
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Sejurus kemudian pemimpin Jin tempat itu memanggil para anak buahnya untuk menyerang aku secara ketika tiba tiba dari pusarku terasa ada sesuatu yang bergerak. Yang ternyata adlah sebuah kelabang, yang hendak masuk kedalam perutku…..???
Subhanallah…., permainan anak kecil mereka pertontonkan aku kemudian membentak pemimpin Jin itu.
“Bilang ke anak buah kamu, yang memenjarakan Dalang Anyi anyi adalah aku. Jadi gak usah mempertontonkan permainan anak anak seperti ini.” kataku kemudian membaca rangkaian doa tulak balak dan ayat kursi, sambil menepuk kilatan bola api yang dilemparkan kearah ku.
Kemudian bola api itu jatuh di hadapanku dan pak Zul serta berubah menjadi puluhan kelabang dan serangga. Pak Zul sampai terpekik karena merasa Jijik dengan binatang tersebut. Sementara pemimpin jin itu ketakutan dan akhirnya bersedia meninggalkan tempat tersebut tanpa persyaratan.
“Pak mengapa tadi bapak bilang permainan anak kecil padahal itu kan di dunia perdukunan sering digunakan dan di takuti orang ?” Tanya pak Zul kepadaku.
“Iya pak, tapi mohon maaf sebelumnya, bukan maksud saya sombong. Akan tetapi memang permainan Santet itu masuk kategori rendahan bagi dunia spiritual. Karena tujuan utama Iblis itu bukan itu, melainkan membuat orang kehilangan Iman nya kepada Allah. Bukan menghilangkan nyawa manusia.” Jawabku.
“Tapi kan itu menyangkut nyawa manusia pak, dan gak bisa dianggap enteng ?” Tanya lanjut pak Zul.
“Iya betul pak, memang bukan hal yang sepele. Akan tetapi yang harus kita tahu pertama seperti tadi, tujuan Iblis itu menggoda manusia agar tidak beriman dan meninggalkan Tuhan nya. Menjadi pengikut iblis. Yang ke dua kalo pun kita tewas karena Santet dan sebagainya, karena kita berpegang dengan kebenaran maka kita ber-‘Status’ Syahid ( Ukhrowi /Akhirat ) karena memegang teguh iman kita kepada Allah meski nyawa taruhannya. Jadi saya tidak pernah takut dengan Santet, bukan berarti saya Hebat, namun karena saya percaya hidup dan mati saya di tangan Allah.” Jelasku pada pak Zul.
“Lah kalo orang yang meninggal karena di santet pak ?” Tanya pak Zul lagi.
“Kematian itu sesuatu yang pasti pak, hanya kita tidak tahu kapan, dimana dan karena apa. Bisa saja saya mati juga karena santet, apapun penyebab kematian kita itu tidak penting. Asal kita masih membawa iman kita kepada Allah saat kita meninggal.” Jawabku pada pak Zul.
Beliau hanya manggut manggut kemudian mengajakku untuk melihat proses kenduri yang sedang berlangsung.
Pak Zul mendengarkan doa yang di panjatkan oleh Rois setempat.
“Owh itu yang dibaca saat kenduri seperti ini, kalo itu sih doa doa harian kan ?” komentar pak Zul.
“Ya memang seperti itu pak, bedanya biasanya kita berdoa sendiri kalo kenduri seperti ini diaminkan oleh banyak orang karena berjamaah. Adi gak ada salahnya kan, meski juga tidak wajib ?” kataku.
“Iya pak, bener memang seperti itu, rupanya saya hampir menjadi korban berita yang salah. Dulu info yang masuk ke saya kenduri itu semacam memberikan sesaji kepada Jin.” Kata Pak Zul.
“Ya kalo itu mungkin memang ada pak, tapi juga sedikit orang saja yang seperti itu, gak semuanya. Dan yang seperti itu memang harus diluruskan bukan malah di musuhi.” Jawabku.
“Berarti memang ada yang begitu ?” Tanya pak Zul.
“Memang ada pak, saya tidak memungkiri itu. yang dalam akad nya ( ucapan ) menyebut ini untuk danyang ini, danyang itu dan lain lain agar diberi keselamatan, itu yang harus kita luruskan dengan doa permohonan kepada Allah. Meminta hanya kepada Allah bukan kepada makhluk.” Jawabku.
“Kalo yang begitu termasuk Syirik pak ?” Tanya pak Zul.
“Saya tidak berani menghukumi Syirik pak, soalnya kalo keliru bisa bisa malah saya yang menjadi syirik. Tapi kalo itu keliru ( Menurut Syariat Islam ) memang iya. Tapi jangan langsung di Vonis Syirik, karena bisa saja niat mereka juga memohon kepada Allah tapi mungkin caranya saja yang salah.” Jawabku pada pak Zul.
“Kok bisa begitu pak kan itu jelas keliru ?” protes pak Zul.
“Iya, tapi keliru bukan berarti langsung menjadi Syirik pak. Karena ke-Syirikan itu adanya di dalam hati bukan pada benda ataupun ‘Sekedar’ ucapan.” Jelasku pada pak Zul.
“Ini nih yang bikin saya jadi bingung, maksutnya bagaimana itu pak ?” Tanya Pak Zulkifly.
Agar lebih mudah di terima aku memberi gambaran yang sering terjadi pada kehidupan manusia saja, pikirku.
“Bapak pernah sakit kepala ?” tanyaku pada pak Zul.
“lah apa hubungannya pak ?” Tanya pak Zul heran.
“Tolong di jawab saja pertanyaan saya, nanti bapak akan tahu maksud saya.” Pintaku pada beliau.
“Ya jelas pernah lah pak, namanya juga manusia biasa.” Jawabnya.
__ADS_1
Kalo bapak sakit kepala kemudian minum obat apa ?” tanyaku pada pak Zul yang makin bingung. Menganggap pertanyaan ku jauh keluar dari topik pembicaraan.
“Ya obat yang mengandung paracetamol biar sakit kepalanya sembuh.” Jawab pak Zul agak jengkel.
“Berarti pak Zul menganggap yang menyembuhkan sakit kepala itu paracetamol, bukan Allah ? Apakah dengan begitu pak Zul dianggap Syirik ?” tanyaku kemudian.
Pak Zulkifly terkesiap kaget mendengar komentarku tersebut.
“Ya gak begitu juga pak ? itu kan usaha kita sebagai manusia agar sembuh dari sakit.” Protesnya.
“Memang betul pak, berarti paracetamol dan ucapan pak Zul itu kan tidak bisa dianggap Syirik. Karena meyakini yang menyembuhkan Allah dengan wasilah obat itu. Itu maksud saya Syirik itu adanya di dalam hati bukan pada benda dan ‘Sekedar’ucapan pak.” Jawabku pada pak Zul.
(Maksutnya adalah kadang tanpa disadari ucapan kita secara Fiqih atau Hukum Islam bisa di anggap Syirik namun tidaklah begitu adanya)
“Owh gitu ya…. Iya sih memang begitu, kenyataan yang terjadi memang orang secara tidak sadar sering bilang yang menyembuhkan adalah obat atau dokternya. Tapi itu sekedar ucapan mulut, mereka tetep ber iman pada Allah dan percaya yang menyembuhkan adalah Allah.” Komentar pak Zul sambil manggut manggut.
Akhirnya pak Zul pun bisa memahami apa yang aku maksud, bahwa tidak boleh menuduh orang itu Syirik Kafir dan sebagainya hanya karena berbuat kesalahan kecil yang mungkin tidak disadarinya. Meski tetap harus mengingatkan kesalahannya.
Setelah acara selesai aku pun berpamitan kepada beliau sekaligus memintakan ijin buat Amir dan kawan kawan. Karena waktu sudah malam aku minta Amir yang membawa motor, sedang aku ikut pick up dari pada masuk angin di perjalanan karena angin malam.
Saat hendak berangkat pak Zul memberikan bingkisan dari hasil kenduri tadi kepadaku dan rombongan.
“Ini bukan sesaji kan pak ?” godaku pada pak Zul.
“Aah kamu itu, gak lah aku sekarang sudah paham. Makasih tadi atas penjelasannya.” Ucap pak Zul sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa, agar suasana keakraban ini selalu terjaga. Di samping sedikit memberi penjelasan sebenarnya itu berdampak positif dalam usahaku, karena hampir dengan setiap nasabah yang membeli bibit kepadaku tidak sekedar beli putus ( habis beli ya sudah ) namun setiap butuh kana menghubungi atau menjadi pelanggan bukan sekedar pembeli. Dan membantu merekomendasikan saudara atau temannya yang membutuhkan jasa dan barang serupa kepadaku.
Alhamdulillah dengan begitu aku hampir tidak pernah sepi order, kalo gak pembeli baru dari rekomendasi pembeli yang lama ya pembeli lama yang repeat order akan selalu ada.
*****
Sesampai dirumah NIsa anak gadisku sudah tertidur, namun sudah jadi kebiasaan jika ayahnya pulang harus di bangunin untuk meminta jatah oleh-oleh. Sehingga Fatimah pun segera membangunkan Nisa untuk menagih Oleh-oleh karena ayahnya baru saja pulang. Meski gak langsung dimakan akan tetapi Nisa harus menyimpan dulu oleh-oleh itu untuk dibagikan pada teman temannya besuk. Setelah itu Nisa pun kembali tidur. Fatimah yang kelihatan masih ngantuk pun aku persilahkan tidur duluan, sementara aku menemani Jafar.
Sementara Sidiq sudah tertidur pulas, hanya Jafar yang masih terjaga seperti biasanya.
“Kamu kok tidurnya selalu larut, terus tadi katanya mau cerita sama Ayah. Mau cerita apa Jafar ?” tanyaku pada Jafar.
“Iya yah, tapi ayah jangan marah ya ?” ucap Jafar yang membuat aku bingung.
“Jafar kalo masih sore tidur takut yah ?” ucap Jafar.
“Takut….? Takut apa nak ?” tanyaku sambil membelai rambut Jafar.
“Kalo Jafar tidur sore justru bangun bangun merasa kelelahan.” Jawab Jafar.
Aku terdiam sesaat mendengar Jawaban Jafar tersebut. bagaimana mungkin, tidur awal justru saat bangun merasa kelelahan.
“Maksud Jafar bagaimana ?” tanyaku heran.
“Jafar tiap tidur selalu mimpi di datangi nenek nenek dan dipaksa berlatih pencak silat yah…!?!” kata Jafar seperti orang yang ketakutan.
“Lah kan Cuma mimpi, Jafar ?” kataku.
“Tapi Jafar merasa kelelahan yah, saat bangun tidur. Makanya tidak berani tidur sore, kalo tidur sore mimpinya juga jadi makin lama.” Jawab Jafar.
“Terus siapa yang maksa kamu dalam mimpi itu nak ?” tanyaku pada Jafar.
“Gak tahu yah gak kenal tapi nenek nenek itu maksa Jafar sampai Jafar kelelahan tiap bangun pagi.” Ucap Jafar sedih.
Aku gak mau berspikulasi dengan pikiranku sendiri, akan tetapi aku harus menyelidik apa yang terjadi pada Jafar anakku.
“Yaudah sekarang kamu berangkat tidur saja, ayah temenin yuk !” ajakku pada Jafar.
“Jafar taku yah, begitu Jafar tertidur nenek nenek itu selalu datang dan memaksa Jafar berlatih sampai menjelang Subuh.” ucap Jafar.
“Makanya ayah temenin, biar gak di gangguin nenek nenek itu dalam mimpi. Dan jangan lupa berdoa sebelum tidur.” Ucapku pada Jafar.
Dengan sedikit terpaksa Jafar akhirnya mau masuk ke kamarnya. Dan aku bilang ke Fatimah lebih dulu jika ingin tidur menemani Jafar. Karena aku sendiri juga merasa Capek.
*****
__ADS_1
Jafar POV
Jafar takut sama Ayah Jafar, jadi terpaksa pura pura berbaring dikamar. Jafar melihat ayah masuk ke kamar, Jafar pura pura memejamkan mata. Namun Jafar sebenarnya belum tidur, Jafar masih merasakan kecupan ayah di kening Jafar. Dan tak lama kemudian ayah yang tertidur, mungkin kelelahan karena kerja sampai malam hari.
Jafar gelisah sekali setiap hendak tidur, siapa nenek galak itu sebenarnya. Kenapa selalu datang dalam mimpi Jafar.
Maafkan Jafar yah, sudah bohong karena Jafar gak berani tidur awal begini. Tangan ayah yang mendekap Jafar sangat kuat membuat Jafar gak nyaman. Namun mau menyingkirkan juga gak berani takut Ayah bangun. Akhirnya Jafar memilih diam saja, dari pada mengganggu tidur ayahku.
Mata Jafar adi ngantuk, meski berusaha tetap terjaga namun akhirnya tertidur juga. Tahu tahu Jafar sudah di bawa nenek nenek itu di sebuah tanah lapang yang luas.
Jafar dipaksa lari dan bawa beban serta kegiatan lain yang melelahkan, begitu seterusnya tiap malam. Kadang juga diajak bertanding dengan nenek galak itu, sampai tubuhku kadang sakit kena pukulan tongkatnya.
Kadang jafar bertanya pada nenek itu, “kenapa bukan mas Sidiq saja yang diajak berlatih. Jafar sama sekali gak suka ini, biar mas Sidiq saja kan dia bisa lindungi Jafar dan Nisa adik Jafar juga.” Tapi nenek itu selalu marah dan memukul Jafar dan hanya bilang, “jangan protes” sambil memukul Jafar terus dan Jafar disuruh menghindar. Mau gak mau Jafar harus menghindari pukulan tongkat nenek Galak itu.
Jafar sangat lelah, setelah cukup lama di paksa menghindari pukulan tongkat nenek itu. setelah jafar bener bener lelah nenek galak itu baru berhenti dan menyuruh Jafar istirahat. Dan tahu tahu sudah di bangunin ayah disuruh sholat Subuh.
*****
Yasin POV
“Jafar,,, ayo bangun nak udah subuh sekarang !” aku membangunkan Jafar yang tidur dengan penuh keringat di keningnya. Apakah semalam masih mimpi dipaksa berlatih kanuragan lagi. Kemudian aku memeriksa denyut nadi Jafar, denyut nadinya sangat cepat seperti orang habis latihan fisik atau olah raga lainya.
Subhanallah, padahal semalam jelas aku peluk semalaman kenapa ini masih saja terjadi. Aku jadi kasihan dengan anak ku Jafar. Biarlah akau tidak akan membebani dia dengan kegiatan fisik siang hari. Biar lebih banyak beristirahat sampai kejadian mimpinya tidak terjadi lagi.
Biasanya memang aku melatih anak anak ku Sidiq dan Jafar untuk membantu pekerjaan sebatas kemampuannya. Dan sebatas melatih agar tidak menjadi anak yang malas. Namun dengan apa yang di alami Jafar aku jadi gak tega.
Namun masalah lain juga akan timbul jika saja nanti Sidiq merasa iri kalo Jafar gak aku suruh sementara Sidiq aku suruh. Namanya juga anak anak pasti rentan perasaan begitu, pikirku.
Aku jadi bingung sendiri, biar nanti saja lah aku bicarakan dengan Fatimah istriku.
Rupanya Jafar jadi banyak diam itu karena dia menahan ini selama ini. kasihan anak ini, masih kecil sudah mengalami begini, batinku.
Setelah Sholat subuh kulihat Jafar tertidur di ruang mujahadah lagi, saat mau dibangunkan oleh Fatimah aku melarangnya.
“Jangan kasihan anak itu kelelahan.” Kataku.
“Jafar sih tidurnya larut malam terus mas, kasih tahu dong biar gak tidur larut terus.” Kata Fatimah.
“Tenang dulu nanti aku kasih tahu sekarang bikin aku kopi dulu, nanti aku ceritakan sambil ngopi.” Pintaku pada Fatimah.
Fatimah pun segera memanaskan air buat menyeduh kopi, dan aku menunggu di ruang tamu. Sementara Sidiq sudah siap menyapu halaman dan berolah raga. Tak lupa juga sambil mengajak Nisa adiknya. Kadang aku heran dengan Nisa yang lebih nurut ke Sidiq dari pada ke aku ayahnya, apa sih dosaku. Kataku dalam hati.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian Fatimah sudah datang membawa kopi dan the manis buat dia sendiri.
“Ada apa sebenarnya mas, kok Jafar gak boleh di bangunin ?” Tanya Fatimah sambil meletakkan kopi di meja.
“Makasih ya kopinya, santai dulu saja gak usah terlalu serius begitu dong.” Kataku sambil menyalakan rokok ku.
“Soal anak harus serius dong mas ?” jawab Fatimah.
“Iya tapi jangan tegang begitu juga kali.” Ucapku pada Fatimah.
“Memang ada apa sebenarnya ? Jangan main tebak tebakan gitu kenapa mas ?” Fatimah merajuk.
“Sabar dulu Fat, mas juga bingung mau mulai cerita dari mana. Tapi yang jelas Jafar itu mengalami sesuatu yang aneh, dan baru aku selidiki.” Jawabku membuka pembicaraan.
Fatimah Nampak antusias mendengarkan perkataanku, dan tampak tak sabar menunggu kelanjutan ceritaku….???
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya, episode awal belum masuk ke konflik.
__ADS_1
...🙏🙏🙏...