Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jafar diberi tugas khusus oleh abah gurunya


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


Begitulah Ari dan anak buahnya sekarang sudah tidak berani semena mena lagi. Sejak mendapat perlawanan dari Sidiq. Dan mereka menyadari jika tidak akan menang melawan Sidiq tanpa kehadiran Jalu. Dan mereka juga tidak tahu jika sebenarnya Jalu sendiri sudah muak dengan Ari.


“Bang Jalu minta tolong kita mencari orang yang bernama Yasin, yang dulu pernah bertempur dengan ayah bang Jalu.” Ucap Ari memanfaatkan anak buahnya untuk mencari Yasin dan dimana dia tinggal. Selebihnya adalah akan menjadi urusan Jalu sendiri….!?!


Baik kami akan membantu mencari informasi tentang orang yang bernama Yasin. Tapi apakah ada keterangan lain yang membantu agar kami lebih mudah mendapatkanya.” Tanya Herman.


“Tidak ada kecuali hanya orang itu cukup berilmu tinggi dan orangnya temperamental, itu saja.” Jawab Ari singkat.


Kemudian setelah mereka mengadakan pembicaraan bagaimana menyikapi kekalahan dengan Sidiq, akhirnya mereka membuat keputusan sementara untuk tidak bertingkah yang aneh aneh dulu. Sampai dengan mendapat keterangan siapa Yasin yang dimaksud Jalu.


*****


Sementara itu suasana sekolah Sidiq untuk sementara waktu menjadi aman, bebas dari tindakan tindakan kesewenangan Ari dan anak buahnya. Bahkan nama Sidiq pun menjadi icon anak anak sekolah, bahkan Sidiq semakin popular di mata teman teman sekolahnya. Meski Sidiq sendiri tetap saja seperti sebelumnya. Hanya sekarang lebih sering bersama Riska, bahkan setiap jam istirahat  dimana ada Sidiq di situ juga ada Riska. Meskipun tidak pernah hanya berdua, Lita sahabat karib Riska hampir selalu menemani mereka. Dan jika Lita tidak ada maka Riska akan mengajak teman ceweknya untuk bertemu dengan Sidiq.


Tidak hanya itu, beberapa siswi pun akan berusaha mendekati Sidiq. Dari yang sekedar simpati dan mengagumi sampai dengan yang jadi menaruh hati kepada Sidiq secara diam diam karena tahu Sidiq adalah pacar Riska.


“Mas kamu sekarang jadi terkenal di sekolah bahkan banyak gadis yang sekarang suka pada mas Sidiq. Apa mas Sidiq gak berubah dengan Riska ?” tanya Riska memancing Sidiq saat sedang berada di kantin.


“Apanya yang berubah Riska ? Sidiq kan tetap Sidiq yang dulu, kalau sekedar semakin banyak teman kan Alhamdulillah makin banyak saudara.” Jawab Sidiq.


Dalam hati Riska semakin mengagumi Sidiq, karena saat dirinya sekarang disukai banyak orang tidak menunjukkan perubahan sedikitpun. Masih sama dengan Sidiq yang dulu Riska kagumi, Sidiq yang tekun dan gigih dalam berusaha agar tetap bisa melanjutkan sekolah. Meski dulu hampir saja berhenti sekolah saat Yasin dan Fatimah dalam keadaan ekonomi yang terpuruk.


Dan sekarang saat popularitas Sidiq naik, ekonomi orang tuanya juga sudah berangsur pulih Sidiq masih tetap sama dan masih terus sekolah sambil bekerja paruh waktu.


“Haqi Sidiq, kapan kapan ajari kami berlatih beladiri dong. Biar kalau ada cowok usil kami bisa melawan.” Ucap salah satu Siswi.


“Aah Sidiq hanya bisa sedikit jurus saja kok, takut malah mengecewakan kalian.” Jawab Sidiq sambil melirik Riska melihat ekspresi Riska yang agak cemburu tiap kali ada siswi lain yang menyapanya.


“Eheem gak papa kali mas kamu mengajari mereka, siapa tahu saja ada yang…..!” ucap Riska agak ketus.


Sidiq yang melihat itu langsung paham jika Riska kurang berkenan, kemudian membuat alasan lain.


“Aku kan gak ada waktu lagi, pulang sekolah langsung kerja buat cari tambahan uang jajan. Dan hari minggu pun kerja full time.” Jawab Sidiq.


“Jangan marah dong Riska, kami tahu kok kalau Sidiq hanya mencintai kamu. Kami juga hanya ingin diajarkan beladiri saja gak lebih dari itu.” Ucap siswi tersebut.


“Iya, aku gak marah kok, maksudku siapa tahu nanti ada yang berbakat beladiri dan bisa ikut turnamen.” Kilah Riska.


Sidiq hanya menahan tawa mendengar ucapan Riska yang dirasa pintar dalam berkilah tersebut.


“Gini saja, kalau ada yang minat belajar si Ihsan itu juga ahli beladiri kalian bisa minta tolong Ihsan. Dia kan gak terlalu sibuk kayak aku yang harus bekerja cari tambahan, buat meringankan beban orang tuaku.” Kata Sidiq.


“Lah kenapa gue kamu bawa bawa Diq, kan elo yang diminta.” Sahut Ihsan.


“Apa salahnya berbagi San, bukankah kamu juga suka berlatih dan melatih beladiri di pesantren.” Jawab Sidiq.


“Gak lah, aku takut jadi naksir salah satu dari mereka. Takutnya mereka gak ada yang mau sama gue Diq.” Gura Ihsan disambut tawa yang mendengar.


“Jangan gitu San, kamu kok gak PD gitu sih kamu juga cukup ganteng kok.” Ucap Riska.


“Buktinya kamu lebih suka sama Sidiq daripada sama aku Ris.” Goda Ihsan ke Riska membuat Riska jadi salah tingkah. Sementara Sidiq hanya senyum senyum menanggapi gurauan Ihsan. Karena Sidiq yakin Ihsan hanya bercanda, karena Ihsan naksir gadis satu pesantren yang beda sekolahan.


“Tar gue bilangin ke Arsya baru tahu rasa lo San.” Sahut Sidiq.


“Ngawur aja lo Diq, masa gak bisa bedain candaan dan yang serius.” Kata Ihsan cemberut, merasa rahasianya dibongkar.


“Eeh siapa tu Arsya ? Owh rupanya Ihsan sudah punya gebetan juga ya. Wah ada yang patah hati gak nih ?” goda Riska.


Ihsan hanya manyun diledek Riska dan Sidiq di depan siswa siswi yang ada di kantin. Dan tiba tiba saja ada seorang  siswi yang datang mendekat dan tahu tahu memberikan setangkai bunga kepada Sidiq.


“Aku berikan hadiah bunga ini kepada orang yang telah membuat sekolah ini menjadi tenang.” Ucap  Siswi tersebut yang langsung menyerahkan bunga di tangan nya kepada Sidiq. Tanpa mempedulikan ada Riska di situ, bahkan tidak peduli aksinya dilihat orang banyak.


Sidiq yang jadi kaget serta bingung itu tidak mampu untuk menolak pemberian bunga tersebut. sehingga secara reflek Sidiq pun menerima bunga itu di depan Riska pacarnya.


Orang yang berada di situ pun agak terkejut melihatnya, dan secara spontan mereka bertepuk tangan. Maksudnya adalah memberi penghormatan karena mengira apa yang dilakukan Siswi tersebut tulus berterima kasih kepada Sidiq.


Namun saat itu juga Riska berdiri dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan menggandeng tangan Lita sahabat karibnya.


“Kita kembali ke kelas yuk Lita.” Ucap Riska sambil menggandeng paksa tangan Lita. Lita hanya mengikuti saja apa  kemauan sahabatnya, karena Lita tahu jika Riska sedang merasa tidak enak hati atas apa yang dilakukan Siswi tersebut.


Sidiq jadi salah tingkah, mau mengejar Riska dan Lita kayaknya Riska baru marah besar. Sehingga lebih memilih berdiam diri sambil mencari kesempatan untuk menjelaskan kepada Riska nanti.


“Owh maaf Diq, aku gak nyangka kalau Riska cewek kamu jadi marah begitu. Maksudku kan hanya sekedar berterima kasih bukan bermaksud lain. Kok cewek kamu cemburuan begitu sih, gak asik banget.” Ucap Siswi yang bernama Arina tersebut.

__ADS_1


“Sudah, gak usah mengomentari Riska begitu. Wajar dia marah, dan itu urusanku dengan Riska. Harusnya kamu sedikit menghargai perasaan Riska.” Ucap Sidiq agak dongkol pada Siswi yang bernama Arina tersebut.


“Iya deh maaf, aku gak bermaksud ikut campur kok. Hanya kaget saja, kalau aku yang jadi pacar kamu juga tidak akan begitu, terlalu cemburu kampungan.” Ucap Arina sengaja memanas manasi Sidiq.


“Lebih baik kamu pergi dulu deh, jangan ganggu Sidiq sahabatku. Kamu sadar gak sih, jika tindakan kamu membuat Riska pacarnya jadi marah ?” Kata Ihsan yang tidak suka dengan apa yang dilakukan Arina.


“Hah… siapa elo ngatur ngatur gue, urusanku kan dengan Sidiq bukan dengan elo….!” Sahut Arina.


“Sidiq sebenarnya sangat marah mendengar jawaban itu. namun karena yang dihadapi wanita Sidiq memilih diam menahan amarahnya.


“Kita pergi saja San, suasanan sudah gak enak di sini.” Ajak Sidiq kepada Ihsan


Kemudian keduanya pun pergi meninggalkan kantin setelah membayar apa yang mereka makan.


“Heeh Rin, maksut kamu apa sih, apa kamu gak tahu jika Riska itu pacar Sidiq ?” tiba tiba Dina teman sekelas Sidiq yang menegur Arina.


“Wah ini lagi, apa lo juga menyalahkan aku ? Lo apanya Sidiq mang nya, saudara bukan pacar juga bukan kenapa kamu sewot begitu ?” ucap Arina.


“Susah bicara sama orang yang gak punya hati.” Ucap Dina sambil melangkah pergi. Dina lebih memilih pergi untuk menemui Riska dan Lita untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah mereka meninggalkan Sidiq tadi.


“Riska tunggu sebentar…!” ucap Dina mengejar langkah Riska dan Lita.


“Ada apa Din ?” tanya Riska yang matanya masih sembab, karena habis nangis sakit hatinya.


“Maaf aku gak bermaksud ikut campur, tapi apa yang terjadi tadi bukan salah Sidiq. Sidiq tetap setia sama kamu, aku saksinya tadi yang melihat reaksi Sidiq pada Arina.” Ucap Dina. Kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah Riska dan Lita meninggalkan Sidiq.


Akhirnya Riska pun bisa menerima ucapan Dina yang dianggap Netral dalam hal ini. Riska pun berniat meminta maaf kepada Sidiq sepulang sekolah nanti, karena Riska merasa bersalah karena terlalu cemburu.


“Owh begitu ya Din, makasih ya Din kamu baik banget sama aku.” Ucap Riska.


“Gak usaha berlebihan Ris, itu aku lakukan karena aku tahu siapa sebenarnya Arina itu.” Ucap Dina.


“Maksut Dina, tahu Arina bagaimana ?” tanya Lita yang jadi penasaran.


“Ini off the record dulu tapi ya, Arina itu rumahnya gak jauh dari rumahku, dan Dina tahu kalau sebenarnya Arina itu adalah teman dekat si Herman. Dina agak curiga apa yang dilakukan dia tadi itu adalah skenario Herman untuk menjauhkan Riska dengan Sidiq. Kemudian Ari yang akan masuk untuk mendekati Riska.” Jawab dina.


“Owh begitu ya, dasar mereka memang licik…!” ucap Lita geram.


“Tapi Dina mohon jangan sampai Sidiq tahu, takut dia gak bisa menahan emosinya padahal ini juga baru kecurigaan Dina saja, belum ada bukti.” Ucap Dina.


“Iya Din. Makasih aku juga tahu kok kalau mas Sidiq pasti akan sangat marah jika dengar ini. dan Riska gak akan kasih tahu ke mas Sidiq.” Jawab Riska.


Bel pelajaran masuk pun terdengar, mereka segera menuju ke kelas masing masing. Dina melangkah dan akan mengatakan kepada Sidiq jika dia sudah menjelaskan ke Riska. Tanpa harus menceritakan apa yang menjadi kecurigaan Dina. Sekedar ingin agar Sidiq dan Riska kembali rukun seperti sebelumnya.


“Mas Sidiq tunggu sebentar, bisakah kita bicara sebentar di sini sebelum pulang ?” tanya Riska yang ditemani Lita.


“Iya boleh, tapi janji jangan pakai marah ya ?” jawab Sidiq.


“Tenang Diq, Riska gak akan marah kok. Riska sudah tahu apa yang terjadi.” Sahut Lita.


“Maksutnya ?” tanya Sidiq pura pura belum tahu, padahal sudah dikasih tahu Dina meski tidak seluruhnya.


“Tanya saja langsung ke Riska.” Jawab Lita.


“Beneran begitu Ris ?” tanya Sidiq ke Riska lembut.


“Iya mas, Riska minta maaf tadi marah karena mas Sidiq menerima bunga itu. Riska berpikir mas Sidiq menerima cinta dari Arina dengan lambing sekuntum bunga tersebut.” Ucap Riska sambil tertunduk.


“Diih kok bisa kamu berpikir begitu sih Ris ?” tanya Sidiq. Kemudian Lita yang menjelaskan, bahwa Riska itu sangat sensitif . dan bunga mawar yang diberikan Arina itu bagi sebagian orang diartikan sebagai ungkapan rasa cinta. Sehingga Riska pun menjadi salah paham dengan Sidiq.


“Ya ampun, apa memang begitu ? Apakah dengan member bunga mawar  kepada lawan jenis itu diartikan sebagai ungkapan cinta, Sidiq malah baru dengar ini soalnya.” Jawab Sidiq.


Riska yang tadinya sedih jadi menahan tawa mendengar kepolosan Sidiq dalam hal tersebut.


“Masak sih mas Sidiq gak pernah dengar hal seperti itu ?” tanya Riska sambil senyum senyum geli.


“Iya benar Riska, tadi aku pikir kamu marah karena hal lain bukan seperti itu.” Jawab Sidiq yang agak bingung juga mendengar bahwa mawar itu sebagai ungkapan Cinta.


“Aah mas Sidiq bagaimana sih, masak hal seperti itu gak tahu ?” Ucap Riska.


“Terus apakah aku juga harus memberikan sekuntum bunga mawar buat kamu Riska, sebagai ungkapan cinta ?” Tanya Sidiq sedikit menggoda Riska. Membuat Riska jadi memerah pipinya karena malu.


“Aah elo ada ada aja Diq, kan sudah resmi jadian ngapain juga pakai bunga mawar lagi. Tapi kalau mau kasih juga gak papa sih, iya kan Ris ?” kata Lita ikut menggoda Riska.


“Aah sudahlah, yang penting sudah clear masalahnya, kita pulang yuk.” Ajak Riska mengalihkan pembicaraan.


Kemudian mereka bertiga pun melangkah pulang, karena memang sekolah juga sudah cukup sepi. Dalam hati Sidiq jadi kepikiran untuk memberikan bunga mawar kepada Riska, “ sudah terlanjur basah, dan aku memang harus jujur jika mencintai Riska. Besok aku bawakan bunga mawar buat Riska ah, biar dia makin senang.” Kata Sidiq dalam Hati.


*****


Usai Jafar ngajar beladiri


Jafar POV

__ADS_1


“Wah capek juga habis latihan fisik bersama teman teman, aku mau mandi dulu ah.” Ucapku dalam hati. Dan hendak masuk ke kamarku yang baru mengambil handuk.


“Kang, kalau ngajar beladiri jangan terlalu keras dong latihannya. Badan Nia jadi pegel pegel kalu bangun tidur terasa sakit.” Ucap Nia ketus.


“Maaf ning Nia, tapi memang begitulah kalau orang berlatih Fisik sebelum berlatih jurus.” Jawabku.


“Bodo,, aku gak mau tahu besok kalau melatih fisik jangan kayak biasanya Nia gak mau.” Ucap Nia yang keras kepala tersebut. Aku hanya diam tidak membantah ucapan Nia tersebut, dalam hati  Jafar berkata. “ Ning Nia ini kenapa sifatnya sangat keras ya, padahal menurut Umi ( bu nyaiku yang sekarang minta disebut Umi ) kakaknya yang laki laki saja sangat lembut. Tapi ya sudahlah, Aku dengan Nisa juga lebih keras Nisa sifatnya. Untung saja mereka gak seumuran, kalau seumuran bisa bahaya karena pasti akan sering ribut.”


Aku segera masuk kamar dan mengambil handuk buat mandi, dan aku lebih memilih kamar mandi yang biasa dipakai santri Ndalem  ( yang tinggal ikut di rumah kiainya) meski diijinkan masuk ke kamar mandi keluarga abah guru. Aku merasa itu kurang beradab jika aku masuk kesana.


Usai mandi aku pun bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib, namun saat sedang bersantai tiba tiba ning Nia datang dan ngomel lagi.


“Kang,, dipanggil abi tuh. Awas ya gak boleh ngadu kalau nia suka protes ke akang…!” ancam Nia.


“Iya ning.” Jawabku singkat.


Aku merasa agak berat diberi tanggung jawab mendidik Ning Nia secara khusus oleh abah dan Umi. Tapi aku juga gak mungkin menolak perintah abah guru. Ning Nia yang sangat keras kepala sangat sulit di kendalikan. Dan anehnya setiap kali bersama dia hatiku terus terusan berdebar seperti saat pertama kali bertemu dulu, ada apa ya ? aku jadi melamunkan Nia putri abah guru ku tersebut.


Sesampai di ruang tamu aku menghadap abah guru dengan terlebih dahulu mencium tangan beliau sebagai wujud hormatku sebagai santri nya.


“Assalaamu ‘alaikum bah…!” ucapku pada Abah guru.


“Wa’alaikummussalaam, duduk dulu kamu Jafar.” Kata abah Guru.


“Iya bah, apakah ada tugas yang harus Jafar lakukan bah ?” tanyaku pada abah guruku.


Abah guru diam sejenak, seperti menerawang jauh ke depan.


“Kamu harus mengikuti jejak leluhur leluhur kamu, dan mulai malam nanti kamu aku beri tugas untuk Ziarah tiap malam ke makam orang tuaku.” Jawab Abah Guru.


“Sama siapa bah ?” tanyaku.


“Sendiri lah, mau sama siapa kan yang ditugaskan hanya kamu saja.” Jawab abah Guru.


Aku jadi bingung, bukankah ini dulu yang dilakukan ayah saat beliau di pesantren juga. Yuyut pernah memberitahu aku, bahkan ayah pernah ziarah ke makam eyang Sidiq Ali ditemani Yuyut. Dan sekarang aku juga diberi amalan yang sama, Ziarah ke makam.


“Apa ada doa khusus yang harus Jafar baca ketika Ziarah Bah ?” tanyaku lagi.


“Ada, nanti aku kasih sebelum kamu berangkat ke makam.” Jawab Abah guru.


“Iya bah.” Jawabku.


“Satu lagi Jafar, kakakmu yang di pesantren lain juga harus melakukan hal yang sama denganmu. Dan juga khusus buat kamu, jangan pernah berhenti sebelum kamu ditemui oleh kedua  orang tuaku di makamnya.” Kata Abah Guru.


“Apakah Jafar harus memberi tahu kepada kakak Jafar bah ?” tanyaku.


“Tidak usah, biar nanti Abah yang kasih tahu lewat gurunya kakakmu saja.” Jawab Abah Guru.


Aku hanya diam, hanya dapat menduga apa yang abah guru maksut tersebut tanpa berani mengomentarinya. Dan setelah selesai aku pun disuruh untuk segera memerintahkan muadzin yang suaranya bagus untuk mengumandangkan Adzan Maghrib.


*****


Saat Ziarah di makam kedua orang tua Abah gurunya Jafar


Sesampai di makam kedua orang tua abah guru, aku segera duduk memanjatkan doa setelah membaca doa masuk kubur. Aku ingat apa doa yang diperintahkan abah guru untuk dibaca selain doa standart untuk ahli kubur, baik yang umum maupun yang khusus.


Setelah beberapa saat membaca doa aku pun merasakan adanya angin yang bertiup menyapu kulit tubuhku. Namun agak aneh karena daun daun di sekitar makam tidak ada yang bergerak sama sekali. Padahal aku merasakan tiupan angin yang cukup kencang di sekitarku duduk.


Bahkan dalam kesendirian di makam itu aku merasakan agak merinding, meski tidak ada sesuatu yang Nampak. Namun seakan aku merasakan adanya kehadiran makhluk makhluk astral yang  cukup banyak.


Apakah seperti ini juga yang dulu ayahku alami saat disuruh ziarah dan melakukan wirid di makam, batinku. Desiran angin pun semakin kencang kurasakan, sampai aku merasa dingin bukan sekedar merinding, bahkan  agak menggigil.


“Tahu begini tadi bawa Jaket tebal.” Kataku dalam hati sambil terus melantunkan bacaan Fatihah yang dihadiahkan kepada kedua orang tua abah guruku. Dan samar samar aku mendengar ada suara,, yang semakin lama semakin jelas seperti menyebut namaku.


“Jafaaar… Jafaaar…kamu ngapain disini ? ayo pulang saja sana…!” suara itu terdengar meski agak samar. Namun kau tidak mempedulikan, karena aku diperintah oleh abah guruku, dan tidak berani melanggarnya.


Suara yang tidak ada wujudnya itu kembali terdengar, aku tidak mempedulikannya, mungkin ini sebagai ujian bagiku saja, pikirku. Aku terus saja melanjutkan membaca doa doa yang diperintahkan abah guru.


“Jafar,kamu harus bantu kakak kamu Sidiq, dia dalam bahaya karena ada musuh yang akan menyerangnya.” Suara samar tanpa ada wujudnya itu kembali terdengar….!?!


...Bersambung...


Tetap mohon dukungannya


like


komen


dan


Vote nya ya Reader tercinta.


...🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2