Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ari Cs memanfaatkan kondisi merusak hubungan Sidiq dan Riska


__ADS_3

Ari Cs memanfaatkan kondisi merusak hubungan Sidiq dan Riska


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


Aku mau fokus pada masalah yang harus aku hadapi saja, soal Riska dan ayahnya aku ikut saja apa keputusan Riska. Meski jujur hatiku jadi sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi aku juga gak mungkin menyalahkan adikku Jafar yang sudah membelaku begitu. Mungkin ini memang sudah takdir, yang harus aku terima. Lagian siapa aku ini, kenapa mengharap anak seorang Lurah yang terpandang seperti Riska. Aku memang tidak tahu diri, tidak mengaca dengan keadaan diri sendiri, kata hatiku yang sedang kalut…?


Aku merenung sendiri di dalam kelas yang masih kosong. “Beginikah rasanya bila cinta tak direstui ? apa begini juga dulu yang dirasakan ayahku dan mamah Arum. Apakah Sidiq juga harus mengalami hal yang sama saat ini. Aku meratapi keadaanku yang rasanya seperti kacau balau. Kenapa justru terjadi saat bersamaan aku sedang menghadapi masalah yang berat begini ?


Tidak,,, aku tidak boleh cengeng Sidiq tidak boleh sampai menitikkan air mata karena hal ini….!!!


Aku terus mengalami pergolakan batin yang sangat sulit aku ceritakan dan hanya dapat aku rasakan saja. Sampai aku hanya mampu memegangi kepalaku yang tertunduk tidak menyadari jika Dina teman satu kelasku sudah berdiri disampingku.


“Eheem… tumben datang paling awal. Gak bareng Riska memangnya Diq ?” Tanya Dina mengejutkan aku.


“Owh eeh iya Din, aku lihat rumah Riska tadi masih sepi jadi langsung ke sekolah saja.” Jawabku berdiplomasi.


“Owh begitu, tapi kayaknya kamu loyo begitu ? Yakin gak ada masalah sama Riska ?” tanya Dina.


“Gak kok, aku mau mampir masih terlalu pagi, takut ketemu orang tuanya saja Din.” Jawabku berbohong kali ini.


“Kayaknya kamu lagi ada sesuatu gak seperti biasanya. Cerita dong Diq, bukan maksud Dina kepo. Sapa tahu aja bisa bantu kamu.” Kata Dina.


“Apa yang mau diceritakan Din, memang gak ada apa apa kok.” Jawabku kembali berdusta.


Pembicaraanku dengan Dina harus terhenti karena sudah cukup banyak yang berdatangan masuk ke kelas. Rupanya Dina tetap menaruh curiga kepadaku, dan mengetahui jika aku sedang ada masalah dengan Riska. Namun Dina juga tetap diam, tidak ingin semua temanku jadi tahu.


Dan sampai bel masuk sekolah kami pun segera bersiap mengikuti pelajaran pertama hari itu. aku tidak bisa fokus mengikuti pelajaran karena pikiranku entah kemana. Hingga bel istirahat berbunyi.


Hampir semua berhamburan keluar kelas dengan tujuan masing masing. Ada yang langsung ke kantin ke kamar kecil dan entah kemana lagi. Tapi hari itu aku enggan kemana mana bahkan ke kantin pun aku rasanya jadi malas. Dan memilih berdiam dir di dalam kelas saja.


Beberapa menit aku sendirian di dalam kelas, tiba tiba Dina kembali masuk ke kelas dan mendekati aku.


“Kamu gak usah bohong, tidak biasanya kamu berdiam diri di kelas begini. Dan Riska pun tadi di kantin hanya diam saja. Bahkan matanya berkaca kaca seperti habis menangis. Ada apa sebenarnya Diq ?” tanya Dina.


Aku terdiam sejenak, lidahku jadi kelu untuk berbicara. Beratnya beban pikiran yang sedang aku hadapi membuat aku tidak bisa berkata apapun. Sampai Dina kembali bertanya.


“Kamu dan Riska kan sudah mengalami banyak hal yang cukup berat selama ini. sayang Diq, kalau kalian jadi seperti ini. Ada masalah ya diselesaikan jangan hanya saling diam begini.” Ucap Dina.


“Sulit Din, tidak semudah yang kamu kira.” Tiba tiba seperti tak sadar mulutku berkata seperti itu. bahkan aku sendiri sampai kaget dengan ucapanku tersebut.


“Masak sih tidak bisa kalian rundingkan sama sekali ?” Tanya Dina.


“Masalahnya berhubungan dengan orang tua Riska. Beliau tidak suka aku dekat dengan Riska, dan aku sadar diri siapa aku ini dibandingkan dengan orang tua Riska yang terpandang Din.” Jawabku entah kenapa seperti terhipnotis oleh Dina. Aku jadi terpancing untuk menceritakan perasaan yang sedang aku alami saat ini.

__ADS_1


“Tenang saja Sidiq, kalian kan masih sekolah juga saat ini mungkin ayahnya Riska gak setuju. Tapi besok siapa tahu kan. Kecuali kalau kamu memang sudah berencana melamar dan tidak disetujui baru kamu pikirin. Sekarang mah jalani saja gak perlu di pikir terlalu jauh.” Ucap Dina.


“Tapi sulit Din, aku masih sakit jika ingat ucapan ayahnya yang tak sengaja ku dengar tadi pagi.” Jawabku ke Dina.


“Ngapain pusing, kan pacar lo Dina bukan ayahnya Diq.” Ucap Dina enteng banget kayak gak ada beban.


“Ya gak bisa begitu Din, masak macarin anaknya gak anggap bapaknya sam sekali.” Protesku.


“Kan baru pacar ini, siapa tahu suatu saat ayahnya Riska justru merestui kalian bahkan jika kamu berhasil berbalik meminta kamu melamar Riska.” Ucap Dina.


“Gak tahu lah Din, mungkin ada baiknya aku dan Riska saat ini cooling down dulu saja deh. Biar gak jadi beban juga buat Riska.” Jawabku.


“Itu sih terserah kamu Diq, tapi ingat jangan mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat. Karena penyesalan yang akan timbul.” Ucap Dina mengakhiri pembicaraan karena bel masuk sudah berbunyi.


Dan kami pun kembali mengikuti pelajaran sekolah, dan waktu berjalan begitu lambat rasanya. Aku yang sedang tidak bisa berkonsentrasi malah jadi bahan perbincangan teman teman satu kelasku saat itu.


Dan sampai dengan jam pulang pikiranku masih saja berkeliaran entah mikir apa saja. Aku baru sadar, mau gak mau harus ketemu Riska di tempat kerjaku nanti. Dan itu artinya harus ada dialog dengan Riska juga, pikirku.


Dengan agak berat aku melangkah menuju parkiran motor, dan sebelum aku berangkat ke tempat kerja aku istirahat sejenak di parkiran. Rasanya masih belum siap bertemu dengan Riska, aku rindu tapi juga tak siap mendengar ucapan Riska bila nanti menyampaikan apa yang diucapkan Ayahnya tadi. Bahkan Chat ku juga tidak di balasnya sama sekali. Sehingga aku merasa jika Riska sepertinya lebih memilih mendengarkan ucapan ayahnya untuk menjauhiku.


Aku harus mengumpulkan keberanian jika nanti bertemu di tempat kerja. Apapun yang akan dikatakan Riska aku harus bisa menghormati keputusannya. Meski jujur hatiku sangat sedih, membayangkan jika Riska mengatakan,” Mas Sidiq Riska tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena tak direstui.” Meskipun itu baru sebatas ketakutanku saja. Tapi rasanya sudah benar benar terjadi, dan membuat aku sangat bersedih.


“Ngapain lo Sidiq , Lo masih harus balik ke Al-Huda lagi ? Kok bawa motor itu ?” tanya Ihsan mengejutkan aku.


“Aah elo San, bikin kaget saja datang datang langsung bikin kaget.” Jawabku.


“Elo aja yang melamun Diq, ditanya gitu saja kaget. Memang ada apa sih, cerita dong biar gak jadi ganjalan hati.” Ucap Ihsan.


“Okelah kalau begitu, yuk kita cabut. Kamu gak boncengin tuh cewek kamu Riska ?” Kata Ihsan.


Aduh kenapa harus Riska lagi yang jadi bahan pembicaraan batinku.


“Gak San, gak enak kalau boncengin cewek ini kan motor Nia putri abah Syuhada.” Jawabku berdalih saja.


“Okelah, aku cabut dulu kamu mau langsung ke tempat kerja apa mau langsung ke pondok AL-Huda ?” Tanya Ihsan.


“Tempat kerja San, aku kan ada tanggungan ganti biaya pengobatan Muksin. Dari mana dapat duit untuk itu kalo gak kerja. Malu kalau Ayah bundaku harus menanggung juga, Sidiq dari dulu udah selalu bikin mereka susah.” Jawabku pada Ihsan.


“Udah sadar lo Diq,wkakaka….!” Kata Ihsan langsung kabur dengan motornya, tidak memberikan kesempatan padaku untuk membalasnya.


Dasar Ihsan, Santri yang malas ngaji tapi sangat mencintai kyai. Semoga kecintaan pada kyai dan Ulama menjadi jalan Hidayah baginya, batinku. Aku memandang Ihsan yang sudah agak jauh, tapi aku sendiri ragu ragu untuk segera meninggalkan tempat Parkir. Biarlah ku pastikan Riska sudah pulang duluan, entah aku merasa belum siap untuk bertemu Riska saat ini. Bagaimana nanti di tempat Kerja jika berhadapan dengan Riska pun aku juga gak tahu harus bagaimana.


*****


Author POV


Di tempat lain Riska yang merasa aneh tidak bertemu Sidiq di kantin saat istirahat menjadi gelisah saat hendak pulang ke rumahnya. Lita alias Dina kakak Vina mencoba menghiburnya.


“Sudah Ris, kita pulang yuk masih ada waktu esok buat jelasin ke Sidiq.” Kata Lita.


“Riska tidak enak saja Lita, pasti mas Sidiq mikirnya yang gak gak, dikira Riska gak mau balas Chatnya. Padahal HP Riska disita sekarang. Dan Riska gak boleh lagi ikut kerja di counter, pasti menambah beban pikiran mas sidiq.” Jawab Riska.

__ADS_1


“Apa perlu Lita yang menjelaskan ke Sidiq Ris ?” Tanya Lita.


“Jangan dulu, kayak gak tahu mas Sidiq aja. Kalau lagi marah kayak apa, takutnya malah makin emosi nanti.” Jawab Riska.


“Lagian kenapa sih orang tua kamu begitu Ris, kan bukan Sidiq yang mulai bikin masalah.” Kata Lita.


“Udah Riska jelasin semuanya tapi tetap saja mereka gak mau percaya. Karena mereka lebih percaya orang orangnya Ari.” Jawab Riska sedih.


“Jadi ini semua ulah anak buahnya Ari ?” Tanya Lita.


“Yah siapa lagi kalau bukan mereka Lita. Kan Ari yang memanfaatkan berita itu untuk mengambil keuntungan. Karena menghadapi mas Sidiq secara langsung sudah berkali kali gagal.” Ucap Riska.


“Kurang ajar anak anak itu, lambat laun Sidiq pasti dengar dan pasti akan mengamuk Ris. Mending juga kamu kasih tahu saja sekarang.” Ucap Lita.


“Riska gak berani, takut mas Sidiq emosi dan lepas kendali. Bisa bisa orang tuaku malah makin benci mas Sidiq Nanti.” Jawab Riska.


“Gak boleh begitu dong Ris, boleh gak boleh Lita akan kasih tahu Sidiq. Biar dia tahu masalah yang sebenarnya.” Kata Lita memaksa Riska.


“Kamu mau membuat mas Sidiq makin marah dan lepas kendali ? Nanti orang tuaku akan semakin benci mas Sidiq Lita…!!!” sahut Riska.


“Tidak,,, aku ingin kalian tetap bersatu seperti kemarin Ris. Jujur saja, sejak aku lihat adikku di pesantren aku jadi salut sama anak anak Santri. Dan Bagus kamu bisa dekat dengan Sidiq Santri yang cakep dan berani.” Kata Lita yang hendak menceritakan kepada Sidiq apa yang sebenarnya terjadi pada Riska.


“Jangan Lita,,, Riska juga gak mau mas Sidiq membahayakan dirinya saat ini. Karena Ari sudah mendapat dukungan penuh dari Jalu dan kawan kawannya sekarang untuk melawan mas Sidiq…!” Jawab Riska.


Lita jadi kaget, mendengar keterangan Riska. Namun Lita juga tidak mau hubungan Sidiq dan Riska hancur. Diam diam Lita berencana mengontak Vina adiknya, untuk menceritakan apa yang terjadi dengan Sidiq dan Riska. Tanpa Lita tahu jika Sidiq saat ini sedang berada di pesantren Vina juga, sehingga besar kemungkinan Sidiq akan mendengar berita itu juga…?


... Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2