
Perjanjian Terlarang
“Itu artinya kita juga harus berkoordinasi lagi pak.” Kata pak Yadi.
“Betul pak, kebenaran yang tidak terkoordinir bisa kalah dengan kebatilan yang terkoordinir. Itu salah satu Hikmah orang berjamaah pak.” Jawab Yas“Iya betul pak Yasin, kita harus bersatu seperti orang berjamaah. Meski beda posisi ada yang jadi Imam ada badal Imam ada muadzin dan sebagainya. Tapi semua saling mendukung dan berperan sesuai porsinya masing masing tidak saling berebut peran.” Jawab Pak Yadi.
“Wah hebat juga pak Yadi ini, Sena gak nyangka seorang Polisi tapi pengetahuan tentang Agama luar biasa juga.” Sahut Sena.
“Eeh jangan salah Sena, Polisi yang hafidz quran juga banyak kok. Jangan memandang orang dari profesinya. Justru aku lebih salut dengan orang seperti pak Yadi ini. Profesi sebagai Polisi, tapi dengan profesinya beliau tetap melakukan Syiar sesuai porsinya seperti yang beliau sampaikan tadi.” Jawab Yasin.
“Benar juga ya mas, bahkan maaf ‘ada’ tukang ceramah tapi malah dijadikan profesi bertarif mahal lagi.” Sahut Sena.
“Huush gak boleh bilang begitu, biar bagaimanapun mereka juga Syiar dan mengajak kebaikan. Soal tariff itu kan urusan mereka Sena. Kita gak boleh sok suci begitu, mereka juga butuh akomodasi dan sebagainya.” Ucap Yasin tidak mau membicarakan soal privasi orang atau aib orang.
“Astaghfirullah… ini mulut kok gak bisa dikontrol ya…!” Ucap Sena menyadari kesalahannya.
“Gak papa Pak sena, namanya juga manusia pakai kelepasan bicara.” Sahut pak Yadi.
“Makanya saya lebih suka slengean pak, walaupun kelepasan bicara orang tahunya hanya bercanda padahal kadang juga memang kelepasan beneran, ha ha ha…!” Kata Yasin sambil tertawa.
“Iya kalau pak Yasin saya sudah hafal kok, tapi karena pak Yasin juga istri saya bisa lebih mesra dan suka bercanda gak sepaneng seperti sebelumnya.” Sahut Pak Yadi.
“Masih ingat juga to pak, Owh iya bagaimana kabar mbak Siska istri pak Yadi…?” Tanya Yasin.
“Alhamduillah baik baik saja pak, kapan kapan main ke rumah pak. Istri saya juga sering nanyain kabar pak Yasin kok. Mungkin terkesan dengan pembicaraan dahulu ketika mengajari Istri saya merayu saya itu.” kata Pak Yadi.
“Wadu jangan bilang begitu pak, Nanti Sena pikir saya ini tukang merayu lagi.” canda Yasin pada pak Yadi.
Pak yadi hanya tertawa mendengar jawaban Yasin.
“Kan memang asina begitu to mas, ngapain harus ditutup tutupi. Nurul Istriku juga banyak cerita kok, mas Yasin pintar ngomong suka cerita dari kecil.” Ucap Sena mengingatkan masa kecil saat masih sama sama anak anak sering mengarang cerita untuk menghibur Nurul dan Zulfan sebelum tidur.
“Udah deh, jangan dibicarakan lagi aku malah jadi ingat adikku Zulfan kalau ngomongin itu.” Jawab Yasin.
“Loh ada tamu kok gak dibuatin minum sih mas ?” Kata Fatimah setelah menenangkan anak anak yang mengaji dan meminta mereka pulang.
“Aduh maaf pak Yadi sampai lupa dianggurin dari tadi. Ya buatin dong Fat, masak aku yang buatin minum.” Jawab Yasin.
“Ya maksudnya kenapa gak bilang ada tamu, ka nada Isna ada Utari juga tinggal minta tolong.” Jawab Fatimah.
Kemudian Fatimah kembali ke belakang menuju Dapur dan membuatkan Kopi buat suaminya dan Sena juga pak Yadi. Mereka asik ngobrol dengan topic pembicaraan santai meski sesekali juga membicarakan hal hal serius yang tengah terjadi. Hingga menjelang Maghrib pak Yadi mohon pamit untuk pulang ke rumah. Sementara Sena masih bertahan karena jarak rumahnya yang Jauh, mau pulang tanggung masuk maghrib.
“Nginep saja Sen…!” kata Yasin.
“Gak mas, Kasihan Nurul aku tadi gak pamit kesini soalnya. Nanti habis sholat maghrib Sena pulang saja.” Jawab Sena.
Kemudian muncul Isna dan Utari dari ruang dalam.
__ADS_1
“Makasih Paman Sena, tadi sudah menyelamatkan kami berdua.” Ucap Utari yang sudah tahu jika yang menolongnya bernama sena adik sepupu Fatimah dan istrinya juga adik sepupunya Yasin.
“Iya Paman, untung saja Paman Sena datang tepat waktu tadi kami sudah kelelahan sebenarnya.” Sahut Isna.
“Iya sama sama, kalian juga berlatih kanuragan sama mas Yasin kakakku ini ?” Tanya Sena.
“Iya paman, buat jaga diri saja kok.” Jawab Isna.
“Baguslah, memang zaman sekarang perlu juga gadis bisa menjaga diri seperti kalian tadi.” Kata Sena.
“Makasih paman…!” Jawab Isna dan Utari bersamaan dan segera bersiap untuk sholat maghrib berjamaah.
…..
…..
….
Flashback Pasca Pertempuran Mutsashi melawan Sena dan Yasin
Mutsashi yang melarikan diri sebenarnya tidak karena takut dengan Yasin dan Sena. Namun Pertemuan dengan Yasin secara langsung sudah cukup baginya untuk memastikan bahwa musuh Jalu dan gede pamungkas adalah orang yang dianggap musuhnya juga.
“Bagaimana Nyai, apakah berhasil melukai istri Yasin tadi ?” Tanya Jalu yang sudah menunggu mutsashi di tempat yang agak jauh.
“Tidak, ada laki laki yang menahan seranganku dengan tangannya. Bahkan berhasil menolong dua Gadis yang sedang berlatih juga. Saat aku menyerang dan hampir mengalahkan dia tiba tiba Yasin datang. Bagiku sudah cukup untuk saat ini.” Jawab Mutsashi.
“Maksudnya cukup bagaimana ?” Tanya Jalu.
“Setuju, nanti jika perlu aku dan kawan kawan akan bantu.” Kata Jalu.
“Tidak boleh, ini urusan kami Klan Yukimoto. Tidak boleh ada yang ikut campur, urusan kita sudah selesai sekarang. Kita tidak ada hubungan apa apa lagi.” Kata Mutsashi yang langsung menghilang dari pandangan Jalu.
“Wanita aneh, belum lama mengajak bermesraan kupikir dia suka padaku. Ternyata sekarang malah pergi begitu saja. Bodo amat aku udah untung ini.” Pikir Jalu yang heran dengan sikap Mutsashi dimana sebelumnya memberikan pelayanan layaknya istri kepada suami pada Jalu. Namun secara tiba tiba menghilang begitu saja dan mengatakan tidak lagi ada urusan.
Jalu tidak menyadari jika dia hanya sebatas alat untuk mencari keberadaan Yasin untuk Mutsashi bisa melakukan balas dendamnya. Setelah sekian waktu menyendiri dan memperdalam ilmu Ninjutsunya dengan Kitab Ninjutsu ala Klan Yukimoto.
Namun bagi Jalu yang baru pertama kali merasakan kehangatan wanita pengalaman dia dengan Mutsashi justru membuat rasa penasaran dia untuk mencoba dan mencoba lagi.
Flashback Off
….
Perilaku Jalu pun mengalami perubahan, selain berdarah dingin kini Jalu menjadi sosok yang haus akan wanita. Bahkan tindakan kasar akan dilakukan jika keinginan itu datang.
Hingga hal itu diketahui juga oleh Gede Paneluh yang kembali mengunjungi Jalu untuk melakukan Penyisiran pantai mencari keberadaan dalang Anyi anyi.
“Adi Jalu, kenapa kamu sekarang jadi berubah kamu jadi suka main perempuan ?” Tanya Gede Paneluh.
“Maaf kakang, Jalu jadi ketagihan semenjak diberi oleh Susiana saat sehabis memantau pemuda yang bernama Sidiq anak Yasin dulu.” Jawab Jalu Jujur.
__ADS_1
“Baru tahu ya kalau wanita itu hangat, memang selama ini apa yang kamu pikirkan adi Jalu ?” Tanya Gede Paneluh sambil tersenyum.
“Kemarin hanya balas dendam yang ada di pikiranku kakang. Jadi tidak pernah berpikir wanita sampai saat bertemu Susiana dan lihat jalan nya Susiana waktu itu.” Kata Jalu.
“Iya gak papa, kenapa gak minta ajian pemikat wanita padaku biar kamu juga disukai banyak gadis nanti.” Ucap Gede Paneluh.
“Iya ya kang, kenapa gak dari dulu bilang begitu kang ?” kata Jalu.
“Aku kira kamu dulu gak doyan wanita.” Jawab Gede Paneluh.
“Belum kepikiran saja kakang, owh iya berarti kakang banyak punya wanita itu juga pakai ilmu pemikat kang ?” Tanya Jalu.
“Iya pasti lah Adi Jalu, Kakang pelajari ilmu membunuh orang tanpa menyentuh (Santet) dan menaklukan hati wanita tanpa perlu merayu ( Pelet ) hanya tidak mempelajari ilmu ‘Ngepet’ ( Mencuri harta orang tanpa menyentuh.)” jawab Gede Paneluh.
“Ajari Jalu juga kang, kalau perlu Jalu akan buat Pacar pemuda yang bernama Sidiq itu jadi takluk padaku. Biar pemuda itu makin merana dan sakit hati.” Ucap Jalu.
“Itu gampang Adi Jalu, yang penting sekarang kita cari dulu keberadaan dalang Anyi anyi itu. Kita berangkat sore ini juga.” Kata Gede Paneluh.
Jalu pun sepakat mereka berangkat ke pantai selatan mencari tempat seperti yang diberitahukan oleh makhluk Astral di makam Maheso Suro dulu.
Gede Paneluh mengajak Jalu untuk melakukan sebuah Ritual untuk meminta izin kepada ‘Penguasa Gaib’ di wilayah setempat. Dengan menggunakan pakaian kebesaran Gede Paneluh. Jalu mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh Gede Paneluh.
Kemudian Gede Paneluh menyalakan kemenyan Jawa dengan ‘Kawul’ ( serpihan ) kayu cendana. Yang menimbulkan aroma menyengat kemenyan bercampur wangi kayu cendana.
Gede Paneluh pun segera membaca Mantra mantra pengundang makhluk Astral diikuti oleh Jalu yang duduk dibelakang Gede Paneluh. Dan kemudian terdengar suara kemrincing ‘Kelinting’ ( Lonceng kecil seperti pada gelang atau mainan anak anak). Bersamaan berhembusnya angin yang membawa aroma harum seperti Parfum seorang wanita.
Dan sesaat kemudian munculah sesosok wanita dengan pakaian kerajaan bagaikan seorang Putri pada zaman kerajaan dahulu. Kecantikan sosok itu membuat Jalu yang baru dimabuk Asmara jadi terkesima. Aroma parfum yang mengundang birahi ditambah penampilan sosok wanita itu yang sedikit terbuka justru membuat pikiran Jalu semakin liar membayangkan sesuatu yang hanya terlihat sedikit itu.
“Ada apa Paneluh, kamu mengundangku kemari ?” Tanya Sosok itu yang tahu jika yang diajak bicara adalah Gede Paneluh.
“Ampun Dewi,,, Saya bersama saudara saya ini Hendak mencari dalang anyi anyi.” Jawab Gede Paneluh.
“Sartnya tidak mudah, apa kalian nanti sanggup melakukan ?” Jawab sosok yang disebut Dewi tersebut.
“Apa syaratnya wahai Dewi Lanjar…?” Tanya Paneluh.
“Kalian haru menjadi tamu di kerajaan kami tiga hari tiga malam sebelum kalian membuat kesepakatan atau perjanjian. Dan jika kalian ingkar maka sukma kalian akan menjadi budak kami selamanya.” Jawab Dewi Lanjar.
“Perjanjianya seperti apa Dewi ?” Tanya Gede Paneluh.
“Tidak bisa disebutkan sekarang, kalau kalian mau silahkan ikut aku sekarang juga. Kalau tidak silahkan tinggalkan tempat ini sekarang juga.” Jawab Dewi Lanjar.
Sebuah bujuk rayu golongan Jin yang ingin menyesatkan manusia, sengaja tidak mau mengatakan perjanjian di depan karena tahu manusia yang menemui mereka adalah manusia manusia yang mabuk harta, mabuk wanita atau mabuk kekuasaan. Sehingga tidak mampu lagi berpikir logis, seperti halnya Gede Paneluh dan Jalu.
Saat Gede Paneluh menoleh kepada Jalu jalu pun hanya mengangguk setuju. Sehingga tanpa pikir panjang Gede Paneluh pun menyetujui permintaan Dewi Lanjar. Jadi tamu di kerajaan nya Tiga hari Tiga malam sebelum sumpah setia menjadi pengikut ‘Budak’ di kerajaan dewi Lanjar. Dengan Imbalan akan dipertemukan dalang Anyi anyi dan Jalu juga akan diberi ‘Susuk Pemikat Sukma’ yang bisa mempengaruhi gadis gadis agar mau di kencaninya.
Dan selama tiga hari tiga malam Gede Paneluh dan Jalu dijamu dengan hidangan yang mewah ala kerajaan Jin. Seandainya dilihat dengan mata lahiriyah manusia bisa tampak sebenarnya itu adalah barang barang yang menjijikkan. Tapi dimata Gede Paneluh yang sudah mabuk kekuasaan dan wanita itu yang tampak adalah makanan Lezat.
Tidak hanya sampai disitu saja, Gede paneluh dan Jalu juga dihibur dan bebas memilih wanita wanita ‘Dayang’ yang parasnya kelihatan sangat cantik bersih dan wangi dimata Gede Paneluh dan Jalu. Meskipun sebenarnya wujud mereka adalah seekor buaya ganas yang siap memangsa mereka.
__ADS_1
Begitulah gambaran jika orang melakukan sebuah perjanjian terlarang dengan makhluk Jin yang menyesatkan. Karena bagi mereka ( Kaum Jin ) semakin banyak menyesatkan orang akan menjadi semakin kuat…!!!
Bersambung...