
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Tiba tiba tangan orang itu melayang dan hampir saja wajah Jafar. Sehingga Jafar hanya dapat menghindari serangan itu tidak sempat menangkis apa lagi memukul….!!!
“Ini orang main pukul saja, sudah dikasih tahu kalau aku gak ada hubungan khusus dengan kak Nadhiroh juga.” Kata Jafar dalam hati.
Meskipun Jafar memiliki keahlian olah kanuragan tapi dalam hal pengalaman bertarung dengan orang jalanan Jafar masih minim dibanding Sidiq kakaknya. Sehingga kaget ketika tiba tiba diserang begitu saja. Jafar berpikir seperti bertarung dalam turnamen yang diawali dengan aba aba baru mulai menyerang. Bahkan meskipun pernah juga bertarung di luar turnamen dengan penjahat juga gak asal serang saat baru bicara.
Jafar melompat mundur beberapa langkah.
“Kenapa mas memukul saya, kan sudah kubilang aku gak ada hubungan dengan kak Nadhiroh ?” Jafar yang di serang masih sempat mengajak bicara kepada lawannya.
“Nadhiroh sendiri yang bilang kalau dia pacaran sama kamu, dan juga beberapa orang yang bilang padaku.” Kata orang tersebut sambil tetap menyarangkan pukulan ke arah Jafar.
Jafar pun hanya menghindari pukulan orang tersebut tanpa memberikan perlawanan sedikitpun. Lain halnya jika itu Sidiq, tentu sudah balas menyerang. Soal ada yang harus dibicarakan itu soal nanti, kalau ada yang menyerang maka harus dibalas. Sampai Sidiq mengatakan jika Jafar itu terlalu lembut, sampai diserang beberapa kali pun hanya menghindar tidak berusaha membalas sedikitpun.
Perkelahian di tempat umum itu pun jadi perhatian beberapa orang yang ada. Dan sebagian mendekat ada yang sekedar melihat ada yang justru takut dan sembunyi. Sehingga Jafar jadi malu disaksikan orang saat menghadapi musuh yang menyerangnya.
“Aduh kenapa malah jadi tontonan orang banyak begini” Batin Jafar sambil menghindari tendangan orang yang jauh lebih dewasa darinya. Jafar merasa malu sekali dirinya diserang habis habisan oleh orang tersebut.
Sementara orang yang menyerangnya justru semakin marah dan semakin bersemangat menyerang Jafar tanpa malu menyerang anak yang usianya jauh di bawahnya.
“Ada apa ini, kenapa hanya pada diam ada anak yang diserang begitu.” Ucap seseorang yang baru datang.
“Tidak tahu. Tahu tahu mereka berkelahi.” Jawab salah seorang yang sedang melihat.
“Tunggu mas, itu kan masih anak anak kenapa kamu serang begitu ?” tanya orang itu pada lawan Jafar.
“Diam kamu, gak usah ikut campur urusanku…!” kata orang itu berhenti menyerang Jafar balik mengancam orang yang mau melerai tersebut.
Begitu melihat wajah orang yang menyerang Jafar orang itu jadi ciut nyalinya. Karena orang tersebut memang terkenal Preman yang kasar dan sering main pukul pada siapapun. Dan orang itu pun memilih diam saja.
Dan orang itu kembali menyerang Jafar, yang dari tadi hanya terus menghindar saja.
“Hei bocah, kalau kamu memang tidak ada hubungan dengan calon istriku kamu harus pergi dari pesantren itu.” Ucap orang tersebut sambil memukul ke arah Jafar.
“Saya di sana ngaji bukan mau cari pacar.” Jawab Jafar sambil menghindari serangan orang tersebut.
Orang orang yang menonton pun jadi heran karena tidak satupun pukulan Preman tersebut bisa mengenai Jafar. Bahkan dengan mudah Jafar dapat menghindari semua serangan Preman yang namanya Bagas tersebut.
“Siapa anak itu, gerakannya gesit tapi tidak mau membalas dari tadi.” Tanya salah seorang penonton.
“Anak pesantren Al-Huda kayaknya mungkin takut mau membalas karena Bagas kan terkenal kejam.” Jawab yang lain.
Awalnya orang yang menonton itu khawatir dengan Jafar, namun melihat Jafar dengan mudah menghindari semua serangan orang tersebut mereka jadi kagum. Sayangnya mereka malah menganggap itu sebuah tontonan yang menarik sehingga mereka pun hanya menonton saja. Tak satupun berusaha untuk melerai.
Sementara Jafar justru semakin malu jadi tontonan orang banyak. Dan berniat kabur menghindari bentrokan dengan orang tersebut. Namun agak susah menembus kerumunan orang yang menonton. Sehingga Jafar berpikir untuk pura pura kalah dan terkena pukulan biar orang itu puas dan menghentikan serangannya.
Jafar Pun membiarkan tendangan orang itu mengenai tubuhnya dan pura pura terpental jatuh. Namun Jafar salah perhitungan, orang itu tidak menghentikan serangannya. Bahkan malah makin bernafsu untuk menyerang Jafar lagi.
“Katanya kamu pengajar beladiri di pesantren, ternyata Pesantren kamu gak ada apa apanya.” Ucap Bagas sambil kembali menyerang Jafar dan hendak menendang Jafar yang sudah terjatuh.
Jafar yang mendengar ucapan Bagas yang menyinggung nama Pesantren jadi marah. Dengan gerakan cepat Jafar bangkit menghindari tendangan orang tersebut.
“Kenapa kamu bawa bawa Pesantren juga ?” tanya Jafar dengan nada tinggi.
“Kenapa memang kamu gak terima terus mau apa sekarang.” Bentak Bagas.
Jafar yang sudah jadi agak marah tadi mendapat jawaban seperti itu bertambah marah.
“Pantas kak Nadhiroh gak mau sama kamu, karena kamu ternyata gak punya aturan.” Bentak Jafar dengan nada marah kali ini.
“Kurang ajar kamu, belum tahu siapa Bagas sekarang aku benar benar akan menghajar mu.” Teriak Bagas dan siap untuk menyerang Jafar.
Para penonton pun kemudian jadi makin takut dan khawatir mengira Jafar akan jadi bulan bulanan Bagas. Namun mereka semua jadi tercengang dengan apa yang terjadi sesudahnya.
Bagas yang dengan segala kemarahannya itu menyerang Jafar dengan kekuatan penuh. Namun dengan mudah Jafar menghindar ke samping, dan kali ini Jafar membalas dengan memukul pinggang Bagas dengan tangan kanannya. Pukulan Jafar cukup keras mengenai pinggang Bagas Preman yang ditakuti itu. Bagas Pun mengeluarkan suara kesakitan dan mengumpat.
“Bang**t rupanya kamu sudah bosan hidup.” Ucap Bagas sambil kembali bersiap menyerang Jafar kembali. Dan kali ini Jafar sudah tidak sungkan dan malu lagi. Meskipun di tonton orang banyak. Jafar mengambil jurus untuk menghadapi Bagas. Sehingga Bagas yang tahu jika kali ini Jafar siap menyerang semakin marah dan merasa gengsi kena pukulan Jafar tadi. Bagas pun mengincar kepala Jafar dengan tendangannya.
Salah perhitungan Bagas karena Jafar bisa membaca gerakan Bagas yang akan menendang kepalanya. Sehingga saat Bagas sudah mengayunkan Kakinya Jafar dengan tenang menangkis kaki Bagas dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menghantam dada Bagas hingga Bagas terjatuh dan kesulitan untuk bangun. Karena dada Bagas sangat sakit seperti terkena batang besi sampai susah bernafas.
__ADS_1
Bagas pun hanya dapat memegangi dadanya yang terkena pukulan Jafar. Jafar kemudian mendekati Bagas, hingga Bagas ketakutan karena masih belum bisa bangkit. Namun Jafar bukan mau menyerang Bagas, hanya berkata memberi sebuah peringatan.
“Tadi aku gak melawan, tapi ketika kamu meremehkan pesantren terpaksa aku melawan. Lain kali kalau mau bicara dipikir dulu.” Kata Jafar kemudian meninggalkan Bagas yang masih belum dapat bangkit tersebut.
Jafar pun segera meminta tolong ojek untuk diantar ke pesantren, tanpa melihat Bagas lagi. Dan orang orang yang menonton tadi jadi heran. Jafar yang masih tergolong anak anak itu mampu menjatuhkan Bagas hanya dengan sekali serangan saja. Dan membubarkan diri membiarkan Bagas yang masih kesakitan berusaha bangkit.
Sementara Bagas yang masih kesakitan itu berusaha keras bangkit, dan akhirnya bisa berdiri. Kemudian berjalan meninggalkan tempat itu meski dengan memegangi dadanya terasa kesakitan.
“Sialan, aku dipermalukan oleh anak anak di depan orang banyak. Aku tidak terima harus bisa membalas dendam suatu saat.” Gerutu Bagas yang jadi semakin dendam dengan Jafar.
*****
Sementara Jafar sudah sampai di pesantren, kemudian segera mandi dan ganti baju menunggu adzan Maghrib untuk membatalkan puasa dan melaksanakan sholat maghrib.
“Kadang mas Sidiq juga ada benarnya, kalau aku ini terlalu lembut. Untuk menghadapi orang orang tertentu memang harus bersikap seperti mas Sidiq.” Kata Jafar dalam hati.
“Udah pulang kang Jafar ?” tanya Nia kepada Jafar.
“Iya ning Nia, sudah selesai mandi juga.” Jawab Jafar agak salah tingkah dengan Nia.
“Kita bicara di teras sebentar yuk, Nia mau ngobrol sebentar.” Kata Nia.
“Aduh maaf Ning Nia, Jafar nunggu adzan maghrib mau buka puasa dulu.” Jawab Jafar.
“Gampang itu, kita buka puasa di teras saja Nia juga puasa kok.” Sahut Nia. Jafar pun tidak mampu menolak ajakan Nia. Padahal Jafar malu malu kalau ngobrol di teras, karena ucapan Vina yang mengatakan Jafar suka sama Nia. Meskipun Jafar pun menaruh rasa pada Nia, namun sebatas suka tidak mau mengutarakan karena merasa tanggung jawab menjaga Nia.
“Baiklah ning Nia.” Jawab Jafar.
“Bisa gak sih gak usah pakai ning panggilnya, Nisa adik kamu saja ku suruh panggil mbak saja.” Ucap Nia.
“Terus Jafar harus panggil apa ?” tanya Jafar.
“Ya panggil nama saja lah gak usah pakai ning.” Sahut Nia.
Jafar tidak menjawab hanya berjalan menuju ke teras rumah disusul oleh Nia yang kemudian keduanya duduk di kursi teras rumah Nia.
Saat Jafar duduk memandang lurus ke depan tiba tiba melihat beberapa santriwati yang lewat di depan teras. Rupanya beberapa Santri yang berpuasa baru saja membeli sesuatu untuk buka puasa juga. Dan di antara mereka juga ada Vina yang senyum senyum saja melihat  Jafar duduk bersama Nia di teras depan rumah Nia.
“Siapa itu kang yang senyum senyum tadi,jangan jangan kang Jafar sudah berani pacaran di dalam pondok ?” tanya Nia.
“ Bukan ning….!” Sebelum Jafar selesai dipotong oleh Nia.
“Maaf lupa, dia itu teman satu kelas Jafar kok bukan pacar.” Jawab Jafar. Dan Jafar jadi ingat jika Vina itu ternyata adik Lita teman sekolah Sidiq kakaknya. Dan Jafar berniat menceritakan pertemuannya dengan Lita ke Vina besok saat berangkat sekolah.
“Awas kalau berani pacaran aku laporkan abah, disuruh jagain Nia agar gak pacaran malah pacaran sendiri nanti Ta’zirnya ( Hukuman ) berat…!” ucap Nia.
“Iya Jafar juga gak mau pacaran dulu kok.” Jawab Jafar.
“Ini ning the manisnya untuk batalkan puasa nanti.” Kata pengasuh Nia dari kecil.
“Iya bi, makasih kok Cuma satu kan buat kang Jafar juga.” Kata Nia.
“Owh maaf, bibi kurang dengar tadi ning, saya buatkan satu lagi.” Kata pengasuh Nia.
“Gak sah bi, saya batalin pakai air putih saja cukup ini sudah bawa air mineral.” Kata Jafar.
“Jangan bandel, Sunahnya berbuka itu dengan yang manis. Atau kamu merasa cukup melihatku yang manis ini saja buat batalin puasa.” Ucap Nia dengan kalimat canda berniat meledek Jafar.
Tapi Jafar justru jadi salah tingkah, tidak bisa menjawab kata kata Nia. Sementara Nia tertawa lepas bisa membuat Jafar tidak mampu bicara.
“Ha ha ha… Kamu lucu kalau begitu seperti orang linglung hanya bengong saja.” Kata Nia.
Jika bukan Jafar tentu sudah seperti mendapat lampu hijau untuk menembak Nia yang memang manis itu. Apalagi memang memendam perasaan suka seperti Jafar. Namun Jafar sudah belajar mengendalikan hawa ***** dengan melakukan puasa daud ( Sehari puasa sehari tidak ) sehingga ucapan Nia hanya dianggap ledekan saja oleh Jafar.
“Malu kalau didengar teman teman dikira malah kasih contoh yang gak baik.” Kata Jafar.
“Gapapa lah, kan kamu sudah dijadikan pengawas ku saat ini mana ada yang berani menuduh kita pacaran.” Sahut Nia. Namun justru Jafar berdesir ketika Nia mengatakan seperti itu, karena Jafar menyadari jika dirinya memang suka dengan Nia sejak pandangan pertama dulu.
“Masih sepuluh menit lagi magribnya, Jafar sekalian ambil wudhu dulu saja.” Kata Jafar bermaksud meninggalkan Nia untuk menghilangkan getaran perasaan yang ada. Namun Nia justru menarik tangan Jafar agar kembali duduk.
“Nanti saja sekalian, disuruh nemenin Nia saja kok susah amat sih.” ucap Nia.
Jafar yang kaget dan malu dengan apa yang dilakukan Nia itu jadi semakin berdebar. Jafar yang tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan Mahram itu jika tidak darurat. Malah Nia seenaknya memegang dan menarik tangan Jafar.
 “Aduh, kok narik tangan Jafar, kalau dilihat orang bisa dianggap ngasih contoh gak baik nanti. Kita kan bukan Mahram.” Kata Jafar.
“Eeeh… iya maaf Nia khilaf tadi soalnya sudah anggap kang Jafar seperti kakak kandung Nia sendiri. Maaf Nia gak bermaksud aneh aneh kok.” Jawab Nia menyesali kekhilafannya.
Mendengar itu Jafar jadi merasa ada yang mengganjal, “ternyata Nia hanya menganggap aku sebagai kakaknya, aku saja yang agak GR.” Kata Jafar dalam hati. Meski tidak berani mengutarakan tapi dalam hati kecil Jafar tidak dapat memungkiri jika menyukai Nia.
__ADS_1
Sehingga Jafar hanya diam saja tidak bisa berkata apa apa. Begitu juga dengan Nia, yang merasa bersalah menyentuh tangan Jafar jadi agak sungkan untuk berbicara. Sehingga keduanya pun hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
*****
Flashback saat Vina melihat Jafar dan Nia duduk di depan teras
Nia POV
“Aku gak akan cemburu melihat kamu sama ning Nia Jafar, bahkan jika kamu dan ning Nia saling suka sekalipun. Karena Vina sudah beberapa langkah lebih maju dari gadis lain yang menyukai kamu.” Aku berusaha menenangkan hatiku meski jujur sebenarnya juga tetap cemburu. Tapi aku yakin Jafar tetap akan jadi milik Vina nanti.
Jika yang lain belum paham siapa kamu sesungguhnya, Vina sudah tahu seluruh keluargamu bahkan sampai kepada hubungan kamu dengan kakak kamu yang namanya Sidiq. Masa lalu ayah kamu dengan mamahnya Sidiq bahkan lebih dari itu.
Aku jadi melamun sendiri membayangkan semua tentang Jafar. Laki laki yang dianggap kaku dan kurang bisa bergaul. Tapi bagi Vina kamu adalah lelaki langka yang susah didapatkan saat ini. pantas saja abi Ali dan umi Arli dulu berkeinginan menjodohkan kita saat baru pertama kali mereka melihat kamu. Vina yang awalnya gak respek padamu pun akhirnya jadi suka sama kamu. Semoga saja usaha dan harapan Abi dan umi bisa jadi kenyataan. Vina gak akan seperti gadis lain yang berlomba merebut simpati dari kamu. Vina serahkan usaha lahiriyahnya pada abi dan umi saja, karena abi dan Umi vina lebih tahu langkah apa yang harus ditempuh.
“Hai Vin, lagi melamun ?” tanya Aya kepadaku.
“Gak lagi ingat orang tua aja, kamu udah siapin buka puasa ?” tanyaku pada Aya.
“Udah dong, kamu sendiri ?” tanya Aya.
“Aku kan lagi cuti gak ikutan puasa.” Jawabku.
“Owh iya aya lupa Vin. Eeh Vin kamu merasa ada yang aneh gak sih dengan ning Nia dan Jafar kayaknya mereka kok….!” Sebelum Aya selesai sudah aku stop.
“Jangan di terusin Aya, gak baik kamu lagi puasa kok meng-ghibah.” Kataku pada Aya yang nama lengkapnya Hidayatul Rahmah.
“Up’s astaghfirullah Aya lupa Vin, maklum mulut ini suka keceplosan. Habis Jafar kan baru jadi trending Topik saat ini.” ucap Aya.
“Apaan kali trending topik kayak media sosial aja.” Kataku ke Aya.
“Eeeh beneran kok, tapi ada lagi yang baru sekarang bukan hanya Jafar….!” Kembali aku tutup bibir Aya dengan dua jariku agar tidak melanjutkan bicara.
“Kamu lagi puasa, jangan hanya menahan lapar dan haus saja. Tapi jaga juga ucapan, tinggal beberapa menit lagi juga sayang kan puasa kamu nanti.” Kataku pada Aya.
“Gak kok, ini bukan ngomongin kekurangan orang ?!?” protes Aya.
“Ini tentang Jafar yang punya kakak ganteng dan mirip Jafar lebih humoris enak diajak ngobrol.” Ucap Aya.
“Kok kamu tahu ?” tanyaku penasaran. Apakah ada yang tahu lebih banyak dari aku tentang Jafar, bisa gawat kalau begitu.
“Ciye jadi kepo juga kan akhirnya ?” kata Aya.
“Siapa yang kepo, aku kan hanya tanya kok kamu bisa tahu bukan tanya tentang kakaknya Jafar.” Jawabku. Dalam hati aku berkata kalau iyu sih aku juga sudah tahu dari kemarin kemarin.
“Iya berita sudah menyebar, bahkan tadi ada yang menemui kakaknya Jaafar juga katanya.” Ucap Aya.
“Hah… menemui kakaknya Jafar, ngapain menemui kakaknya Jafar ?” tanyaku Heran, segitunya mereka dalam mengikuti rasa penasarannya kepada Jafar dan kakaknya.
“Pura pura betulin Hp, kan kakaknya JAfar sambil kerja di counter HP.” Kata Aya.
Aku jadi kaget, kok sudah sampai segitu mereka menyelidiki keluarga Jafar. Wah bisa bisa kalah bersaing nih Vina. Tapi gak lah Vina percayakan Abi dan Umi saja, Vina akan ikuti nasehat beliau untuk tetap menjaga martabat wanita muslimah. Vina gak akan ikut ikutan mereka, Vina pasrah saja jika memang Jafar jodoh Vina pasti akan ada jalan.walaupun bukan Vina Yakin akan ada pengganti yang baik juga.
“Kok kamu bengong begitu Vina ? Mau ikutan nemuin kakaknya Jafar juga ?” goda Aya.
“Diih ngapain, gak ah Vina gak mau begitu. Dikejar Pun kalau bukan jodoh gak akan dapat.” Kata Vina.
“Iya memang Vina, tapi kalau ngejar gak dapat itu bukan jodoh tapi kalau gak ngejar didapat orang lain itu salah sendiri.” Kata Aya sambil tertawa.
Vina jadi agak bimbang mendengar ucapan Aya, hanya bercanda tapi kok agak logis juga ya. Kalau dikejar gak dapat itu bukan jodoh, kalau gak dikejar didapat orang lain namanya salah kita sendiri ? Apa benar begitu ya, apa Vina juga harus….? Ah gak gak boleh begitu, Vina harus lebih percaya nasehat abi dan umi daripada ocehan Aya yang gak jelas. Aah mikir apa aku ini, kok malah kena pengaruh Aya. Apa Vina perlu curhat ke seseorang ya, tapi siapa ?.
Aku jadi termenung, Abi dan umi saat ini masih di Turki Vina harus curhat sama siapa lagi. Apa Vina harus menemui kak Dina ? udah lama juga Vina gak ketemu, tapi Vina kurang yakin sih sama kak Dina. Dia sayang Vina tulus atau terpaksa saja, mengingat aku dan dia beda ayah.
“Astaghfirullah, bukankah ini berarti aku suudzon sama kak dina.” Kataku dalam hati.
Kak Dina, maafkan Vina sudah suudzon denganmu apa kak Dina juga kangen sama Vina ???
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1