Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq Sakit pasca Fida’ Istighfar


__ADS_3

Sidiq Sakit pasca Fida’ Istighfar


 


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


Lita jadi kaget, mendengar keterangan Riska. Namun Lita juga tidak mau hubungan Sidiq dan Riska hancur. Diam diam Lita berencana mengontak Vina adiknya, untuk menceritakan apa yang terjadi dengan Sidiq dan Riska. Tanpa Lita tahu jika Sidiq saat ini sedang berada di pesantren Vina juga, sehingga besar kemungkinan Sidiq akan mendengar berita itu juga…?


“Cinta itu harus diperjuangkan Ris, kamu gak boleh menyerah begitu saja. Lita ikut senang kamu dapat pacar Sidiq.” Kata Lita.


“Lo pikir Riska gak suka ? Justru karena Riska sayang makanya gak ingin mas Sidiq terancam bahaya. Karena Jalu di belakang Ari.” Jawab Riska.


“Kamu lupa, Sidiq punya adik yang namanya Jafar. Bahkan Jafar mampu mengalahkan Jaka dan seluruh padepokan ?” Kata Lita.


“Masalahnya Jalu iu bukan Jaka, Jalu orang dengar namanya saja sudah pada takut.” Jawab Riska.


“Gak Ris,,, kamu gak boleh gitu pokoknya.” Bantah Lita.


Riska hanya terdiam, dalam hati kecilnya tetap tidak ingin Sidiq celaka. Karena baru saja Sidiq sampai mengalami patah kaki. Namun di sisi lain Riska sendiri tidak rela berpisah dengan Sidiq.


*****


Sidiq yang cukup lama berdiam diri  di parkiran merasa Yakin jika Riska sudah pulang ke rumahnya. Kemudian melajukan motornya berangkat ke tempat kerjanya, sambil berpikir apa yang akan dilakukan jika bertemu Riska nanti.


Tanpa di sadari Sidiq ada beberapa pasang mata yang mengawasi Sidiq.


“Lihat akibatnya,,, kita kalah menggunakan otot tapi menang menggunakan akal, ha ha ha…!” Ucap Ari dan pada Herman dan Jefri.


“Betul, dan aku yakin Riska sudah ketakutan mendengar jika bang Jalu saat ini juga mau melawan Sidiq jika dia mengganggu kita.” Ucap Jefri.


“Gila lo pada, punya akal licik sampai segitunya. Perlu dicontoh nih, kalau gebetan gue diambil orang lain.” Sahut Herman.


Mereka bertiga pun tertawa bahagia melihat Sidiq dan Riska sedang dalam masalah. Dan mereka hampir yakin jika Sidiq dan Riska akan putus hubungan. Mereka pun segera melangkah pulang setelah memastikan Sidiq juga sudah pulang.


Sementara Sidiq dalam perjalanan ke tempat kerjanya dibebani pikiran yang kalut dan bingung. Apa yang harus dilakukan jika bertemu Riska di tempat kerja nanti. Sidiq pun menyusun kata kata dan rencana jika nanti bertemu Riska. Namun ternyata Riska sudah dilarang orang tuanya ikut bekerja dengan Sidiq lagi, tanpa Sidiq ketahui.


Dan setelah sampai tempat kerjanya, Sidiq segera berganti baju kerja dan tanpa banyak bicara langsung mengambil tool box untuk servis HP. Meski pikiran sedang kalut tapi Sidiq tetap berusaha fokus untuk bekerja. Mengingat punya tanggungan mengganti ongkos berobat Muksin karena kelalaiannya.


Sidiq dengan semangat mengerjakan HP yang ringan Riska yang biasanya sudah datang saat itu belum datang juga. Hingga beberapa saat Sidiq baru tersadar jika seharusnya Riska sudah datang.


“Kok Riska belum datang juga ya, apa dia kenapa napa ?” tanya Sidiq dalam hati.


Insting Sidiq tiba tiba merasa was was dengan Riska.


“Gak seharusnya juga tadi pagi aku Chat seperti itu, mungkin Riska jadi marah dan gak mau ketemu aku lagi sekarang. Tapi bagaimana lagi, harusnya dia kan bilang gak hanay diam balas chat pun tidak. Sidiq kan jadi gak ngerti apa maunya.” Kata Sidiq dalam hatinya.


“Ngelamunin apa Diq, teman kamu udah berhenti kerja. Tadi orang tuanya kesini memintakan izin, karena mau fokus belajar sudah mau ujian katanya.” Kata kokoh pemilik counter.


Sidiq kaget, dan berpikir “ ini pasti gara gara kejadian tadi pagi, Riska gak mau ketemu aku lagi sekarang.” Batin Sidiq.


“Owh pantas jam segini gak datang.” Jawab Sidiq singkat seakan tak bersemangat lagi mendengar itu.


“Yasudah besok kita cari ganti lagi saja, atau kamu ada pandangan lagi. tapi jangan yang baru berapa hari udah keluar aku gak suka yang begitu.” Ucap Kokoh.


“Iya koh, Sidiq usahakan nanti.” Jawab Sidiq.

__ADS_1


“Ok aku mau keluar sama mami kamu sendirian dulu ya Sidiq.” Kata kokoh sambil keluar toko bersama Istrinya.


Sidiq hanya mengangguk saja, jadi kehilangan mood untuk servis. Sidiq benar benar tertekan saat itu. bahkan sampai pulang pun Sidiq masih saja memikirkan Riska. Karena Sidiq mengira Riska keluar atas kehendak sendiri yang tidak mau bertemu dengan Sidiq lagi.


Sampai di Pondok Al-Huda Sidiq langsung di cegat Muksin dan Arsyad.


“Maafkan kami gus Sidiq, saya tidak tahu jika gus Sidiq anak dari adik seperguruan abah Syuhada.” Ucap Muksin diikuti Arsyad.


“Iya gus, kami mengaku salah dan gus Sidiq tidak perlu mengganti ongkos berobat kang Muksin karena kemarin pakai uang saya.” Sahut Arsyad.


“Gak papa aku ikhlas kok, dan aku memang salah. Tapi gak usah panggil gus, aku gak layak dipanggil gus. Udah panggil nama saja malah lebih enak di dengar.” Jawab Sidiq langsung meninggalkan Muksin dan Arsyad.


Muksin dan Arsyad pun kembali ke kamar masing masing, mereka tidak menyangka jika Sidiq pun bisa bersikap lembut. Sifat keras Sidiq tidak selalu digunakan pada setiap kesempatan, hanya pada saat saat tertentu saja. Sehingga rasa penyesalan mereka berdua pun semakin besar kepada Sidiq terutama yang sampai harus menjalani ta'zir.


Sidiq merebahkan badannya sebentar di kamar Jafar.


“Kayaknya kok lagi gak bersemangat mas, ada apa lagi ?” Tanya Jafar.


“Aku agak capek menempuh perjalanan jauh Jafar.” Jawab Sidiq.


Jafar terdiam, meski menangkap ada hal yang tidak beres pada Sidiq kakaknya.


“Mas Sidiq mau kopi, Jafar bikini ya ?” tanya Jafar.


“Gak usah, nanti aku bikin sendiri saja kamu saja kalau mau ngopi silahkan.” Jawab Sidiq.


“Sebenarnya mas afar kenapa kok  murung begitu ?” tanya Jafar.


“Gak papa kok dik, mas Sidiq hanya malu sama ayah bunda. O iya semalam ayah berpesan jika melawan musuh yang tidak tampak disuruh menggiring ke dekat tower air. Katanya akan Nampak meski samar samar.” Kata Sidiq.


Jafar terdiam sesaat mencerna perkataan Sidiq kakaknya.


“Hmm… kayaknya Ayah punya trik khusus mas, bukan lantas kalau dekat air jadi Nampak.” Jawab Sidiq.


“Kira kira nanti siapa yang akan maju melawan wakil mereka mas Sidiq atau Jafar ?” Tanya Jafar kemudian.


“Kita Lihat situasi dan kondisi saja, jika perlu berdua ya berdua.” Jawab Sidiq.


“Tadi Abah bilang, Ayah besok akan kesini mas. Ada yang hendak disampaikan ke kita lagi.” Kata Jafar.


“Tapi aku kan gak boleh keluar kamar ?” jawab Sidiq.


“Boleh kalau nanti malam selesai fida’nya. Memang kurang berapa mas ?” Tanya Jafar.


“Baru dapat separuhnya, mungkin nanti malam bisa aku selesaikan.” Kata Sidiq.


“Iya mas, kan istighfar pendek saja. Jafar dulu semalam suntuk selesainya.” Kata Jafar.


Kakak beradik itu pun berbicara perihal persiapan menghadapi lawan Padepokan Jaka. Tanpa mereka tahu jika nanti yang ditunjuk untuk wakil Padepokan justru ayah mereka sendiri. Yang sudah menyiapkan Trik khusus untuk mengalahkan mereka semua.


…..


…..


Usai sholat Isya, Sidiq langsung memulai membaca Fida’ Istighfar. Sementara Jafar setelah mengaji bersiap berangkat Ziarah ke makam.


Sementara Muksin dan Arsyad berbincang bincang membicarakan Sidiq dan Jafar.


“Kang, aku dengar Gus Sidiq dan gus Jafar bermusuhan dengan orang orang padepokan yang menyebabkan ada kesalah pahaman kita kemarin.” Kata Arsyad yang sekarang hormat pada Sidiq dan Jafar juga Nisa.


“Aku dengar juga begitu, tapi aku yakin akan kemampuan mereka berdua kok. Dan sudah pernah melihatnya sendiri.” Ucap Muksin.


“Iya lah kalau itu Arsyad juga yakin kang, tapi alangkah baiknya kita membantu mereka.” Ucap Arsyad.

__ADS_1


“Membantu dengan apa ? kita berdua lawan salah satu dari dua gus itu juga gak bakal menang.” Jawab Muksin.


“Kita selidiki saja markas mereka, kita amati dan hasil pengamatan kita laporkan kepada Mereka kang. Bukan membantu pertarungannya.” Kata Arsyad.


“Boleh juga Sih, tapi kan tempatnya jauh dari sini ?” Kata Muksin.


“Kita pinjam motor santri lain kang, buat kesana. Malam ini kan ngajinyacuma bentar, hanya sorogan saja. ( Membaca Kitab setor pada Guru untuk dinilai ).


“Boleh, tapi kamu yang cari motornya, aku gak enak.” Jawab Muksin.


“Beres kang, biar Arsyad yang cari.” Kata Arsyad.


Kemudian keduanya pun berangkat menuju ke Padepokan Jaka untuk mengamati keadaan.


…..


Disisi lain Sidiq yang sedang membaca Fida’ Istighfar tiba tiba merasakan badannya bergetar seperti seorang yang kedinginan. Kemudian kepalanya juga terasa berat, namun masih tetap melanjutkan membaca Fida’ Istighfar terus sampai dengan selesai. Kemudian ditutup dengan doa Fida’ ijazah abah Syuhada guru jafar.


Sidiq yang merasa kedinginan dan pusing sampai badannya menggigil dan kepalanya terasa sangat berat. Sehingga Sidiq langsung merebahkan diri di kamar yang ditempati Jafar. Sementar JAfar juga baru pulang dari makam untuk berdoa. Dan mendapati Sidiq kakaknya yang menggigil kedinginan dan badan Sidiq terasa sangat Panas.


“Mas… mas Sidiq sakit ?” tanya Jafar ke Sidiq.


“Iya nih, kepalaku kok jadi pusing banget dan badanku menggigil kedinginan.” Jawab Sidiq.


“Apa perlu dibawa ke dokter mas ?” Tanya Jafar.


Tiba tiba keduanya kaget mendengar pintu kamar dibuka oleh abah gurunya Jafar.


“Tidak papa Jafar, gak usah khawatir. Kakakmu tidak Sakit apa apa, Insya Allah itu hanya  sebuah proses keluarnya dosa dosa Sidiq. Memang begitu kan setiap kali kita habis Fida’ Kata Abah guru Jafar.


“Iya bah.” Jawab Jafar singkat.


“Sidiq,,, kamu besok ijin dulu gak usah sekolah di samping kurang enak badan ada yang harus aku bicarakan besok.” Kata Abah gurunya Jafar.


“Iya bah, nanti saya izin lewat teman saja.” Jawan Sidiq sambil menggigil. Namun Kyai Syuhada malah tersenyum melihat Sidiq kesakitan. “Dosa kamu kemarin sudah diampuni nak, jangan anggap aku tersenyum karena kamu kesakitan.” Kata hati kyai Syuhada.


“Sebenarnya Ayah kesini untuk apa Bah ?” Jafar memberanikan bertanya pada abah gurunya.


Agak lama abah gurunya Jafar menjawab pertanyaan Jafar, entah sengaja membuat penasaran atau berat untuk mengatakan.


“Ayah kamu akan ajak kalian pulang, bersama adik kamu Nisa juga.” Jawab Abah gurunya Jafar…!!!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2