
Kesan pertama sudah manja begini, harus segera mencarikan teman biar gak makin tertekan ini anak, batinku. Sesegera mungkin kau harus menemui Sena dan Nurul minta anaknya tinggal bersamaku menemani Nia. Mudah mudahan saja Nurul dan Sena mengijinkan…!!!
“Nama lengkap kamu siapa Nduk ?” tanyaku.
“Nama lengkap saya Kurnia Isnaini.” Jawab gadis itu.
“Berarti kamu anak kedua ya ?” kataku pada Nia.
“Iya om.” Jawabnya.
Aku agak risih dipanggil om sebenarnya, jadi kusarankan dia memanggilku abi atau bapak saja. Agar tampak akrab hubungannya seperti ayah dan anak.
“Panggil aku ayah, bapak atau abi saja mana yang kamu suka. Dan nama panggilan kamu aku ganti Isna di sini. Kamu boleh panggil istriku Ibu, bunda atau umi mana yang kamu suka.” Kataku pada Isna alias Nia.
“Baik Isna panggil abi dan umi saja, biar suasananya seperti di rumah Isna.” Jawabnya.
“Isna umi tunjukan kamar Isna sekarang yuk.” Kata Istriku yang senang ada teman ngobrol.
“Iya umi, Isna kok seperti gak Asing sama wajah umi ya ?” kata Isna.
Aku member isyarat pada Fatimah agar diam saja, tidak cerita kalau dia ibunya Jafar dan Nisa.
“Mungkin wajah umi memang wajah pasaran kali Isna.” Jawab Fatimah istriku.
Aku hanya senyum mendengar jawaban Fatimah. “ bisa juga ngeles istriku ini.” kataku dalam hati.
Aku duduk sendiri di teras rumah, sambil menunggu Isna dan istriku ngobrol di kamarnya. Bingung juga dititipi anak kyai di rumahku. Namun bagaimana lagi, ini amanah yang harus aku laksanakan. Aku berpikir bagaimana memberi pelajaran kepada Isna. Kalau soal kitab pasti sudah banyak diajari ayahnya, pikirku. Tapi ayahnya bilang kan aku harus mengajari soal Adab yang utama.
Aku jadi ingat ketika di pondok dulu abah guru Thoha menjelaskan jika orang yang belajar agama yang paling utama adalah membersihkan hati dulu. Karena hati adalah wadah, jika bersih maka akan dengan mudah menerima ilmu agama. Karena ilmu agama itu suci, jadi wadah atau hati yang bersih jadi sarat untuk menerima ilmu agama.
“Apakah itu maksut ayahnya Isna menitipkan dia kemari.” batinku.
Memang dalam beberapa hal ‘Adab’ jadi yang nomor satu pantas ayahnya menitipkan kesini. Isna sepertinya memang harus banyak belajar adab secara praktik. Bukan sekedar teori saja, kalau teori tentu ayahnya sudah sering membacakan Adabul ta’limul mta’alim karya Hadratus Syaikh Hasyim asy'ari. Dan aku diminta memberikan contoh dalam kehidupan nyata.
Saat aku sedang merenung tiba tiba Fatimah dan Isna muncul dari dalam dan ikut duduk bersamaku.
“Mas, kamu sekarang tiap pagi punya tugas mengantar Isna ke sekolah. Dan siangnya jemput Isna juga.” Tiba tiba Fatimah berkata seperti itu.
“Isna bisa naik motor sendiri gak ?” Tanyaku.
“Bisa sih bi, tapi masih agak takut soalnya jaraknya agak jauh dan jalurnya cukup ramai.” Jawab Isna.
“Kalau begitu awal awal aku antar, tapi Isna sambil belajar bawa motor sendiri nanti ya ?” kataku.
“Jangan langsung dilepas mas, kasihan Isna.” Kata Fatimah yang selalu cenderung memanjakan anak.
“Anak sudah gede memang harus diajarkan mandiri dong.” Jawabku.
Ternyata Isna cepat akrab dengan Fatimah istriku, hingga bisa ngobrol panjang lebar dengan istriku. Bahkan tidak segan Isna bermanja dan menyandarkan tubuh ke Fatimah istriku. “ada apa ini kok Isna begitu cepat akrab dengan istriku. Bukanya tadi aja masih nangis ditinggal orang tuanya.” Kataku dalam hati.
Hingga terdengar adzan dhuhur Isna masih Nampak Asik ngobrol dengan istriku bahkan ikut Fatimah menjaga warung. Meski sifat asli manjanya masih Nampak, saat di warung juga hanya duduk duduk saja melihat Fatimah sibuk melayani pembeli. “Yaa pantas orang tuanya agak kerepotan, sifatnya masih manja seperti anak kecil begitu.” Batinku.
…..
…..
…..
“Fat, kamu ajak Isna belanja gih tanya dia mau makan siang apa.” Kataku ke Fatimah setelah sholat dhuhur.
“Isna mau makan siang dengan apa ?” tanya Fatimah.
“Belum tahu umi, Isna bingung mau makan siang pakai apa.” Jawab Isna.
Rupanya sekedar memilih menu saja Isna masih harus berpikir. Ini jelas menunjukkan dia kurang bisa mengambil keputusan. Peragu dan penuh kebimbangan dalam mengambil keputusan.
“Enaknya panas panas begini bikin sup aja Fat, lauknya terserah kalian mau apa ?” sahutku.
“Iya umi, enakan sup kaki ayam nanti lauknya tempe goreng sama sambal tomat.” Kata Isna.
Fatimah pun mengikuti kemauan Isna dan mengajak Isna belanja sesuai keinginan Isna.
Hari pertama Isna kami perlakukan selayaknya tamu yang harus di hormati oleh tuan rumah. Makan kami sediakan, kami tawarkan seperti layaknya tuan rumah yang menghormati tamu. Begitu juga dengan hari kedu dan hari ke tiga, Isna kami perlakukan selayaknya tamu yang harus di hormati.
Dan pada malam ke empat Isna di rumahku, saat aku dan Fatimah hendak beristirahat di kamar.
“Besok sudah hari ke empat Isna di sini, jadi jangan diperlakukan sebagai tamu lagi. Tapi perlakukan dia sebagai anggota keluarga kita Fat.” Kataku pada Fatimah.
“Tapi Fatimah agak sungkan mas, dia kan anak dari senior kita ?” jawab Fatimah.
“Sama aku juga, tapi ingat tujuan dia disuruh kemari kan kita disuruh mengajarkan Adab. Dan ini dalam rangka memberi dia pelajaran Adab secara real. Buka sekedar teori, Selain itu mulai besok juga Isna harus mulai disuruh mengaji. Kamu yang bombing dia yang sesame wanita.” Kataku.
“Mau mulai dari mana mas ?” tanya Fatimah.
“Tanya saja sama Isna dia ngajinya sampai mana, ngajinya kitab apa saja kamu yang bombing dia secara teori. Nanti aku yang ajarkan dia mempraktekan.” Ucapku ke Fatimah.
“Berarti mulai sore hari habis ashar dan malam setelah maghrib sampai Isya saja mas.” Jawab Fatimah.
“Bagaimana baiknya saja Fat, aku sambil berpikir juga. Kalau perlu libatkan dia untuk mengajar anak anak juga nanti.” Kataku ke Fatimah.
“Ya pelan pelan kalau itu mas, biar Isnabetah dulu saja.” Jawab Fatimah.
“Coba kamu cek dia lagi ngapain sekarang, udah tidur apa belum !” pintaku pada Fatimah.
Fatimah pun melihat Isna ke kamarnya kuikuti dari belakang,kemudian memanggil Isna.
“Isna,,, sudah tidur belum ?” tanya Fatimah dari luar kamar Isna.
“Belum umi,,, ada apa ya ?” jawab Isna.
“Bagaimana mas ?” tanya Fatimah berbisik.
“Suruh keluar sebentar, kita kasih tahu kalau mulai besok dia harus ngaji.” Jawabku.
“Keluar sebentar umi sama abi mau bicara sebentar saja.” Ucap Fatimah.
“Gak di dalamkamar Isna saja Umi ? Isna sambil catat pelajaran sekolah.” Jawab Isna.
“Yasudah ikutin dulu saja, anak itu memang perlu bimbingan khusus.” Bisikku ke Fatimah.
__ADS_1
Dalam hati aku berkata, “harus benar benar dari dasar mengajari Adab dan Akhlak anak ini.”
Kemudian kami pun masuk ke kamar Isna, memang kulihat Isna masih mncatat pelajaran sekolahnya.
“Isna besok bantu ngajar ngaji anak anak ya kalau sore ?” kata Fatimah istriku.
“Boleh umi, tapi kapan Isna akan mulai belajar mengaji dan kata abi di rumah, Abi di sini juga mau ngajarin Isna beladiri. Selama disini belum pernah berlatih lagi, bada Isna jadi pegel.” Jawab Isna.
Aku jadi agak kaget mendengar Isna mau belajar beladiri, padahal aku sendiri sudah lama gak pernah lagi menggunakan jurus.
“Abi tu dah lama gak gunakan jurus Isna, tapi gak papa lah kalau Isna mau belajar. Memang Isna dirumah juga belajar beladiri ?” tanyaku pada Isna.
“Iya, hampir tiap sore malah pelatih Isna yang baru malah orangnya keras kalau ngajar meski orangnya pendiam.” Kata Isna.
“Keras bagaimana, galak gitu maksudnya ?” tanya Fatimah.
“Bukan mi, tapi latihannya itu berat awal Isna ikut latihan malah sampai jengkel karena terlalu berat.” Jawab Isna.
“Ya sudah besok abi ajari sesuai kemampuan Isna saja. Gak usah berat berat, tapi kalau soal ngaji gak boleh ditawar ya ?” kataku ke Isna.
“Ya sudah kalau begitu, nanti kalau udah selesai belajar langsung istirahat saja Isna.” Ucap Fatimah.
Kami pun segera kembali ke kamar.
…..
…..
…..
Pagi hari usai sholat subuh aku bilang ke Isna.
“Hari ini Isna sudah empat hari tinggal disini, jadi mulai hari ini Isna sudah kuanggap keluarga bukan sebagai tamu lagi. Jadi kalau mau makan atau apapun tidak perlu lagi di tawari, tapi ambil sendiri ya.” Kataku ke Isna.
Isna terdiam sesaat, agak canggung mungkin malau atau gimana kalau mau makan ambil sendiri, pikirnya.
“Isna sudah pernah dengar itu belum ? kalau sudah lebih dari tiga hari perilakunya bukan seperti tamu tapi seperti keluarga ?” tanya Fatimah.
“Iya pernah denger juga sih, tapi hampir saja gak ingat soal itu.” Jawab Isna.
“Namanya Ilmu kalau tidak diamalkan memang akan gampang lupa Isna. Tapi kalau diamalkan maka akan semakin paham.” Sahutku.
“Maksutnya bagaimana bi ?” tanya Isna.
“Isna ingat kisah Sahabat Ali ra ? saat ditanya penting mana antara harta dengan ilmu ? dari sekian banyak orang yang bertanya, semua jawabanya berbeda tapi semuanya benar ?” tanyaku ke Isna.
“Belum pernah denger itu, bagaimana bisa jawaban berbeda semuanya benar ?” tanya Isna.
“Iya, ketika ditanya seperti itu Sahabat Ali Ra, jawabnya adalah penting Ilmu, alasnya yang berbeda beda. Orang pertama yang bertanya dijawab karena Ilmu semakin diamalkan semakin bertambah, yang kedua karena ilmu menjaga kita, sedang harta kita yang harus menjaga dan seterusnya. Nah jawaban pertama itu mengajarkan kepada kita bahwa ilmu harus diamalkan biar bertambah. Kalau tidak bisa lupa seperti Isna tadi.” Begitu penjelasanku kepada Isna untuk membuka sebuah pembelajaran agar Isna mau semangat mengamalkan ilmu bukan sekedar menghafal saja.
Awalnya Isna agak merasa berat, tinggal bersama kami. Bahkan mulai di didik mencuci piring sendiri, masak sendiri bahkan mengerjakan pekerjaan rumah yang selama ini tidak pernah Isna lakukan. “benar benar anak yang manja” kataku dalam hati saat awal awal melihat Isna yang selalu mengeluh mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
Namun aku dan istriku tetap sabar mendidiknya meski kadang Isna kadang mengeluh. Sehingga aku mulai berpikir mencarikan partner untuk Isna dan yang masuk ke dalam pikiranku adalah anak Gadis Sena dan Nurul. Sekaligus juga untuk mendekatkan lagi hubungan keluarga yang sudah jarang berkomunikasi, karena kesibukan masing masing.
*****
Sidiq POV
“Bagaimana Ris, rasanya orang bekerja enak gak ?” tanyaku ke Riska.
“Ada enaknya tapi ada gak enaknya juga.” Jawab Riska.
“Maksutnya ?” tanyaku.
“Enaknya jadi tambah ilmu dan pengalaman, gak enaknya kalau pas ada komplain dari konsumen. Kadang kurang pahamnya konsumen jadi sulit jelasinnya.” Jawab Riska.
“Ya wajarlah, kamu kan belum satu bulan lama lama kita akan terbiasa menghadapi komplain. Dan dari komplain konsumen itulah yang membuat kita jadi tambah pintar Ris.” Jawabku.
“Memang mas Sidiq mau menekuni usaha ini mas ?” tanya Riska.
“Bisa jadi ya, tapi juga belum tentu Ris. Memang ada rencana nanti mau mencoba buka usaha sendiri juga. Kan bisa sambil sekolah atau kuliah kita menjalankan usaha.” Kataku.
“Kita ? memang mas Sidiq mau ajak Riska juga nanti ?” tanya Riska.
“Bukan begitu, maksudku aku buka usaha dan kamu juga buka usaha sendiri. Bukan gabung jadi satu, bisa bahaya dong kalau kita bersama terus Ris.” Jawabku.
“Kirain aja, mau ngajak Riska, tapi….?” Ucapan Riska terhenti sesaat.
“Tapi apa Ris ?” tanyaku penasaran.
“Gak ah gak jadi aja.” Kata Riska.
“Aah kamu bikin penasaran saja.” Gerutuku.
“Takut mas Sidiq marah nanti.” Ucap Riska.
“Marah kenapa ?” tanyau mendesak Riska.
Belum sempat Riska menjawab obrolan terhenti karena ada dua orang datang.
“Permisi mbak, mau cari aksesoris lihat dan tanya tanya dulu boleh ?” Tanya orang tersebut.
“Iya boleh saja, silahkan mau cari apa mas ?” jawab Riska.
“Begini mbak, HP saya ini sekarang jarang bordering ada gak ya aksesoris yang bisa bikin HP saya jadi sering bordering ?” tanya orang itu. membuat Riska jadi bingung apa yang dimaksud. Aku sedikit melirik kepada orang tersebut.
Rasanya aku pernah bertemu tapi siapa dan dimana aku agak lupa. Tapi kayaknya hanya akan cari masalah orang ini dengan menggoda Riska, batinku. Tapi selama gak keterlaluan demi profesionalisme kerja aku biarkan saja lah.
“Maaf saya gak tahu maksudnya bagaimana ?” jawab Riska pelan.
“Ya maksudnya saya minta aksesoris berupa nomor HP mbaknya yang cantik, biar kita bisa saling kontak dan HP saya jadi sering bordering.” Ucap orang itu sambil memandang Wajah Riska dengan tatapan mata liarnya.
Aku diam sambil mengingat siapa orang tersebut, apakah sengaja menggoda Riska karena iseng saja atau memang mau cari masalah denganku belum jelas.
“Maaf mas, saya harap sopan kalau bicara kalau sekedar iseng saya harap mas pergi saja. Takut nanti mengganggu pembeli yang lain.” Jawab Riska.
“Lah kok malah ngusir sih mbak, kan saya memang mau cari aksesoris berupa no HP mbak. Biar kita bisa saling kontak gitu.” Ucap orang itu sambil tangannya mau mencolek dagu Riska. Untung bisa ditepis oleh Riska.
Aku mulai tidak senang melihatnya, dan makin berusaha mencari siapa orang itu sebenarnya. Kenapa sengaja mengganggu Riska dan seakan memancing kemarahanku. Karena beberapa kali ku lirik matanya justru memandangi aku.
__ADS_1
Aku sampai menghentikan aktivitasku, untuk fokus mengingat siapa orang itu. Akhirnya aku ingat juga, orang itu yang dulu pernah servis Hp. Orang yang dulu ikut berencana mau melukai Jafar adikku. Tapi mau apa dia kesini, apa mengira aku adalah Jafar. Terus apa hubungan dia dengan Bagas atau mungkin Prasetyo.
Aku mulai mengawasi gerak gerik orang itu, agar jangan sampai terlena sedikitpun.
“Mas jangan kurang ajar ya, saya bisa teriak nanti.” Ucap Riska mengancam.
Namun orang itu malah semakin menjadi berusaha memegang tangan Riska dan menariknya. Aku sudah tidak bisa berdiam diri lagi.
“Lepasin mas, atau memang mau sengaja cai ribut di sini ?” kataku masih dengan nada pelan.
“Syukurlah kalau kamu merasa, apa kamu masih ingat aku ?” Kemudian dia kembali ke motornya dan mengenakan Helm yang sudah rusak.
“Kamu ingat aku sekarang ?” tanya orang itu.
Aku cukup kaget melihat orang itu, dan aku ingat jika orang itu juga yang dulu ditendang Jafar sampai helmnya pecah kemudian dibawa kabur oleh temannya.
“Owh rupanya kamu orangnya, apa masih belum kapak juga ?” tanyaku.
“Kamu atau saudara kamu yang dulu sudah menendangku sampai helmku pecah, dan aku sekarang mau menuntut balas kepadamu.” Kata orang itu yang belum tahu yang menendang helmnya dulu Jafar atau aku. Dan sekarang mau membalas dendam.
“Jangan di sini lah, ini tempat usaha dan bisa jadi kamu yang akan dihajar masa kalau bikin ribut di sisni nanti.” Kataku.
“Aku juga gak sebodoh itu, aku hanya peringatkan kamu saja nati pulang hati hati. Jangan bilang aku tidak kasih kamu peringatan nanti.” Ucap orang itu.
Kemudian orang yang satunya ikut bicara.
“Aku dengar kamu cukup hebat, dan aku jadi penasaran sehebat apa dirimu. Aku mau mencoba sampai dimana kehebatan seorang bocah seperti kamu. Apakah mampu mengalahkan murid perguruan ki Marto Sentono.” Ucap orang itu.
“Gak ada nama yang lebih bagus apa, dari Marto Sentono ? Sekarang Jaman Naruto bukan Zaman Marto.” Ledekan ke orang itu.
“Jaga mulut kamu, ki Marto Sentono adalah saudara seperguruan Joyo Maruto pendekar tak terkalahkan di zamannya.” Bentak orang itu.
“Aku bahkan tidak kenal sama sekali dengan apa yang kamu bicarakan, apa kamu mau bilang kalau kamu adalah keturunan Naruto Subaki saudara Naruto uzumaki apa urusannya denganku.” Jawabku.
“Dasar bocah ngelunjak, namaku Jaka Santosa orang panggil aku telapak tangan besi.” Kata orang itu dengan nada marah. Kemudian mengambil sebilah batang Besi dan memamerkan kekuatannya, dengan membengkokkan besi tersebut.
Riska ketakutan berdiri dibelakangku dengan berpegangan dan menyembunyikan wajahnya di punggungku. Meski sebenarnya aku juga kaget, tapi aku tidak ingin menambah Riska panik. Jadi aku tetap tenang dan waspada segala kemungkinan.
“Terus apa mau kamu sekarang ?” tanyaku.
“Sudah kubilang, mau menjajal kemampuan kamu sampai sejauh mana kamu bisa bertahan menghadapi aku nanti.” Jawab orang tersebut.
“Tentukan saja tempat dan waktunya, mau satu lawan satu atau bagaimana ?” jawabku.
“Aku akan tunggu kamu nanti di perbatasan Desa ini, di sebuah area hutan kecil. Kamu boleh ajak teman jika takut Sendiri, dan aku cukup berdua saja sebagai saksi nanti.” Ucap orang itu.
“Baik, aku terima tantanganmu.” Jawab Aku tidak ingin berlama lama.
Dua orang itu pun pergi meninggalkan counter.
“Mas Yakin mau melawan orang itu ?” Tanya Riska.
“Gak ada pilihan Lain Riska.” Jawabku.
“Orang itu sangat hebat mas, besi saja bisa dengan mudah dibengkokkan begitu.” Kata Riska khawatir.
“Besi itu benda mati Riska, jangan disamakan dengan manusia. Meskipun secara materi keras besi, tapi besi itu tetap olahan manusia juga. Jadi tidak lebih hebat dari manusia.” Jawabku.
“Tapi orang itu kuat banget mas, bahkan dengan satu tangan bisa bengkokin besi dengan mudah.” Kata Riska.
“Kamu tenang saja, Insya Allah tidak akan terjadi apapun padaku.” Jawabku.
Agak susah aku menenangkan Riska, namun akhirnya Riska hanya berpesan.
“Jika membahayakan lebih baik lari saja mas nanti, atau ajak teman yang sekiranya bisa membantu kamu. Toh dia jauh lebih dewasa dari kamu.” Pesan Riska.
“Iya, nanti aku akan ekstra hati hati dan akan cari cara biar aman.” Jawabku.
Aku berpikir bagaimana cara menghadapi orang tersebut, dan tanpa terasa waktu sholat Ashar sudah tiba. Aku segera pamit ke Riska untuk sholat ashar lebih dahulu, bergantian dengan Riska.
Setelah sholat aku merenung di tempat servis sambil menunggu Riska sholat juga.
Tiba tiba aku teringat pesan abah guru tentang api dan air, api akan menyebabkan kebakaran jika tidak terkendali. Dan Air akan menyebabkan banjir jika tidak mendapatkan saluran yang cukup.
Api dan air adalah dua sumber energy yang berlawanan sifatnya. Namun keduanya bisa bersinergi da bermanfaat bagi manusia jika dikendalikan dengan benar. Dalam tubuh manusia ada sumber energi alami yang bisa dikembangkan dan dikendalikan. Jika memadukan antara olah nafas (Udara) dan aliran darah jangankan membengkokkan besi, mematahkan pun bisa.
Tapi waktu semakin sempit jika aku harus melatih itu saat ini, aku harus cari cara lain untuk mengalahkan kekuatan orang tadi, pikirku. Aku berpikir keras memecahkan masalah ini, aku jadi ingat kisah saat ayahku mengalahkan Birowo yang sangat sakti bukan mengandalkan kekuatan tapi kecepatan. Jadi aku harus meniru itu untuk saat ini, aku harus memanfaatkan kecepatan gerak dari pada sekedar kekuatan.
Saat waktu pulang tiba, aku dan Riska segera pamit kepada Koko dan menyerahkan catatan hasil servis dan penjualan hari itu. kemudian kami pun pulang, dengan lebih dahulu Riska mengantarku sampai jalan raya.
“Hati hati mas, jangan malu jika bahaya lari saja.” Pesan Riska kepadaku.
“Iya, aku juga gak akan berbuat konyol tetap jaga keselamatan diri juga.” jawabku
Aku naik angkot Menuju ke tempat Jaka Santosa tadi menungguku.
Sampai di lokasi langsung disambut oleh Jaka Santosa.
“Berani juga kamu datang sendirian ?” ucapnya.
“Gak ada yang perlu ditakutkan.” Jawabku.
Jaka langsung menyerang aku, dan aku menangkis tangan yang hendak memukulku. Aku agak kaget tangan dia memang keras sekali aku seperti memukul sebatang besi yang keras.
“Benar benar kuat ini orang, gak bisa diremehkan.” Batinku.
Jaka kembali menggempur dengan garang, seakan ingin segera menjatuhkan aku. Aku justru khawatir jika dia juga akan mencari Jafar adikku nantinya. Dan waktu yang sudah cukup sore juga membuat aku pun ingin segera melumpuhkan dia.
Namun ternyata tidak mudah, beberapa kali justru tanganku yang sakit ketika menangkis serangan. Sementar dia seperti tidak merasakan apapu juga. Aku harus bisa menemukan titik lemahnya dengan cepat. Kalo begini terus bisa bisa aku yang babak belur, batinku.
Aku melompat mundur agak jauh mengatur serangan berikutnya sambil mencoba melihat kelemahan si Telapak tangan besi tersebut. waktu sudah sore, cahaya matahari sudah meredup terhalang pepohonan tinggi. Hanya bias sinar yang menembus pepohonan yang ada.
Aku harus hindari tanganya, dan menyerang bagian tubuhnya yang lain. Pasti akan ketemu titik lemahnya nanti, pikirku. Saat Jaka mengejarku aku baru sadar kalau jaka jalanya tidak rata alias agak pincang di kaki kirinya. Pasti itu kelemahan dia, aku harus bisa menyerang kaki kirinya, batinku.
Aku mencari kesempatan untuk bisa menyerang kaki kirinya, dan ada kesempatan saat aku berhasil menghindari serangan tangan. Jaka terhuyung ke depan, aku segera memutar tubuh dan menendang paha kaki kirinya. Jaka menjerit dan terguling, namun aku tidak menyangka kakinya pun terasa keras seperti besi juga. Sehingga aku pun kesakitan dan terjatuh menahan sakitnya kakiku yang seakan jadi mati rasa. Seperti habis menendang tiang listrik yang kokoh, dan ternyata itu bukan kelemahan jaka. Karena jaka cepat bangkit berdiri dan hendak menyerangku lagi yang masih menahan Kebas di kakiku…!!!
Bersambung...
mohon dukungan dari reader
__ADS_1
Terimakasih