Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jafar mengaku telah membantu Ayahnya


__ADS_3

Reader tercinta


Author coba perbaiki dan kurangi typo.


Mohon koreksinya di kolom komentar.


Terimakasih.


...🙏🙏🙏...


Selamat membaca


...........


Namun mereka tidak sadar jika ada sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka dan melihat apa yang dilakukan Jafar pada pengeroyok ayahnya.


“Anak yang luar biasa aku harus cari tahu siapa mereka sebenarnya. Dan kenapa ayahnya tadi tidak menyadari jika anak nya ikut membantu melumpuhkan orang yang akan membokongnya. Aku harus mengikuti orang itu segera.” Ucap orang itu kemudian segera menyusul keluargya yasin dari jarak yang cukup.


*****


Yasin POV


“Fat, kamu tadi lihat sidiq atau Jafar bantuin aku gak ?” tanyaku pada Fatimah.


“Gak tu mas, mereka tidak meninggalkan tempat sama sekali.” Jawab Fatimah.


Aku jadi berpikir keras, lantas siapa yang membantu aku tadi, karena beberapa orang yang mendekatiku jatuh sebelum aku sempat memukulnya. Coba aku pancing saja sapa tahu salah satu dari anakku yang melakukan tanpa sepengetahuan Fatimah.


“Sidiq tadi bantuin ayah gak waktu ayah di keroyok ?” tanyaku pada Sidiq.


“Tadi mau bantuin tapi gak boleh sama dek jafar, katanya ayah pasti mampu mengalahkan mereka.” Jawab  Sidiq.


Maka kecurigaan ku hanya tinggal pada Jafar, namun dengan cara apa dia bisa menjatuhkan musuh musuhku tanpa mendekatinya. Apakah mungkin dia sudah mampu untuk membuat pukulan jarak jauh dan tanpa diketahui Sidiq dan Fatimah.


“Ayah jangan berantem lagi ya, Nisa takut banget tadi yah.” Kata Nisa masih sambil menangis meski sudah tidak mengeluarkan suara.


Ternyata anak cewekku ini masih punya sisi lembut seorang gadis, aku jadi lega sekarang. Meski sifatnya juga keras tapi naluri kewanitaannya ternyata tetap masih dominan juga, batinku.


“Iya sayang, tadi kan ayah terpaksa karena mereka mengganggu Nisa.” Jawabku pada Nisa.


“Yah Nisa laper yah, kan dari tadi belum makan…!” kata Nisa.


Aku sampai lupa jika dari tadi mereka belum pada makan, dan waktu dhuhur pun sudah terdengar.


“Owh iya, kita cari mushola sekalian sholat dhuhur terus makan ya !” ajakku pada Nisa.


“Iya yah, tapi jangan lama lama yah.” Jawab Nisa.


Kebetulan aku akan bertanya pada Jafar nanti saat ada kesempatan, batinku.


Aku pun segera mencari Masjid atau mushola yang dekat warung makan untuk menjalankan sholat dan istirahat makan. Dan segera menepikan kendaraan ketika melihat sebuah Masjid yang cukup lebar halaman parkirnya serta di depannya ada warung makan. Kemudian kami segera masuk ke masjid tersebut mengambil wudhu dan sholat dhuhur berjamaah satu keluarga. Kemudian menuju rumah makan di depan yang letaknya di depan masjid tersebut.


Dan saat kami sedang memesan menu makanan sesuai selera masing masing, ada yang memandangi aku dan kemudian menyapaku.


“Habis jalan jalan dari pantai ya pak ?” Tanya orang itu.


“Iya kok tahu pak ?” tanyaku heran.


“Iya kebetulan saya juga dari pantai yang sama tadi. Saya juga lihat apa yang terjadi dengan keluarga bapak tadi.” Ucap orang itu membuatku penasaran.


“Maksut bapak apa Ya ?” tanyaku kaget.


“Bapak nikmati dulu makan siangnya nanti ada yang akan saya bicarakan dengan bapak ?” jawab orang itu kemudian.


“Kalo sekarang saja bagaimana pak ?” tanyaku kemudian.


“Kalo gak keberatan mari bicara di serambi Masjid itu saja.” Ajak orang itu kemudian.


Kemudian aku mengajak orang itu keluar dari warung dan bicara di serambi masjid.


“Kata bapak tadi melihat apa yang menimpa keluarga saya, apa bapak yang membantu saya tadi ?” tanyaku.


“Justru saya akan bertanya tentang hal itu juga, apakah bapak tidak menyadari jika anak lelaki bapak yang kecil tadi yang membantu bapak dengan menjetikkan batu batu kecil pada lawan lawan bapak yang mau menyerang dari belakang.” Jawab orang itu.


Jafar,,,,? Kataku dalam hati. Apakah mungkin anak sekecil itu mampu melakukan itu, pikirku.


“Bapak yakin melihat itu semua ?” tanyaku kemudian.


“Kalo orang awam tidak akan melihat pak, tapi saya punya sedikit kemampuan untuk melihat apa yang dilakukan anak bapak.” Jawab orang itu.

__ADS_1


“Terus sekarang maksut bapak bagaimana ?” tanyaku pada orang itu.


 


“Banyak yang ingin saya bicarakan, tapi kayaknya hari ini kurang tepat karena bapak sedang bersama keluarga bapak. Jadi lain waktu saja kita sambung pembicaraan ini.” kata orang itu.


Kemudian kami saling bertukar nomor H dan orang itu mengaku namanya adalah Suhadi. Asli dari daerah seputar jalan bantul, dan sengaja mengikut aku tadi karena melihat sepak terjang  Jafar yang menarik perhatiannya.


Kemudian orang itu mendahului aku masuk ke warung makan, namun sesaat kemudian beliau pergi dan meninggalkan kami.


Aku pun segera masuk ke rumah makan itu untuk menyantap makan siang yang sudah aku pesan.


Setelah selesai aku pun segera membayar makanan yang kami pesan tadi, tapi penjualnya mengatakan jika sudah di bayar oleh orang yang tadi ngobrol denganku katanya. Aku jadi agak curiga dengan orang itu, ada maksut apa dia begitu antusias menanyakan tentang Jafar anakku tadi.


Aah sudahlah, lebih baik aku segera pulang saja. Banyak hal yang harus aku lakukan di rumah nanti, pikirku. Dann aku pun segera mengajak anak anak untuk masuk ke dalam mobil dan segera melaju ke rumah.


*****


Sesampai di rumah aku segera mengajak Jafar masuk ke kamar dengan Fatimah untuk menanyakan apa benar dia tadi yang membantu aku melawan musuh musuh itu.


“Jafar tolong jawab dengan jujur, apa Jafar tadi yang membantu ayah ?” tanyaku pada jafar.


Jafar hanya diam tertunduk tidak menjawab, sampai aku harus mengulangi lagi pertanyaan ku.


“Jafar jawab pertanyaan ayah, jafar gak perlu lagi menyembunyikan sesuatu dari ayah bunda !” kataku.


“Maaf yah, Jafar terpaksa melakukan itu karena jafar gak mau ayah celaka.” Jawab Jafar.


“Ayah gak marah nak, hanya ayah heran kamu sudah bisa melakukan itu. apakah itu juga hasil didikan Yuyut ?” tanyaku kemudian.


“Iya yah, kata yuyut itu pukulan angin puyuh untuk melumpuhkan dan menotok jalan darah musuh yang membahayakan.” Jawab Jafar.


“Subhanallah Jafar kok kamu sudah mengenal ilmu itu sih nak, bunda saja dulu diajarin Yuyut saat sudah besar.” Kata Fatimah istriku.


‘Jafar juga sebenarnya gak mau bunda, tapi Yuyut memaksa Jafar bunda.” Jawab Jafar sambil menangis.


Aku jadi gak tega dengan Jafar yang menangis sambil memeluk bundanya.


“Sudahlah nak itu bukan salah kamu, sudah menjadi takdir kamu harus menjadi anak yang terpilih untuk meneruskan perjuangan leluhur kamu kelak.” Jawabku sambil ikut memeluk Jafar.


Suasana haru antar aku dan istriku bersama Jafar saat itu benar benar terasa, satu sisi aku ayahnya merasa kasihan dengan Jafar yang tiap malam harus di gembleng dengan keras oleh yuyut. Namun di sisi lain aku merasa bangga anakku Jafar akan menjadi penerus perjuangan leluhur kamu besuk.


Selepas mujahadah aku ikut gabung dengan anak anak muda yang sedang bermain gitar untuk menghilangkan rasa tegang yang melanda perasaan kami.


Ada sekitar tujuh anak ikut bermain gitar dan bernyanyi, aku pun ikut bergabung sebentar sampai beberapa lagu aku pun ikut mengiringi mereka dan kadang juga ikut bernyanyi lagu lagu anak muda yang aku bisa.


Hingga Fatimah menyusulku katanya ada yang mencari aku dan ingin bicara denganku.


Siapa lagi nih, gak boleh lihat orang seneng dikit, kataku dalam hati.


Kemudian aku segera menuju ke ruang tamu dan menemui orang yang mencariku. Ternyata adalah pak Subar dan satu lagi orang yang tadi siang berdebat denganku di pantai itu ternyata.


“Assalaamu’alaikum…!” sapaku pada mereka.


“Wa’alaikummussalaam…!” jawab pak subar dan temannya itu yang seketika kaget melihat aku. Begtu juga aku yang kaget karena siang tadi perasaan baru saja kami berdebat dengannya.


“Lah bapak ini kan yang tadi ketemu di pantai kan ?” tanyaku padanya.


“Orang itu Nampak gugup melihatku, karena siang tadi berebat denganku terus ngacir. Apakah mau mengajak berdebat lagi pikirku. Atau mungkin orang ini juga yang di ceritakan pak Subar tadi pagi, batinku.


Wah kalo orang ini utang dimaksud pak Subar, apakah dia masih mau mengajak aku berdebat lagi, batinku.


“Owh iya pak, kita tadi sudah bertemu di pantai ya ?” jawab orang itu.


“Owh jadi bapak yang mengatakan kalo Mujahadah itu bid’ah dan mendoakan orang yang meninggal itu sia sia ?” tanyaku langsung pada pokok permasalahan.


“Maksutnya bukan begitu pak, kalo mendoakan orang yang meninggal saya sekarang sudah faham itu gak masalah. Yang saya masalahkan itu kenapa harus diadakan pada satu sampai tujuh hari empat puluh hari dan seterusnya sampai dengan seribu harinya orang yang meninggal.” Kata orang itu masih dengan sedikit tergagap.


Dalam hati aku bilang, “ini orang semangat keagamaannya sangat tinggi namun tidak diimbangi dengan ilmu yang cukup. Jadi cenderung suka menyalahkan Amaliah orang lain” kataku dalam hati.


“Terus apa masalahnya jika di adakan dengan cara samapi seribu harinya, itukan sekedar peringatan atas meninggalnya seseorang hukumnya juga gak wajib. Dan tidak ada yang mewajibkan untuk begitu, tidak pun tidak masalah.” Kataku pada orang itu.


“Terus kenapa banyak yang melakukan pada hari hari tersebut pak ?” Tanya orang itu.


“Ya karena itu sudah menjadi tradisi saja gak harus pada hari hari tersebut. di hari lain juga gak masalah.” Jawabku.


Orang itu terdiam sesaat kemudian menanyakan hal lain diluar topic.


“Iya, tapi kenapa harus ada acara makan makan di tempat orang yang meninggal itu pak, itu kan tidak boleh makan makan dirumah mayit, hadits nya jelas soheh itu pak.” Bantah orang itu.

__ADS_1


“Yang mengharuskan pakai acara makan makan siapa pak ?” tanyaku.


“Biasanya kan habis acara Tahlilan pakai acara makan makan pak ?” kata orang itu.


‘pertama tidak ada yang mengharuskan seperti itu, dan yang dimaksut tidak boleh makan di rumah mayit itu apa bila bapak datang takziyah di orang yang meninggal kemudian minta makan atau minum, itu baru haram. Tapi kalo datang dan disuguhin makanan dengan niat ahli waris mau sedekah buat si mayit boleh tidak ?” tanyaku pada orang itu.


Dia Nampak kebingungan untuk menjawab. Sehingga aku harus menjelaskan kembali penjelasan tentang itu.


‘yang namanya orang berangkat Tahlilan atau mendoakan orang yang baru saja meninggal itu tujuannya untuk mendoakan orang yang meninggal pak, bukan untuk makan makan. Kalo niatnya makan makan memang itu tidak boleh.” Kataku pada orang itu.


“Tapi apakah orang yang berangkat tahlilan itu semuanya berniat mendoakan pak, apa tidak ada yang berniat sekedar ikut acara dan makan makan saja ?” Tanya orang itu.


“saya tidak tahu dan tidak mau menilai niat seseorang pak, karena itu rahasia orang tersebut dengan Allah buka urusan kita sesame manusia.” Jawabku.


“Tapi itu berarti membuat peluang orang berbuat niyahah ( Niyahah \= sengaja makan makan di tempat rumah duka \= meratap ) dan itu haram kan pak ?” sanggah orang itu.


“Bapak pernah kehilangan sandal waktu sholat jumat ?” tanyaku.


“Ya pernah juga pak, tapi apa hubungannya ?” Tanya orang itu.


“Kalo banyak orang kehilangan sandal waktu sholat jamaah, apakah jamaahnya yang salah dan terus di larang atau yang mengambil sandal saja yang salah ?” tanyaku lagi.


“Ya yang ngambil sandal yang salah, jamaah sholat gak bisa dilarang.” Jawab orang itu.


“Terus kalo ada satu dua orang yang berangkat Tahlilan niatnya sekedar ikut acara makan makan apakah Tahlilannya yang di anggap salah dan di larang ? kalo soal mendoakan mayit tentu sudah dikasih tahu pak Subar kan alasannya ?” tanyaku kemudian.


Orang itu pun kembali terdiam tak bisa menjawab, kemudian menanyakan hal lain yang beda konteks pembicaraan.


“Tapi itu kan tidak di syariatkan oleh Rasulullah pak, kalo tidak di syariatkan itu kan sama saja dengan bid’ah ?” kata orang itu.


Lama lama aku bisa emosi kalo begini caranya, pembicaraan melompat lompat ganti topic terus tiap terdesak sejak ketemu di pantai lagi juga selalu begitu.


“Bid’ah menurut bapak itu apa sih, jangan gampang nuduh bid’ah tapi gak ngerti bid’ah itu apa. Dan jangan bicara dengan topik yang lompat lompat pak kalo niatnya memang mau diskusi. Sekarang kita samakan dulu persepsi tentang bid’ah sebelum memvonis amal seseorang itu bid’ah atau bukan. Coba menurut bapak bid’ah itu apa ?” tanyaku padanya.


Kembali orang itu agak kebingungan.


“Kata guru saya bid’ah itu yang tidak dilakukan pada zaman rasulullah. Dan tahlilan itu juga tidak ada di zaman Rasulullah jadi otomatis itu bid’ah pak.” Jawab orang tersebut.


Aku jadi garuk garuk kepala mendengar jawaban asal tersebut.


“Pak, pertama saya ingatkan bahwa bapak tadi siang menuduh santri pondok pesantren itu hanya taqlid. Tapi sekarang malah bapak sendiri hanya taqlid pada guru bapak. Kedua definisi yang bapak katakana itu salah !” jawabku.


“Salah bagaimana pak ?” Tanya orang itu tak lagi membahas masalah taqlid, karena dia juga hanya taqlid dalam menyalahkan orang lain.


“Pertama Ibadah itu ada dua, ibadah mahdhoh yaitu ibadah yang sudah di tentukan Syariatnya, sudah di atur waktunya tata caranya dan lain sebagainya contohnya sholat, waktunya di atur, jumlah rokaatnya di atur  dan sebagainya. Kemudian ibadah kedua adalah ibadah ghoiru mahdhoh, ibaddah yang diserahkan pada kita untuk memanage sendiri. Contoh sedekah, boleh kapan saja dan dimana saja buat siapa saja. Adi ibadaah ghoiru mahdhoh itu boleh kita berkreasi selama tiak melanggar syariat. Jadi di namakan bid’ah kalo itu merubah syariat yang sudah di tentukan.” Jelasku panjang lebar.


Orang itu tampak bingung, mau menjawab apa lagi, namun juga tidak mau mengakui kesalahannya.


“Baiklah pak, besuk saya akan ajak ustadz saya untuk ikut bicara dengan bapak mungkin beliau lebih bisa menjelaskan dari pada saya. Saya permisi dulu ini sudah malam soalnya.” Kata orang itu kemudian berpamitan pulang diantarkan oleh pak Subar.


Setelah orang itu pergi, aku jadi berpikir begitu berat tantangan anak cucuku kelak menghadapi orang orang semacam itu. aah kenapa aku tadi sampai lupa Tanya namanya, batinku. Biarinlah besuk coba aku Tanya namanya.


Yang jelas aku jadi kepikiran bahwa untuk kedepan lebih dibutuhkan kecerdasan logika, atau dalam dunia pesantren harus mengasah ilmu mantiq ( Logika ) karena tantangan kedepan bukan lagi dihadap dengan kekuatan fisik namun dengan kecerdasan berpikir atau logika, batinku. Dan aku harus mempersiapkan anak anak ku untuk mulai belajar melatih ilmu mantiq atau logika. Dan caranya harus dengan memasukkan mereka ke pesantren, tentu saja menunggu jika sudah sampai waktunya nanti. Di sampingjuga harus mengikuti pelajaran sekolah formal agar tidak ketinggalan pelajaran umum dengan yang lain.


Inilah tantangan akhir zaman yang harus di persiapkan dari sekarang juga. Ketiga anakku harus mampu mempelajari bidang ilmu yang berbeda beda dan harus saling mendukung satu sama lainnya. Agar benar benar dapat berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai zaman mereka nanti. Ada saatnya meninggalkan dunia kanuragan dan mengedepankan ilmu pengetahuan. Entah nanti akan terjadi di zaman anak ku atau cucuku, wallahu a’lam bishowab.


“Mas jangan terlalu galak dengan orang seperti itu, mereka hanya belum tahu kebenaran yang sebenarnya.” Ucap Fatimah.


“iya, aku juga gak emosi kok santai saja.” Jawabku.


Malam ini aku akan kembali mengawasi Jafar dan Sidiq. Masih penasaran sampai sejauh mana yuyut menggembleng Sidiq dan Jafar. Akuakan mengintip mereka nanti, pikirku.


...Bersambung...


Jangan lupa mohon dukungan


Like


Komentar


Vote


dan lainya.


Akan masuk awal Konflik.


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


 


__ADS_2