
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...πππ...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Jaka ambil rambut Lurah Broto...
Namun diam diam Riska juga sambil menghubungi Sidiq. Riska menceritakan apa yang dialami keluarganya. Dan meminta bantuan Sidiq agar dapat secepatnya datang menolongβ¦!
Kemudian Riska berjalan pelan-pelan menuju ke pintu. Dengan hati-hati Riska membuka pintu rumahnya.
Jaka yang tetap menggunakan aji Halimun menggiring Laras ke luar dari rumah Riska.
"Awas, jika kamu teriak maka akan aku habisi segera."
Jaka mengancam Laras agar tidak teriak. Laras hanya bisa menuruti kemauan Jaka. Kemudian Jaka meninggalkan rumah Lurah Broto. Laras didorong hingga terjatuh.
Riska jadi bingung, mau menolong Laras atau Ayahnya. Ketika Laras bangkit, barulah Riska lega, kemudian menolong ayahnya.
.....
Di tempat lain Sidiq sedang marah mendengar kabar dari Riska.
"Ternyata mereka belum juga jera. Sudah tak bisa diajak baik," gerutu Sidiq.
Sidiq pun segera berangkat ke rumah Riska bersama Ihsan sahabatnya. Tidak butuh waktu lama Sidiq pun sampai di rumah Riska.
Sidiq langsung melihat kondisi Pak Lurah Broto, yang sedang dirawat istrinya.
"Bagaimana kejadiannya Tante?" tanya Sidiq.
"Tante juga tidak tahu, karena tadi gak di rumah," jawab Ibunya Riska.
"Tadi Riska sama Ayah baru ngobrol, Tiba-tiba Bulik Laras datang. Katanya pintu tidak tertutup, padahal Riska yakin sudah menutupnya," jawab Riska.
"Berarti ada orang lain yang membuka?" tanya Sidiq.
"Begitulah, dan tiba-tiba ada yang memukul ayah. Tapi tidak keliatan orangnya," jelas Riska.
"Aji Halimun, berarti salah satu dari mereka yang datang," ucap Sidiq berbisik.
"Kenapa mereka tidak ada kapoknya?" tanya Ihsan pada Sidiq.
"Tampaknya, mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil atau mereka ditangkap," jawab Sidiq.
Sidiq segera memeriksa keadaan Lurah Broto, dan menemukan luka memar di tubuh Lurah Broto.
"Aji Tameng Wojo, ini pasti ulah Jaka," ucap Sidiq.
"Berarti benar, salah satu dari musuh musuh kita. Tapi kenapa Pak Lurah Broto yang di serang?" tanya Ihsan.
"Entah lah, tapi Sidiq merasakan ini sebatas pancingan," Jawab Sidiq.
Setelah Lurah Broto sadar, dan cukup kuat. Sidiq mohon ijin untuk kembali ke Pesantren.
Ihsan pun ikut berpamitan dan meninggalkan rumah Riska.
Dalam perjalanan pulang tiba-tiba Ihsan menyuruh Sidiq untuk berhenti.
"Menepi sebentar Sidiq...!" kata Ihsan.
"Ada apa?" tanya Sidiq setelah menepi dan berhenti.
"Sebaiknya kita ke rumah kamu, Ayahmu harus tahu ini," kata Ihsan.
"Sidiq tidak mau membebani Ayah," jawab Sidiq.
"Bukan begitu Sidiq, maksudnya kita tetap butuh saran dan bimbingan beliau," ucap Ihsan.
Sidiq termenung sejenak, sebelum menjawab.
"Tapi bagaimana jika kita disuruh menginap?" tanya balik Sidiq.
__ADS_1
"Jika terpaksa, kamu yang menginap. Ihsan yang akan lapor Abah Nurudin," kata Ihsan.
"Baiklah kalau kamu tidak keberatan. Kita putar balik ke rumahku," jawab Sidiq langsung berputar arah ke rumahnya.
Sidiq anak yang tempramental, sudah sedikit mampu mengendalikan diri. Berbeda dengan sebelumnya.
Sidiq dan Ihsan menuju ke rumah Sidiq. Tanpa mereka sadari jika mereka sedang diawasi oleh Jaka Santosa dan Lembayung dari kejauhan.
"Anak itu lagi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Lembayung.
"Sementara kita biarkan saja, kita fokus pada tujuan kita. Mengumpulkan sahabat kita, dan menjauhkan keluarga Yasin dengan Lurah itu," jawab Jaka Santosa.
"iya benar, terus apa rencana kamu sekarang?" tanya Lembayung.
"Aku akan kembali menemui Kang Gandung, ini rambut Lurah itu," ucap Jaka menyerahkan beberapa helai rambut pada Lembayung.
Keduanya kemudian berpisah, dan berjanji ketemu lagi besok. Mereka akan bertemu di seputar markas mereka yang di hancurkan Sidiq dan Jafar kemarin.
.....
.....
Yasin dan Fatimah sedang bicara santai bersama Sufi dan Farhan. Sufi dan Farhan yang sudah resmi menikah itu pun tampak bahagia.
"Mbak senang kalian berdua sudah resmi jadi suami istri. Semoga saja kalian cepat dapat momongan," ucap Fatimah.
"Aamiin...makasih doanya Mbak, Sufi juga sudah pengen gendong anak." jawab Sufi.
"Jangan lupa berdoa, agar diberikan keturunan yang soleh solehah," sahut Yasin.
"Iya Mas, Sufi berdoa terus kok," jawab Sufi.
Sidiq datang bersama Ihsan, sehingga pembicaraan mereka berhenti.
"Assalamu'alaikum...!" Sidiq dan Ihsan mengucapkan salam
"Wa'alaikummussalaam... ada apa Sidiq? kok pulang tidak kasih kabar dulu?" tanya Yasin.
"Iya, maaf Ayah tidak sengaja pulang ke rumah," jawab Sidiq.
"Tidak sengaja? Maksudnya bagaimana Sidiq?" Fatimah ikut bicara.
Seketika suasana berubah jadi tegang, kembali muncul permasalahan.
"Siapa yang menyerang?" tanya Yasin.
"Wujudnya tidak nampak, karena memakai aji Halimun. Tapi dari cirinya Sidiq menyimpulkan itu Jaka," jawab Sidiq.
"Hmm... anak Mentorogo, berarti akan ada peristiwa berikutnya," ucap Yasin pelan.
"Akan ada peristiwa berikutnya?" tanya Sidiq.
Yasin tidak langsung menjawab, menghela nafas panjang terlebih dahulu. Seakan menahan beban batin yang berat sekali.
"Apakah memang waktunya sudah dekat?" ucap Yasin pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
"Waktu apa Yah?" tanya Sidiq.
"Bagaimana kabar adikmu Jafar?" Yasin justru bertanya tentang Jafar.
Semua jadi bingung, dengan sikap Yasin yang seakan menyembunyikan sesuatu.
"Mas Yasin ini bagaimana, ditanya gak jawab malah balik bertanya!" seru Fatimah.
"Sabar dulu, aku memang sulit mau menjelaskan. Ini ada kaitannya dengan Jafar dan munculnya kembali Dalang Anyi Anyi," jawab Yasin.
Bertambah tegang suasana di rumah Yasin. Mereka jadi berpikir dengan pemikiran masing masing.
"Maksudnya bagaimana Mas, Fatimah jadi bingung?" ucap Fatimah.
Yasin lantas menceritakan jika pernah bertemu dengan anak buah Dalang Anyi Anyi. Dan mengatakan akan bangkitnya Raja Khodam tersebut.
Dan saat itu Jafar dan Sidiq lah yang harus bersatu menghadapi Raja Khodam tersebut.
"Astaghfirullah... jadi itu yang membuat Mas Yasin gelisah tadi?" Farhan yang sedari tadi fiam jadi ikut berkomentar.
"Iya, dan jujur saja kalau itu nanti jadi tugas Sidiq dan Jafar anakku," ucap Yasin dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
Yasin ingat perjuangan Dia dulu yang begitu berat. Dan sebentar lagi akan menjadi tugas kedua anaknya.
"Bukannya dulu Mas Yasin sudah mengalahkan Jin itu?" tanya Farhan.
"Benar, tapi ingat Iblis itu tidak bisa mati. Sehingga akan bangkit lagi. Beda dengan manusia yang mengalami mati, Jin atau Iblis itu mati saat kiamat Kubro," jawab Yasin.
Kemudian Yasin menjelaskan, jika Jin Dalang Anyi Anyi akan cepat bangkit jika kemaksiatan semakin meraja lela. Semakin terbuka dan pelakunya tak lagi punya rada malu.
Setiap tindakan maksiat akan memberikan kekuatan baru bagi Jin. Setiap ada pemujaan pada Jin akan menaikkan kekuatan Jin.
"Lalu Sidiq harus bagaimana Yah, sementara Jafar masih dibimbing Abah Syuhada," ucap Sidiq.
"Ihsan, kamu boleh pulang dulu. Biar Sidiq di rumah dulu malam ini," kata Yasin.
"Iya Bi, nanti Ihsan ajan sampaikan ke Abah Nurudin," jawab Ihsan.
Ihsan pun segera pulang ke pesantren Al Hikmah.
.....
Beberapa saat setelah Ihsan meninggalkan rumah Sidiq. Tiba-tiba Hp Sidiq berdering, ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal.
Kemudian Sidiq mengangkat panggilan telpon tersebut. Sidiq dipaksa mendengarkan orang tersebut bicara, tanpa memberi kesempatan pada Sidiq.
Karena jengkel, Sidiq pun memutus panggilan tersebut.
"Siapa kok diputuskan kasar?" tanya Yasin.
"Tidak tahu Yah, tapi mengancam Sidiq," Jawab Sidiq.
"Mengancam? Mengancam bagaimana?" tanya Yasin.
"Katanya dengan modal rambut Dia bisa membunuh dar jauh," jawab Sidiq.
"Santet? Rambut siapa yang dimaksud?" tanya Yasin.
"Sidiq gak tau Yah, makanya Sidiq putus telponnya," jawab Sidiq.
"Jangan jangan...?" Ucapan Yasin terhenti.
"Jangan-jangan Pak Lurah Broto?" ucap Yasin.
Sidiq baru sadar jika tadi Lurah Broto diserang musuh. Tapi hanya sekali pukul, dan tidak berbuat lanjut.
"Jadi...apa Sidiq harus bantu Pak Lurah sekarang Yah?" tanya Sidiq.
"Habis maghrib kita ke rumah Pak Lurah Broto," jawab Yasin.
"Ayah jangan...biar Ayah sehat dulu. Sidiq saja yang ke sana," jawab Sidiq.
"Tapi ini bahaya, tanpa Ayah Sidiq!" kata Yasin.
"Biar Farhan saja Mas, benar kata Sidiq Mas Yasin di rumah saja," sahut Farhan.
Yasin bimbang, mau ikut ke rumah Lurah Broto atau tidak.
"Aku ikut, meski gak ikut melawan tapi aku harus ikut ke sana," ucap Yasin.
kemudian semua terdiam, tidak berani membantah Yasin. Tapi juga tidak ingin Yasin bahaya.
"Biar Wisnu yang ikut Bi! " tiba-tiba Wisnu muncul dan ikut bicara.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...πππ...
Mohon Maaf
*Update baru slow,
__ADS_1
Sedang perbaiki PUEBI
agar lebih enak dibaca.