Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Gede Paneluh gabung dengan Marto Sentono


__ADS_3

Gede Paneluh gabung dengan Marto Sentono


Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


Yasin terkejut seperti tak percaya, “Apa maksudnya mereka sudah tahu jika Yasin adalah aku” kata Yasin dalam hati. Yasin jadi terdiam dan bersiap jika sesuatu harus terjadi, kalau ternyata ki Marto Sentono sudah tahu jika dirinya adalah Yasin yang diburu mereka…!!!


“Maksud ki Marto Sentono ?” tanya Yasin menegaskan.


“Ternyata Yasin itu adalah ayah dari pemuda yang merusak padepokan ini. dan melukai Jaka Santosa. Jadi rencanaku nanti, anak itu harus bisa ditangkap hidup hidup sebagai tawanan untuk mengundang Ayahnya agar menyerah. Dengan ancaman jika melawan anaknya yang akan kita bunuh, jadi nanti kita akan ramai ramai membantai Yasin sampai mati. Bukankah kamu juga akan menuntut balas kematian ayah angkat kamu Joyo Maruto !?!” ucap ki Marto Sentono dengan Geram. Membayangkan akan membantai Yasin ayah dari Sidiq dan Jafar, tidak menyadari jika orangnya justru sedang diajak ngobrol.


Yasin tersenyum melihat kebodohan ki Marto Sentono, kemudian tertawa pura pura senang, padahal menertawakan kebodohan ki MArto Sentono yang sedang dia kibuli.


“Wkakaka…. Akhirnya bisa juga kamu dikibuli Yasin….! Sebentar lagi kamu akan menyusul ki Joyo Maruto. Wkakaka….. !!!” tawa Yasin pecah menertawakan ki Marto sentono yang justru ikut tertawa puas tanpa menyadari sedeang di kibuli Yasin.


Padahal maksut Yasin mengatakan ‘akhirnya kamu ( ki Marto Sentono ) bisa juga dikibuli (oleh ) Yasin ( dirinya sendiri yang ngomong ). Namun pemahaman ki Marto Sentono dan lainya menangkap bahwa yang dikibulin adalah Yasin. Sebuah permainan kata kata yang diperoleh Yasin saat belajar di pondok pesantren dulu ketika belajar kitab As-Siyasah ( sebuah Kitab tentang politik dan tata cara berdiplomasi ).


Suasana pun menjadi penuh tawa, tanpa menyadari jika Yasin saat itu ada di hadapan mereka semua.


“Aki harap kamu bisa menangkap anak itu hidup hidup agar tugas aki menjadi lebih ringan Jaka Gledek.” Ucap ki Marto Sentono yang memanggil Yasin dengan sebutan Jaka Gledek.


“Ha ha ha… menangkap anak itu bagiku, seperti memetik Jeruk segar dari pohonnya ki. Anak itu tidak akan berkutik di hadapanku, tenang saja.” Ucap Yasin. Bagaimana tidak karena Sidiq dan Jafar adalah anak dia sendiri dan sangat patuh dipanggil pun pasti datang.


“Baguslah kalau kamu yakin begitu Jaka Gledek, Aki jadi semakin bangga kepadamu.” Ucap ki Marto Sentono.


“Tapi ki,,, yang jadi masalah adalah ayah dari anak tersebut. jadi kapan pagelaran Akbar itu akan di gelar ki ?” tanya Yasin.


“Hmmm… kita tentukan seperti semula saja pada hari kamis malam jumat Kliwon agar kekuatan kita sedang dalam puncak puncaknya nanti.” Jawab ki Marto Sentono.


“Malam jumat Kliwon besok itu ki ?” tanya Yasin.


“Iya masak malam jumat Kliwon depannya…!” jawab ki Marto Sentono.


Yasin mulai berhitung, “tinggall beberapa hari lagi, aku harus gembleng anak anak dengan serius agar punya bekal yang cukup.” Kata Yasin dalam hati.


“Paman Zain kenapa kok malah murung ?” tanya Jaka.


“Owh tidak, aku hanya merasa perlu untuk melatih diri agar bisa menghadapi ayah anak itu. kalau anak itu bagiku tidak ada apa apanya. Aku yakin itu, tapi ayahnya yang harus diwaspadai.” Jawab Yasin.


“Kamu bisa saja melatih diri disini Jaka Gledek.” Ucap ki Marto Sentono.


“Maaf ki, bukan saya tidak mau, tapi harus ada ritual khusus untuk ki Joyo Maruto dan Guru saya yang lain Juga.” Jawab Yasin berdalih.


“Kan bisa juga disini Jaka Gledek ?” ucap ki Marto Sentono.

__ADS_1


“Tidak Ki, ada sebuah pusaka yang harus saya tarik dari makam eyang guru saya Begawan Sanjaya.” Jawab Yasin.


Namun di luar dugaan ki Marto Sentono terkejut mendengar Yasin menyebut Begawan Sanjaya. Yang sebenarnya Begawan Sanjaya memang leluhur Yasin karena anak perempuannya jadi istri eyangnya Mustolih setelah sakit lama dan diobati. Sementara Begawan Sanjaya sahabat eyang Mustolih sebelum jadi mertuanya. Endang Pertiwi anak Begawan Sanjaya bersumpah akan menjadikan suami jika yang membuatnya sembuh laki laki. Dan akhirnya jadi istri kedua Eyang Mustolih yang menurunkan kakeknya Yasin alias Ahmad Sidiq yang bernama Jafar Sanjaya. Kakek dari Yasin jalur ibu kandung Yasin Nngsih. ( NoveI Isyarah \= Penjelasan Farhan tentang Silsilah ).


“Apa benar eyang Gurumu adalah Begawan Sanjaya orang yang hampir tidak terkalahkan ?” Tanya ki Marto Sentono.


“Betul, beliau Begawan Sanjaya punya anak perempuan namanya Endang Pertiwi kan ?” Jawab Yasin PD.


“Luar biasa, kamu memang bukan orang sembarangan sampai tau sejauh itu tentang Resi Begawan Sanjaya.” Ucap ki Marto Sentono.


Dalam hati Yasin tertawa, “Jelas tahu lah beliau kan eyangku juga, kamu aja yang tolol mau aku kibulin dari kemarin.” Batin Yasin.


“Iya, makanya aku yakin kalau anak muda itu gak ada apa apanya kalau berhadapan denganku. Bisa jadi aku gak perlu keluarkan tenaga sekali bentak sudah ketakutan.” Jawab Yasin.


“Hmmm…. Iya aku percaya, murid eyang Resi Begawan Sanjaya tidak ada yang tidak berilmu tinggi. Kakang Joyo maruto pun hanya takut dengan anak cucu murid eyang Resi Begawan. Apalagi aku yang masih jauh dibawah kakang Joyo Maruto. Pantas kakang Joyo Maruto menyembunyikan kamu dariku. Ternyata menyimpan mutiara tak terhingga kakang Joyo Maruto.” Ucap ki Marto Sentono.


“Masak sih begitu takutnya dengan anak cucu Muri Eyang Begawan Sanjaya ?” tanya Yasin.


Dalam hati Yasin berkata, “Gak seru kalau nanti malah jadi takut setelah tahu aku keturunan eyang Putri Endang Pertiwi juga.” Batin Yasin.


“Memang begitu kenyataanya, tapi di satu sisi kami justru menaruh dendam kepada keturunan Endang Pertiwi yang melenyapkan buku buku mantra ajian ajian khusus setelah Eyang Resi Begawan meninggal.” Ucap Marto Sentono.


“Apa, Eyang Endang Pertiwi melenyapkan buku buku mantera ?” tanya Yasin, dalam hati mengutuk Marto Sentono yang menyebut Eyangnya dengan menyebut namanya saja.


“Iya, karena sepeninggal beliau Eyang Resi jadi rebutan, sehingga sama Endang Pertiwi malah diberikan pada suaminya kemudian tidak ada kabar lagi setelah itu.” Ucap Marto Sentono.


“Kenapa Gak diminta paksa sama suaminya itu ?” tanya Yasin ikut penasaran ceritanya.


“Apakah orangnya sangat Sakti Mandraguna ?” Tanya Yasin.


“Tidak tahu persis tapi geraknya sangat cepat tak terkejar oleh siapapun. Bahkan tidak ada yang bisa bertatap muka lama, begitu bertemu langsung lenyap tidak terkejar lagi.” Ucap ki Marto Sentono.


“Iyalah, eyang Mustolih punya Aji tatar Bayu.” Batin Yasin.


“Jadi bagaimana ki, apa saya diizinkan untuk tidak ikut gabung disini mulai besok sampai hari pagelaran Akbar dilaksanakan. Agar aku bisa mengambil pusaka peninggalan Eyang guru Begawan Sanjaya ?” tanya Yasin.


“Untuk kamu aku bebaskan sesuka kamu, yang penting pas hari H nya nanti datang dan jadi wakil dari Padepokan ini.” jawab ki Marto Sentono.


“Iya kalau itu sudah pasti, dan ketidak hadiranku disini untuk persiapan hari H itu juga kok ki.” Jawab Yasin. Memang mau mempersiapkan anak anaknya untuk hari H nanti.


Kemudian Yasin bergabung dengan anggota yang lain membereskan dan menata Padepokan tersebut sebelum akhirnya kembali ke rumahnya.


…..


…..


…..


Anak buah ki Marto Sentono mengunjungi Gede Paneluh untuk minta bantuan, dan atas petunjuk yang diberikan ki Marto Sentono Juniarto murid ki Marto berhasil menemui Gede Paneluh.


“Hmm… Jadi kamu anak murid kakang Marto Sentono.” Tanya Gede Paneluh.

__ADS_1


“Iya ki Gede… saya kesini diutus guru mengundang ki Gede ke Padepokan Kami.” Ucap Juniarto.


“Aku agak malas sebenarnya, karena aku juga baru ada Hajat menyelesaikan tugas khusus.” Jawab Gede Paneluh.


“Mohon maaf Ki Gede namun kali ini kami sangat berharap ki Gede dapat hadir karena sangat dibutuhkan kehadiran ki Gede.” Ucap Juniarto.


“Gurumu itu ingat aku kalau lagi butuh saja, jadi aku agak malas bertemu dengan guru kamu itu. kalo tidak mengingat paman Joyo Maruto aku mending gak kenal dengan Guru kamu itu.” Ucap Gede Paneluh yang kurang suka dengan Marto Sentono yang memang licik meski pada sahabatnya sendiri.


“Apakah ki Gede juga kenal dengan ki Joyo Maruto “ tanya Juniarto


“Bukan Hanya kenal, aku ini ponakan ki Joyo Maruto” jawab Gede Paneluh.


“Perlu ki Gede ketahui jika ki Gede diUndang karena ki Marto sentono sudah menemukan pembunuh ki Joyo Maruto yang bernama Yasin.” Ucap Juniarto.


Gede Paneluh kaget sampai melotot matanya.


“Apa ucapanmu bisa aku percaya ?” tanya Gede Paneluh meyakinkan pendengarannya.


“Silahkan buktikan nanti ki Gede, ki gede bisa dengar sendiri dari keterangan ki Marto sentono. Bahkan ki Marto sentono meminta ki Gede mengajak orang yang bernama Sawung Panjalu.” Jawab Juniarto.


Gede Paneluh hanya terdiam mendengar ucapan Juniarto yang tampak serius itu.


“Bagaimana ki Gede ?” ulang Juniarto.


“Saat ini aku sedang mengawasi Sawung Panjalu yang sedang menjalani ritual untuk menyempurnakan aji giling wesinya. Jadi Sawung Panjalu mungkin tidak bisa diajak kesana. Tapi biar aku dulu yang akan kesana jika memang pembunuh ki Joyo Maruto sudah ditemukan.” Jawab Gede Paneluh mulai melunak.


“Baiklah ki Gede aku permisi dulu, jawaban ki Gede akan saya sampaikan ke ki Marto Sentono.” Jawab Juniarto.


“Kalau begitu sampaikan ke ki Marto Sentono aku akan berangkat besok sekalian menemui Sawung Panjalu mengabarkan jika pembunuh ayahnya ki Maheso Suro sudah ditemukan. Agar makin semangat daam menyempurnakan aji Giling wesinya.” Ucap Gede Paneluh.


Kemudian Juniarto pergi meninggalkan padepokan tersebut kembali ke padepokan ki Marto Sentono. Diiringi oleh Gede Paneluh yang menjadi baik dengan Juniarto.


“Akhirnya aku bisa menemukan musuh besar keluargaku Yasin, akan ku balas kematian ki Joyo Maruto nanti. Baik dengan cara halus maupun cara kasar, sampai ke anak istrinya akan aku hancurkan semua.” Kata Gede Paneluh dalam hatinya yang sudah penuh dengan api dendam membara...!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2