
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Dan karena aku mengejar waktu, maka aku pun segera mencari tukang ojek untuk mengantarkan aku ke pesantren Jafar yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sekolahku. Aku tidak pedulikan tiga anak yang hendak menganiaya aku tadi, yang jadi pikiranku adalah, apakah Jalu yang dimaksud adalah Sawung Panjalu anak musuh besar ayahku…???
“Ini harus segera aku diskusikan dengan Jafar adikku, meski dia lebih pendiam namun aku tahu dia lebih hebat dariku.” Kataku dalam hati dan segera ingin bertemu dengan Jafar adikku.
Jalanya ojek terasa seperti sangat lambat, padahal aku lihat di speedometer nya juga sudah berjalan tujuh puluh kilometer per jam. Jelas ini karena perasaanku saja, gak mungkin aku memaksa abang ojek lebih cepat lagi karena jalan yang sudah mendaki memasuki areal pesantren Jafar dan Nisa. Lebih baik aku minta Jafar untuk bertemu di luar rea pesantren dia saja. Agar lebih cepat karena aku harus segera masuk kerja, pikirku. Kemudian aku WA Jafar dan Nisa agar menunggu aku di luar komplek Pesantren.
*****
Di rumah Yasin
Author POV
Pagi hari setelah melakukan aktifitas rutin termasuk ngopi pagi bersama istrinya, Yasin bersiap siap untuk memulai Grafting tanaman.
“Mas mau mulai Grafting hari ini ?” ucap Fatimah istrinya.
“Iya, mau kapan lagi nggak baik menunda pekerjaan.” Jawab Yasin.
“Apa lupa kalau hari ini ada janji dengan Steve dan Ponco ?” kata Fatimah mengingatkan Yasin.
“Owh iya, tapi kan belum pasti jamnya jadi aku bisa mulai Grafting pagi ini.” Jawab Yasin.
“Apa gak sebaiknya nanti kalau sudah menemui mereka saja, dari pada nanti pas nanggung mereka datang.” Ucap Fatimah.
Yasin berpikir sejenak, mempertimbangkan usul istrinya.
“Kenapa kamu berkata demikian, apakah kamu berharap hadiah itu .” tanya Yasin.
“Gak mas, hanya Fatimah masih pengen ngobrol sama mas terkait anak anak kita terutama Sidiq.” Ucap Fatimah.
“Ada apa dengan Sidiq, apa ada yang salah dengan Sidiq menurutmu ?” Tanya Yasin kemudian.
“Bukan bersalah, hanya tampaknya Sidiq sudah mulai mengenal lawan jenis dan mulai timbul rasa suka terhadap lawan jenis.” Ucap Fatimah.
Yasin terdiam sejenak, mulai berpikir bahwa sebuah kewajaran karena Sidiq juga telah duduk di bangku kelas tiga SMA. Itupun karena dia hampir saja berhenti sekolah setahun karena kondisi ekonomi Yasin dan Fatimah waktu itu yang sedang terpuruk. Sidiq lebih memilih berhenti setahun agar kedua adiknya tetap bisa melanjutkan sekolah. Untunglah Yasin dan Fatimah berhasil membujuk Sidiq agar tetap melanjutkan sekolahnya. Yasin haru dengan sikap Sidiq begitu juga Fatimah waktu itu, begitu perhatiannya Sidiq kepada kedua adik adiknya.
“Iya memang usia Sidiq memang sudah cukup dewasa Fat, terus menurut kamu apa yang harus kita lakukan untuk Sidiq ?” tanya Yasin kemudian.
“Tidak ada jalan lain kecuali kita harus selalu memonitor Sidiq mas.” Jawab Fatimah.
“Secara manusiawi wajar laki laki seusia Sidiq mulai suka dengan lawan Jenisnya. Namun kita sebagai orang tua memang punya tanggung jawab agar Sidiq tidak lepas kontrol. Tidak melakukan kesalahan ayahnya yang dahulu.” Ucap Yasin.
“Maaf mas, bukan maksud Fatimah menyinggung atau mengungkit masa lalu kamu. Tapi ini semata mata kepedulian Fatimah terhadap Sidiq.” Sahut Fatimah hati hati agar suaminya tidak tersinggung.
“Iya Fat, aku paham aku juga tidak merasa tersinggung kok. Bagaimanapun juga masa lalu menjadi gambaran kita agar berhati hati di masa sekarang dan yang akan datang.” Jawab Yasin.
“Sungguh mas gak tersinggung ?” tanya Fatimah meyakinkan dirinya sendiri.
“Buat apa aku tersinggung Fat, justru aku bersyukur punya istri yang sangat peduli seperti kamu.” Ucap Yasin.
“Aah mas ini, hobi merayunya gak hilang hilang. Pantesan Sidiq juga jadi pintar merayu begitu.” Kata Fatimah.
“Pintar merayu ? Apa kamu lihat sendiri Sidiq merayu cewek Fat ?” tanya Yasin serius.
“Kan sudah Fatimah bilang, kemarin merayu Fatimah persis kalau mas membujuk Fatimah. Meski Sidiq merayu Fatimah sebagai bundanya, hal itu yang membuat Fatimah agak khawatir jika itu dilakukan kepada cewek seusianya.” Ucap Fatimah.
Yasin tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Fatimah tersebut.
“Gak usah terlalu khawatir Fat, kita sebagai orang tuanya kan sudah mendidik Sidiq dengan baik. Semoga saja Sidiq bisa menjaga diri nantinya. Agar tidak berbuat kesalahan yang Fatal.” Jawab Yasin.
“Semoga saja mas, Fatimah khawatir karena wajah Sidiq dan Jafar itu kan cukup ganteng. Jadi ibaratnya ada modal jika mau merayu cewek mas.” Kata Fatimah.
“Iya memang, wajah Sidiq dan Jafar memang ada kemiripan ya ? Tapi menurutku justru Nisa yang perlu kita kasih perhatian ekstra Fat. Karena dia anak Gadis, jadi lebih riskan untuk menjaganya.” Ucap Yasin.
“Betul mas, tapi kalau Nisa kan pertama masih kecil dan yang kedua ada dua kakaknya yang selalu menjaga dan mengawasinya selain kita.” Sahut Fatimah.
“Iya sih, tapi tetap saja kita memang harus bisa mengawasi dan menjaga anak anak kita Fat. Berat tanggung jawab kita di akhirat nanti jika kita mengabaikan anak anak kita.” Kata Yasin.
“Terus kalau mas sendiri bagaimana sekarang ?” tanya Fatimah.
“Bagaimana apanya Fat ?” tanya balik Yasin.
“Ya bagaimana jika melihat lawan jenis yang lebih muda dan Seksi dibanding Fatimah yang sudah mulai tua sekarang.” Ucap Fatimah.
Yasin pandangi wajah Fatimah istrinya itu, Yasin bertanya dalam hati “ apa yang membuat Fatimah jadi agak curiga denganku.” Batin Yasin.
__ADS_1
“Kamu kenapa tiba tiba bertanya begitu Fat ? seperti menyembunyikan sesuatu saja ?” tanya Yasin.
“Gak kok mas, hanya sedikit khawatir saja. Karena beberapa waktu terakhir ini kayaknya mas sibuk banget sehingga kurang perhatian ke Fatimah.” Jawab Fatimah.
“Maksud kamu bagaimana Fat ?” tanya Yasin belum paham maksud istrinya.
“Kan beberapa kali ada orang yang minta tolong padamu mas. Dan beberapa di antaranya ada wanita singel, baik janda maupun gadis perawan. Dan mereka cantik dan lebih muda dariku, takutnya mas jadi terpikat dengan mereka atau salah satunya.” Ucap Fatimah.
Yasin tidak mengerti apa maksud Fatimah istrinya, karena dia memang tidak sedikitpun merasa punya maksud tertentu jika menolong seseorang.
“Astaghfirullah…. Fat kok kamu berpikir negatif kepadaku sekarang ?” ucap Yasin.
“Bukan negatif thinking mas, kan wajar seorang istri was was terhadap suaminya. Karena memang begitu kenyataanya, banyak wanita yang lebih muda dan lebih menarik dibanding Fatimah yang dekat dengan mas.” Jawab Fatimah.
“Ya terus kenapa kalau mereka lebih muda dan cantik dari kamu ?” tanya Yasin.
“Secara manusiawi juga seperti mas bilang tentang Sidiq tadi, bukankah mereka lebih menarik dari Fatimah.” Sahut Fatimah.
“Owh itu maksud kamu, meskipun penampilan mereka lebih muda dan lebih menarik dari kamu. Tapi mereka tidak memiliki apa yang ada pada dirimu Fat, itu yang harus kamu tahu.” Ucap Yasin.
“Maksud mas apa, yang mereka tidak memiliki sesuatu yang ada pada diri Fatimah ?” tanya Fatimah.
“Kamu mendampingi aku sudah berapa tahun ? berapa banyak masalah yang harus kamu hadapi karena menjadi istriku, bahkan dalam kondisi susah sekalipun kamu selalu setia mendampingiku. Itu yang mereka tidak bisa sebanding dengan kamu. Dan tidak akan mampu menggantikan kamu di hatiku Fat.” Jawab Yasin.
Fatimah sampai terharu mendengar ucapan Yasin tersebut, namun sisi kewanitaan Fatimah belum bisa meyakini ucapan suaminya itu. Masih ada sedikit kecurigaan atau kekhawatiran terhadap suaminya itu.
“Mas ini baru merayu atau baru menghibur Fatimah saja ?” tanya Fatimah. Meski hatinya bahagia dan tersenyum namun itu semua disembunyikan dari suaminya karena gengsi.
Yasin mendengar ucapan Fatimah justru timbul keinginan untuk menggoda istrinya itu.
“Maunya Fatimah dirayu atau dihibur ?” jawab Yasin.
“Lah kok begitu sih mas, kan Fatimah serius bertanya ?” ucap Fatimah.
“Aku juga sudah serius menjawab kamu malah bilang begitu. Jadi aku sekarang balik tanya, kamu maunya dihibur atau dirayu ?” ucap Yasin.
“Mau jawaban yang serius lah.” Ucap Fatimah agak sewot.
“Ya itu jawaban yang serius dariku tadi Fat, mau jawaban yang serius kayak apa lagi sih ?” tanya Yasin.
Fatimah tertunduk menyembunyikan senyuman kecil karena malu dengan suaminya.
“Fatimah jadi terbayang karena Sidiq juga pintar merayu, jadi Fatimah takut kalau itu hanya kata kata mas buat menyenangkan hati Fatimah saja. Makanya Fatimah minta ketegasan, apakah itu jawaban jujur atau seperti rayuan saja.” Ucap Fatimah.
“Kita ini mau apa lagi sih, anak sudah besar besar tinggal mengawasi dan mendidik mereka saja. Masak masih mau menuruti hawa ***** saja. Harusnya kita bersyukur, anak anak kita bisa mengenal akhlak dan mau belajar agama. Kurang apa lagi sekarang, sudah ah mau bukti apa lagi kalau di hatiku hanya ada kamu sebagai wanita yang aku cintai Fat ?” kata Yasin membuat Fatimah jadi malu dan memerah wajahnya.
“Lah siapa yang mulai, kan kamu yang mulai dengan membandingkan dengan wanita wanita muda yang kamu maksud tadi. Kalau kamu makin tua, apa aku gak makin tua juga, kan sama Fat ?” ucap Yasin.
“Iya deh, Fatimah percaya sekarang dari pada dirayu begitu malah jadi malu kalau kedengaran orang lain bisa dibilang kayak orang pacaran saja.” Ucap Fatimah.
Pagi itu Yasin dan Fatimah sengaja meluangkan waktu untuk berbicara berdua. Bahkan Yasin pun menunda rencananya untuk Grafting. Dan obrolan mereka berlanjut di warung, Yasin dan Fatimah membuka warung dan menunggu warung berdua. Samba sesekali bersenda gurau, seakan baru saja terlepas dari sebuah masalah besar. Pasangan suami istri itu bergembira sesekali diselingi tawa lepas keduanya.
Sampai sampai orang yang lewat di sampingnya pun pada heran. Dalam hati mereka membatin, “ini orang baru dalam kesusahan ekonomi masih saja bisa tertawa bahagia. Seperti tidak ada beban masalah saja.” Batin orang orang yang lewat.
Namun begitulah Yasin dan Fatimah istrinya, mereka bahagia apapun keadaan yang sedang dihadapinya. Bagi mereka kebahagiaan itu itu harus diciptakan bukan dicari. Karena kebahagiaan itu sebuah benda abstrak yang tidak ada wujudnya. Jadi harus diciptakan dari hati mereka sendiri, sehingga kondisi apapun mereka tetap berbahagia.
*****
Sampai hampir siang hari Yasin dan Fatimah masih saja bercanda berdua. Hingga akhirnya kedatangan Steve dan Ponco yang menghentikan mereka bercanda.
“Assalaamu’alaikum…!” sapa Ponco kepada Yasin dan Fatimah yang baru saja tertawa lepas.
“Wa’alaikummussalaam… eeh Ponco dan Steve, ayo kita masuk ke rumah saja biar lebih enak ngobrolnya.” Ajak Yasin kepada kedua tamunya tersebut.
“Tidak usah, sebaiknya kita segera ke bank saja sekarang. Setelah itu baru kita bisa berbicara lepas tidak terburu buru waktu.” Ucap Steve.
“Gak ngopi ngopi dulu ? Apa Kalian gak capek ?” tanya Yasin.
“Itu soal gampang nanti saja, kalau sudah selesai urusan di bank baru kita bisa ngobrol bebas.” Ucap Steve.
Yasin pun tidak dapat menolak ajakan Steve tersebut, dan meninggalkan pesan kepada Fatimah untuk menyediakan jamuan kepada dua tamunya itu nanti selepas dari bank. Dan Fatimah pun mengiyakan permintaan suaminya.
Berangkatlah Yasin Steve dan Ponco ke Bank, sementara Fatimah di rumah sambil menjaga warung mempersiapkan jamuan makan siang untuk suami dan kedua tamu nya tersebut. hanya dalam hitungan hari sejak Yasin mendapat Job dari pak Zul, kondisi perekonomian mereka tampaknya kan segera pulih. Ujian berat selama beberapa tahun terakhir mereka lewati dengan sabar.
Baik Yasin Fatimah dan ketiga anak anaknya tidak pernah menggerutu dan berkeluh kesah dengan kondisi yang dihadapi. Mungkin itu yang menyebabkan mereka dapat kembali bangkit, mendapat rezeki dari hal yang tidak disangka sangka.
Bagaimana tidak, beberapa hari sebelumnya saja mereka masih makan dengan singkong rebus demi bisa memberikan hidangan bagi anak anak yang mengaji makan dengan nasi. Mereka mengalah makan singkong saja, tanpa mengeluh sedikitpun.
Fatimah mencium tangan suaminya sebelum berangkat pergi dengan Ponco dan Steve. Dan kembali menyibukkan diri di warung, karena ada pembeli yang mau berbelanja.
“Wah sekarang jualan nya tambah komplit ya bu Fat ?” tanya pembeli itu berbasa basi.
“Alhamdulillah bu, sedikit sedikit bisa nambah itemnya.” Jawab Fatimah. Sekedar menanggapi pembeli, karena tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Syukurlah bu, semoga tambah laris nanti. Owh iya saya mau ambil kebutuhan dapur bu, ini catatannya tapi saya tinggal pergi sebentar, nanti saya ambil pulang dari sekolah anak saya.” Ucap pembeli tersebut.
__ADS_1
“Iya bu gak papa, saya siapkan dulu saja belanjaan nanti ibu tinggal ambil sambil pulang.” Jawab Fatimah.
Setelah menyiapkan pesanan belanjaan orang tersebut, Fatimah masuk ke dapur untuk mempersiapkan jamuan makan siang. Sambil sesekali menengok ke warungnya, kala kalau ada pembeli yang datang.
“Ya Allah, aku sangat bersyukur atas karunia-Mu, Kau berikan aku Suami dan anak anak yang sangat perhatian kepada hamba-Mu ini.” Ucap Fatimah setengah berbisik pada diri sendiri.
Setelah semua menu jamuan makan siang siap, Fatimah pun kembali ke warung untuk menunggu warungnya kembali. Fatimah termasuk istri yang tidak suka berdiam diri yang hanya menunggu jatah uang dari suaminya. Jadi selalu berusaha untuk membantu suaminya dalam mencukupi kebutuhan keluarganya.
Dan dengan membuka warung kecil kecilan tersebut sekaligus juga sebagai hiburan bagi Fatimah untuk mengurangi beban pikiran yang cukup berat. Saat keluarganya sedang ditimpa masalah finansial, sehingga sedikit membantu mengurangi tekanan batin mereka.
Setelah menunggu beberapa saat, Yasin suaminya pun datang bersama Ponco dan Steve. Kemudian Fatimah pun meminta mereka untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum masuk waktu dhuhur.
“Sebaiknya kita makan siang bersama sekarang, Fatimah sudah masak cukup banyak tadi, takut keburu dingin.” Ucap Fatimah.
“Owh iya kebetulan aku juga sudah lapar, kita makan bersama yuk. Soal janjiku untuk menengok Steve kapan kapan aku akan usahakan ke Jakarta. Semoga saja aku bisa ada kesempatan main ke tempat kamu Steve.” Ucap Yasin.
“Serius ya saudara Zain, anak istriku juga rindu dengan kamu. Tadinya mau ikut kesini juga, tapi berhubung banyak kerjaan yang harus diselesaikan maka tidak semuanya bisa kesini, hanya aku sendiri yang bisa hadir kesini.” Ucap Steve.
Kemudian mereka pun makan siang bersama sambil berbincang bincang. Steve telah memberikan ATM berikut PIN nya kepada Yasin tanpa diketahui oleh Yasin berapa isinya. Demikian juga kepada Ponco, namun kalau Ponco sudah tahu berapa isinya. Dan Ponco akan mengikuti Steve untuk bekerja di tempat Steve.
Usai makan siang dan melanjutkan ngobrol yang terjeda Sholat dhuhur, Ponco dan Steve pun pamit pulang ke Jakarta untuk menemui anak istri Steve.
“Saudara Zain, mohon maaf aku terpaksa harus pulang sekarang dan Ponco biar aku yang ajak. Aku butuh bantuan Ponco untuk bersama sama membesarkan usaha yang sudah aku rintis.” Ucap Steve.
“Baiklah, dan aku juga mengucapkan terimakasih atas niat baikmu yang jauh jauh dari Jakarta hanya untuk memberikan hadiah kepadaku Steve.” Ucap Yasin.
“Aah lupakan saja itu, gak seberapa juga kok saudaraku.” Jawab Steve.
“Aku tidak pernah mengukur jumlah nya saudara Steve, niat kamu dan usaha kamu itu yang tidak bisa kami nilai dengan angka.” Jawab Yasin.
Mereka pun akhirnya berpisah lagi, dengan harapan Yasin juga akan mengunjungi Steve dan keluarganya di Jakarta serta Ponco yang ikut dengan Steve.
Setelah kepergian Steve dan Ponco maka kembali Fatimah dan Yasin melanjutkan obrolan mereka tadi pagi.
“Mas janji ke Steve untuk berkunjung ke Jakarta ?” tanya Fatimah.
“Iya, kalau memungkinkan tapi. Kita lihat situasi dan kondisi nanti saja Fat. Paling tidak aku dan Steve sudah bertukar no HP jadi bisa saling kontak nantinya.” Jawab Yasin.
“Gak papa sih mas, tapi kalau ke sana ajak Fatimah juga Fatimah gak mau sendirian di rumah.” Ucap Fatimah.
“Yee mulai genit ya, kayak orang masih pacaran saja kemana mana ikut.” Goda Yasin.
“Gak lah bukan begitu, kan gak enak sendirian di rumah mas.” Jawab Fatimah menahan malu.
“Iya lah, masak iya istri aku yang cantik aku tinggalkan sendiri di rumah.” Goda Yasin lagi.
“Iiih sebel deh kalau sudah mulai menggombal begitu.” Ucap Fatimah cemberut tapi sebenarnya suka kalau Yasin memujinya begitu.
“Sudah ah, capek dari tadi pagi kita ketawa melulu. Bagaimana warungnya tambah ramai gak yang beli ?” Tanya Yasin.
“Alhamdulillah, karena makin banyak item makin banyak yang belanja juga. Tapi masih ada yang kurang, tadi ada yang minta disediakan bahan bahan yang kita belum ada.” Jawab Fatimah.
“Kalo begitu kamu catat saja, nanti aku belanjakan.” Ucap Yasin.
“Wah yang baru saja dapat hadiah, emang dapat hadiah berapa mask ok mau belanja buat warung. Apa gak dipakai buat keperluan usaha mas dulu saja ?” ucap Fatimah.
“Aku juga belum tahu berapanya, tapi kayaknya lebih penting buat keperluan warung dulu. Soalnya kalau usahaku nanti butuh waktu lama untuk dapat duitnya. Kalau warung kan bisa tiap hari dapat duit.”Jawab Yasin.
“Iya juga sih, sambil nunggu usaha mas jalan paling tidak ada pemasukan tiap hari buat kebutuhan hidup kita nanti.” Sahut Fatimah.
“Makanya catat saja dulu kebutuhan warung, nanti aku belanjakan sekaligus lihat isi ATM ini.” Ucap Yasin.
Kemudian Fatimah mencatat apa permintaan pembeli yang harus disediakan dan diserahkan kepada suaminya. Kemudian Yasin pun segera berangkat menuju ke sebuah ATM untuk melihat isi nya dan belanja kebutuhan warung istrinya. Namun alangkah terkejutnya YAsin begitu melihat saldo di ATM tersebut. jumlahnya sungguh diluar dugaan Yasin, sehingga Yasin bengong hanya mengambil beberapa saja dan kemudian kembali pulang tidak jadi berbelanja.
Dan sesampai di rumah pun Yasin mengajak Fatimah masuk kedalam rumah dan menceritakan apa yang dilihatnya barusan.
“Fat, kita masuk ke rumah sebentar ada yang harus aku bicarakan.” Ajak Yasin kepada Fatimah.
“Ada apa mas, kok gak jadi belanja ?” tanya Fatimah.
“Nanti kita bicarakan di dalam rumah saja.” Jawab Yasin.
Fatimah pun hanya mengikuti apa kata suaminya dengan perasaan bingung, apa yang sebenarnya terjadi….???
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
Vote nya ya Reader tercinta.
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏...
Â