
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
“Mbak Vina, lihat tuh mata mas Jafar, kalu sama adiknya maloah galak tapi dipukul orang malah diam saja.” Kata Nisa membuat Jafar jadi tak kuasa menahan tawa dan senyum lepasnya. Dan barengan dengan Vina memandang wajah Sidiq saat itu atas permintaan Nisa. “Duh Jafar, kamu makin tampak ganteng kalau senyum begitu…!” kata Vina dalam hati. Namun bibirnya tetap tersenyum juga, untung saja mereka mengira Vina tersenyum karena ucapan Nisa yang dianggap lucu.
“Gini saja Vin, jika nanti diperlukan aku juga butuh kesaksian kamu. Dan tolong tanyakan ke kakakmu apakah dia bilang ke kakaknya JAfar dan bilangnya seperti apa kalimatnya.” Ucap Kholis.
“Owh Iya kang Kholis, kalau begitu Vina permisi dulu ya, yuuk Jafar…!” ucap Vina sambil melambaikan tangan ke Jafar. Dan Jafar hanya tersenyum saja, “ Aduh Vina, kenapa kamu jadi akrab sekali dengan Nisa adikku. Kan aku jadi makin sering ketemu kamu sekarang, dan aku merasa ada hal yang beda dari dulu.” Kata Jafar dalam hati.
“Heeh kamu lihatin Nisa apa lihatin Vina sih sampai gak berkedip begitu…?” ucap Kholis mengejutkan Jafar.
“Gak kok kan, Jafar hanya heran sama Nisa adikku yang sifatnya mirip mas Sidiq dari kecil dulu. Bahkan paling berani dengan Ayah bundaku.” Jawab Jafar berkilah.
“Seris Nisa…?” goda Kholis
“Iya NIsa kang…!” jawab Jafar jadi agak gugup.
“Iya deh Nisa….. dan sekitarnya tentunya…!” ucap Kholis.
“Aah kang kholis sama kayak mas Sidiq kalo godain Jafar soal itu.” gerutu Jafar.
“Aah gak kok, dari pada boring nunggu sidiq belum datang datang kan sambil ngobrol begini Jafar.
Mereka pun melanjutkan ngobrol sambil menunggu kehadiran rombongan yang menjemput Sidiq.
….
…..
Saat Sidiq datang, Sidiq dan Ihsan pun kaget sudah ditungguin Jafar dan Kholis di gerbang.
“Assalaamu ‘alaikum,,, kang Kholis ini kakaknya Jafar sudah hadir. Selanjutnya bagaimana kang Kholis ?” Tanya Khoirul.
“Wa’alaikummussalaam,,, panggil Arsyad tapi gak usah bawa teman, kemudian ajak ke Aula jika mungkin juga Muksin tadi sudah baikan kayaknya.” Ucap Kholis. Kemudian Kholis dan Jafar mengajak sidiq ke Aula untuk berunding.
Awal perundingan agak alot, karena Arsyad selalu memprovokasi Muksin, menuduh Jafar mengadu ke Sidiq. Hampir saja Sidiq jadi naik pitam. Untung saja didampingi Jafar yang mampu meredam kemarahan Sidiq kakaknya. Sehingga Kholis terpaksa memanggil Vina dan didampingi santriwati lain sebagai saksi.
Dan Vina diminta menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, kenapa sampai Sidiq kakaknya Jafar tahu peristiwa yang terjadi di Pesantren Tersebut. setelah Vina menjelaskan pun, Arsyad masih belum begitu saja percaya. Sampai Vina ikut marah dan mengucap sumpah atas kesaksiannya tersebut dengan bersumpah atas nama Allah dan Rasul Nya. Barulah Arsyad terdiam tidak berani lagi menuduh Jafar mengadu.
Sementar Sidiq pun mengakui kesalahnnya, karena informasi yang diterima adalah salah. Sehingga menjadi pemicu kemarahannya kepada Muksin ketika Muksin mengatakan itu adalah Fitnah. Sidiq mengakui salah paham dan meminta maaf kepada Muksin. Serta sanggup menanggung biaya pengobatan Muksin.
Namun karena jalanya perundingan cukup panas didengar oleh abah gurunya Jafar. Sehingga abah Gurunya Jafar pun kemudian ikut hadir dalam musyawarah tersebut. kemudian memberikan kesimpulan dari kejadian tersebut.
Dan dengan pertimbanagn tertentu, abah gurunya Jafar meminta Sidiq untuk tetap di Ta'zir di pesantren Al-Huda. Dan selama menjalani hukuman Sidiq harus tinggal di pesantren AL-Huda. Soal izin abah gurunya jafar yang sanggup bilang ke abah gurunya Sidiq.
Semua tidak mengerti maksut abah guru mereka termasuk juga Jafar dan Sidiq sendiri tidak tahu maksudnya.
“Mulai malam ini, kamu juga berlaku sebagai santri disini. Sampai dengan masa hukuman kamu habis, tidak cukup dengan memberikan biaya pengobatan buat Santriku saja. Dan kamu juga harus berangkat sekolah dari sini, pulang juga langsung ke sini. Abah yang akan bilang ke abah guru kamu, pasti boleh karena abah guru kamu itu juga adikku. Karena gurunya adalah adik seperguruan abah guruku juga, sekaligus juga abah guru ayah kamu, Jafar dan Nisa.” Ucap Abah gurunya Jafar.
Semua yang mendengar penjelasan abah guru mereka tersebut menjadi tahu kenapa Jafar diperintahkan tinggal di nDalem. Ternyata salah satunya ayah Jafar adalah adik seperguruan abah gurunya. Dengan begitu mereka menajdi menyesal telah berbuat hal yang tidak baik kepada Jafar dan Sidiq.
Bahkan saat ini Sidiq sampai menjalani Hukuman, semua jadi merasa malu dan sungkan. Terutama Muksin dan Arsyad yang menjadi penyebab Sidiq sampai kena hukuman dari Abah gurunya. Sedangkan Kholis jadi makin paham, siapa Jafar dan Sidiq sebelumnya hanya dengar jika Jafar adalah anak pendekar saja. Tidak menduga jika ayah Jafar adalah adik seperguruan abah gurunya.
__ADS_1
*****
Sementar itu Yasin sudah sampai di Pesantren Al-Hikmah untuk menemui Sidiq. Yasin akan bertanya kepada Sidiq siapa yang melukai Jaka dan merusak padepokan Jaka. Sidiq atau Jafar kah yang melakukan itu. dan atas alasan apa melakukan itu semua. Selain juga ingin membuktikan apakah benar Sidiq mengalami patah kaki.
Namun Yasin harus menelan kekecewaan, karena begitu sampai di Pesantren Al-Hikmah Sidiq anaknya tidak berada di situ.
“Bagaimana ceritanya kang, Sidiq anakku sampai ada masalah dengan Santri Al-Huda. Kan dua adiknya juga ada disana ?” Tanya Yasin kepada gurunya Sidiq.
“Untuk lebih jelasnya kamu tanya sendiri saja ke Pesantren Al-Huda kang. Kalau perlu aku antar kesananya nati setelah jamaah maghrib.” Jawab gurunya Sidiq.
“Apa tidak bisa dikasih tahu sedikit saja dulu, biar aku tidak penasaran kang.” Tanya Yasin.
“Justru kalau aku beri tahu sekarang kamu akan makin penasaran kang. Karena mungkin tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kedua anak lelaki kamu itu memang unik, jadi harus diperlakukan berbeda dengan yang lainya.” Jawab gurunya Sidiq.
“Maksutnya unik bagaimana kang ?” Tanya Yasin makin penasaran.
“Saat ini Sidiq anak kamu yang di takzir disana, nanti gentian Anak kamu yang lain entah Jafar atau Nisa yang harus di Takzir di sini.” Kata Gurunya Sidiq.
“Kenapa bisa begitu kang ?” desak Yasin.
“Kenapa tidak bisa kang ? Apa kang Yasin gak Sadar ketika di Takzir di tempat kang Salim itu ?” tanya guru nya Sidiq. Yasin pernah di gembleng oleh Kang Salim seniornya selama beberapa hari. Dan itu atas perintah abah gurunya. Itu sebenarnya adalah Takzir atau juga kafarat atas kesalahan kesalahan yang diperbuat Yasin. ( Isyaroh \= tiga hari digembleng kang Salim ).
“Beda lah kang, waktu itu aku dapat perintah dari abah guru Thoha untuk menemui kang Salim…!” jawab Yasin.
“Kamu pikir aku bertindak bukan atas perintah abah guru, ini juga perintah abah guru bukan atas kemauan kami sendiri.” Ucap gurunya Sidiq.
“Kami…? Berarti Al-Hikmah dan Al-Huda sudah merencanakan atau bekerjasama dalam masalah ini ?” tanya Yasin.
“Bagaiman mungkin kami tidak bekerjasama jelas Sanad ilmu kita nyambung, guru kita juga satu pesantren. Termasuk kang Yasin juga harus kerja sama sekarang !” ucap gurunya Sidiq tersebut.
“Baiklah aku ikut saja, nanti habis maghrib aku ke Al-Huda bersama kamu saja kang. Aku mau hubungi istri dulu kalau terpaksa pulang malam.” Kata Yasin.
Yasin pun menghubungi Fatimah, mengatakan jika dirinya terpaksa pulang malam karena harus jenguk Sidiq. Yang saat ini sedang menjalani sanksi di pesantren Jafar dan Nisa. Berita itu sempat membuat Fatimah agak Syok untung saja Isna alias Nia sedang Mandi sehingga tidak mendengar ketika membicarakan Jafar dan Nisa. Sehingga sampai saat itu Isna tidak tahu jika dia tinggal di rumah Jafar.
Cukup lama Yasin kontak dengan Fatimah, banyak pertanyaan Fatimah tentang kabar anak anak nya termasuk Sidiq juga. Hanya soal yang menyangkut kedatangan Jafar ke padepokan yang tidak diceritakan ke Fatimah. Yasin tidak ingin membuat Fatimah menjadi lebih Syok bila tahu Jafar mengamuk di padepokan. Juga tak tahu Sidiq habis mengalami patah tulang kakinya.
“Ayo kang Maghrib dulu…!” ajak gurunya Sidiq.
“Eh iya kang, aku habiskan rokok dulu akang duluan saja.” Jawab Yasin.
“Rokok mah nanti lagi bisa…!” Kata gurunya Sidiq.
“Tanggung kang, nanti aku nyusul.” Jawab Yasin. Sebenarnya Yasin hanya gak mau jika bareng gurunya Sidiq lantas disuruh menjadi Imam saja. Alasan merokok hanyalah alasan yang dibuat buat, karena Yasin merasa tidak berhak mengimami sholat di pondok Al-Hikmah. Sementara gurunya Sidiq menempatkan Yasin sebagai murid uwak gurunya. Sebuah adab dan tradisi para Santri yang selalu terjaga, tidak malah berebut posisi atau mabuk ketenaran dan kekuasaan.
Yasin pun segera berangkat ikut jamaah setelah iqamah dikumandangkan dan Gurunya Sidiq sudah berdiri di mihrab sebagai Imam. Bahkan Yasin menempati shaf akhir bukan shaf depan, meski sunnahnya berada di shaf terdepan.
Usai sholat dan wirid sebentar, gurunya Sidiq menyampaikan jika mala mini kegiatan mengaji akan diisi oleh Badal ( wakil ) nya. Karena sedang ada keperluan mendadak, dan mengatakan kepada Santri santrinya agar tetap serius dalam mengaji.
Kemudian Yasin diajak kembali ke ruang tamu, dan sudah disajikan makanan oleh istri gurunya Sidiq.
“Makan dulu kang sebelum berangkat.” Ajak gurunya Sidiq.
“Terimakasih kang, malah bikin repot istri kamu nih.” Ucap Yasin.
“Gak juga, kamu ke sini atau tidak istriku juga tetap menyajikan makan buatku.” Jawab Gurunya Sidiq.
Yasin hanya tersenyum mendengar jawaban bercanda dari gurunya Sidiq.
“Kenapa tadi sholatnya malah di shaf paling belakang, tidak mencari sunnah di shaft depan samping kanan Imam kang ?” Tanya Guru nya Sidiq sambil menikmati makan malam.
__ADS_1
“Kalau semua mencari Shaft yang seperti itu shaft belakang dan kiri bisa kosong dong kang.” Jawab Yasin membalas guyonan gurunya Sidiq tadi.
“Kamu ini kang bisa saja, pantas kangSalim dulu sering cerita kalau kamu dulu sampai disebut tukang protes.” Jawab gurunya Sidiq.
“Bukan Protes, hanya nanya kok karena gak tahu jadi banyak tanya dan dianggap protes.” Jawab Yasin.
“Bisa aja ngeles, tapi ada alasan lain tidak kenapa kang Yasin tadi pilih Shoft belakang ?” tanya gurunya Sidiq.
“Ada lah, pertama kalau aku di shaf depan paling juga disuruh maju jadi Imam. Yang kedua, tidak selamanya yang di shaf belakang itu kurang baik. aku pilih shaft belakang menghormati yang biasa di depan, karena aku hanya tamu di sini.” Jawab Yasin.
“Iya juga sih kang, jawaban kamu bikin aku lega sekarang.” Ucap gurunya Sidiq.
“Biasa saja kang, kita sama sama pernah menjadi santri tentunya sudah saling paham. Meski tetap ada perbedaan amaliah sekalipun tidak akan jadi masalah.” Ucap Yasin.
“Nah itu kang, sekarang ini banyak sekali orang yang tidak bisa menerima perbedaan amaliah. Yang berbeda dikit saja dianggap musuh dan dianggap kafir Sesat dan sebagainya.” Ucap gurunya Sidiq.
“Sama saja kang, karena itulah aku senang sekali anak anakku mau belajar di pesantren. Meski Sidiq anakku sering bikin ulah.” Ucap Yasin.
“Itu salah kamu kang jangan salahkan anaknya, apalagi sampai menangani anak kamu nanti.” Jawab gurunya Sidiq.
“Kok bisa salahku kang ?” tanya Yasin.
“Sidiq bisa seperti sekarang itu sudah istimewa kang, maaf mengingat dia dulu kan Lahir diluar nikah. Untung saja kamu terus melakukan taubatan Nasuha dan anak kamu itu laki laki.” Jawab gurunya Sidiq.
Yasin terdiam kali ini, mengakui semua kesalahan masa lalunya dulu. Dan bersyukur diselamatkan kang Salim. Tidak hanya diselamatkan dari kematian tapi juga diselamatkan sampai ke jalan akhiratnya dengan bertaubat di bawa ke pondok pesantren.
“iya juga ya kang, senakal apapun Sidiq masih belum senakal ayahnya dulu.” Jawab Yasin dengan pengakuan yang tulus.
“Makanya bersyukur kang, abah guru mu abah guru Thoha memikirkan kamu sampai jauh ke depan. Makanya kamu dijodohkan dengan istri kamu yang sekarang. Bukan sebuah kebetulan semata.” Ucap Guru Sidiq.
“Iya kang, bentar ya aku merokok dulu sebelum berangkat.” Kata Yasin.
“Silahkan, aku juga masih merokok. Aku dengar anak gadismu sifatnya juga keras seperti kamu ya kang ? itu bukan karena niru Sidiq kakaknya, tapi memang gen dari kamu kang.” Ucap gurunya Sidiq.
“Mungkin juga, tapi secara dhohir nya memang anak gadisku sangat dekat dengan Sidiq. Jadi kalau dirumah sering dibilang niru Sidiq. Karena Jafar kakaknya lebih cenderung diam.” Ucap Yasin.
Mereka pun asyik ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya mereka berangkat ke Pondok Al-Huda bersama. Dan motor Yasin pun ditinggal di Pondok Al-Hikmah berangkat bareng gurunya Sidiq.
Sesampai di Pondok Al-Huda Yasin merasa deg degan, ingat hukuman apa yang sedang dijalani Sidiq anaknya. Bahkan sempat ragu ragu untuk turun dari mobil, sampai ditegur Gurunya Sidiq.
“Ayo kang, kita sudah sampai !” ajak gurunya Sidiq.
“Iya kang…!” jawab Yasin pelan pelan turun dari mobil.
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1