
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Suara yang tidak ada wujudnya itu kembali terdengar, aku tidak mempedulikannya, mungkin ini sebagai ujian bagiku saja, pikirku. Aku terus saja melanjutkan membaca doa doa yang diperintahkan abah guruku.
“Jafar,kamu harus bantu kakak kamu Sidiq, dia dalam bahaya karena ada musuh yang akan menyerangnya.” Suara samar tanpa ada wujudnya itu kembali terdengar….!?!
Aku tidak hiraukan itu, karena aku pernah dengar jika saat sedang berdoa di makam itu seringkali ada godaan. Juga ketika orang sedang bermunajat pada Allah kadang Iblis muncul memberi bisikan untuk menyesatkan.
Aku tetap melanjutkan doaku sesuai dengan perintah Abah Guruku, aku tidak mau berhenti sebelum tugas selesai, itulah ‘Dawuh’ ( perintah ) Abah Guruku. Tanpa ada yang membimbing memang sangat berbahaya karena Setan akan menggoda dengan berbagai macam cara. Dan jika kita terpedaya akan bisa masuk ke dalam kesyirikan.
Sampai lewat tengah malam aku baru selesai memanjatkan doa doa sesuai dengan perintah Abah Guruku. Kemudian aku kembali ke pesantren, dan mengulangi lagi besok malam sampai dengan dapat bertemu dengan Kakek Guru atau orang tua Abah Guru.
*****
Di tempat lain di hari yang sama.
Sidiq POV
“Alhamdulillah Ari cs sudah tidak berani bikin ulah lagi sekarang, namun cepat atau lambat kayaknya aku harus berhadapan dengan yang namanya Jalu itu.” kataku dalam hati.
Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa Jalu itu adalah sawung Panjalu seperti yang diceritakan orang yang mengganggu bunda Fatimah kemarin. Aku harus tetap waspada, besar kemungkinan dia juga akan mencari ayahku dan menuntut balas. Apalagi Yuyut sudah memperingatkan Jafar adikku.
Aku kadang merasa iri dengan Jafar, karena dia memiliki ayah bunda yang komplit dan sangat disayangi Yuyut. Namun aku juga tidak mungkin menyalahkan siapapun, takdirku memang harus begini. Kadang memang aku menangis dalam hati, setelah tahu aku lahir diluar nikah. Dan kadang terbersih menyalahkan ayah dan mamah Arum. Namun akhirnya aku sadar, jika tidak ada manusia yang sempurna. Dan aku sebagai anak merekalah yang harus menutupi kekurangan kedua orang tua kandungku.
Bagaimanapun Darah dan daging di tubuhku adalah darah dan daging ayah dan mamah Arum. Apalagi setelah aku semakin tahu, kisah cinta antara mamah dan ayahku dahulu. Aku tak punya alasan menyalahkan salah satunya. Dan kenyataannya sekarang wak Chandra juga menikah dengan bulek Khotimah sepupu bunda Fatimah. Dean yang pasti bunda Fatimah sangat menyayangiku dari kecil, bahkan aku sekarang merasa mempunyai dua keluarga yang menyayangi aku dengan tulus.
Jafar dan Nisa pun tak pernah menganggap aku sebagai kakak tiri, apalagi Nisa adikku wataknya justru keras mirip aku. Tidak seperti Jafar kakak satu ibunya yang lembut. Sehingga aku sangat menyayangi mereka juga, seperti aku menyayangi Panji adikku dari mamah Arum dan O Rofiq. Meski aku tak bisa memanggil papa. Karena dari kecil dulu terbiasa memanggil om.
“Diq dipanggil abah Guru…!” seru Ihsan mengejutkan aku, hingga lamunanku jadi buyar.
“Aah bikin kaget saja kamu San, Ada apa ?” Tanyaku pada Ihsan
“Dipanggil abah guru, aah kamu mikirin Riska melulu ya ?” gerutu Ihsan.
“Ngawur saja kamu, aku lagi ingat kedua orang tuaku sama adik adikku kok.” Sahutku membela diri, karena memang bukan karena Riska aku bengong.
“Ya sudah cepat menghadap sana sekarang !” ucap Ihsan.
Aku jadi berpikir, tadi saja berpapasan setelah mengaji Hikam. Kenapa sekarang aku disuruh menghadap, aku jadi penasaran.
“Ada apa ya San, apa beliau tahu aku berantem di sekolah ?” tanyaku pada Ihsan.
“Gak tahu juga kalau itu, kamu menghadap saja biar jelas.” Ucap Ihsan.
Akupun segera menghadap kepada Abah Guru dengan segenap rasa penasaranku.
*****
Sesampai di hadapan Abah Guru Nurudin
“Assalaamu’alaikum Bah…!” sapaku dengan hormat pada Abah Guruku.
“Wa’alaikummussalaam, duduk sini kamu Sidiq…!” ucap abah guruku dengan pelan tapi berwibawa.
Ketika aku mau duduk di kursi yang berhadapan dengan beliau, beliau menyuruhku untuk duduk di samping beliau.
“Duduk sini saja di samping abah sini.” Perintah beliau.
Aku agak ragu tapi juga tidak berani membantah, hanya berpikir ada apa sebenarnya kenapa aku disuruh duduk di samping beliau, batinku. Dengan sedikit rasa khawatir aku mendekat dan duduk di samping beliau.
“Maaf Abah, apakah Sidiq punya salah dipanggil Abah kemari ?” Tanyaku hati hati.
“Ya sudah pasti lah, hanya nabi Muhammad yang bergelar Maksum gak punya salah. Kalau manusia sudah pasti punya salah.” Jawab Abah Guru sambil tertawa kecil. Sedikit melegakan aku, karena belia tidak kelihatan marah.
“Maksud Sidiq, berbuat salah yang menyebabkan abah guru tidak berkenan.” Jawabku sedikit grogi.
“Memang ada, tapi ada yang lebih penting dari sekedar membahas kesalahan kamu sekarang ini.” Ucap Abah guru.
Aku jadi semakin grogi, pertama berpikir kesalahan apa yang dimaksud. Yang kedua masalah apa yang lebih penting dari kesalahan yang aku perbuat.
“Apa itu bah, apa ada yang harus saya kerjakan ?” tanyaku.
Abah guru tampak diam sesaat, sambil menghisap rokok kreteknya. Kemudian mulai menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
“Nanti malam kamu Ziarah kubur, doakan kedua orang tua abah.” Jawab Abah Guru.
“Nanti jam berapa bah ?” tanyaku karena ini juga sudah jam delapan malam lebih.
“Nanti kamu berangkat jam Sembilan malam abah antar tapi kamu pulangnya sendiri.” Jawab Abah.
“Iya bah, tapi biasanya kan ziarah kalau hari jumat habis ashar bah ke makam eyang ?” tanyaku pada Abah Guru.
“Kamu jangan membantah, abah tahu kamu habis berantem kan. Dan itu akan menimbulkan masalah yang cukup panjang. Makanya Abah kasih kamu tugas itu.” awab Abha serius.
Aku hanya tertunduk, aku tidak berani membantah sedikitpun kalau abah sudah berkata seperti itu.
“Iya bah, Sidiq akan laksanakan.” Jawabku singkat.
“Kemarin kamu katanya ijin pulang ke rumah kamu. Bagaimana kabar ayah kamu sekarang ?” tanya Abah.
“Alhamdulillah bah, sepertinya sudah mulai bangkit usaha ayah bunda Sidiq.” Jawabku.
“Ayah kamu itu murid Abah Thoha, dan abah adalah murid abah Sukron, sedangkan abah Syukron itu adik angkatan Abah Thoha di pesantren. Adi aku juga kenal dengan ayah kamu.” Ucap Abah Guru, entah apa maksut pembicaraan beliau.
“Iya bah.” Aku hanya berani menjawab sepatah dua patah kata, melihat Abah sedang serius bicara seperti itu. sedang jika sedang bercanda aku pun berani menimpali candaan beliau juga. Meski tetap tidak meninggalkan Adab seorang Santri.
“Abah sering dengar tentang ayah kamu dari kang Salim senior ayah kamu sekaligus mentornya. Dan aku juga tahu cerita tentang kamu dari awal hingga kamu tumbuh remaja dan masuk pesantren ini.” kata abah guru.
Aku agak merasa malu abahguruku tahu cerita tentang aku, berarti tahu jika aku ini anak yang lahir di luar Nikah. Apakah ini inti topic yang akan beliau sampaikan, batinku.
“Iya bah, Sidiq menyadari itu.” jawabku.
“Tidak ada yang perlu disesali, masih bersyukur kamu lahir laki laki. Jika kamu lahir perempuan maka saat kamu menikah nanti ayahmu tidak bisa jadi wali nikahnya. Tapi harus wali hakim, tapi sudahlah itu sudah terjadi. Yang jelas sekarang kamu harus ikhlas menerima itu. jangan salahkan kedua orang tua kandung kamu.” Ucap Abah Guru.
Dalam hati aku membatin, “ kok bisa sama dengan yang aku lamunkan saat sebelum dipanggil Ihsan tadi ya.” Namun aku tidak merisaukan hal itu. lebih berpikir tentang kelanjutan apa yang akan disampaikan Abah Guru.
“Insya Allah Sidiq tidak menyesali bah.” Dengan agak grogi aku mencoba bicara ke abah.
“Jadi kamu harus hati hati jika bergaul dengan lawan Jenis. Agar bisa menghentikan sebuah kesalahan yang pernah terjadi. Untung saja ayah kamu sudah taubatan Nasuha, jika tidak ‘biasanya’ hal tersebut akan menurun ke anak.” ucap Abah Guru.
“Iya bah” jawabku.
“dan satu hal lagi tentang itu, kamu harus benar benar berhati hati dengan lawan jenis.” Pesan abah guru serius. Aku jadi khawatir jika abah guru nanti menyinggung soal kedekatanku dengan Siska.
“Iya bah.” Kembali hanya itu yang mampu aku ucapkan.
“”Kembali ke masalah yang sebenarnya, kamu nanti baca ini setelah membaca doa untuk Ahli kubur.” Kata abah guru sambil menyerahkan dan mengijazahkan doa khusus.
“Abah tahu maksut kamu, iya gak papa. Makanya kamu kuberi tugas ini, sama seperti adikmu yang lain pesantren. Dan abah guru adikmu itu juga murid dari abah Thoha beda angkatan dengan Ayahmu. Bahkan di atas kang Salim mentor ayah kamu.” Ucap Abah guru.
Aku Jadi tahu, kenapa aku dimasukkan ke pesantren ini dan Jafar dan NIsa adikku dimasukkan ke pesantren itu.
“Iya bah, terus berapa hari Sidiq harus ziarah ke makam bah ?” tanyaku memberanikan diri.
“Tidak dibatasi waktu, sampai kamu dapat bertemu dengan kedua orang tuaku dan kakek kamu Sidiq Ali.” Jawab Abah Guru.
Singkat cerita, aku pun segera diantar ke makam kedua orang tua abah guru yang cukup gelap dan aroma mistisnya sangat kental. **** tidak terkesan menyeramkan, namun ada suasana lain yang membuat orang agak takut.
Menurut cerita dahulu ada sepasang pria wanita bukan suami istri yang mau berbuat zina di sekitar makam yang sepi itu. Namun keduanya tidak bisa lepas saat berzina sampai keduanya meninggal. Wallahu a’lam bishowab.
“Abah hanya bisa mengantarmu sampai disini, sekarang masuklah dan segera mulai berdoa. Saat ini juga adik laki lakimu juga sedang melakukan ziarah sama dengan kamu. Semoga kalian sama sama dapat mengambil pelajaran dari ini semua.” Ucap Abah guru sambil melangkah pergi meninggalkan aku sendiri di depan komplek makam keluarga tersebut.
Akupun segera membaca salam kepada Ahli kubur dan segera masuk ke makam eyang ( Kedua orang tua abah guru. Dan segera memanjatkan doa bagi ahli kubur yang ada di situ.
*****
Author POV
Sementara Sidiq dan Jafar melakukan Ziarah melaksanakan perintah guru masing masing di tempat yang berbeda. Nisa di pondok sedang melakukan pembicaraan khusus dengan Nia, yang protes atas latihan fisik yang dilakukan oleh Jafar kakaknya Nisa.
“Hei Nisa, bilang sama kakak kamu Jafar tuh kalau melatih beladiri jangan terlalu keras, Nia jadi pegel semua nih.” Ucap Nia kepada Nisa. Nisa yang sebenarnya dongkol dengan sikap Nia, namun karena Nisa menyadari Nia adalah putrid gurunya maka Nisa hanya diam saja. Menjawab pun tetap dengan menunjukkan rasa hormatnya.
“Maaf Ning Nia, kalau menurut Nisa apa yang dilakukan mas Jafar itu memang standar. Dirumah pun kalau latihan sama Nisa juga seperti itu.” jawab Nisa. Nia yang mendengar jawaban NIsa agak sedikit jengkel, bahkan seakan merasa dirinya diremehkan. Meskipun jawaban Nisa pelan dan sopan, tapi jawabannya menyinggung Nia. Karena Nia seperti dikatakan lemah, Nisa saja kalau latihan dirumah juga begitu. Begitulah ego seorang Nia. Sampai sampai kedua orang tuanya pun agak kewalahan mendidik Nia.
“Maksud kamu, kamu anggap aku ini lemah kamu saja kuat aku gakkuat begitu ?” bentak Nia kepada Nisa. Sehingga banyak yang kemudian datang melihat siapa yang bicara keras. Namun begitu tahu itu adalah ning Nia, mereka pun kembali ke tempat masing masing.
Sebagian menggunjingkan Nia, tapi sebagian juga menggunjingkan Nisa yang dianggap anak baru sudah berani melawan Nia.
“Gak Ning Nia, maksud Nisa gak begitu kok. Mungkin ning Nia tadi baru capek jadi merasa latihan nya jadi berat.” Ucap Nisa, sebenarnya merasa keceplosan atas apa yang dikatakan kepada Nia. Namun sudah terlambat bagaimana lagi, pikir Nisa.
“Aku gak percaya,,,, hmmm kata kamu tadi kamu di rumah dulu juga sering berlatih. Bagaimana kalau sekarang saja kita latih tanding, tapi kamu masih kecil sih pasti gak akan seimbang denganku nanti.” Ucap Nia. Nisa hampir saja menyanggupi tantangan Nia tersebut, namun dia ingat saat akan berangkat ke pesantren. Bundanya sudah berpesan, “Nisa, kamu cewek harus bisa menjaga diri. Bunda lihat kamu malah cenderung meniru kakak kamu Sidiq. Nanti di pesantren kamu harus bisa mengontrol emosi kamu.” Suara Bundanya Nisa masih terngiang di telinga Nisa. Dan itu sudah cukup meredakan emosi Nisa.
“Betul ning Nia, mana berani Nisa melawan ning Nia. Bagaimana kalau sekarang Nisa mijitin Ning Nia saja, Nisa bisa kok mijit kalau sesame cewek gak papa kata bunda Nisa.” Ucap Nisa. Meskipun tetap saja masih sedikit menyimpan rasa jengkel pada Nia.
“Boleh, tapi kalau Nia gak puas maka Nia akan ajak kamu latihan atau latih tanding berdua.” Ucap Nia.
“Iya ning Nia.” Jawab Nisa, dalam hati Nisa berkata, “latih tanding juga boleh, fisik kamu masih terlalu lemah cewek manja.” Kata Nisa dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Nisa segera memijit tangan dan kaki Nia, agar tidak marah marah karena Nisa juga merasa malu kepada teman teman santri putri lain.
“Aow sakit banget, bagaimana sih kamu mijitnya ?” gerutu Nia.
“Owh ini, memang ada jalan darah yang tidak lancar Ning Nia. Mungkin ini yang buat Ning Nia jadi cepat capek.” Jawab Nisa.
“Tahu dari mana kamu ?” tanya Nia.
“Kebetulan dari Yuyut Nisa tahu soal urat dan peredaran darah Ning Nia.” Jawab Nisa.
Dalam hati Nia mengakui kelebihan Nisa, namun ego nya masih terlalu tinggi untuk mengakui itu.
“Apa anak ini memang beneran jago juga seperti kakaknya, bagaimana caranya ya agar aku bisa tahu kehebatan dia. Aah besok aku akan minta kang kholis menyuruh Nisa latih tanding dengan yang lebih senior saja. Nia mau lihat dia beneran jago gak, kalo langsung aku ternyata kau kalah kan malu.” Kata Nia dalam hati.
“coba gerakan kaki ning Nia sekarang lebih enteng belum ?” ucap Nisa.
Kemudian Nia pun menggerakkan kakinya seperti permintaan Nisa. Dan Nia adi kaget ketika merasakan kakinya jadi lebih ringan saat digerakkan dari sebelumnya.
“Eeh kok jadi enak ya iya beneran sekarang jadi lebih ringan.” Ucp Nia Spontan.
Namun begitu Nia tetap saja tidak terima begitu saja, dia tetap menjalankan rencananya untuk melihat Nisa latih tanding dengan seniornya. Dan Nia sedang merencanakan agar Nisa ditunjuk untuk latih tanding dengan yang lebih Senior.
Memang Nia yang masih mencari jati diri tersebut egonya jadi sangat tinggi, dan hanya Jafar dan Nisa yang nantinya akan menundukkan ego Ning Nia. Dan itu pula yang direncanakan oleh abah guru Jafar dan Nisa. Agar Nia bisa berubah perangainya, berdasarkan hasil isyaroh lewat mimpi. Bahwa Nia akan jadi gadis yang rendah hati ketika dibenturkan dengan santrinya yang bernama Jafar dan Nisa. Kakak beradik anak dari Yunior nya sendiri.
*****
Di sekolah Sidiq saat Ari sudah masuk sekolah lagi
Sidiq POV
“Aku jadi agak ngantuk, semalam berdoa di makam lama banget, mana ada gangguan suara suara dan bau yang macam macam lagi.” Gerutuku saat hendak berangkat ke sekolah.
Dengan menahan sedikit rasa ngantuk, aku tetap berangkat ke sekolah berjalan kaki. Jujur saja saat ini ada Riska yang jadi penyemangat aku berangkat ke sekolah. Meski sekedar jalan berangkat dan pulang bareng dan makan di kantin bersama. Tapi hati Sidiq sudah sangat bahagia, dan kalau tidak bertemu sehari saja rasanya kangen banget sekarang.
Berangkatlah aku ke sekolah meski agak lemas tapi tetap semangat ke sekolah. Dan ingin segera sampai di sekolah, semoga saja Riska tidak cemburuan lagi, pikirku.
Sapaan yang aku tunggu ketika sampai di depan rumah Riska pun aku dengar kembali.
“Mas Sidiq, Riska bareng.” Ucap Riska.
“Ayo keburu telat.” Sahutku yang memang agak kesiangan karena agak telat bangun, habis subuh tidur lagi.
Kami pun jalan bareng dengan langkah agak buru buru.
“Kok tumben siang berangkatnya mas ?” tanya Riska.
“Iya, tadi kesiangan semalam ada tugas dari guru ngaji.” Jawabku.
“Owh pantes agak pucat, pasti capek ya mas ?” ucap Riska.
“Gak kok, hanya sedikit mengantuk saja.” Jawabku sambil berjalan agak cepat sampai Riska agak tertinggal.
“jangan cepat cepat dong mas, Riska jadi ketinggalan nih !” protes Riska.
Akupun terpaksa melambatkan langkah kakiku, agar Riska tidak ketinggalan.
Akhirnya kami pun sampai dan masuk ke kelas masing masing. Dan di dalam kelas kembali aku agak kaget karena teman satu kelasku sudah pada menungguku dengan wajah yang sedikit tegang.
“Gawat Diq, tadi Ari kesini bersama kawan kawan nya dan mencarimu.” Kata Dina dengan gemetar.
“Mencari aku buat apa lagi ?” tanyaku.
“katanya dia mau bikin perhitungan dengan kamu, karena gara gara kamu kemarin Ari dikeroyok orang.” Kata Dina.
“Udah biarin saja, nanti Sidiq selesaikan sepulang sekolah saja.” Kataku agak emosi.
INikah yang dimaksud oleh abah guru semalam, bahwa perkelahian ku kemarin akan menjadi berkepanjangan ???
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1