
Terimakasih atas semua bentuk perhatiana Reader
Baik berupa Like, Komen, Vote maupun saran kritiknya.
Bisa memberikan cerita yang menghibur adalah kebanggaan bagi Author.
jadi apapun bentuk saran dan kritik sangat kami hargai.
dan tentunya ucapan terimakasih yang tulus dari Author.
saran kritik di kolom komentar.
Selamat membaca.
Kemudian Sidiq meraba tubuhnya dan merogoh saku celananya.
“Aku semalam habis berdoa langsung tertidur, berarti itu hanya mimpi. Tapi kenapa benda ini nyata ada di sini sekarang ?” kata Sidiq dalam hati yang heran menemukan sebuah Tasbih dari kayu cendana. Apa tadi malam aku tidak sekedar mimpi…???
“Apakah dengan begitu tugas ziarah ini dianggap selesai, aku harus menghadap abah guru nanti sehabis sholat subuh.” kata Sidiq dalam hatinya.
Saat tertidur itulah Sidiq bermimpi bertemu seorang tua yang datang menyerahkan sebuah Tasbih kepadanya. Tasbih yang dari kata Sabaha ( sudah suci ) dan Tasbih dalam bentuk Fi'il mudhori’ ( Present continuous ) yang artinya Sedang mensucikan dalam susunan ( Grammar ) bahasa Arab. Sedangkan kayu Cendana yang wangi maksudnya adalah sebuah perlambang atau perintah kepada Sidiq untuk mensucikan diri agar mengharumkan ( wangi ) nama keluarga. Baik keluarga dalam arti Nasab maupun keluarga besar Pesantren dan lebih luasnya adalah mengharumkan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.
Namun sayangnya Sidiq belum mampu untuk memaknai hal tersebut. sehingga masih belum bisa memahami makna atau esensi dari diberinya Tasbih Cendana tersebut. Masih untung Sidiq tidak menganggap itu sebagai Jimat yang cenderung jatuh pada kemusyrikan. Sidiq masih percaya tiada kekuatan selain dari Allah, minimal bisa memegang teguh kalimah Thayyibah Tahlil. Sesuai dengan rukun Islam yang pertama membaca dua kalimah syahadat.
Itulah bedanya ketika orang belajar kanuragan dan supranatural dengan dibimbing Guru dan tidak. Seorang guru yang membimbing akan menjaga Aqidah murid ( Santri ) nya agar tidak lepas Aqidahnya. Akan berbahaya jika orang belajar tanpa guru yang bisa membimbing, akan mudah tergelincir kepada kemusyrikan.
Setelah merasa cukup segar dan kesadarannya pulih dari tidur dan mimpinya Sidiq pun segera melangkah pulang, kembali ke pesantren.
*****
Flashback ke Pesantren Jafar dan Nisa
Author POV
Setelah kepulangan Sidiq dan Ihsan, Lita dan Riska kembali ke kamar Vina. Riska dan Lita mau melihat Susana pesantren dan melihat kegiatan anak anak santri, apa saja yang mereka lakukan jika berada di dalam pesantren.
“Biasanya jam segini kamu melakukan apa Vin ?” tanya Lita kepada Vina adiknya.
“Jam segini ya paling nunggu sholat maghrib saja, kalau pas puasa ya siap siap buka puasa.” Jawab Vina.
“Kalau sekarang kamu puasa tidak, kalau puasa kakak beliin buat buka puasa.” Kata Lita.
“Gak kak, Vina masih cuti sekarang dapat tamu bulanan.” Jawab Vina.
“Sama mbak Vina, Nisa juga lagi ada tamu gak puasa.” Sahut Nisa yang diajak menemani Riska di kamar Vina juga.
“Itu Jafar juga rajin puasa, pas ke tempat mas Sidiq juga sedang puasa. Nisa juga sering puasa ya ?” tanya Riska.
“Kalau Nisa hanya senin kamis saja mbak, paling sama puasa Weton saja.” Jawab Nisa.
“Puasa Weton itu apa Nisa ?” tanya Lita.
“Puasa Weton itu puasa pada hari dan pasaran lahir kita mbak Lita.” Jawab Nisa.
“Apa memang ada perintah begitu ?” tanya Lita.
“Perintah langsung sih gak ada, tapi ittiba’ ( Mengikuti ) rasulullah yang puasa pada hari lahir beliau di hari senin. Jadi kita niatnya puasa mensyukuri dan mengingat kita sudah dilahirkan ke dunia ini saja.” Jawab Nisa.
“Owh begitu, jadi lebih kepada rasa syukur saja ya Nisa ?” Sahut Riska.
“Iya mbak, dan gak harus atau gak wajib sekedar ungkapan syukur kita saja.” Kata Nisa.
“Duh Nisa sudah akrab banget sama calon kakak iparnya, btw Nisa senang tidak punya kakak ipar kayak Riska ?” Tanya Lita.
“Apaan sih Lita, kasihan Nisa masih kecil ditanya begitu.” Protes Riska.
“Gak papa kali Ris, Nisa juga sudah ngerti kali kan udah masuk masa haid juga.” Ucap Lita.
“Iya sih mbak, tapi Nisa belum paham soal itu, belum kepikiran malah.” Sahut Nisa.
“Tapi suka gak punya kakak seperti Riska ?” desak Lita menggoda Riska. Sementara Vina hanya diam saja mendengar kakaknya berbicara dengan Nisa.
“Nisa sih asal mas Sidiq suka Nisa juga suka aja.” Jawa Nisa.
“Kok tergantung kakak kamu ?” tanya Lita.
“Iya kan mas Sidiq yang mau menjalani, kalau mas Sidiq bahagia Nisa juga ikut bahagia saja. Dan dengan mbak Riska Nisa juga gak ada alasan gak suka kok.” Jawab Nisa berdiplomasi. Salah satu sifat Nisa yang diturunkan dari leluhur Fatimah yang ahli diplomasi.
“Wah kecil kecil sudah pandai diplomasi kamu Nisa.” Sahut Vina tiba tiba.
“Gak juga mbak Vina, Nisa hanya bicara apa adanya saja kok. Memang mbak Riska kan cantik wajar mas Sidiq suka. Kalau mas Sidiq suka maka Nisa juga otomatis suka juga.” Jawab Nisa.
“Eeh Nisa boleh tahu gak, kenapa kakak kamu Jafar itu pendiam banget gak kayak Sidiq ataupun kamu yang pintar bicara.” Tanya Lita.
Sementara Vina jadi berdesir ketika Lita menanyakan Jafar.
“Kak Dina ini malah nanyain Jafar segala, apa kak Dina suka sama Jafar ?” Tanya Vina pura pura menggoda kakaknya, meski sebenarnya hanya khawatir jika itu terjadi.
“Jujur aku memang suka dengan penampilan Jafar. Tapi bukan suka seperti sukanya cewek dengan cowok. Hanya Suka karena Jafar itu kalem banget orangnya, cool gitulah. Sayang masih kecil bagi kakak, kalau lebih dewasa dari kakak mungkin beda ceritanya.” Jawa Lita. Vina agak kaget namun bisa mengendalikan diri setelah mendengar penjelasan Lita sampai akhir.
“Kalau misalnya sebaya kak Dina berarti kak Dina suka dong sama Jafar ?” Sahut Vina.
“Yang sebaya kan Sidiq, dan Sidiq sudah ada yang mengawal sekarang.” Jawab Lita sambil melirik ke Riska.
“Lah kan Riska lagi yang jadi sasaran, tapi Jafar kan sebaya sama Vina. Nisa setuju gak kalau Jafar dekat sama Vina ?” kata Riska mengalihkan pembicaraan.
“Nisa gak tahu mbak, bagaimana mas Jafar saja sama mbak Vina. Tapi setahu Nisa mas Jafar juga belum mau pacaran kok.” Jawab Nisa.
“Betul Nisa, Vina juga pernah ngobrol sama Jafar dan Jafar juga bilang gitu sama Vina.” Sahut Vina.
“Owh ternyata adikku cukup akrab sama Jafar, jangan jangan kamu tadi cemburu sama kakak saat nyebut Jafar ya Vina ?” Goda lita ke Vina
__ADS_1
“Gak kok kak Dina, maksut Vina kan kak Dina juga baru saja kenal jafar kok sudah nanyain tentang Jafar begitu.” Jawab Vina agak salah tingkah.
“Ada Nisa juga malah pada ngomongin kakaknya, nanti kamu aduin saja mereka Nisa sama kakak kamu.” Ucap Riska.
Nisa hanya senyum senyum saja, meski ada sedikit rasa bangga banyak yang suka dengan kakak kakaknya. Namun tidak menjadi sebuah kesombongan bagi Nisa, Nisa tetap berlaku sebagaimana Gadis kecil lainya. Yang lebih suka bermain dan bercanda sesuai usianya.
Begitulah obrolan singkat Nisa dengan kedua teman Sidiq juga Vina. Hingga saat kumandang adzan maghrib mereka baru berhenti. Vina meminta tolong teman untuk mengajak Lita dan Riska ikut jamaah maghrib karena Vina dan Nisa sendiri sedang libur. Dan malamnya pun Riska dan Lita ikut mendengarkan anak anak santri yang sedang mengaji. Ada yang mengaji kitab fiqih ( Hukum Islam ) ada yang ngaji Quran dan ada yang melantunkan sholawat serta yang lainya.
Risak dan Lita merasakan sebuah ketenangan mendengar banyak santri dengan berbagai kegiatan keagamaan. Dalam hati Riska berkata, “ternyata banyak cara untuk mendekat kepada Tuhan ( Allah). Selama ini Riska tahunya hanya sholat dan baca quran saja.”
“Kalau Jafar kakakmu jam segini ngapain Nisa ?” tanya Riska.
“Mas Jafar baru dapat tugas tiap malam Ziarah kubur mbak.” Jawab Nisa.
“Sama siapa ?” tanya Riska.
“Sendiri lah mbak, kalau diberi tugas biasanya tiap santri beda beda tugasnya.” Jawab Nisa.
“Haah… Sendirian, gak takut ? Jafar kakakmu kan orangnya diam begitu ?” Tanya Riska.
“Ya gak lah mbak, takut apa ?” tanya Nisa.
“Ya takut hantu lah Nisa, masak takut cewek cantik.” Goda Riska.
“Gak lah mas Jafar gak penakut kok Nisa saja gak takut kok ziarah sendir ke makam juga pernah. Tapi sore hari, kalau malam gak boleh sama abah karena cewek bisa timbul Fitnah.” Jawab Nisa.
Riska hanya bengong, kalau Nisa saja berani apalagi Jafar dan Sidiq, batin Riska. Riska pun memandang ke arah pintu rumah kyai. Dan selang beberapa saat Jafar pun tampak keluar pintu rumah itu mau berangkat Ziarah kubur.
*****
Jafar melangkah dengan tenang menuju ke makam seperti biasanya, tidak ada niat apapun kecuali melaksanakan perintah abah gurunya. Karena melaksanakan perintah guru ( terutama guru ngaji/ spiritual ) itu bisa menjadikan jalan mendapat Ridho Allah Swt. Begitu juga dengan kedua orang tua kandung / mertua. Ridho Allah tergantung pada mereka.
Meski ibadahnya baik tapi jika bikin orang tuanya marah maka Allah juga tidak Ridho. sebaliknya meski ibadahnya biasa biasa saja kalau perbuatannya menyenangkan hati orang tuanya dan orang tuanya Ridho, maka Allah juga Ridho. Itulah santri produk pesantren, yang tidak belajar teori semata. Akan tetapi juga belajar dalam menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari hari. Termasuk juga dalam menerapkan Adab kepada orang lain.
…..
…..
…..
Sesampai di makam Jafar segera membacakan doa khusu untuk mendoakan kedua orang tua abah gurunya. Dan juga untuk kakek nenek Jafar, baik dari jalur kakek nenek Fatimah juga dari orang tua Yasin. Karena saat iti orang tua Fatimah keduanya masih sehat.
Berbeda dengan yang dialami Sidiq yang saat Ziarah dalam keadaan kelelahan. Jafar dalam kondisi fit sehingga bisa dengan tenang dalam melantunkan doa doa dan bacaan ayat quran. Dan malam itu Jafar merasakan suasana yang agak berbeda. Ada semilir angin lembut yang kemudian diikuti dengan aroma wangi yang jarang ditemui Jafar.
Dalam kondisi terjaga penuh Jafar melihat sesosok bayangan putih dari kejauhan yang makin lama makin dekat. Bayangang putih itu pun semakin jelas kelihatan dan makin dekat makin jelas. Tiba tiba sudah berdiri di hadapan Jafar, di sela sela batu Nisan.
Jafar tidak mau terpengaruh dengan kehadiran sosok tersebut, dia tetap melantunkan doa doa yang di ijazahkan oleh abah gurunya. Bahkan Aroma wangi yang muncul pun tidak dihiraukan oleh Jafar. Meski Jafar pendiam tidak seperti Sidiq kakaknya, bahkan dengan Nisa adiknya pun Jafar lebih pendiam. Namun dalam hak menghadapi makhluk tak kasat mata Jafar sudah punya pengalaman cukup banyak. Semenjak sering ditemui dan dilatih oleh yuyutnya.
Sosok itu tetap berdiri di depan Jafar yang sedang berdoa untuk mendoakan ahli kubur yang ada di situ dan di khususkan juga bagi orang tua abah gurunya. Ahkan sampai Jafar selesai berdoa sosok itu pun masih tetap berdiri di situ. Sampai akhirnya Jafar yang lebih dulu menyapa sosok itu.
“Assalaamu ‘alaikum yaa Syaikh ( Syaikh secara lughowi / bahasa \= Orang tua ) ada perlu apa kiranya mendatangi saya yang sedang berdoa kepada Allah ?” tanya Jafar.
“Bukankah kamu tadi memanggil aku, kenapa aku datang malah bertanya begitu ?” tanya sosok itu.
“Kamu adalah cucu dari Azzam bin Sidiq Ali bin…. Bin… …. …. … bin…. Mustolih.” Kata Sosok itu.
Jafar sedikit kaget sosok itu bisa menyebutkan garis Nasabnya sampai tujuh tingkat diatasnya. Namun Jafar ingat bahwa golongan Jin sangat mudah melakukan itu. Sehingga Jafar pun tidak begitu terpengaruh karenanya.
Dalam hati Jafar berkata, “sayang aku belum begitu bisa membedakan mana golongan Jin dan mana Ruh manusia Solih yang bisa diberi hak untuk bisa mengunjungi manusia di bumi.” Kata Jafar dalam hati.
“Dari mana Syaikh yakin ?” Tanya Jafar.
“Karena akulah eyangmu Mustholih, kamu boleh ragu cucuku. Tapi nanti kamu bisa tanyakan ke abah gurumu. Eyang buru buru karena akan segera menemui Sidiq kakakmu. Kamu terima lah ini, dan hafalkan surat Al Mulk, Yasin,………” kata sosok itu menyebutkan nama nama Surat dalam Alquran.
“Untuk apa eyang Jafar harus menghafalkan itu ?” tanya Jafar.
“Tujuh Surat itu, sebagai pintu pembuka agar kamu mudah menghafalkan isi al-Quran 30 juz. Dan pada saatnya nanti, kamu akan menjadi ‘Pewaris Stambul Al-Quran’ yang terakhir kali di pegang Sidiq Ali kakekmu.” Kata sosok itu.
“Apa itu eyang ?” tanya Jafar kemudian.
“Sebuah Al-Quran yang hanya seukuran kuku ibu jari namun dapat dibaca oleh orang tertentu yang dikehendaki Allah Swt. Dan kamu lah nanti yang akan mewarisi itu cucuku.” Kata Sosok itu.
Kemudian sosok itu tiba tiba menghilang dari pandangan mata Jafar. Jafar masih antara percaya dan tidak tidak berani menyimpulkan. Dan Jafar berniat akan menanyakan kepada Abah gurunya perihal peristiwa itu. agar tidak sampai terbujuk rayuan bangsa Jin yang kadang memang mengaku aku sebagai leluhur kita. Jika tidak hati hati dan tanpa pembimbing memang bisa tergoda oleh bujukan Jin tersebut.
Jafar pun segera melangkah untuk kembali ke pesantren, sementara sosok yang mengaku sebagai eyang Mustholih tersebut pergi melihat Sidiq yang sedang tertidur karena kelelahan.
*****
Pagi hari setelah Subuh
Jafar POV
“Aku sungkan mau menghadap abah guru pagi pagi begini, sebaiknya nanti pulang sekolah saja aku menghadap beliau.” Kataku dalam hati.
Meski aku sebenarnya tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang muncul di benakku. Apakah benar semalam yang aku temui di makam adalah eyangku atau sosok Jin yang mengaku aku saja. Pikiranku jadi menerawang jauh kemana mana, kalau sudah seperti ini tidak bisa tidak harus segera konsultasi secepatnya dengan abah guru.
“ kang Jafar diminta abi tengok tamu kakaknya Vina sama temannya, sudah pulang apa belum ?” kata Nia.
“Kalau aku kan gak mungkin masuk komplek putri Nia ?” jawabku pada Nia.
“Dilihat saja motornya masih ada gak ?” kata Nia.
“Kemarin pakai motor apa ya ?” tanyaku karena tidak melihat kedatangan mbak Riska dan mbak Lita.
“Nia juga gak tahu, gimana dong ?” ucap Nia.
Namun tiba tiba terdengar suara salam seperti suara Vina.
Assalaamu ‘alaikum….!” Ucap Vina berama mbak Riska dan mbak Lita mau berpamitan sepertinya.
Segera Nia yang menyambut dan mempersilahkan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Kang kamu yang sajikan minum ya, biar Nia yang panggil Abi.” Kata Nia.
“Iya Nia, sekalian dibuatin gak kamu ?” tanyaku.
“Gak usah, Nia sudah bikin sendiri tadi.” Jawab Nia.
“Apa nanti aku sekalian menghadap abah guru untuk berkonsultasi ya.” Kataku dalam hati.
Sekalian memanfaatkan momentum mak Riska dan mbak Lita berpamitan, otomatis abah guru di ruang tamu. Sepertinya memang waktu yang pas buat menghadap beliau nanti, seusai mereka berpamitan.
Setelah aku membuatkan minuman aku segera kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga aah guru. Sambil mengintip kalau kalau mbak Riska dan mbak Lita sudah keluar untuk menghadap aah guru.
Namun aku terkejut ketika tiba tiba abah guru memanggil aku.
“Jafar, kamu ikut kesini sebentar.” Perintah aah guru.
“iya bah.” Jawabku.
Kemudian ikut masuk ke ruang tamu bersama mbak Riska dan mbak Lita juga Vina.
“Ini kakaknya Vina mau pulang, kamu antar sampai ke gerbang desa karena masih agak gelap kasihan.” Kata Abah guru. “wah bisa gagal rencanaku.” Kataku dalam hati.
“Kenapa malah bengong, kamu gak usah bingung semalam itu memang eyang kamu yang datang. Sudah sana cepat antar awa motor Nia.” Perintah abah guru.
“Iya bah, mari mbak saya antar sampai ke gerbang Desa sekarang.” Kataku ke mak lita dan mbak Riska.
Aku jadi lega, tanpa harus berkonsultasi abah guru sudah mengerti apa yang ingin aku tanyakan. Memang kadang beliau menunjukkan karomahnya ( Karomah \= kemuliaan. Yang dalam ilmu Hikmah menjadi istilah untuk kelebihan pada orang orang yang dekat dengan Allah atau sering juga disebut khowariqul adah ), tapi lebih sering memperlihatkan sisi manusiawinya.
Singkat cerita sampailah aku di gerbang Desa, tepat di pinggiran hutan tapi sampai disitu sudah Nampak agak terang.
“Maaf mbak Lita dan mbak Riska, Jafar hanya bisa mengantar sampai di sini saja. Hati hati di jalan ya mbak.” Kataku pada mbak Lita dan mbak Riska.
“Iya makasih banyak ya Jafar, titip Vina adikku ya tolong jagain dia.” Kata mbak Lita.
“Ada pesan tidak buat mas mu Sidiq Jafar ?” Tanya mbak Riska.
“Sampaikan saja, untuk menceritakan pengalaman mas Sidiq semalam dan tolong suruh cerita ke Jafar mbak.” Jawabku.
“Itu saja ?” tanya mbak Riska lagi.
“Iya mbak itu saja.” Jawabku.
Kemudian mereka pun segera pergi meninggalkan aku untuk pulang dan berangkat ke sekolah. “Mbak Riska itu memang cantik, tapi sayang kurang menutup auratnya. Apa perlu mas Sidiq aku kenalkan Vina saja ya yang juga cantik dan menutup Auratnya. Tapi gak enak juga nanti mas Sidiq tersinggung, biar dulu saja lah. Siapa tahu mas Sidiq justru bisa membuat mbak Riska jadi lebih baik.” aku berkata dalam hati member penilaian subyektif kepada mbak Riska pacar mas Sidiq. Aku rasa Nisa pun sepemikiran denganku juga, batinku.
Aku segera kembali ke pesantren untuk siap siap berangkat ke sekolah juga. Dan sebelum sampai di pesantren kebetulan Nisa baru beli sarapan. Aku hentikan motor dan menyapa Nisa dulu.
“Kamu gak puasa Nisa ?” tanyaku.
“Gak mas, kan lagi libur Nisa.” Jawab Nisa.
“Owh… semalam ngobrol sama mbak Riska ?” Tanyaku ke Nisa.
“Iya kenapa ? Pasti mas Jafar mempermasalahkan soal mbak Riska yang gak pakai jilbab ya ?” kata Nisa langsung menebak isi pikiranku.
“Menurut Nisa bagaimana ?” Tanyaku.
“Bagaimana apa nya ? Gak kenapa napa kan mas. Memang pakai jilbab lebih baik, tapi bukan berarti yang pakai jilbab pasti lebih baik semuanya. Bu lik Khotimah saja dulu juga katanya gak pernah berjilbab mudanya.” Kata Nisa.
Entah kenapa setelah aku, Nisa dan mas Sidiq cukup dewasa makin tampak peredaan dan cara menyikapi keadaan. Meski tetap saling menyayangi sebagai saudara, dan bisa saling menghormati perbedaan yang ada.
Dalam hal ini mas Sidiq sama pendapatnya dengan Nisa, tapi dalam hal lain juga kadang Nisa yang berbeda pendapat dengan mas Sidiq dan seterusnya. Apakah ini yang namanya ilmu itu sangat luas, kebenaran tidak hanya bisa dinilai dari satu sisi atau dar sudut pandang saja, pikirku.
“Ayo bareng gak ?” tanyaku ke Nisa setelah selesai eloi sarapan di bawa pulang ke pondok.
“Gak Nisa jalan saja, tidak semua tahu kita ini adik kakak bisa jadi fitnah.” Kata Nisa sambil bercanda.
“Aneh aneh saja kamu ini, siapa yang gak ngerti kamu adik kandungku.” Kataku sambil jalan meninggalkan Nisa yang memilih jalan kaki. Begitulah Nisa adikku yang sifatnya cenderung meniru mas Sidiq kakakku.
*****
Usai selesai persiapan aku segera berangkat ke sekolah, karena hari ini adalah jadwalku puasa karena kemarin tidak puasa. Sudah terbiasa melakukan puasa daud orang bilang. Sebenarnya adalah puasanya Nabi Daud As, tapi orang lebih enak mengatakan puasa daud. Enak rasanya di badan, lebih teratur makannya tidak berlebihan.
“Jafar tunggu dulu, ada informasi penting…!” teriak Vina panik.
“Ada apa sih bikin kaget saja kamu ini.” kataku. Vina yang teman satu kelas dan satu pesantren ini satu satunya cewek yang paling aku akrab. Karena sudah sejak Tsanawiyah atau SMP jadi teman satu kelas. Jadi sudah seperti saudaraku sendiri. Bahkan jadi kepikiran mendekatkan Vina dengan mas Sidiq, tapi gak enak memuat tersinggung.
“Kamu kemarin sore habis berantem ya sama preman preman terminal ?” tanya Vina.
“Kamu sadar gak sih Vin, aku kan kemarin seharian gak keluar dari pesantren sejak pulang sekolah.” Jawabku.
“Jujur saja, ini teman kita satu sekolah ada yang kasih tahu kalau preman preman itu mau mencari kamu di sekolah, mau balas dendam..!” kata Vina.
“Kemarin apa dua hari yang lalu, kalau dua hari lalu memang aku dihadang dan terpaksa berkelahi ?” tanyaku.
“Kurang jelas juga, tapi informasinya kemarin sore katanya kamu melawan empat orang habis maghrib.” Kata Vina menunjukkan chat nya dengan seseorang.
“Habis maghrib ? bukanya aku di pesantren dan maghrib saja kamu masih melihat aku kan ?” tanyaku ke Vina.
“Terus…?” ucap Vina bingung.
Sementara aku sudah bisa menebak jawabannya, pasti mas Sidiq dan mereka menyangka itu adalah Jafar. Wah mas Sidiq ini, dia yang berantem Jafar yang jadi tertuduh.
“Pakling mas Sidiq yang berantem, kemudian preman preman itu mengira aku yang berantem.” Jawaku.
“Kamu gak usah sekolah dulu gih, bahaya kalau kamu maksa berangkat sekolah.” Ucap Vina.
“Gak ah, sekarang gak berangkat juga besok mereka tetap cari, mending dijelaskan saja kalau itu bukan Jafar.” Jawabku ke Vina.
“Bandel juga kamu Jafar…!” ucap Vina sewot.
Aku lihat Vina kemudian asik chat sambil jalan, mungkin baru chat dengan yang memberi Info tadi, pikirku...!!!
__ADS_1
Bersambung