
...Sidiq ikut mengantar Riska pulang ke rumahnya...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
"Gus Sidiq… itu orang yang kemarin menculik pacar Gus Sidiq !” terak Muksin menunjuk ke Ari yang hendak kabur.
Sidiq yang melihat Ari langsung mengejar Ari mau menangkapnya…..!!!
Ihsan ikut berlari mengejar membantu Sidiq menangkap Ari.
Sementara Sidiq dan Ihsan mengejar Ari, Jafar menggoda Riska yang masih tersipu malu malu karena ucapan Muksin yang menyebut Riska sebagai pacar Sidiq di hadapan Ayahnya.
“Kang Muksin ini, malah bongkar rahasia kalau mbak Riska adalah pacar mas Sidiq.” Ucap Jafar sambil tersenyum.
“Aduh maaf gus Jafar Muksin kelepasan ngomong tadi.” Ucap Muksin menyadari kekhilafannya.
Riska semakin malu dengan ucapan Jafar tersebut. Sementara Yasin hanya senyum senyum saja, bagaimanapun Yasin juga pernah muda dan tahu seperti apa anak muda. Sehingga memaklumi semuanya, tidak lantas berubah sikap kepada Riska.
“Ayah gak ngira Jafar, kamu ternyata pandai menggoda gadis juga. Kasihan tuh anak orang kamu buat jadi malu begitu.” Ucap Yasin menambah Riska semakin salah tingkah dan membuat Muksin dan Arsyad jadi ikut tertawa mendengarnya.
Tiba tiba datanglah Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin.
“Aku juga gak nyangka akang, kamu dan anak anak kamu pandai bersandiwara.” Ucap Kyai Syuhada.
Semua jadi tertawa mendengar kelakar Kyai Syuhada Gurunya Jafar tersebut.
“Gak juga kang, Jafar tadi harus dipukul duluan agar bisa berakting dengan baik.” Jawab Yasin.
Jafar hanya meringis diledek ayahnya.
“Kan Jafar takut kualat yah, masak Jafar harus menyerang ayah kandung Jafar sendiri.” Jawab Jafar membela diri.
Mereka pun berbincang bincang ringan samba menunggu kedatangan pak Yadi. Dan beberapa menit kemudian Sidiq yang datang membawa Ari yang sudah terikat dan Nampak gemetar ketakutan.
“Ini yah orangnya yang menjebak Riska dan memfitnah Sidiq tadi pagi.” Kata Sidiq sambil mendorong tubuh Ari yang sudah terikat.
Ari sangat terkejut mendengar Sidiq menyebut Ayah kepada orang yang dikenal tadi pagi dengan sebutan Zain alias Jaka Gledek. Hal itu diketahui oleh Yasin, kemudian Yasin hanya berkata pendek.
“Teman kamu gak tahu kalau aku ayah kalian. Lepaskan saja dia atau serahkan ke pak Yadi nanti biar kesalahanya jadi urusan Polisi.” Ucap Yasin.
Demikianlah isi percakapan mereka pasca pertempuran. Dan Ari jadi tahu jika orang yang disebut Jaka Gledek itu sebenarnya adalah Yasin ayah dari Sidiq dan Jafar rival terberat Ari dalam banyak hal.
Kemudian pak Yadi datang bersama dua anggotanya dengan mobil Dinas Polisi.
“Wah sayang pak, semua berhasil kabur tidak ada yang tertangkap satu orang pun.” Kata pak Yadi.
“Tidak jadi masalah pak, yang penting anak yang diculik sudah selamat. Silahkan pak Yadi yang menangani kasus ini. Dan anak ini adalah yang ikut terlibat dalam kasus penculikan itu.” Kata Yasin menunjuk kepada Ari.
Pak Yadi pun segera menangkap Ari dan memborgol tangannya.
“Jika tidak keberatan pak Yasin saya ajak kerumah orang tua Gadis ini untuk ikut menjelaskan kronologinya.” Kata Pak Yadi.
“Bisa pak, tapi saya harus sholat ashar dulu kita cari Masjid dulu saja. Tempat ini sepertinya kurang layak untuk melaksanakan Sholat.” Jawab Yasin.
Yasin melihat banyak makhluk Astral dan juga aura negatif masih sangat kuat disitu. Kemudian pak Yadi memerintahkan anak buahnya untuk menyisir terlebih dahulu Padepokan tersebut. Apakah masih ada sisa sisa pengikut Marto Sentono yang berada disitu.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang tersisa mereka pun segera meninggalkan tempat itu. Yasin berpamitan dengan Kyai Syuhada guru Jafar dan Nisa juga kepada Kyai Nurudin gurunya Sidiq. Jafar, Kholis, Muksin dan Arsyad kembali ke Pondok AL-Huda bersama Kyai Syuhada. Sedangkan Kyai Nurudin juga kembali ke Pondok Al-Hikmah sendirian. Karena Ihsan pun diajak untuk menjadi Saksi bersama Sidiq.
__ADS_1
“Mohon maaf pak Kyai, Santri santrinya saya pinjam dulu. Nanti setelah selesai saya antarkan ke Pondok panjenengan.” Kata pak Yadi.
“Iya gak papa pak, senang bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian.” Jawab Kyai Nurudin Guru Sidiq dan Ihsan.
Mereka berpisah dan kembali ke Pondok mereka masing masing. Sementara Sidiq dan Ihsan ikut mengantar Riska ke rumahnya di temani Yasin juga. Yang akan menengahi jika ayah Riska kepala Desa tersebut salah paham dengan Sidiq anaknya.
…..
…..
…..
Sementara ditempat lain Gandung dan Jaka sedang merawat ki Marto Sentono yang terluka cukup parah semakin Geram dengan kejadian di padepokan tersebut.
“Anak muda itu gak bisa dianggap enteng ternyata.” Ucap Gandung kakaknya Jaka Santosa.
“Iya kang, tapi yang aku heran bagaimana dia bisa memukul dengan tepat guru kita yang memakai aji welut putih ?” sahut Jaka.
“Itu juga yang bikin aku gak habis pikir, seakan dia bisa melihat keberadaan guru kita. Padahal di awal dia tidak bisa melihat kehadiran guru kita.” Ucap Gandung.
“Mungkin kita harus menunggu guru kita siuman baru kita tanyakan pada beliau.” Ucap Jaka Santosa.
“Lalu kenapa tadi si Gede Paneluh bisa terkena senjata juga.” Tanya Gandung pada Jaka adiknya.
“Saat Paman Zain menangkis serangan anak muda itu belati itu meluncur ke arah ki Gede Paneluh. Tidak tahu sekarang dia dimana. Si mulut besar Jalu pun malah tidak Nampak batang hidungnya.” Ucap Jaka dongkol tidak melihat peran Jalu sama sekali tadi.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Adi, bagaimana bisa mencari dan melawan ayah dari anak itu. sedangkan dengan anaknya saja kita gak mampu melawan.” Ucap Gandung Santosa.
Kedua anak dari Mentorogo itu pun berdiskusi untuk mengatur rencana mereka melakukan balas dendam kepada Yasin. Sayangnya mereka masih belum tahu jika Yasin yang mereka cari sebenarnya adalah Zain yang mereka kira sahabat ayahnya.
…..
…..
…..
“Kita cari tempat untuk istirahat kalau adi Jalu lelah, sudah cukup jauh mereka gak akan mengejar kita sampai disini.” Ucap Gede Paneluh.
“Tapi luka kakang harus segera diobati !” ucap Jalu.
“Tidak papa, biar aku cabut sendiri belatinya. Nanti dibungkus kain bersih saja, kamu harus segera selesaikan ritual kamu nanti malam. Dan kalau sudah kita berdua mencari keberadaan dalang anyi anyi itu.” Jawab Gede Paneluh.
Jalu pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh ki Gede Paneluh. Jalu membawa Gede Paneluh di sebuah Gubuk. Dan membantu ki Gede Paneluh untuk mencarikan ramuan daun untuk mengobati luka. Sementara Gede Paneluh mencoba mencabut belati di kakinya.
Beberapa waktu kemudian Jalu datang membawa daun daun untuk obat luka ki Gede Paneluh. Dari mulai daun Mlanding, Sembukan juga daun binahong dan beberapa jenis daun yang diminta oleh Gede Paneluh.
Dan setelah belati itu sudah dicabut, darah pun mengalir semakin deras, bahkan bercampur dengan darah yang sudah mengental dan tadi tidak bisa keluar karena terhalang belati.
Gede Paneluh mengunyah sebagian daun itu untuk obat luar luka dan menghentikan pendarahan. Kemudian dia duduk setengah bersila karena kakinya luka. Gede Paneluh membaca Mantra mantra untuk mengundang khodam yang akan dimintai tolong mengobati lukanya. Dan beberapa saat kemudian Gede Paneluh Tampak seperti bicara dengan makhluk tak kasat mata. Sehingga Jalu pun hanya bisa memandangi Gede Paneluh saja. Tidak tahu Gede Paneluh bicara dengan siapa.
Setelah selesai, Gede Paneluh merasa kakinya jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga dia mencoba untuk berdiri. Jalu hanya bengong melihat apa yang dialami oleh Gede Paneluh tersebut.
“Pakai ilmu apa kakang kok tiba tiba bisa langsung berdiri begitu ?” Tanay Jalu.
“Inilah salah satu kelebihan ilmu pamanku ki Joyo Maruto dulu. Yang luka parah pun dalam hitungan jam bisa sembuh total.” Jawab Gede Paneluh.
“Kenapa Kakang tidak mempelajari ilmu itu kang ?” Tanya Jalu.
“Terlalu berat ‘Pitukon’ nya ( Mahar ) Adi Jalu.” Jawab Gede paneluh.
“Apa butuh biaya besar kang, kalau Jalu mampu Jalu siap membantu kakang.” Ucap Jalu.
“Bukan biaya besar Adi, tapi ‘Tumbal’ Gadis ‘Perawan Ontang Anting’ yang harus dijadikan persembahan. (Perawan Ontang Anting \= anak gadis perawan yang tidak punya kakak ataupun adik \= anak tunggal murni bukan punya tapi sudah meninggal )
“Wah berat juga kalau begitu kakang, apa dulu paman kakang itu juga pakai tumba itu ?” tanya Jalu.
__ADS_1
“Tentunya, dan kalau paman gak hanya satu bahkan banyak tumbal yang dipersembahkan. Makanya kekuatannya luar biasa.” Jawab Gede Paneluh.
Jalu berpikir sejenak, kemudian Jalu ingat ucapan makhluk Astral yang mengatakan jika dalang Anyi anyi akan bangkit jika manusia membebaskan diri dari belenggu Norma atau aturan yang membatasi keinginan nafsu manusia. “apakah ini yang dimaksud, kalau memang harus mengorbankan nyawa orang lain kenapa tidak dilakukan. Toh yang memuja harta itu malah mengorbankan keluarga, anak kandung atau bahkan orang tua kandung.” Kata Jalu dalam hati.
“Kang Pernah dengar orang yang mencari harta dengan mengorbankan nyawa anak kandung sendiri ?” Tanya Jalu tiba tiba.
“Pernah lah, bahkan sering berjumpa dengan orang seperti itu juga.” Jawab gede Paneluh.
“Lalu kenapa kita harus ragu mengorbankan nyawa orang lain yang tidak ada hubunganya dengan kita kakang. Kalau demi harta saja ada yang tega mengorbankan nyawa anak kandungnya sendiri ?” Ucap Jalu memprovokasi Gede Paneluh.
Gede paneluh mulai memikirkan kata kata Jalu tersebut, ada rasa ingin mencoba juga toh gak harus kenal dengan wanita yang akan dijadikan tumbal tersebut, batin Gede Paneluh.
“Nanti aku pikirkan dulu adi Jalu. Saat ini mending kamu segera persiapan menuju empat ritual terakhir kamu agar tidak terlambat nanti.” Ucap Gede Paneluh.
“Tidak usah khawatir kakang, lokasi terakhir yang aku pilih hanya dekat sini saja kok. Bahkan saat ini kita sudah dekat dengan lokasi itu.” Jawab Jalu.
“Maksut kamu Tempuran sungai boyong ?” tanya Gede Paneluh.
“Betul kakang, makanya kakang kubawa lari kesini sekalian persiapan untuk ritual nanti malam.” Jawab Jalu.
“Kemudian untuk ubo rampenya apa sudah kamu siapkan juga Adi Jalu ?” tanya Gede Paneluh.
“Hanya kurang kepala kambing kendit saja kakang. Dan aku sudah survey ada penduduk sekitar yang punya kambing kendit.” Jawab Jalu. (Kambing Kendit \= Kambing Jawa bercorak putih dengan garis hitam diperut )
“Kamu bawa uang cukup untuk membelinya ?” Tanya Gede Paneluh.
“Tidak, kalau gak boleh diminta ya hutang kalau gak boleh ya curi kalau ketahuan bunuh orangnya kan beres.” Jawab Jalu tanpa beban.
Gede Paneluh hanya geleng geleng dengan tekad Jalu tersebut.
Mereka berdua tidak menyadari jika keberadaan mereka disitu diawasi oleh sepasang mata yang menatap tajam pada keduanya. Namun sejauh ini masih berdiam diri dan tidak menampakkan diri ke hadapan dua orang tersebut.
“Adi jalu, kamu apa gak pernah merasa takut atau bersalah ketika habis melakukan pembunuhan begitu.” Tanya Gede Paneluh.
“Sekarang tidak lagi kang, hanya awal awal dulu saja sampai beberapa hari gak bisa tidur.” Jawab Jalu.
“Kalian sedang bicara apa disini ?” tegur seseorang yang dari tadi mengintai mereka hingga mengejutkan Gede Paneluh dan Jalu.
“Maaf kami hanya ngobrol biasa saja kok, sambil istirahat karena kaki saya terluka.Apa gubuk ini milik Nyai ?” Jawab Gede Paneluh.
“Iya Gubuk ini milik saya, kalau kalian mau istirahat saja di tempatku.” Ucap wanita itu.
“Bolehkah Nyai, apa tidak merepotkan Nyai ? Tampaknya Nyai bukan Asli orang sini bahkan bukan dari negeri ini ?” Tanya Gede Paneluh.
“Panggil saja Aku Susiana, aku memang bukan asli pribumi Indonesia tapi sudah lama tinggal disini.” Ucap Wanita tersebut.
Kemudian wanita yang mengaku bernama Susiana tersebut mengajak Gede Paneluh dan Jalu ke rumahnya. Baik Gede Paneluh maupun Panjalu tidak menduga jika wanita tersebut adalah seorang Ninja yang sebenarnya bernama Mutsashi. Anak buah Yukimoto yang telah mengganti nama dirinya menjadi Susiana agar bisa berbaur dengan penduduk lokal.
“Tampaknya aku bertemu dengan orang yang punya musuh sama dengan klan Ninja Yukimoto. Bisa aku manfaatkan orang orang ini nanti.” Batin Mutsashi yang berganti nama jadi Susiana tersebut…!?!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1