Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Ujian buat Sidiq


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


"Jadi Umi ini ibunya kang Jafar dan Nisa yang ikut di pesantren Abi Syuhada dan umi Alisa ?” tanya Isna sangat terkejut dengan jawaban Fatimah. Fatimah pun baru sadar telah membuka sebuah rahasia yang oleh Kyai Syuhada disembunyikan selama ini…?!?


“Astaghfirullah… Umi jadi keceplosan, padahal dilarang membuka cerita ini sama abi Isna kang Syuhada.” Jawab Fatimah.


“Kenapa harus dirahasiakan sih Umi, kalau tahu dari awal kan Isna gak akan canggung lagi. kalau Isna tinggal dirumah kang Jafar dan Isna Umi.” Jawab Isna agak kecewa.


“Maafkan Umi Isna, ini semua permintaan abinya Isna.” Jawab Fatimah.


“Lah Abi mah menghukum Isna begini gak lucu aah…!” Ucap Isna tampak kesal dengan orang tuanya.


“Menghukum Isna ? Memang Isna punya salah apa ?” Tanya Fatimah.


Kemudian Isna menceritakan awal mengenal Jafar saat dipanggil Abinya dan disuruh tinggal di nDalem dan diminta menjaga Nia ( Isna ). Kemudian Jafar diminta mengajar beladiri dan oleh Isna ditandingkan dengan Lurah Pondok yang jadi pelatih. Bahkan Isna pernah melakukan latih tanding dengan Nisa dan dikalahkan oleh Nisa. Hingga akhirnya Nia malu dan sempat membenci Jafar dan Nisa.


Fatimah yang mendengar cerita Isna malah menertawakan Isna yang dianggap aneh dan lucu.


“Kok umi malah tertawa, gak marah sama Isna ?” tanya Isna.


“Buat apa marah Isna, kan itu hal yang biasa terjadi pada anak anak seusia kamu.” Jawab Fatimah.


“Tapi kan Isna merasa malu Umi, masak sekarang tinggal bersama orang tua dari orang yang dulu Isna benci. Segitunya abi dalam menghukum Isna.” Ucap Isna. Membuat Fatimah malah semakin terpingkal dengan ulah Isna tersebut.


“Kamu ini makin lama makain lucu Isna, apa sampai saat ini kamu juga masih benci sama Jafar dan Nisa anak umi ?” Tanya Fatimah.


“Gak kok Umi, serius Isna sudah gak benci. Isna bahkan sudah anggap Nisa adik Isna karena menyadarkan Isna atas kesombongan Isna selama ini.” Jawab Isna.


Fatimah memandangi Isna, dia melihat keseriusan ucapan Isna tersebut. sehingga justru Fatimah merasa iba dengan Isna. “tentu anak ini dulu sangat malu dikalahkan oleh Nisa. Lagian Nisa kok tega mengalahkan Isna putri dari abah gurunya sih.” Kata Fatimah dalam hati.


“Kok Umi malah mandangin Isna begitu ?” Tanya Isna yang janggal dengan tatapan mata Fatimah.


“Owh gapapa kok Isna, maafkan Nisa anak umi yang sudah bikin Isna malu tentunya.” Jawab Fatimah.


“Gapapa Umi, malah Isna senang akhirnya bisa sadar akan kesalahan Isna selama ini.” Jawab Isna sambil senyum.


Fatimah pun tak kuasa memeluk Isna dan menciumi Isna dengan kasih sayang.


“Iya Isna, kamu memang punya dasar anak yang baik jadi akhirnya akan menjadi baik juga.” Ucap Fatimah sambil memeluk Isna.


“Terimakasih Umi, Isna sayang Umi. Umi baik banget sama Isna meski tahu Isna pernah jahat sama anak umi.” Jawab Isna balas memeluk Fatimah.


Keduanya sampai lupa jika sedang menanti kepulangan Yasin yang baru menjenguk anak anaknya di pesantren. Hingga akhirnya Yasin pun datang dan mengetuk pintu rumahnya.


“Assalaamu ‘alaikum… Fatimah…. Isna apa kalian sudah tidur ?” ucap Yasin sambil mengetuk pintu rumahnya.


“Wa’alaikummussalaam mas,,, belum baru ngobrol sama Isna.” Jawab Fatimah sambil bangkit hendak membuka pintu namun dicegah Isna.


“Biar Isna yang bukakan pintu buat abi Yasin mi.” Ucap Isna langsung melangkah membuka pintu.


“Abi Yasin, bau dari rumah Isna ya ?” Tanya Isna. Membuat Yasin kaget, “darimana anak ini tahu, apa sudah tahu jika Jafar dan Nisa adalah anakku ?” kata hati Yasin.


“Tahu dari mana kamu Isna ?” Tanya balik Yasin.


“Isna sudah tahu kalau abi Yasin ini nama asinya Ahmad Sidiq ayah dari kang Jafar dan Nisa. Umi Fatimah tadi keceplosan bicara, jangan marah ya Abi ?” ucap Isna.


“Isna tuh yang mancing mancing Fatimah sampai keceplosan.” Sahut Fatimah mencari alasan.


Di luar dugaan Yasin hanya tersenyum saja.


“Kayaknya memang sudah saatnya Isna tahu dan sebentar lagi Isna akan ada teman putri dari kang Nurudin gurunya Sidiq juga.” Jawab Yasin sambil tersenyum.


“Maksut Abi putri bah Udin yang namanya Utari ?” Tanya Isna.


“Iya, Isna kenal sama dia ?” tanya Yasin.


“Bukan hanya kenal Abi, kita sering pergi berdua kok.” Jawab Isna.

__ADS_1


“Owh begitu, apa kamu juga bilang kalau kamu akan tinggal disini ke Utari ?” tanya Yasin.


“Iya lah bi, namanya juga sahabat dekat.” Jawab Isna.


Yasin jadi sedikit paham, “mungkin saja Utari sendiri yang meminta ke abahnya untuk ikut belajar sama Isna.” Kata Yasin dalam hati.


“Yasudah Isna tidur udah malam, besok kan harus sekolah.” Ucap Yasin pada Isna.


Isna pun kemudian masuk ke kamarnya, hendak beristirahat. Namun pikirannya justru kembali ingat dengan Jafar yang beberapa hari terakhir seringkali ngobrol berdua di teras rumahnya. Isna jadi ingat Jafar yang cool tapi garang saat sedang melatih beladiri.


Sementara Yasin dan Fatimah pun mengobrol sebentar di ruang tamunya.


“Bagaimana perkembangan anak anak kita mas ?” tanya Fatimah.


“Tampaknya memang anak anak kita itu dipersiapkan khusus untuk membentengi arus kemaksiatan yang makin merajalela saat ini.” Jawab Yasin.


“Fatimah malah jadi ngeri mas, apakah akan mengalami hal yang sama seperti mas dulu juga ?” Tanya Fatimah.


“Doakan saja agar anak anak kita selalu dilindungi Allah dan selalu dalam bimbingan Nya. Hanya itu yang dapat kita lakukan Fat, tidak mungkin kita menawar apa yang sudah menjadi kehendak Allah.” Jawab Yasin, mencoba menenangkan Fatimah. Meski Yasin sendiri sebagai ayah dari Sidiq dan Jafar juga merasakan kecemasan pada kedua anaknya. Apalagi tahu jika Sidiq anaknya dari Arum habis mengalami patah kaki.


“Mas, Fatimah pengen lihat langsung keadaan anak anak kita. Bukankah Isna juga sudah terlanjur tahu Jafar dan Nisa adalah anak kita.” Bujuk Fatimah kepada Yasin.


“Terus kenapa kalau Isna sudah tahu, kan Fatimah juga ngerti kalau minimal empat puluh hari Isna gak boleh menemui dan di temui orang tuanya. Sebagai kebiasaan seorang yang baru belajar mengaji.” Jawab Yasin.


“Yaah tapi Fatimah sangat Rindu kepada anak anak mas. Kalau nunggu empat puluh hari Isna disini kayaknya kelamaan deh.” Jawab Fatimah.


Yasin memahami Fatimah sebagai seorang ibu yang mengandung anak anak nya. Namun Yasin juga harus memikirkan Isna sebagai satu amanah yang diemban dari seniornya.


“Begini saja, mungkin dalam beberapa hari ini anak anak kita suruh pulang sebentar. Dan mungkin juga ada beberapa Santri kang Syuhada dan kang Nurudin yang akan ikut kesini.” Jawab Yasin.


“Serius mas ?” Tanya Fatimah meyakinkan ucapan suaminya tersebut.


“Iya aku serius, aku akan berunding lagi dengan guru anak anak kita dalam menghadapi masalah yang mungkin akan timbul.” Jawab Yasin.


Fatimah agak bingung dengan ucapan suaminya.


“Ada apa lagi sih mas kok kayaknya ada masalah genting sekali ?” Tanya Fatimah.


“Masih ingat dengan ‘Dawuh’ Abah guru Thoha padaku dulu untuk menyapu ? Nah saat ini tugas tersebut diestafetkan ke anak anak kita, jadi aku sebagai ayah punya kewajiban untuk membekali mereka secara khusus.” Jawab Yasin.


“Apakah Fatimah juga harus terlibat dalam hal ini mas ?” Tanya Fatimah.


Kemudian Yasin dan Fatimah melanjutkan obrolan mereka di dalam kamar sambil berbaring untuk istirahat. Dan karena cukup lelah Yasin Pun tak lama setelahnya sudah tertidur pulas. Sehingga Fatimah hanya bengong, ketika bertanya sesuatu ternyata suaminya sudah tertidur pulas.


“Ya Allah,,, istri bertanya macam macam malah ditinggal tidur…!!!” gerutu Fatimah. Namun Yasin yang dari siang tidak beristirahat sudah tidak mendengar lagi ucapan Fatimah.


“Rupanya suamiku sangat capek, biarin lah Fatimah pijitin saja. Sekalian pengen tahu otot otot suami masih seperti dulu tidak. Meski bilang gak mau kontak fisik lagi tapi Fatimah gak yakin. Apa lagi dalam kondisi seperti ini, sudah sering kamu bohongin Fatimah, meski niatmu hanya melindungi aku mas.” Kata Fatimah dalam hati sambil memijat suaminya sambil berbaring dan akhirya juga ikut tertidur sambli memeluk suaminya.


>>>>>


>>>>>


>>>>>


Pagi hari di Pondok Al-Huda


Jafar POV


“Mas Sidiq semalam sampai jam berapa ya baca Fida’. Jafar kasihan juga dengan mas Sidiq, meski tindakanya berlebihan. Tapi Jafar tahu itu demi membela Jafar, meskipun sebenarnya tidak perlu.” Kata Jafar dalam hati saat Hendak persiapan pergi ke sekolah.


Tak lama kemudian  mas Sidiq pun muncul dan mengeluarkan motor Nia untuk berangkat ke sekolah. Karena sudah mendapat izin dari Abah gurunya Jafar untuk menggunakan motor Nia, karena jarak sekolah Sidiq yang cukup jauh.


“Sudah mau berangkat sekolah mas ?” Tanyaku pada mas Sidiq.


“Iya Jafar, kan sekolahku jauh kalau dari sini biar gak terlambat nanti.” Jawab mas Sidiq.


“Hati hati mas, jangan buru buru santai saja bawa motornya.” Kataku pada mas Sidiq.


“Iya, Nisa kemana kok aku gak lihat dari subuh tadi ?” Tanya mas Sidiq.


“Biasanya jam segini masih dikamar mas, persiapan buat ke sekolah juga.” Jawabku ke Mas Sidiq.


“Yasudah pamitin saja nanti, aku mau berangkat sekarang.” Jawab Mas Sidiq langsung berangkat ke sekolah. Aku hanya berharap tidak ada yang salah paham lagi mas Sidiq bawa motor Nia.


Setelah mas Sidiq keluar gerbang tiba tiba aku lihat kang Muksin yang masih agak sakit datang menghampiriku bersama Arsyad. Aku jadi agak khawatir, jangan jangan mau protes mas Sidiq bawa motor nia, pikirku. Namun aku mencoba untuk ber khusnudzon saja. Mudah mudahan tidak seperti yang aku pikirkan.

__ADS_1


“Assalaamu’alaikum…!” sapa Arsyad dengan pelan.aku jadi kaget tiba tiba Arsyad berubah tidak seperti kemarin yang main bentak bentak.


“Wa’alaikummussalaam Kang Arsyad dan kang Muksin. Kang Muksin sudah sehat ?” tanyaku mencoba bersikap wajar.


“Alhamdulillah, kami kesini mau minta maaf karena kami kakak nya gus Jafar jadi di ta’zir.” Ucap kang Muksin.


“Saya juga gus maaf kami tidak tahu jika ayah gus Jafar adalah adik seperguruan abah guru Syuhada.” Sahut Arsyad.


Aku jadi bingung, dengan mereka yang tiba tiba jadi berubah seratus delapan puluh serajat.


“Kang Arsyad dan kang Muksin ini apa apaan sih, panggil nama saja Jafar itu bukan gus…!” jawabku risih dipanggil gus oleh senior ku di pesantren.


“Tidak gus, kami gak berani karena ayah gus Jafar itu sam juga paman guru kami.” Ucap kang Arsyad.


“Tunggu kang,,, ayah Jafar memang satu alumni dengan abah guru kita. Tapi ayah jafar bukan kyai dan aku bukan gus, jadi kita itu sesama santri saja gak usah begitu. Jafar malah jadi malu kalau kang kang berdua memanggil gus begitu.” Jawabku pada mereka.


Namun kedua kang itu tetap ngotot memanggil aku dan mas Sidiq dengan sebutan gus. Akhirnya aku berpikir biar abah guru saja yang member tahu mereika agar mengerti, batinku.


“Kami tetap manggil gus, agar kami juga tahu adab gus. Dan soal biaya berobat tidak usah diganti gus, saya malah malu dengan gus Sidiq.” Ucap kang Muksin.


“Gak bisa begitu dong kang, mas Sidiq tetap salah jadi sudah sepantasnya bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.” Jawabku.


Lagi lagi mereka ngotot tidak mau diganti biaya berobat kang Muksin, biarlah nanti jadi urusan mas Sidiq saja pikirku yang sudah kehabisan akal.


*****


Perjalanan Sidiq ke sekolah


Sidiq POV


“Sidiq malu, dari kecil selalu membuat ayah bunda harus turun tangan menyelesaikan masalah Sidiq. Sidiq harus belajar sedikit sabar agar bisa seperti Jafar yang tidak pernah menimbulkan masalah.” Kataku dalam hati.


Setelah melakukan fida’ semalam meski baru selesai separuh dari seratus ribu yang diijazahkan abah guru Syuhada. Namun aku merasa sangat menyesal dengan tindakanku kepada kang Muksin. Aku sangat gegabah. Sehingga memalukan ayah dan juga abah guru Nurudin., kataku dalam hati menyesali emosiku yang kadang tak terbendung.


Aku jadi teringat pesan abah guru Nurudin tentang Api dan Air, jika apai tak terkendali akan menyebabkan kebakaran rupanya ini maksutnya. Api itu lambing amarahku yang sering tidak terbendung. Dan Air yang tidak mendapat saluran yang cukup akan mengakibatkan banjir. Itu adalah adikku Jafar, energinya yang besar jika tidak tersalurkan sekali keluar akan sangat berbahaya. Sehingga seluruh Padepokan Jaka pun kemarin bisa di obrak abrik Jafar. Seperti Banjir yang menerjang apapun yang dilewatinya.


Mungkin ini yang dimaksut oleh abah guru Nurudin, lantas apa maksut ucapan ayah semalam ya ? Jika menghadapi lawan yang tidak kasat mata nanti disuruh menggiring ke tower air agar bisa tampak meski hanya samar samar.


Ayah dulu pernah menghadapi orang yang bisa ‘menghilang’ entah dengan cara apa ayah tetap mampu melihat musuhnya. Juga paman Sena bisa juga merasakan keberadaan lawannya, apakah ada hubungannya dengan itu ? Aku harus bicarakan ini nanti engan Jafar adikku yang kecerdasanya di tasa rata rata. Sampai dulu bisa mengalahkan pimpinan Lady Ninja hanya dengan logikanya.


Sepanjang perjalanan aku memikirkan semua kejadian yang aku alami. Aku mencoba introspeksi kesalahanku agar tidak terulang lagi. malu rasanya dari saat SD sampai sekarang selalu membuat ayah dan bunda ikut terkena dampak dari tindakan cerobohku.


Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah riska, aku masuk ke halaman rumah Riska. Riska belum nampak bersiap karena aku datang lebih pagi dari biasanya. Dan aku turun hendak mengetuk rumah Riska mengajak Riska berangkat sekolah bersama. Namun lamat lamat aku mendengar sebuah percakapan atau lebih tepatnya suara orang tua Riska yang sedang memarahi Riska.


“Ayah malu Riska, teman kamu yang selalu mengajak kamu itu ternyata tukang bikin ribut. Ayah dengar berita dia merusak sebuah Padepokan dan melukai banyak orang.” Suara Ayah Riska menasehati Riska.


“Itu bukan mas Sidiq tapi adiknya yang tidak terima karena kaki mas sidiq dibuat patah oleh salah satu anggota padepokan itu.” Jawab Riska sambil menangis.


“Aku gak mau tahu, pokoknya mulai sekarang kamu jauhi anak itu….!!!” bentak ayahnya Riska.


Aku yang hendak mengetuk pintu pun mengurungkan niatku, dan memilih berangkat ke sekolah sendirian. Dan sampai di sekolah masih sepi, aku coba chat Riska “ Maaf Ris, aku tadi mau jemput kamu di rumahmu. Tapi tak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan ayah kamu. Jadi aku terpaksa berangkat sendiri karena tidak enak jadi trouble maker di keluargamu. Maafkan aku ya, aku tidak menyalahkan kamu jika mau menjauh dariku demi taatmu pada ayahmu.” Chatku ke Riska dengan perasaan hatiku yang hancur saat itu.


Aku mau fokus pada masalah yang harus aku hadapi saja, soal Riska dan ayahnya aku ikut saja apa keputusan Riska. Meski jujur hatiku jadi sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi aku juga gak mungkin menyalahkan adikku Jafar yang sudah membelaku begitu. Mungkin ini memang sudah takdir, yang harus aku terima. Lagian siapa aku ini, kenapa mengharap anak seorang Lurah yang terpandang seperti Riska. Aku memang tidak tahu diri, tidak mengaca dengan keadaan diri sendiri, kata hatiku yang sedang kalut…?


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2