
Jafar bertempur dengan Mutsashi
Sebenarnya aku sendir kaget setelah tahu yang bertempur adalah mas Jafar. Tapi yang paling membuat aku kaget adalah adanya Ninja yang datang ke pesantren ini mau apa dia, dan siapa yang dia cari ???
Beberapa saat kemudian sudah banyak yang berkumpul menyaksikan pertempuran antar Mas Jafar dengan Sosok Ninja tersebut. Aku jadi makin penasaran dan mau mendekat dan melihat secara dekat mas Jafar melawan Ninja tersebut.
“Nisa mau kemana ?” tanya mbak Vina.
“Nisa gak akan biarkan Mas Jafar bertempur secara tidak adil. Nisa akan bantu mas Jafar, beri dia senjata kalau perlu.” Jawabku.
“Jangan Nisa, bahay bagi kamu nanti.” Ucap Mbak Vina.
“Insya Allah gak papa mbak, mbak Vina disitu saja jangan mendekat.” Kataku pada mbak Vina.
Aku semakin dekat dengan pertempuran antar Mas Jafar dan Ninja itu. semakin banyak yang datang menyaksikan dan member penerangan ke arah pertempuran. Sehingga cukup terlihat wajah lawan mas Jafar yang benar seorang wanita asing.
Aku terperanjat melihat ternyata yang digunakan senjat oleh mas Jafar bukan besi. Melainkan hanya sebuah tongkat kayu ‘Regu’ ( Kayu yang bentuk dan tekstur seratnya seperti batang pohon kelapa keras dan berserat
kasar) namun mampu menandingi pedang tajamnya musuh. Bahkan tidak patah ketika dibuat menangkis senjata pedang lawan. “Hmmm… mas Jafar pasti mengerahkan tenga dalam ke kayu tersebut. itu bisa menguras tenaga mas Jafar kalu kelamaan.” Pikirku.
Aku mencari keberadaan kang Kholis belum Nampak juga, siapa yang akan membantu mas Jafar kalau kang Kholis tidak ada, aku berusaha mencari cara membantu mas Jafar.
Tiba tiba Ninja teersebut mengambil sesuatu dari lipatan bajunya dan melemparkan kea rah mas Jafar ketika Ninja itu melompat mundur menghindari tongkat kayu mas Jafar. Dan ternyata dia melemparkan tiga buah
senjata rahasia ke arah mas Jafar yang berusaha melumpuhkan Ninja tersebut.
Namun tiga buah senjata Rahasia justru meluncur cepat ke arah mas Jafar. Melihat itu aku hampir saja menjerit sampai menahan nafasku. Namun yang terjadi berikutnya sungguh diluar dugaanku. Mas jafar bergerak
sangat cepat menangkis satu senjata rahasia ke atas, sambil berputar dan berhasil memukul punggung Ninja itu hingga Ninja tersebut tersungkur.
Dan Ninja tersebut kemudian bangkit lagi denagn menggenggam sesuatu lagi di tangan kirinya sementar tangan kanannya masih memegan pedang. Dan dengan gerakan cepat Ninja itu melemparkan sesuatu yang dipegangnya itu ke tanah dan menimbulkan ledakan kecil yang menimbulkan asap Putih hingga menghalangi pandangan.
Dan saat asap putih itu hilang sosok Ninja itu pun tidak tampak lagi. entah pergi kemana ditelan gelapnya malam dan samar dengan pakainnya yang serba hitam tersebut.
“Mas Jafar gak papa kan ?” Tanyaku mendekati pada mas Jafar yang masih bersiap seperti masih merasakan keberadaan musuhnya tadi.
Mas Jafar tidak menjawab pertanyaanku, dan tiba tiba malah mendorong aku dengan tongkatnya.
“Awas Nisa…!” teriak mas Jafar sambil bergerak melompat dan mendorongku dengan tongkatnya hingga aku tersurut mundur beberapa langkah. Aku sangat terkejut, bukan karena di dorong mas Jafar saja. Tapi aku merasa ada desiran benda yang meluncur cepat hanya beberapa centi meter dari kepalaku.
Hampir saja kepalaku terkena serangan senjata rahasia Ninja tersebut, jika tidak didorang mas Jafar. Tapi mas Jafar sendir malah sedikit tergores karena menolongku tadi. Aku jadi menyesal terlalu gegabah dengan
tindakanku tadi.
“Minggir dulu Nisa, semua mencari tempat berlindung dulu jangan ada yang di tempat terbuka.” Teriak mas Jafar.
Setelah itu beberapa senjata rahasia kembali meluncur kali ini mengarah ke Mas Jafar semua. Dengan gesit mas jafar menangkis dan menghindari lemparan senjata rahasia tersebut.
Dan pada sebuah kesempatan mas Jafar memukul sebuah batu kecil di tanah dengan ujung tongkat kayunya. Dan kemudian terdengar suara benda terjatuh.
Ternyata Ninja itu terkena batu yang dipukul mas Jafar dengan tongkatnya tadi. Ninja itu pun segera kabur melarikan diri. Kelebatan Ninja itu menunjukkan kemampuan tenaga dan kecepatan yang sulit dicari tandingannya.
__ADS_1
Setelah memastikan Ninja itu jauh dan tidak kembali lagi mas Jafar kemudian memanggilku.
“Nisa,,, lain kali kamu jangan gegabah seperti itu…! tindakanmu tadi sangat berbahaya, hampuir saja kamu terkena serangan senjata Lady Ninja itu.” Kata Mas Jafar.
“Iya mas, maaf Nisa hanya khawatir dengan mas Jafar tadi. Itu lengan mas Jafar terluka di obati dulu gih…!” kataku pada mas Jafar sambil memberihkan darah yang menotori baju mas Jafar. Untung seua sudah tahu aku
adalah adik kandung mas Jafar jadi tidak ada yang salah paham. Karena aku tahu ada beberapa Santriwati yag diam diam menyukai mas Jafar.
Kang Kholis pun baru muncul kemudian.
“Kenapa kakak kamu Jafar, maaf aku sudah tidyur tadi tidak tahu ada keributan.” Kata Kang Kholis. Memang kamar kang Kholis cukup jauh dengan lokasi pertempuran jadi wajar tidka mendengar.
Kemudian datang beberapa Santri Cowok yang membantu mengobati luka mas Jafar. Termasuk Kang Arsyad dan Kang Muksin yang dulu membenci mas Jafar tapi sekarang justru menghormati mas Jafar.
“Maaf Gus, Bajunya saya sobek ya biar dibersihkan lukanya dan dikasih Revanol dulu.” Ucap kang Muksin.
“Iya kang gak papa, makasih ya kang.” Jawab mas Jafar.
“Bagaimana certanya mas, kamu bisa bentrok dengan Ninja itu ?” Tanyaku pada mas Jafar.
“Aku baru pulang dari makam, tiba tiba lihat ada bayangan hitam mau masuk pondok kemudian aku tegur tapi dia malah langsung menyerangku. Untung saja aku bawa tongkat kayu ini, yang semula aku pakai untuk mengusir
ular yang menghalangi jalanku saat pulang dari makam.” Jawab mas Jafar. Menunjukan tongkatnya yang ternyata bentuknya seperti sebuah tongkat orang tua. Lurus dengan salah satunya melengkung seperti pegangan tangan saat berjalan.
“Di mana kamu dapat Tongkat itu Jafar ?” Tanya Kang Kholis kepada mas Jafar.
“Tadi pas bertemu ular besar pulang dari makam, mencari kayu buat megusir ular mendapatkan ini. kemudian karena bentuknya bagus lalu aku bawa pulang.” Jawab Mas Jafar.
“Kamu bertemu ular besar terus mendapatkan tongkat ini ?” tanya kang Kholis lagi.
Kemudian kang Kholis meminjam tongkat yang dipegang mas Jafar dan mengamati tongkat tersebut.
“Ini tongkat milik eyang Mujab, ayah abah guru kita kok bisa kamu yang menemukan ?”Tanya kang Kholis.
“Gak tahu kang Jafar beneran hanay menemukan di jalan tadi.” Jawab Mas Jafar.
“Bukan maksutku bukan menuduh kamu mengambil Jafar, tapi tongkat ini banyak orang yang mencari tapi kamu malah yang bisa menemukan.” Jawab Kang Kholis.
“Owh begitu, Kalu begitu besok aku kembalikan saja pada Abah Guru karena belaiulah yang lebih berhak membawa Tongkat ini.” Jawab mas Jafar.
“Tongkat itu berjodoh padamu Jafar, karena itu kamu berhak membawa tongkat itu.” Tiba tiba Abah guru muncul dan sudah berada disamping kang Kholis dn Mas Jafar.
“Tapi bah, bukankah tongkat ini milik eyang Mujab ?” kata Mas Jafar.
“Dulu memang iya, tapi sekarang sudah menjadi milik kamu Jafar.” Jawab Abah guru Syuhada.
Kemudian Abah guru Syuhada menceritakan asal muasal tongkat itu yang menurutnya Kyai Mujab atau eyang Mujab dulu mendapatkan tongkat itu dari hasil tirakat dan diberi tongkat itu oleh seorang berjubah putih dan berperawakan tinggi besar. Serta Mengatakan jika tongkat itu dititipkan kepada Kyai Mujab dan suatu ketika diminta menyerhkan kepada keturunan orang berjubah putih tersebut.
“Lalu siapa orang berjubah putih itu Bah, kalau eyang Mustolih perwakannya sedang saja tidak tinggi besar ?” Tanya mas Jafar.
Abah guru Syuhada tampak tersenyum sebelum menjawab pertanyaan mas Jafar.
__ADS_1
“Beliau itu Kakek buyutmu Eyang Sidiq Ali Jafar. Dan kamu juga Nisa adikmu perlu tahu jika ayahku dulu adalah murid kakek buyutmu Eyang Sidiq Ali juga.” Jawab abah guru Syuhada.
Yaa Allah, abah gur Syuhada adalah kakak angkatan ayahku dan ayah dari abah Guru Syuhada adalah murid kakek buyutku Eyang Sidiq Ali. Ternyata semua ini seperti sudah diatur oleh sang maha Pencipta.
Terjawab sudah kenapa tongkat kayu itu mampu menahan serangan pedang dari Ninja tersebut. Dan kenapa bisa berada di tangan Mas Jafar. Yang secara kebetulan menemukan tongkat itu untuk mengusir Ular yang
menghadangnya sepulang dari makam. Kami pun kemudian membubarkan diri untuk kembali istirahat. Karena waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih dini hari.
…..
…..
…..
Author POV
Di rumah Yasin.
Setelah berbincang bincang dengan Sena dan Pak Yadi, pagi harinya Yasin berdiam diri di ruang tamu sambil ngopi di temani Fatimah istrinya setelah membacakan kitab Jurumiyah ( Kitab tentag Gramer bahasa Arab ) kepada Isna dan Utari.
“Isna dan Utari sudah mandi belum Fat ?” Tanay Yasin pada Fatimah istrinya.
“Belum masih pada olah raga pagi.” Jawab Fatimah.
“Dengan kejadian kemarin Sore aku jadi khawatir kalau sering keluar rumah.” Kata Yasin.
“Fatimah juga mas, tapi bagaimana lagi mas kan sudah sanggub melatih anak anak Al-Huda dan Al-Hikmah.” Jawab Fatimah.
“Iya memang, makanya mau mencari cara gar semua bisa jalan tapi keluarga kita juga tetap aman.” Jawab Yasin.
“Terus apa rencana kamu Mas ?” Tanya Fatimah.
“Kemarin sebenarnya mas sudah kontak dengan Steve, menceritakan apa yang terjadi.” Jawab Yasin tapi tidak menceritakan apa yang dialami Sidiq di sekolah yang diserang Lady Ninja juga.
“Terus apa reaksi Steve Mas ?” Tanya Fatimah.
“Pagi ini Steve dan Ponco akan berangkat kesini dengan Pesawat. Jika tidak delay maka akan mendarat nanti sekitar jam tujuh pagi.” Jawab Yasin.
“Mendarat Jam Tujuh pagi, berarti sampai rumah kita jam delapan pagi dari Bandara Adi sucipto. Berarti kita harus siapkajamuan mas buat tamu kita.” Ucap Fatimah.
“Iya memang itu yang mau kau sampaikan.” Jawab Yasin.
“Ada lagi gak ?” Tanya Fatimah.
“Ada..!” kata Yasin.
“Apa lagi mas ?” Tanya Fatimah.
“Kang Tohari dan Farhan juga akan kesini, tapi belum memastikan kapan kapannya.” Jawab Yasin.
Fatimah justru jadi agak cemas, “kalau kang Tohari dan Farhan kesini pasti ada sesuatu yang disembunyikan suamiku ini.” Kata Fatimah dalam hati.
__ADS_1
“Mas pasti menyembunyikan sesuatau lagi ya ?” Tanya Fatimah….!!!
Bersambung