
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Gak usah pakai kekerasan kenapa ?” kata Yasin sambil bangkit berdiri.
Kalo kamu gak pingn mati sebaiknya gak usah ikut campur atau ku habisi sekarang.” Kat tamu tak di undang tersebut.
Candra agak heran melihat sikap Yasin yang tidak membalas pukulan orang itu, meski tidak meninggalkan luka. Tapi sempat membuat Yasin sampai terjatuh.
“Berkelahi itu pekerjaan anak anak, kita sudah sama sama dewasa gak pentas kalo berantem.” Jawab Yasin tenang. Namun justru membuat orang itu semakin marah, dan hendak memukul Yasin lagi. Namun kali ini Yasin sudah memperhitungkan kemungkinan orang itu kembali menyerangnya. Sehingga pukulan orang itu tidak mengenai sasaran. Hanya mengenai angin kosong.
Samil berkelit Yasin masih sambil bicara.
“Tidak usah emosian begitu bro, kenapa sih sudah tua juga masih saja suka berantem ?” kata Yasin
“Jangan banyak omong, kalo masih mau hidup lebih lama lagi.” Jawab orang itu.
Tiba tiba Candra ikut berteriak.
“Berhenti, ini rumah saya jangan bikin ribut di rumah saya…!!!” Bentak Candra.
Namun tamu yang tidak punya sopan itu uterus menyerang Yasin, meski tak satupun pukulannya dapat mengenai Yasin.
“Kamu kasih pelajaran orang itu biar kapok, orang seperti itu pantas dikasih pelajaran.” Kata Candra pada Yasin.
Begitu mendengar ucapan Candra, Yasin pun segera mengambil sikap tegas. Saat orang itu melancarkan tinjunya disambut dengan tinju juga oleh Yasin, sehingga benturan dua kepalan tangan itu pun tak terhindarkan.
Prraaak…
Suara benturan dua kepalan tangan yang saling beradu.
Di ikuti jeritan orang yang hendak memukul Yasin itu.
“Aaagh…!” jerit orang itu sambil memegangi kepalan tangannya yang kesakitan karena benturan dengan tangan Yasin.
“Bagaimana, masih mau di lanjutkan lagi ?” Tanya Yasin yang tidak kesakitan seperti orang itu.
“Siapa kamu sebenarnya ?” Tanya orang itu kemudian dengan nada bicara yang sudah menurun intonasinya.
“Gak penting siapa aku, yang jelas aku sudah bosan untuk beradu fisik seperti ini. Jadi lebih baik bicara baik baik saja.” Ucap Yasin.
Orang yang mengaku teman seperguruan dengan pak Sastro dan rombongannya itu pun jadi ciut nyalinya. Melihat salah satu temanya kesakitan ketika berbenturan tangan dengan Yasin. Sementara Yasin sendiri tidak merasakan apapun.
“Kami hanya mau mengambil sesuatu di makam pak Sastro yang itu adalah milik perguruan kami.” Kata salah Satu rombongan tersebut.
“Tidak ada apapun yang ikut terkubur bersama jasad pakk Sastro.” Jawab Yasin.
“Memang tidak terlihat, hanya bisa dilihat dengan mata batin.” Kat salah satu orang tersebut.
“Kubilang tidak ada, karena aku yang memandikan dan mengkafani pak Sastro.” Tegas Yasin.
Tiga orang yang datang ke rumah Candra itu pun saling berpandangan, tampak ragu ragu mau menjawab.
“Apa yang kamu katakan ?” Tanya salah satu orang diantaranya.
“Maksutnya bagaimana ?” Tanya balik Yasin.
“Kamu bilang kamu yang memandikan pak Sastro ?” tegas orang itu.
“Memangnya kenapa ?” Tanya Yasin.
“Yang aku dengar pak Satro dimandikan bukan disini, tapi di rumah kenalannya !” kata orang itu.
“Iya, dan kenalannya itu adalah aku. Memang pak Sastro dimandikan di rumahku kenapa ?” Tanya Yasin.
Tanpa menjawab ketiga orang itu pun malah pada kabur melarikan diri. Namun sayangnya salah satunya bisa di tangkap oleh Candra dan Yasin. Kemudian di minta untuk menjelaskan apa maksutnya dan tujuannya menggali makam pak Sastro, dan kenapa tiba tiba mereka kabur.
“Ampuuun….. saya gak jadi gak berani saya mohon ampuun…!” kata orang yang tertangkap itu.
“Katakan siapa nama kamu atau aku kubur tanpa nama ?” bentak Yasin pada orang itu.
Membuat dia semakin ketakutan dan sampai gemetar seluruh tubuhnya.
“Nama Saya, Sartono saya dulu pernah satu perguruan dengan Kang Sastro.” Jawab orang itu.
“Apa tujuan kamu membongkar makam Lek Sastro ?” Tanya Yasin menyebut pak Sastro dengan panggilan Lek.
Orang itu makin pucat dan berkeringat dingin
“Katakan saja kalo kamu mau aman !” ucap Yasin kemudian.
“Saya hanya mengikuti perintah guru kami, untuk mengambil tulang ruas jari kang Sastro.” Jawab orang itu yang bernama Sartono.
Yasin dan Candra hanya berpandangan, sementara bapaknya Candra malah jadi bingung mendengar jawaban orang itu.
“Buat apa tulang ruas jari tersebut ?” Tanya Yasin pada Sartono.
“Karena kematian Kang Sastro tidak wajar, di bunuh orang dan meninggalnya tepat di hari neptunya. Maka dipercaya ruas jari manisnya bisa di jadikan jimat pemikat wanita.” Jawab orang itu.
Yasin hanya geleng geleng kepala mendengar jawaban itu.
“Kamu sudah tua mau memikat wanita mana, sadarlah kalo kamu juga sebentar lagi di kubur. Perbanyak amal soleh bukan amal salah.” Kata Yasin.
Orang itu hanya diam saja, tak menjawab apapun. Dia ketakutan dengan Yasin yang dengan mudah mengalahkan salah satu kawannya yang dianggap paling kuat diantara mereka.
“Tentu saja bukan untuk Kami, tapi hanya kami jadikan untuk ‘membantu’ orang yang membutuhkan.” Jawab Sartono.
Yasin mendengar itu hanya geleng geleng kepala.
__ADS_1
“Masih ada saja orang yang percaya hal hal begitu, bukankah itu bersekutu dengan iblis. Terus kenapa kalian tadi mau kabur ?” Tanya Yasin.
Sartono memandang wajah Yasin sesaat dan sempat bertatapan mata dengan Yasin. Namun kembali tertunduk lagi.
“Kami mendengar jika yang memandikan kang Sastro mampu mengalahkan Tokoh besar Joyo Maruto dan seluruh pengikutnya. Jadi begitu kami tahu orang itu adalah kamu maka kami tak berani lagi.” Jawab Sartono.
Semua yang mendengar menjadi maklum kenapa tadi mereka kabur, untung saja masih dapat menangkap salah satu dari mereka.
“Terus kamu masih mau membongkar makam lek Sastro ?” Tanya Yasin.
“Tidak,,, kami tidak berani lagi.” Jawab orang itu kemudian.
“Baiknya kita apakan orang ini ?” Tanya Candra pada Yasin.
“Kita lepaskan saja, tapi kalo aku denger ada yang ma bongkar makam lek Sastro maka kalian yang akan aku kejar sampai ke lubang semut sekalipun.” Ucap Yasin.
“Iya iya,,, kami gak berani lagi sekarang.” Jawab Sartono.
“Satu hal lagi, tapi ini hanya saran saja. Tinggalkan persekutuan dengan iblis karena kalo tidak tetap saja kamu nani akan berurusan denganku atau keluargaku yang lain.” Kata Yasin.
Sartono hanya terdiam tidak menjawab, antara takut dan bingung dengan ucapan Yasin tersebut.
Kemudian Sartono di lepaskan setelah di interogasi lebih lanjut. Dengan menanyakan alamat rumah dan profesinya, serta komunitasnya yang sat perguruan dengan pak Sastro itu.
Menjelang maghrib Yasin pun pamit pulang, karena urusan di rumah Candra dirasa sudah selesai. Dan Yasin pun sudah berniat untuk menyelidiki sejauh mana Jafar dalam mendalami ilmu kanuragan dan mewarisi Ilmu Yuyut Siti Aminah. Yasin berniat tidak tidur untuk menyelidiki Jafar nanti malam.
Setelah menyalami seluruh anggota keluarga Candra maka Yasin pun pulang ke rumahnya.
*****
Sesampai dirumah sudah waktu maghrib, Yasin segera bersiap untuk sholat maghrib bersama anggota keluarganya. Dilanjutkan mengajari ketiga anaknya membaca Al-Quran sampai Isya. Dan seperti biasanya sehabis Isya mereka bermujahadah sekeluarga.
Seusai Mujahidah Yasin menyempatkan diri untuk berbicara berdua dengan Fatimah, sementara Jafar,Sidiq dan Nisa belajar.
“Ada apa tadi di rumah Candra mas ?” Tanya Fatimah.
“Ada orang yang mau membongkar makam lek Sastro untuk kepentingan ilmu sesat.” Jawab yasin
Masih ada juga yang begitu ?” Tanya Fatimah.
“Ya memang kenyataanya praktek kesesatan itu tidak akan pernah hilang, namun kebenaran akan selalu dating.” Jawab Yasin.
“Tapi gak sampai terjadi keributan kan ?” Tanya Fatimah kemudian.
“Alhamdulillah gak ada keributan berarti, aku juga sudah malas sekarang ini untuk rebut rebut. Mending ngurusin usaha kita untuk mencukupi kebutuhan anak anak yang makin butuh biaya.” Jawab Yasin.
“serius mas udah gak mau rebut rebut lagi ?” Tanya Fatimah Ragu.
“Memang aku pernah berantem lagi sekarang ? kamu kan lihat sendiri gak pernah, hanya ketika berhadapan dengan bapaknya temen Sidiq itu saja. Itupun sangat terpaksa.” Jawab Yasin.
“Iya sih, ya sukurlah kalo mas Yasin udah sadar kalo itu gak baik.” Jawab Fatimah.
“Iya lah, disamping factor usia juga kemarin sudah di pesan yuyut untuk lebih konsen pada ibadah saja.” Jawab Yasin.
“Terus malam ini mau bicara apa ngajak Fatimah bicara tadi ?” Tanya Fatimah.
“Soal Jafar bagaimana maksutnya ?” Fatimah bertanya pada Yasin.
“Malam ini aku berniat menyelidiki Jafar, aku rasa gak mungkin jika Jafar hanya dilatih Yuyut dalam mimpi saja.” Ucap Yasin.
“Maksutnya gimana mas ?” Tanya Fatimah semakin bingung.
“Aku yakin Yuyut pun punya kemampuan untuk memanggil Jafar saat tertidur berikut tubuhnya. Bukan sekedar masuk ke alam mimpinya Jafar. Semacam ilmu ‘Panggiring Sukma’ namun berbeda dengan punya Joyo Maruto dan Ajar Panggiring dulu.” Jawab Yasin.
“Memang ada mas ?” Tanya Fatimah.
“Aku pernah denger sekilas ada juga ilmu seperti itu, namun bukan bersekutu dengan Jin.” Jawab Yasin.
“Seperti apa ?” Tanya Fatimah.
“Aku juga gak ingat betul, tapi pernah ada juga. Yang jelas saat ini aku minta ijin padamu tidak menemani tidur nanti.” Kata Yasin.
“Tapi beneran ngawasin Jafar kan bukan mau menemui temen sekolah mas yang dulu itu ?” goda Fatimah.
“Wiwin maksud kamu ?” jawab Yasin.
“Ya siapa lagi, kan yang Fatimah tahu Cuma dia.” Kata Fatimah sambil senyum menggoda Yasin.
“Aah kamu makin tua malah makin gede cemburu saja. Bilang saja kalo lagi kangen malam ini.” Jawab Yasin menggoda istrinya.
“Diih gak kok, Fatimah Cuma bercanda saja.” Jawab Fatimah malu.
“Iya juga gak papa kok. Aku juga tahu gak usah malu malu gitu kali.” Jawab Yasin.
“Enggak mas, Fatimah juga lagi masa Subur takut nambah dedek lagi nanti.” Jawab Fatimah.
“Yaudah kamu tidur sendiri ya mala mini, mas mau nemenin Jafar dan pura pura tidur di kamar jafar nanti.” Kata Yasin sambil keluar kamar.
Fatimah pun malah mengikuti Yasin keluar kamar melihat ketiga anaknya.
“Ayah bunda pacaran mulu, anak anaknya di tinggalin aja.” Ucap Nisa ketus.
“Dek Nisa gak boleh bicara gitu sama ayah bunda.” Kata Jafar menasehati Nisa.
Sementara Sidiq menahan tawa mendengar ucapan Nisa.
“Biarin, habis Ayah sama Bunda lama banget sih ?” ucap Nisa gak mau disalahkan.
“Eeh besuk mas Jafar gak mau nemenin Nisa kalo Nisa Nakal.” Ucap Jafar pada Nisa.
“Gak mau, mas Jafar gak saying Nisa ?” Tanya Nisa.
“Makanya Nisa nurut kalo di bilangin !” jawab Jafar.
“Iya Nisa nurut...!” jawab Nisa.
“Iya dek Nisa gak boleh bilang gitu lagi sama Ayah bunda, ayo minta maaf sekarang !” ucap Sidiq.
Dengan agak cemberut Nisa pun menyalami Ayah bundanya sambil mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
Yasin dan Fatimah tersenyum bangga kepada ketiga anak nya yang saling rukun meski Sidiq bukan saudara seibu dengan Jafar dan Nisa.
“Iya udah sekarang Nisa bobo aja udah malam, besuk main lagi. Biar mas Sidiq sama Mas Jafar belajar dulu.” Ucap Fatimah.
Kemudian Yasin mendekati Jafar sedang Fatimah mendekati Sidiq.
“Sidiq belajar apa ?” Tanya Fatimah.
“Sidig belajar bahasa Indonesia bunda, tapi udah selesai latihan mengerjakan soal.” Jawab Sidiq.
Kemudian Fatimah memeriksa hasil belajar Sidiq dan membetulkan yang keliru. Sementara Yasin mendekati Jafar yang dilihat dari tadi hanya membaca tidak menulis sedikit pun.
“Jafar gak ngerjain soal, atau PR ?” Tanya Yasin pada Jafar.
“Gak Yah, Jafar hanya disuruh membaca buku cerita saja.” Jawab Jafar.
“Coba Ayah lihat buku apa ?” kata Yasin melihat buku yang di baca Jafar.
Yasin melihat buku yang di baca Jafar adalah buku kisah para Nabi, yang didapat dari perpustakaan Sekolah.
“Jafar suka baca buku ini ?” Tanya Yasin.
“iya yah Jafar suka.” Jawab Jafar.
“Apa yang membuat Jafar suka dengan buku ini ?” Tanya Yasin kepada Jafar.
“Banyak cerita bagus yah, para nabi itu orangnya sabar sabar ya Yah ?” Tanya Jafar.
“Tentu saja nak, karena Nabi itu orang orang pilihan yang di beri mukjizat oleh Allah Swt.” Jawab Yasin.
Terjadi percakapan antara kedua orang tua dengan ketiga anaknya di selingi canda ria bersama, hingga Sidiq dan Nisa sudah mulai mengantuk dan disuruh tidur lebih dulu oleh Yasin dan Fatimah.
Tinggal Jafar yang selalu berangkat tidur terakhir, bahkan lebih dulu kedua orang tuanya dibanding Jafar sendiri. Boleh dibilang untuk anak seusia Jafar sebenarnya Jafar agak kurang tidurnya, sampai mata Jafar agak Sayu namun justru terkesan teduh ketika memandang. Berbeda dengan Sidiq yang sorot matanya tajam mencerminkan sikap yang keras. Jafar kalo menatap orang terlihat seperti penuh kasih sayang pada siapapun.
“Nak udah malam, kakak dan adikmu sudah tidur, bahkan bunda kamu juga sudah masuk kamar lagi. Sekarang Jafar tidur ayah temenin Yuk !” kata Yasin.
“Ayah tidur di kamar Jafar lagi ?” Tanya Jafar.
“Iya, ayah pingin nemenin Jafar malam ini.” Jawab Yasin.
Sebenarnya Jafar agak keberatan di temenin Ayahnya, namun juga tidak berani menolaknya. Sehingga dengan agak berat hati Jafar masuk kamar dan berangkat tidur. Yasin sengaja mengambil air wudhu dulu dan sholat mutlak dua rakaat sebelum masuk ke kamar Jafar.
Kemudian Yasin pun masuk ke kamar Jafar dan membelai rambut Jafar yang hitam dan lurus serta lebat. Yasin memandang wajah Jafar yang potensi tumbuh cambang nantinya.
“Anak ini memang punya inner power yang kuat, dari guratan wajahnya sudah Nampak memiliki dan menyimpan inner power yang kuat.” Kata Yasin dalam hatinya.
Yasin terus membelai Jafar sehingga Jafar pun tertidur, sementara Yasin menjaga Jafar dengan menahan kantuk yang sebenarnya sudah mengganggunya. Dan beberapa saat kemudian Jafar bangkit dan duduk dalam posisi mata terpejam. Hal itu membuat Yasin kaget. Dan membuat kantuknya hilang sama sekali, karena rasa penasaran dan dugaan Yasin tentang Jafar.
Yasin membiarkan Jafar yang kemudian turun dari ranjang dan berjalan namun dalam posisi mata terpejam. Dan Yasin mengikuti Jafar dari belakang ingin membuktikan kecurigaan nya Sehingga Yasin pun menyiapkan ponselnya untuk merekam apa yang akan dilakukan Jafar anaknya itu.
Dan ternyata Jafar membuka slot pintu dengan sangat hati hati sampai tidak menimbulkan suara sama sekali. Yasin mengikuti dari jarak yang cukup. Agar tidak di sadari Jafar namun masih mampu memantau Jafar.
Saat Jafar berjalan melewati tempat anak anak muda biasa bermain gitar Yasin mulai menjaga jarak agak jauh dari jafar dan merekam apa yang di lakukan Jafar.
“Owh jadi setiap anak anak yang bermain music udah pada berhenti Jafar selalu keluar rumah rupanya.” Kata Yasin dalam hati. Sambil terus mengawasi Jafar dari jarak yang cukup.
“Aku harus membuka Lathoif Nafsiku untuk melihat sesuatu yang tidak kasat mata.” Kata Yasin dalam hati. Kemudian segera membuka mata batiniyah tersebut.
Sejauh ini tidak ada sesuatu yang mencurigakan, hanya beberapa penampakan jin yang memang bertempat disitu namun tidak pernah mengganggu manusia. Dan hak itu di biarkan oleh Yasin.
Namun saat Jafar sampai di tengah lapangan Yasin pun kaget, karena dalam pandangan mata batinnya, di lapangan tempat dia dulu melatih anak anak muda pencak silat sudah banyak anak anak seusia Jafar dan dengan pakaian komplit anak yang sedang berlatih pencak Silat.
Yasin melihat rekaman di videoanya, namun yang tampak hanya Jafar anaknya. Namun ketika mata batiniyah melihat lapangan penuh dengan anak anak seusia jafar an ada beberapa orang yang sudah remaja dan juga sudah dewasa.
Yasin hanya memandangi mereka dari kejauahan engambil jarak yang cukup untuk mengamati apa yang akan terjadi.
“Panglima dating, berikan pakaian kepadanya !” seru seseorang.
“Yasin kaget siapa yang di maksut panglima. Dia jadi ingat ketika di tunjuk sebagai Senopati ing ngalogo ( Panglima Perang ) saat melawan Joyo Maruto dan dlang anyi anyi dulu.
“Apakah yang mereka maksut itu aku, apakah kehadiranku disini sudah di ketahui mereka ?” Tanya Yasin dalam hati.
Namun Yasin menjadi kaget lagi, karena salah satu dari yang tak tampak itu menyerahkan baju kebesaran kepada Jafar anaknya dengan penuh hormat. Dan berikutnya semua yang ada disitu pun,baik yang seusia maupun yang lebih tua member hormat kepada Jafar.
Dan Yasin menjadi kaget setengah mati ketika tiba tiba di sampingnya sudah berdiri sesosok dengan ujud laki laki tinggi besar dan bercambang serta berjenggot lebat.
“Assalaamu ‘alaikum...” sapa Sosok itu.
“Wa’alaikummussalaam,,, kamu dari bangsa Jin apa gelar kamu dan apa keperluan kamu menemui aku ?” Tanya Yasin.
“Gelarku Ahmad Muhammad aku berasal dari timur tengah, di tugaskan kesini untuk melatih anak Kamu Jafar. Yang akan kami jadikan panglima nantinya, jika nanti sudah tiba pada waktunya.” Kata sosok itu.
“Aku orang tuanya tidak mengijinkan.” Ucap Yasin.
“Tapi aku sudah dapat restu.” Jawab sosok itu.
“Restu dari siapa ?” Tanya Yasin.
“Restu dari aku....!” jawab sososk lai yang membuat Yasin semakin kaget.
“Yuyut....???” seru Yasin kemudian.
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1