
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Aku melihat Vina jadi menangis sesenggukan, entah apa yang terjadi dengannya. Aku sama sekali tidak bisa menebak isi hati Vina.
“Apakah kamu serius Jafar, apakah kak Dina juga kangen sama Vina. Jangan jangan kamu hanya mengarang cerita saja agar aku baikan sama kak Dina ?” kata Vina membuat aku semakin bingung, ada apa ini. mana ada beberapa santri dan santriwati yang lewat lihat Vina nangis di dekatku lagi, bisa bisa mengira Vina aku apa apakan lagi, pikirku bingung….????
“Memang kamu gak tahu kalau mbak Lita atau kak Dina mu itu kangen kamu sampai nangis kemarin ?” jawabku ke Vina.
“Jujur Jafar kak dina itu orangnya galak, sering bentak Vina jadi Vina kira kak Dina itu gak suka dengan Vina.” Kata Vina. Sayangnya aku sendiri tidak begitu paham dengan kehidupan wanita. Aku hanya sedikit heran, karena apa yang aku rasakan hubunganku dengan mas Sidiq baik baik saja meski beda Ibu.
Apakah berbeda jika saudara yang beda ibu satu ayah dengan yang satu satu ayah beda ibu, pikirku. Atau karena mereka tidak tinggal serumah, tapi mas Sidiq dan Panji tidak tinggal serumah juga tetap saling sayang. Bahkan aku dengan panji juga tetap sayang, karena tahu dia adik dari mas Sidiq juga. Atau begitulah macam macam manusia di dunia ini ? Mungkin ini adalah pelajaran baru buatku, yang harus aku ambil hikmahnya.
“Kan kita diharuskan saling menyayangi sesama manusia Vina, apalagi itu masih ada hubungan saudara.” Kataku ke Vina.
“Tidak semua orang itu sama Jafar, bahkan dengan kakak atau adik kandung saja tidak semua bisa saling menyayangi. Mungkin kamu hanya merasakan diantara keluargamu sendiri dengan saudara saudaramu yang selalu rukun.” Kata Vina.
“Masak sih Vin ? Kan kita sudah ngaji kitab Safinatunnajah. Ada tiga hak dan kewajiban sesama manusia. Sebagai saudara, sebagai tetangga dan sebagai sesama Muslim. Semua punya kewajiban untuk saling menghormati dan saling membantu. Bahkan dengan yang beda keyakinan sekalipun masih ada hak sebagai tetangga.” Kataku pada Vina.
“Kamu masih terlalu polos Jafar, kan sudah Vina bilang kalau tidak semua orang itu sama.” Kata Vina membuat aku jadi bertanya tanya dalam hati, apa maksudnya.
Aku sudah kehabisan kata untuk menjawab pernyataan Vina, juga ga ingin dilihat orang Vina menangis. Jadi aku kembali mengajak Vina jalan dan hapus air matanya. Sepanjang perjalanan ke sekolah pun aku dan Vina hanya diam seperti biasanya lagi.
Bahkan sampai di sekolah pun kami tidak berbicara kecuali hal penting yang kaitanya dengan urusan sekolah. Seperti hari hari sebelumnya, pagi tadi adalah pembicaraan paling panjang yang pernah terjadi antara aku dan Vina.
Vina bahkan tampak masih murung di sekolah, aku jadi sering memperhatikan Vina karena merasa kasihan dengan Vina. Vina tidak seberuntung aku dan Nisa yang yang mempunyai kakak beda ibu tapi sangat menyayangi aku dan Nisa bahkan sering membela kami dari orang orang yang tidak baik. Mata Vina masih tampak sayu, seakan masih ingin menumpahkan air matanya lagi namun malu karena di sekolah.
Mumpung aku gak lagi puasa kalau Vina gak puasa juga biar nanti kuajak bareng makan di kantin. Biar Vina sedikit terhibur, paling juga kakak kakak seniorku yang satu pesantren dan satu sekolah pada ngomongin aku dan Vina nanti. Tapi yang jelas aku gak ada niat jelek kok, apalagi mbak Yuni dan mbak Santi, pasti tahunya aku dan Vina lagi ngobrolin masalah HP mbak Yuni saja, pikirku.
Dan saat jam istirahat ketika semua pada berhamburan keluar kelas, aku menunggu sampai pada keluar. Dan aku melihat Vina masih tetap duduk di bangkunya juga, kemudian aku hampiri dia.
“Kamu puasa Vin ?” tanyaku.
“Gak kok aku masih cuti.” Jawab Vina yang baru dapat tamu rutin.
“Owh ke kantin yuk.” Ajakku ke Vina.
Vina malah memandangku dengan tatapan Aneh membuat aku jadi gelagapan dipandangi dengan tatapan seperti itu.
“Maaf maksud Jafar kalau kamu masih mau melanjutkan bicara lagi saja kok.” Kataku seakan meralat ajakanku ke Vina. Takut menyinggung Vina yang kayaknya tidak suka aku ajak ke kantin.
“Maksudnya melanjutkan bicara bagaimana ?” tanya Vina.
“Aku lihat kamu tadi masih murung saat pelajaran, jadi aku pikir kamu butuh teman untuk cerita. Bukankah kakak kamu mbak Lita adalah teman satu sekolah mas ku.” Jawabku.
“Berarti dari tadi kamu perhatiin Vina ?” kata Vina melotot, aku jadi merasa serba salah dibuatnya. Mau bilang gak nyatanya iya, mau bilang tidak terlanjur keceplosan. Aduh kenapa aku jadi makin tak berdaya seperti ini, batinku.
“Jangan salah paham Vin, aku hanya kasihan ingat kamu nangis tadi.” Jawabku dengan sedikit perasaan canggung terhadap Vina.
“Terus kenapa kamu jadi gemetar kalau kamu tidak merasa bersalah, apa kamu masih menyembunyikan sesuatu dari Vina ?” desak Vina membuat aku jadi keluar keringat dingin.
“Gak kok, aku hanya merasa iba saja kalau lihat orang sedih Vin. Bagaimanapun kamu kan satu sekolah dan satu pesantren denganku.” Jawabku yang sudah semakin gugup. Paling tidak nyaman kalau membuat orang tersinggung.
“Aku gak mau keluar kelas dulu, mau sendiri dulu saja Jafar. Kalau kamu berkenan nanti titip minuman saja.” Kata Vina dengan datar. Kayaknya sudah gak marah lagi, mudah mudahan dia percaya kalau aku gak ada niat jelek.
“Owh iya nanti aku bawakan minuman.” Jawabku langsung meninggalkan Vina takut diinterogasi lebih banyak lagi.
Aku pun segera melangkah ke kantin, namun aku tidak merasa nyaman di kantin teringat Vina yang sedih dan kayaknya agak marah padaku karena salah paham tadi. Sehingga aku segera meninggalkan kantin dan membelikan air mineral untuk Vina.
Namun saat aku mau keluar kantin aku dihadang oleh mbak Yuni dan mbak Santi dengan muka tertunduk. Mungkin masih malu karena peristiwa kemarin.
“Jafar, maaf ya kemarin kita hanya bercanda saja lo sama kakak kamu Sidiq.” Kata mbak Yuni malu malu.
“Iya mbak gapapa kok, kakak ku memang suka bercanda begitu.” Jawabku.
“Iya kakak kamu lucu. Eeem tadi Vina sudah ngomong ke kamu kalau HP aku ketinggalan di tempat kakak kamu ?” tanya lanjut mbak Yuni.
“Sudah mbak, Jafar juga sudah kasih tahu ke mas Sidiq kok. Dan katanya akan di simpan nanti kalau sudah sampai tempat kerjanya.” Jawabku.
“Makasih ya Jafar.” Kata mbak Yuni.
“ Sama sama mbak.” Aku segera kembali ke kelas untuk menemui Vina.
Dan sesampai di kelas aku lihat Vina masih tetap duduk di bangkunya sambil buka buka Foto di layar HPnya.
“Vin ini minumnya !” kataku pada Vina.
“Kok cepet amat, berapa harganya Jafar ?” tanya Vina hendak mengganti uang.
“Gak usah Vin, hanya air mineral ini.” Jawabku sambil berjalan menuju ke bangku ku sendiri.
“Makasih ya.” Kata Vina.
“Iya sama sama Vin.” Jawabku singkat masih takut kalau bicara panjang justru menyinggung perasaan lagi.
“Tumben hari ini kamu agak banyak bicara Jafar ?” Tiba tiba Vina berkata padaku setelah meneguk minuman nya.
“Masak sih, mungkin karena menyampaikan amanah dari kakakmu saja Vin.” Jawabku mencoba menetralisir kegugupanku.
“Owh begitu, kemarin kamu lama gak ngobrol dengan kak Dina ?” tanya Vina lagi.
“Cukup lama juga sih, ada beberapa teman mas ku juga disana selain kakak kamu.” Jawabku.
“Menurut Jafar, apa kakak ku Dina tulus menyayangi aku dan menganggapku sebagai adik ?” tanya Vina.
__ADS_1
Aku agak susah menjawab, karena takut salah bicara dan dianggap mencampuri urusan pribadi Vina. Tapi mau gak mau memang aku harus menjawab pertanyaan Vina.
Dengan agak terpaksa aku cerita jika awal setelah aku menyebut nama Vina kakak nya Vina langsung bereaksi dan bertanya serupa dengan pertanyaan Vina tadi yang menanyakan apakah mbak Lita pacarnya mas Sidiq. Mbak Lita pun awalnya menanyakan kepadaku, “apa kamu berpacaran dengan Vina.” Dan aku jawab tidak, Vina hanya teman satu pesantren dan teman satu kelasku.
Vina mendengarkan setiap kata kata yang aku ucapkan dengan serius, seakan sedang membuat sebuah penilaian logis tidaknya ceritaku. Kemudian Vina memotong dan bertanya kepadaku.
“Tunggu, kenapa kamu sampai menyebut nama Vina apakah kamu sedang membicarakan Vina waktu itu ?” tanya Vina seperti gak suka aku menyebut nama dia. Aku jadi gugup lagi, mengingat kenapa kemarin sampai menyebut nama Vina juga ya ? Aku bahkan agak lupa alasan aku menyebut nama Vina kemarin. Tapi aku jadi ingat jika waktu itu mas Sidiq yang memulai cerita akan adanya orang yang akan mengancam aku. Dan aku juga cerita jika aku pun sudah dikasih tahu teman satu kelasku sekaligus teman satu pesantrenku yang bernama Vina. Dan saat itulah mbak LIta atau kak Dina langsung bertanya kepadaku apakah Vina pacarku ? dan aku jawab bukan, karena Jafar memang tidak mau berpacaran dulu.
Tampaknya Vina percaya kepada ceritaku dan tidak salah paham lagi.
“Owh begitu toh ceritanya, jadi kakak kamu juga tahu kalau ada orang yang mau celakai kamu Jafar ?” tanya Vina.
“Iya Vin, secara kebetulan ada orang servis HP dan kakak ku bisa buka isi HPnya yang ada chat akan mencelakai aku di HP orang tersebut.” Jawabku.
“Kakakmu pintar juga ya bisa servis HP begitu ?” ucap Vina.
“Iya Vin, selain itu juga teman kakak ku banyak banget cowok maupun cewek. Kalau kamu sudah ngobrol sama kakakku bisa bisa kamu jatuh cinta sama dia.” Godaku ke Vina yang tampaknya sudah mulai bisa tenang.
“Gak lah, Vina juga gak mau pacaran kok. Abi dan Umi Vina bilang akan mencarikan jodoh yang baik buat Vina jika memang sudah waktunya nanti.” Kata Vina.
“Berarti kamu gak cari sendiri Vin, apa kamu bisa cocok dengan pilihan orang tuamu nanti.” Tanyaku penasaran. Meski sebenarnya Jafar juga tahu jika ayah dan bunda Jafar dulu juga hanya dijodohkan dan akhirnya bisa saling mencintai.
“Vina percaya sama Abi dan umi Vina, apalagi Vina anak tunggal Abi. Pasti akan mencari yang terbaik buat Vina nanti.” Jawab Vina.
“Vina bisa yakin begitu ?” tanyaku sedikit penasaran.
“Yakinlah kan Vina juga pasti diajak dialog dulu sebelum mereka memutuskan nanti.” Jawab Vina.
“Jafar jadi tertarik nih dengan cerita Vina, tapi apa kedua orang tua Vina tahu seperti apa orang yang Vina suka ?” tanyaku.
“Abi dan Umi yang menunjuk seseorang dan minta Vina untuk menilai cocok apa gak. Kalau Vina cocok maka Abi dan umi yang akan berusaha menjodohkan. Tapi kalau Vina gak cocok mereka juga gak akan maksa.” Jawab Vina.
“Bagus juga cara itu Vina, abi dan umi kamu cukup demokratis.” Komentarku untuk kedua orang tua Vina.
“Semua itu karena abi dan umi gak ingin Vina sampai terjerumus Jafar. Makanya Vina gak boleh simpan no cowok sampai sekarang.” Jawab Vina.
“Apa sudah pernah abi dan umi kamu mengajukan calon buat kamu Vina ?” tanyaku pada Vina.
“Diih kepo kamu Jafar…!” jawab Vina tapi dengan nada datar saja tidak Nampak marah atau tersinggung.
“Maaf kalau gak berkenan gak dijawab juga gak papa kok. Kan gak penting juga, hanya pengen tahu saja.” Jawabku.
“Pengen tahu saja atau pengen tahu banget ?” kata Vina. Aku bingung maksudnya apa.
“Maksudnya ?” tanyaku.
“Aah kamu ini benar benar kaku Jafar gak ngerti maksudnya.” Ucap Vina.
Aku jadi merasa benar benar kurang gaul saat ini, bahkan dengan Vina saja aku gak bisa mengimbangi bicara.
“Ya memang gak ngerti makanya tanya Vin.” Kataku sedikit kesal.
“Jujur saja sudah, abi dan umi pernah menunjuk seseorang dan berkata begini, Vin anak itu tampaknya anak baik baik, kalau kamu cocok maka abi dan umi nanti akan jodohkan kamu sama dia jika sudah waktunya.” Jawab Vina.
“Hmmm… gimana ya, saat ini masih dalam pertimbangan ada cocoknya ada juga gak cocoknya. Tapi kayaknya banyak cocoknya sih.” Jawab Vina.
“Wah selamat ya Vin, semoga saja kamu cocok sama dia dan kelak bisa jadi pasangan yang sakinah.” Kataku pada Vina.
“Aamiin,,, makasih Jafar. Kalau Jafar sendiri bagaimana dengan ning Nia kayaknya makin dekat saja sekarang ?” tanya Vina.
“Aah gak kok, aku bahkan di tugasi abah guru menjaga Nia seperti aku menjaga Nisa adik kandungku agar tidak berpacaran dulu.” Jawabku agak memerah karena malu.
“Kok jadi memerah gitu mukanya, iya juga gak papa kok.” Goda Vina. Untunglah bel masuk segera berbunyi sehingga Vina tidak bisa lagi melanjutkan meledek aku.
Sementara aku jadi berpikir,apa aku mengikuti cara kedua orang tua Vina saja nanti. Pasrah sama ayah bundaku saja dalam hal jodoh, biar gak salah pergaulan dan terjerumus dalam maksiat, pikirku. Aku jadi sedikit kagum dengan Vina yang begitu taat kepada orang tuanya bahkan sampai masalah jodoh pun Vina mengikuti saran orang tuanya secara Kaffah ( Totalitas ). Seandainya saja Nia seperti Vina, aku mulai membandingkan NIa dengan Vina. “astaghfirullah, kenapa aku jadi begini belum apa apa sudah membanding bandingkan itu kan tidak baik, batinku. Untung aku cepat tersadar atas kekeliruanku dan menghentikan khayalan ku tersebut.
*****
Flashback pagi hari sebelum Jafar berangkat sekolah
Nisa POV
“Nisa mbak Siti boleh minta tolong ?” tanya mbak Siti kepadaku.
“Boleh dong mbak, mbak Siti kan baik sama Nisa.” Jawabku.
“Aduh senangnya, kalau punya adik seperti kamu Nisa.” Kata mbak Siti malah memuji Nisa.
“Memang mau minta tolong apa mbak, mau beli sarapan ?” tanyaku kemudian.
“Owh gak kok, mbak gak akan suruh suruh Nisa. Mbak hanya minta tolong nanti kalau ada yang ngomongin mbak jangan diambil hati ya Nisa ?” kata mbak Siti.
“Ngomongin mbak ? Memangnya mbak Siti kenapa ?” tanya Nisa gak ngerti maksud mbak Siti.
“Jujur saja lah sama Nisa, mbak Siti kemarin jadi penasaran ketika orang orang membicarakan kakak kamu yang bernama Sidiq. Jadi mbak kemarin membuktikan ke tempat kakak kamu sekalian beli kuota. Dan kebetulan kakak kamu Jafar juga ada disana, ternyata memang kakak kamu itu wajahnya mirip.” Jawab mbak Siti.
“Owh itu saja mbak ? Jangan khawatir kalau yang tahu hanya mas Jafar, dia kan jarang ngobrol dan gak suka ikut campur urusan orang kok, Nisa Jamin.” Kata Nisa.
“Syukurlah tapi mbak kemarin malu ketemu Jafar kakak kamu, takut dikira mbak nyamperin kakak kamu Sidiq karena hal lain.” Jawab mbak Siti.
Nisa jadi tersenyum, semalam orang heboh membicarakan mbak Yuni dan mbak Santi yang katanya juga ke tempat kerja mas Sidiq. Eeh gak tahunya mbak Siti teman sekamar Nisa juga kesana, memang mask u itu ganteng sih batin Nisa.
“Iya mbak santai saja, kayaknya mbak Siti gak bakalan jadi omongan kok.” Jawabku.
“Kok Nisa bisa yakin begitu, alasan Nisa apa ?” tanya mbak Siti heran. Padahal Nisa tahu karena yang jadi pembicaraan adalah mbak Yuni dan mbak Santi saja, bukan mbak Siti.
“Ada deh mbak, nanti mbak Siti juga bakalan tau sendiri kok alasanya apa.” Jawabku sambil tersenyum.
“Aah Nisa main rahasia segala sama mbak Siti.” Kata mbak Siti.
“Bukan main rahasia mbak, tapi Nisa gak berani cerita karena menyangkut rahasia orang lain juga.” Jawab Nisa.
__ADS_1
“Maksutnya ?”tanya mbak Siti.
“Selain mbak Siti ada juga yang ke tempat mas Sidiq dan semalam heboh jadi bahan pembicaraan. Gak tahu kenapa orang tersebut yang keceplosan kali kalau ke tempat mas Sidiq.” Jawab Nisa.
“Astaghfirullah… siapa itu Nisa ?” tanya mbak siti penasaran.
“Maaf mbak, Nisa gak berani sebut nama tapi pasti mbak Siti nanti juga bakalan tahu kok.” Jawab Nisa.
Sebenarnya mbak Siti sangat penasaran namun juga tidak bisa memaksa Nisa karena mbak Siti juga pasti tahu kalau membicarakan ‘Aib’ ( dianggap aib bagi yang bersangkutan ) orang lain itu tidak boleh. Sehingga mbak Siti pun hanya dapat menahan rasa ingin tahunya.
“Iya deh mbak tahu kok makanya mbak percaya sama Nisa.” Jawab mbak Siti.
Dan kami pun segera bersiap berangkat ke sekolah, Nisa sempat melihat mas Jafar juga sudah berjalan keluar dari gerbang pondok. Sayangnya beda arah dengan Nisa, jadi gak bisa berangkat bersama.
*****
Di sekolah Sidiq
Sidiq POV
“Diq aku pengen menemui Vina adikku ke pesantren, kamu bisa antar Lita gak ?” tanya Lita kepadaku saat sedang di kantin bersama Riska juga.
“Aku gak punya motor Lita, dan gak mungkin aku boncengin kamu kesana nanti ada yang cemburu dong.” Godaku ke Lita.
“Siapa yang cemburu Lita kan gak punya pacar diq ?” Jawab Lita.
“Iya sih Lita gak punya pacar, tapi Sidiq kan punya.”Jawabku sambil tersenyum dan melirik Riska.
“Diih ya gak lah mas, kalau mas nganterin Lita kalau boncengin cewek lain baru Riska cemburu.” Sahut Riska.
Lita ikut tertawa juga setelah paham dengan maksudku.
“Gak kok Ris bercanda saja, maksudku Sidiq gak berani boncengin cewek ke pesantren adikku selain Adab juga jaga nama baik pesantren juga.” Jawabku.
“Bilang kek dari tadi begitu…!” sungut Lita.
Aku hanya tersenyum puas bisa ngerjain Lita begitu.
“Gini saja, mas Sidiq pakai motor Riska, nanti Lita boncengan sama Riska. Riska juga pengen ketemu Nisa adik mas.” Sahut Riska.
“Eheem kayaknya bakalan ada yang cepat married nih udah sampai ke pengenalan keluarga.” Kata Lita menggoda aku dan Riska. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya, meski Sidiq sendiri juga tahu Lita hanya bercanda.
“Yasudah kalau begitu gak jadi saja lah. Jawab Riska ngambek ke Lita.
“Yee begitu saja sewot kamu Ris, kan hanya bercanda saja.” Kata Lita merajuk pada Riska.
“Habisnya kamu nyebelin kan Cuma pengen kenal saja.” Jawab Riska.
“Iya maaf Lita ngerti kok, kan Lita hanya berharap kalian langgeng saja sampai married besok.” JAwab Lita.
“Nah begitu kan enak.” Kata Riska.
Tidak terduga Ari cs tiba tiba datang dan duduk di bangku dekat kami.
“Stop dulu jangan bicara apapun.” Kataku pelan.
Lita dan Riska yang paham kedatangan Ari cs kemudian menghentikan obrolan. Agar tidak terjadi keributan. Tapi diluar prediksiku Ari cs tidak berbuat ulah macam macam. “apakah mereka sudah dikasih tahu Jalu.” Pikirku. Meski aku juga siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tiba tiba Ari yang menghampiriku tapi tidak menunjukkan gelagat mau menyerang ataupun berbuat macam macam pada kami. Sehingga aku juga hanya diam tidak memberi reaksi.
“Selamat Diq, kamu bisa mendapatkan Riska. Dan aku juga kawan kawanku tidak akan mengganggumu lagi sekarang.” Ucap Ari sambil mengulurkan tangan menyalami aku.
Semua mata memandang ke arahku dan Ari, bahkan semua kaget dengan apa yang diucapkan Ari tersebut. aku yakin pasti Jalu sudah memberitahu mereka, jadi sementara ini aku merasa aman.
“Terimakasih kalau kamu berjanji tidak akan mengganggu aku dan teman temanku lagi.” Jawabku sambil menerima uluran tangan Ari berjabat tangan. Disambut tepuk tangan semua yang ada di kantin, seakan semua terasa bergembira. Namun aku pribadi tetap waspada, karena itu bukan berarti akhir semuanya. Hanya sekedar menunggu waktu sampai Jalu tahu jika aku adalah anak dari seorang yang bernama Yasin.
“Iya diq, maaf kemarin aku selalu bikin ulah karena kemarin terlalu mencintai Riska dan tidak bisa menerima jika Riska lebih memilih kamu.” Jawab Ari.
Sepintas orang tahunya Ari tulus, tapi aku dapat menangkap jika sebenarnya Ari hanya mengulur waktu karena Jalu.
“It’s Ok lupakan saja semuanya.” Jawabku seakan percaya penuh dengan Ari.
“Owh iya Diq, boleh gak aku jadi teman kamu dan pengen kenal juga dengan kamu.” Kata Ari.
Aku semakin Yakin jika Ari disuruh menyelidiki tentang aku oleh Jalu.
“Boleh saja apa yang mau kamu ketahui tentang Aku ?” tanyaku.
“Kamu aslinya anak mana dan siapa nama orang tua kamu, siapa tahu aku dan kawan kawanku mau main kerumah kamu nanti ?” tanya Ari.
“Ayahku bernama Ahmad Sidiq, ibuku Sekar Arum Asli dari daerah Godean Sleman.” Jawabku berdiplomasi karena gak mungkin menyebut ayahku dengan nama ‘Yasin’ bisa berbahaya, pikirku.
“Owh begitu ya sudah, silahkan menikmati kebersamaan kalian.” Ucap Ari hendak melangkah pergi.
“Tunggu urusan kalian dengan aku belum selesai…!” ucap Lita menghentikan langkah mereka.
Aku jadi ingat peristiwa kemarin dimana Lita dilecehkan.
“Herman kamu harus minta maaf pada Lita dan berjanji gak akan mengulangi lagi. Kalau tidak aku tidak akan memaafkan kamu.” Kataku pada Herman.
“Iya Herman sebaiknya kamu minta maaf sama Lita. Lita aku juga minta maaf karena ikut terlibat kemarin.” Kata Ari.
Dan semua teman teman Ari pun segera minta maaf pada Lita, dan Lita pun dengan berat hati memaafkan mereka semua. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan kantin. Riska hanya bengong seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya…!!!
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...