
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
🙏🙏🙏
Selamat mengikuti alur ceritanya
...........
Sidiq pun tak bisa menghindar lagi, Sidiq mengajak Ihsan untuk ikut ke pesantren Jafar. Ihsan sebenarnya agak ngeri juga, namun tidak berani juga menolak Sidiq. Maka berangkatlah Sidiq diantar Ihsan ke pesantren Al-Huda. Sidiq tidak takut dirinya kena hukuman, tapi takut jika Jafar dan Nisa yang jadi pelampiasan nanti….!
Sidiq pun berangkat menuju ke pesantren Al-Huda tempat Jafar dan Nisa adiknya mengaji.
…..
…..
Dengan pengawalan anak anak Santri Al-Huda Sidiq dan Ihsan terus melajukan motornya menuju ke Pesantren Al-Huda. Ada sedikit miss antara beberapa personil santri Al-Huda dengan Sidiq dan Ihsan Santri pondok Al-Hikam. Yang menyebabkan sedikit ketegangan, meskipun hanya beberapa Santri yang menjadi sensi akibat ulah Sidiq. Karena masih ada beberapa santri Pondok Al-Huda yang membawa dan menyangkutkan Pondok Pesantren Sidiq yaitu Pondok Pesantren Al-Hikmah.
Sebagian Santri Al-Huda pun termakan oleh hasutan santri lain yang punya modal tidak suka dengan Jafar dan Sidiq. Karena rasa kecemburuan sosial. Meski sudah diingatkan abah gurunya, namun ternyata nuraninya masih kalah dengan nafsunya.
Sifat dasar manusia yang kadang enggan mendengar kata hati dan lebih mendengarkan bisikan nafsunya. Dan ***** Amarah adalah salah satu cabang ***** manusia selain ***** lawwamah ( orang jawa menyebut ***** aluamah ) yang artinya ***** makan.
Setelah sampai di Pondok Al- Huda Sidiq pun segera dibawa menemui Muksin. Yang sedang dirawat oleh Kholis dan juga Jafar yang merasa ikut bertanggung jawab dengan ulah Sidiq kakaknya.
*****
*****
Flashback saat Muksin habis di pukuli Sidiq.
Author POV
Muksin yang kesakitan karena di hajar Sidiq, berusaha untuk mengobati lukanya pergi ke sebuah klinik. Karena kepala Muksin merasa pusing dan susah untuk berjalan setelah di rawat di klinik kesehatan. Muksin pun menelpon sahabatnya untuk minta dijemput.
Sahabat Muksin yang bernama Arsyad menjemput Muksin setelah menerima lokasi keberadaan Muksin. Dan setelah sampai Arsyad pun kaget melihat kondisi Muksin yang babak belur setelah dihajar Sidiq.
“Kamu kenapa kang kok babak belur begitu ?” Tanya Arsyad.
“Tadi ketemu kakaknya Jafar, dia dengar kalau aku kemarin memukul Jafar. Terus dia menghajar aku sampai seperti ini.” Jawab Muksin.
“Lah kang Muksin tidak melawan ?” tanya Arsyad.
“Tidak…!?” jawab Muksin.
“Itu namanya penganiayaan kang, bisa dilaporkan ke Polisi kalau begitu.” Kata Arsyad.
“Sudah gak usah, malah makin panjang urusannya nanti.” Jawab Muksin.
“Gak bisa begitu kang, kemarin kang Muksin memukul Jafar sekali saja kena Takzir, padahal Jafar kan gak papa. Masak sekarang dihajar begini diam saja.” Ucap Arsyad memprovokasi Muksin.
“Sudah biarin, kemarin abah guru sudah bilang mungkin Muksin juga harus gentian memaafkan kalau ada yang bersalah. Karena kemarin Jafar juga sudah memaafkan Muksin.” Jawab Muksin.
“Tapi kang Muksin kan sudah ditakzir kemarin. Dan Kang Muksin dengan Jafar itu satu Pesantren, kalau kakaknya Jafar kan beda pesantren. Jadi gak bisa saja seenaknya main pukul, namanya tidak menghargai pesantren kita. Beda dengan kang Muksin dan Jafar, itu urusan internal Pesantren makanya yang lain gak ikutan karena sama sama satu pesantren. Kalau kali ini kan beda kang Muksin.” Ucap Arsyad memprovokasi Muksin panjang lebar.
Muksin pun mulai goyan pendirianya terkena Hasutan Arsyad, Muksin juga mulai berpikir untuk bertindak.
“Terus apa yang akan kita lakukan sekarang ?” Tanya Muksin.
“Kita bicarakan nanti dengan teman teman di pesantren kang. Jujur banyak yang tidak suka dengan kakaknya Jafar, karena pernah bawa cewek ke pesantren kita. Mana pada gak pakai Jilbab lagi masuk Pesantren. Itukan sama saja melecehkan Pesantren kita kang.” Kata kata provokasi Arsyad. Membuat Muksin pun semakin menjadi panas.
Muksin yang tadinya bisa menerima kesalahan dan tidak membalas saat Sidiq memukuli dirinya kini jadi berubah pikiran. Menganggap Sidiq ikut campur urusan dalam Pesantren Al-Huda dan merasa tindakan Sidiq sudah kelewat batas. Kadang memang lidah itu bisa lebih tajam dari pedang, jika pedang sekali tebas melukai satu orang. Tapi lidah sekali ucap bisa melukai banyak orang.
Begitulah akibat dari tajamnya lidah, setelah sampai di Pondok Al-Huda pun Arsyad memprovokasi beberapa orang untuk menuntut balas perbuatan Sidiq. Dan beberapa orang yang terprovokasi itu kemudian mendatangi Jafar sambil teriak teriak agar Jafar keluar dari nDalem.
Jafar Pun akhirnya keluar dan menemui orang orang yang memanggilnya. Sementara orang orang dibawah komando Arsyad tersebut langsung menuduh Jafar sebagai tukang ngadu sampai Muksin dihajar Sidiq hingga babak belur.
“Tunggu kang, ini ada apa Jafar sama sekali gak mengadu ke mas Sidiq…!” Jawab Jafar.
“Sudah kamu ngaku saja, kan beberapa hari yang lalu kamu ke pesantren kakakmu. Pastinya kamu mengadu di sana. Kalau urusan sesame Santri Al-Huda jangan bawa bawa orang luar. Kalau kamu selesaikan sendiri dengan kang Muksin kami juga gak akan ikut campur. Kenapa harus mengadu ke kakak kamu segala ?” Teriak yang Lain.
Kemudian yang lain pun ikut berteriak menyalahkan Jafar, sehingga suasana ribut itu pun terdengar Vina dan juga Nisa.
“Itu kenapa anak anak pada ngerubutin Jafar kakak Kamu Nisa ?” Tanya Vina.
“Gak tahu mbak, coba kita lihat yuk Nisa takut mas Jafar kenapa napa nanti.” Jawab Nisa.
“Jangan NIsa, mbak Vina takut kita bilang kang Kholis saja yuk biar kang Kholis yang melerai mereka.” Jawab Vina.
__ADS_1
Sebenarnya Nisa sudah ikutan emosi melihat Jafar kakaknya di teriyaki banyak orang tersebut. Namun mengingat Vina yang takut kekerasan akhirnya Nisa mengikuti saja kemauan Vina menemui Kholis untuk menceritakan kejadian yang menimpa Jafar.
Kholis pun segera menengahi perdebatan Jafar dengan kelompok Arsyad tersebut. Dan Kholis menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kang Muksin dihajar kakaknya Jafar, ternyata diam diam Jafar mengadu kepada kakaknya masalah insiden dengan kang Kholis kemarin.” Ucap Arsyad.
“Tidak kang, Jafar tidak mengadu ke mas Sidiq kok.” Jawab Jafar.
Namun semua membantah keterangan Jafar tersebut, menganggap kepergian Jafar menemui Sidiq kemarin adalah untuk mengadukan kepada Sidiq jika Jafar di Pukul oleh Muksin dari belakang.
“Bohong,,, kamu ke tempat kakak kamu kemarin ngapain kalau bukan mau mengadu…!!!” teriak orang yang mengerubuti Jafar.
“Semua harap diam dulu, kalau kalian masih menganggapku sebagai lurah Pondok ini.” Ucap Kholis tegas.
Semua diam, tak ada yang berani membantah omongan Kholis sebagai santri Senior dan menyandang gelar Lurah Pondok Al-Huda tersebut.
“Jafar, tolong ceritakan apa tujuan kamu kemarin menemui Sidiq kakak kamu ?!?” kata Kholis.
“Begini kang, sebenarnya kakak ku mas Sidiq itu barusan terluka hingga kakinya patah. Dan kemarin aku kesana hanya untuk mengobati kakinya saja. Sama sekali tidak mengadu ke mas Sidiq tentang kang Kholis.” Jawab Jafar tetap tenang dibawah tekanan orang orang yang tidak suka padanya.
“Gak mungkin kang Kholis, masak baru kemarin patah kaki sudah bisa menghajar kang Muksin. Itu alasan Jafar saja kang.” Ucap Arsyad.
“Kamu bisa diam tidak kalau gak disuruh jangan ngomong dulu…!” bentak Kholis kepada Arsyad.
Kembali Arsyad terdiam, tak berani membantah.
“Bagaimana ceritanya kok tadi sudah Sehat kalau kemarin belum lama patah kaki Jafar.” Tanya Kholis.
Jafar kebingungan menjawab, karena tidak mungkin menceritakan perjalanan spiritual Sidiq yang dibantu eyang Jafar Sanjaya hingga kakinya bisa langsung sembuh dalam waktu singkat. Karena hal yang sifatnya ‘perjalanan Spiritual’ pribadi tidak bisa diceritakan pada orang lain. Bisa bisa malah menjadi bahan tertawaan dan tidak akan dipercaya.
“Kalau soal itu Jafar tidak bisa menjawab kang, tapi memang begitulah kenyataannya.” Jawab Jafar.
“Nah kan ketahuan sekarang kalau Jafar hanya berbohong, dia tidak bisa menjawab pertanyaan kang Kholis. Itu artinya dia hanya mengarang cerita saja.” Ucap Arsyad.
Dan diikuti oleh yang ain meneriakan jika Jafar adalah ‘Pembohong’
“Huuu,,, Al-Kadzab ( Pendusta )kamu Jafar…!!!” teriak semua orang bergantian.
Kholis pun jadi agak kesulitan untuk meredakan anak anak tersebut, sehingga mengambil sebuah keputusan.
“Begini saja, beberapa orang pergi ke pesantren Sidiq kakaknya Jafar. Ajak baik baik kesini untuk kita musyawarahkan bagaimana sebaiknya agar semua menjadi Clear.” Ucap Kholis.
“OK, kami akan kesana sekarang…!” jawab Arsyad.
“Terus siapa yang akan kang Kholis suruh kesana ?” Tanya Arsyad.
“Biar Khoirul dan beberapa anak yang akan aku seleksi nanti. Kalian bubar dulu, aku dan Jafar akan melihat kondisi Muksin dan menyuruh Khoirul ke pesantren Al-Hikmah memanggil Sidiq.” Kata KHolis datar.
Semua pun bubar dan Kholis didampingi Jafar melihat keadaan Muksin. Sementaar anak anak yang tadi sok peduli dengan Muksin tak satupun yang ikut melihat keadaan Muksin.
Saat tinggal berdua dengan Jafar, Kholis pun bertanya kepada Jafar.
“Aku percaya kamu tidak mengadu, karena kalau kamu membalas Muksin pun kamu lebih dari mampu. Tapi apa yang kamu bilang tadi malah menyudutkan kamu. Bahkan sulit diterima akal sehat, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sidiq kakak kamu itu ?” tanya Kholis.
“Itulah kang, Jafar juga bingung kalau tadi harus menjelaskan di depan mereka semua. Sebenarnya ini kaitanya dengan perjalanan spiritual Jafar dan mas Sidiq.” Jawab Jafar.
“Perjalanan spiritual yang bagaimana Jafar ?” tanya Kholis.
Kemudian Jafar menceritakan dari awal menjenguk Sidiq yang baru saja terluka karena pertempuran dengan salah satu Padepokan yang mempelajari Ilmu ilmu tertentu. Dan Sidiq tertipu hingga mengalami patah kaki. Kemudian Jafar menjenguk Sidiq dan melihat keadaan Sidiq kakaknya. Yang ternyata kakinya patah, kemudian Jafar menceritakan juga pertemuan Jafar dengan eyangnya Eyang Mustolih. Yang mengatakan jika Sidiq kakaknya akan dibantu diobati oleh eyang Jafar Sanjaya. Yang dulunya adalah Pendekar pilih tanding di masa hidupnya.
Kholis mendengarkan dengan seksama keterangan Jafar tersebut.
“Kalau seperti itu memang tidak mungkin diceritakan ke sembarang orang. Tapi gapapa lah, kebenaran pasti akan terungkap Jafar. Kamu gak usah sakit hati dengan ulah Arsyad dan kawan kawannya tadi.” Ucap Kholis.
“Iya kang.” Jawab Jafar Singkat.
Kemudian keduanya menjenguk Muksin yang babak belur dan tampak juga gigi depan Muksin tanggal satu. Sementara Khoirul mengajak beberapa teman menjemput Sidiq. Khoirul yang dianggap bisa berdiplomasi dan cukup sabar yang dipercaya Kholis. Karena kalau Arsyad cs yang berangkat hampir pasti akan ada keributan. Karena Kholis sudah sedikit tahu sifat Sidiq kakaknya Jafar.
“Maaf kang, kalau kang Muksin jadi korban mas Sidiq. Tap sungguh buka Jafar yang ngadu, Jafar juga tidak tahu dari mana mas Sidiq tahu.” Ucap Jafar.
Muksin hanya diam saja, tidak menjawab Jafar.
“Itu Jafar sudah menjelaskan, semua ini hanya salah paham saja. Jangan terprovokasi omongan orang.” Kholis pun ikut berbicara.
“Kalau yang membalas Jafar mungkin Muksin gak papa kang. Tapi kenapa kakaknya yang ikut campur ?” tanya Muksin ke Kholis.
“Memang kamu kemarin saat memukul Jafar juga pakai berpikir seperti itu ? Kenapa langsung memukul bukan mencoba bicara baik baik. kalau sekarang kamu mendapat perlakuan yang sama bagaimana ? Aku rasa sama seperti yang dirasakan Jafar.” Ucap Kholis.
“Tapi kan Jafar tidak sampai luka seperti aku kang ?” Bantah Muksin.
__ADS_1
“Ya kebetulan saja, kalau kemarin Jafar sampai luka memang kamu mau ngapain ?” Tanya Kholis.
Muksin pun tak mampu menjawab ucapan Kholis tersebut.
“Sudah kang, yang jelas Jafar minta maaf dan saat ini mas Sidiq juga baru dijemput kesini untuk Klarifikasi semuanya. Coba aku lihat dulu lukanya kang.” Ucap Jafar.
Kemudian memeriksa luka luka Muksin, dan Jafar memastikan jika itu hanya luka luar yang tidak berbahaya. Dan Soal gigi Muksin yang tanggal bisa diganti ke dokter gigi atau tukang gigi yang terdekat. Soal biaya Sidiq pasti mau
Tanggung jawab, Jafar meyakinkan Muksin.
Jafar dan Kholis pun menunggu kedatangan Sidiq untuk diajak bicara baik baik. dan mereka memilih menunggu di pintu gerbang pondok. Agar tidak keduluan Arsyad dan lainya yang sudah tersulut api amarah.
*****
Jafar dan Kholis menunggu kedatangan Sidiq dan rombongan Khoirul. Mereka berharap Khoirul bisa mengajak Sidiq dengan damai agar tidak timbul sengketa yang justru makin menambah panas suasana.
Sidiq dan Jafar yang sedang berdiri di pintu Gerbang pun menjadi perhatian para Santriwati. Termasuk juga Vina dan Nisa yang mengetahui adanya ribut ribut antara Jafar dan kelompok Arsyad tadi. Sehingga mereka jadi penasaran dan ingin bertanya kepada Jafar dan Kholis di pintu Gerbang.
Suasana yang terbuka membuat Vina tidak terlalu sungkan menemui Jafar dan Kholis dengan mengajak Nisa.
“Ada apa kang Kholis tadi kok pada ngerubutin Jafar ?” Tanya Vina ke Kholis.
“Biasa lah ada sedikit miss, tapi baru ditangani kok sekarang. Mudah mudahan saja tidak ada apa apa.” Jawab Kholis.
“Lah kok Jafar disini sama kang Kholis, memangnya ada yang ditunggu ?” Tanya Vina.
“Iya mas Jafar kamu kenapa sampai dikerubuti orang begitu ?” Sahut Nisa gak Sabar.
“Gak papa Nis, udah kamu sama Vina masuk saja sana nanti aku ceritakan.” Ucap Jafar kepada Nisa.
“Gak mau ah, ceritakan dulu baru Nisa dan mbak Vina pergi…!” jawab Nisa.
Kholis yang baru tahu sifat asli Nisa jadi agak heran.
“Dih Nisa kok begitu sama kakaknya, gak boleh dong Nisa.” Ucap Kholis.
“Soalnya mas Jafar kalau gak digituin gak mau cerita kang Kholis…!” jawab Nisa.
“Yasudah, aku kasih tahu tapi Nisa gak boleh nanya nanya lagi langsung masuk ke pesantren nanti.” Jawab Jafar.
“Iya iih Bawel banget mas Jafar nih.” Gerutu Nisa.
Kemudian Jafar pun menceritakan kejadian sesungguhnya, adanya kesalahpahaman antara Jafar, Muksin dan Arsyad. Dan sekarang Sidiq juga baru dijemput untuk klarifikasi.
“Gak mungkin lah kalau mas Jafar Ngadu kang Kholis, kalau hanya lawan Muksin Nisa saja juga berani ngapain mas Jafar sampai ngadu.” Kata Nisa emosi mirip Sidiq Kakaknya sifat Nisa.
“Nisa…! Gak boleh sebut kang Muksin dengan namanya saja. Pakai kang bisa gak…!” kata Jafar.
“Iya maaf maksud Nisa kang Muksin, namanya juga baru Emosi…!” jawab Nisa.
“Ya sudah kamu masuk sana sekarang sama mbak Vina.” Kata Jafar.
“Eeeh tunggu tunggu… kayaknya Vina jadi terlibat nih…!” ucap Vina.
“Maksutnya ?” Tanya Jafar dan Kholis bersamaan.
“Jadi Vina dicurhati Nisa, kenapa Jafar gak mau balas kang Muksin. Nisa sangat marah dan curhat banyak ke Vina. Tapi Vina juga gak mungkin nemui Jafar dong. Jadi Vina curhat ke kak Dina kakak Vina. Mungkin dari situ kakaknya Jafar jadi tahu. Karena kak Dina teman sekolah kakaknya Jafar juga.” Kata Vina menjelaskan.
“Owh,,, pantas… dan mungkin berita yang diterima Sidiq kakak Jafar sudah tidak sesuai kenyataan karena sudah menjadi pesan berantai…!” ucap Kholis.
“Aduh Vina jadi gak enak nih malah jadi biang onar namanya.” Ucap Vina.
“Gak papa mbak Vina, kayaknya orang seperti Mu.. eeh kang Muksin itu perlu ketemu juga sama orang seperti mas Sidiq. Biar ada pembanding gak asal bertindak saja.” Sahut Nisa.
Jafar memelototi Nisa adiknya yang justru mengompori Vina.
“Mbak Vina, lihat tuh mata mas Jafar, kalu sama adiknya malah galak tapi dipukul orang malah diam saja.” Kata Nisa membuat Jafar jadi tak kuasa menahan tawa dan senyum lepasnya. Dan barengan dengan Vina memandang wajah Jafar saat itu atas permintaan Nisa. “Duh Jafar, kamu makin tampak ganteng kalau senyum begitu…!” kata Vina dalam hati. Namun bibirnya tetap tersenyum juga, untung saja mereka mengira Vina tersenyum karena ucapan Nisa yang dianggap lucu.
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1