Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Wiratmojo buru Sidiq dan Jafar


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Wiratmojo buru Sidiq dan Jafar ...


Yasin pun menurunkan tenaga yang dikeluarkan untuk mengimbangi Sidiq yang masih terluka tersebut.


Dan setelah keduanya seimbang dalam mengeluarkan tenaga maka Golok Hitam pun bereaksi menjadi semakin merah menyala.


 


Hingga pada akhirnya Yasin dan Sidiq sama sama seperti terdorong ke belakang beberapa langkah dan terjatuh di tanah.


 


“Ayah, Mas Sidiq ? Kalian gak papa ?” tanya Jafar yang tetap berdiri kokoh di tempatnya.


“Alhamdulillah…Ayah gak papa bahkan merasa lebih segar sekarang ini.” Jawab Yasin.


“Sidiq Juga Yah, rasanya malah lebih bertenaga dibanding tadi. Meskipun tadi sempat seperti tersedot tenaga Sidiq.” Ucap Sidiq.


“Alhamdulillah…kekuatan batin Jafar saat ini sudah melebihi kamu kang Yasin. Apalagi dengan Golok hitam di tangannya, Ki Munding Suro sudah bukan tandingan Jafar anak kamu lagi sekarang.” Kata Tabib Ali.


“Apa betul begitu Kang Ali ?” Tanya Yasin agak ragu ragu.


“Kamu coba saja sekarang, jika kamu masih ragu.” Ucap Tabib Ali.


 


Yasin tersenyum bangga melihat Jafar anaknya tumbuh jadi lelaki tangguh.


 


“Iya bahkan sebentar lagi Ki Munding Suro pun akan bisa ditaklukan Sidiq. Karena kita sudah sepakat memberi Sidiq ilmu Waringin Sungsang. Dan Wisnu nanti pada saatnya akan menerima ilmu Gelap Ngampar dari Kang Tohari.” Jawab Yasin bangga, mempunyai generasi muda yang tangguh dan berakhlak.


 


“Alhamdulillah kalau begitu Kang Yasin, jadi kita gak perlu terlalu khawatir dengan musuh.” Ucap Tabib Ali.


 


Kemudian Yasin memanggil Sidiq dan Jafar juga Wisnu  secara khusus. Kemudian Yasin pun menjelaskan rencana khusu kepada Sidiq dan Wisnu. Karena untuk Jafar sudah mendapatkan anugerah khusus sejak lahir bahkan. Serta mendapatkan perhatian khusus dari Yuyut Siti Aminah beserta leluhur yang lain.


….


 


Malam itu juga Yasin memberikan pelatihan dan pelajaran khusus kepada Sidiq untuk mempelajari Ilmu Waringin Sungsang. Meskipun baru pengenalan dasar dasar terlebih dahulu. Namun Yasin berharap jika Sidiq mampu mempelajari dalam waktu yang terhitung singkat tersebut.


Mengingat kesiapan musuh yang juga sudah cukup matang.


 


“Sidiq kamu harus bisa pelajari ilmu dan jurus ini secara cepat, karena pihak lawan pun sedang mempersiapkan diri secara serius pula.” Ucap Yasin pada Sidiq.


“Iya Yah, Sidiq siap mengikuti perintah Ayah.” Jawab Sidiq.


 


Yasin pun memulai menunjukan gerakan gerakan dulu sebelum masuk ke pengaturan tenaga batin untuk menunjang  gerakan gerakan Jurus tersebut. Sidiq mengikuti dengan serius setiap gerakan Yasin. Dan Sidiq dapat menirukan semua gerakan jurus yang diajarkan Yasin.


Bahkan ketika Yasin mengajari pengaturan Nafas dan Aliran darah Sidiq pun dengan cepat dapat mengikuti apa yang diajarkan Yasin.


 


Sampai mereka tinggal berdua di lapangan Yasin masih meneruskan untuk melanjutkan  mengajar Sidiq. Demikian juga Sidiq tetap bersemangat mengikuti perintah Yasin sampai semuanya benar benar dikuasai Sidiq.


Sangat singkat dalam waktu kurang dari semalam Sidiq sudah menguasai dasar jurus dan Ilmu Waringin Sungsang, hanya tinggal melaksanakan riyadhohnya saja. Yasin dan Sidiq pun segera menyusul masuk kedalam rumah. Menyusul saudara saudaranya yang lain.


 


…..

__ADS_1


…..


…..


Saat itu juga Ki Munding pun sedang mempersiapkan acara Pancamakarapuja. Lokasi yang akan digunakan pun sudah disiapkan semuanya, termasuk semua ubo rampe juga sudah mulai dipasang di tempat tersebut. Ki Munding pun segera membakar Dupa di beberapa titik yang dirasa perlu.


Dari mulai semua akses jalan menuju ke tempat itu sampai pohon pohon besar bahkan batu besar diberikan sesaji. Dengan maksud mengundang seluruh makhluk Astral yang berada di tempat itu untuk ikut membantu acara Pancamakarapuja.


Ki Munding Suro pun Lantas membakar Dupa dan menaruh kembang berbagai macam di depan arca pemujaan. Dan mulai merapalkan mantra mantra yang hanya bisa dilafalkan oleh Ki Munding Suro.


 


“Wiratmojo…!” Ki Munding memanggil Wiratmojo murid senior Ki Munding.


“Ada Perintah Guru ?” Jawab Wiratmojo.


“Ada rahasia besar yang ingin aku sampaikan kepadamu.” Jawab Ki Munding Suro yang berpakain dengan jubah hitam dan rambut panjang dibiarkan terurai. Hanya diikat pada bagian kepala saja, menambah penampilan Ki Munding Suro semakin tampak bengis dan mengerikan.


“Rahasia apa itu guru ?” Jawab Wiratmojo.


 


Ki Munding suro segera mengeluarkan Peti kecil berlapis kain sutra dan beludru. Kemudian membuka Kotak tersebut.Dikeluarkan sesuatu dari dalam peti kayu tersebut.


“Ini yang orang sebut sebagai Batara Karang. Dan ini bisa dijadikan sebagai ‘Jimat’ untuk Ilmu Karang.” Ucap Ki Munding Suro.


“Owh jadi itu yang Namanya Batara Karang Guru ? Bagaimana dapat seperti itu Guru ?” Tanya Wiratmojo


“Ini adalah guruku yang gagal Moksa, berusaha Moksa tapi tidak berhasil hanya mengecil jadi seperti ini.” Jawab Ki Munding Suro.


 


Wiratmojo kaget mendengar keterangan dari Ki Munding Suro tersebut.


 


“Jadi Proses Moksa juga bisa gagal ya Guru ?” Tanya Wiratmojo.


“Iya, makanya Guru berpesan kepadamu. Jika aku nanti setelah mengalahkan Yasin akan ‘Tapa’ untuk Moksa. Dan Jika aku gagal, ambilah wujudku yang akan jadi seperti ini. Dan jadikan Jimat untuk ilmu Karang, syaratnya seperti ini…!” ucap Ki Munding Suro membisiki Wiratmojo.


 


Wiratmojo bertambah kaget mendengar bisikan dari Gurunya Ki Munding Suro. Untuk menguasai Ilmu karang ternyata syaratnya juga tidak mudah. Hampir serupa dengan ritual Pancamakarapuja, hanya saja pasangan wanita yang digauli lah yang harus dibunuh dan dimakan mayatnya mentah mentah meski hanya sedikit sebagai syarat, sekaligus meminum darahnya walau setetes, menurut Ki Munding Suro.


 


“Jika orang mau mendapat sesuatu maka harus dengan perjuangan, tidak semudah yang kamu pikirkan. Gurumu juga dulu melakukan itu kalau kamu mau tahu.” Jawab Ki Munding Suro.


 


“Seorang Wiratmojo yang sudah beberapa kali ikut Pancamakarapuja saja tidak bisa membayangkan jika harus membunuh wanita yang dikencaninya. Kemudian memakan dagingnya mentah mentah dan meminum darahnya.


Sungguh suatu kesesatan yang nyata, yang harus dihentikan agar tidak semakin meraja lela di kemudian hari.


 


…..


Pagi hari pun tiba, sang surya sudah mulai menampakkan sinarnya meski belum sepenuhnya memberi kehangatan. Udara pagi pegunungan masih terasa sangat dingin. Wiratmojo mencari Ki Munding Suro yang semalam membaca mantra ‘Pambukaning Pamujan’ ( Pembukaaan pemujaan ).


Cukup lama Wiratmojo mencari Ki Munding Suro namun belum juga menemukan Ki Munding Suro.


 


“Kemana Guru kita Adi Gagak Seta ?” Tanya Wiratmojo pada Gagak Seta.


“Tadi katanya mau mempersiapkan ubo rampe buat acara nanti malam Kang.” Jawab Gagak Seta.


“Iya Kakang, tadi Guru pesan jika Kakang mencari disuruh menunggu dul sampai matahari diatas kepala  kita.” Sahut Jaladara.


“Baiklah kalau begitu, kalau kalian gak sibuk bisakah menunjukkan aku pada kedua anak dari Yasin itu.” Tanya Wiratmojo.


 


Gagak Seta dan Jaladara terdiam karena bingung. Sebenarnya dirinya juga belum pernah berjumpa langsung hanya melihat wajah Sidiq dan Jafar dengan ilmu yang dimiliki Gurunya. Serta mereka berdua pun sangat penasaran untuk menguji Ilmu kanuragan Sidiq dan Jafar. Namun takut juga dengan larangan Gurunya.


 


“Apa kakang tidak takut dengan guru nanti ?” Tanya Gagak Seta.

__ADS_1


“Betul Kang, Guru bilang kita disuruh Fokus dengan acara nanti malam saja.” Sahut Jaladara yang selalu mengekor kakaknya Gagak Seta kalau bicara.


“Hanya melihat saja, bukan untuk menantang bertarung.” Jawab Wiratmojo.


 


Kembali Gagak Seta dan Jaladara terdiam. Mereka pun sebenarnya juga ingin, tapi mereka lebih takut dengan larangan Ki Munding suro.


 


“Ayo lah, aku yang bertanggung jawab jika guru sampai marah.” Kata Wiratmojo.


“Kami tidak berani melanggar perintah Guru Kakang.” Jawab Gagak Seta.


“Iya Kakang,Kakang ajak yang lain saja malah lebih paham dengan anaknya. Dan tahu jalan mana saja yang biasa mereka lalui.” Sahut Jaladara.


“Sebenarnya aku sekalian mau menyelidiki, sejauh mana Ilmu kanuragan anak tersebut.” Ucap Wiratmojo.


“Kami juga kang, tapi jujur kami gak berani melanggar perintah Guru, meski sangat penasaran juga.” Jawab Gagak Seta.


“Sebenarnya kami juga sudah ingin menjajal ilmu anak anak itu, tapi belum diizinkan oleh Guru.” Sahut Jaladara.


 


WIratmojo pun sudah hafal dengan dua adik seperguruanya itu, yang begitu patuh pada gurunya. Sehingga Wiratmojo mencari alternatif lain untuk mencari Sidiq dan Jafar. Dan akhirnya Jalu lah yang bersedia menemani Wiratmojo.


 


“Baiklah Kakang Wiratmojo, saya bersedia menemani. Bahkan bersedia juga untuk mencari sampai ketemu. Mau sampai ke sekolahnya  ataupun ke rumah atau Padepokan mereka. Bahkan Jika Perlu kita cari ke rumah pacar salah satu anak Yasin tersebut.” Ucap Jalu yang menyebut Pesantren dengan Padepokan.


 


Wiratmojo sangat senang mendengar ucapan Jalu tersebut.


 


“Terimakasih Adi Jalu, apa ada permintaan khusus ?” Tanya Wiratmojo.


“Tidak kakang, Jalu hanya perlu bilang jika mendekati lokasi Jalu harus pakai ilmu Halimun, agar kedatangan kita tidak dicurigai. Biar mereka hanya melihat Kakang Wiratmojo saja. Karena aku sudah mereka kenali.” Ucap Jalu.


 


Wiratmojo memandang Jalu, kemudian berkata.


“Yang aku dengar, kamu selain punya ilmu Halimun juga punya ilmu Malih warno. Kenapa gak gunakan Ilmu malih warno saja. Nanti kalau aku ngobrol dikira orang gila bicara sendiri…!” Ucap Wiratmojo.


“Iya ya kang, terus aku harus merubah wujud jadi siapa ?” Tanya Jalu.


“Terserah kalau bisa kita berlaku sebagai pasangan suami istri jika perlu.” Ucap Wiratmojo.


Kemudian Jalu pun merubah wujudnya menjadi wanita yang pantas jadi istri Wiratmojo. Keduanya berencana mengelabui Sidiq dan Jafar, dengan mengaku orang yang butuh pertolongan dan meminta Sidiq dan Jafar atau salah satunya untuk datang ke rumahnya.


Dengan penuh percaya diri Wiratmojo dan Jalu yang menyamar wanita itu pun segera berangkat mencari Sidiq dan Jafar. Mereka belum tahu jika Sidiq dan Jafar sedang berada dirumahnya. Namun tekad Jalu dan Wiratmojo sangat kuat untuk menemukan Sidiq dan Jafar. Sehingga mereka akhirnya menuju ke rumah Yasin setelah ke tempat lain tidak bisa menemukan.


Dan sesampainya di rumah Yasin Wiratmojo didampingi Jalu dalam wujud seorang wanita berpura pura sebagai tamu yang akan minta pertolongan.


“Jadi bapak yang bernama Yasin ?” Tanya Wiratmojo.


“Betul, Bapak dan Ibu ini siapa ya ?” Tanya yasin agak curiga melihat penampilan Wiratmojo.


“Kami ini warga Desa perbatasan pak, mau minta tolong anak kami dalam masalah.” Ucap Wiratmojo.


Yasin diam sejenak, “ Kenapa aku merasakan aura yang tidak enak dan sepertinya kenal dengan aura seperti ini. Siapa mereka ini sebenarnya.” Ucap Yasin dalam hati…!?!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


  


__ADS_2