
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Tidak mau berlama lama Rahardian segera menarik pelatuk Pistolnya, setelah melihat kehadiran Anggada yang mengintip dibalik pintu. Sambil memberi nya kode untuk menembak Izuma yang Lady Ninja tersebut. dan….
Dooorrr… dooorr… dooorr…
Tidak hanya sekali tembakan, tapi tiga kali tembakan sekaligus di arahkan ke arah Izuma…!!!
Izuma yang mempunyai insting kuat seorang Ninja masih mampu menghindari tembakan Rahardian. Saat dia mendengar bunyi ‘Klik’ pelatuk Pistol Rahardian sebelum memukul pangkal peluru dia secepat kilat melompat dan berguling sambil mengambil pakaiannya. Dan berlindung di balik almari mengenakan kembali bajunya. Dan pada tembakan kedua Rahardian dia juga masih mampu menghindari dengan melompati ranjang. Namun pada saat tembakan ketiga, ketika Izuma sedang membetulkan pakaian yang dia kenakan. Sebuah proyektil peluru menembus dada kanan Izuma , sedikit di samping pangkal lengan tangan kanan nya. Dan darah pun mengucur deras dari dada Izuma.
Izuma menahan nyeri di dadanya, dengan berpura pura mati Izuma mengambil senjata rahasia di lipatan bajunya. Sebuah senjata berbentuk bintang tiga kecil dan secepat kilat dilemparkan ke anak buah Rahardian yang hendak mendekatinya bersama Anggada. Lemparan senjata rahasia Izuma dengan tangan kirinya itu mampu menembus dada anak buah Rahardian juga. Meski Izuma sendiri kemudian pingsan karena banyak mengeluarkan darah dan tenaganya.
Rahardian yang bermaksud menghabisi Izuma dengan Pistolnya di cegah oleh Anggada. Dan menyuruh Rahardian bersembunyi di bangker di kawal oleh anak buah Anggada. Namun mereka tidak tahu jika perbuatan mereka sudah diawasi oleh Yukimoto dan anak buahnya. Sehingga Yukimoto menyuruh anak buahnya mencegah Rahardian kabur. Yukimoto sendiri melompat dari atap dengan pakaian Ninja nya yang serba hitam berdiri di hadapan Anggada. Anggada yang hendak mendekati tubuh Izuma yang pingsan itu pun menjadi terkejut.
Sementara keributan di luar kamar Rahardian juga terjadi karena penyamaran Ninja tersebut sudah terbongkar. Dan terjadi pertempuran dengan anak buah Rahardian yang juga merupakan centeng centeng atau tukang pukul Rahardian. Dan ditambah kehadiran anak buah Yukimoto yang lain membantu rekan rekan nya menghadapi anak buah Rahardian.
Saat anak buah Rahardian terdesak kemudian datang lagi bala bantuan anak buah Anggada yang dipanggil Anggada sebelumnya. Sehingga pertempuran di rumah itu pun menjadi semakin seru saja. Suasana rumah Rahardian menjadi riuh karena pertempuran itu. benturan senjata Tajam diselingi jeritan kesakitan dan kematian juga hancurnya berbagai perabotan rumah Rahardian yang mewah tersebut.
Sementara anak buah Yukimoto bertempur dengan gagah berani dan sudah bersiap untuk bertempur sampai tetes darah penghabisan demi membela kehormatan Klan nya. Membuat anak buah Rahardian menjadi ciut nyalinya. Mereka merangsek mundur berusaha untuk melarikan diri dari pertempuran itu.
Namun anak buah Yukimoto tidak membiarkan mereka kabur begitu saja. Mereka bertekad untuk membunuh atau dibunuh, tidak akan membiarkan mereka melarikan diri juga tidak akan melarikan diri. Hanya ada dua pilihan bagi mereka, membunuh atau dibunuh.
Meski diantara mereka juga banyak yang mengalami luka luka. Namun tidak sedikitpun mengurangi keberanian dan tekad mereka untuk membinasakan semua orang yang ada di situ. Tak satupun dari mereka akan dibiarkan lolos. Kecuali mereka sendiri yang mati.
Semangat bertempur anak buah Yukimoto benar benar membuat anak buah Rahardian menjadi ciut nyalinya. Meskipun secara jumlah mereka lebih unggul. Namun melihat para Lady Ninja yang terluka tidak surut sedikitpun membuat mereka jadi ketakutan sendiri. Ditambah bertambahnya jumlah korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
*****
Sementara di dalam kamar Rahardian, Anggada yang berhadapan langsung dengan Yukimoto mulai bergerak untuk menyerang Yukimoto. Yukimoto yang tidak ingin melayani serangan Anggada karena ingin mengejar Rahardian itu pun hanya melemparkan bola kecil yang meledak dan mengeluarkan asap putih yang berbau menyengat. Membuat Anggada harus menutup hidung dan memalingkan muka. Sementara Yukimoto membawa Izuma yang pingsan keluar kamar meninggalkan Anggada. Dan ketika asap hilang Anggada pun sudah kehilangan sosok Yukimoto bahkan Izuma yang terluka juga sudah tidak tampak disitu.
Anggada kemudian mengejar Yukimoto yang sekilas masih bisa dilihat Anggada berlari memanggul tubuh Izuma. Dan Yukimoto menaruh tubuh Izuma di suatu tempat, sementara Yukimoto sendiri mengejar Rahardian yang dikawal anak buah Anggada.
Rahardian yang dikawal anak buah Anggada itu pun sedang dihadang juga oleh anak buah Yukimoto. Dua Lady Ninja menghadang mereka dan menghalangi langkah mereka agar tidak dapat bersembunyi di tempat khusus yang dipersiapkan Rahardian sebagai bunker dalam keadaan terdesak.
Rahardian yang panik itupun hanya bersembunyi dibalik dua orang anak buah Anggada sebagai pelindungnya. Sementara Anggada sendiri berlari menyusul Yukimoto yang mengejar Rahardian.
“Lindungi aku, jika kalian berhasil lindungi aku hadiah besar menanti. Apapun yang kalian minta akan aku berikan.” Ucap Rahardian.
Anak buah Anggada yang semula sudah agak ketakutan mendengar tawaran Rahardian kembali tumbuh lagi keberaniannya. Apa lagi melihat kehadiran Anggada yang mendekati ke arah mereka. Dengan berani mereka mencabut golok mereka dan melindungi Rahardian sambil menunggu Anggada sampai ke tempat itu.
“Hentikan semuanya, jika masih bisa kita bicarakan apa salahnya kita bekerja sama saja…!” Ucap Anggada dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Namun Yukimoto tidak bergeming sedikitpun dan tidak tertarik lagi untuk berbicara apapun. Yang ada dalam pikirannya hanyalah membunuh Rahardian demi mempertahankan kehormatan seorang Ninja Klan Yukimoto.
“Hadapi orang itu berdua, biar aku yang menghabisi dua cecunguk ini beserta bosnya.” Ucap Yukimoto.
Rahardian yang mendengar suara Yukimoto itu pun jadi mengenali suaranya dan mengetahui jika itu adalah Yukimoto. Orang yang pernah dia sewa untuk menculik anak istri Steve kemudian keluarga Yasin namun gagal.
“Tunggu, kenapa kamu berbalik menyerang aku. Jika karena uang aku tetap akan memberi kamu uang sesuai dengan perjanjian awal kita.” Ucap Rahardian. Namun Yukimoto tidak menjawab bahkan sesaat kemudian Yukimoto justru menyerang Rahardian yang dilindungi anak buah Anggada. Sehingga anak buah Anggada itu pun menyambut serangan Yukimoto dengan mengayunkan Goloknya ke arah Yukimoto yang belum mencabut senjatanya itu.
Namun sebuah perkiraan yang salah dari anak buah Anggada, karena Yukimoto dapat mencabut senjatanya secepat kilat dan bahkan menebas perut anak buah Anggada itu hingga ususnya terburai keluar dan jatuh tak berkutik lagi.
Kejadian itu membuat rekannya yang satu menjadi bertambah ciut nyalinya. Bahkan tampak tangan dia yang memegang golok pun gemetar hebat, melihat rekannya mati di hadapannya dengan darah dan usus yang terburai keluar dari perutnya, jatuh terkapar dalam posisi tengadah di hadapan dirinya.
Rahardian pun semakin pucat, seakan sudah melihat kehadiran malaikat Izroil di hadapan dirinya. Dan dengan penuh ketakutan terus merajuk kepada Yukimoto agar dirinya dibiarkan hidup. Dengan menjanjikan apapun permintaan Yukimoto akan diberikan jika perlu seluruh harta yang dimilikinya pun akan diberikan semuanya asalkan dibiarkan hidup.
Namun Yukimoto sudah tidak lagi berpikir tentang Materi hanya berpikir kehormatan Klan Ninja yang dia ikuti saat itu. sehingga semua penawaran Rahardian tidak sedikitpun mempengaruhi pendirian seorang Yukimoto.
*****
Sementara Anggada yang menghadapi dua anak buah Yukimoto juga sudah bersiap menyambut serangan dua Lady Ninja tersebut. Dengan senjata terhunus Anggada melawan dua Lady Ninja tersebut. dua Lady Ninja itu tidak tahu jika Anggada memiliki ilmu kebal terhadap senjata Tajam. Sehingga sabetan pedang mereka tidak mampu menggores kulit Anggada. Mereka menjadi kaget dengan kejadian tersebut. beberapa kali senjata mereka mengenai Anggada namun tidak sedikitpun mampu menggores kulit Anggada.
Dua Lady Ninja tersebut bahkan tidak bisa mencari cara lain untuk dapat melukai Anggada. Mereka benar benar hanya mengandalkan kecepatan gerak dan tajamnya senjata mereka. Meski beberapa kali mereka mampu menyarangkan senjata mereka ke tubuh Anggada namun tetap saja tidak bisa melukai Anggada. Sehingga dua Lady Ninja itu pun merasa hampir putus asa. Dan mereka berdua hanya berharap Yukimoto segera dapat membunuh Rahardian dan mengurus Anggada yang kebal senjata tersebut. meski mereka berdua harus mati sekalipun.
Anggada sendiri merasa marah beberapa kali harus terkena senjata dua Lady Ninja tersebut, tanpa bisa membalas memberikan serangan balik yang dapat mengenai tubuh dua Lady Ninja tersebut. bahkan salah satunya saja belum dapat dilukai oleh Anggada.
Meski tidak menimbulkan luka, namun senjata dua Lady Ninja tersebut cukup membuat Anggada merasa sakit. Seandainya dua Lady Ninja itu tahu, dan terus menggempur Anggada meski tidak luka kulitnya. Namun gempuran terus menerus akan bisa menyebabkan tulang Anggada patah seperti yang dilakukan Yasin. Namun dua Lady Ninja tersebut tidak bisa berpikir ke arah tersebut, mereka hanya kebingungan melihat lawan nya yang tidak bisa dilukai senjata tajam yang mereka gunakan.
Sehingga mereka menjadi sedikit lengah dan hal tersebut dimanfaatkan Anggada untuk menyerang salah satu dari dua Lady Ninja tersebut dengan Golok tajamnya. Dan salah satu Lady Ninja tersebut terkena sabetan golok Anggada. Sebuah luka memanjang yang cukup dalam menyilang di punggung salah satu Lady Ninja tersebut. Dan saat Lady Ninja tersebut limbung dimanfaatkan oleh Anggada untuk kembali mengayunkan goloknya ke arah leher Lady Ninja tersebut. dan mampu mengenai Lady Ninja tersebut hingga jatuh dan tewas seketika.
Kemudian Anggada yang tinggal menghadapi seorang Lady Ninja itupun lebih mudah untuk melawannya. Dan terbukti beberapa saat kemudian Lady Ninja yang satunya itu pun dapat dirobohkan Anggada dengan tikaman Golok yang menembus dada Lady Ninja tersebut. maka tewas lah Dua Lady Ninja tersebut di tangan Anggada.
Kedua Lady Ninja itu pun segera mencari pimpinannya Yukimoto untuk kembali bertempur membantu Yukimoto. Mereka juga sudah bertekad bertempur sampai mati, dan tidak akan rela mati di tangan lawan lagi. Jika harus mati mereka pun akan lebih memilih untuk ‘Harakiri’ dengan menusuk dan merobek perut mereka sendiri dengan pedang katana mereka.
Dan saat itu juga mereka akhirnya menemukan Yukimoto dan Anggada yang sedang berhadap hadapan hendak bertempur. Sementara Rahardian yang Hendak memanfaatkan untuk kabur mereka tahan dengan ancaman katana dari dua Lady Ninja tersebut. Sehingga Rahardian tak mampu bergerak sedikitpun dengan ancaman dua katana di leher depan dan belakang dari dua Lady Ninja tersebut.
Rahardian dipaksa untuk melihat pertempuran Yukimoto melawan Anggada di hadapan dia. Dengan apapun hasil dari pertarungan itu tetap saja Rahardian akan mati di tangan salah satu Ninja tersebut. Sehingga Rahardian tidak mampu berbuat apapun. Rasanya seperti sudah didekati malaikat Izroil yang tinggal menunggu waktu yang sudah ditentukan, sesuai dengan perintah Allah. Seorang Rahardian yang selama ini sangat angkuh dan sombong karena merasa mampu membeli apapun dengan hartanya. Saat ini baru merasakan harta nya sama sekali tidak berguna. Ini baru manusia saja sudah tidak bisa dibeli dengan harta kekayaan. Apalagi jika yang di hadapan dia adalah malaikat maut sesungguhnya. Rahardian yang beberapa waktu sebelumnya masih bersenang senang dengan seorang wanita. Baru saja mengumbar hawa nafsunya, bahkan seperti raja yang dengan seenak hatinya minta dilayani sesuai kemauannya. Bahkan setelah itu pun membunuh wanita yang barusan dicumbunya.
Saat ini lemas tak berkutik dan sangat ketakutan melihat maut yang mengancam dirinya saat itu. hanya harapan Anggada dapat memenangkan pertarungan dan bisa menolongnya. Hanya itu satu satunya harapan Rahardian saat itu. bahkan saking ketakutan nya tanpa dia sadari Rahardian pun sampai terkencing di celana.
“Lepaskan dulu majikan ku, kalian boleh mengeroyok aku jika perlu. Asal kalian mau melepaskan majikan ku itu.” Ucap Anggada sebelum memulai pertarungan dengan Yukimoto.
“Tidak ada transaksi, kamu bisa kalahkan kami kamu selamat. Kalau tidak kamu dan majikan kamu mati.” Jawab Yukimoto.
“Majulah kalian bertiga biar aku habisi kalian bersamaan.” Ucap Anggada penuh percaya diri dan bermaksud menolong majikan nya dan berharap mendapat hadiah besar.
Namun ucapan Anggada tidak sedikitpun berpengaruh kepada Yukimoto dan kedua anak buahnya itu. karena bagi mereka hanya ingin menghabisi semua orang yang berhubungan dengan Rahardian di rumah itu.
Sehingga Yukimoto segera mencabut pedang Katana nya dan bersiap untuk menyerang Anggada. Meski sekilas tadi Yukimoto dapat melihat jika Anggada tidak bisa dilukai oleh anak buahnya dengan pedang serupa. Namun hal itu tidak membuat seorang Yukimoto gentar sedikitpun. Bahkan penasaran ingin membuktikan sendiri apakah lawan nya benar benar tidak dapat dilukai oleh senjata tajam.
Anggada yang hanya mengandalkan ilmu kebalnya itu, hanya menunggu serangan dari Yukimoto saja. Karena di samping tangan satunya cacat . Anggada tidak mempunyai jurus bertahan apa lagi menyerang yang baik, sehingga pasti akan kerepotan menghadapi seorang Ninjitsu seperti Yukimoto.
Meski Yukimoto sendiri tetap waspada dengan kemampuan yang Anggada miliki. Di samping Yukimoto juga menyadari jika dirinya pun masih merasakan luka dalam saat menerima pukulan Lebur saketi dari Khotimah.
Dengan kedua tangan nya Yukimoto memegang pedang Katana nya, yang diacungkan ke depan siap menyerang Anggada. Sementara itu Anggada yang melihat Yukimoto memegang pedang Katana nya yang berjalan memutari Anggada seakan mencari titik dimana akan mengarahkan pedangnya ke arah Anggada. Anggada menjadi gentar melihat kilauan pedang tersebut yang terkena sinar lampu penerangan di rumah itu.
__ADS_1
Bahkan setiap pantulan sinar lampu yang mengenai pedang itu rasanya sudah melukai kulit tubuh Anggada. Dan secara psykologis pun Anggada mengalami penurunan kepercayaan diri, ilmu kebal yang dia miliki pun seakan tidak lagi mampu menahan ketakutannya melihat kilauan pedang Yukimoto. Anggada menjadi gemetar dan keringat dingin pun keluar, dan hal itu sangat dipahami oleh Yukimoto. Meski tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi pada Anggada Lawannya. Namun Yukimoto jelas melihat ada ketakutan yang menyelimuti Anggada musuhnya itu.
Hanya tinggal selangkah lagi tindakan Yukimoto untuk membuat kepercayaan diri Anggada semakin turun. Dengan terus bergerak mengitari Anggada dengan memperlihatkan kilauan pedangnya. Bahkan sesekali sengaja mengarahkan pantulan cahaya lampu yang memantul dari pedangnya, dia arahkan ke mata Anggada. Maka semakin ciut lah nyali Anggada dan semakin hilanglah kepercayaan diri Anggada.
Dan uji coba pertama Yukimoto dengan menebaskan pedangnya ke tubuh Anggada. Dan sengaja memberi kesempatan Anggada untuk menangkis dengan goloknya itu. dan Anggada pun berhasil menangkis pedang Katana Yukimoto dengan goloknya, pertama. Kemudian yang kedua pun demikian juga, Anggada mampu menangkis pedang Yukimoto dengan Goloknya. Dan tidak ada sesuatu yang aneh terjadi, sehingga yang ketiga kalinya…!?!
Yukimoto menebaskan kembali pedang Katana nya ke arah Anggada yang sudah bersiap menangkis pedang Yukimoto tersebut. Namun di luar dugaan Anggada, kali ini Yukimoto benar benar ingin menguji sejauh mana kekuatan Golok Anggada dan juga kekuatan Anggada yang sebenarnya. Sehingga Yukimoto mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menebas Golok Anggada.
Dan apa yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan Anggada dan lainnya. Golok Anggada terbelah menjadi dua bagian. Dibelah oleh pedang Katana Yukimoto, tepat pada bagian tengah dari golok Anggada. Sehingga golok Anggada hanya tinggal separuh dari panjang sebelumnya.
Tidak hanya sampai disitu hal serupa diulang oleh Yukimoto dan kembali golok Anggada terbelah oleh Pedang Katana milik Yukimoto. Sehingga membuat Anggada pun semakin ciut nyalinya, karena tidak lagi memegang senjata untuk melawan senjata Yukimoto. Dan tidak mungkin hanya mengandalkan ilmu kebalnya saja. Bahkan mulai tumbuh Keraguan dalam diri Anggada, apakah ilmu kebalnya mampu menahan tajamnya pedang Yukimoto. Sedangkan goloknya saja mampu dibelah oleh Yukimoto, apa lagi hanya kulit dan daging Anggada, Pikiran Anggada mulai goyah dengan kemampuannya sendiri. Bahkan mulai ragu akan ilmu kebalnya.
Dan itulah memang yang diharapkan oleh Yukimoto, seorang Lady Ninja yang sudah banyak pengalaman dalam bertarung. Sehingga cukup banyak pengalaman yang dia dapatkan dari perjalanan dia sebagai seorang Ninja. Dan itu berhasil mempengaruhi mental Anggada, Anggada menjadi down. Hilang kepercayaan dirinya. Dan hilangnya kepercayaan diri Anggada itulah yang akhirnya menjadi bencana besar bagi Anggada sendiri.
Sebuah tebasan melintang pedang Katana Yukimoto bahkan mampu merobek dada Anggada. Dan sebuah jeritan panjang memilukan menjadi sebuah kalimat terakhir yang keluar dari mulut seorang Anggada. Orang yang selama ini begitu yakin dengan ilmu kebalnya. Dapat diruntuhkan oleh seorang Yukimoto. Lady Ninja, yang pernah dikalahkan oleh Khotimah dan Jafar juga Fatimah.
Tubuh Anggada menyemburkan darah dan akhirnya limbung jatuh dan bersimbah darah, tubuhnya jatuh ke lantai. Masih kelihatan tangan dan kakinya bergerak gerak bahkan mata dan mulutnya seakan masih mau menyampaikan sesuatu namun lama lama hanya mulutnya yang menganga. Matanya menjadi putihnya saja yang tampak. Sementara tangan dan kakinya masih bergerak pelan seperti lepasnya Ruh dari jasadnya yang semakin lama semakin pelan dan akhirnya Anggada pun tewas, setelah selama beberapa detik merasakan siksaan yang tidak terbayangkan rasanya itu.
Rahardian semakin ketakutan kehilangan harapan hidup, dia semakin lemas dan hanya bisa menangis mohon diberi hidup. Bahkan sampai kembali terkencing kencing di celana. Namun semuanya sudah terlambat, seorang Yukimoto hanya memberi dua pilihan. Dipancung lehernya atau ditusuk jantungnya hingga mati. Tidak ada pilihan yang lebih baik, apalagi pilihan untuk hidup. Hanya pilihan untuk memilih jalan kematian yang ditawarkan oleh Yukimoto.
Rahardian tidak bisa memilih tawaran dari Yukimoto, sehingga Yukimoto tidak mau berlama lama dan segera menusuk dada kiri Rahardian dengan Katana nya, tepat di jantung Rahardian. Sehingga Rahardian mati dan dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Bahkan dari semua lubang tubuhnya mengeluarkan apa yang biasa keluar dari dalam tubuhnya itu. Sebuah proses kematian yang sangat mengerikan dan menjijikan.
Yukimoto sendiri, yang masih merasakan luka dalam itu akhirnya jatuh terduduk dan mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidungnya. Luka dalamnya semakin parah, bahkan racun miliknya sendiri rupanya sudah menyebar kemana mana. Ditambah barusan mengeluarkan banyak tenaga saat bertempur dengan Anggada tadi.
“Bakar seluruh bangunan ini cepat.” Perintah Yukimoto pada dua anggotanya yang juga sudah banyak luka tersebut.
Dan begitu mendengar perintah Yukimoto keduanya segera bergerak cepat membakar bangunan itu. dan mereka kembali kedalam untuk menemui Yukimoto.
“Sudah saya bakar semua sudut rumah ini.” Ucap salah satu anak buah Yukimoto.
“Kalo begitu sekarang sudah saatnya, kita pergi menemui Dewa di Nirwana.” Ucap Yukimoto sambil menahan Sakit akibat luka dalamnya.
Kemudian tiga Lady Ninja itupun melakukan ritual khusus, dengan menaruh pedang Katana masing masing di hadapan mereka dalam posisi terhunus. Dan sarung pedang ada di samping kanan mereka.
Dibawah bimbingan Yukimoto ketiganya melakukan ritual khusus di tengah kobaran api yang membakar rumah tersebut. dan secara serempak ketiganya melakukan ‘Harakiri’ menusuk perut mereka masing masing dan merobek ke samping sambil menahan sakit yang amat sangat tentunya. Akhirnya mereka bertiga mati bersama, sebelum api besar melahap habis seluruh rumah tersebut, termasuk semua mayat yang ada disitu termasuk mayat Yukimoto dan Rahardian juga Anggada.
Hanya tinggal Mutsashi yang hidup dan masih menunggu markas Ninja Yukimoto…!!!
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Hari hari menjelang kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1