
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Dan Ari pun pulang dengan membawa rasa kecewa, karena orang yang diharapkan bisa membantunya itu pun tidak mau membantunya saat ini. Semakin dendam dan semakin sakit hati Ari kepada Sidiq, namun bagaimana lagi jika Jalu sudah seperti itu. mau gak mau Ari pun harus mencari tahu siapa itu Yasin dan dimana rumahnya Yasin, agar Jalu mau membantunya menyingkirkan Yasin dan mendapatkan Riska sekaligus…!!!
“Bakalan malu gue di sekolah besok, gimana caranya mengalahkan si Sidiq ya ?” gerutu Ari dalam hati.
Ari yang hanya mengandalkan nama besar Jalu alias Sawung Panjalu hanya dapat meratapi kekalahannya dari Sidiq. Mau melawan langsung sudah ketakutan akibat sudah melihat dan merasakan kecepatan dan kekuatan gerakan Sidiq yang memang dari kecil sudah berlatih kanuragan. Sementara Ari sendiri tidaklah memiliki keahlian khusus dalam kanuragan. Sebenarnya hanya nama besar Jalu lah yang membuat dia ditakuti. Dan sekarang Jalu tidak mau membantunya karena menganggap masalah Ari hanyalah masalah anak anak muda biasa.
Sementara Jalu sendiri sedang bingung mencari jejak ayahnya, atau minimal mengetahui kuburnya, bila ayahnya sudah mati. Karena Jalu membutuhkan sesuatu yang ada pada jasad ayahnya untuk menyempurnakan ilmu ‘Giling Wesi’ yang dimilikinya. Meskipun saat ini Jalu sudah memiliki ajian itu, namun tanpa ‘Syarat’ sesuatu yang ada pada jasad ayahnya tidak akan sempurna atau tidak akan menyamai ayahnya Maheso Suro.
Untung saja Jalu belum tahu jika Sidiq adalah anak dari Yasin alias Zain alias Ahmad Sidiq. Jalu hanya mendengar musuh ayahnya terakhir kali adalah Yasin, tidak tahu nama alias lainnya apalagi nama aslinya. Sedangkan nama Yasin sendiri lebih popular di kalangan teman tema pesantren Yasin. Jika diluar itu orang ada yang mengenal nama aslinya atau nama Zain bagi kalangan yang mengenal Yasin selagi masih hidup di jalanan dulu. Sehingga hal itu menyulitkan Jalu untuk mencari siapa Yasin musuh ayahnya sebenarnya. Karena waktu kejadian itu terjadi Jalu juga masih tergolong anak anak. Jalu baru berusia sekitar enam tahun waktu itu.
Ari yang merasa kecewa dengan Jalu akhirnya pulang ke rumahnya dengan lesu. Kehilangan semangat, bahkan malu untuk berangkat ke sekolah besok paginya. Karena takut ditanya bagaimana usahanya menghajar Sidiq. Ari yang sudah gembar gembor bakal menghajar Sidiq bahkan belum sempat berhadapan dengan Sidiq sudah ampun ampunan. Baru juga merasakan lemparan Sidiq yang melukai tanganya. Ujung obeng yang dilempar Sidiq menusuk cukup dalam di punggung telapak tangan Ari. Belum lagi luka memar akibat dihajar masa waktu itu. otomatis Ari akan malu datang ke sekolah dengan kondisi seperti itu.
*****
Esok harinya di sekolah Sidiq
Sidiq POV
“Waktu berjalan terasa begitu cepat, tahu tahu sudah harus berangkat ke sekolah lagi. Baiknya aku bareng dengan Riska tidak ya ? Aku khawatir Ari dan anak buahnya makin nekat kalo aku jalan bareng dengan Riska. Tapi kalau tidak aku barengi juga malah berbahaya nanti.” Gumamku.
“Mau bareng gak Diq ?” tanya Ihsan teman pesantren dan satu sekolah denganku.
“Gak ah, mau jalan kaki saja sambil olah raga San.” Jawabku tidak pernah mau membonceng Ihsan. Karena lebih suka jalan sambil sekalian olahraga, sekaligus biar bisa bareng dengan Riska.
“Huuu… alasan saja, bilang saja biar bisa bareng dengan Riska kan ?” ledek Ihsan.
Aku hanya tersenyum, tidak bisa memungkiri kenyataan jika aku memang baru dekat dengan Riska.
“Eeh San, nanti ada yang mau aku omongin sama kamu di sekolah penting banget.” Ucapku.
“Soal Riska ? ogah ah itu sih urusan kamu bukan urusan aku Diq.” Jawab Ihsan.
“Bukan, ini penting banget berhubungan dengan nama baik pesantren kita San.” jawabku.
Ihsan mendengar ucapanku jadi penasaran, karena Ihsan memang sangat menjunjung tinggi nama baik pesantren di mana dia mengaji. Meski kalau ngaji juga malas malasan tapi cintanya sama kyai dan pondok pesantren sangat tinggi.
“Serius kamu Diq ?” tanya Ihsan.
“Serius, tapi nanti saja di sekolah biar mudah jelasin nya.” Ucapku.
“Ok, yakin gak mau bareng nih. Aku buru buru soalnya ada PR yang harus aku kerjakan di kelas, semalam gak sempat mengerjakan.” Ucap Ihsan yang selalu berangkat pagi buat mengerjakan PR dan minta bantuan teman sekelasnya.
“Iya, aku jalan kaki saja.” Jawabku yang bahkan belum sempurna memakai seragam sekolah. Sedangkan Ihsan sudah bersiap dengan motor nya untuk berangkat ke sekolah.
Dalam hati aku berkata, “Sepintas kamu kayak anak rajin San jam segini sudah siap berangkat. Tapi aku tahu kamu hanya cari contekan buat ngerjain PR kamu.” Aku tahu persis Ihsan yang malas belajar juga malas ngaji, meski anaknya baik supel dan banyak teman juga. Di sekolah pun termasuk anak yang cukup disegani dan banyak kawan. Eeh itu bisa aku manfaatkan buat mencari tahu siapa itu Jalu, kan teman dia banyak di sekolah, kataku dalam hati. Aku jadi mendapat ide untuk mencari tahu apakah Jalu itu adalah Sawung Panjalu anak dari musuh ayahku dulu. Dan apakah ada rencana balas dendam dengan ayahku atau tidak, batinku.
Aku segera langkahkan kaki ku berjalan menuju ke sekolah. Lumayan udara segar pagi ini cukup dingin terasa. Udara murni pegunungan yang sejuk membuat nafas segar dan baik untuk olah pernafasan dan meningkatkan hawa murni untuk memperkuat inner power ku.
__ADS_1
Langkah demi langkah aku menapakan kaki dan sebentar lagi sudah sampai di depan rumah Riska. Hatiku kok jadi makin berdebar begini, bahkan lebih berdebar dari kemarin kemarin ya, kataku dalam hati. Apakah karena aku sekarang sudah menyandang status pacarnya Riska ? aduh aku harus bagaimana jika nanti bertemu Riska. Kok aku malah jadi gugup begini sih, padahal kemarin kemarin malah gak begini.
Saat mendengar suara Riska memanggil hatiku semakin berdebar debar, bahkan agak tergagap aku untuk menjawabnya.
“Mas Sidiq, Riska bareng dong.” Sapa Riska.
Aku hanya diam, tidak menjawab tapi berhenti menunggu Riska.
“Kok diam saja begitu, dan kenapa wajah mas Sidiq agak pucat, lagi sakit ya ?” tanya Riska.
“Gak kok Ris, aku gak papa kok.” Jawabku agak terbata bata.
“Kok mas Sidiq jadi aneh begini sih, gak biasanya ngomong saja sampai gugup. Apa kemarin diancam anggota geng itu ?” tanya Riska kemudian sambil berjalan.
“Aduh Riska, kamu gak tahu kalau aku gugup karena dekat dengan kamu. Dan aku bingung harus bersikap bagaimana sekarang ini, setelah kita resmi Pacaran.” Kataku dalam hati.
“Benar ya, mas Sidiq diancam sama mereka ?” tanya ulang Riska.
“Aah gak kok, siapa yang mengancam buktikan saja nanti di sekolah. Apakah mereka masih berani gangguin kamu atau tidak.” Jawabku mulai menguasai keadaan.
“Lah terus kenapa mas Sidiq kok jadi agak aneh begitu ?” tanya Riska.
“Gak papa kok Ris, eeeh…hanya aku memang agak gugup saja, pertama kali jalan berdua sama kamu dengan status pacar. Membuat aku jadi salah tingkah.” Ucapku jujur pada Riska.
“Yee mas Sidiq ini aah, awas kalau menggombal terus. Biasa aja lah kayak yang sebelumnya, kan biasanya juga berangkat bareng.” Ucap Riska enteng. Tapi aku sempat melirik wajahnya yang agak memerah, mungkin juga ada sedikit rasa malu juga.
Tanpa terasa langkah kaki kami harus terpisah untuk menuju ke kelas kami masing masing. Dan suasana di sekolah pagi itu terasa sedikit sunyi. Tidak terdengar teriakan teriakan anak buah Ari atau suara knalpot motor mereka yang memekakkan telinga. Ada apa ini kok agak aneh, pikirku. Namun aku tetap saja melangkah masuk ke kelasku.
Dan ketika aku masuk ke kelas, lebih kaget lagi karena hampir semua mata teman satu kelasku menatapku dengan pandangan aneh. Aku tidak dapat lagi menahan rasa penasaranku, sehingga aku menyapa semua teman sekelasku dan bertanya.
Semua terdiam, hanya saling pandang satu dengan yang lain seakan mereka juga ragu ragu untuk menjawab pertanyaanku.
“Halo… ada yang bisa mendengar suaraku ?” aku kembali menyapa mereka yang hanya bengong semuanya. Akhirnya ada salah satu siswa yang menghampiriku, dan mengajakku duduk di bangku terdepan. Dan kemudian yang lain pun mengerumuni aku. Aku jadi tambah bingung, ada apa sebenarnya.
“Maaf Diq, kami tahu kamu adalah anak pemberani. Dan kami juga tahu kalau kamu itu anak baik juga cukup pintar di kelas kita ini. Tapi……!” suara teman satu kelasku itu terjeda sejenak.
“Tapi apa, bilang saja kalau Sidiq salah Sidiq gak malu jika harus minta maaf pada kalian semua.” Jawabku.
“Bukan salah sih Diq, tapi tindakan kamu melawan anak buah Ari itu cukup membuat kami takut. Takut jika mereka melampiaskan kepada anak lain yang satu kelas dengan kamu.” Ucap teman satu kelasku itu.
Aku jadi berpikir, bahwa ucapan dia memang ada benarnya juga. Aku tahu teman satu kelasku rata rata adalah anak anak yang lurus lurus saja tidak pernah aneh aneh. Dan tidak ada yang suka kekerasan, bahkan seringkali mengalah demi menghindari kekerasan. Aku jadi merasa bersalah karena tidak berpikir panjang kemarin.
“Owh soal itu ya, Ok Sidiq mengaku khilaf tidak berpikir panjang kemarin. Dan nanti jam istirahat Sidiq akan menemui Ari agar tidak melibatkan kalian dalam urusan ini. karena ini adalah urusan Sidiq pribadi dengan mereka.” Aku berkata meminta maaf kepada teman teman satu kelasku. Namun mereka justru kaget mendengar ucapanku tersebut, dan sebagian jadi berbisik bisik entah apa yang dibicarakan.
“Eemm maksut kami gak begitu kok Diq, gak harus begitu juga maksudku kamu gak usah bilang begitu ke mereka. Bisa bisa malah kamu nanti yang dianiaya mereka.” Ucap salah seorang cewek satu kelasku yang bernama Dina.
“Gak papa Din, itu adalah resiko yang harus aku hadapi. Jujur aku juga tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika ada teman satu kelas ini yang jadi korban kemarahan mereka karena Sidiq.” Jawabku.
“Gak gitu Diq, sungguh kami tidak bermaksud begitu. Maaf saja, kami hanya berharap agar kamu lebih baik menghindari pertikaian dengan mereka. Maaf ya, jangan hanya gara gara pacar kamu sampai berantem.” Ucap Dina.
Aku jadi ingat saat di kantin kemarin aku memang bicara keras dengan Herman Cs, dengan menantang mereka. Dan mengatakan jika Riska adalah pacarku, dan mungkin Dina juga ada di situ dan mendengarnya.
Aduh aku jadi malu setengah mati, akhirnya berita aku pacaran dengan Riska jadi menyebar luas. Bagaimana dengan Riska sendiri saat ini, batinku.
“Iya Din, Sidiq ngaku salah Sidiq malah bangga dengan kalian yang berani menegur Sidiq. Maafkan Sidiq, tapi soal menemui mereka tetap akan Sidiq Lakukan. Itu tanggung jawab Sidiq untuk keamanan dan keselamatan kalian.
“Aduh Diq, sungguh kami gak bermaksud begitu. Jangan deh, maafkan kami jika menyinggung kamu Diq.” Ucap Dina malah ketakutan atau merasa bersalah.
__ADS_1
“Tidak apa apa Din, sungguh Sidiq melakukan itu bukan merasa terpaksa. Karena Sidiq memang menyadari kesalahan Sidiq dan itu jadi tanggung jawab Sidiq. Kalian jangan merasa bersalah padaku begitu, aku malah semakin tidak enak hati nanti.” Ucapku yang kemudian disambut bel masuk sekolah.
Dan kami pun membubarkan diri duduk di bangku masing masing, serta sibuk dengan pemikiran masing masing. Dan tetap saja suasana di kelas masih kaku karena percakapanku dengan Dina dan kawan kawan tadi.
*****
Usai jam pelajaran / jam istirahat pertama
“Aku harus segera menemui salah satu anggota geng tersebut, agar teman satu kelasku tidak ketakutan.” Kataku dalam hati. Saat aku hendak keluar dari pintu kelas, tiba tiba Dina memegang tanganku menahan langkahku sambil berseru.
“Kamu mau kemana Diq ?” tanya Dina.
“Owh ini Din, aku mau bicara baik baik dengan anak anak yang kemarin. Bagaimanapun aku tidak ingin salah satu teman satu kelas kita menjadi sasaran kemarahan mereka.” Jawabku.
“Kamu jangan menambah masalah lagi Diq. Kalau kamu mendatangi mereka malah kamu dianggap menantang perkara lagi.” Ucap Dina, gadis berkaca mata tebal karena terkenal kutu buku tersebut.
“Gak kok Din, aku mau bicara baik baik saja. Aku juga gak mau ada keributan apalagi di dalam lingkungan sekolah.” Kataku.
“Tidak perlu Diq…!” tiba tiba Alan ketua kelasku ikut bicara.
“Kenapa ?” tanyaku heran.
“Aku tahu kamu bermaksud baik, tapi aku tidak yakin mereka akan menerima niat baik kamu. Apa yang sudah terjadi ya sudah, kalau mereka memang mau melibatkan teman teman satu kelas kita baru kita harus bertindak memberi penjelasan. Tapi sebelum itu terjadi sebaiknya kita menunggu saja.” Ucap Alan.
“Apa itu tidak membahayakan, siapa tahu mereka bertindak di luar jam sekolah ?” tanyaku pada Alan.
“Kemungkinan itu memang ada Diq, tapi kemungkinannya lebih kecil dibanding jika kamu mendatangi mereka sekarang. Karena justru bisa dianggap kamu menantang mereka dan mereka akan melampiaskan ke salah satu teman satu kelas kita.” Jawab Alan.
Aku berpikir sejenak mencerna kata kata Alan tersebut. memang setelah aku pikir ada benarnya juga yang dibilang teman teman satu kelasku tersebut. Bisa jadi memang mereka akan salah paham dengan tindakanku.
Namun belum sempat aku menjawab perkataan Alan, Dina sudah berteriak mengatakan jika Herman dan kawan kawannya datang menghampiri ke kelasku tersebut.
“Itu mereka malah sudah menuju kemari sekarang, bagaimana ini ?” Ucap Dina panik.
“Tenang dulu, semua jangan keluar kelas dulu. Biar aku sendiri yang menghadapi mereka, aku akan coba bicara baik baik dengan mereka. Semoga saja masih bisa diajak bicara secara baik baik.” Jawabku menenangkan Dina dan kawan kawan satu kelasku.
Aku berdiri di depan pintu kelasku menanti kehadiran Herman , Jefri dan Fadholi tiga anak yang kemarin sempat ribut denganku. Aku sudah siap jika memang mereka mengajak ribut, termasuk siap untuk dipanggil kepala sekolah dan guru BK. “apa boleh buat, tidak ada cara lain selain menghadapi mereka di sekolah ini.” kataku dalam hati.
Herman dan kawan kawannya semakin dekat, dan kawan satu kelasku menjadi semakin ketakutan. Aku benar benar tidak tega melihat mereka ketakutan, ada sedikit penyesalan kenapa aku kurang bisa mengontrol emosi seperti Jafar adikku, batinku.
“Ada apa datang ke kelasku ini, kalau mau membuat keributan jangan di sekolah. Dan jangan libatkan satu pun dari teman satu kelasku ini. mereka tidak tahu apa apa. Urusan kalian hanya dengan diriku pribadi.” Kataku membentak Herman, Jefri dan Fadholi…!!!
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1