
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Pertempuran panjang Sidiq & Jafar Vs Dalang Anyi Anyi...
Yasin dan Sena sedikit lega, karena Jafar tidak mengalami cedera akibat benturan keras tersebut. Namun saat ini Jafar tak lagi memegang Golok Hitam. Padahal untuk menghadapi Dalang Anyi Anyi Jafar harus bersama dengan Sidiq, tidak boleh sendirian. Namun Sidiq belum juga muncul, sehingga Yasin kembali merasa was was.
“Sena, kamu cobalah cari Sidiq. Biar Sidiq yang gunakan Waringin Sungsang, dan Jafar gunakan Stambul Al-Quran. Mereka berdualah yang akan mampu menahan gempuran Dalang Anyi Anyi,” kata Yasin.
“Apa Mas Yasin tidak bisa bantu Jafar?” tanya Sena.
“Kamu perlu tahu, aku dulu bisa memenjarakan Raja Khodam itu dengan sarana Gong Simolodro. Gong itu hanya pinjaman saja, saat ini entah di mana,” jawab Yasin.
Sena terdiam, memang dulu waktu Yasin melawan Raja Khodam tersebut membawa Gong Simo lodra dan dibantu juga oleh tokoh tokoh lain. Tapi kali ini, tak ada lagi Tetua yang membantu. Tidak juga membawa Senjata sebagai alat melawan. Murni mengandalkan keyakinan dan kesungguhan dalam melawan Raja Khodam tersebut.
“Baiklah, Sena akan mencari Sidiq sekarang,” Sena pun segera mencari Sidiq.
Yasin mendekati Jafar, untuk memberikan semangat kepada Jafar.
“Sambil menunggu Sidiq, Ayah akan mendampingimu,” kata Yasin.
“Ayah jaga kesehatan Ayah saja. Insya Allah Jafar bisa bertahan,” jawab Jafar.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…aku melihat keraguan pada diri kalian. Aku tawarkan pada kalian untuk menyerah saja. Sebelum kalian menyesal nanti. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…!” Dalang Anyi Anyi pun mempengaruhi Yasin dan Jafar.
“Tidak…kami akan tetap berpegang teguh dengan keyakinan kami. Tidak akan sedikitpun kami mundur, kezaliman akan hancur ketika kebenaran itu datang,” jawab Yasin.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…kebenaran itu aku. Karena akulah yang akan menentukan mana yang benar mana yang salah. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…” ucap Dalang Anyi Anyi.
“Yah, tidak usah berkepanjangan. Kita lawan saja sekarang, sambil menunggu Mas Sidiq datang,” kata Jafar.
“Pakailah Stambul Al-Quran, aku akan pakai Waringin Sungsang untuk mencoba bertahan,” kata Yasin.
Jafar pun segera memusatkan konsentrasinya, sedetik kemudian tampak di hadapan Jafar ayat ayat Al-Quran yang berupa ayat ayat doa perlindungan. Sementara Yasin pun bersiap menghadapi serangan Dalang Anyi Anyi.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…tak ada gunanya kalian menggunakan itu semua. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…” ucap Dalang Anyi Anyi.
Beberapa saat kemudian Dalang Anyi Anyi pun segera mempersiapkan kembali Ilmu Gundolo Sosro. Langit di sekitar tempat itu pun terasa semakin gelap, sudah menyerupai malam hari.
Dalang Anyi Anyi kembali menyerang Jafar dan Yasin dengan bertubi tubi. YAsin pun harus berjumpalitan menghindari sambaran kilat yang berasal dari Dalang Anyi Anyi. Yasin benar benar harus mengerahkan tenaga Ekstra untuk bisa menghindar dari sambaran kilat tersebut.
“Bertahanlah Yah, semoga saja Mas Sidiq cepat datang,” ucap Jafar.
Jafar sendiri mampu berlindung dari serangan Dalang Anyi Anyi. Namun Jafar khawatir dengan keselamatan Ayahnya. Karena Ayahnya harus berjuang untuk menghindari setiap serangan Dalang Anyi Anyi yang semakin lama semakin kuat.
Saat Dalang Anyi Anyi kembali melemparkan Ilmu Gundolo Sosro ke arah Yasin, tiba tiba Sidiq datang. Yasin yang masih belum pada posisi sempurna, terhindar dari serangan Dalang Anyi Anyi. Sidiq berhasil melindungi Ayahnya.
Sidiq pun secara aktif juga menyerang Dalang Anyi Anyi, sehingga Dalang Anyi Anyi kaget menerima serangan mendadak dari Sidiq. Sementara Sidiq langsung kembali bersiap menerima serangan balik dari Dalang Anyi Anyi.
Bersama Jafar Sidiq melawan Dalang Anyi Anyi, dengan memadukan kekuatan keduanya. Kali ini Dalam Anyi Anyi pun dibikin repot oleh kedua anak Yasin tersebut. Beberapa kali pula Dalang Anyi Anyi merasakan hebatnya gempurang dari kedua anak Yasin tersebut. Meski tidak sampai terdesak, bahkan juga masih terus melakukan serangan balik pada Sidiq dan Jafar.
Pertempuran terlihat seimbang, karena Jafar dan Sidiq merupakan pasangan yang seimbang melawan Raja Khodam tersebut. Namun jalanya pertempuran semakin lama semakin sengit, kedua belah pihak saling menekan dan saling menggempur. Secara bergantian mereka saling desak satu sama lain.
“Kayaknya pertempuran bisa berjalan sangat lama jika seperti ini,” kata Sena yang melihat jalannya pertempuran tersebut bersama Yasin.
“Iya, belum tampak siapa yang unggul. Kenapa Sidiq dan Jafar belum juga mampu mendesak Dalang Anyi Anyi?” ucap Yasin.
“Doakan saja Mas, mungkin mereka juga baru mencari cara untuk mendesak Raja Khodam tersebut,” jawab Sena.
“Aku sedikit khawatir saja, karena mereka berdua masih muda. Jika terpancing emosi darah mudanya, justru membahayakan mereka berdua,” jawab Yasin.
“Semoga saja tidak sampai seperti itu Mas,” kata Sena.
__ADS_1
Sidiq dan Jafar memang sedang mencari cara untuk mendesak Dalang Anyi Anyi tersebut. Keduanya belum menemukan titik lemah dari Dalang Anyi Anyi tersebut. Bahkan, semakin lama kekuatan Dalang Anyi Anyi dirasa semakin kuat saja.
“Mas, Gunakan juga seluruh jurus Ninja. Gunakan Shuriken yang dilapisi doa,” kata Jafar memperingatkan Sidiq.
“Baik, akan aku coba,” jawab Sidiq bersiap melemparkan Shuriken dengan dilapisi bacaan doa.
Jafar kemudian membaca doa yang terpampang di hadapannya dengan keras. Agar Sidiq bisa menirukan. Karena Hanya Jafar yang mampu melihat bacaan Ayat Al-Quran yang merupakan bias dari Stambul Al-Quran yang dibawanya.
Pertempuran pun menjadi semakin seru, keduanya semakin meningkatkan kekuatan dan mengatur strategi untuk melumpuhkan lawan. Hanya saja kendala bagi Sidiq dan Jafar adalah Sosok Ki Ajar Panggiring yang disusupi Dalang Anyi Anyi tersebut bukan lagi manusia. Mungkin hanya jasad murni Ki Ajar Panggiring yang sudah mati karena jatuh ke jurang. Sehingga seluruh gerakannya dikendalikan oleh Dalang Anyi Anyi.
Pertempuran Sidiq dan Jafar melawan Dalang Anyi Anyi semakin seru. Masing masing menaikan kemampuan dan kekuatan untuk bisa melumpuhkan atau menjatuhkan lawan. Namun kedua belah pihak belum ada satupun yang kelihatan unggul. Masih saling desak satu dengan lainya, sehingga Yasin dan Sena pun semakin tegang. Kemudian Yasin kembali meminta Sena untuk mencari bantuan dari Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin.
Sena pun segera meninggalkan lokasi pertempuran mencari bantuan. Siapapun yang sudah tidak bertempur diajak Sena untuk membantu Sidiq dan Jafar agar segera bisa mengalahkan Dalang Anyi Anyi.
*****
Di tempat berbeda Kyai Nurudin pun sedang mengerahkan kemampuan untuk melawan anak buah Dalang Anyi Anyi yang berwujud Naga. Kyai Nurudin yang dikeroyok sosok Jin yang berwujud ular Naga berkali kali harus menghindari semburan Api dari sosok Naga yang mengeroyoknya. Untunglah Kyai Nurudin mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Jin yang berwujud Naga tersebut. Sehingga mampu menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh mereka.
Bahkan satu persatu soso berwujud Ular Naga yang menyerangnya, dapat dilumpuhkan satu persatu.
“Majulah kalian semua sekaligus, agar aku lebih mudah menghabisi kalian semua. Kalian para penyesat Manusia,” ucap Kyai Nurudin.
Dengan pertimbangan yang matang Kyai Nurudin pun menggempur pasukan Naga yang mengeroyoknya. Dengan kekuatan Penuh, Kyai Nurudin segera melancarkan serangan pada sosok Naga yang di hadapannya.
Sambil melantunkan doa Hizib Nashor ( doa Khusus ) Kyai Nurudin akhirnya mampu memukul mundur pasukan Naga tersebut. Mereka lari ketakutan, dan hilang dari pandangan Kyai Nurunin. Kyai Nurudin pun bisa bernafas dengan Lega, setelah berhasil memukul mundur musuh musuhnya dari kalangan Jin anak buah Dalang Anyi Anyi.
Namun belum lagi Kyai Nurudin beristirahat barang sejenak, sudah dikejutkan dengan datangnya Sena. Sena yang datang berlari mendekati Kyai Nurudin langsung berkata.
“Maaf Kyai, saat ini Sidiq dan Jafar sedang berjibaku dengan Raja Khodam. Namun mereka berdua belum berhasil mendesak Raja Khodam tersebut,” kata Sena.
“Apa Kang Syuhada juga belum sampai ke sana?’ tanya Kyai Nurudin.
“Belum Kyai, disana hanya ada Mas Yasin yang melihat pertempuran, yang lain belum nampak,” jawab Sena.
“Rupanya yang lain juga sedang menghadapi musuh semua, termasuk Kang Syuhada juga. Baiklah ayo kita lihat kesana sekarang,” kata Kyai Nurudin.
“Pantas, kalau begini terus maka pertempuran akan berlangsung sangat lama,” kata Kyai Nurudin. Setelah melihat jalannya pertempuran Sidiq dan Jafar melawan Dalang Anyi Anyi.
“Bagaimana seharusnya Kyai?” tanya Sena.
“Mendung itu adalah sumber kekuatan bagi Raja Khodam tersebut. Jika tidak dihilangkan, maka kekuatan Raja Khodam tersebut akan semakin kuat,” jawab Kyai Nurudin.
“Bagaimana cara menghilangkan mendung tersebut Kyai, sementara Pertempuran semakin sengit,” tanya Sena.
Kyai Nurudin pun mengamati pertempuran yang begitu sengit. Baik Sidiq dan Jafar maupun Raja Khodam dlang Anyi Anyi saling desak dan saling gempur. Mereka saling serang, belum kelihatan keunggulan salah satunya.
Kemudian Kyai Nurudin mendekati Yasin, untuk membicarakan bagaimana caranya mengalahkan Dalang Anyi Anyi tersebut.
“Kang…kalau pertempuran seperti ini terus. Anak –anak kamu lah yang akan kehabisan tenaga lebih dahulu. Karena lawannya bukanlah manusia,” kata Kyai Nurudin.
“Iya Kang, itu juga yang aku pikirkan dari tadi,” jawab Yasin.
“Menurutku, ini bukan hanya menjadi tugas Sidiq dan Jafar saja,” kata Kyai Nurudin.
“Lalu siapa yang harus ikut bergabung dengan Sidiq dan Jafar serta membantunya?” tanya Yasin.
“Kalau aku bilang, apakah kamu akan setuju nanti?” tanya Kyai Nurudin.
“Katakan saja Kang, yang penting Raja Khodam tersebut dapat kembali dipenjarakan,” jawab Yasin.
“Baiklah, tapi sebelumnya kamu jangan salah paham dulu,” kata Kyai Nurudin.
“Tidak Kang, yang penting pertempuran harus segera diselesaikan,” jawab Yasin.
“Betul Kyai, seandainya saya yag harus ikut bertempur. Saya juga siap lahir dan batin,” kata Sena.
“Aku juga siap lahir batin, jika harus ikut menggempur Raja Khodam itu, Kang…!” ucap Yasin
“Sayangnya, bukan kalian atau salah satu dari kalian yang harus bergabung menangkap Raja Khodam tersebut,” jawab Kyai Nurudin.
__ADS_1
“Lalu siapa Kang?” tanya Yasin lagi.
“Sebenarnya, butuh kehadiran saudara tuamu Tohari. Namun tidak mungkin mengundang untuk saat ini,” kata Kyai Nurudin.
“Apakah tidak ada yang bisa menggantikan posisi Kang Tohari?” tanya Yasin.
“Tidak ada, tapi ada cara lain yang bisa digunakan,” kata Kyai Nurudin sedikit ragu ragu.
“Cara apa Kang?” tanya Yasin semakin tidak sabar.
“Melibatkan Anak gadismu, Nisa,” jawab Kyai Nurudin.
“Nisa? Bagaimana mungkin Kang? Dia kan jauh dibawah Sidiq dan JAfar kemampuannya?” kata Yasin. Bahkan Sena pun ikut kaget, mendengar jawaban Kyai Nurudin.
“Memang, memang NIsa tidak kita manfaatkan kekuatannya,” kata Kyai Nurudin.
“Lalu, apa yang harus dilakukan Nisa?” tanya Yasin.
“Raja Khodam tersebut, dulunya kan Khodam leluhur kamu Begawan Sanjaya. Dia akan lemah ketika melihat Nisa. Karena Nisa memiliki Aura keturunan Begawan Sanjaya, sementara Sidiq dan Jafar Tidak,” kata Kyai Nurudin.
“Maksudnya bagaimana Kang?” tanya Yasin kemudian.
“Sidiq dan Jafar, lebih dominan mewarisi Eyang Sidiq Ali dan Eyang Jafar Sanjaya. Sedang Nisa, memiliki gen kuat dari Begawan Sanjaya. Itulah kelemahan Dalang Anyi Anyi,” kata Kyai Nurudin.
“Jadi…?” suara Yasin terputus.
“Kehadiran Nisa dapat mengurangi kekuatan Dalang Anyi Anyi. Sehingga kita dapat menghilangkan mendung yang menjadi kekuatan Dalang Anyi Anyi. Jadi dia akan semakin melemah, dan nanti akan dapat kita tangkap dengan mudah,” kata Kyai Nurudin.
Yasin agak ragu jika harus melibatkan Nisa anak gadisnya. Apalagi Nisa juga baru saja lepas dari ancaman Ki Ajar Panggiring. Tapi Yasin juga tidak tega melihat Sidiq dan Jafar yang berjibaku melawan Dlang Anyi Anyi, dimana mereka masih saling mendesak satu sama lain. Belum ada yang kelihatan mau kalah.
“Bagaimana jika aku saja Kang yang ikut bergabung melawan Dalang Anyi Anyi tersebut?” tanya Yasin.
“Tidak bisa, tetap tidak akan merubah keadaan,” jawab Kyai Nurudin.
Sementar itu Sidiq dan Jafar semakin meningkatkan kekuatan sampai maksimal. Sidiq dan Jafar ingin segera menyelesaikan pertempuran tersebut.
“Mas, kita harus menggempur bersama. Gunakan Aji Waringin Sungsang, karena ilmu itulah yang bisa untuk menghadapi makhluk halus. Kalau Lebur saketi lebih kepada manusia saja,” kata Jafar.
“Baiklah, jangan sampai kita semakin kehabisan tenaga,” kata Sidiq.
Kemudian keduanya menyerang Dalang Anyi Anyi dengan seluruh kekuatan mereka berdua. Sidiq dengan menggunakan Aji Waringin Sungsang. Sedangkan Jafar menggunakan Stambul Al-Qurannya sebagai pelindung sekaligus senjata menyerang Dalang Anyi Anyi.
Dalang Anyi Anyi terkejut dengan serangan kedua anak Yasin tersebut, yang menggunakan kekuatan maksimal mereka. Sehingga Dalang Anyi Anyi menggunakan Gundolo Sosro menangkis serangan keduanya.
Benturan kekuatan kembali terjadi, Kilat dari Dalang Anyi Anyi menyambar nyambar bahkan sampai ke segala Arah. Karena benturan dengan kekuatan Sidiq dan Jafar. Sehingga Dalang anyi Anyi, sampai harus melepaskan jasad Ki Ajar Panggiring. Kemudian nampaklah wujud asli Dalang Anyi Anyi. Jasad Ki Ajar pun jatuh ke tanah, sebuah jasad yang sudah tidak ada ruhnya.
Namun bersamaan dengan itu, tubuh Sidiq dan Jafar juga terlempar cukup jauh. Sehingga membuat Yasin, Sena dan Kyai Nurudin pun menjadi khawatir.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1