
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Aku jadi termenung memikirkan ucapan Steve tersebut. jika benar saat ini yang paling harus aku lindungi adalah Nisa anak Gadisku yang masih kecil tersebut. karena Sidiq segera masuk ke pesantren beberapa hari lagi. Sedangkan Jafar tidak akan mudah untuk diculik dengan kemampuan yang dimilikinya.
Nisa adalah sasaran paling mudah bagi mereka untuk melakukan penculikan tersebut…!?!
Benar tidaknya ucapan Steve, aku memang harus mengawasi Nisa anakku sebagai gadis yang baru tumbuh. Meski tergolong anak anak namun mengingat pengalaman dulu ketika Sidiq anakku juga pernah menjadi incaran musuh musuhku membuat aku harus ekstra hati hati.
Dan saat ini pun jelas ada orang yang mengincar aku yang tidak menutup kemungkinan akan merembet ke anak dan istriku. Sebagai seorang kepala rumah tangga yang wajib menjaga kehormatan dan keselamatan keluarga aku harus menyiapkan diriku. Sabar bukan berarti hanya diam ketika kehormatan dan keselamatan keluarga terancam meski tidak harus selalu menggunakan cara kekerasan. Tapi bukan berarti tidak boleh sama sekali.
Atas dasar pemikiran itu aku bertekat untuk kembali aktif berlatih kanuragan. Meski sekedar untuk berjaga jaga. Jika suatu saat harus atau terpaksa menggunakan kembali. Sambil menunggu anak anak ku tumbuh dewasa.
“Kok tamunya sudah pulang mas, baru juga Fatimah bikinin minum ?” ucap Fatimah mengejutkan aku.
“Eeh iya, Cuma menyampaikan sesuatu terus pergi kerja kok.” Ucapku datar.
“Ada apa mas, kok kayaknya lagi mikirin masalah yang berat banget ?” tanya Fatimah membuat aku jadi agak gugup. Bingung mau bagaimana menjelaskan ke Fatimah. Sementara aku juga gak mungkin menutupi apa yang terjadi sebenarnya.
“Duduk dulu sini, kita ngobrol santai saja. Sambil menikmati minuman, sudah lama kita gak ngobrol ngobrol santai.” Ucapku pada Fatimah.
“Tumben banget ngajak ngobrol gini, ada hal penting pasti ?” Ucap Fatimah.
“Ya pasti lah, urusan kamu dan anak anak pasti penting.” Jawabku sambil sedikit bercanda mengurangi ketegangan.
“Ada apa dengan anak anak ?” tanya Fatimah.
Aku diam sejenak sambil memandangi wajah istriku yang jadi agak tegang. Aku harus berusaha setenang mungkin agar istriku tidak panik. Satu sisi aku kasihan melihat istriku, karena hampir selalu saja mendapatkan ujian yang berat bagi seorang istri dan seorang ibu. Terbayang dari awal pernikahan kami yang penuh dinamika, sampai kami berdua harus terpisah sementara. Kemudian menjelang dan setelah kelahiran Jafar yang banyak masalah. Sampai dengan anak anak tumbuh juga selalu saja muncul masalah.
“Gak usah tegang gitu juga kali, kayak yang baru pertama kali mendapat masalah saja.” Ucapku santai.
“Memangnya ada apa mas ?” tanya Fatimah Lanjut.
“Kamu ini kan wanita yang kuat, dari awal pertama menjadi istriku sudah banyak ditempa ujian ujian yang berat. Jadi aku yakin kamu bisa menghadapi ujian ujian yang akan muncul nanti.” Kataku membuka pembicaraan.
“Selalu saja begitu, gak langsung bicara ada apa sebenarnya ?” sahut Fatimah.
“Tamu yang datang tadi, adalah orang yang semalam hampir saja selisih paham denganku. Namun akhirnya kita jadi bisa saling memahami. Dan dia tadi member tahu jika orang yang dulu mau memfitnah aku jadi tersangka pembunuhan mau balas dendam.” Ucapku pada Fatimah.
“Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang ?” ucap Fatimah.
“Kita harus lindungi anak anak terutama Nisa.” Ucapku pada Fatimah.
“Kenapa begitu, apakah ada ancaman terhadap anak anak kita ?” sahut Fatimah panik.
“Kita jaga jaga saja, bukan tidak mungkin mereka akan menggunakan cara yang sama dengan yang dulu. Karena pola mereka memang seperti itu.” jawabku, sedikit menutupi kejadian yang sesungguhnya.
“Minta bantuan lagi saja mas sama saudara saudara yang lain.” Ucap Fatimah.
“Gak bisa langsung begitu dong, kan itu belum pasti juga. Sekedar cara kita berjaga jaga saja.” Jawabku.
Saat aku dan Fatimah tengah ngobrol datang Jafar yang langsung menyahut pembicaraan.
“Yah, Nisa jangan sampai diculik mereka. Jafar akan jagain Nisa terus, ayah juga sebaiknya hati hati yah.” Ucap Jafar.
“Iya Jafar, kamu juga harus hati hati. Hindari orang orang yang belum kita kenal.” Jawabku pada Jafar.
“Sebenarnya apa yang terjadi mas, kenapa perasaan Fatimah tiba tiba jadi gak enak begini ?” tanya Fatimah.
“Kamu terlalu panik saja Fat, bagaimanapun Sidiq dan Jafar cukup bisa menjaga Nisa adiknya.” Ucapku menenangkan hati Fatimah.
“Tidak begitu mas, jangan terlalu PD begitu. Meski anak anak kita dilatih kanuragan tapi mereka masih terlalu kecil menghadapi masalah ini.” Ucap Fatimah.
Sebenarnya aku juga berpikir yang sama. Namun aku tidak ingin menambah ketakutan Fatimah, maka aku berusaha menghiburnya agar tenang.
“Apa kamu gak ingat saat dulu Sidiq yang jadi incaran mereka ? Bukankah waktu itu juga kita selalu mengantisipasi semua dengan baik.” jawabku.
“Tapi saat ini tentu mereka tidak akan menggunakan cara yang sama seperti dulu. Karena yang dulu sudah gagal. Dan sebentar lagi Sidiq juga akan masuk ke pesantren, jadi tinggal Jafar dan Nisa yang di rumah.” Ucap Nisa.
“Jafar sudah cukup berani menjaga Nisa, dan aku juga gak akan tinggal diam. Apapun yang terjadi aku akan bela anak anak kita nanti.” Ucapku menenangkan Fatimah.
“Iya mas, Fatimah percaya hanya saja Fatimah masih belum siap menerima berita seperti ini lagi.” Ucap Fatimah.
__ADS_1
“Kuatkan lagi dengan mujahadah kita Fat, minimal setiap malam ada pemuda yang main kesini. Itu mengurangi resiko rumah kita di satroni musuh.” Ucapku pada Fatimah.
“Yah mulai nanti malam Jafar akan ikut berjaga.” Sahut Jafar.
“Kamu masih kecil nak, kamu biasa saja yang penting awasi adik kamu Nisa.” Kataku pada Jafar.
“Sekarang Nisa dimana Jafar ?” tanya Fatimah.
“Baru sama mas Sidiq di belakang rumah, malah lagi berlatih pencak silat sama mas Sidiq.” Ucap Jafar.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Jafar. Nisa juga ikut ikutan belajar pencak silat, padahal ibunya sudah wanti wanti jangan ikutan. Tapi dasar memang gen dari kedua orang tuanya baik bapak dan ibunya juga suka kanuragan, batinku.
“Lah kok Nisa malah ikutan latihan pencak Silat begitu ?” ucap Fatimah.
‘”Biar saja, memangnya kamu lupa kalo kamu juga dulu sering berlatih sama Yuyut juga gak hanya Khotimah adik kamu.” Ucapku pada Fatimah. Sehingga Fatimah pun hanya diam saja.
Begitulah percakapan kami selepas kepergian Steve yang membawa informasi penting bagi keluargaku.
*****
Perjalanan Steve ke rumah Rahardian
Author POV
Setelah menyampaikan informasi ke Yasin, Steve segera melangkah pergi meninggalkan rumah Yasin. Steve segera menuju ke rumah Rahardian, namun Steve tidak menyadari jika gerak gerik nya sekarang diamati oleh seseorang utusan Rahardian. Yang saat ini menganggap Steve tak lagi setia. Atau mencurigai Steve yang punya potensi membelot dari Rahardian.
“Itu Steve, jadi benar dia menemui Yasin musuh besar bos. Cepat kasih tahu bos, biar di tindak lanjuti.” Ucap salah satu orang yang mengamati Steve dan tanpa Steve sadari.
Kemudian berita itu segera dilaporkan ke Rahardian, dan Rahardian pun segera mengatur siasat untuk membuat Steve kembali setia pada Rahardian.
*****
di tempat Rahardian
“Kurang ajar, rupanya ada anak buah ku yang hendak main main denganku. Akan aku buat dia memohon belas kasihan padaku untuk kesalahannya." Ucap Rahardian.
“Ada apa bos ?” Tanya salah satu bodyguardnya Rahardian. Sementara Ponco juga ikut kuatir karena tahu jika Steve sedang mengunjungi Yasin. Yang sebenarnya adalah musuh, namun demi menjaga jiwa ksatria Steve dan Ponco membocorkan rahasia Steve yang dianggapnya licik tersebut.
“Steve…!” hanya itu ucapan Rahardian. Tidak menyebutkan Steve kenapa, namun Ponco sudah tahu apa maksutnya.
Kemudian Rahardian meninggalkan tempat dan memanggil salah satu bodyguardnya.
“Kamu ikut aku sebentar, ada kerjaan yang harus kamu lakukan sekarang.” Ucap Steve kepada salah satu bodyguardnya.
Setelah agak jauh dari Ponco Rahardian berbisik.
“Awasi Ponco juga, jika kelihatan terlalu dekat dengan Steve maka habisi saja dia !” ucap Rahardian.
“Siap bos.” Ucap orang itu meski agak kaget mendengar ucapan Steve. Namun demi uang dia tak peduli bahwa Ponco adalah sahabatnya dan juga pernah saling bantu dalam pertarungan.
“Satu hal lagi, aku nanti akan beri tugas pada Steve. Dan kamu ajak orang, Culik semua keluarga Steve, jika dia tidak setia lagi padaku maka keluarganya dulu yang akan aku habisi, baru kemudian Steve yang terakhir. Begitu juga dengan yang lain, jika tidak setia semua keluarganya akan aku habisi tanpa kecuali.” Ucap Rahardian.
Tanpa menunggu jawaban Rahardian segera masuk ke kamarnya, dan kembali bermain main dengan ponselnya. Sambil ngegame juga menghubungi seseorang yang dianggap punya kemapuan diatas Steve Hansaimura.
Kali ini Rahardian menghubungi Master Ninjitsu atau seorang Ninja yang dianggapnya bisa mengalahkan Steve. Dan rencananya akan disuruh untuk menculik keluarga Steve juga Yasin. Namun Rahardian lebih memilih untuk menculik keluarga Steve dulu, agar Steve bisa diatur sesuai kemauannya. Agar masih bisa dimanfaatkan untuk memukul Yasin dan membuat Yasin menyerah kepada Rahardian.
Akal licik Rahardian yang memang sudah bakat dalam berbuat kejahatan. Hari itu seorang master Ninjitsu diundangnya. Rahardian sengaja meminta dia datang dari pintu belakang sambil menguji kemampuan bodyguard nya sekaligus pingin mengetahui sejauh mana kemampuan Master Ninjitsu itu. apakah bisa tertangkap anak buahnya, atau bisa lolos dari kepungan anak buahnya. Mana yang lebih jago, anak buahnya atau Master Ninjitsu itu, pikir Rahardian.
Jika masih tertangkap maka lebih baik Master ninjitsu itu dibunuh sekalian. Tapi jika bisa lolos dari anak buahnya barulah akan diangkat sebagai orang kepercayaannya. Kali ini Rahardian kembali dibutakan oleh rasa dendamnya kepada Yasin. Sehingga apapun akan dia lakukan agar bisa membalaskan dendamnya.
Setelah beberapa saat Rahardian kembali keluar kamar dan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga jaga di sekeliling rumahnya. Sementara Rahardian memantau aktivitas sekitar rumahnya dari CCTV yang di pasang di seluruh penjuru rumahnya.
“Kalian semua berjaga jaga di sekitar rumah, akan ada orang asing yang masuk ke rumah kita. Tangkap dia hidup hidup dan serahkan kepadaku.” Ucap Rahadian yang segera kembali ke kamarnya untuk mengamati monitor CCTV rumahnya.
“Siap bos !” seluruh anak buah Rahardian pun segera berpencar membagi tugas. Rahardian yang kembali ke kamarnya mengamati monitor CCTV sambil menunggu kehadiran Steve. Sekaligus mau menguji Steve jika berhadapan dengan Ninja sewaan Rahardian tersebut.
*****
Ponco yang masih merasa was was karena Steve belum juga Nampak kehadiranya ikut serta mengawasi kondisi diluar rumah Rahardian bersama Bodyguard yang lain. Namun tanpa disadari Ponco, bahwa dirinya pun sedang dalam pengawasan. Karena terlalu dekat dengan Steve, bahkan boleh di bilang Ponco adalah orang kepercayaan Steve.
Meski Ponco merasa was was terhadap Steve, namun Ponco pun tetap menjalankan tugas yang diberikan padanya dengan sungguh sungguh. Ponco berkeliling mengamati keadaan sambil juga berharap Steve segera tiba.
Dan beberapa menit kemudian Steve pun datang, dan segera ikut bergabung dengan yang lain untuk melaksanakan tugas dari Rahardian. Dan Steve yang memang seorang Profesional di bidang itu segera mengatur strategi untuk mengawasi setiap jengkal rumah Rahardian. Tanpa di sadari oleh Steve bahwa dirinya saat ini sedang dalam pengawasan ketat. Bahkan kemanapun Steve bergerak selalu diawasi dengan kamera CCTV yang tersebar di berbagai sudut.
Mendengar akan datangnya orang asing yang akan masuk ke rumah Rahardian, Steve pun memerintahkan semua personil untuk melengkapi dengan senjata kesayangan nya masing masing. Dengan alasan jika orang berani mendatangi rumah Rahardian, pastinya memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Karena semua tahu bahwa rumah Rahardian dijaga ketat oleh para Bodyguard dari berbagai macam aliran bela diri.
*****
di dalam Rumah Rahardian tahu jika Steve sudah datang, dan segera bergabung dengan anak anak yang lain untuk mengawasi rumahnya. Rahardian jadi agak bimbang, melihat Steve yang kelihatannya masih setia dengannya itu. terbukti segera bergabung dan mengatur Strategi untuk menghadang orang yang akan masuk ke rumah Rahardian. Tidak ada yang tahu jika orang itu juga adalah orangnya Rahardian, yang sengaja di datangkan dan menguji para body guardnya sendiri.
“Sebenarnya Steve, masih cukup professional dia segera mengatur anak buahnya untuk berjaga jaga di titik titik rawan. Tapi buat apa dia mendatangi musuh besar ku itu tadi ?” kata Rahardian dalam hati.
Namun semua itu tidaklah merubah niat Rahardian sebelumnya. Dia tidak peduli bagaimana Steve, pokoknya tidak akan membiarkan satu orang pun anak buahnya sampai tidak taat padanya.
__ADS_1
Dan dari monitor itu, Rahardian melihat kemunculan orang yang di tunggunya. Dengan pakaian ala Ninja orang itu berjalan dengan tenang di pagar rumahnya mencari tempat untuk mengendap masuk ke rumahnya. Dan itu bisa lepas dari pengamatan beberapa anak buah nya yang berjaga.
“Orang itu benar benar hebat, langkahnya tidak terdengar oleh para bodyguard ku." Bisik Rahardian.
Bahkan Nampak beberapa langkah berikutnya orang itu dengan bergelantungan di atas tali yang di lemparnya. Bersiap memasuki salah satu ruangan di loteng tanpa di ketahui oleh anak buah Rahardian.
“Kemana Steve, kok sampai tidak mengetahui kehadiran orang itu. apakah memang ilmunya kalah jauh dengan orang itu ?” kata Rahardian dalam hati.
Rahardian kemudian melihat sisi lain dari kamera CCTV untuk mencari keberadaan Steve dan melihat apa yang Steve lakukan. Ternyata Steve sedang mengitari seluruh sisi rumah Rahardian bagian luar. Dan Nampak berhenti sejenak ketika melihat ada seutas tali yang baru dilihatnya saat itu.
“Kalian lihat, itu ada seutas tali yang bergoyang. Jangan jangan musuh sudah datang dan sudah berada di dalam lingkungan rumah ini. cepat segera periksa dan beri tahu yang lain.” Ucap Steve.
Rahardian melihat pergerakan Steve yang dinilai masih cukup jeli dan menemukan seutas tali yang di pergunakan masuk tamunya itu. dan segera anak buah Steve tersebut memeriksa ke tempat arah tali itu terhubung.
Dan segera dua orang bodyguard tersebut segera menemukan ‘Tamu Gelap’ tersebut. namun sebelum mereka dapat bertindak, ‘Tamu Gelap’ tersebut dengan kecepatan luar biasa sudah mampu melumpuhkan keduanya hingga pingsan. Dan dia segera mencari tempat dimana Rahardian berada, karena memang itulah tantangan sebenarnya.
‘Tamu Gelap’ itu segera berjalan mengendap kadang juga bergulingan koprol untuk menghindari pengawasan para Bodyguard yang mengejarnya. Dan sejauh ini ‘Tamu Gelap’ tersebut mampu mengecoh semua penjaga. Tak satu pun yang dapat melihat kehadirannya. Kecuali dua orang yang sudah dilumpuhkan tadi. Bahkan rekan rekanya hanya bisa menemukan dua orang yang dilumpuhkan itu saja. Tidak bisa menemukan ‘Tamu Gelap’ tersebut.
Rahardian tersenyum melihat aksi orang tersebut yang mampu mengelabuhi para body guardnya. Dia senang arena merasa mendapatkan kekuatan baru yang lebih bisa di andalkan dari Steve. Sementara Steve dan Ponco yang bertemu di satu titik saat berkeliling mendapat laporan jika ada dua orang kawannya yang ditemukan pingsan.
Kemudian Steve memerintahkan Ponco untuk mencari orang itu sementara Steve berlari menuju ke tempat Rahardian beristirahat. Sebagai ketua Bodyguard dirinya merasa bertanggung jawab akan keselamatan tuan nya.
“Ponco kalian cari orang itu sampai dapat, aku harus menyelamatkan bos kita. Jangan sampai terjadi apa apa pada bos kita.” Teriak Steve sambil berlari ke arah dimana Rahardian berada. Sebagai orang kepercayaan Rahardian tentu saja Steve tahu dimana tempat Rahardian. Dan tak lama setelah itu Steve pun sudah sampai di sebuah ruangan dimana kamar Rahardian bosnya dan beberapa tempat disekitarnya utuh. Tidak ada yang mencurigakan, berarti orang itu belum sampai ke tempat ini. dan ini satu satunya jalan untuk menuju ke kamar Rahardian. Jadi aku harus nmenghadangnya disini, kata Steve dalam hati.
Kembali Rahardian tersenyum. Melihat langkah Steve yang dirasa cukup tanggap menghadang Tamunya di tempat itu.
“Aku mau lihat Steve dan orang itu bertempur, lebih jago mana. Apakah Steve atau orang baru tersebut.” batin Rahardian.
Rahardian kembali mengamati monitor hasil pantauan CCTV live tersebut. dengan mengamati secara teliti, Rahardian mampu melihat kehadiran tamunya itu, yang menggelantung kepala di bawah pada sebuah cendela. Tampaknya orang itu sedang mengamati Steve yang sudah menunggu di tempat tersebut.
Inilah momen yang di tunggu tunggu Rahardian untuk melihat pertarungan dua orang tersebut. untuk memilih mana yang lebih jago diantara mereka berdua.
Pelan tapi pasti, ‘Tamu Gelap’ tersebut merangkak dan berusaha membuka candela dengan hati hati agar tidak diketahui Steve. Namun Steve juga bukan orang sembarangan, Steve memiliki insting pendekar yang cukup tajam. Sehingga Steve dapat merasakan akan hadirnya seseorang yang asing di sekitarnya.
Kemudian Steve pun segera memusatkan seluruh panca inderanya untuk mencari dimana keberadaan orang asing tersebut. Dan akhirnya Steve pun bisa mengetahui keberadaan orang tersebut.
“Hmmm… seorang Ninja, pantas dengan mudah melumpuhkan anak buahku dan tidak diketahui yang lain. Aku juga harus hati hati sekarang, tapi itu lebih baik. Aku pikir tadi yang akan datang adalah Zain, karena aku kasih tahu rencana rahasia tadi.” Kata Steve dalam hati, sambil menyiapkan sebilah pisau belati di tangannya. Dan dengan kecepatan luar biasa Steve melempar pisau belatinya ke arah Ninja tersebut. yang sedang berusaha melepas kaca cendela untuk masuk. Dan…..
Traankkk…..
Pisau belati Steve menembus kaca candela hingga pecah, tepat mengarah ke ‘Tamu Gelap tersebut. suara itu menimbulkan kegaduahan dan segera anak buah Steve menghampiri suara tersebut.
“Ada apa ?” tanya Ponco yang datang paling duluan.
Steve tidak menjawab dengan kata kata, melainkan member isyarat agar Ponco Diam saja. Serta menunjuk ke arah cendela tersebut, member tahu jika musuh berada di candela tersebut.
Sementara Rahardian memantau apa yang terjadi dari layar monitor dengan tegang.
“Waduh, bisa mati itu Ninja kalo jatuh ke tanah…!” ucap Rahardian tanpa sadar.
Sementara diluar Ponco dan Steve berjalan hati hati ke arah candela untuk melihat keadaan. Sementara anggota yang lain pun mulai berdatangan. Namun semua di beri aba aba untuk diam oleh Ponco dan Steve.
Ponco dan Steve semakin dekat dengan candela yang pecah, dimana orang asing tadi berada di situ.
“Ponco hati hati, Ninja itu cukup cerdik mengelabuhi kita. Aku yakin dia masih sembunyi si situ…!” ucap Steve pelan hampir berbisik.
Semua Tegang melihat itu, termasuk juga Rahardian yang mengamati dari monitor saja.
Dan dengan gerakan yang sangat cepat, ‘Tamu Gelap’ tersebut tiba tiba sudah masuk melompati cendela dengan bergulingan sambil melemparkan senjata rahasianya ke arah Steve dan Ponco.
Steve dan Ponco terkejut dengan gerakan cepat tersebut. beruntung Steve mampu melompat menghindari senjata rahasia tersebut. Demikian juga Ponco, meski sedikit terlambat sehingga kaki kirinya sempat tergores senjata rahasia tersebut. sehingga mengalir darah segar dari kaki Ponco.
Steve menjadi sangat marah dan segera menyerang orang tersebut dengan gerakan yang tak kalah cepat dengan serangan orang itu. sehingga orang tersebut pun harus melompat menghindar saat posisi berdirinya belum sepenuhnya sempurna. Sehingga sedikit terlambat, karena pukulan Steve sempat mendarat di punggungnya. Dan orang tersebut tersungkur hampir jatuh dan Ponco sudah siap menyambut dengan pukulan yang lain…!!!y
Up nya masih belum bisa rutin.
...🙏🙏🙏...
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Kiprah Yasin akan dilanjutkan Jafar dan Sidiq.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1