Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pertempuran di markas Ki Munding Suro 2


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Pertempuran di markas Ki Munding Suro 2...


“Kamu boleh tidak percaya, tapi kamu lihat ini apakah ini baju saudaramu atau bukan ?” Kata Ki Munding Suro sambil melemparkan baju Sidiq.


Jafar melihat Baju Sidiq ada di tangan Ki Munding Suru jadi merasa Khawatir. “apakah Mas Sidiq benar benar dikalahkan oleh orang tua ini…???” kata Jafar dalam hati yang menjadi bimbang dan gelisah…!!!


“Jangan mudah tertipu dengan apa yang kamu lihat Jafar. Paman Yakin Ayahmu sudah penuh perhitungan, apalagi Sidiq didampingi wak mu Kang Tohari yang kemampuannya setingkat ayah kamu.” Bisik Sena membesarkan hati Jafar.


“Iya Paman, Jafar juga gak akan percaya dengan ucapan seorang pendusta seperti itu.” Jawab Jafar.


“Bagaimana apa kalian masih berani melawan aku, sedang saudaramu saja sudah dapat aku binasakan.” Ucap Ki Munding Suro.


“Jangan bangga hanya dapat mengambil bajunya saja, kamu itu seperti menangkap burung hanya dapat sarangnya saja sudah bangga.” Balas Sena menanggapi ucapan Ki Munding Suro.


“Siapa kamu ikut campur urusanku, mana Yasin biar sekalian aku binasakan malam ini juga.” Kata Ki Munding Suro. Tiba-tiba saja Jafar yang mendengar nama Ayahnya disebut, dan diancam akan dibinasakan jadi marah besar. Emosi seorang Jafar memang akan keluar jika anggota keluarganya atau Agamanya dilecehkan. Sehingga Jafar yang tadinya hanya banyak diam langsung maju ke depan dan menantang Ki Munding Suro dengan berani.


“Wahai orang tua, seharusnya aku menaruh hormat padamu sekalipun kamu musuh. Namunu ucapan kamu tidak menunjukkan ucapan sebagai orang tua. Maka aku terpaksa hilangkan sopan santunku padamu. Hadapi aku sekarang atau kamu menyerah dan bertaubat…!” Ucap Jafar Lantang. Tak lagi sungkan dengan Ki Munding Suro yang jauh lebih tua darinya.


“Dasar bocah ‘Keladuk Wani Kurang Dugo’ ( terlalu berani kurang perhitungan ) Ayahmu saja belum tentu bisa kalahkan aku. Apalagi kamu hanya seorang bocah, tapi baiklah jika itu maumu. Terpaksa aku akan pergunakan Ilmu Karang agar urusan ini cepat selesai. Silahkan kamu keluarkan seluruh kemampuan kamu. Berdua sekalian jika perlu.” Ucap Ki Munding Suro.


“Aku rasa tidak perlu berdua atau bertiga melawanmu, Cukup seorang anak Yang Bernama Jafar yang akan menghentikan seluruh perbuatan Sesatmu.” Jawab Jafar sambil mengeluarkan Golok Hitam untuk menghadapi Ilmu Karang Ki Munding Suro.


Ki Munding Suro pun tersurut Mundur melihat Pamor ( Aura ) dari Golok Hitam tersebut.


“Golok Hitam…bukanya yang terakhir pegang adalah Kakang Birowo. Kenapa Bisa Jatuh ke tangan anak itu. Apa jangan jangan…?” Ucap Ki Munding Suro yang kaget melihat Jafar memegang Golok Hitam.


“Kenapa Kamu kaget, bukankah Golok ini yang kamu cari selama ini ?” Ucap Jafar.


“Dari mana kamu dapatkan Golok Hitam dari batu bintang tersebut ?” Tanya Ki Munding Suro.


“Itu tidak Penting, sekarang keluarkan Ilmu Karang yang kamu miliki aku sudah siap untuk menghadapi.” Ucap Jafar.


Ki Munding Suro tidak segera mengeluarkan Ilmu Karangnya, karena tahu Ilmu Karang akan bisa ditembus dengan Golok Hitam tersebut. Namun Ki MUnding Suro mengulur waktu dengan kata kata, ingin tahu berapa Lama Jafar mampu memegang Golok Hitam tersebut. Karena Ki Munding Suro tidak tahu Jika Jafar tidak terpengaruh dengan Golok Hitam tersebut.


“Memang tidak penting, tapi aku hanya heran bagaimana kamu bisa mendapatkan Golok Hitam itu. dari mencuri atau dari mana karena setahuku Golok Hitam tersebut milik Saudara seperguruanku Kakang Birowo.” Ucap Ki Munding Suro.


Sena mendengarkan percakapan tersebut dan tahu jika Ki MUnding Suro hanya mengulur waktu. Sena tahu jika Ki Munding Suro Berharap Jafar kehabisan tenaga jika berlama lama memegang Golok Hitam tersebut, karena tersedot tenaganya.


“Kalau mau ngobrol lanjutkan besok saja Ki MUnding Suro. Percuma kamu berharap Jafar akan kehabisan tenaga, karena Golok Hiota tersebut tidak berpengaruh bagi anak tersebut.” Teriak Sena.


Ki MUnding Suro jadi kaget setengah mati, selain tidak menyangka jika Sena tahu tujuan mengulur waktu, Juga kaget mendengar Jafar tidak terpengaruh oleh Golok Hitam tersebut.

__ADS_1


“Bojlen bojleng Dajjal Laknat…Bocah apa itu, sedang kakang Birowo saja harus menyarungkan Golok itu tiap kali merasa tenaganya tersedot. Tapi anak itu sudah cukup lama masih saja tidak terpengaruh.” Kata Ki Munding Suro dalam hatinya.


“Bagaimana Orang tua, masih mau melanjutkan kesombongan kamu atau bagaimana ? Haruskah aku yang muda yang mulai untuk menyerang ?” Ucap Jafar.


Sementara Ki Munding suro tidak menjawab, namun justru komat kamit memakai aji pameling memanggil Wiratmojo Gagak seta dan Jaladara. Dan dalam hitungan menit ketiganya sudah berada disamping Ki Munding suro.


Sena yang melihat kedatangan Wiratmojo dan kedua adik seperguruanya segera bersiap untuk membantu Jafar, apapun yang terjadi Sena tidak akan rela Jafar di keroyok.


“Orang tua tidak tahu malu, melawan anak anak saja mau main keroyok…!” Teriak Sena yang langsung bersiap di sisi Jafar.


Namun tanpa diduga, Ki Munding Suro dan ketiga Muridnya justru melarikan diri ketakutan dengan Golok Hitam yang dipegang Jafar. Rupanya Ki Munding Suro memang mengajak anak Muridnya menyingkir menghindari Golok Hitam yang dipegang Jafar. Mereka tahu jika tidak mungkin mengalahkan Golok Hitam tersebut.


“Lah kenapa mereka malah pada kabur Paman ?” Tanya Jafar.


“Tidak tahu Jafar, mungkin takut dengan Golok Hitam tersebut. Tadi Paman Lihat Ki Munding Suro sudah ketakutan saat kamu mengeluarkan Golok Hitam tersebut.” Jawab Sena.


“Kalau begitu kita harus segera cari Mas Sidiq dan Wak Tohari Paman. Jujur Jafar masih agak khawatir.” Kata Jafar langsung mengajak Sena Pamannya mencari Sidiq dan Tohari.


…..


Beberapa saat sebelumnya


“Wak Tohari, sepertinya itu Penjara tempat menyekap wanita wanita.” Ucap Sidiq.


“Iya Sidiq, ayo kita segera bebaskan mereka.” Jawab Tohari.


Namun langkah Tohari dan Sidiq terhenti karena dihadang Kala Srenggi dan beberapa Orang anak buah Ki Marto.


Tohari dan Sidiq pun menghentikan langkahnya, namun Tohari berbisik kepada Sidiq.


“Kamu tetap bebaskan wanita wanita itu, biar yang ini tugas Wakmu yang akan hadapi mereka.” Bisik Tohari pada Sidiq.


“Iya Wak.” Jawab Sidiq singkat.


“Kenapa kalian malah ngobrol berdua ?” Bentak Kala Srenggi.


“Aku akan Hantam mereka dengan Jurus ‘Ya’ saat mereka terlempar lari selamatkan wanita wanita tersebut. dan aja mereka lari, biar aku yang hadapi mereka sendiri.” Bisik Tohari.


“Siap Wak.” Jawab Sidiq.


Kemudian Tohari segera menyiapkan jurus ‘Ya’ tanpa mempedulikan ucapan Kala Srenggi.


Dan Sejurus kemudian Tohari memukulkan telapak tangannya ke tanah dan terpentalah Kala Srenggi dan lainya. Meski beberapa orang masih bisa bangkit dan hendak menyerang Tohari.


Saat itulah Sidiq berlari dengan cepat membuka paksa pintu penjara dan membebaskan para wanita. Namun Sidiq sempat kaget karena di dalam penjara ada seorang anak buah Ki Marto yang akan berbuat kurang ajar pada salah satu wanita tawanan.


Untunglah Sidiq segera datang dan menolongnya dan membuat pingsan orang tersebut. Namun Kondisi wanita tersebut sudah nyaris tanpa busana, sehingga Sidiq terpaksa membuka bajunya dan diberikan wanita tersebut untuk dipakai. Sementara Sidiq melepaskan tali ikatan wanita lainnya agar bisa lari menyelamatkan diri.


 


“Cepat tante, selamatkan diri Tante, segera berlari ikut yang lainnya…!” Teriak Sidiq meminta orang yang tadi hendak diperkosa itu.

__ADS_1


“Tapi kamu sendiri bagaimana Nak ?” Tanya wanita tersebut.


“Saya bisa jaga diri Tante cepatlah lari sebelum para penjaga lain datang kesini.” Ucap Sidiq yang tanpa menggunakan baju.


Wanita tersebut akhirnya menyusul teman temannya yang lain, berlari keluar dari tempat tersebut. Dimana Yasin dan Gadis calon tumbal sudah menunggu di luar lokasi tersebut.


Namun naas, wanita yang hendak diperkosa itu terkena sabetan pedang seorang penjaga karena larinya paling belakang.


Sidiq pun marah melihat hal tersebut kemudian menyerang penjaga yang bengis tersebut sampai tak bisa bangun. Sangat mudah bagi Sidiq melumpuhkan penjaga tersebut, karena memang bukan lawa setanding dengan Sidiq.


Sementara keributan antara Tohari melawan Kala Srenggi dan beberapa orang semakin sengit. Sidiq melihat keadaan wanita yang terluka tersebut, ternyata sudah meninggal seketika. Sehingga Sidiq lebih memilih untuk membantu Tohari yang sedang menghadapi beberapa lawan.


Dan setelah Sidiq memastikan wanita yang selamat bisa keluar dari tempat itu segera menyusul ke tempat Tohari melawan Kala Srenggi dan kawan kawannya.


Sementara itu Ki Munding berkeliling mencari sumber keributan untuk mencari tahu siapa penyebab keributan tersebut. dan ketika melihat penjara wanita kosong Ki Munding jadi Murka. Karena jelas upacara sudah pasti gagal dilaksanakan. Kemudian Ki Munding berniat melihat Gadis calon Tumbal, barangkali masih bisa ditahan. Namun dalam perjalanan mendapati seorang wanita tawanan yang sudah meninggal dan yang membuat Ki Munding kaget adalah bajunya.


Baju yang dikenakan adalah baju yang pernah dipakai oleh Sidiq saat Ki Munding terluka dan Sidiq serta Jafar merusak Padepokan tersebut. Meski Ki Munding saat itu tidak menemui Sidiq karena terluka setelah bertempur dengan Yasin. Namun masih sempat melihat Kiprah Sidiq dan mengenali baju tersebut.


“Lagi lagi ulah keluarga itu yang mengganggu…!” Gerutu Ki Munding sambil melepaskan baju dari jasad wanita yang tewas tersebut.


“Bju ini akan aku gunakan untuk melemahkan keluarganya.” Ucap Ki Munding. Kemudian Ki munding pun segera menuju ke tempat Gadis Calon Tumbal yang sudah dipersiapkan. Dan disana Ki Munding terpaksa harus kecewa lagi, karena Gadis calon tumbal pun sudah tidak ada, bahkan hanya menemui Jafar dan Sena.


…..


Sementara itu setelah para wanita tawanan keluar dari lokasi padepokan tersebut. Mereka disambut Yasin dan diminta bersembunyi duu di suatu tempat bersama Gadis suci calon Tumbal yang sudah diselamatkan Jafar sebelumnya.


Mereka pun mengikuti perintah Yasin agar terhindar dari kejaran anak buah Ki Marto dan Ki Munding.


Namun naas bagi Yasin, setelah menyembunyikan para Tawanan wanita tersebut. Ketika Yasin berniat melihat keadaan di dalam justru berpapasan dengan Ki Munding Suro beserta tiga orang Muridnya sekaligus.


“Nah kebetulan sekali Guru, upacara kita Gagal tapi bisa menemui manusia satu ini. Kita habisi sekarang saja beramai ramai.” Ucap Wiratmojo.


“Kamu Pikir aku takut dengan kalian berempat ?” Jawab Yasin dengan santai.


“Bojleng bojleng dajjal Laknat…Sudah saatnya kamu akan menjadi bangkai malam ini…!” Ucap Ki Munding Suro yang sangat dendam dengan Yasin…!!!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2