Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Menangkap perusuh


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Semua pun segera berlindung masuk ke rumah makan pak Zul yang sedang tutup. Dan kembali terdengar suara batu batu kerikil yang mengenai atap ruah makan pak Zul. Karena atapnya dari rangka baja ringan sehingga suaranya terdengar nyaring. Aku segera mencaru cara untuk menghentikan mereka. Berpikir keras untuk membalas serangan ketapel yang dilakukan, karena orangnya juga tidak Nampak…!!???


“Mereka semakin menjadi, kalo dibiarkan begini terus bisa tutup usaha saya pak !” ucap pak Zul.


“Sebenarnya apa mau mereka pak ?” tanyaku pada pak Zul.


“Itulah yang saya juga bingung pak, karena awalnya kita baik baik saja. Sebagai sesame pelaku usaha kita sudah berembuk. Hanya semenjak ganti pemborong saja keadaan menjadi begini.” Jawab Pak Zul.


“Berarti masalah timbul dari pemborong tersebut, dan bapak tadi bilang inisial pemborong itu ‘R’.” Ucapku pada pak Zul.


“Iya pak, apa bapak kenal dia ?” tanya pak Zul.


“Sepertinya begitu pak, kalo tidak salah perhitungan dia yang dulu terlibat kasus pembunuhan dan peredaran narkoba. Dan akhirnya bisa tertangkap pihak kepolisian, dalam hal kasus pembunuhan. Tapi memang orangnya licin, sehingga sulit bagi Polisi menjerat dengan kasus lain yang memberatkan.” Jawabku sambil melihat keadaan sekitar.


Matahari sore yang masih  cukup terik, membantu menyinari tempat para pelaku kerusuhan tersebut. sehingga cukup jelas bagiku melihat keberadaan mereka yang sedang melakukan penyerangan. Dari jarak sekitar dua puluhan meter. Tampaknya para pekerja yang melakukan serangan dengan ketapel itu. Tapi apa motif mereka masih aku selidiki, karena wajah mereka tidak tampak dari kejauhan.


Mereka yang berada dalam sebuah bangunan seperempat jadi it uterus melakukan serangan dengan ketapel ke rumah makan pak Zul. Yang  jaraknya memang cukup jauh dan hanya bisa dilakukan dengan senjata lontar. Diantara lokasi Ruah makan pak Zul dan bangunan itu dipisahkan oleh sepetak sawah yang habis masa panen. Dengan tumpukan jerami hasil sisa panen, aku berpikir bagaimana menghentikan serangan mereka tanpa harus mendekat ke bangunan itu.


“Amir, bagaimana luka kamu ?” tanyaku pada Amir yang sedang mendapat perawatan luka di kepalanya.


“Sudah gak keluar darah pak, hanya masih sedikit nyeri terkena batu tadi.” Jawab Amir.


“Sukurlah, aku minta bantuan dua orang teman kamu nanti untuk melihat tempat mereka yang menyerang kita.” Kataku pada Amir.


“Apa tidak berbahaya pak, mengingat mereka jumlahnya cukup banyak dan mungkin bersenjata juga.” Ucap Pak Zul.


“Nanti kita pakai strategi pak, bagaimana caranya agar mereka mau keluar dari bangunan tersebut agar bisa dihitung jumlah mereka.” Jawabku.


“Bagaimana caranya pak ?” tanya pak Zul.


“Biar saya kondisikan pak, Saya pinjam jaket tebal sebagai pelindung badan pak.” Ucapku pada pak Zul.


Kemudian aku meminjam jaket yang cukup tebal, untuk melindungi badan jika harus terkena serangan ketapel mereka. Dan menggunakan helm standar untuk melindungi bagian kepala. Kemudian berjalan mengendap keluar mendekati tumpukan jerami di tengah sawah tersebut.


Dengan memanfaatkan hembusan angin yang bertiup ke timur, aku mendekati tumpukan jerami dengan hati hati untuk membakar beberapa tumpukan jerami  tersebut. dengan harapan asapnya dapat mengganggu orang orang yang ada di dalam bangunan setengah jadi tersebut agar mereka keluar dari situ.


Dan tumpukan jerami pertama berhasil aku bakar sehingga asapnya masuk ke dalam bangunan tersebut. kemudian mendekati tumpukan jerami kedua dan seterusnya. Sehingga aku berhasil membakar beberapa tumpukan jerami yang asapnya mengarah ke bangunan tersebut. “pantas Jafar memintaku berangkat setelah dhuhur, karena kalo pagi matahari  menyilaukan tempat pak Zul.” Kataku dalam hati.  


Setelah api membesar dan asap juga percikan jerami yang terbang mengarah ke arah bangunan setengah jadi tersebut. para penyerang tersebut berhenti menyerang dan terdengar berlarian keluar bangunan karena terganggu asap yang cukup tebal.


Aku pelan pelan mendekati ke  arah mereka, untuk memastikan siapa mereka dan berapa jumlah mereka. Kemudian tampak beberapa orang yang ternyata bukanlah pekerja bangunan biasa. Karena para pekerja bangunan yang sesungguhnya sedang sibuk mengerjakan tugas mereka.


“Ternyata memang orang orang bayaran.” Kataku dalam hati.


Tampak beberapa orang sedang mengucek mata karena terkena asap bahkan beberapa orang wajahnya terkena noda hitam dari sisa pembakaran jerami yang tertiup angin ke arahnya. Sebagian lagi batuk batuk karena menghirup asap pembakaran tersebut.


Tidak mau kehilangan kesempatan aku segera menyergap salah satu orang diantaranya. Kemudian aku ancam dengan senjata tajam yang aku bawa.


“Berani mendekat, teman kalian tewas…!” ancam ku pada mereka.


Aku segera membawa salah satu orang tersebut ke Ruah Makan pak Zul. Dengan tetap mengawasi teman temannya yang melihatku. Namun dengan ancaman senjata taja yang ku arahkan ke leher salah satu temannya tak satupun berani bergerak.


Orang yang aku tangkap itupun segera aku bawa ke tempat pak Zul, dan di sana segera di kepung oleh beberapa orang. Kemudian di ikat agar tidak kabur untuk di interogasi, dan aku pun segera melepas helm beserta jaket setelah orang tersebut berhasil di ikat.


“Apa yang akan kita lakukan terhadap orang ini pak ?” tanya pak Zul.


“Tanya apa maksutnya menyerang kita, dan siapa yang menyuruhnya. Kalo tidak mau mengaku bawa saja ke kantor polisi, agar diselesaikan di kantor Polisi.” Jawabku pada pak Zul.

__ADS_1


Kemudian pak Zul aku persilahkan untuk bertanya kepada orang tersebut lebih dahulu.


“Nama kamu siapa dan kenapa menyerang kami ?” tanya pak Zul pada orang itu.


Namun orang itu tidak mau menjawab, bahkan dalam kondisi terikat pun masih menunjukkan sikap garangnya. Sehingga pak Zul sampai kehabisan cara membuka mulut orang tersebut.


“Orang ini gak mau bicara sama sekali pak. Bahkan membuka mulut pun tidak mau sama sekali.” Ucap pak Zul.


Kemudian aku segera mendekati orang itu dan mencoba bicara baik baik pada orang itu.


“Kamu jujur saja, jika tidak ingin celaka.” Kataku pada orang itu.


Tapi entah kenapa orang itu tetap saja tidak mau membuka mulut. Sehingga sedikit memancing emosiku.


“Kamu gak usah pura pura bisu, karena aku tadi sempat mendengar kamu bicara.” Ucapku pada orang itu. Namun orang itu tetap saja menutup rapat mulutnya, sehingga emosiku juga semakin naik.


“Ambilkan sapu ijuk dan isolasi…!” pintaku pada salah seorang yang ada. Kemudian tanpa bertanya salah seorang memberikan aku sapu ijuk.


“Ini pak sapu ijuk dan isolasinya…!” ternyata Hery teman Amir yang memberikan aku sapu ijuk.


Kemudian aku cabut beberapa ijuk dari sapu itu, semua hanya memandangku tidak tahu apa tujuanku. Kemudian salah satu ujung ijuk itu aku tempelkan ke salah satu lengan orang itu dengan isolasi. Dan ujungnya aku bakar dengan korek api. Sehingga api biru yang panas menjalar ke arah lengan orang tersebut dan membakar kulit lengan orang tersebut. Dan isolasi plastiknya pun ikut terbakar hingga meleleh dan menempel di kulit lengan nya.


Orang itu menjerit kencang karena menahan panas tersebut.


“Aaaahh… kurang  ajar kalian. Awas nanti akan menerima balasan dariku…!” teriak orang itu dengan kencang.


“Makanya jangan pura pura bisu begitu, kalo tidak ingin kesakitan…!” kataku pada orang itu.


“Lanjutkan membakar kulitnya, inci demi inci dengan cara seperti tadi. Biar aku menghampiri teman temannya memaksa mereka menyerah.” Ucapku.


Kemudian aku bangkit melangkah keluar, sambil berbisik pada pak Zul.


“Lakukan seperti tadi pak, biar dia menjerit sekencang mungkin untuk menakuti teman teman nya. Agar mau menyerah dan mengatakan apa tujuan mereka.” Kataku pada Pak Zul.


“Jangan sendirian pak, bisa bahaya…!” jawab pak Zul.


“Iya pak, saya ajak dua orang saja yang lain biar disini saja.” Ucapku pada pak Zul.


“Kalian masih ingat kan pelajaran silat yang pernah aku berikan dulu ?” tanyaku pada Heri dan Rendy.


“Masih lek, masih sering berlatih juga.” Jawab Rendy ponakan ku.


“Saya juga masih pak, masih sering berlatih juga.” Jawab Heri.


“Baiklah, sekedar jaga jaga saja bawa senjata ikut aku mendekati markas musuh yang menyerang kita tadi.” Kataku pada Heri dan Rendy.


Sambil melangkah pelan aku menunggu jeritan orang yang tertangkap tadi sebagai syok terapi pada teman temannya. Dan beberapa kali jeritan kencang terdengar, dan aku yakin juga di dengar oleh teman temannya juga. Sehingga aku yakin mereka mengira temannya sedang di siksa, padahal hanya sedikit membakar kulitnya saja yang tidak terlalu berbahaya atau mematikan.


Sampai di depan markas mereka aku kemudian berteriak memanggil mereka.


“Kalian semua keluarlah, jika tidak ingin teman kalian mati tersiksa….!”  Teriakku.


Beberapa saat hening tidak ada jawaban ataupun tanda tanda mereka akan keluar. Sehingga aku kembali berteriak diikuti teriakan orang yang edang di kerjain amir dan kawan kawan nya. ( dalam dunia santri hal tersebut sering di sebut ‘canthang’ membakar kulit dengan ijuk yang menimbulkan bekas luka  bakar kecil. Panas sekali saat terbakar namun tidak bahaya, dan hanya kulit  ari nya yang melepuh dan bisa sembuh. Namun membuat korban jadi menjerit.) meski bukan contoh yang baik. tapi dalam hal ini terpaksa aku lakukan dan ajarkan pada orang.


“Aku hitung sampai tiga, jika kalian tidak menyerah maka jeritan berikutnya bisa jadi jeritan terakhir teman kalian. Satu,,,,, dua,,,,, ti……” belum selesai aku menghitung terdengar teriakan dari dalam markas mereka.


“Iya kami menyerah…!” ucap seseorang. Kemudian mereka semua keluar namun tetap membawa senjata tajam juga. Aku hitung ada lima orang yang keluar membawa senjata, jika harus beradu jurus aku bertiga masih mampu menghadapi mereka, pikirku.


“Bagus…! Terserah kalian mau menyerah atau melawan kami sudah siap sekarang.” Gerakku pada mereka.


“Lepaskan teman kami dulu…!” ucap salah seorang di antaranya.


“Tidak, kami tidak akan lepaskan sebelum  kalian menyerah semua. Dan mengatakan apa tujuan kalian menyerang kami.” Bentak Ku.


*****


Yang terjadi di tempat pak Zul


Author POV


“Lanjutkan lagi biar orang itu kesakitan dan menjerit sekencang mungkin…!” perintah pak Zul.

__ADS_1


Para pekerja pak Zul yang memang  merasa dendam kemudian dengan semangat melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Yasin tadi. Namun karena baru pertama kali melakukan sehingga kurang perhitungan. Yang seharusnya cukup dengan satu ijuk untuk membuat orang itu menjerit kesakitan. Ada yang memasang beberapa ijuk sehingga orang itu benar benar kesakitan dan menjerit sekuatnya. Bahkan luka yang di timbulkan pun menjadi cukup besar dan lebih sulit pulihnya.


Sambil diperlakukan seperti itu, pak Zul terus memaksa orang itu untuk mengaku apa tujuan mereka, siapa yang menyuruh dan apa motivasinya.


Dan karena tidak tahan dengan siksaan kecil tersebut akhirnya orang itu mau menjawab dan menceritakan apa yang diminta pak Zul. Dan mengakui jika dia adalah pemimpin penyerangan tersebut, atas permintaan seseorang yang membayarnya. Namun demikian setelah mengaku pun orang itu tetap mendapatkan perlakuan yang sama. Karena rasa marah dan dendam anak anak tersebut.


Sehingga orang yang semula tampak garang dan sombong itupun harus meratap memohon mohon ampun agar dihentikan. Karena tak kuat menahan panas dan perih di sekujur tubuhnya yang  dibakar sedikit demi sedikit tersebut. sehingga rasa panas dan perih di beberapa bagian tubuhnya membuat dia hampir menangis memohon ampun. Untunglah pak Zul yang sebagai sesepuh dan pemilik tempat tersebut segera menyuruh mereka menghentikan aktifitasnya. Dan menunggu hingga Yasin kembali datang, dan mengikuti rencana berikutnya.


Dan suara Jeritan itu lah yang membuat teman teman atau anak buahnya jadi pada ciut nyalinya. Hingga mau keluar menemui Yasin.  


 *****


Kembali ke Yasin


Yasin POV


“Hanya ada dua pilihan, kalian menyerah maka teman kalian dan juga kalian selamat. Atau melawan dengan kepastian teman kalian tewas, dan kalian akan menyusul dengan cara yang lebih menyakitkan. mati pelan pelan di ruang siksaan kami.” Kataku menggertak mereka.


Mereka tampak ragu ragu, antara mau menyerah atau melawan. Mereka saling berpandangan satu dengan yang lainya.


“Mudah mudahan saja, teman kau yang sudah tidak terdengar jeritannya itu sekedar pingsan belum sampai mati. Karena aku juga belum puas tadi menguliti tubuhnya sedikit demi sedikit.” Kataku berbohong pada mereka.


Namun mendengar ucapan ku tersebut mereka menjadi semakin kecil nyalinya dan akhirnya membuang senjata mereka dan menyatakan menyerah. Maka Heri dan Rendy segera aku minta untuk mengikat mereka dan membawa ke tempat pak Zul. Untuk di jadikan satu dengan pemimpinnya yang sudah kami tangkap dan kami ikat lebih dahulu.


Dengan mudah kami menangkap mereka dan membawa mereka ke tempat pak Zul. Dan betapa kagetnya mereka yang melihat  pemimpinnya tidak mengalami luka yang serius. Tidak seperti yang mereka duga sebelumnya. Karena mereka hanya mendengar jeritan kencang tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pimpinan mereka.


“Kamu gak papa bos ?” tanya salah seorang diantaranya.


“Gak papa, hanya panas banget ketika kulitku terbakar tadi.” Ucap pemimpin mereka tersebut.


“Maaf bos,kami terpaksa menyerah kami kira bos dalam bahaya besar. Karena jeritan bos sangat keras tadi.” Ucap orang yang bertanya tadi.


Orang yang di panggil bos itu pun hanya diam saja, antara malu juga kesal di perlakukan begitu. Dan anak buahnya hanya bengong tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mengira bos nya disiksa hingga hampir mati.


“Baiknya kalian menyerah dan jujur, atau akan mendapat siksaan seperti bos kalian tadi ?” ucapku pada anak buahnya.


Mereka Nampak bingung dan ketakutan, karena ngeri membayangkan siksaan macam apa yang akan di terima jika tidak mengaku. Namun di sisi lain mereka takut juga dengan orang yang di panggil bos itu.


“Sudah pak, orang ini sudah mengakui semuanya. Dia emang disuruh membuat onar disini, karena mau memancing kedatangan bapak dan yang sebenarnya diincar adalah bapak.” Ucap pak Zul.


Aku kaget mendengarnya, meski sudah mengetahui informasi tersebut dari Jafar anak ku.


“Owh begitu, kenapa harus merusak dan membuat onar disini kalo yang di incar saya pak ?” tanyaku pada pak Zul.


“Itu yang mereka juga tidak tahu pak katanya. Tapi orang yang menyuruh memang pemborong baru itu pak. Yang menghasut calon pemilik usaha agar membenci saya dan bapak.” Ucap pak Zul.


Dugaan ku semakin kuat, bahwa dibalik semua ini adalah orang yang dulu mau menjadikan aku sebagai tersangka pembunuhan. Akan tetapi tidak berhasil dan justru dia sendiri yang terseret kasus hukum dengan pasal pembunuhan.


“Kapan orang yang menyuruh kalian akan datang ke tempat itu ?” tanyaku kepada pemimpin gerombolan itu.


“Sore ini,,, sore ini dia akan datang membawa beberapa anak buahnya yang lain dan akan menghancurkan tepat ini.” jawab pemimpin gerombolan tersebut.


Aku menjadi berpikir keras lagi, karena orang yang dimaksud dimemang licik dan akan menghalalkan berbagai macam cara. Dan itu berarti bahaya masih akan mengincar tempat usaha pak Zul dan juga pak Zul sendiri…???


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


 


__ADS_2