana saja apa tujua kamu kemari. Kemarin saja di padepoka kamu hanya bermulu basar. Tapi pada saat butuh bantuan kamu kabur paling duluan membawa saudarpamu Gede Paneluh.”ucap Jaka Santosa.
“Sabar Jaka, kemrin memang aku kabur tapi bukan karena takut. Aku menyelamatkan saudaraku yang terluka. Dan aku kesini hanya mau bilang kalo kita semua saat ini sudah di bohongi oleh Zain alias Jaka Gledek itu. karena ternyata dialah orang yang bernama Yasin itu. dan pertarungan dengan anaknya kemarin hanyalah tipu daya mereka untuk mengelabui dan menjebak kita…!” ucap Jalu.
“Jangan Fitnah kamu Jalu…! Dia teman baik ayahku Mentorogo…!!” Bentak Jaka masih tidak percaya.
“Wkakaka…. Kamu memang biodoh Mau saja dibohongi begitu, dia tahu banyak tentang ayah kamu karena memang dia yang membunuh ayah kamu Jaka. Aku tahu dari Ari sepupuku yang kemarin sampai di tahan Poisi karena menculik gadis itu. Coba kamu buktikan sendiri saja Jaka…!” Ucap Jalu
Jaka pun menjadi sedikit bimbang apakah benar kata Jalu tersebut.
Apa kamu bisa aku percaya, kemudian Jalu menunjukan kabar dari Ari melalui Chat yang mengabarkan semuanya tentang Sidiq Jafar Yasin.
Maka meledaklah amarah Jaka Santosa, dan saat itu juga Jaka berniat mencari salah satu anak Yasin entah Jafar atau Sidiq. Akan mengajaknya bertarung sampai salah satu tak bisa bangun lagi.
“Carilah ke sekolah Sidiq, kalau perlu aku bantu kamu nanti Jaka biar ayahnya kembali muncul. Aku sudan mendapatkan lawan tanding yang pas untuk melawan Yasin…!” ucap Jalu memprovokasi Jaka…!!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1