Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Upacara Pancamakarapuja 1


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Upacara Pancamakarapuja 1...


Kemudian Yasin mengajak Fatimah masuk ke dalam memberikan waktu Sufi dan Farhan berbicara empat mata diruang tamu. Yasin dan Fatimah hanya mengawasi dari kejauhan di ruang mujahadah...!!!


Baik Sufi maupun Farhan tampak kikuk untuk memulai bicara. Bahkan Farhan sampai berkeringat dingin berhadapan dengan Sufi berdua saja.


Sehingga Sufi lah yang memulai pembicaraan.


"Maaf Mas Farhan, Sufi mau jujur tentang diri Sufi. Biar Mas Farhan tahu siapa dan bagaimana Sufi. Agar Mas Farhan lebih kenal Sufi sebelum membuat keputusan nanti." Kata Sufi memulai pembicaraan.


"Iya silahkan, nanti giliran saya juga akan cerita." Jawab Farhan.


Sufi menghela nafas sebelum bercerita. Ada rasa malu dan ragu menceritakan kehidupan masa lalunya sebelum bertemu dengan Yasin. Bahkan Sufi sampai meneteskan air mata penyesalan saat bercerita.


Bagaimana awal kisah kehidupan asmaranya, saat mengikat tali kasih dengan Zulfan. Cinta tulus dan Cinta pertama Sufi.


Namun keadaan berkata lain sejak kedua orang tua Sufi meninggal karena kecelakaan. Sufi tertipu dan akhirnya jatuh ke lembah dosa jadi wanita penghibur.


Sejak saat itu Sufi tidak percaya dengan cinta dan laki laki. Bagi Sufi laki laki hanya butuh tubuhnya. Dan Sufi pun hanya butuh uangnya.


Sufi baru menemukan dirinya kembali saat disuruh seseorang untuk menggoda Yasin. Agar mau berzina dengannya.


Namun dalam perjalanan waktu, Sufi baru tahu jika Yasin yang digodanya adalah Ahmad Sidiq. Orang yang dikenalnya di masa kecil, dan masih sepupu jauhnya sendiri.


Dari situlah Sufi, sadar jika masih ada laki laki yang baik dan setia dengan istrinya. Sekaligus membuat Sufi menyadari kesalahannya selama ini.


Sufi bercerita dengan linangan air mata.


"Begitulah Mas Farhan, Sufi yang sebenarnya. Jangankan orang lain, Sufi sendiri merasa jijik dengan diri Sufi. Jadi Sufi tidak mau berharap banyak pada Mas Farhan. Diakui sebagai saudara saja sudah Alhamdulillah, bagi Sufi yang sudah bergelimang Dosa." Kata Sufi mengakhiri cerita nya.


"Jadi Dik Sufi dulu kekasih Zulfan? Bagiku masa lalu tidak penting. Yang penting adalah sekarang dan ke depan. Apalagi itu bukan keinginan Dik Sufi. Saya tetap mau menikahi Dik Sufi, sebagai pengganti Zulfan." Jawab Farhan.


"Sebaiknya Mas Farhan pikir dulu berkali kali Mas. Masih banyak wanita yang lebih pantas dibanding Sufi." Jawab Sufi.


"Tidak ada yang perlu aku pikirkan lagi. Selama ini terlalu banyak berpikir. Mungkin memang saat ini waktu yang tepat untuk memilih jodohku." Kata Farhan.


"Tidak Mas, Sufi takut Mas Farhan kecewa. Sufi persilahkan Mas Farhan istikharah dulu sebelum memutuskan. Jika memang hasil Istikharah Mas Farhan baik menikahi Sufi. Sufi siap serahkan hati Sufi sepenuhnya untuk Mas Farhan." Jawab Sufi.


Farhan pun menyetujui permintaan Sufi, dan meminta waktu seminggu untuk Istikharah.


Pembicaraan pun terhenti saat kumandang Adzan Maghrib.


.....

__ADS_1


.....


.....


Saat Yasin dan keluarganya melaksanakan sholat Magrib. Ditempat lain Ki Marto Sentono dan kelompoknya sedang mengobati Kala Srenggi dan Otang.


Dibantu juga oleh Ki Munding Suro dan Dua muridnya.


"Carikan adas pulo waras, bengle, Merica juga Jahe (nama jenis tumbuhan jamu dan obat herbal) biar aku buatkan ramuan untuk boreh ( luluran) luka." Kata Ki Munding Suro.


"Baik ki." Kata Jalu yang sangat menghormati Ki Munding Suro kakak Seperguruan Maheso Suro ayah Jalu.


Ki Munding Suro pun memerintahkan kedua muridnya untuk membantu membuat ramuan obat.


Gagak Seta dan Jaladara kakak beradik pun dengan tangkas membuat ramuan. Tinggal menunggu bahan yang sedang diusahakan Jalu.


Setelah semua bahan untuk ramuan diracik, kemudian Ki Munding Suro memerintahkan salah satu pengikut Ki Marto untuk meluluri tubuh Kala Srenggi dan Otang yang masih belum sadar.


"Bagaimana ceritanya Marto, kenapa mereka bisa terluka seperti itu?" Tanya Ki Munding Suro.


"Panjang ceritanya Ki Munding, intinya waktu itu kami berbagi tugas. Aku bersama Jaka dan Bayu Aji serta Jalu melawan Wanita asing yang memotong tangan Gandung Santosa. Sedang Ki Bujang dan Lembayung serta Kala Srenggi dan Otang, masing masing melawan anak anak Yasin pembunuh Ki Mahesi Suro. Dan ternyata mereka semua dapat dikalahkan oleh anak anak Yasin." Jawab Ki Marto.


"Apakah anak anak Yasin itu sudah Dewasa semua?" Tanya Ki Munding Suro.


"Belum Ki Munding, mereka masih remaja dan masih sekolah." Jawab Ki Marto.


Ki Munding Suro sangat terkejut mendengar Jawaban Ki Marto Sentono.


"Ampun Ki Munding Suro, tapi kenyataan memang seperti itu. Bahkan saya Sendiri pernah dibuat lumpuh oleh salah satu anak Yasin. Dengan Ilmu lebur Saketi." Jawab Ki Marto.


"Ong wilahing sekar bawono langgeng, tidak kusangka masih ada yang punya ilmu seperti itu. Pantas Maheso Suro bisa di kalahkan ayahnya. Anaknya saja seperti itu. Bojleng bojleng dajal laknat." ( Ungkapan kekesalan dan kemarahan Jawa Kawi)


Ki Munding Suro tampak memerah marah wajahnya.


"Paneluh, Jalu...!" Ki Munding Suro memanggil Gede Paneluh dan Jalu.


"Iya Ki Munding, ada perintah apa?" Jawab Gede Paneluh dan Jalu.


"Paneluh ambilkan pengaron (tempat air daribtanah liat) lengkap dengan kembang setaman." Ucap Ki Munding Suro.


Gede Paneluh dan Jalu pun segera menyediakan apa yang diminta Ki Munding Suro.


Kemudian Ki Munding Suro duduk bersila menghadap pengaron berisi air kembang.


Mulut Ki Munding komat kamit membaca mantra. Kedua tangannya bergerak memutar di atas pengaron berisi air kembang.


Tiba-tiba air dalam pengaron ikut berputar dan kembang yang ada di air itupun menepi. Sehingga di bagian tengah hanya ada air saja. Dan seketika dalam air nampak wajah Sidiq dan Jafar.


"Kaca Benggala...?" Ucap ki Marto spontan.


"Bukan, ini bukan kaca Benggala tapi ilmu Kaca Paesan. Itu kah anak anak Yasin?" Tanya Ki Munding Suro.


"Betul Ki Munding, itu kedua anak anak Yasin." Jawab Ki Marto Sentono.

__ADS_1


Semua ikut memandang ke dalam pengaron tersebut. Tiba-tiba air kembali berputar dan semakin kencang. Gambar Sidiq dan Jafar pun Hilang.


Semua Mundur ketakutan, kecuali Ki Munding Suro.


"Jagad Dewa Batara,,, ada kekuatan lain yang melindungi dua bocah itu." Kata Ki Munding Suro.


Air dalam pengaron pun semakin cepat berputar sampai hampir tumpah. Bahkan berubah menjadi panas dan mendidih.


Selanjutnya air itu muncrat ke atas mengarah ke wajah Ki Munding Suro.


Dengan sekali gerakan tangan air itu berbalik arah, pengaron pun sampai pecah. Butiran kembang yang ada ikut berhamburan di lantai.


"Ong wilahing sekar bawono langgeng, ada kekuatan langit yang melindungi mereka. Apa jadinya jika aku tak segera datang, kalian semua bahkan bukan tandingan anak anak Yasin. Apalagi Yasin." Ucap Ki Munding Suro.


"Lantas bagaimana Ki Munding?" Tanya Ki Marto Sentono.


"Adakan upacara Pancamakarapuja segera!" Jawab Ki Munding Suro.


"Apa itu Ki Munding?" Tanya Ki Marto Sentono.


"Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 atau 5 Ma, Mada atau mabuk-mabukan, Madura atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan. Mamsa atau makan daging mayat dan minum darah. Matsya atau makan ikan gembung beracun dan Maitunaatau bersetubuh secara berlebihan." Jawab Ki Munding Suro.


"Seberat itu ki?" Tanya Ki Marto Sentono


"Tidak ada sesuatu yang tidak berat. Semua butuh pengorbanan." Jawab Ki Munding Suro.


"Tapi Ki Munding, itu artinya harus cari wanita juga?" Tanya Ki Marto.


"Mau cari dimana terserah, yang penting ada. Juga tumbal ingkung manusia harus ada." Jawab Ki Munding Suro.


"Kalau soal wanita butuh berapa orang Ki Munding?" Tanya Ki Marto lagi.


"Sejumlah lelaki yang ikut, nanti harus bergantian dalam melayani lelakinya." Jawab Ki Munding Suro.


Tak satupun yang berani membantah Ki Munding Suro. Semua hanya bisa nurut, sehingga Ki Marto segera membagi tugas cari wanita dan korban untuk disembelih dan di buat ingkung untuk dimakan.


"Maaf ki Munding, bagaimana jika jumlah wanita tidak mencukupi?" Tanya Ki Marto.


"Jika kurang, yang melengkapi adalah anak istri kalian sebagai gantinya." Jawab Ki Munding Suro.


Semua diam, sudah terlanjur basah mau gak mau harus menuruti kemauan Ki Munding Suro.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2