
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Munculnya musuh lama Yasin...
"Baik kakang, kita keroyok satu persatu anak itu,” Jawab Jaladara sambil mengobati luka luka Gagak Seta.
Dalam kegelisahan dua kakak beradik tersebut, ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua. Tanpa kedua orang itu sadari…!
“Ah sepertinya aku mendapat kawan, sesama orang yang memusuhi Yasin,” ucap pengintai tersebut.
Orang tersebut agak ragu untuk mendekat ke arah Gagak Sweta dan Jaladara. Namun keinginan kuat untuk bergabung  akhirnya membuat dia memutuskan mendekati.
“Sepertinya, kita punya musuh yang sama. Aku juga sangat membenci dan dendam kepada Yasin,” Ucap orang tersebut.
“Siapa kamu, jangan coba coba menipu kami orang tua!” kata Jaladara, sambil berdiri melindungi Gagak Seta yang masih terluka.
“Sabar Ki Sanak, julukanku dulu adalah Ki Ajar Panggiring. Saat ini kalian berada di Gua tempatku bersemedi. Setelah kabur dari penjara, karena di tangkap Yasin dan saudaranya,” jawab orang tersebut, yang ternyata adalah Ajar Panggiring. Orang yang dulu dimusnahkan ilmu kanuragan oleh Yasin dan Sena.
“Benarkah ini tempatmu bersemedi?” tanya Jaladara.
“Benar, kamu perhatikan di dalam itu ada kotak berisi Dupa dan seperangkat keperluan semediku,” ucap Ajar Panggiring.
Kemudian Jaladara menengok ke arah dalam Gua tersebut. ada sebuah kotak yang tertutup. Ada juga beberapa batang bekas Dupa yang telah terbakar habis.
“Tapi apa buktinya jika kamu juga musuh Yasin dan anak anaknya?” tanya Jaladara.
“Anak anaknya? Jadi anak anak Yasin sudah besar dan punya ilmu kanuragan juga?” tanya balik Ajar Panggiring.
“Tunggu, kamu bilang musuh Yasin, tapi tidak tahu jika anak anaknya juga ikut andil dalam sepak terjang Yasin. Aku jadi ragu dengan ucapan kamu,” kata Jaladara.
“Ketahuilah, aku ini dulu musuh bebuyutan Yasin. Aku murid Ki Joyo Maruto, kakak seperguruanku adalah Mentorogo. Tapi aku dengar keduanya telah terbunuh, bersama murid barunya Maheso Suro,” jelas Ajar Panggiring.
Jaladara dan Gagak Seta jadi ingat nama nama yang disebutkan Ajar Panggiring itu. Mereka ingat karena pernah diucapkan juga oleh Ki Marto Sentono. Sehingga Jaladara dan Gagak Seta sedikit percaya dengan Ajar Panggiring.
“Apa ilmu andalan kamu?” tanya Jaladara menyelidiki kebenaran ucapan Ajar Panggiring.
“Sebelum Ilmu kanuraganku dilenyapkan Yasin, ilmu andalanku adalah Panggiring Sukma dan Kelabang Sayuto, meski belum sempurna,” jawab Ajar Panggiring.
Jaladara bertambah yakin, karena pernah juga mendengar ilmu tersebut. Namun masih ingin mencoba kebenaran ucapan Ajar Panggiring tersebut.
“Apakah saat ini kamu masih bisa menggunakan ilmu tersebut?” tanya Jaladara.
“Setelah aku melakukan Semedi beberapa tahun, sedikit demi sedikit ilmuku bisa kembali,” ucap Ajar Panggiring.
“Bisakah aku melihat seperti apa ilmu itu?” tanya Jaladara.
Ajar panggiring kemudian mengambil posisi ilmu Kelabang Sayuto. Sebuah pohon berukuran sedang menjadi sasaran uji coba Ajar Panggiring. Saat Ajar Panggiring melompat memukul pohon tersebut, pohon itupun berguguran daunnya dan menjadi layu batangnya.
“Hmm…rupanya seperti itu ilmu Kelabang Sayuto itu,” ucap Jaladara.
“Itu masih belum sempurna, masih aku asah agar makin dahsyat. Owh iya, itu saudara kamu kenapa, sepertinya sedang terluka?” tanya Ajar Panggiring.
“Begitulah, kami baru saja berkelahi dengan anak anak Yasin. Namun kami berdua masih dapat dikalahkan oleh kedua anak tersebut.” ucap Jaladara.
“Bolehkah aku sembuhkan lukanya, aku mewarisi ilmu pengobatan dari guruku Joyo Maruto,” ucap Ajar Panggiring.
“Kamu bilang, gurumu sudah terbunuh. Darimana kamu bisa mewarisi ilmu tersebut?” kata Jaladara.
“Setelah aku bertapa, dan mendapatkan kembali ilmu Panggiring Sukma. Maka Sukma guruku pun bisa aku panggil, meski jasadnya sudah terkubur.” jawab Ajar Panggiring.
“Apa kamu juga bisa memanggil Sukma guru kami yang sudah meninggalkan dunia ini?” tanya Jaladara.
__ADS_1
“Tentu bisa, tapi ada sarat yang harus dipenuhi,” jawab Ajar Panggiring.
“Syaratnya apa?” tanya Jaladara.
“Benda yang lekat dengan guru kamu itu,” jawab Ajar Panggiring.
“Kalau seperti ini bisa gak?” kata Jaladara menunjukkan Jenglot atau batara Karang gurunya yang Gagal Moksa.
“Hah…benda itu…?” ucapan Ajar Panggiring terhenti karena Kaget.
“Iya, ini adalah wujud guruku yang gagal Moksa,” ucap Jaladara.
“Siapa sebenarnya kalian ini, itu adalah proses ritual langka yang pernah aku dengar. Ternyata memang ada?” ucap Ajar Panggiring.
“Iya benar adanya, dan kami adalah penganut aliran tersebut. Guru kami bernama Ki Munding Suro,” kata Jaladara.
“Ki Munding Suro? Apa hubungannya dengan Ki Maheso Suro?” tanya Ajar Panggiring.
“Ki Munding Suro pernah satu perguruan dengan Ki Maheso Suro. Namun Ki Munding Suro kemudian memilih mengikuti guru yang beraliran Bhairawa Tantra,” jawab Jaladara.
“Jadi kalian ini juga…?” ucapan Ajar panggiring kembali terhenti.
“Iya,kami penganut aliran itu juga,” jawab Jaladara.
“Pernah melakukan ritual itu?” tanya Ajar Panggiring susah mengucap Pancamakarapuja.
”Pancamakarapuja maksudnya?” kata Jaladara.
“Iya, aku agak lupa namanya, kalau yang kami ikuti adalah upacara ritual Agung. Dengan tumbal gadis perawan tapi cukup satu saja,” ucap Ajar Panggiring.
Setelah cukup lama mereka berbincang akhirnya mereka sepakat untuk bersama menyusun dan mengasah kekuatan untuk melawan Keluarga Yasin. Ajar Panggiring pun sanggup mengundang Sukma Ki Munding Suro sekaligus gurunya Ki Munding Suro. Dengan melalui Jenglot yangg Jaladara dan gagak Seta bawa.
Ajar panggiring pun mengobati Gagak Seta dengan Sewu Perewangan yang didapat dengan semedinya. Dalam pandangan Ajar panggiring dia merasa kembali dilatih oleh Ki Joyo Maruto. Dan itu akan diterapkan oleh Gagak Seta dan Jaladara untuk mendatangkan Ki Munding Suro beserta gurunya sekaligus.
“Baiklah, sekarang kamu sudah sembuh. Nanti malam kita bisa mulai melakukan pemanggilan Sukma guru guru kalian,” ucap Ajar Panggiring. Kemudian menyiapkan ubo rampe yang dibutuhkan untuk acara ritual mereka malam harinya.
…..
…..
…..
Yasin yang menerima cobaan kehilangan separuh kemampuan Kanuragan tersebut tidak menyadari masih ada musuh lama yang akan balas dendam. Dimana Sidiq dan Jafar pun belum pernah mengenal Ajar Panggiring sebelumnya.
“Kenapa aku merasa agak cemas begini ya?” tanya Yasin pada Fatimah.
“Ada masalah apa lagi Mas?” tanya balik Fatimah.
“Aku tidak tahu, kan biasanya kamu yang lebih tajam nalurinya. Apa yang kamu rasakan saat ini?” tanya Yasin.
“Sejauh ini gak ada perasaan apa apa. Memang yang Mas rasakan apa?” tanya Fatimah.
“Aku merasa was-was saja. Seperti ada seseorang yang membahayakan kita,” ucap Yasin.
“Kalau itu kan udah sering Mas. Karena memang banyak yang sakit hati denganmu. Kareena Mas Yasin mempunyai musuh banyak,” kata Fatimah.
“Sebentar, kamu justru mengingatkan aku pada seseorang,” ucap Yasin.
“Maksudnya, awas kalau macam macam ya? Udah hampir punya cucu juga…!” kata Fatimah salah sangka.
“Ya Allah…kamu pikir ingat siapa?” jawab Yasin.
“Ya gak tahu siapa yang Mas Yasin pikirin dan Mas Yasin ingat-ingat,” jawab Fatimah agak cemberut.
“Kamu ingat saat aku dan Sena dulu memusnahkan ilmu kanuragan Ajar Panggiring?” tanya Yasin.
“Apa hubungannya?” tanya balik Fatimah.
“Ajar panggiring itulah yang terlintas dalam pikiranku, bukan wanita lain,” jawab Yasin sedikit jengkel.
__ADS_1
Fatimah jadi malu mendengar penjelasan Yasin tersebut.
“Owh itu, kirain yang lain yang terlintas,” jawab Fatmah tersipu.
“Makanya jangan suudzon melulu,” gerutu Yasin.
“Bukannya suudzon Mas, kan Cuma nanya. Memang kenapa dengan Ajar Panggiring?” tanya Fatimah.
“Tidak tahu pasti, yang jelas tiba-tiba teringat dia saja.” Ucap Yasin.
“Bukankah dia dulu sudah dihukum masuk penjara?” kata Fatimah.
“Bisa jadi sudah bebas atau dia melarikan diri,” kata Yasin.
“Kenapa Mas Yasin berpikir begitu?” tanya Fatimah.
“Gak tahu, tiba tiba saja punya pemikiran seperti itu,” jawab Yasin.
Fatimah terdiam sejenak, ingat dengan peristiwa saat Khotimah sepupunya nyaris mencelakai Yasin. Karena pengaruh Ilmu Panggiring Sukma Ajar Panggiring. Fatimah pun merasakan jika Yasin suaminya setelah kehilangan separuh kemampuan kanuragan jadi lebih peka. “Apakah benar Ajar Panggiring kembali menguasai ilmu tersebut?” tanya Fatimah dalam hati.
“Kita harus hati hati mas, saat ini yang a\=harus diawasi adalah Farayaka dan Sufi,” kata Fatimah kemudian.
“Maksudnya?” tanya Yasin.
“Karena dua orang itulah yang paling riskan terkena ilmu Panggiring Sukma,” kata Fatimah.
Yasin pun jadi terpikir yang sama dengan Fatimah. Farayaka dan Sufi adalah yang paling mudah diserang dengan ilmu Panggiring Sukma. Sufi sedang dalam proses taubat, sedang Farayaka adalah orang luar yang belum begitu dikenal.
“Panggilkan Wisnu sekarang,” ucap Yasin.
“Untuk apa Mas?” tanya Fatimah.
“Dia harus dikasih tahu akan hal ini, Farhan juga sekalian agar bisa ikut membentengi rumah kita malam ini,” kata Yasin.
Fatimah pun segera memanggil Wisnu dan Farhan untuk diajak bicara dengan Yasin. Setelah mereka berkumpul, Yasin mulai menjelaskan maksudnya mengumpulkan mereka.
“Malam ini jangan sampai semua terlelap. Kita harus ada yang terjaga, karena aku merasakan ada musuh lama yang akan muncul,” kata Yasin.
“Siapa Mas?” tanya Farhan.
“Sepertinya Ajar Panggiring kembali mendapatkan Ilmunya,” jawab Yasin.
“Ilmu Panggiring Sukma?” tanya Farhan.
Belum lagi pertanyaan Farhan dijawab, terdengar rumah Yasin kembali seperti di lempari batu.
“Astaghfirullah…ada apa ini,” ucap Fatimah.
“Suruh semua kumpul di ruang Mujahadah, termasuk Farayaka dan Sufi,” kata Yasin.
Kemudian Fatimah dibantu Wisnu dan Farhan menyuruh semua berkumpul di ruang Mujahadah.
“Ini seperti saat awal mereka menyerang rumah ini, dan akhirnya mempengaruhi Khotimah dengan Ilmu Panggiring Sukma.” Ucap Yasin.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Rekomendasi Novel :
__ADS_1
Â
Â