Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ilmu Pemecah Ombak vs Jurus 'YA' 2


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Ilmu Pemecah Ombak vs Jurus 'YA' 2...


...Jaladara yIlmu Pemecah Ombak vs Jurus 'YA' 2ang sudah tidak sabar segera melompat menyerang Jafar dengan ilmu Pemecah Ombak. Jafar pun sudah siap menyambut dengan Jurus ‘Ya’. Sehingga terjadi benturan keras dari pertempuran tersebut....


Tubuh Jaladara dan Jafar sama-sama terpental ke belakang…!


“Pantas orang ini berani hadang aku, rupanya ada ilmu baru,” kata Jafar dalam hati.


Sementar Jaladara juga kaget dengan apa yang terjadi, diluar dugaan Jaladara. Jaladara terpental jauh dan sampai berguling.


“Kenapa aku yang kalah, tenaga anak itu luar biasa ternyata. Apakah harus aku gunakan ilmu karang? Padahal itu untuk menghadapi ayahnya nanti,” Jaladara merasakan tubuhnya sampai bergetar.


“Masih berani berulah kah kamu sekarang?” kata Jafar dengan tenang.


Jafar tahu jika Jaladara mengalami kesemutan sekujur tubuhnya, hingga kelihatan bergetar tubuhnya, saat berdiri di depan Jafar.


“Jangan bangga dulu anak muda, masih ada ilmu btara karang dan ilmu karang yang aku punya,” jawab Jaladara.


“Jadi orang ini sekarang memiliki dua ilmu tersebut, pantas berani sombong. Aku juga harus hati hati sekarang,” ucap Jafar dalam hati.


Saat itu Jafar tidak dalam kondisi siap, Golok Hitam juga tidak dibawa. Jadi satu satunya senjata andalan Jafar hanya Stambul Al-Quran karena Jafar menjaga wudhunya.


Jaladara semakin nekat untuk menggunakan Batara Karang yang dia pegang. Batara Karang atau jenglot dia ambil dari saku nya. Kemudian siap digunakan sebagai senjata dengan rapal mantra tertentu.


Jafar sempat kaget juga melihat wujud Batara Karang yang di pegang Jaladara.


“Seperti itukah wujud orang yang gagal Moksa?” tanya JAfar dalam hati.


Jafar pun segera mempersiapkan diri untuk menggunakan benteng pertahanan terakhir dengan Stambul Al-Quran. Dimana akan mampu menunjukkan doa doa dari ayat al-Quran sebagai doa yang harus di lafadzkan oleh Jafar.


Jaladara tak ingin Jafar mengambil Golok Hitamnya, sehingga Jaladar dengan cepat menyerang Jafar dengan Batara Karang di tangan. Jaladara siap menghantam Jafar, namun sedetik kemudian tubuh Jaladara yang kembali terpental.


 


Sehingga Jaladar harus kembali bergulinga, di tanah. Masih beruntung Batara karang tidak sampai terjatuh.


“Manusia macam apa kamu?” ucap Jaladar yang sudah hampir putus asa.


“Manusia biasa lah, bukan pemuja setan seperti kamu,” jawab Jafar.


Jaladara, bangkit berdiri namun jalanya sedikit terseok. Kaki Kanannya serasa bagai mati separuh. Jafar melihat itu menjadi sedkit iba, Jafar yang hendak menangkap Jaladar jadi ragu.


“Sadarlah, jangan sampai aku berbuat yang lebih tidak sopan pada yang lebih tua,” ucap Jafar.


“Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap menjadi musuhmu selamanya,” Ucap Jaladara.

__ADS_1


Jaladara mengumpulkan segenap tenaga untuk kabur. Dan dalam sekejab Jaladara kabur dari hadpan Jafar.


“Alhamdulillah…meski aku tak bisa menangkapnya. Paling tidak aku bisa mengusirnya,” ucap jafar dalam hati. Jafar pun segera kembali ke pesantren untukberistirahat. Dalam kondisi berpuasa Jafar harus berkelahi melawan musuh yang cukup kuat. Namun itu tidak membuat Jafar ingin membatalkan puasanya.


Jafar sebenarnya mampu menangkap Jaladara, namun memilih membiarkan Jaladar pergi.  Berbeda dengan Sidiq kakaknya yang juga sedang menghadapai Gagak Seta di tempat lain.


…..


“Berhenti kamu…!” ucap Gagak Seta.


Namun Sidiq yang mewarisi sifat Yasin ayahnya selalu slengean.


“Kenapa? Tukang Parkirkah kamu nyuruh nyuruh berhenti?” jawab Sidiq asal, seperti tidak ada masalah dengan Gagak Seta.


“Kamu pikir apa Aku ini…?” Bentak Gagak Seta.


“Gak pernah miirn kamu juga, emang kamu siapa ?” jawab Sidiq memancing emosi Gagak Seta.


“Kurang ajar, masih juga belagak gak tahu apa tujuanku,” ucap Gagak Seta langsung menyerang Sidiq. Namun Sidiq sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Sehingga dengan mudah sidiq menghindai serangan Gagak Seta. Gagak Seta pun menyusul dengan serangan serangan berikutnya. Namun Sidiq selalu melompat menghindar, dan bergeser sedikit demi sedikit menggiring Gagak Seta ke tempat yang dekat dengan Pemukiman penduduk.


Gagak Seta yang tidak menyadari pancingan Sidiq terus mengejar Sidiq. Hingga tahu tahu sudah berada di pinggir pemukiman penduduk. Gagak Seta baru menyadari jika dirinya sedang digiring ke arah pemukiman penduduk.


Kesadaran Gagak Seta sudah terlambat, karena sudah cukup banyak orang yang mengawasi perkelahian tersebut. Makin lama pun warga semakin banyak yang mengerumuni perkelahian tersebut.


“Hei…warga kampung, orang ini adalah begal yang hendak merampas orang yang mau lewat. Tadi dia mau merampok aku…!” teriak Sidiq, membuat GAgak Seta panik karena dikerumuni banyak warga.


Gagak Seta yang mau nekat menggunakan Ilmu Pemecah Ombak, tidak sempat mempersiapkan jurus nya. Karena Sidiq gantian menyerang Gagak Seta, sehingga tidak ada waktu bagi Gagak Seta. Dan pada kesempatan yang didapat Sidiq berhasil memukul Gagak Seta sampai Gagak Seta terjatuh.


“Hajar orang itu, mumpung dia terjatuh,” teriak seorang Warga.


Sidiq pun memastikan agar Gagak Seta tak dapat bangkit menyiapkan ilmunya. Agar tidak membahayakan warga. Dengan sekali hentakan kaki Sidiq berhasil membuat Gagak Seta terpental dalam posisi jatuh, sehingga tubuhnya meluncur bebas dan membentur batu.


Pukulan demi pukulan dirasakan Gagak Seta mirip maling yang ketangkap Warga. Kemudian Sidiq menghentikan tindakan warga tersebut agar tidak berlebihan.


“Cukup…biar kita serakan saja ke Polisi sekarang.” Ucap Sidiq.


Warga pun menghentikan aktivitasnya, Gagak Seta tergeletak lemah tak berdaya. Badan dan wajahnya penuh luka memar dan benjol benjol dupukuli warga.


Namun sebelum Sidiq mendekati Gagak Seta yang jadi bulan bulanan warga, tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang mendahului Sidiq. Orang tersebut tidak lain adalah Jaladara, yang sudah cukup lama mengamati Gagak Seta dipukuli warga.


Dengan sekali lompat Jaladara pun membawa tubuh Gagak Seta pergi dari tempat itu.


“Tunggu pembalasan dari kami, suatu saat kamu pasti akan mendapatkan balasan dariku,” ucap Jaladara sambil berlalu pergi.


Sidiq terkejut dengan itu, dan jadi kepikiran Jafar. “Apakah Jaladara tadi juga menghadang Jafar? Terus bagaimana keadaan Jafar kok Jaladara bisa bebas pergti begitu ?” tanya Sidiq dalam hati.


“Biarkan mereka pergi, kalau suatu ketika mereka datang biar aku yang menghadapi mereka,” ucap Sidiq melarang warga yang hendak mengejar Jaladara.


“Bagaimana ceritanya tadi, kenapa orang itu bisa berkelahi dengan kamu?” tanya seorang warga.


“Sebenarnya dia itu mau membuat kerusuhan, dan suka menjadikan warga sebagai tumbal,” ucap Sidiq.


“Maksudnya?” tanya Warga.


“Mereka adalah pengikut sekte sesat yang suka mengirbankan warga,”  jawab Sidiq.

__ADS_1


“Apakah termasuk yang dulu menculik wanita wanita kampung itu?” tanya seorang warga.


“Iya, mereka adalah rombongannya, tapi yang lain sudah tertangkap. Tinggal mereka berdua saja yang masih bebas berkeliaran,” jawab Sidiq.


“Kenapa gak bilang dari tadi saja. Biar kita habisi orang itu,” jawab Warga.


“Jangan, karena belum waktunya, dan masih menunggu tokoh lain yang akan muncul. Sekalian kami nanti akan menagkap mereka,” jawab Sidiq.


“Kami? Kami itu siapa yang kamu Maksud ?” tanya warga.


Sidiq pun menjelaskan siapa dirinya, dan menceritakan kronologis ketika Sidiq dan keluarganya dibantu dua pondok Pesantren menyerang markas mereka. Warga jadi tahu jika mereka berhadapan Dengan anak Yasin yang seringkali jadi pembicaraan orang. Mereka juga ingat cerita saat pembebasan wanita tahanan yang lolos dari perangkaop Ki Munding Suro.


“Jadi mas ini, putranya Pak Yasin?” tanya paera warga.


“Sudah sudah tidak usah di perbincangkan, mohon semua waspada saja jika terjadi sesuatu jangan bertindak gegabah,” ucap Sidiq.


Akhirnya Sidiq pun pamitan untuk kembali ke Pesantren. Para warga pun mengiringi kepergian Sidiq sampai ke batas Desa.


…..


Sementar Jaladar menurunkan tubuh Gagak Seta kakaknya yang penuh luka akibat dipukuli warga.


“Kurang ajar anak Yasin yang aku hadapi benar benar licik. Aku dibilang perampok dan jadi amukan warga,” ucap Gagak Seta.


“Kita akan balas nanti kakang, kita matangkan dulu jurus dan ilmu kita dalam goa ini sekarang,” ucap Jaladara.


Mereka baru mentyadari jika saat ini mereka masih berada bawah Sidiq dan Jafar dalam level kanuragan.  Ilmu dan jurus yang mereka terima masih harus diasah agar lebih kuat.


“Iya, kita harus mengasah dulu sekarang. Jika sudah siap kita hadapi mereka bersama. Tidak usah malu mengeroyok mereka,” kata GAgak Seta.


“Baik kakang, kita keroyok satu persatu anak itu,” Jawab Jaladar sambil mengobati luka luka Gagak Seta.


Dalam kegelisahan dua kakak beradik tersebut, ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua. Tanpa kedua orang itu sadari…!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


Rekomendasi Novel :



 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2