
Reader tercinta, beberapa episode sebagai cooling down saja. Setelah adegan kekerasan Yasin, dan selanjutnya Kiprah Yasin akan diganti Sidiq dan Jafar.
Dengan tidak meninggalkan jiwa muda Sidiq dan Jafar yang diwarnai Romantika cinta remaja.
Selamat membaca, semoga terhibur.
..........
Jika saja dalam kehidupan nyata ada public figure seperti Kyai di pesantren, mungkin akan sedikit meredam masalah yang ada. Namun yang sering terjadi dalam kehidupan adalah, banyak orang yang merasa sebagai tokoh yang harus ditaati dan dihormati. Anti kritik dan merasa paling benar, tapi malah menuduh kehidupan di pesantren seperti itu adalah sebuah pengkultusan. Kalo dipikir sebenarnya lucu, atau hanya sekedar iri saja dirinya tidak bisa seperti kyai yang di taati oleh semua santri. Kemudian membuat move seperti itu.
Tapi itulah realita kehidupan yang ada, banyak orang yang sekedar mencari pengaruh atau eksistensi tanpa memperdulikan esensi dari apa yang dia ucapkan dan kerjakan. Meski tidak menafikan masih banyak juga orang yang baik yang selaras antara ucapan dan perbuatan. Hanya saja yang seperti itu selain jumlahnya semakin sedikit juga kalah tenar dengan orang yang sekedar mengejar popularitas dan eksistensi. Karena mereka panai membuat sebuah kemasan yang menarik, meski isi tidak sesuai dengan kenyataan.
Jafar yang masih lugu dalam hal hubungan pria dan wanita meski secara usia dan tubuh yang bongsor. Menjadi bahan pembicaraan banyak santri baik laki laki maupun wanita. Bahkan juga sampai terdengar oleh Sang Kyai yang juga mengenal ayah Jafar sebagai Yasin. Karena Kyai nya Jafar adalah Alumnus pesantren yang sama dengan Ayah dan bundanya Jafar.
“Mih, coba kamu panggil Jafar kemari ?” Ucap Syuhada sang Kyai kepada istrinya.
“Iya bi, Jafar yang anaknya Yasin adik angkat Abi di pesantren itu ?” tanya istri sang Kyai.
“Iya, kok aku dengar desas desus dia sudah berani dekat anak perempuan bahkan senior dia sendiri.” Ucap sang Kyai.
“Iya bi, biar nanti Umi suruh salah satu santri.” Ucap istri sang kyai tersebut.
Kemudian Nyai Alisa istri sang Kyai segera menyuruh santri yang biasa membantu urusan dapur rumah sang Kyai untuk memanggil Jafar. Sehingga membuat Jafar kaget karena belum pernah dipanggil ke dalam menghadap sang Kyai. Namun sebagai Santri dia Jafar hanya menurut saja apa Dawuh Kyai kepadanya. Karena itu salah satu bentuk tawadhu kepada Guru.
*****
Sementara itu Sidiq yang sudah ijin cuti sehari dari tempat kerjanya di counter HP. Setelah subuh segera berpamitan kepada Abah gurunya juga untuk menjenguk ayah bundanya di rumah. Tanpa kesulitan Sidiq un mendapatkan izin, karena memang sudah cukup lama Sidiq tidak pulang kerumah semenjak ikut bekerja di counter HP tersebut. sehingga Abah Gurunya Sidiq pun member Ijin kepada Sidiq untuk pulang. Sidiq yang berbeda pesantren dengan Jafar dan Nisa adiknya, namun masih bersanad ilmu yang sama. Karena abah Guru Sidiq adalah murid dari adik seperguruan Abah Guru Ayahnya dan Fatimah Bunda tiri Sidiq.
Pagi buta Sidiq berangkat menuju ke rumahnya, Sidiq yang membawa sedikit uang berencana akan menyerahkan beberapa lembar untuk bundanya. Karena Sidiq tahu jika ayah bundanya sedang dalam kesulitan keuangan. Dalam hati Sidiq berkata, “ Sayang aku belum gajian, hanya uang saku dari Kh Yun saja yang aku bawa, dan sedikit dari hasil menyisihkan uangku. Coba kalo banyak, mungkin bisa bantu ayah bikin usaha baru lagi.” Batin Sidiq.
Dalam perjalanan pun Sidiq memikirkan bagaimana ayah bundanya di rumah saat ini. karena tidak lagi memiliki Kios bahkan perkebunan juga sudah habis waktu ada kerusuhan dulu. Sidiq menjadi sedih ketika mengingat keadaan ayah bundanya. Dan sidiq sampai tertidur karena lelah melamun, sampai dibangunkan oleh kernet bus.
Sidiq jadi kaget dan segera turun, tampak matahari sudah cukup tinggi. Mungkin sekitar pukul setengah tujuh Sidiq turun dari bus. Dan segera menacri Ojek untuk mengantar ke rumahnya agar cepat sampai. Sidiq sudah sangat rindu dengan ayah dan bundanya, meski Fatimah bukan ibu kandung Sidiq.
*****
Sesampai di rumah Yasin
Sidiq POV
“Assalaamu’alaikum….!” Ucap salam Sidiq ketika membuka pintu rumahnya.
“Wa’alaikummussalaam… Ya Allah Sidiq anakku kamu pulang kenapa nak ? gak ada apa apa kan ?” Tanya Ayah kepadaku.
“Kangen ayah bunda saja, ayah mau kemana kok rapi banget ?” Tanyaku balik pada ayah, sambil bersalaman dan mencium tangannya.
“Owh Ayah mau ke tempat pak Zul, mau merawat tanaman yang dulu ayah tanam disana. Fat… ini Sidiq anak kita datang, sekalian bikini sarapan buat sidiq juga…!” teriak Ayah kepada bunda Fatimah.
Bunda pun menyahut dari dalam.
“Sidiq…? Kok gak bilang bilang kalo mau pulang ?” jawab Fatimah sambil berjalan ke ruang tamu menemui Aku. Dan Aku segera mencium tangan bunda sebagai rasa hormatku pada beliau yang telah mendidikku dari kecil sampai besar.
“Wah Sidiq sudah besar dan makin ganteng sekarang, tapi ingat ya jangan pacaran dulu ya Sidiq.” Ucap bunda kepadaku. Spontan malah aku jadi teringat akan Riska gadis yang aku suka itu.
“Gak kok bunda, Sidiq gak pacaran kok…!” jawabku agak kaku. Meski memang tidak berpacaran tapi aku merasa sedang jatuh cinta pada seorang gadis teman sekolahku Riska.
“Lah kenapa kamu jadi gugup begitu Sidiq, ingat loh bundamu ini hafal juga dengan kelakuan anak anak muda jaman sekarang.” Ucap bundaku kepadaku membuat aku semakin berkeringat dingin.
“Iya bunda, Sidiq masih tetap ingat pesan Ayah dan bunda kok. Sidiq gak pacaran sampai sekarang.” Jawabku meski dalam hati aku teruskan “ gak tahu kalau nanti…!”. Paling tidak aku tidak ingin membuat bunda Fatimah kecewa padaku. Bukan bermaksud membohongi beliau, hanya sekedar membuat beliau merasa senang dan tenang.
“Sudah, siapin sarapan sekalian buat Sidiq. Biar Sidiq nanti bantu bantu bunda di rumah ya nak !” ucap Ayah mengalihkan pembicaraan.
“Iya yah, tapi ayah sendiri perlu bantuan Sidiq gak nanti ?” tanyaku pada Ayah.
“Gak usah nak, Ayah sudah biasa kerja sendirian kok. Kamu bantu bunda kamu saja dirumah. Ayah juga gak lama kok, paling gak sampai sore nanti.” Ucap Ayahku. Aku sebenarnya pengen ikut, tapi mengingat aku juga harus menemui mamah Arum maka aku lebih memilih menemani bunda Fatimah di rumah saja.
“Iya Yah, sidiq nurut saja tapi nanti minta ijin mau ketemu mamah Arum sebentar yah. Sidiq ada perlu sama mamah Arum juga.” Jawabku ke ayah.
“Iya boleh, tapi cepet pulang ya temenin bunda Fatimah kasihan kalau sendirian di rumah. Kalau mamah kamu Arum kan masih ada temennya.” Ucap Ayah padaku.
Kemudian bunda Fatimah datang membawa nasi goreng untuk sarapan pagi. Dan kami bertiga pun makan pagi dengan nasi goreng buatan bunda Fatimah. “Tampaknya ayah barusan mendapat rejeki, buat nasi goreng spesial komplit dengan lauk ayam goreng dan lalapan lain.” Kataku dalam hati. Aku bersyukur jika ayah dan bunda sudah tidak terlalu kesulitan dalam hal keuangan. Namun aku tetap bertekad akan meninggalkan uang sakuku kepada bunda Fatimah. Karena itu sudah jadi niatku untuk membantu mereka.
Usai sarapan Ayah pun berpamitan untuk berangkat bekerja, bunda dan aku mengantarkan sampai ke depan pintu. Tak lupa kami pun mencium tangan ayah, aku agak kaget ayah kelihatan agak kurus. Meski tangannya masih tetap kekar namun tonjolan tulangnya jadi kelihatan sekali.
__ADS_1
Selepas ayah pergi pun aku bertanya kepada bunda.
“Maaf bunda, kok ayah sekarang jadi agak kurusan kenapa bunda ?” tanyaku pada Bunda Fatimah.
“Biasalah Sidiq, namanya orang sudah tua jadi banyak mikirin anak anaknya. Makanya kamu harus serius dalam mengaji dan belajar. Agar ayah bundamu bangga kepadamu.” Jawab bunda Fatimah.
“Iya bunda, Sidiq gak akan mengecewakan ayah dan bunda kok.Bunda, Sidiq mau tanya beberapa hal bunda jangan marah ya ?” tanyaku hati hati pada bunda. Meski Aku tahu bunda jarang marah, tapi aku takut jika bunda Fatimah sampai marah.
“Mau tanya apa, kok kayaknya serius banget begitu “ tanya balik bunda Fatimah.
“Iya bunda, Sidiq mau jujur kalo Sidiq saat ini ngaji dan sekolah sambil bekerja, boleh kan bunda ?” tanyaku agak takut kalau kalau bunda melarang Sidiq.
Bunda Fatimah diam sesaat, sambil menatapku dalam dalam. Membuat aku tak berani memandang wajah bunda Fatimah. Yang aku lihat sudah mulai timbul kerutan di dahinya, meski masih tetap tampak cantik.
“Kamu kerja, kerja apa ? apa gak ganggu sekolah dan ngaji kamu Sidiq ?” tanya bunda Fatimah menyelidik.
AKu agak takut, bahkan jadi teringat Jafar adikku yang katanya juga mau ikutan cari uang sambil mengajari anak anak dusun sekitar pesantren. Baik mengajar ngaji sekaligus juga mengajar pencak silat anak anak dusun. Kalau bunda marah bagaimana nanti, pikirku.
“Maaf bunda, Sidiq kerja setengah hari sepulang sekolah dan sorenya tetap ngai di pesantren kok bunda.” Jawabku sambil tertunduk.
“Kenapa kamu harus bekerja Sidiq, tugas kamu kan ngaji dan sekolah saja ?” ucap bunda Fatimah datar tidak Nampak marah. Sehingga aku menjadi sedikit lega, mendengar jawaban beliau yang tetap lembut itu.
“Sidiq mau cari pengalaman dan sekaligus mau membantu meringankan beban ayah bunda. Sidiq tahu Ayah dan Bunda sekarang ini baru dalam masa sulit.” Jawabku hati hati takut menyinggung perasaan bunda Fatimah.
“Meski begitu, tidak seharusnya kamu sampai mengorbankan diri kamu dengan mencari uang nak. Ayah bunda mu ini sanggup membiayai kamu bagaimanapun caranya. Asal kamu serius dalam mengaji dan sekolah.” Ucap Bunda Fatimah.
“Sidiq tahu bunda, ayah dan bunda ikhlas membiayai Sidiq. Tapi Sidiq butuh pengalaman dan ingin meringankan beban ayah Bunda saja.” Jawabku pada bunda Fatimah.
“Terus kamu kerja apa nak, bunda gak mau kalau kamu sampai kelelahan terus gak bisa ngaji dan sekolah.” Kata bunda Fatimah.
“Gak kok bunda, Sidiq hanya jaga counter HP dan servis HP saja tidak mengeluarkan banyak tenaga.” Jawabku pada bunda Fatimah.
Bunda Fatimah kembali terdiam. Aku melihat ada kesedihan di wajahnya. Mungkin sedikit tidak tega aku sekolah sambil bekerja begitu. Tapi aku memang butuh pengalaman untuk bekal di masa depan nanti. Jadi aku tetap akan bekerja meski ayah dan bunda sudah bangkit dar keterpurukan sekalipun, pikirku.
“Maafkan ayah dan bundamu ya nak, mungkin kamu kecewa karena saat ini ayah dan bundamu memang tidak seperti dulu. Tidak bisa member kalian uang yang cukup, tapi minimal kalian tetap harus ngaji dan sekolah nak. Itu adalah tugas utama kalian yang tidak boleh ditinggalkan.” Ucap bunda Fatimah.
“Tidak bunda, Sidiq dan kedua adik Sidiq Jafar dan Nisa tidak sedikitpun kecewa. Bahkan kami bangga punya ayah bunda yang sangat menyayangi kami.” Jawabku.
Bunda Fatimah tampak makin berkaca kaca, bahkan kulihat air matanya jadi menetes. Aku pun tak tahan lagi melihat itu, spontan aku memeluk bunda Fatimah dengan erat. Dan bunda Fatimah pun memelukku dengan lembut dan membelai rambutku. Seakan aku masih anak anak seperti dulu, aku merasa sangat tentram diperlakukan bunda dengan penuh kasih sayang seperti itu. bahkan aku juga ikut menitikkan air mata melihat dan merasakan kasih sayang seorang wanita yang meski bukan ibu kandungku, tapi tidak berbeda dengan mamah Arum ibu kandungku sendiri.
Dan saat kami sedang berpelukan seperti itu tiba tiba dikejutkan oleh datangnya seseorang yang tiba tiba muncul di depan pintu rumah kami.
“Assalaamu ‘alaikum….!” Sapa tamu yang baru datang.
Aku melihat yang satunya tidak asing lagi, dia adalah Om Ponco yang pernah tinggal bersama kami. Meski aku hanya sebentar bersama dia waktu itu. karena aku harus segera meninggalkan rumah dan masuk pesantren.
Dan satunya lagi aku mengingat sebentar, wajah yang bukan asli orang Indonesia kalau orang jawa mengatakan blasteran. Atau perpaduan orang jepang dengan orang mana entah kurang faham. Owh iya yang satu itu adalah Om Steve, yang dulu pernah diselamatkan ayahku ketika anak istrinya diculik oleh Ninja waktu itu.
“Wa’alaikummussalaam… eeeh om Ponco dan om Steve ya ?” Ucapku mewakili bunda Fatimah.
“Loh ini Sidiq anak pemberani itu ? wah sudah besar kam sekarang nak !” ucap om Ponco.
“Haah ini Sidiq yang waktu itu ikut bantuin menyelamatkan anak istriku ?” Tanya om steve pada om Ponco.
“Iya, tidak salah lagi ini Sidiq yang waktu itu berhasil melukai seorang Lady Ninja.” Ucap Om Ponco.
Om Steve pun kemudian menghampiri aku dan memelukku dengan ramah.
“Kamu sudah besar sekarang nak, aku sangat berterimakasih waktu itu kamu ikut bantu ayahmu menyelamatkan anak istriku.” Ucap om Steve. Aku jadi tidak enak sendiri mendengar sanjungan kedua om itu.
“Eeeh sampai lupa, mari silahkan duduk dulu. Mau minum apa, biar saya buatkan minuman dulu. Sidiq kamu temani mereka dulu ya, bunda ke dapur dulu.” Kata Bunda Fatimah. Karena ayah gak ada, jadi bunda agak sungkan menemui tamu laki laki sehingga aku yang disuruh menemani mereka.
“Iya bunda, biar Sidiq yang menemani mereka ngobrol.” Jawabku.
“Tidak usah repot repot bu, kami hanya sebentar saja kalo pak Zain gak ada.” Ucap om Steve.
“Gak kok, hanya sekedar minuman saja.” Ucap bunda Fatimah.
Kemudian kami pun mengobrol sambil menunggu bunda Fatimah datang membawa minuman.
“Silahkan diminum dulu, sekiranya ada yang penting bisa disampaikan ke Sidiq anak kami. Saya harus membereskan dapur dulu.” Ucap bunda Fatimah.
“Maaf bu, mungkin ibu perlu mendengar juga apa yang akan saya sampaikan sebentar saja sekaligus Sidiq putranya.” Ucap Om steve.
__ADS_1
“Baiklah, kalau memang ada yang harus saya dengar.” Ucap bunda Fatimah.
Kemudian tampak om Steve diam sesaat menyusun kata kata untuk memulai berbicara.
“Begini ibu, sudah menjadi sumpah kami dulu saat anak istriku berhasil diselamatkan oleh suami dan anak ibu. Jika kami akan meninggalkan dunia lama kami, dan sementara kembali ke negeri leluhur istri saya di jepang.” Ucap om Steve, terjeda sebentar seperti mengatur kalimat.
“Iya syukurlah kalau begitu, saya juga ikut senang mendengarnya.” Ucap bunda Fatimah.
“Tidak hanya itu, selama kami di tanah jepang kami menjual rumah kami dan saya percayakan kepada seseorang. Dan rumah itu sudah laku, dan sebagian uangnya sudah kami terima. Kemudian kami jadikan modal usaha saat kami kembali ke Indonesia.” Ucap om Steve.
“Baguslah, berarti sekarang sudah punya usaha yang halal. Semoga saja usahanya lancar dan bisa menghidupi anak istrinya.” Sahut bunda Fatimah.
“Iya bu, sudah berjalan dan cukup lancar. Tapi ada sedikit yang terlupakan, karena sebagian uang itu kami sisihkan. Yang rencananya akan kami hadiahkan kepada suami ibu, tapi saudara Ponco ini lupa tidak mengambil ATM yang berisi uang tadi. Sampai orangnya meninggal.” Lanjut om Steve.
“Owh gak papa gak usah dipikirkan namanya juga lupa mau bagaimana lagi.” Jawab bunda Fatimah.
“Bukan begitu bu, uang itu masih bisa saya urus karena saya menyimpan buku rekeningnya. Meski tidak banyak, tapi semoga cukup untuk mengembalikan modal usaha pak Zain yang dulu pernah dihancurkan keluarga Rahardian.” Ucp om Steve. Aku sedikit kaget karena baru tahu jika perkebunan ayahku itu dulu dihancurkan oleh keluarga musuh ayahku.
Waktu itu ayahku hanya bilang perkebun nya gagal dan rusak parah sehingga tidak bisa digunakan lagi. Butuh waktu lama untuk kembali membangun perkebunan. Darah mudaku menjadi naik mendengar berita yang sebenarnya terjadi tersebut.
“Owh jadi dulu perkebunan ayah dirusak oleh keluarga musuh ayah itu, kok gak bilang sama Sidiq sih Bunda ?” ucapku merasa geram dengan pelaku perusakan tersebut.
“Sudah Sidiq gak usah diperpanjang, ayah kamu sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia kekerasan. Jadi tidak mau memperpanjang masalah agar tidak terjadi masalah baru.” Jawab Bunda Fatimah.
“Mohon maaf bu, jika kata kata saya malah membuat putera ibu jadi marah. Sabar ya nak Sidiq, benar yang dikatakan ibundamu. Ayah kamu sudah tidak mau menggunakan kekerasan lagi, jadi kamu jangan marah.” Ucap Om Steve.
Aku hanya mengiyakan, meski dalam hati jika ada kesempatan aku akan membuat perhitungan dengan keluarga musuh ayah tersebut. bahkan aku jadi ingat masa kecilku dulu sampai harus diungsikan ke abah Salim karena diancam akan diculik.
Jadi intinya begini bu, besok saya akan kesini lagi untuk mengajak pak Zain ke bank. Semua saldo di rekening yang ATMnya hilang tersebut akan saya serahkan ke pak Zain untuk hadiah sesuai sumpah kami waktu itu. mohon jangan ditolak, meski tidak seberapa.” Ucap om Steve.
“Saya tidak berani memutuskan, karena itu kewenangan suami saya. Tapi saya nanti akan sampaikan ke suami saya. Semoga saja besok suami saya bisa menemui kalian.” Jawab bunda Fatimah. Dalam hati aku berkata, “bundaku memang luar biasa, di tengah kesulitan ekonomi tidak silau oleh harta. Aku semakin bangga menjadi anak ayah dan bunda Fatimah.” Kataku dalam hati.
“Iya bu, kalau begitu kami permisi dulu. Owh iya Sidiq sekarang sudah kelas berapa ?” tanya om Steve kepadaku.
“Kelas tiga SMA om.” Jawabku singkat.
“Wah sudah hampir lulus dan kuliah ya. Kalau begitu ini om juga punya hadiah buat Sidiq.” Kata om Steve sambil menyerahkan sebuah Kartu ATM miliknya kepadaku.
“Apa ini om, maaf Sidiq tidak bisa menerima ini om…!” kataku menolak pemberian om Steve.
“Jangan di tolak Sidiq, om memang sudah siapkan itu untuk kamu. Isinya gak banyak, sekedar buat uang jajan saja. PIN nya masih standar 123456, bisa kamu ambil semua buat jajan dan beli buku.” Jawab Om Steve.
Aku terpaksa menerima itu, sepertinya memang sudah disiapkan dari awal.
“Baiklah om, terimakasih sebelumnya. Tapi Sidiq gak pernah mengharapkan ini Om.” Jawabku pada om Steve.
“Iya sama sama, eemm tapi ayah kamu kerja dimana sekarang ? Aku ingin bertemu sebenarnya.” Tanya om Steve.
“Ayah baru merawat tanaman di rumah makan pak Zul di daerah Jogja barat Om.” Jawabku.
“Owh kalau itu aku sudah tahu tempatnya, baiknya kau susul kesana sekarang saja.” Ucap Om Steve yang langsung pergi meninggalkan rumah kami bersama om Ponco.
Kemudian aku dan bunda Fatimah kembali melanjutkan bicara.
“Sidiq, katanya kamu mau menemui mamah kamu, kalau bisa sekarang saja. Soalnya nanti bunda mau minta tolong kamu untuk jagain warung soalnya bunda mau jenguk tetangga yang baru sakit.” Ucap bunda Fatimah.
“Iya bunda, kalo begitu Sidiq pamit dulu mohon doa restunya ya bunda.” Ucapku sambil cium tangan bunda Fatimah.
Maka berangkatlah aku kerumah mamah Arum, kangen juga dengan mamah dan Panji adik ku dari mamah Arum dan om Rofiq. Semoga saja mamah Arum sekeluarga sehat sehat selalu, bagaimanapun aku punya dua keluarga yang sama sama menyayangi aku dan aku pun sangat menyayangi mereka semuanya.
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1