
...Rumah Riska dipasang guna guna...
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
Mungkin inilah salah satu tugas suamiku, "Nglumpokke balung pisah. " atau mengumpulkan saudara yang terpisah sesuai perintah Abah guru Thoha...!!!
"Alhamdulillah... aku bahagia sekali kalian bisa akur kembali." Ucap mas Yasin.
Salah satu sikap suami ku yang bikin Fatimah kagum dan mencintainya. Mas Yasin yang bisa berbesar hati memaafkan orang lain, dibalik sifat tempramental nya. Meskipun kadang juga sifat tempramental nya membuat Fatimah jengkel. Belum lagi sifat semaunya yang jahil, iseng dan slengean.
Tapi lama lama Fatimah juga menikmati sifat iseng suami ku itu.
"Bagaimana cerita nya mas, Sena hanya pernah dengar dari Nurul tentang Cia sepupunya. Tapi gak tahu persis apa yang terjadi diantara mereka?" Tanya Sena pada suami ku.
"Aku juga tidak tahu persisnya, biarlah itu jadi urusan mereka saja." Jawab suami ku.
Tiba-tiba Nurul bicara.
"Mas Ahmad, boleh gak Aku bicara bertiga saja dengan mbakyu Fatimah dan Cia?" Tanya Nurul.
"Boleh saja, kalian bicara di ruang Mujahadah saja." Jawab suami ku.
"Iya dik Nurul, kita yang wanita bicara sendiri yuk. Barangkali para lelaki ada pembicaraan khusus." ucapku.
Kemudian Fatimah meninggal kan mas Yasin dan Sena berdua di kamar tamu.
.....
Setelah di ruang Mujahadah Nurul membuka pembicaraan.
"Begini mbakyu Fatimah, mungkin Cia sudah cerita tentang kami. Jadi Nurul mohon maaf jika cerita Cia tentang masa lalu kami membuat mbakyu Fatimah kurang berkenan." Kata Nurul.
Fatimah jadi bingung apa maksud ucapan Nurul.
"Tidak mbak Jannah, Cia gak cerita kecuali yang mengingatkan Mas Ahmad tentang siapa Cia. Setelah tahu ternyata mas Yasin itu adalah mas Ahmad Sidiq." Kata Cia yang keceplosan menyebut Nurul dengan sebutan Jannah.
"Ada apa sebenarnya, Fatimah gak paham maksud dik Nurul. Begini saja, Cia atau Lusiana Sufitri Prihati sekarang ini panggilannya Sufi. Dan dik Siti Nurul Janah panggilannya Nurul. jadi enaknya panggilannya pakai nama itu saja. Untuk mengubur masa lalu yang kurang baik." Kata Fatimah pada mereka.
"Iya mbakyu, Sekarang Nurul panggil Sufi juga deh. Kamu serius Sufi gak pernah ceritakan Mbak Nurul pada mbakyu Fatimah? " tanya Nurul.
"Serius mbak, Sufi berani sumpah tanya sendiri ke mbak Fatimah." Jawab Nurul.
"Apaan sih, kalau mbak boleh tahu?" Tanyaku bingung.
Nurul dan Sufi saling berpandangan. Kemudian Nurul yang angkat bicara.
"Gapapa kok mbak, cerita masa lalu kami yang ada kaitannya dengan mas Yasin suami mbakyu." Jawab Nurul sambil senyum senyum pada Sufi.
"Iya tapi cerita yang bagaimana, jangan merahasiakan sesuatu begitu." Kata Fatimah.
Nurul tampak ragu ragu bercerita, beberapa kali melirik Sufi seperti minta pendapat Sufi. Dan Sufi pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Kemudian Nurul cerita dengan sedikit menahan malu. Nurul menceritakan masa kecilnya saat memasuki masa puber pertamanya. Nurul mengaku saat itu sempat mengagumi suami Fatimah mas Yasin. Yang waktu itu dikenal dengan nama Ahmad Sidiq.
Dan Nurul sering curhat ke Sufi, serta sering mengajak Sufi menemui mas Yasin saat mas Yasin menginap di rumahnya. Sekaligus mendengarkan dongeng dari mas Yasin.
Nurul cerita sambil senyum malu malu.
"Maaf lo mbakyu, itu hanya cerita masa lalu saja. Kalau sekarang Nurul anggap mas Yasin sebatas saudara saja gak lebih." Ucap Nurul.
Fatimah justru tertawa lepas, mendengar cerita Nurul tersebut.
"Jadi itu sebabnya kamu tadi bilang minta maaf kalau cerita masa lalu kamu membuat aku tidak berkenan?" Tanyaku sambil tertawa.
"Iya takutnya mbakyu jadi salah paham dengan Nurul saja." Jawab Nurul.
"Gak lah, masak begitu saja salah paham. Fatimah percaya kok, dan itu wajar sekali." Kata Fatimah, hampir keceplosan cerita jika Sena pun dulunya pernak Naksir Khotimah adik sepupuku. Untung masih dapat Fatimah tahan tidak cerita.
"Jangan bilang mas Yasin mbak, Nurul malu kan dia gak pernah tahu cerita itu." kata Nurul.
"Iya, bisa bisa malah besar kepala dia nanti. Cukup jadi rahasia kita bertiga saja." Jawabku. "pantas Nurul mengajak bicara bertiga saja, kirain ada rahasia apa. " Batinku.
Tiba-tiba mas Yasin datang.
"Ribut amat sih, Jadi ke Al-Huda sekarang tidak? Biar Sena dan Nurul yang jagain rumah sekalian temani Sufi?" Tanya suami ku.
"Boleh saja, tapi gak papa kita tinggal mereka?" Tanyaku.
"Gak masalah, aku dah bilang ke Sena juga." Jawab mas Yasin.
Kemudian Fatimah dan mas Yasin berangkat ke Pesantren Al-Huda. Setelah meminta tolong Nurul dan Sena jaga rumah dan menemani Sufi.
__ADS_1
.....
Sesampainya di Pesantren Al-Huda kami langsung menemui Kyai Syuhada atau kang Syuhada kami biasa memanggilnya.
Dan kang Tabib Ali Akbar beserta istrinya juga ikut menemui kami.
Bahkan, saat Jafar baru pulang dari sekolah pun disuruh ikut bergabung dengan kami, Fatimah lega lihat kondisi Jafar dalam keadaan Sehat tak kurang satu apapun.
Setelah membicarakan soal kesehatan Jafar anak kami, Fatimah ingin bicara hal lain. Dan meminta Jafar untuk menyingkir dahulu.
"Jafar,,, bunda mau membahas perkara lain yang penting. Jafar bisa kembali ke kamar Jafar." Kata Fatimah.
"Iya bunda." Jawab Jafar kemudian pamit ke kamar dan menyalami semuanya.
Setelah Jafar Pergi, Fatimah pun memulai obrolan tentang hal Lain.
"Maaf kang Ali, Fatimah mau nanya soal lain boleh?" Tanyaku pada Tabib Ali.
"Tentu saja boleh, mau tanya apa?" Jawab kang Ali.
Fatimah agak ragu sebenarnya, tapi rasa penasaran Fatimah tidak bisa terbendung.
"Maaf sebelumnya, apakah kang Ali punya rencana dan pernah membicarakan perjodohan Jafar anak kami dengan Vina anak kang Ali dengan suami ku?" Tanyaku.
Kang Ali hanya tersenyum, sebelum kemudian berkata.
"Tidak seperti itu, Aku dan suami kamu hanya bilang. Jika anak anak kita mungkin berjodoh, bukan mau menjodohkan. Karena jodoh kan di tangan Allah." Jawab kang Ali.
"Maksud Fatimah juga gak keberatan hanya saja masih terlalu kecil anak anaknya. Biar mereka tumbuh dewasa dulu. Dan biar berjalan alami saja, gak usah di jodoh jodohkan begitu." Jawabku.
"Sabar Fatimah, maksud kang Ali juga baik. Dan tidak akan memaksa, hanya melihat tanda tanda mereka berjodoh dengan disiplin ilmunya kang Ali. Tanpa bermaksud mendahului kehendak Allah Swt. " Jawab suami ku.
"Iya, Jujur saja, aku juga ada Feeling kita bertiga ini akan jadi kerabat. Aku rasakan kita bertiga ini akan besanan nantinya. Entah siapa dengan siapa. "ucap Kang Syuhada.
pembicaraan kami terpaksa terhenti dengan kedatangan Sidiq yang membawa rombongan datang. Tampak dari jendela kaca Sidiq berjalan menuju ke ruang tamu kang Syuhada.
Kami terpaksa menghentikan obrolan kami.
Flashback off.
.....
.....
.....
Setelah cukup lama Yasin dan Fatimah ngobrol dengan Kyai Syuhada. Dan Fatimah sudah lega melihat keadaan Jafar baik baik saja. Fatimah pun mengajak Suaminya pulang. Karena cukup lama meninggal kan Sena dan Nurul di rumahnya.
"Kang, kami permisi dulu kebetulan di rumah kami juga baru kedatangan tamu tadi." Kata Yasin mohon pamit.
"Apa mau langsung ke rumah Lurah tadi?" Tanya Kyai Syuhada.
"Tidak kang, pulang dulu saja." Jawab Yasin.
"Apa gak sebaiknya mampir sana sebentar mas, kasihan kalau mereka nunggu nanti." Ucap Fatimah. Yang sebenarnya hanya ingin menyelidiki background keluarga Riska.
Karena Fatimah sedikit merasa cocok dengan Riska saat melihat Riska pertama kali tadi.
"Gak papa Sih, tapi gak bisa lama lama. Kasihan Sena dan Nurul di rumah." Jawab Yasin.
"Gapapa kan ada Sufi, Isna Utari dan Wisnu juga pasti sudah di rumah kan! " Jawab Fatimah.
"Yasudah sana mampir dulu, siapa tahu kalian akan jadi besan lurah tersebut." Goda Kyai Syuhada.
Mereka pun tertawa lepas mendengar gurauan Kyai Syuhada. Kemudian Yasin dan Fatimah berpamitan juga pada Jafar dan Nisa juga Sidiq.
"Bunda Nisa masih kangen, kenapa gak nginep saja. Kan tadi baru ketemu sebentar banget." Rengek Nisa.
"Dasar cengeng, ayah bunda kan juga punya tugas Nisa." kata Jafar.
"Tuh kan, ayah bunda dengar sendiri, sekarang mas Jafar galak sama Nisa...!" protes Nisa.
Begitulah jika keluarga Yasin berkumpul, selalu diwarnai candaan dan kadang pertengkaran kecil anak anaknya.
Yasin dan Fatimah pun segera berangkat pulang. di iringi lambaian tangan Nisa yang masih sedih melepaskan kedua orang tuanya pulang.
.....
Dalam perjalanan Pulang Fatimah ngotot untuk mampir ke rumah Riska lebih dulu. Sehingga Yasin lah yang harus mengalah.
"Jangan meremehkan orang mas, dia sudah jujur minta bantuan ya harus dibantu." ucap Fatimah.
"Eheem kayaknya kamu tertariknya sama Riska ya?" Goda Yasin ke Fatimah.
"Hehehe... iya kayaknya anak itu cukup baik. Cantik juga, mungkin cocok dengan Sidiq mas." Kata Fatimah.
Meski Sidiq bukan anak kandung nya, tapi Fatimah memperhatikan layak nya anak kandung sendiri.
Tak terasa perjalanan Mereka pun sudah dekat dengan rumah Riska. Dan Yasin membelokkan sepeda motor ke arah rumah Riska.
__ADS_1
"Lah kok belok ke kanan?" Tanya Fatimah.
"Katanya mau ke rumah Riska? Menemui orang tuanya?" Jawab Yasin.
"Iya lupa...!" Jawab Fatimah.
Kemudian Yasin masuk ke pekarangan yang cukup luas. Dan berhenti di depan sebuah rumah yang ada bangunan Joglo nya.
"Ini rumah orang tua Riska?" Tanya Fatimah.
"Iya, kenapa?" Tanya Yasin.
"Fatimah jadi minder, rumah nya bagus banget." kata Fatimah.
"Gak usah dipikirkan, tujuan kita kan mau membantu bukan yang lain." jawab Yasin.
Kedatangan Yasin dan Fatimah pun disambut oleh pak Lurah Broto dan Istrinya.
"Alhamdulillah,,, Pak Yasin dan ibu berkenan mampir ke rumah saya." Kata pak Lurah Broto ayah Riska.
"InsyaAllah saya berusaha menepati janji pak Lurah." Jawab Yasin.
Kemudian Yasin dan Fatimah dipersilahkan masuk ke dalam bangunan Joglo.
"Riska anak saya masih di Pesantren bu?" Tanya istri pak Lurah Broto pada Fatimah.
"Iya masih di sana dengan teman temannya." Jawab Fatimah.
Yasin hanya diam, sambil berdzikir dan membuka lathoif Nafsi untuk melihat keadaan lingkungan secara batin.
Ayah dan ibunya Riska tahu jika Yasin sedang memanjakan doa. Sehingga mereka pun kemudian diam, agar tidak mengganggu Yasin dalam berdoa.
"Bagaimana pak?" Tanya Ayah Riska pada Yasin.
Yasin menghela nafas panjang, seakan merasa berat untuk mengatakan.
"Tampaknya rumah bapak ini sudah cukup lama diincar. Bukan hanya beberapa hari, tapi sudah beberapa bulan dipasangi sesuatu." Ucap Yasin.
"Sesuatu itu apa pak?" Tanya ayah Riska.
"Memang itu baru sekedar analisa batin saya pak Lurah. Tidak ada jaminan benarnya. Jadi lebih baik kita periksa bersama di tiap sudut rumah papak." Jawab Yasin yang bertujuan membuktikan dugaannya.
"Apa yang harus kami lakukan?" Tanya ayah Riska.
"Bapak ikut saya bawa alat untuk menggali tanah." Jawab Yasin.
Dengan amalan wirid ijazah gurunya, Yasin bisa merasakan keberadaan makhluk astral yang ada di sekitar rumah ayah Riska. Ditambah dengan lathoif Nafsi yang sudah terbuka. Yasin juga mampu mengetahui dimana dan seperti apa makhluk astral tersebut.
Kemudian ayah Riska di dampingi Yasin menggali tanah yg ditunjukkan Yasin. Dan ayah Riska sangat terkejut menemukan sebuah bungkusan kain kafan kecil yang berbentuk pocong.
Ayah Riska pun takut menyentuhnya, kemudian mundur.
"Biar saya yang mengambilnya pak." kata Yasin.
Yasin segera mengambil dan membuka bungkusan berbentuk pocong kecil tersebut.
Setelah dibuka, ternyata isinya adalah telur busuk, paku kembang dan berbagai macam sesaji atau piranti guna guna.
Demikian juga di sudut rumah yang lain ditemukan barang barang serupa itu.
Ayah Riska pun jadi ketakutan dengan itu semua.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin pak?" Tanya Ayah Riska.
"Yang jelas, bapak harus membersihkan rumah ini dahulu dari aura negatif yang ada. Setelah itu baru besok kita atur strategi menghadapi Jalu." Kata Yasin.
"Caranya pak?" tanya Ayah Riska.
"Busa dengan mujahadah khusus, Semaan Al-Quran atau doa bersama yang lain?" Jawab Yasin.
Ayah Riska sampai berkeringat dingin, melihat kenyataan rumah nya ada sesuatu yang mengancam keselamatan keluarganya.
Kemudian meminta tolong Yasin untuk membantu menyingkirkan barang barang tersebut.
"Baiklah pak, tapi tetap libatkan warga sekitar juga. Dan besok, saya datang dengan saudara saya. " Jawab Yasin
Pak Lurah Broto hanya diam menurut saja. Dirinya sudah takut dengan hal yang tidak dapat dilihat dengan mata...!?!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1