
Reader tercinta, beberapa episode sebagai cooling down saja. Setelah adegan kekerasan Yasin, dan selanjutnya Kiprah Yasin akan diganti Sidiq dan Jafar.
Dengan tidak meninggalkan jiwa muda Sidiq dan Jafar yang diwarnai Romantika cinta remaja.
Selamat membaca, semoga terhibur.
..........
Maka ketiganya pun mengatur strategi untuk membuat keributan dengan Yasin, tidak menduga bahwa Sidiq pun meski masih remaja sudah punya pengalaman bertarung yang cukup banyak….!!!
“Kita cari kesempatan Yasin atau Zain keluar, kita ganggu anak dan istrinya saja. Aku masih menaruh dendam dengan Yasin, karena dia aku dipenjara dan karena dia aku tidak bisa memiliki Arum ponakan lek Sastro.” Ucap Damar pada kedua rekanya.”
“Bagaimana kalau dia tidak keluar keluar ?” tanya salah seorang di antaranya.
“Kita tunggu saja.” Ucap Damar yang sebenarnya masih merasa takut dengan Yasin. Dan berniat mengganggu Fatimah istri Yasin untuk melampiaskan dendamnya.
Belum lama mereka menunggu mereka melihat Yasin menaiki sepeda motor hendak keluar rumah.
“Nah itu Orangnya mau keluar rumah sekarang, kita tunggu sampai dia agak jauh saja. Nanti kita ganggu istrinya dan kita rusak rumahnya.” Ucap Damar.
*****
Sidiq POV
“Yah bunda sudah pulang, bawa belanjaan but keperluan warung.” Ucapku pada Ayah yang masih Nampak melamun. Entah apa yang dipikirkan, tapi aku tidak melihat ada kesedihan di wajah ayahku yang agak kurusan sekarang.
“Kamu bantuin angkat belanjaan bunda kamu ya. Ayah mau beli parafilm dan alat alat keperluan grafting, ayah mau mulai menanam bibit anggur dan buah lainya lagi.” Ucap Ayahku.
“Iya yah, Alhamdulillah jika ayah bisa usaha lagi.” Ucapku. Dalam hati aku pun berkata, “ayahku pasti mendapatkan modal usaha dari kerjaannya tadi. Dan beliau membawa batang pohon anggur yang akan di grafting.”
“Fat, aku mau belanja keperluan Grafting dulu, Insya Allah besok aku mau mulai grafting lagi. Kamu sama Sidiq dulu ya di rumah.” Kata Ayah ku pada bunda Fatimah yang baru masuk ke warungnya.
“Iya mas hati hati di jalan, apa gak capek belum lama pulang sudah pergi lagi.” Tanya bundaku ke ayah.
Sebuah percakapan yang menyentuh hatiku, sebagai dua orang yang sudah berumur tapi tidak mengurangi bahasa kasih sayang antara keduanya. Aku jadi ‘iri’ dengan ayah dan bundaku, sudah tidak muda lagi lagi tapi keharmonisan mereka tidak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan di tengah kondisi perekonomian mereka yang terpuruk. Aku juga ingin seperti ayah dan bundaku nanti, kalo sudah berumah tangga.
Berumah tangga, aah masih jauh juga kali…?!? Tapi keinginan mencontoh ayah bundaku saja agar selalu harmonis. Dan itu harus mendapatkan istri yang seperti bunda juga, apakah Riska juga bisa seperti bunda nanti. Eeh kok jadi ingat sama Riska sih, kita kan belum jadi apa apa. Belum tentu juga Riska mau sama Sidiq. Huft mikir apaan sih aku ini, sekolah dan ngaji juga belum apa apa kok udah jauh banget mikirnya.
“Sidiq, kamu ngelamunin apa hayo ?” tanya bundaku membuat aku jadi kaget.
“Gak kok bunda, Sidiq hanya kagum sama ayah dan bunda yang selalu romantis di setiap waktu. Sidiq jadi pingin seperti ayah dan bunda.” Jawabku spontan keluar begitu saja dari mulutku ini. bahkan aku pun menyesali atas apa yang aku ucapkan tadi, ada sedikit perasaan malu juga.
“Kamu masih kecil udah mikir begitu, memang kamu sudah punya pacar ya ? Kan ayah bunda sudah bilang jangan pacaran dulu konsentrasi sekolah dan ngaji dulu.” Jawab bunda Fatimah, membuat Sidiq jadi semakin malu dan tertunduk. Sementara ayah hanya tersenyum dan menjalankan motornya, sambil berseloroh ringan.
“Kamu bilangin tuh Sidiq, jangan jangan memang sudah punya pacar dia.” Ucap Ayah pada bunda Fatimah.
“Jadi beneran kamu sudah punya pacar ya Sidiq ?” tanya bunda menegaskan ucapan ayahku.
“Gak kok bunda, Sidiq gak pacaran kok. Mana ada waktu buat pacaran, sepulang sekolah langsung kerja dan sorenya ngaji sampai malam terus belajar dan paginya sekolah.” Jawabku beralasan.
“Kalo ada kesempatan berarti kamu ingin pacaran juga dong Sidiq ?” goda bundaku.
“Bukan begitu bunda, maksud Sidiq untuk mikir pacaran saja sudah gak sempat kok.” Jawabku agak bingung menghadapi bundaku yang tentunya juga sudah banyak pengalaman hidup ini.
“Bunda gak melarang kamu suka dengan gadis, tapi jangan sampai pacaran dulu. Kalau kamu sudah mapan mendingan langsung kamu nikahin saja besok, jangan terbawa arus seperti anak anak yang lain yang kelewat batas.” Ucap bundaku.
Aku hanya mendengarkan sambil membantu membawa masuk ke warung belanjaan yang di bawa bundaku. Aku sadar bahwa aku lahir dari sebuah kekhilafan ayah dan mamah Arum. Dan aku memang tidak boleh mengulang sebuah kesalahan yang sama. Bahkan aku harus bisa menutup aib ayah dan mamah Arum. Aku yang sekarang sudah cukup umur untuk mengetahui itu justru menjadikan pengalaman ayahku dan mamah Arum sebagai pelajaran.
“Iya bunda, Sidiq akan ikuti nasehat bunda tercinta.” Jawabku sambil senyum.
“Idiih bahasa kamu sudah menunjukkan kamu pandai merayu, awas kalau kamu suka merayu gadis gadis teman sekolah atau teman satu pesantren kamu nanti.” Ancam bunda Fatimah padaku.
__ADS_1
“Gak lah bunda, saat ini wanita yang istimewa di hati Sidiq hanya Bunda dan Mamah Arum di samping juga adikku Nisa.” Jawabku.
“Aah kamu ini, bener bener menunjukkan sifat ayah kamu saja. Tapi bunda masih percaya kepadamu Sidiq. Bunda harap kamu bisa menjaga kepercayaan yang bunda berikan.” Ucap Bunda Fatimah yang membuat Sidiq jadi terharu.
Saat itu aku merasa sangat bahagia, bisa bersenda gurau dengan ayah bundaku. Meski dengan ayah hanya sebentar karena ayah mulai sibuk dari pagi bahkan baru pulang sebentar juga sudah keluar lagi membeli peralatan kerja.
Namun belum lama aku dan bunda berbicara banyak tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang datang membentak bentak.
“Warung apaan ini jam segini baru mau buka ? bikinin aku kopi manis cepat ?” Teriak orang itu membuat aku jadi agak emosi. Namun bunda tetap menjawab dengan tenang.
“Maaf pak, kita tidak menyediakan minuman matang. Tapi kalau bapak haus saya kasih air putih saja, soalnya kita hanya jualan bahan mentah saja. Tidak jualan minuman yang siap minum.” Jawab bundaku dengan sabar, sementara aku yang jadi emosi atas tindakan orang orang tersebut.
“Kebanyakan gaya kamu, warung kecil begini saja belagu. Apa mau warung ini aku hancurkan sekarang juga ?” kata orang itu.
Bunda tampak agak takut menghadapi orang yang kasar tersebut, sehingga membuat emosiku jadi memuncak. Melihat orang yang aku hormati dihina dan dimarahi sedemikian rupa.
“Maaf pak, bapak yang sopan kek ke ibundaku. Kan sudah dibilang baik baik kalo bundaku tidak jualan minuman matang. Hanya jualan bahan mentah saja !" bentak ku pada orang itu.
“Sidiq sudah jangan ikut ikutan biar bunda buatkan saja dari pada ribut.” Ucap bunda Fatimah, namun aku tidak rela karena bunda memang tidak jualan minuman seperti yang diinginkan orang itu.
“Jangan bunda, sekali dikasih hati orang semacam itu akan ngelunjak.” Ucapku pada bunda.
“Hei kamu bocah lebih baik kamu diam saja daripada nanti aku buat kamu tidak bisa bicara sama sekali.” Ancam orang itu padaku.
“Iya, aku memang masih bocah dan kamu orang tua yang sudah bau tanah. Harusnya kasih contoh yang baik pada bocah seperti aku ini, bukan malah ngajarin kurang ajar begitu. Kalo soal kurang ajar aku gak usah diajari bisa kurang ajar padamu.” Jawabku tak mampu menahan emosiku.
Tanpa aku duga datang lagi dua orang yang ternyata adalah teman satu komplotan. Tampaknya memang sengaja mau bikin onar orang orang itu. Baiklah, kalau memang itu yang mereka inginkan. Aku juga sudah siap melayani mereka.
“Maaf bunda, ijinkan aku mewakili ayah untuk melawan mereka. Bunda masuk ke rumah saja dulu, biarkan anak bunda ini yang akan memberi pelajaran adab kepada orang tua tersebut.” Kataku pada bunda.
“Hati hati kamu Sidiq, mereka bertiga kamu hanya sendirian.” Ucap bunda Fatimah, tampaknya juga sudah merasa kalau orang orang itu memang sengaja mencari keributan.
“Doakan saja Sidiq bunda.” Jawabku.
Mendengar ucapannya yang tidak senonoh aku benar benar hilang kesabaran. Bundaku yang aku hormati dihina seperti wanita nakal seperti itu. dan secara spontan aku jadi kehilangan kontrol, sehingga secara reflek tanganku lah yang bicara melayang memukul wajah orang tersebut.
“Jaga ucapan kamu orang tua tak tahu sopan.” Ucapku sambil melayangkan pukulan ke wajah orang tersebut. dan sekali pukul orang itu pun jatuh, sehingga dua orang kawan nya mau menyerang aku dengan menendang pinggangku. Namun aku secara reflek juga memutar tubuhku dan dengan gerakan yang lebih cepat menendang kaki orang itu yang sudah melayang. Tepat mengenai tulang keringnya hingga kesakitan dan jatuh. Sebelum keduanya dapat bangun maka orang yang ketiga pun segera aku kasih hadiah tendangan memutar menggunakan ujung tumit tepat mengenai iga orang tersebut. dan orang itu pun langsung jatuh dan seperti merasakan sesak nafas.
“Bagaimana, masih berani kurang ajar sama bundaku sekarang. Atau kalian masih penasaran dan mau melawan aku. Aku tunggu kalian bertiga bangun dan melawan aku.” Kataku yang melihat ketiganya hanya besar mulut saja sekarang untuk berdiri pun mereka sudah kesusahan.
“Sudah Sidiq, biarkan mereka pergi mereka bukan orang dekat dekat sini.” Ucap bundaku dari dalam warung.
Mendengar itu aku justru semakin penasaran, jangan jangan dia adalah musuh ayahku dan hendak membalas dendam dengan mengganggu ibundaku. Sehingga timbul keinginanku untuk menangkap mereka bertiga sampai ayah pulang. Siapa tau ayahku memang mengenal mereka atau salah satu diantaranya.
“Kamu cepat katakana siapa kalian atau kupaksa kalian bicara dengan kekerasan.” Ucapku pada ketiga orang tersebut.
Orang pertama yang kena pukulan di wajahnya itu secepat kilat melarikan diri. Sementara dua yang lainya masih agak susah untuk berdiri. Sehingga dengan cepat aku meringkus keduanya, dan memaksa mereka untuk mengakui apa tujuannya bikin onar di rumah ayah bundaku.
“Cepat ceritakan apa maksud kalian bikin onar disini saat ayahku sedang tidak ada di rumah.” Bentak ku pada dua orang yang tertinggal tersebut.
“Ampun, aku hanya disuruh orang yang lari tadi.” Jawab salah satunya.
“Siapa dia, dan apa hubungan dia dengan kalian dan apa masalahnya mengganggu keluargaku ?” Tanyaku kemudian.
Dua orang itu saling berpandangan, seperti kebingungan untuk menjawab. Sehingga aku terpaksa membentak dan mengancam mereka.
“Jika kalian tidak mau bilang maka kalian yang aku jadikan pelampiasan kemarahan ku. Karena kalian sudah menghina dan merendahkan ibundaku.” Ucapku pada kedua orang tersebut.
Dua orang tersebut masih saja belum ada yang mau menjawab, aku yang sudah sangat marah dengan penghinaan mereka pada bundaku jadi lepas kendali. Tanganku secara reflek menampar kedua orang tersebut bergantian. Dan saat aku hendak menamparnya lagi, tiba tiba ayahku datang dan berteriak.
“Hentikan Sidiq,,,, apa yang terjadi kenapa kamu kurang ajar dengan orang orang tua seperti mereka ?” ucap Ayahku dan segera turun dari motor menghampiri kami.
__ADS_1
Kemudian aku menjelaskan kronologis kejadian sampai aku ‘terpaksa’ berbuat kurang ajar pada orang orang tua tersebut.
Kemudian ayahku memandangi wajah kedua orang itu, dan dua orang itu hanya tertunduk tampak ketakutan melihat ayahku.
“Rasanya aku tidak asing dengan wajah kalian, siapa kalian ini sebenarnya dan apa tujuan kamu kesini ?” Tanya ayahku pada dua orang tersebut.
Dua orang itu tidak menjawab dan semakin ketakutan, sebenarnya aku ingin ikut bicara namun takut dengan ayahku. Pasti beliau tidak suka jika aku ikut campur saat beliau sedang berbicara.
“Kalian mau menjawab baik baik atau harus dengan cara lain aku memaksa kalian mau bicara.” Kata ayahku dengan kalimat datar tapi penuh wibawa. Sehingga dua orang itu pun semakin menggigil ketakutan.
Berbeda dengan ketika aku yang bicara dengan membentak, pengaruhnya justru dahsyat ketika ayahku yang bicara. Meski dengan nada datar tapi dua orang itu justru sangat ketakutan dan akhirnya mau berbicara juga.
“Iya, kami mengaku kami dulu adalah rombongan orang yang ikut menculik pak Sastro bersama Damar yang tadi kabur.” Ucap salah seorang di antaranya.
“Owh jadi ceritanya kalian mau balas dendam denganku ? kalau begitu kalian ini dulu adalah kaki tangan Rahardian dibawah pimpinan Maheso Suro ?” tanya Ayahku menyebut nama nama musuh besarnya dulu.
“Iya, kami yang dulu jadi kaki tangan Maheso Suro, tapi kami tidak tahu sekarang Maheso Suro dan pimpinan pimpinan lainya kemana.” Ucap seorang yang lain.
Ayahku terdiam sejenak, seperti mengingat sebuah peristiwa besar dahulu. Aku tidak tahu persis peristiwanya. Karena saat itu aku masih kecil dan saat itu posisiku diungsikan ke pondok abah Salim bersama mamah Arum.
“Kalau aku boleh bilang, sebaiknya kamu tinggalkan kehidupan kamu yang dulu. Hiduplah secara wajar, aku sendiri juga sudah tidak ingin hidup diwarnai kekerasan seperti dulu.” Ucap ayahku pelan dan datar.
Apa maksud dari perkataan ayahku aku juga tidak tahu persis, namun yang jelas aku melihat dua orang itu pun semakin tertunduk. Bahkan bukan sekedar rasa takut yang ada, akan tetapi ada semacam rasa penyesalan atau bersalah atau mungkin antah apa. Yang jelas aku melihat dua orang tersebut hampir menitikkan air mata nya.
Aku jadi merasa tidak enak hati, melihat dua orang tua yang barusan aku hajar tadi menangis. Bagaimanapun mereka adalah orang tua, jadi aku merasa tindakanku tadi agak kelewat batas juga, batinku.
“Kami sudah terlanjur basah, semua sudah kami korbankan saat menjadi pengikut Maheso Suro dahulu. Bukan hanya harta, bahkan kehormatan serta nyawa keluarga sudah kami korbankan. Sehingga kami masih terus mencari keberadaan Maheso suro untuk menagih janji. Namun sampai sekarang kami belum dapat menemukan dia.” Ucap salah seorang itu sambil meneteskan air matanya.
“Mengorbankan kehormatan serta nyawa bagaimana maksudnya ?” tanya Ayahku.
“Tidak jarang, istri bahkan anak gadis kami harus melayani ***** bejat kelompok Maheso Suro. Dan kami tidak dapat menolak itu, karena kami dijanjikan sebuah ilmu dan….” Ucapan orang itu terputus. Sementara yang satunya hanya menangis tertunduk tidak mampu mengatakan apa apa.
“Dan Apa lagi ?” desak Ayahku.
Kemudian orang itu melanjutkan ceritanya, bahwa mereka pengikut Maheso Suro waktu itu tidak dapat menolak jika istri atau anak gadisnya harus dipaksa melayani ***** bejatnya. Karena mereka para suami sebelumnya sudah di cekoki dengan wanita wanita penghibur. Dan jika menolak maka kelakuannya yang terekam kamera itu akan dibeberkan kepada anak istrinya. Aku sampai merinding mendengar itu, ternyata dulu musuh musuh ayahku adalah orang orang yang bejat begitu.
“Apakah kalian sudah mencari keberadaan Maheso Suro dan bertanya kepada keluarganya ?” tanya lanjut ayahku.
“Sudah, namun yang kami temui hanya anak istri Maheso Suro. Dan saat ini anak Maheso Suro juga masih mencari keberadaan ayahnya, atau mencari keberadaan kuburnya jika sudah meninggal.” Jawab orang tersebut.
“Maheso Suro punya anak ? apakah anaknya sekarang sudah besar dan mewarisi Ilmu Maheso Suro ?” Tanya ayahku.
“Iya dia juga mempunyai ilmu seperti milik ayahnya Maheso Suro, namun pembawaannya lebih kalem meski tetap saja bengis seperti ayahnya.” Jawab orang itu lagi.
“Di mana keberadaan keluarganya itu sekarang ?” ayahku terus mengorek keterangan tentang keluarga Maheso Suro, entah apa tujuannya.
Kemudian orang itu melanjutkan ceritanya, tentang anak Maheso Suro yang bengis namun berwajah manis. Dan justru lebih berbahaya dari Maheso suro yang sudah jelas berpenampilan sangar. Jika anaknya berpenampilan kalem, namun lebih bengis dari ayahnya.
Anak Maheso Suro yang bernama Sawung Panjalu sekilas anaknya sopan dan halus. Namun dia bisa membunuh orang sambil tersenyum dan tanpa ekspresi. Sampai mendapat julukan manusia berdarah dingin.
Aku merinding mendengarkan cerita orang tersebut, bagaimana jika suatu saat nanti harus berurusan dengan dia….???
...Bersambung...
Tetap mohon dukungannya
like
komen
dan
__ADS_1
Vote nya ya Reader tercinta.
...🙏🙏🙏🙏...