
...Sidiq bertemu Jalu, Jaka dan gede Paneluh...
...( Uji Coba unsur alam buka ilmu welut putih 2 )...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
"Orang orang kurang kerjaan pada main ke tempat ini pada ngapain?" bentak Sidiq membuat mereka kaget....!?!
"Bocah tengik, cari mampus ya?" bentak Jalu yang amarahnya tidak terkendali.
"Enak aja tengik, wangi nih habis mandi. Ngapain cari empus ( kucing) sampai sini. Di tempat ku banyak mau berapa. Kasihan amat jadi orang, gak punya parfum apa, pakai kemenyan gitu. wkakaka....!?!" ledek Sidiq.
Jalu hampir saja melompat maju, tapi ditahan Gede Paneluh. Karena Jaka sedang merapalkan Ajian welut putihnya.
Sidiq tahu jika Jaka mau menggunakan ajian welut putihnya. Namun Sidiq juga sudah menyiapkan sesuatu kejutan untuk Jaka.
Sekejap wujud Jaka pun lenyap, namun Sidiq yang sudah menyiapkan sebilah kayu di depannya segera menendang balok kayu tersebut ke arah berdirinya Jaka.
Namun Jaka yang tak kelihatan wujudnya itu masih bisa menghindari. Kemudian Jaka berjalan pelan menuju ke arah Sidiq. Dengan pelan dan hati hati Jaka berjalan menuju ke arah Sidiq.
Sidiq mengamati rerumputan di sekitar nya, tampak rerumputan dan daun kering yang seperti terinjak kaki. Kemudian Sidiq pun melakukan serangan ke arah tersebut dengan tendangan.
Tendangan Kaki Sidiq bisa mengenai tubuh Jaka meski Sidiq tidak tahu wujud Jaka. Jaka yang tidak kelihatan terhuyung jatuh. Hanya tampak rerumputan yang seperti tertimpa sesuatu.
Jaka menyadari jika Sidiq bisa mengetahui keberadaan dia dari rumput yang di injak nya. Kemudian Jaka melompat ke arah tanah keras yang tidak berumput. Agar pijakan kakinya tidak nampak.
Sementara itu Gede Paneluh memerintahkan Jalu untuk menggiring Sidiq ke arah Jaka. Agar Jaka bisa menyerang Sidiq.
Jalu pun maju dan melakukan serangan kepada Sidiq. Dan menggiring Sidiq ke arah Jaka yang menggunakan aji welut putih.
Dengan bimbingan Gede Paneluh Jalu menggiring Sidiq ke arah Jaka yang tidak kelihatan wujudnya.
Di balik semak Jafar memperhatikan pertarungan Sidiq kakaknya tersebut. Dan melihat siasat Gede Paneluh yang menyuruh Jalu menggiring Sidiq ke arah Jaka yang tidak kelihatan wujudnya.
Dengan segera Jafar menimbun perapian yang di buat Sidiq sebelum nya dengan rumput yang masih basah. Sehingga menimbulkan kepulan asap yang cukup tebal.
Beberapa titik api di sekitar lokasi pertempuran Sidiq mengepulkan asap tebal. Dan oleh angin pegunungan asap tersebut menyelimuti lokasi pertempuran Sidiq.
Dari kepulan asap yang menerjang lokasi pertempuran itu Sidiq bisa melihat keberadaan Jaka. Karena asap yang menerjang Jaka otomatis tidak dapat menunjukkan keberadaan Jaka. dan tubuh Jaka membentuk siluet ( terselimuti asap).
Asap yang mengenai tubuh Jaka memperlihatkan tubuh Jaka karena tidak tertembus Asap. sehingga saat Sidiq sudah dekat dengan Jaka, Sidiq kembali melakukan serangan ke tubuh Jaka sambil menghindari serangan Jalu yang menggunakan aji giling wesi.
Tubuh Jaka yang terkena tendangan Sidiq kembali terpental. Tidak menduga mendapat serangan tiba tiba dari Sidiq. Jaka tidak menduga keberadaan dia masih diketahui Sidiq.
Sehingga Sidiq yang melawan dua orang tersebut masih bisa mengimbangi bahkan masih lebih unggul dengan keduanya.
Gede Paneluh yang melihat gelagat kurang baik segera membantu Jalu dan Jaka. Gede Paneluh ikut mengeroyok Sidiq. Sehingga Sidiq melawan tiga orang dimana yang satu menggunakan aji Welut putih.
Sehingga Sidiq jadi agak kerepotan, sebuah tendangan Jaka berhasil mengenai Sidiq. Membuat Sidiq terdorong ke belakang. Kemudian Jalu bersiap menyerang Sidiq yang terhuyung tersebut. Saat kritis seperti itu Jafar melompat menghadang serangan Jalu dengan cepat.
Sehingga Jalu terpental beberapa langkah ke belakang. Gede Paneluh melihat ada Jafar juga disitu langsung mengajak Jaka kabur dan menolong Jalu yang yang terpental.
"Jaka kita lari dulu saja, belum saatnya melawan dua bocah ini." Teriak Gede Paneluh.
Maka ketiganya pun kabur melarikan diri, meninggalkan Sidiq dan Jafar.
Sidiq dan Jafar yang memang hanya iseng membiarkan mereka kabur. Kemudian Sidiq dan Jafar menyingkir dari kepulan asap agar bisa bernafas dengan lega.
"Kenapa sih mas Sidiq suka banget iseng begitu, kan bahaya juga mas?" Tanya Jafar.
"Aku bukan tanpa maksud melakukan itu Jafar. Dengan apa yang aku lakukan tadi, aku berharap mereka jadi berpikir. Bahwa apa yang mereka cari dan apa yang mereka bangga banggakan dengan ilmu sesatnya itu tidak ada apa apanya. Jika dibandingkan dengan ilmu Allah." Jawab Sidiq.
"Maksudnya mas Sidiq?" Tanya lanjut Jafar.
"Hanya dengan rumput dan asap tadi ilmu welut putihnya sudah bisa terbongkar. Dan itu ketentuan Allah jika manusia itu makhluk kasat mata. Tidak perlu berlaku seperti makhluk gaib. Juga manusia itu tubuhnya dari daging gak usah ingin menjadi besi yang keras. Itu menyalahi kodrat Allah." Jawab Sidiq.
__ADS_1
"Iya sih, tapi cara mas Sidiq itu yang Jafar gak cocok." Jawab Jafar.
"Kalau itu kan sudah bawaan dari lahir Jafar. Antara aku dan kamu berbeda style, aku gak bisa kayak kamu dan kamu juga gak bisa sepertiku. Kita masing masing punya cara sendiri. Meski tujuan kita sama." Jawab Sidiq.
"Baiklah kita pulang sekarang yuk, keburu sore nanti." Ajak Jafar.
"Ayok..!" Jawab Sidiq singkat langsung berdiri berjalan menuju perkampungan penduduk dimana Jafar menitipkan sepeda motor nya. Mereka pun pulang ke Pondok masing masing. Jafar mengantar Sidiq ke Al-Hikmah sebelum pulang ke Al-Huda.
.....
Di rumah Yasin
Yasin POV
"Bagaimana semalam di rumah pak Margono mas, maaf semalam Fatimah gak dengar saat mas pulang." Kata Fatimah.
"Alhamdulillah,,, semua baik baik saja." Jawabku sambil menyeruput kopi buatan istriku.
"Kok semalam gak bangunin Fatimah?" Tanya istriku.
"Aku lihat kamu nyenyak banget tidurnya, jadi gak tega mau bangunin. Soalnya aku memang pulang agak Larut." Jawabku.
"Kirain udah bosan sama Fatimah, jadi gak minta jatah." Goda Fatimah.
"Apaan sih,,, kok kamu jadi sensi begitu sekarang?" Tanyaku.
"Gapapa kok, hanya nanya aja." Jawab Fatimah.
"Nanya kok terus-terusan, itu namanya curiga dong. Apa kamu merasakan ada perbedaan dariku?" tanyaku pada Fatimah.
"Ada perbedaan sih tidak, tapi jujur Fatimah sadar diri saja kalau sekarang udah gak menarik sama sekali." Jawab Fatimah.
"Kata siapa?" Tanyaku.
"Itu kenyataan, bukan kata siapa-siapa. Sudah kodrat makin tua makin kurang daya tarik sebagai wanita." Jawab Fatimah.
Aku justru tersenyum geli mendengar jawaban Fatimah, sifat cemburunya mulai keluar.
"Apa kamu dulu mau jadi istriku mengandalkan kecantikan kamu. Dan apa kamu kira aku mencintaimu karena kecantikan wajahmu?" Tanyaku pada Fatimah.
"Maksudnya??? " Tanya Fatimah bingung.
"Jika seorang Wanita memikat laki laki dengan kecantikan wajahnya, dia akan dicintai laki laki selama dia masih muda dan cantik. Setelah tua dan gak cantik maka cintanya luntur." Jawabku.
"Ya gak lah, Fatimah gak begitu kan. Terus apa alasan mas mencintai Fatimah?" Tanya balik Fatimah.
"Karena kamu istriku, dan sudah kewajiban suami mencintai istrinya. Intinya aku mencintaimu karena Allah, bukan karena kamu cantik atau karena hal lain." Jawabku.
Kali ini Fatimah tidak berani mengatakan aku menggombal. Dia hanya tersipu malu Mendengarkan jawabanku.
"Beneran itu mas, gak ada niat cari lagi atau bahkan cari ganti yang lebih menarik? Fatimah bukan istri yang sempurna loh?" kata Fatimah.
"Bagi manusia Sempurna itu Mustahil, tapi 'Berusaha untuk sempurna' itu wajib." Jawabku.
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Fatimah,
"Manusia itu tempatnya kekurangan dan kesalahan tidak mungkin sempurna. Tapi berusaha untuk menuju sempurna itu wajib, meski tidak mungkin. Karena dalam hal ini yang di nilai Allah adalah usahanya bukan hasilnya." Jawabku.
Fatimah tersenyum lega mendengar jawabanku.
"Iya mas, seperti ibadah juga kita gak bisa khusyuk tapi wajib berusaha khusyuk. Itu juga yang dinilai usaha kita ya?" Ucap Fatimah.
"Nah itu tau, tapi ada juga yang dilihat Allah itu hasilnya bukan prosesnya." Kataku.
"Apa?" Tanya Fatimah.
"Seperti kita, jadi pasangan suami istri itu hasilnya. Prosesnya dimana kita dulu harus bersabar dan belajar mencintai tidak begitu penting." Godaku pada Fatimah.
"Mulai lagi deh, selalu slengean didengarkan serius juga." Protes Fatimah.
"Gak itu serius kok, tapi contoh yang kongkrit ya Iman kita. Tidak hanya dilihat prosesnya saja tapi hasil akhir yang jadi penentu. Saat kita dipanggil dalam kondisi beriman atau tidak." Jawabku serius.
"Bilang begitu kek dari tadi." ucap Fatimah.
__ADS_1
Tidak terasa, aku dan Fatimah ngobrol sampai hampir siang. Utari dan Isna serta Wisnu sudah pamitan mau berangkat ke sekolah.
Setelah bersalaman mereka pun segera berangkat ke sekolah. Tinggal aku, Fatimah dan Sufi yang berasal di rumah.
Kemudian Sufi pun minta ijin bergabung untuk bicara.
"Mbak boleh gak Sufi ikut gabung, ada yang Sufi mau katakan pada mbak Fatimah." Tanya Sufi.
"Boleh saja, kita gak lagi bicara soal rahasia kok." Jawab Fatimah.
"Begini mbak dan kak Yasin, Sufi sudah beberapa hati ikut keluarga ini. Alhamdulillah banyak yang Sufi dapatkan. Dan Sufi sangat bersyukur bisa kembali dapat Hidayah." Ucap Sufi membuka pembicaraan.
"Terus apa yang Sufi mau katakan?" Tanya Fatimah.
Sufi agak ragu berbicara, entah apa yang dipikirkan.
"Mohon maaf sebelumnya, jika berkenan Sufi mau ajak kak Yasin dan mbak Fatimah untuk ziarah ke makam orang tua Sufi." Kata Sufi.
Aku sedikit heran dengan keinginan Sufi, disaat aku sedang menghadapi problem yang cukup banyak.
"Kenapa harus dengan kami Sufi?" Tanyaku.
"Sufi gak bisa jelaskan sekarang kak. Tapi itu juga jika mbak Fatimah dan kak Yasin bersedia." Jawab Sufi.
Aku dan Fatimah saling pandang, kemudian Fatimah istriku mengangguk memberi isyarat setuju.
"Baiklah, kapan kamu mau Ziarah?" Tanyaku.
"Terserah kak Yasin dan mbak Fatimah bisanya kapan." jawab Sufi.
"Nanti sore gak papa, bawa motor dua gak terlalu jauh kan makam dua orang tuamu?" Tanya Fatimah pada Sufi.
"Gak kok mbak pakai motor gak sampai setengah jam perjalanan ke sana." Jawab Sufi.
Sebenarnya aku penasaran dimana makam orang tua Sufi. Tapi aku tahan saja, mau bertanya takut dikira keberatan. Akhirnya kami sepakat sore harinya ziarah ke makam kedua orang tua Sufi.
.....
Flashback pasca pertempuran Sidiq dan Jafar vs Jaka cs
Author POV
"Kurang ajar, dua bocah itu selain tangguh juga sangat cerdik." kata Jaka setelah sampai di markas persembunyian mereka.
"Siapa yang bertugas menghadang kedua anak itu. Kenapa malah bisa tahu kalau kita ke makam orang tua kita Jaka?" Tanya Jalu.
"Sudah-sudah,,, kita memang perlu siasat yang matang. Semalam ki Gede Paneluh, Kala Srenggi dan Lembayung dihajar ayahnya. Sekarang kalian dihajar kedua anaknya. Itu bukti kita kalah strategi." ucap ki Marto Sentono.
"Lantas apa rencana ki Narto selanjutnya?" tanya Kala Srenggi.
"Buat kekacauan dimana-mana agar Yasin bingung mau menolong yang mana dulu. Agar Jalu berhasil nglandak." kata ki Marto.
"Bagaimana dengan kedua anaknya?" Tanya Jaka.
"Aku sedang memanggil seseorang yang bisa hadapi ilmu lebur Saketi anak tersebut. Hari ini sedang dalam perjalanan." Jawab ki Marto.
"Apakah yang ki Marto maksud adalah ki Bujang dari kulon?" Tanya Gede Paneluh.
"Tidak salah lagi, dia memiliki ilmu Gundolo Sosro yang bisa mengimbangi atau bahkan mengalahkan ilmu Lebur Saketi." Jawab ki Marto Sentono.
Semua terdiam, mendengar ilmu Gundolo Sosro mereka seperti merasa tidak ada artinya. Dan semua berpikir, jika inilah saat kematian bagi Jafar dan Sidiq anak anak Yasin...?!?
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1