
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Namun dasar anak ABG di nasehati Ichal begitu malah semakin menghina Jafar dengan mengatakan Jafar yang kayak Banci dan sebagainya. Sehingga justru Sidiq yang tidak terima dan memukul anak itu, dan anak itu pun langsung kabur mengadu kepada orang tuanya….!!!
“Udah mas jangan di kejar, nanti diarahin ayah kalo gak segera pulang.” Kata Jafar melarang Sidiq yang hendak mengejar anak yang dipukulnya tadi.
“Sembarangan saja dia ngomong, harus diberi pelajaran.” Jawab Sidiq.
“Gak usah pulang saja Yuk !” ajak Jafar yang segera menggandeng tangan Sidiq.
“Aku pulang dulu ya Chal, sori tadi bikin ribut disini.” Ucap Sidiq pada Ichal.
Ichal pun hanya mengangguk, begitu pun dengan teman teman yang lainnya.
“Jangan lupa besuk latihan lagi ya Diq, perpisahan sudah akin dekat.” Ucap teman teman Sidiq.
“Iya.” Jawab Sidiq sabil jalan bersama Jafar menuju ke rumahnya.
Sesampai di rumah Sidiq langsung mandi dan bersiap untuk sholat maghrib berjamaah.
“Sidiq, lain kali kalo mau keluar bilang ayah atau bunda dulu…!” ucap Fatimah setelah Sidiq selesai andi.
“iya bunda, maaf tadi Sidiq buru buru di samperin ichal diajak latihan usik buat acara perpisahan.” Ucap Sidiq.
“Yaudah yang tadi gak papa sudah terlanjur tapi lain kali bilang dulu ya.” Jawab Fatimah.
“Iya Bunda.” Jawab Sidiq singkat.
“Sidiq mau kan melanjutkan sekolah sambil ngaji di pesantren ?” Tanya Fatimah.
“Iya bunda, di pesantren mana ?” tanya Sidiq.
“Sidiq maunya di pesantren mana ?” tanya balik Fatimah.
“Nurut saja ayah bunda saja kalo Sidiq.” Ucap Sidiq.
“Nanti bunda bicara sama ayah dulu.” Jawab Fatimah.
Kemudian saat terdengar kumandang adzan maghrib mereka segera melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.
*****
Â
Setelah selesai sholat Maghrib dan dzikir kemudian Yasin membuka pembicaraan.
“Sidiq, kamu sekarang sudah mulai tumbuh remaja, kau sudah akil balik, sudah saatnya kau belajar mandiri dan belajar agama secara serius. Ayah mau kamu melanjutkan sekolah sekalian ngaji di pesantren.” Ucap Yasin menasehati Sidiq.
“Iya yah, Sidiq sudah di kasih tahu bunda juga.” Jawab Sidiq.
“Besuk setelah urusan di  sekolah kau beres, ayah dan bunda akan mengantar kamu ke tempat mamah Arum untuk mohon doa restu.” Kata Yasin kepada Sidiq.
“Iya Sidiq, bagaimana pun mamah amu adalah yang mengandung dan melahirkan kamu. Jadi kau tetap harus mohon doa restu darinya.” Ucap Fatimah.
Sidiq hanya dia dan terlihat air matanya menetes memikirkan sesuatu. Sehingga membuat Yasin dan Fatimah jadi iba.
“Kenapa kamu menangis Sidiq ? Apa kamu gak ingin belajar di pesantren ?” tanya Yasin.
“Bukan Yah, Sidiq hanya sedih akan berpisah dengan keluarga Sidiq. Dik Jafar dan dik Nisa juga ayah dan Bunda.” Ucap Sidiq membuat Yasin dan Fatimah ikut haru.
“Kan gak selamanya Sidiq, kamu juga masih bisa pulang dan Jafar juga Nisa pun besuk juga akan mengaji di pesantren juga. Sama seperti Sidiq.” Ucap Fatimah menghibur Sidiq yang masih menitikkan air matanya. Jafar dan Nisa pun akhirnya ikut sedih melihat Sidiq kakaknya menitikkan air mata.
“Mas Sidiq jangan sedih mas, Jafar jai ikutan Sedih kalo begitu.” Ucap Jafar.
__ADS_1
“Huuu…. Mas Sidiq.. jangan lupa sama Nisa ya mas…!” sahut Nisa Sambil menangis.
Yasin yang melihat drama tiga saudara itu pun jadi ikut haru. Bahkan Fatimah ikutan menitikkan air mata juga. Melihat ketiga anak itu saling menangis.
“Sudah sudah, itu kan demi masa depa kalian juga nanti nak. Bunda pun gak ingi memisahkan kalian sebenarnya. Tapi gak mungkin juga kalian akan bersama terus, kalian juga akan tumbuh dewasa dan meneruskan perjuangan Ayah bunda nanti.” Ucap Fatimah.
“Iya, benar yang bunda kalian katakana. Ayah bunda kalian semakin tua dan kalian harus menyiapkan diri kalian agar punya bekal untuk masa depan kalian nanti.” Ucap Yasin.
“Maafkan Sidiq ayah, bunda sampai sekarang Sidiq masih suka bikin masalah terus.” Ucap Sidiq.
“Iya gak papa nak, ayah hanya bisa berpesan supaya kamu bisa lebih bersabar. Ayah tidak akan memarahi kamu lagi, yang penting kamu au berusaha untuk lebih sabar lagi nak.” Ucap Yasin kepada Sidiq.
“”Betul kata Ayah kamu Sidiq, kamu harus lebih bersabar bunda juga berharap kamu bisa melindungi adik adik kamu. Tapi jangan dengan cara cara kamu selama ini yang sering kelewat batas.” Kata Fatimah.
“Sidiq tahu bunda, Sidiq hanya gak ingin adik adik ku di ganggu. Meski Sidiq tahu dik Jafar dan dik Nisa beda ibu dengan Sidiq. Tapi Sidiq merasa bunda sangat menyayangi Sidiq, adi Sidiq harus melindungi adik adik Sidiq bunda.” Ucap Sidiq.
Fatimah yang mendengar penjelasan Sidiq dan faham dengan maksud Sidiq langsung menghampiri dan memeluk Sidiq dengan menangis. Tidak menyangka  jika dibalik kerasnya hati Sidiq menyimpan kelembutan hati sampai punya pemikiran seperti itu. Padahal Fatimah juga berbuat itu dengan ikhlas tidak berharap Sidiq sampai berpikiran seperti itu.
Bahkan Yasin pun harus berusaha keras agar air matanya tidak menetes di depan anak istrinya. Meski dengan susah payah, karena apa yang di ucapkan Sidiq secara tidak langsung mengingat kan Yasin akan dosa dosa asa lalunya. Dan Sidiq hanyalah korban dari perbuatan Yasin di masa lalu, di samping itu juga perasaan iba dengan Sidiq yang mempunyai nasib berbeda dengan Jafar dan Nisa.
Yasin memalingkan muka untuk menahan air matanya agar tidak terlihat oleh anak dan istrinya. Karena sekuat apapun Yasin menahan, di kerling matanya air matanya pun sudah terkumpul dan siap menetes. Dan Yasin berusaha menghapus itu, agar tetap tampak tegar dihadapan anak istrinya. meski sebenarnya Yasin lah yang saat itu merasa paling teriris karena ucapan Sidiq yang menyentuh hatinya. Dan Yasin juga faham  bahwa Sidiq keras begitu juga adalah gen dari dirinya.
  Sampai waktu Isya’ tiba mereka masih saja larut dala suasana haru tersebut. sehingga Yasin harus mengingatkan mereka untuk sholat isya’ lebih dahulu.
“Sudah lah, kan Sidiq juga berangkatnya masih nanti nunggu urusan sekolah dan ijazahnya beres.” Ucap Yasin.
“Iya yah…!” jawab Sidiq di ikuti Jafar dan Nisa.
“Mas Sidiq sebelu berangkat harus menemani Nisa terus ya, biar Nisa gak kangen mas Sidiq terus nanti.” Ucap Nisa anak ceweknya Yasin.
“Iya kita akan selalu bertiga sampai kapanpun kita akan selalu bersama sama.” Jawab Sidiq haru mendengar ucapan Nisa.
Kemudian kami segera melaksanakan sholat Isya’ berlima saja. Karena liburan sekolah anak Khotimah dan lainya pada ijin pulang ke rumah orang tua masing masing. Sehingga waktu itu benar benar suasana di rumah Yasin benar benar Syahdu.
Selepas Isya’ ketika yasin hendak melanjutkan obrolan, terdengar suara pintu di ketuk ada tamu yang datang.
“Assalaamu’alaikum…!” salam dari seorang tamu yang berkunjung ke rumah Yasin.
“Wa’alaikummussalaam,,, tunggu sebentar…!” jawab Yasin sambil bangkit dan berjalan menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.
Setelah membukakan pintu Yasin pun mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.
“Iya pak, terimakasih maaf jika kehadiran saya mengganggu bapak.” Ucap orang itu.
“Aah tidak pak, saya juga baru bersantai saja kok. Baru saja selesai sholat Isya’.” Jawab Yasin.
Sementara Sidiq dan jafar yang mengintip siapa yang datang menjadi kuatir. Karena mereka menduga bahwa anak yang di pukul Sidiq sore tadi pasti mengadu ke ayahnya dan ayahnya akan menuntut kepada Sidiq lewat ayahnya.
“Mas Sidiq, bagaimana ini, kalo ayah anak itu nanti  marah ?” tanya Jafar.
“Gak papa, kalo anak itu mau nuntut biar dia balas mukul as Sidiq saja.” Ucap Sidiq.
“Jangan mas, kan Jafar yang jadi sumber masalah biar Jafar saja.”  sahut Jafar.
Sementara Fatimah yang bersiap menghantarkan minuman buat tau mendengar percakapan antara Sidiq dan Jafar tersebut.
“Ada apa, kenapa kalian mengintip kan gak sopan ?” ucap Fatimah pada Sidiq dan Jafar.
Sidiq dan Jafar hanya tertunduk merasa bersalah, tak berani menatap wajah ibundanya.
“Maaf bunda, Sidiq yang salah Sidiq tadi memukul anak itu karena mengatakan dik Jafar seperti banci.” Ucap Sidiq.
Sebenarnya Fatimah mau marah, namun dia sadar Sidiq begitu karena rasa sayangnya pada adiknya Jafar yang adalah anak kandungnya sendiri. Sehingga Fatimah pun justru menjadi haru, dan kembali teringat dengan ucapan Sidiq selepas sholat maghrib tadi. Namun dia juga merasa harus menasehati Sidiq, sehingga yang keluar dari mulut Fatimah adalah nasehat datar saja.
“Ya sudah, lain kali Sidiq gak boleh main pukul lagi ya. Sekarang biar di selesaikan ayah dulu. Jangan keluar sebelum di panggil dan gak boleh ngintip begitu.” Ucap Fatimah pada Sidiq. Kemudian melanjutkan jalan keruang tau untuk menghidangkan minuman dan sajian untuk tamu.
“Mari pak dik, silahkan di minum dulu…!” ucap Fatimah.
“Iya bu, wah maaf jadi merepotkan.” Ucap tamu yang datang itu.
Kemudian Fatimah ikut duduk di samping suaminya dan membisikkan sesuatu.
“Anak itu tadi sore di pukul Sidiq mas, bicara pelan pelan saja. Kayaknya orang tuanya juga sopan kok.” Ucap Fatimah berbisik.
“Owh iya, silahkan pak di minum dulu sebelum kita lanjut ngobrol lagi.” Ucap Yasin. Setelah mendengarkan bisikan Fatimah agar taunya menduga istrinya menyuruh dia mempersilahkan minum.
__ADS_1
“Silahkan pak, saya tinggal ke belakang dulu.” Ucap Fatimah yang tidak ingin mencampuri urusan suaminya dengan tau itu.
“Iya bu makasih banyak sudah merepotkan.” Jawab Tamu itu sambil menikmati minumannya. Tampak keraguan menyelimuti tamu itu untuk memulai bicara. Sehingga Yasin lah yang lebih dulu bertanya.
“Maaf pak, bapak ini kalo tidak salah adalah warga kampung  xxxxx ya ? kalo boleh tahu ada keperluan penting atau sekedar silaturahim saja kesini pak ?” pancing Yasin.
“Owh iya pak,,, eeeh jadi begini pak. Iya saya adalah warga kampung xxxxx dan saya ini adalah orang yang dulu bapak selamatkan dari serangan serigala siluman itu pak.” Ucap orang itu membuat Yasin kaget. Yasin ingat pernah menolong orang yang hampir mati menjadi korban serigala siluman saat patrol malam ketika itu.
“Astaghfirrullah… owh jadi bapak adalah orang itu…? maaf pak saya tidak ingat itu pak, peristiwanya sudah bertahun tahun soalnya  tahu rumah saya dari mana pak, dan ini putranya pak ?” tanya Yasin.
“Anu pak gak sengaja saja saya sowan kesini sebenarnya ada perlu, dan gak tahunya ini adalah rumah bapak.” Jawab  orang itu. dala hati Yasin sudah dapat menangkap apa maksutnya. Mungkin awalnya akan membicarakan masalah anaknya, tapi begitu tahu yang d hadapi adalah Yasin orang yang dulu pernah menolong nyawanya mungkin dia jadi berubah pikiran.
“Owh begitu ya pak, kebetulan sekali bisa bertemu dengan bapak. Sukurlah bapak sehat sehat saja sampai sekarang. Kalo boleh tahu ada perlu apa ya pak, barang kali saya bisa bantu ?” tanya Yasin kemudian.
“Gak kok pak, gak jadi kok.” Ucap orang itu kebingungan dan salah tingkah. Yasin tahu perasaan orang itu yang jadi sungkan, namun tidak seharusnya begitu meski dulu Yasin pernah  menolongnya. Jika anak Yasin salah ya tetap saja salah, batin Yasin.
“Tidak apa apa pak, jika memang ada sesuatu katakana saja.” Ucap Yasin.
“Hanya soal kecil kok pak, gak jadi masalah. Malah jadi penyebab saya bisa bertemu dengan bapak dan bisa berkunjung di rumah bapak.” Jawab orang itu muter muter.
“Iya sukurlah, tapi sekecil apapun Maslah itu tetap saja harus di selesaikan pak di bicarakan baik baik.” jawab Yasin memancing agar orang itu mau berbicara jujur. Toh Yasin juga tidak akan membela Sidiq, meski juga tidak akan memarahi dia. Karena itu memang hanya masalah anak anak biasa.
“Jujur pak, saya kesini karena di beri tahu anak saya yang katanya tadi di pukul teman nya. Dan setelah saya ajak menemui orang tuanya ternyata malah mengajak kesini dan bertemu bapak. Jadi saya malah jadi gak enak sendiri sekarang.” Jawab orang itu.
“Owh masalah itu…! biasalah pak, namanya juga anak anak dan memang anak saya sedikit temperamental. Pasti Sidiq ya nak yang mukul kamu ?” tanya Yasin kepada anak itu.
Anak itu hanya mengangguk tidak menjawab.
“Sidiq….!” Panggil Yasin kepada Sidiq anaknya.sementara Sidiq dan Jafar yang sudah bersiap daeri tadi segera menyahut dan berjalan menemui ayahnya.
“Iya yah…!” Jawab Sidiq yang sudah di ruang tamu di ikuti Jafar, yang siap untuk membela Sidiq kakak nya jika di marahin oleh ayahnya.
“Kamu tadi habis mukul teman kan, sekarang kamu minta maaf pada temen kamu itu…!” ucap Yasin.
Sidiq yang hendak melangkah mendekati anak itu di tahan oleh Jafar.
“Tunggu yah, bukan mas sidiq yang memulai tapi anak itu yang mengatakan Jafar banci saat mengajak as Sidiq pulang tadi. Sehingga mas Sidiq marah dan memukulnya.” Kata Jafar.
Baik Sidiq maupun ayahnya kaget mendengar Jafar bicara seperti itu.
Selama ini belu pernah sekalipun Jafar menunjukkan hal seperti itu. biasanya penurut apapun kata ayahnya. Namun kali ini Sidiq yang sudah mau nurut sja malah di bantah oleh Jafar. Dan dengan lantang dan berani Jafar membela kakaknya di depan anak yang di pukul Sidiq dan orang tua nya.
“Jafar, sudahlah nak, apapun alasannya mas mu Sidiq tetap salah biar dia yang minta maaf.” Ucap Yasin.
Dan kali ini Jafar tidak lagi membantah, setelah mendengar ayahnya berkata dengan lembut tidak memarahi Sidiq seperti sebelu sebelumnya. Dan akhirnya Sidiq pun meminta maaf kepada anak yang tadi di pukul nya itu.
Setelah itu orang tua anak yang di pukul Sidiq tadi, gantian berbicara.
“Nah teman kamu yang tadi sudah memukul kau sudah minta maaf, sekarang giliran kamu meminta maaf paa adiknya yang tadi kau ejek.” Perintah bapak anak tersebut.
Maka dengan aga terpaksa anak tersebut pun mendekati Jafar dan gantian meminta maaf pada Jafar. Tidak sulit bagi Jafar untuk memberi maaf, karena memang Jafar bukanlah tipe orang pendendam dan tidak suka marah. Meski jika sudah marah nanti akan melebihi Sidiq dalam bertindak, meski itu tidak sesering Sidiq dala meluapkan emosinya.
“Alhamdulillah,,, semua berakhir dengan baik pak. Namanya juga anak anak pak, saya sebagai orang tua Sidiq dan Jafar juga minta aaf atas insiden yang terjadi tadi.” Ucap Yasin kepada tamunya.
“Saya yang minta maaf pak, sudah tidak pernah berterimakasih dulu pernah diselamatkan malah sekarang hanya karena perkara kecil saja jadi begini.” Ucap orang itu.
“Tidak jadi mengapa pak, mungkin ini jalan bagi kita untuk bisa saling berkomunikasi. Dan jujur saya mengakui anak pertama saya ini memang temperamental. Dan rencana nanti akan saya masukkan ke pesantren sambil melanjutkan sekolahnya. Biar di didik adab dan akhlaq yang baik.” ucap Yasin kepada tamunya.
Kemudian setelah selesai berbincang ringan tamu itupun mohon diri untuk pulang. Dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih karena merasa pernah di selamatkan hidupnya oleh Yasin. Dan Yasin bersyukur, bisa terlepas dari masalah yang harus menggunakan adu fisik. Sampai sejauh ini Yasin masih bisa menahan diri untuk tidak menggunakan kekerasan dala menyelesaikan maslah. Meski sifat kerasnya tetap saja masih. Namun sifat kerasnya hanya dala meegang teguh pendirian nya dan hanya sebatas keras dala berbicara atau berargumentasi tidak lagi dalam bentrok dan kontak fisik seperti dulu.
Namun sedikit yang mengganjal di hati Yasin adalah, kenapa Jafar tadi bersikap keras seperti itu juga. Apakah jika nanti setelah Sidiq di masuk kan ke pesantren justru jafar yang akan menjadi ujian bagi dirinya dengan meniru sikap Sidiq yang keras dan over protected dalam menjaga Nisa adiknya….???
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
Â