Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq & Jafar berbagi tugas 2


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Sidiq & Jafar berbagi tugas 2...


Pada saat berikutnya, Jafar justru berhasil mendesak sosok itu. Namun datang lagi sosok yang tiba-tiba ikut menyerang Jafar dan berkata.


“Mundur kalian semua, biar aku yang hadapi anak itu.” Sosok yang mirip dengan Joyo Muruto.


 


Jafar terkejut, melihat sosok orang tua di hadapannya. Wujudnya sedikit berbeda dengan yang lain. Sosok yang lain dalam wujud apapun, semua kepalanya bertanduk. Tapi sosok yang barusan datang sungguh sangat mirip dengan manusia.


Jafar yang dibukakan mata Batin oleh ayahnya, bisa melihat sosok Jin dalam wujud apapun. Namun kali ini Jafar jadi penasaran, dengan sosok yang menyerupai Ki Joyo Maruto.


 


“Sebangsa apakah wahai kamu kakek tua?” tanya Jafar.


“Aku adalah ruh dari Joyo Maruto, yang dahulu dibunuh oleh Ayah kamu,” jawab sosok itu.


“Sungguh Ruh orang yang sudah mati itu dalam genggaman Allah. Tidak satupun dapat berkeliaran di muka bumi. Kecuali ruh dari orang orang yang Soleh. Kalau begitu kamu hanyalah Jin Qorin dari kakek yang bernama Joyo Maruto,” jawab Jafar.


“Bedebah kamu, masih kecil sudah tahu hal itu,” umpat Jin Qorin Joyo Maruto itu.


“Tidak akan ruh manusia, apalagi manusia jahat seperti Joyo Maruto berkeliaran di alam dunia,” jawab Jafar.


Sosok itu pun semakin geram, seakan penyamarannya diketahui Jafar.


“Ruh orang umum, apalagi yang banyak dosa akan sibuk menghadapi siksa kubur. Hanya ruh orang soleh yang tidak disiksa dalam kubur dan mendapat nikmat kubur,” kata Jafar.


“Diam kamu bocah…!” ucap sosok tersebut.


“Jin semacam kamu inilah yang sering menyesatkan manusia. Mengira semua ruh bisa berkeliaran di alam dunia,” lanjut Jafar tanpa rasa takut sedikitpun.


“Tutup mulutmu , dasar bocah kurang ajar…!” bentak sosok itu, tiba-tiba wujudnya berubah menjadi besar dan matanya merah menyala.


 


Jafar mundur beberapa lanhkah, mempersiapkan untuk menerapkan Stambul Al-Quran warisan kakeknya. Sesaat kemudian, muncul lingkaran cahaya tipis mengitari tubuh Jafar. Di hadapan Jafar pun seperti terpampang Ayat ayat Al-Quran yang merupakan Ayat ayat perlindungan. Baik perlindungan dari makhuk Gaib maupun perlindungan dari semua makhluk.


 


Sosok itu pun terkejut dengan apa yang terjadi.


 


“Rupanya kamu adalah ‘Pewaris Stambul Al-Quran’ itu. Pantas saja kamu tidak mudah dikalahkan,” ucap Sosok yang menyerupai Ki Joyo Maruto.


“Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya hanya berlindung kepada Allah. Berlindung dari godaan semua Makhluk, dengan Ayat Ayat Allah yang sempurna,” jawab Jafar, sambil terus membaca ayat ayat perindungan dalam hatinya.


 


“Rasakan kesombonganmu sekarang, bocah,” kata sosok itu.


 


Sebuah semburan apai yang besar mengarah ke Jafar. Api yang keluar dari mulut dan tangan sosok tersebut mengepung Jafar. Namun Jafar tidak gentar, dan terus membaca doa dari ayat ayat Al-Quran. Selama beberapa detik Jafar terkurung apai yang sangat besar. Namun api yang berkobar tersebut tidak sampai menyentuh Jafar. Lingkaran cahaya tipis, melindungi tubuh Jafar, sebuah kemuliyaan Al-Quran. Di hati orang yang Mukmin dan taat menjalankan perintah agama.


 


“Kurang ajar, anak ini benar benar terlindungi Kalimah suci itu,” gerutu sosok tersebut.


“Menyerahlah kamu, pergilah dari sini !” kata Jafar.


“Apa yang kamu dapat selama ini, aku tawarkan kemewahan dan keikmatan dunia padamu. Jika kamu mau bekerjasama denganku,” kata sosok itu.


“Naudzu billahi min dzalika, aku tidak sudi bekerjasama dengan bangsamu,” jawab Jafar.


“Jangan bodoh, aku tawarkan Ilmu kesaktian jika kamu mau, bahkan kemewahan dunia dan kenikmatan wanita jika kamu menghendaki. Asal kamu mau menjadikan aku temanmu,” ucap sosok itu.


“Sebaik baik tempat meminta, dan satu satunya tempat berlindung terbaik hanyalah kepada Allah. Bukan pada Jin sepertimu, yang kerjanya menyesatkan manusia,” jawab Jafar.


 


Jafar yang terus mengulang bacaan bacaan doa tersebut, membuat Jin Khadam yang lain meraung kesakitan dan meninggalkan tempat tersebut. Tinggal satu sosok Jin Qorin Joyo Maruto yang masih membujuk Jafar.


 


“Manusialah yang pengen sesat, jangan salahkan kami,” kata Jin tersebut.


“Tidak disalahkan pun, kamu memang bersalah menggoda manusia,” jawab Jafar.


Jin itupun sudah berputus asa. Kemudian dengan nekat juga Jin itu menyerang Jafar dengan jurus jurus yang dipakai Ki Joyo Maruto dulu,”


 


Begitulah sifat, Jin Qorin dalam menggoda dn membujuk manusia. Syangnya kali yang dihadapi adalah Jafar. Pemuda yang sudah di gembleng lahir dan batinnya, sehingga tidak mudah dibujuk oleh Jin sepeti Jin Qorin tersebut.


 

__ADS_1


Kali ini Jafar sengaja melawan serangan Jin tersebut dengan jurus jurus Suci Hijaiyah. Jafar berpikir, setiap Surat, Ayat bahkan huruf dalam Al-Quran itu ada Khodam atau penjaganya yang berupa Malaikat. Sehingga untuk melawan Jin Jafar menggunakan jurus Suci Hijaiyah tersebut.


 


Joyo Maruto palsu membabi buta menyerang Jafar. Namun usahanya pun sia sia. Jafar selalu berhasil mementahkan semua serangan Sosok tersebut.


 


“Anak ini benar benar merepotkan, dengan cara apapun aku tidak bisa menang. Bahkan dengan bujuk rayu pun juga tidak mempan,” gerutu Sosok tersebut.


 


Jafar sendiri sudah merasa terlalu lama membuang buang waktu melayani Jin tersebut. Jafar juga sudah diperintahkan agar sudah sampai Pesantren sebelum subuh. Sehingga Jafar tidak ingin berlama lama melayani permainan Jin tersebut. dengan gerakan cepat, Jafar menggunakan Jurus Suci Hijaiyah tingkat ‘YA’.


Jafar menepukan telpak tangannya ke tanah, sambil membaca doa,


“Wamaa romaita idz Romaita walaa Kinnallaha roma…!”


 


Seketika Jin tersebut terpental jauh, tak ada lagi Khodam Jin yang mengganggu rumah Yasin. Jafar segera masuk ke dalam rumah, menemui Ayah dan Bundanya.


“Alhamdulillah Yah, semua sudah pergi.” Kata Jafar.


“Syukur Alhamdulillah, kamu tidak kenapa napa ?” tanya Yasin.


“Jafar, kamu harus fokus awasi adikmu Nisa, ya!” sahut Fatimah.


“Iya Bunda, Jafar gak papa Yah. Tadi Abah guru berpesan, agar Jafar sampai ke  Pesantren sebelum subuh,” kata Jafar.


“Iya, mungkin Sidiq juga butuh bantuan kamu menghadapi dua murid Ki Munding Suro,” jawab Yasin.


“Iya Yah,” jawab Jafar singkat.


 


Setelah Jafar berbincang dengan kedua orang tuanya,  Jafar pun segera mohon ijin pamit untuk pulang. Tanpa menemui siapapun termasuk Wisnu sepupunya. Karena Jafar pun jadi kepikiran dengan Nisa adiknya, Gadis yang agak bandel, dan sering seenaknya sendiri.


 


*****


 


Kembali ke perjalanan Sidiq dan Ihsan


 


Sidiq yang was-was dengan ulah dua murid Ki Munding Suro, ingin segera sampai ke Pesantren Al-Huda.


“Mau cepat bagaimana Diq, jalan menanjak begini,” jawab Ihsan.


“Aduh, kenapa tadi gak pakai motor yang agak bagusan dikit sih,” keluh Sidiq.


“Ya aku kan punyanya hanya ini Diq,” jawab Ihsan.


“Maksudku pinjam punya siapa kek,” kata Sidiq.


“Ya bagaimana lagi udah terlanjur, tinggal dekat ini,” jawab Ihsan.


“Gini aja, kamu bawa motor aku akan lari saja, nanti ketemu di gerbang pesantren,” ucap Sidiq.


“Gila kamu Diq? Kalau jalan masih agak jauh,” kata Ihsan.


“Udah berhenti saja dulu, biar aku turun” kata Sidiq.


 


Mau gak mau Ihsan pun akhirnya menuruti apa kata Sidiq. Ihsan paham kekhawatiran Sidiq terhadap Nisa adiknya. Sidiq pun langsung turun dan melesat pergi meninggalkan Ihsan. Kemudian Ihsan kembali melanjutkan perjalanan ke Pesantren Al-Huda dengan motornya.


*****


 


Sidiq menggunakan Sayeti Angin untuk memprcepat larinya, sehingga jauh meninggalkan Ihsan. Namun lari Sidiq harus terhenti, manakala melihat dua bayangan di kejauhan.


 


“Aku yakin, dua orang tersebut adalah Gagak Seta dan Jaladara, apa sebenarnya tujuan mereka?” ucap Sidiq dalam hati.


 


Sidiq pun mencoba mendekati dua bayangan tersebut, dalam keremangan cahaya bulan sebelum purnama. Sidiq mendekati dengan hati hati, Sidiq tahu dua orang itu tidak bisa diremehkan jika sudah bersatu.


 


“Apa maksud Abah guru memberi aku dan Ihsan tongkat pendek ini ya?” tanya Sidiq dalam hati.


Sambil melangkah pelan, Sidiq meraba tongkat pinjaman Abah gurunya tersebut.


Setelah jarak cukup dekat, Sidiq menghentikan langkahnya, samar samar suara dua orang tersebut pun dapat di dengar oleh Sidiq.


“Ternyata benar, Gagak Seta dan Jaladara, aku harus tahu rencana mereka,” ucap Sidiq dalam hati.


 


Sidiq pun, berusaha mendekat lagi, dengan hati hati. Agar pembicaraan mereka dapat dengan jelas di dengarkan.

__ADS_1


 


“Tampaknya, tidak jauh lagi tempat Padepokan anak anak Yasin tersebut,” kata Gagak Seta.


“Iya Kakang, lebih baik kita langsung ke sana saja sekarang,” kata Jaladara.


“Jangan buru-buru, jam segini pasti masih ramai. Nanti saat sudah pada tidur saja kita kesana,” ucap Gagak Seta.


“Sayang  tidak ada  Jalu, Jaka dan Bayu. Mereka kan bisa menghilang kakang,” kata Jaladara.


“Kamu pikir, karena mereka bisa menghilang lantas pasti berhasil? Beberapa kali ilmu mereka tidak ada gunanya bagi keluarga Yasin,” jawab Gagak Seta.


 


Jaladara baru ingat, berkali kali aji halimun dapat diketahui oleh Yasin dan anak anaknya. Sementara Sidiq di tempat persembunyianya, menjadi geram mengetahu rencana dua orang tersebut.Sidiq jadi bimbang, apakah akan menyergap mereka di tempat itu atau nanti saat di pesantren saja.


 


Dalam keraguan akhirnya Sidiq memutuskan menyusul Ihsan di Pesantren. Namun karena Sidiq berjalan mundur sambil mengawasi kedua orang tersebut. Kaki Sidiq tanpa sengaja menginjak dahan kering hingga menimbulkan suara, Klaak…!


 


Sidiq pun kaget, terlebih dua murid Ki Munding Suro tersebut.


“Siapa?” tanya Gagak Seta.


“Keluarlah, atau kamu memilih celaka?” sahut Jaladara.


 


Sidiq agak ragu mengambil langkah, mau menghadapi dua orang sekaligus masih ragu. Namun jika ditinggal juga lebih berbahaya lagi. Akhirnya Sidiq kemutuskan untuk memancing dua orang tersebut mengikuti dirinya.


 


“Kejar aku kalau kalian mampu,” ucap Sidiq.


Dua orang tersebut pun mengejar Sidiq dengan cepat.


 


“Ternyata anak ini lagi, harus kita habisi sekarang juga,” ucap Gagak Seta.


“Kejar ayok,” sahut Jaladara.


Kejar kejaran pun terjadi, Sidiq sengaja memancing ke jalan raya. Sidiq menggunakan Sayeti angin dikejar ole dua orang.


 


Sidiq berusaha mengulur waktu saja untuk memancing dua orang tersebut, sambil mendekati Pesantren. Dua orang tersebut pun tanp sadar sudah terjebak oleh permainan Sidiq. Tahu tahu mereka sudah berada di depan pintu Gerbang Pesantren. Bahkan Ihsan sudah berada di situ ditemani Kholis juga.  Rupanya Ihsan sudah sampai duluan dan menceritakan ke Kholis jika dalam perjalanan bertemu dua musuh.


 


Sehingga saat di tanjakan Sidiq memilih berlari mencari jalan pintas. Dan tidak disangka, Sidiq pun berhasil menjebak Gagak Seta dan Jaladara sampai di gerbang Pesantren.


 


“Owh rupanya ini, orang yang kamu ceritakan,” ucap Kholis.


“Iya Kang Kholis, eeh tahu tahu malah udah nyusul kemari,” jawab Ihsan.


“Tahu tuh, pengen ikut Sidiq dari tadi. Mau bertaubat kali,udah bosan jadi budak Iblis mungkin,” sahut Sidiq sambil ngos ngosan habis kejar kejaran.


 


“Keparat kamu, rupanya kamu menjebakku lagi. Tapi jangan bangga dulu, aku siap hadapi kalian semua,” kata Gagak Seta menahan Amarah, sudah dua kali di kerjain Sidiq. Sebelumnya jadi bulan bulanan orang kampung, dan sekarang digiring ke Peaantren, saat masih banyak terjaga.


 


“Langsung gunakan Jurus Pemecah Ombak saja Kang, dari pada kelamaan,” sahut Jaladara langsung mempersiapkan jurus Pemecah ombak.


... Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


Note :


Jin Qorin adalah, Jin yang menyertai manusia sejak lahir.


Semua perilaku dan wujudnya mirip dengan yang diikuti.



 

__ADS_1


__ADS_2