Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Pancamakarapuja vs Waringin sungsang 4


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Pancamakarapuja vs Waringin sungsang 4...


"Maheso Suro dan Munding Suro, sama sama pengecut. Apakah kamu sudah kangen dengan Maheso Suro, baiklah aku akan menghantarkan Kamu menemui Maheso Suro saat ini Juga.” Secepat Kilat Yasin menyerang Ki Munding Suro dan Gede Paneluh sekaligus dengan Jurus suci Hijaiyah tingkat ‘Ya’...!!!


 


Yasin memukulkan telapak tangan nya ke tanah sambil menahan dadanya yang sesak terkena pukulan jarak Jauh Ki Munding Suro.


Akibat yang dirasakan antara Gede Paneluh dan Ki Munding Suro jauh berbeda. Gede Paneluh terlempar jauh ke belakang sampai terbentur pohon Asam jawa hingga pingsan. Sementara Ki Munding Suro hanya terdorong Mundur beberapa Langkah. Meski terjatuh tapi dengan cepat bangkit kembali, dan siap menghadang serangan Yasin berikutnya.


“Hanya segitu kemampuanmu ? Sungguh mengecewakan, aku kira kemampuan kamu jauh di atas itu. Percuma aku capek capek datang kesini. Tahu kamu hanya begitu dua murid ku juga cukup untuk menghabisi kamu.” Kata Ki Munding Suro.


Yasin yang masih merasakan sesak di dadanya akibat pukulan Ki Munding Suro pun berdiri berhadapan langsung dengan Ki Munding Suro. Kini keduanya hanya berhadapan satu lawan satu sebagai musuh yang siap bertempur. “Apakah aku harus gunakan ilmu waringin Sungsang, tapi jika dia gunakan Ilmu Karang hanya itu yang bisa aku lakukan.” Kata Yasin dalam hati.


“Wahai orang tua, sebenarnya aku enggan bertempur denganmu. Mengingat kamu sudah sangat tua, sebentar lagi kamu pun akan menyatu dengan tanah tanpa harus bertempur denganku." Kata Yasin.


“Jangan bangga dulu bisa menjatuhkan aku dengan angin pukulan tadi. Aku sengaja mau tahu seberapa besar tenaga kamu. Belum tentu kamu dapat menjatuhkan aku lagi sekarang.” Ucap Munding Suro dengan sombongnya.


Hampir saja Yasin pun terpancing emosinya, karena sifat dasar Yasin yang tempramental. Namun Yasin menyadari jika lawan yang sedang dihadapi bukan orang sembarangan. Pengikut Bhairawa Tantra itu sangat kuat. Sehingga Yasin tidak mau gegabah, apa lagi Yasin sadar sedang terluka dalam oleh pukulan Jari Iblis milik Ki Munding Suro.


“Aku akui, ilmu Jari iblis mu memang sesuai dengan dirimu yang berkelakuan seperti Iblis. Pemuja Iblis dengan Pancamakarapuja. Pemuja Nafsu duniawi yang sangat dekat dengan Iblis.” Balas Yasin.


“Ha ha ha… Ilmu Jari Iblisku bukan Ilmu andalanku. Masih banyak ilmu yang lain, tapi baru dengan Jari Iblis saja sudah membuat kamu terpental. Mana mungkin aku harus mengeluarkan jurus Pamungkas.” Kata Ki Munding Suro.


Seandainya Yasin tidak terlindungi Lembu Sekilan mungkin dadanya sudah Jebol terkena ilmu Jari Iblis Ki Munding Suro. Masih untung Yasin bisa selamat karena terlindungi Lembu sekilan. Meski masih meninggalkan luka dalam bagi Yasin.


Namun Yasin yang sudah malang melintang dalam dunia persilatan sedikitpun tidak merasa gentar dengan Ki Munding Suro. Bahkan belum berniat menggunakan Ilmu Waringin sungsang yang memang belum pernah sekalipun dipergunakan. Yasin masih mencoba untuk tidak menggunakan Ilmu tersebut. mengingat akibat yang timbul, Khodam pun bisa tersedot kering apalagi manusianya. Yasin merasa ngeri sendiri untuk menggunakan ilmu tersebut.


“Sebaiknya kamu ingat umur Ki Munding Suro. Tidak ada orang yang akan kekal sehebat apapun. Pasti akan berakhir kembali menjadi tanah.” Ucap Yasin mengingatkan Ki Munding Suro.

__ADS_1


“Itu kamu yang akan menjadi Tanah, kalau aku sudah bosan menikmati dunia aku akan Moksa. (Menghilang sampai ke Jasadnya, puncak dari Bhairawa Tantra ) “ Kata Ki Munding Suro.


“Kamu hanya tertipu dengan semua itu, manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Moksa adalah tipuan Iblis yang kamu puja dengan Pancamakarapuja. Karena itulah tujuan Iblis menyesatkan manusia semacam kamu.” Jawab Yasin.


“Bojleng bojleng Dajal Laknat, anak kemarin Sore sudah berani menasehati orang tua seperti aku. Mending kamu ikut aku akan aku jadikan orang yang dihormati.” Jawab Ki Munding Suro.


“Naudzubillahi min dzalik, daripada mengikuti Iblis seperti kamu lebih baik mati berkalang tanah.” Kata Yasin yang mulai terpancing amarahnya.


“Baiklah kalau itu yang kamu minta, bersiaplah Jari Iblisku akan melubangi dada kamu sekarang ini.” Kata Ki Munding suro langsung menjentikkan Jarinya yang mengeluarkan sinar merah menyala dan mengarah ke dada Yasin.


Yasin menghindari dengan melompat ke samping kiri. Sehingga sinar itu hanya mengenai sebuah batu besar. Dan batu besar itu pun berlubang sebesar jari manusia. Yasin kaget melihat itu, “untung aku masih bisa menghindar. Orang ini memang tidak bisa dianggap enteng.” Kata Yasin dalam hati.


Sampai berkali kali Yasin menghindari serangan Ki Munding Suro, Yasin masih enggan mengeluarkan Ilmu waringin Sungsang. Sebisa mungkin Yasin menghadapi Ki Munding Suro menggunakan Jurus jurus  bertahan dari Jurus suci Hijaiyah. Hanya berharap Ki Munding Suro yang sudah sangat tua itu kelelahan dan menghentikan serangan.


“Mana ilmu kamu apa sudah kehabisan, keluarkan semua ilmu yang kamu punya sekarang juga. Dari pada kamu mati penasaran.” Ucap Ki Munding Suro tiba tiba menghentikan serangan.


“Baiklah orang tua, jika itu yang kamu minta dengan sangat terpaksa aku penuhi permintaan kamu. Tapi jangan salahkan aku jika tubuhmu nanti bukan Moksa tapi jadi kering dan mengecil terkena ilmu waringin Sungsang milikku.” Kata Yasin langsung mengambil gerakan jurus dan ilmu Waringin Sungsang.


Ki Munding Suro terkejut mendengar ilmu waringin Sungsang, tidak menduga jika Yasin memiliki Ilmu tersebut. Apalagi setelah Yasin bersiap dengan gerakan jurus Ilmu Waringin Sungsang. Ki Munding Suro pun sedikit cemas melihatnya.


“kurang ajar, tidak disangka orang ini mewarisi Ilmu tersebut. Apa boleh buat aku harus mencoba menahan dengan Ilmu Karang yang Aku miliki.” Batin Ki Munding Suro.


“Tidak aku duga kau ternyata memiliki ilmu tersebut, namun jangan bangga dulu hadapi juga Ilmu karang milikku. Waringin Sungsang kamu atau Ilmu karang ku yang malam ini bakalan musnah.” Ucap Ki Munding Suro.


Setelah keduanya sudah bersiap dengan ilmu Pamungkas masing masing. Yasin lebih memilih menunggu apakah Ki Munding Suro akan melanjutkan atau memilih kabur. Dan Ki Munding Suro sendiri sedikit ragu ragu untuk menyerang Yasin. Ki Munding Suro belum tuntas mengukur tenaga dalam Yasin, jika salah perhitungan sedikit saja maka habislah Ki Munding Suro yang akan terhisap seluruh kekuatannya sampai dengan jasadnya.


Sementara jika Yasin yang kalah maka Tubuh Yasin yang akan hancur menjadi debu dan arang terkena Ilmu Karang Ki Munding Suro. Ada keraguan pada diri keduanya, baik Yasin maupun Ki Munding Suro.


Namun keraguan Yasin bukan takut kalah, akan tetapi takut efek dari Ilmu Waringin Sungsang tersebut bisa mengakibatkan Ki Munding Suro mati kering. Sedangkan kemungkinan jika Yasin yang kalah dan hancur tidak begitu merisaukan Bagi Yasin. Jiwa kepasrahan yang dimiliki cukup untuk menerima resiko apapun dari mempertahankan kebenaran.


Sementara Ki Munding Suro ragu atau takut jika dirinya yang akan kalah. Wala bagaimanapun dalam posisi salah orang akan merasa takut mati. Berbeda dengan orang yang bertarung untuk kebenaran, mati bukanlah hal yang menakutkan.


“Jika kamu ragu, lebih baik urungkan niat kamu Ki Munding Suro. Sebelum semuanya terlambat, aku pun tak bermaksud membunuh kamu. Kecuali kamu memaksa aku menggunakan aji Waringin Sungsang ini.” Ucap Yasin memberi peringatan sekali lagi kepada Ki Munding Suro.


Namun Ki Munding Suro lebih dikuasai oleh ego dan bisikan Iblis. Sehingga Ki Munding Suro pun lantas melompat menyerang Yasin menggunakan Ajian Ilmu Karangnya. Sehingga Yasin pun dengan Terpaksa menyambut serangan Ki Munding Suro dengan Ilmu Waringin Sungsang, dan itu pun pertama kali Yasin menggunakan Ilmu Waringin Sungsang. Karena sudah tidak menemukan cara lain lagi selain menggunakan Ilmu tersebut.


Telapak tangan Yasin dan Ki Munding Suro masing masing mengenai tubuh lawan. Tangan kanan Yasin mengenai dada ki Munding Suro. Sementara tangan kiri Ki Munding Suro juga mengenai dada Yasin, tepat di bagian yang tadi terkena serangan Jari Iblis Ki Munding Suro. Sementara telapak tangan Kiri Yasin dan telapak tangan Kanan Ki Munding Suro saling beradu kekuatan.


Benturan  dua tenaga dalam yang besar tersebut menimbulkan suara yang sangat keras. Masing masing tubuh keduanya berguncang Hebat. Baik Yasin maupun Ki Munding Suro tengah berjuang hebat mengerahkan tenaga cadangan untuk memenangkan pertarungan tersebut.

__ADS_1


Dan suara benturan keras yang terjadi tersebut didengar oleh sena dan Tohari yang mencari keberadaan Yasin.


“Suara apa itu kang Tohari ?” Tanya Sena.


“Kita cari arah suara tersebut, jangan jangan itu benturan ilmu Waringin Sungsang dan Ilmu Karang yang sedang beradu. Kalau iya berarti Yasin dan Ki Munding Suro sedang bertempur di sana. Ayo kita bantu jangan sampai Yasin dicurangi oleh kelompok mereka.” Ucap Tohari berlari menuju sumber suara benturan tersebut.


Karena Lokasi di sawah dan perkebunan yang hanya disinari bukan yang belum purnama. Agak susah bagi Sena dan Tohari mencari keberadaan Yasin. Hanya mengandalkan sumber suara yang terdengar tadi.


“Sena Gunakan mata batin cari keberadaan Yasin. Aku yakin ada di sekitar sini.” Ucap Tohari juga sambil membuka mata Batin.


Akhirnya mereka pun berhasil menemukan Yasin dan Ki Munding Suro yang sedang berjuang hidup atau mati. Yasin yang mengalami luka dalam kurang maksimal dalam mengerahkan tenaga. Karena masih merasakan sesak di dadanya saat terkena jari Iblis Ki Munding Suro.


“Bagaimana Kang Tohari, apa perlu kita bantu mas Yasin ?” Tanya Sena.


“Kita harus hentikan pertarungan ini, karena belum saatnya Yasin melawan orang itu.” Jawab Tohari.


“Tapi bagaimana caranya kang Tohari ?” tanya Sena yang agak Panik.


Dan tanpa menunggu jawaban Tohari Sena melempar Ki Munding Suro dengan Golok yang Sena siapkan dari rumah, saat akan pergi menyusul Yasin.


Namun saat golok itu mengenai tubuh Ki Munding Suro, bukanya menancap tapi malah meleleh saat menyentuh tubuh K Munding Suro. Sena pun kehabisan akal untuk menghentikan pertarungan dua ilmu tersebut.


“Cari sesuatu untuk menghentikan mereka bertempur sebelum semuanya terlambat…!” Teriak Tohari sambil mencari sesuatu di sekitar lokasi pertarungan antara Yasin melawan Ki Munding Suro, antara  Waringin Sungsang melawan Ilmu Karang. Antara Pancamakarapuja vs Waringin Sungsang…!?!


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2